cover
Contact Name
Bulan Kakanita Hermasari
Contact Email
dr.bulan.kakanita@staff.uns.ac.id
Phone
+6281225381332
Journal Mail Official
pmjfkuns@gmail.com
Editorial Address
Gedung Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No. 36A Kentingan Jebres
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Plexus Medical Journal
ISSN : 2828187x     EISSN : 28284801     DOI : https://doi.org/10.20961/plexus.v1i1.4
Core Subject : Health,
Plexus Medical journal (PMJ) publishes original research articles or article review in the basic medical sciences, clinical medical sciences, medical education and public health science. Plexus Medical journal is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, community or public health research, and medical education to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. Brief communications containing short features of medicine, latest developments in diagnostic procedures, treatment, or other health issues that is important for the development of health care system are also acceptable. Letters and commentaries of our published articles are welcome.
Articles 105 Documents
Efek Ekstrak Etanolik Daun Kelor Terhadap Kadar HDL, Kadar LDL, serta Ketebalan Aorta Tikus Wistar Model Sindrom Metabolik Nadhira, Aulia Ninggar; Nurwati, Ida; Budiani, Dyah Ratna
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v2i1.219

Abstract

Pendahuluan: Daun kelor diketahui memiliki potensi menurunkan gejala sindrom metabolik. Kriteria sindrom metabolik antara lain yait terdapat penurunan HDL, peningkatan LDL, dan penebalan dinding aorta. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanolik daun kelor terhadap kadar HDL, kadar LDL, dan ketebalan aorta tikus wistar jantan model sindrom metabolik. Metode: Penelitian bersifat eksperimental laboratorik menggunakan lima kelompok, yaitu KKN diberi pakan standar; KKP, KP1, KP2, dan KP3 diberi pakan tinggi lemak selama 28 hari dan injeksi STZ-NA pada hari ke-25. Kelompok perlakuan (KP) diberikan dosis ekstrak etanolik daun kelor masing-masing 150; 250; dan 350 mg/kgBB/hari. Kadar HDL dan LDL diukur pada hari ke-0, 25, 28, dan 57. Terminasi pada hari ke-57, aorta pars thoracica diberi pengecatan HE. Kadar HDL dan LDL dianalisis menggunakan paired t-test. Kadar HDL, LDL, dan ketebalan aorta dianalisis menggunakan one-way ANOVA dilanjutkan post hoc Tukey HSD.  Hasil: Hasil paired t-test terdapat perbedaan bermakna antara kadar HDL dan LDL sebelum dan setelah pemberian ekstrak. Hasil one-way ANOVA dan post hoc Tukey HSD, kadar HDL dan LDL terdapat perbedaan bermakna antar kelompok sedangkan ketebalan aorta tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok. Kesimpulan: Ekstrak etanolik daun kelor dosis 150; 250; dan 350 mg/kgBB/hari dapat meningkatkan kadar HDL dan menurunkan kadar LDL, tetapi tidak berpengaruh terhadap ketebalan aorta tikus wistar jantan model sindrom metabolik.
Studi Tindak Lanjut Visum Et Repertum Kasus Cedera Gawat Darurat Beta Ahlam Gizela; Sista, Kanina
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2023): April
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v2i2.388

