cover
Contact Name
Nurmalia Habibah
Contact Email
jurnal.fib@ugm.ac.id
Phone
+62274513096
Journal Mail Official
arnawa.journal@gmail.com
Editorial Address
Javanese Language, Literature, and Culture Program, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada Sosiohmaniora 3 St. Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, Indonesia. 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Arnawa
ISSN : -     EISSN : 30317657     DOI : https://doi.org/10.22146/arnawa
Arnawa is an intellectual sanctuary dedicated to unraveling the intricate layers of Javanese identity through the lenses of language, literature, and culture. Nestled within the cultural heartland of Java, this journal serves as a vibrant forum for the exchange of scholarly discourse, fostering a profound understanding of the diverse facets that define Javanese existence. Arnawa is a biannual publication of the Javanese Language, Literature and Culture Study Program, Faculty of Cultural Sciences at Gadjah Mada University, released in June and December each year. We extend an open invitation to scholars and practitioners alike, encouraging active participation in the vibrant exchange of ideas, insights, and research. This collaborative endeavor seeks to enrich our collective comprehension of the nuanced facets that characterize the world of Javanese culture.
Articles 47 Documents
Efek Panoptikon Orde Baru dalam Cerkak Berjudul Seksi Saka Menara Karya Suparto Brata Ajeng Aisyah Fitria; Ardian Nugraha Priyatama
Arnawa Vol 3 No 1 (2025): Edisi 1
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v3i1.23746

Abstract

The ruling state employs various methods to control its citizens, both through legal institutions and through entities deemed "safe," such as schools and hospitals. This form of power ultimately creates what is known as the panopticon effect-a phenomenon where individuals feel as though they are constantly being watched, leading them to exercise caution to avoid committing unlawful acts. This concept is illustrated in the short story "Seksi Saka Menara" or "Witness from the Tower" by Suparto Brata. To explore this social phenomenon in depth, the research utilizes Foucault's panopticon theory. The methodology employed in this article is qualitative, incorporating data collection techniques that include a literature review. The data consists of quotations from the short story relevant to the panopticon effect. The results of this study indicate that the character Poniran becomes increasingly troubled and paranoid, leading him to entertain irrational speculations as a result of the panopticon effect. One of his excessive speculations is the belief that the police can track money circulation through its serial numbers. The panopticon effect causes Poniran to feel constantly monitored, thereby discouraging him from committing dishonorable acts. The sources of this effect in the short story include religion, society, culture, and the New Order government. === Negara yang berkuasa menggunakan berbagai cara untuk mengatur rakyatnya, baik melalui lembaga hukum maupun melalui lembaga yang dinilai “bersih”, seperti sekolah, rumah sakit, dan lain-lain. Bentuk kekuasaan tersebut pada akhirnya melahirkan efek panoptikon, yaitu sebuah efek ketika seseorang selalu merasa diawasi dan akhirnya berhati-hati agar tidak melakukan tindakan melanggar hukum. Hal tersebut tersepresentasikan dalam cerkak berjudul Seksi saka Menara atau Saksi dari Menara karya Suparto Brata. Untuk menyingkap fenomena sosial tersebut dengan detail, maka digunakan teori panoptikon Foucault. Dalam hal ini metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi pustaka. Datanya berupa kutipan-kutipan dalam cerkak yang berhubungan dengan efek panoptikon. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah, tokoh Poniran menjadi sangat gundah hingga memikirkan spekulasi-spekulasi tidak masuk akal dikarenakan secara tidak sadar dirinya telah terkena efek panoptikon. Salah satu spekulasi berlebihan tersebut adalah tokoh Poniran berpikir bahwa polisi dapat melacak pengedaran uang melalui nomor seri uang. Efek panoptikon membuat tokoh Poniran merasa diawasi sehingga tidak dapat dengan mudah melakukan perbuatan tercela. Sumber dari efek panoptikon dalam cerkak ini adalah agama, adat istiadat masyarakat, dan lembaga negara orde baru.
Maskulinitas dan Perjuangan Hidup Laki-laki: Analisis Kritis van Dijk pada Lagu “Anak Lanang” Ndarboy Genk Anggra Dini; Mulyana Mulyana; Endang Nurhayati
Arnawa Vol 3 No 1 (2025): Edisi 1
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v3i1.23990

