Plexus Medical Journal
Plexus Medical journal (PMJ) publishes original research articles or article review in the basic medical sciences, clinical medical sciences, medical education and public health science. Plexus Medical journal is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, community or public health research, and medical education to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. Brief communications containing short features of medicine, latest developments in diagnostic procedures, treatment, or other health issues that is important for the development of health care system are also acceptable. Letters and commentaries of our published articles are welcome.
Articles
113 Documents
Tingkat Pemahaman Mengenai COVID-19 dan Kepatuhan Pemeriksaan Kehamilan (ANC) : A Cross Sectional
Raden Rara Pandhan Budi Larasati;
Abdurahman Laqif;
Eriana Melinawati;
Lukman Aryoseto
Plexus Medical Journal Vol. 1 No. 4 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/plexus.v1i4.244
Pendahuluan: Ante natal care (ANC) dilakukan untuk mengetahui perkembangan janin dan kesehatan ibu hamil. Ketidakpatuhan memenuhi jadwal pemeriksaan ANC meningkatkan risiko terjadinya komplikasi kehamilan dan persalinan, Angka Kematian Ibu (AKI), dan Angka Kematian Bayi (AKB). Protokol kesehatan (prokes) di masa pandemi COVID-19 memberlakukan stay at home (tetap tinggal di rumah) dan social distancing (menjaga jarak). Ibu hamil merupakan individu yang rentan terhadap infeksi COVID-19. Keterbaharuan penelitian melihat pengaruh pengetahuan ibu hamil terhadap kepatuhan melakukan pemeriksaan ANC. Tujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 terhadap kepatuhan subjek melakukan pemeriksaan ANC di masa pandemi COVID-19. Metode: Design penelitian adalah cross-sectional study dengan wawancara pada ibu hamil yang datang ANC saat masa pandemi COVID-19 di Puskesmas Cawas 1, Klaten yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kelengkapan data diperoleh dengan pengisian kuesioner yang telah divalidasi dan catatan dari buku KIA. Olah data univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Jumlah responden sebanyak 66 orang dengan 77,3 % (51/66) berusia antara 20-35 tahun, 75,8% (50/66) berpendidikan tinggi, dan 69,7% (46/66) merupakan ibu yang tidak bekerja. Tidak terdapat pengaruh tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 terhadap kepatuhan pemeriksaan kehamilan (ANC) dalam masa pandemi di Puskesmas Cawas 1, Klaten, dengan p value 0,673. Kesimpulan: Tidak ada pengaruh tingkat pengetahuan COVID-19 terhadap kepatuhan ANC di masa pandemi di Puskesmas Cawas 1, Klaten.
Aplikasi Fotogrametri untuk Pemeriksaan Kerangka
Dewanto Yusuf Priyambodo
Plexus Medical Journal Vol. 1 No. 4 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/plexus.v1i4.271
Dokumentasi kasus adalah hal yang penting dalam penyelidikan kasus forensik. Fotogrametri menjadi salah satu inovasi dalam dokumentasi kasus yang baik untuk diterapkan. Hasil utama dari fotogrametri adalah rekonstruksi beberapa gambar 2 dimensi menjadi sebuah obyek 3 dimensi. Persiapan fotogrametri meliputi persiapan kamera, obyek, perangkat keras dan lunak untuk pengolahan gambar. Penggunaan obyek 3 dimensi hasil fotogrametri meliputi banyak hal seperti pendidikan dan penyelidikan kasus. Untuk menggunakan fotogrametri, kita perlu mempertimbangkan berbagai kelebihan dan kelemahan yang ada pada fotogrametri.