Abstract

Pendahuluan: forensik klinik adalah sub bagian ilmu kedokteran forensik dan medikolegal dengan subjek hidup. Penanganan kasus ini seringkali harus dilakukan secara serial, baik untuk kepentingan asesmen maupun terapi, mencakup trauma fisik maupun psikis. Panjangnya rangkaian penanganan kasus forensik klinik tidak diikuti dengan aturan khusus dalam skema jaminan kesehatan nasional. Berdasarkan latar belakang tersebut, perlu dilakukan studi tindak lanjut pembuatan Visum et Repertum forensik klinik pada kasus cedera di Instalasi Gawat Darurat RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Penelitian ini bertujuan memetakan kasus forensik klinik berdasar penyebab, pembiayaan, serta kepatuhan penanganan lanjut. Metode: penelitian menggunakan desain observasional. Subjek penelitian adalah pasien forensik klinik Instalasi Gawat Darurat RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro tahun 2019 dan pasien yang kontrol sesuai saran. Pengambilan data secara kohort retrospektif. Data diolah secara deskriptif terkait demografi dan penyebab kasus forensik klinik, dilanjutkan analisis penyebab terkait kepatuhan tindak lanjut. Hasil: hasil penelitian, terdapat 943 kasus cedera sepanjang tahun 2019. Pasien cedera yang ditindaklanjuti dengan pembuatan Visum et Repertum forensik klinik berdasarkan surat permintaan penyidik berjumlah 80 kasus. Delapan puluh empat pasien kasus forensik klinik ini pembiayaannya digratiskan oleh rumah sakit. Terdapat 15% pasien yang tercatat datang kembali untuk tindak lanjut pemeriksaan. Kesimpulan: simpulan dari penelitian ini adalah 8,4% pasien cedera ditindaklanjuti dengan permintaan Visum et Repertum Forensik Klinik. Dua belas persen kasus forensik klinik datang untuk tindak lanjut pemeriksaan.
Identifikasi Ragam Modifikasi Gigi pada Jenazah Tidak Dikenal dan Rangka Manusia Forensik Suriyanto, Rusyad Adi
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v2i1.389

Abstract

Latar Belakang: Ragam modifikasi gigi sebagai produk budaya sudah dikenal penduduk Indonesia sejak zaman kuno. Ragam modifikasi gigi ini masih dipratekkan oleh beberapa kelompok etnis di Indonesia sampai sekarang. Jadi ragam modifikasi gigi ini dapat menunjukkan kelompok kultural si empunya. Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan beragam modifikasi gigi yang dapat menyumbangan suatu indikator untuk mengetahui identitas kultural jenazah tidak dikenal atau jenazah skeletonisasi.  Metode: Penduduk Indonesia telah mengenal beragam modifikasi gigi. Seluruh informasi mengenai modifikasi gigi ini dikumpulkan dari hasil-hasil riset yang telah dipublikasikan. Hasil-hasil riset itu menunjukkan bahwa modifikasi gigi yang paling umum adalah pangur gigi. Modifikasi gigi telah dilakukan sejak zaman kuno di Indonesia. Saat ini hanya etnis tertentu yang masih mempratekkan modifikasi gigi. Modifikasi gigi sebagai konstruksi budaya dari masing-masing kelompok etnis yang memiliki tradisi tersebut mempunyai kekhasannya sendiri. Dari aspek forensik informasi ini sangat membantu dalam proses individualisasi. Hasil dan Diskusi: Beberapa kelompok etnis di Indonesia masih mempratekkan beragam modifikasi gigi walaupun sudah tidak seintensif di masa lalu. Modifikasi gigi sebagai mode kultural itu senantiasa berubah. Di sini pemahaman beragam modifikasi gigi dapat menyumbangkan suatu indikator untuk mengetahui identitas kultural jenazah tidak dikenal atau jenazah skeletonisasi, khususnya di Indonesia. Identitas kultural jenazah tidak dikenal atau jenazah skeletonisasi itu yang terkait dengan jejak mode kulturalnya juga senantiasa dinamis. Kesimpulan: Pemahaman beragam modifikasi gigi masih dapat menyumbangkan suatu indikator untuk mengetahui identitas kultural jenazah tidak dikenal atau jenazah skeletonisasi, khususnya di Indonesia.
Self-disclosure (Keterbukaan Diri) dan Quarter-life Crisis (Krisis Seperempat Abad) Mahasiswa Psikologi Afifah Ulva Zein; Yuliadi, Istar; Subandono, Jarot; Septiawan, Debree
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v2i1.416