Abstract

A song, as a form of art, offers learning opportunities for its listeners through the messages conveyed by the songwriter. The song "Anak Lanang," composed by Daru Jaya, also known as Ndarboy Genk, and Hendra Kumbara, is a Javanese song that reflects the experiences of boys and the social life of the Javanese community. This study employs qualitative research and utilizes the theory of critical discourse analysis developed by Teun A. Van Dijk. It has two main objectives: first, to examine the macro, micro, and superstructure levels of the song; and second, to explore the gender ideology, social cognition, and social context embedded within it. The theme of masculinity is identified as the macro structure. The superstructure of the song consists of the elements that shape its overall comprehension. The microstructure addresses the linguistic aspects that illustrate how language conveys social criticism and builds the song's meaning. The social cognition present in this song reflects the narrative of an individual’s journey, showcasing a boy's life alongside the associated social paradigms. Additionally, the social context highlights elements of masculinity and the challenges faced by boys, which resonate with Javanese listeners due to the relevance of the story to their own lives. === Lagu menjadi sebuah karya seni memberikan pembelajaran bagi pendengarnya melalui pesan yang disampaikan oleh sang penulis lagu. Lagu “Anak Lanang” yang diciptakan oleh Daru Jaya a.k.a Ndarboy Genk & Hendra Kumbara merupakan salah satu lagu Jawa yang menggambarkan kehidupan anak laki-laki dan kehidupan sosial masyarakat Jawa. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang memanfaatkan teori analisis wacana kritis yang dikembangkan oleh Teun A. Van Dijk. Terdapat dua tujuan dalam studi ini; yang pertama, untuk menyelidiki struktur makro, mikro, dan superstruktur, sementara yang kedua adalah untuk mengeksplorasi ideologi gender, kognisi sosial, dan konteks sosial yang terkandung dalam lagu tersebut. Tema maskulinitas teridentifikasi sebagai struktur makro yang ada. Superstruktur yang terdapat pada lagu adalah adanya elemen-elemen dalam bentuk pemahaman lagu. Struktur mikro dari lagu tersebut mencakup aspek-aspek linguistik yang memberikan pemahaman tentang bahasa dalam menyampaikan kritik sosial serta membentuk makna lagu. Kognisi sosial yang terdapat dalam lagu ini menunjukkan bahwa lagu ini menceritakan perjalanan seseorang yang mencakup gambaran tentang kehidupan seorang anak laki-laki dan skema sosial yang menyertainya. Dalam konteks sosial, terdapat elemen maskulinitas dan perjuangan seorang anak laki-laki yang menarik perhatian pendengar lagu Jawa karena relevansi cerita dengan kehidupan mereka.
Tubuh, Pekerjaan, dan Pilihan Perempuan Jawa dalam Cengkraman Patriarki dan Kapitalisme Syahr Banu
Arnawa Vol 4 No 1 (2026): Edisi 1
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v4i1.25936