Abstract

Introduction: Quarter-life crisis is an individual who enters the period of emerging adulthood without stopping questioning the future, confused in dealing with problems, and reflecting a lot on the past to see whether his life up to now is in accordance with the life he dreamed of. This crisis is most intense in their twenties and often occurs in someone who is in the transition phase from education to the next career level, for example, a final year student. Therefore, it is necessary to find a way to reduce the negative impacts that arise, which is by knowing more about the situation that being experienced by self disclosure. This study aimed to determine whether there is a relationship between self-disclosure and quarter-life crisis in final year students. Methods:This research was observasional analytics with cross-sectional design. Subject in this research was psychology student at UNS in year 2018, amounted to 46 people who met the inclusion and exclusion criteria. Sampling was done by pusposive sampling technique. The level of self-disclosure was measured by filling out the Self-disclosure questionnaire, while the degree of quarter-life crisis was measured by the Quarter-life Crisis questionnaire. The data obtained were then analyzed by spearman rank correlation test. Results: This study showed a significant and negative relationship between the level of self-disclosure with quarter-life crisis (sig f=0,049) Conclusions: Based on the results of this study, there was a moderate relationship between the level of self-disclosure and quarter-life crisis on psychology students Universitas Sebelas Maret year 2018, where the higher level of self-disclosure, the lower level of quarter-life crisis.  
Hubungan Resiliensi Diri dengan Tingkat Kecemasan Pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) An'nurihza Zidhan Azhara; I Gusti Bagus Indro Nugroho; Bulan Kakanita Hermasari
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v2i1.456

Abstract

Pendahuluan: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit inflamasi kronis yang memengaruhi banyak organ yang dapat menimbulkan masalah psikologis berupa kecemasan. Dalam mengatasi tekanan psikis seseorang memiliki kemampuan bertahan dan menguasai tekanan yang ada atau resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan resiliensi diri dengan tingkat kecemasan pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Yayasan Tittari Surakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah resiliensi diri yang dinilai dengan kuesioner CD-RISC 10 (Connor Davidson Resilience Scale) dan variabel terikat berupa tingkat kecemasan yang dinilai dengan kuesioner TMAS (Taylor Manifest Anxiety Scale). Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rank. Hasil: Sebanyak 42 orang (82.4%) mengalami cemas. Hasil terbanyak subjek memiliki tingkat resiliensi diri sedang sebanyak 31 orang (60.8%). Hasil uji korelasi mendapatkan nilai p=0,005 (p<0,05) dengan nilai r -0,389 menunjukkan kedua variabel memiliki sifat hubungan yang negatif. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara resiliensi diri dengan tingkat kecemasan pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE).
Hubungan Gaya Hidup Hedonis Dengan Tingkat Stres pada Mahasiswi Kedokteran Albert Yohanes Axel Yoagnesto; Mohammad Fanani; Lukman Aryoseto
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v2i1.461

Abstract

Pendahuluan: Perkembangan jaman menyebabkan perubahan kebiasaan dan gaya hidup terutama pada mahasiswi salah satunya adalah gaya hidup hedonisme. Mahasiswi yang mengikuti gaya hidup hedonis memerlukan uang yang banyak untuk mencukupi keinginannya, hal ini dapat menyebabkan pengeluaran mahasiswi lebih banyak padahal mahasiswi mayoritas belum bekerja. Tidak dapat mengikuti gaya hidup hedonis dapat memicu rasa takut dan tertekan yang jika dibiarkan dapat menyebabkan stres. Tujuan dari penelitian ini untuk menilai hubungan antara gaya hidup hedonis dan tingkat stress mahasiswi.   Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan studi cross sectional yang dilaksanakan di Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sampel dari penelitian ini adalah 215 mahasiswi yang termasuk kedalam kriteria inklusi. Sampel diambil dengan teknik probability sampling jenis simple random sampling. Variable terikat adalah tingkat stress dan variable bebas adalah hedonism. Data gaya hidup hedonism diperoleh dari pengisian kuisioner skala gaya hidup hedonis dan data tingkat stress diperoleh dari pengisian kuisioner PSS-10 (Perceived Stres Scale). Data kemudian akan dihitung menggunakan software SPSS dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hedonism dengan tingkat stress dengan kekuatan korelasi yang rendah dan arah negative antara gaya hidup hedonisme dengan tingkat stress pada mahasiswi di Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara gaya hidup hedonisme dengan tingkat stress pada mahasiswi di Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Deskripsi Hasil Pemeriksaan Visum Bayi di Forensik RSUD Dr. Moewardi Surakarta Sebelum dan Selama Pandemi COVID-19 Tahun 2018-2021 Azzahra, Farah Fatimah; Atmoko , Wahyu Dwi; Suwandono, Adji
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2023): April
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v2i2.466

Abstract

Pendahuluan: Indikator kesejahteraan negara dalam pelayanan kesehatan terhadap anak dilihat dari kasus kematian bayi. Untuk mengetahui gambaran kasus kematian bayi maka akan dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran kasus kematian bayi di Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD Dr. Moewardi tahun 2018-2021 Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif menggunakan teknik total sampling. Sampel berupa seluruh kasus kematian bayi di Forensik RSUD Dr.Moewardi tahun 2018-2021 diambil dari Visum et Repertum. Variabel penelitian berupa jenis kelamin, usia dalam kandungan, lahir mati/hidup, viabilitas, lama kematian, tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, lingkar dada, tanda perawatan, cacat bawaan, instansi pengirim SPV. Hasil: Data sebelum pandemi didominasi kasus kematian bayi laki-laki, cukup umur, lahir mati, belum membusuk, tidak teridentifikasi viabilitasnya, pendek, BB sangat kurang, LIKA kecil, LIDA normal, tidak ada tanda perawatan, tidak ada cacat bawaan dan terdapat 3 daerah pengirim SPV terbanyak yaitu Boyolali, Sukoharjo, Solo. Pada dua tahun selama pandemi didapatkan kasus kematian bayi terbanyak berjenis kelamin laki-laki,  cukup umur, lahir hidup, sudah membusuk, viabel, pendek, BB sangat kurang, LIKA kecil, LIDA normal, tidak ada tanda perawatan, tidak ada cacat bawaan dan pengiriman SPV terbanyak dari Karanganyar. Kesimpulan: : Jumlah kasus kematian bayi yang diperiksa di Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD Dr. Moewardi tahun 2018-2021 sebanyak 31 kasus dengan kriteria dominan berupa: Laki-laki, cukup bulan, lahir hidup, viabel, mengalami pembusukan, pendek, BB sangat kurang, LIKA
Hubungan Tingkat Kecemasan Sosial dengan Durasi Penggunaan Media Sosial pada Mahasiswa Kedokteran Purnomo, Christopher William; Oktaviyantini, Tri; Hastami, Yunia
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2023): April
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v2i2.467

Abstract

Pendahuluan: Kecemasan sosial merupakan gangguan mental yang banyak terjadi pada individu. Individu dengan tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi, cenderung lebih banyak menggunakan media sosial saat hendak berkomunikasi, dalam rangka untuk menghindari interaksi sosial secara langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan sosial dengan durasi penggunaan media sosial pada mahasiswa kedokteran. Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan penelitian cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2019 Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, sebanyak 75 orang. Penilaian tingkat kecemasan sosial menggunakan kuesioner LSAS versi bahasa Indonesia. Penilaian durasi penggunaan media sosial menggunakan kuesioner SONTUS versi bahasa Indonesia. Data kemudian dianalisis dengan uji nonparametrik Spearman. Hasil: Dari 75 subjek penelitian yang diteliti dalam penelitian ini, didapatkan hasil yang signifikan, p=0,000. Didapatkan Correlation Coefficient sebesar 0,545. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan sosial dengan durasi penggunaan media sosial pada mahasiswa kedokteran.
Hubungan Dukungan Sosial dengan Tingkat Depresi Pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Naziha, Aliya; Maharatih, Gusti Ayu; Bulan Kakanita Hermasari
Plexus Medical Journal Vol. 1 No. 6 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v1i6.498