Abstract

Women’s bodies in Javanese society are often positioned not as personal property but as objects of social regulation legitimized by cultural norms. This study examines how patriarchy and capitalism operate simultaneously in shaping the bodies, work, and life choices of Javanese women, producing gender inequalities that are historical and structural in nature. This research employs a qualitative approach through historical and social analysis by examining historical sources and the contemporary social experiences of Javanese women. The findings show that women’s bodies function as political and economic arenas in which marriage norms, gender-based divisions of labor, and idealized body standards become key mechanisms of social control. These findings demonstrate that the inequalities experienced by Javanese women are not cultural givens but the result of historical processes continuously reproduced through cultural symbolism and capitalist logic. These processes restrict women’s autonomy in education, employment, and life decision-making within everyday social relations and layered power structures in contemporary Javanese society today. === Tubuh perempuan dalam masyarakat Jawa sering diposisikan bukan sebagai milik personal, melainkan sebagai objek regulasi sosial yang dilegitimasi oleh norma budaya. Penelitian ini mengkaji bagaimana patriarki dan kapitalisme bekerja secara simultan dalam membentuk tubuh, pekerjaan, dan pilihan hidup perempuan Jawa, sehingga menghasilkan ketimpangan gender yang bersifat historis dan struktural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis historis dan sosial dengan menelaah sumber-sumber sejarah serta pengalaman sosial perempuan Jawa kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh perempuan berfungsi sebagai arena politik dan ekonomi, di mana norma pernikahan, pembagian kerja berbasis gender, dan standar tubuh ideal menjadi mekanisme utama kontrol sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa ketimpangan yang dialami perempuan Jawa bukanlah kodrat budaya, melainkan hasil dari proses historis yang terus direproduksi melalui simbolisme budaya dan logika kapitalisme. Proses tersebut membatasi otonomi perempuan dalam pendidikan, pekerjaan, serta pengambilan keputusan hidup dalam relasi sosial sehari-hari dalam masyarakat Jawa kontemporer modern.
Subalternitas dan Karma Mistis dalam Legenda Pembunuhan di Dusun Cangkring, Yogyakarta Riki Fernando
Arnawa Vol 4 No 1 (2026): Edisi 1
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v4i1.26227

Abstract

This study investigates the concept of mystical karma within the legend of a murder that occurred in Cangkring Hamlet, Bantul, Yogyakarta, during the 1980s. It explores the relationship between subalternity, and mystical karma as presented in the legend's narrative. The research utilizes Hutomo’s oral history methodology, which includes site identification, preliminary observation, literature review, and interviews. Interview recordings were subsequently transcribed into Latin script and translated from Javanese into Indonesian. Data analysis was conducted using the relevant theoretical framework. Given the presence of subaltern issues in the murder case, Spivak’s theory of the subaltern was applied. The legend’s depiction of mystical karma is interpreted as a representational strategy by the Cangkring community to articulate the voice of the murder victim, who is positioned as a subaltern silenced by dominant actors, specifically the perpetrator and complicit law enforcement officials. The community’s interpretation of post-murder mystical events as karmic retribution serves to assert the victim’s innocence and challenge the narrative that labeled the victim a rice thief. Although the perpetrator evaded judicial punishment, the legend ensures that listeners recognize the true nature of the crime and identify the actual perpetrator, thereby reinforcing communal condemnation and deterring future transgressions. === Penelitian ini mengkaji karma mistis yang terdapat dalam legenda pembunuhan di Dusun Cangkring, Bantul, Yogyakarta, pada sekitaran tahun 1980-an. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan antara masalah subaltern dan karma mistis yang menyertainya dalam keseluruhan cerita legenda? Kemudian metode penelitiannya menggunakan metode cerita lisan dari Hutomo, yaitu dengan mencari informasi lokasi penelitian, observasi awal, pembacaan literatur, dan wawancara. Setelah wawancara dilakukan proses transkrip dari recorder ke tulisan latin dan terjemahan. Dalam konteks ini dilakukan penerjemahan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Kemudian setelah mendapatkan data yang diperlukan, dilakukan analisis menggunakan teori yang telah ditentukan. Karena kasus pembunuhan tersebut mengandung masalah subalternitas, maka digunakanlah teori Spivak mengenai subaltern. Selanjutnya, karma mistis yang terdapat dalam legenda juga dikaitkan dengan masalah subalternitas. Hasilnya, unsur karma mistis yang terdapat dalam cerita merupakan salah satu bentuk representasi yang dilakukan masyarakat kolektif di Dusun Cangkring untuk memberikan suara pada korban pembunuhan sebagai subaltern yang suaranya terbungkam oleh kelompok dominan, khususnya si pembunuh dan aparat hukum yang disuap. Untuk merepresentasikan bahwa si korban pembunuhan memang bukan pencuri padi dan tidak pantas untuk mendapatkan perlakuan keji demikian (baca: dibunuh dan tidak diberi keadilan), masyarakat Cangkring menginterpretasikan hal-hal mistis yang terjadi setelah peristiwa pembunuhan sebagai semacam karma bagi si pelaku pembunuhan. Dengan demikian, karma mistis berfungsi sebagai representasi kolektif atas ketidakadilan yang dialami korban dan peringatan moral bagi generasi berikutnya.
Turnamen Senènan, Sebuah Legitimasi Budaya Era Majapahit Mahathelge Ahmad Supriyanto
Arnawa Vol 4 No 1 (2026): Edisi 1
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v4i1.26782