Abstract

Pendahuluan: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun yang disebabkan oleh pengendapan kompleks imun dengan keterlibatan berbagai organ. Salah satu manifestasi yang paling umum SLE adalah Neuropsychiatric Systemic Lupus Erythematosus (NPSLE). Manifestasi klinis NPSLE yang paling banyak ditemukan adalah gangguan mood yaitu depresi. Kondisi pasien SLE yang mengalami berbagai perubahan secara fisik dapat mempengaruhi keadaan psikologisnya sehingga dibutuhkan dukungan sosial yang positif karena dapat menjadi penyangga efek negatif dari rasa sakit dan depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial dengan tingkat depresi pada penderita Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Yayasan Tittari Surakarta. Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah penderita Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Yayasan Tittari Surakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan pengisian kuesioner sosiodemografi, The Social Provisions Scale (SPS), dan Hospital Anxiety and Depression Scale – Depression (HADS-D). Analisis data dilakukan dengan uji normalitas Kolmogorov–Smirnov, serta uji bivariat menggunakan Spearman Rank. Hasil: Penelitian ini diikuti oleh 60 responden. Responden didominasi oleh perempuan (96,7%), dengan rentang usia terbanyak adalah 18 – 35 tahun (48,3%), sudah menikah (78,3%), serta memiliki tingkat pendidikan perguruan tinggi (71,7%). Mayoritas responden telah menderita SLE ≥2 tahun (95%) serta mengonsumsi obat steroid dan immunosupressan (41,7%). 35 responden memiliki dukungan sosial rendah (58,3%) sedangkan 25 responden memiliki dukungan sosial tinggi (41,7%). Berdasarkan tingkat depresi, 49 responden (81,7%) dalam keadaan normal (81,7%), 9 responden memiliki depresi ringan (15%), 2 responden mempunyai depresi sedang (3,3%), dan tidak ada responden yang memiliki depresi berat. Hubungan dukungan sosial dengan tingkat depresi pada pasien SLE di Yayasan Tittari Surakarta menunjukkan nilai p = 0,004 (p<0,05) dan nilai koefisien korelasi r= 0,370. Kesimpulan: Terdapat korelasi lemah antara dukungan sosial dengan tingkat depresi pada pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Yayasan Tittari Surakarta dengan arah korelasi negatif.
Deskripsi Korban Mati Akibat Jejas di Leher Yang Diperiksa di RSUD Dr. Moewardi Tahun 2015-2021 Novianto Adi Nugroho; Haniifah, Firda Luthfiyyatul; Suwandono, Adji
Plexus Medical Journal Vol. 1 No. 6 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v1i6.503

Abstract

Introduction: Surakarta has a population growth rate 0.43%, the high population density can cause population problems homicides, accidents, and hanging themselves. This case can be proven by the discovery of neck injuries due to strangulation. This study was conducted to find out about the description of victims who died due to neck injuries in 2015-2021. Methods: This study used a descriptive observational method from Visum et Repertum with the population in the form of all forensic pathology case due to neck injuries which were examined at Dr. Moewardi hospital in 2015-2021. The sampling technique in this study was purposive sampling that met the inclusion and exclusion criteria. Results: From the VeR Dr. Moewardi hospital in 2015-2021 obtained as many as 28 cases of forensic pathology due to neck injuries with the description: (1) tilted injury shape 57.14%, horizontal 39.29%, crescent moon 3.57%; (2) blunt hardness 96.43%, sharp 3.57%; (3) submission of requests for VeR from the Surakarta Police 53.57%, Sukoharjo 14.29%, Boyolali 14.29%, Wonogiri 7.14%, Sragen 7.14%, Karanganyar 3.57%; (4) external examination 57.14%, autopsy 42.86%; (5) suicide 53.57%, homicide 32.14%, accident 7.14%; (6) age <15 years 7.14%, 15-64 years 78.57%, >64 years 10.71%; (7) male 67.86%, female 32.14%; (8) private employment 67.86%, students 10.71%, housewives 7.14%, not working 7.14% Conclusion: From this research, the most results were in the form of slanted neck injuries, violence due to blunt objects, requests for VeR from the Surakarta police, external examination, the method of death was suicide, victims of productive age, men, and private workers.

Page 1 of 11 | Total Record : 105