Abstract

The Senènan tournament is an artistic tradition in the form of a battle between men held every Monday. In some regions, this tournament is held on Saturdays and Tuesdays. The purpose of this study is to examine how the Senènan tournament took place during the Majapahit era based on descriptions from the records of Ma Huan (a Chinese diplomat during the Ming dynasty) and its development. The theory used in this study is cultural theory, while the research method used is a combination of interdisciplinary sciences, namely historical methods supported by linguistics, paleograpy, archaeology and anthropology to analyze the findings of the research sources. This study found that after the Majapahit era, the Senènan tournament has continued to evolve as an artistic legacy of the Majapahit Kingdom, along with the arrival of new cultures and religions in the archipelago. Furthermore, this tournament spread to various regions and underwent transformations in terms of rules, attributes, and timing. === Turnamen Senènan merupakan sebuah tradisi kesenian berbentuk pertarungan antara para pria yang diadakan setiap hari Senin, dalam beberapa wilayah turnamen ini diadakan pada hari Sabtu dan Selasa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana turnamen Senènan terjadi pada masa Majapahit berdasarkan deskripsi dari catatan Ma Huan (diplomat asal Tionghoa pada masa pemerintahan dinasti Ming), dan perkembangannya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori budaya, kemudian metode penelitian yang digunakan adalah penggabungan antara interdisipliner ilmu, yaitu metode sejarah yang dibantu dengan ilmu linguistik, paleografi, arkeologi serta antropologi untuk menganalisa hasil temuan sumber penelitian. Dalam penelitian ini ditemukan hasil bahwa pasca pemerintahan Majapahit dari masa ke masa hingga saat ini turnamen Senènan merupakan legasi kesenian dari Kerajaan Majapahit yang terus berkembang seiring dengan hadirnya budaya dan agama baru di Nusantara. Selanjutnya turnamen ini menyebar di berbagai wilayah dan juga mengalami transformasi dalam hal peraturan, atribut dan waktu kegiatannya.
Representasi Hewan dan Perspektif Kebudayaan dalam Sapatha Teks Lontar Persumpahan di Bali Pande Putu Abdi Jaya Prawira
Arnawa Vol 4 No 1 (2026): Edisi 1
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v4i1.29128

Abstract

This study aims to reveal the symbolic significance of animals in the Hari Candana palm-leaf manuscript (lontar), focusing on their role as motifs of fear in oath-taking texts. The manuscript comprises predominantly Old Javanese and Balinese sapatha, or curses, directed at oath-breakers. Using semiotic theory and cultural linguistics, the analysis uncovers cultural perspectives toward these animals. The findings show that animals are used to instilling fear in those who violate their oaths. Denotatively, their presence signifies the physical dangers they pose, such as venom and attacks. Connotatively, these threats symbolize corruption, destruction, and moral degradation. Together, these elements sustain the myth that oath-breakers will inevitably encounter peril across various living spaces, mediated by the presence of animals. The ultimate consequence is rebirth as loathsome creatures. These interpretations are profoundly influenced by the Balinese people's collective understanding of animals, shaped by their specific cultural lens. === Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolis hewan yang terdapat dalam teks lontar Hari Candana. Lontar ini memuat teks persumpahan yang dominan disajikan dalam bahasa Jawa Kuno dan Bali. Di dalamnya berisi pula sapatha atau kutukan bagi pelanggar sumpah. Kajian terhadap hewan dalam teks ini menggunakan teori semiotik dan linguistik kebudayaan, guna mengungkap pandangan kebudayaan terhadap hewan-hewan ini. Ditemukan jika hewan di dalam teks ini dijadikan motif untuk memberikan rasa takut kepada seorang yang melanggar sumpahnya. Kehadiran hewan dimaknai secara denotasi berupa bahaya yang dapat ditimbulkan olehnya, berupa bisa dan serangan. Secara konotasi, bisa dan serangan itu dapat dimaknai sebagai simbol kerusakan, kehancuran dan kemerosotan. Semua ini dibangun untuk mengajegkan mitos bahwa orang-orang yang melanggar sumpah itu akan selalu menerima bahaya di berbagai ruang hidup, bahkan oleh kehadiran hewan-hewan. Titik paling buruk berupa kelahiran kembali menjadi hewan-hewan menjijikkan. Hal-hal ini dipengaruhi pula oleh pemahaman kolektif masyarakat Bali dalam melihat hewan dari perspektif kebudayaannya.
Glorifikasi terhadap Keistimewaan Yogyakarta dalam Sayembara Cipta Sastra Daerah Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta Ardian Nugraha Priyatama
Arnawa Vol 4 No 1 (2026): Edisi 1
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v4i1.30435

Abstract

The Special Region of Yogyakarta is a province granted special authority by the Government of the Republic of Indonesia. This status is supported by the Special Fund (Danais), which has been allocated to the region since 2013. The DIY Cultural Office, a local government agency, is responsible for distributing Danais within the cultural sector, including literature. This study addresses two research questions about the relationship between Danais and literature in the literary competitions organized by the DIY Cultural Office and how the discourse of glorifying special status is constructed in the literary works resulting from these competitions. The research employs a qualitative descriptive method, analyzing laws, regulations, winning literary works, and posts related to literary competitions on websites and social media. Data were collected through observation, focusing on linguistic units related to Danais, literary competitions, and narratives glorifying Yogyakarta's special status. The findings demonstrate that the use of Danais in the cultural sector is consistent with the provisions of the Law and Regional Regulations. However, the accountability mechanisms lack transparency, raising concerns about budget efficiency. Additionally, the annual decrease in prize amounts for literary competitions suggests insufficient recognition of winners or writers. As a result, the themes and literary works produced by the winners do not correspond with efforts to enhance the welfare of the people of Yogyakarta. === Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi yang memiliki kewenangan istimewa di bawah Pemerintah Republik Indonesia. Keistimewaannya tersebut didukung dengan adanya Dana Keistimewaan (Danais) yang diterima sejak 2013. Dinas Kebudayaan DIY merupakan salah satu perangkat pemerintahan daerah yang bertugas menyalurkan Danais dalam bidang kebudayaan termasuk kesusastraan. Hal tersebut memunculkan dua pertanyaan penelitian, yaitu tentang bagaimana korelasi antara Danais dengan kesusastraan pada kegiatan perlombaan sastra Dinas Kebudayaan DIY dan bagaimana wacana glorifikasi terhadap keistimewaan diproduksi dalam karya sastra hasil perlombaan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan objek material berupa Undang-Undang, peraturan, karya sastra pemenang, dan unggahan terkait perlombaan sastra di website maupun media sosial. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode simak dengan data berupa satuan-satuan bahasa mengenai Danais, perlombaan sastra, serta narasi glorifikasi terhadap keistimewaan Yogyakarta. Penelitian ini menemukan bahwa penggunaan Danais di bidang kebudayaan telah sesuai dengan ketentuan Undang-Undang dan Perdais. Akan tetapi, transparansi dalam pertanggungjawabannya cenderung masih menjadi kekurangan sehingga menimbulkan kecurigaan dalam realisasi anggaran. Selain itu, semakin berkurangnya nominal hadiah perlombaan cipta sastra dari tahun ke tahun merefleksikan kurangnya apresiasi terhadap para sastrawan dan penulis. Pada akhirnya, wacana yang terdapat dalam tema dan karya sastra pemenang tidak diikuti dengan upaya perbaikan kehidupan masyarakat Yogyakarta secara nyata.