Perbandingan Hipotensi Antara Anestesi General dan Anestesi Spinal pada Seksio Sesarea
Ajeng Rahmawati Chandraningrum;
R. TH. Supraptomo -;
Abdurahman Laqif
Plexus Medical Journal Vol. 1 No. 5 (2022): Oktober
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/plexus.v1i5.278
Pendahuluan: Seksio sesarea merupakan salah satu operasi yang paling sering dilakukan dalam persalinan. Seksio sesarea berkaitan dengan penggunaan anestesi, dengan anestesi spinal lebih sering digunakan dibandingkan dengan anestesi general. Penggunaan anestesi pada seksio sesarea dapat menyebabkan hipotensi. Hipotensi adalah terjadinya penurunan tekanan darah sistolik kurang dari 100mmHg atau penurunan sekitar 20% dari nilai baseline. Episode singkat dari hipotensi dapat menyebabkan skor APGAR yang lebih rendah dan asidosis janin hingga hipoksia pada ibu serta depresi nenonatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hipotensi antara anestesi spinal dan anestesi general pada seksio sesarea di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di bagian Rekam Medik RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Sampel penelitian ini adalah pasien seksio sesarea tahun 2021 sebanyak 60 sampel dengan 30 kasus anestesi spinal dan 30 kasus anestesi general. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi yang ditetapkan. Data yang diperoleh kemudian di analisis menggunakan analisis bivariat dengan uji statistik yaitu uji chi square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil: Dari hasil analisis data, didapatkan hubungan yang signifikan antara jenis anestesi dengan kejadian hipotensi pada seksio sesarea di RSUD Dr. Moewardi dengan nilai p=0,002 (p<0,05). Didapatkan juga perbedaan pada kejadian hipotensi, dengan 21 kasus (35%) pada anestesi spinal dan 8 kasus (13,3%) pada anestesi general. Sedangkan yang tidak hipotensi sebanyak 9 kasus (15%) pada anestesi spinal dan 22 kasus (36,7%) pada anestesi general. Simpulan: Terjadinya hipotensi pada seksio sesarea di RSUD Dr. Moewardi Surakarta lebih banyak pada pasien anestesi spinal dibandingkan anestesi general.
Hubungan Obesitas Menurut Pola Distribusi Lemak Tubuh dengan Kejadian Endometriosis
Amira Masiah Syahvira;
Eriana Melinawati;
Yusuf Ari Mashuri
Plexus Medical Journal Vol. 1 No. 4 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/plexus.v1i4.295
Latar belakang: Endometriosis merupakan salah satu gangguan ginekologis berkaitan hormon estrogen dan berkembang melalui mekanisme peradangan. Pola distribusi jaringan lemak memiliki kaitan dengan hormon estrogen dan peningkatan masa jaringan lemak dapat mempengaruhi sistem pertahanan tubuh. Penelitian ini bermaksud untuk mempelajari hubungan antara keberadaan jaringan lemak berlebih pada regio tertentu dengan endometriosis. Metode Penelitian: Studi observasi potong lintang dilakukan pada pasien tindakan pembedahan pada poli obstetri dan ginekologi RSUD Dr. Moewardi dan RS UNS. Sebanyak 87 pasien dibagi menjadi kelompok normal, obesitas sentral, dan obesitas perifer berdasarkan hasil pengukuran indikator antropometri serta dilakukan pendataan konfirmasi endometriosis menurut hasil lab patologi anatomi. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan uji kai kuadrat Pearson. Hasil Peneltian: Subjek pada kelompok endometriosis berusia lebih muda dibandingkan kelompok non endometriosis (p < 0,05). Tidak ada perbedaan berat badan, tinggi badan, dan indeks massa tubuh diantara dua kelompok (p > 0,05). Dismenorrhea dibuktikan berhubungan dengan endometriosis (p > 0,05), namun hubungan tidak ditemukan antara endometriosis dengan infertilitas. Analisis statistik tidak menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara obesitas menurut pola distribusi lemak tubuh dengan kejadian endometriosis. Simpulan Penelitian: Obesitas menurut pola distribusi lemak tubuh tidak berhubungan dengan kejadian endometriosis. Kata Kunci: endometriosis; adipositas; obesitas; pola distribusi lemak
Studi Tindak Lanjut Visum Et Repertum Kasus Cedera Gawat Darurat
Beta Ahlam Gizela;
Kanina Sista
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2023): April
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/plexus.v2i2.388
Pendahuluan: forensik klinik adalah sub bagian ilmu kedokteran forensik dan medikolegal dengan subjek hidup. Penanganan kasus ini seringkali harus dilakukan secara serial, baik untuk kepentingan asesmen maupun terapi, mencakup trauma fisik maupun psikis. Panjangnya rangkaian penanganan kasus forensik klinik tidak diikuti dengan aturan khusus dalam skema jaminan kesehatan nasional. Berdasarkan latar belakang tersebut, perlu dilakukan studi tindak lanjut pembuatan Visum et Repertum forensik klinik pada kasus cedera di Instalasi Gawat Darurat RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Penelitian ini bertujuan memetakan kasus forensik klinik berdasar penyebab, pembiayaan, serta kepatuhan penanganan lanjut. Metode: penelitian menggunakan desain observasional. Subjek penelitian adalah pasien forensik klinik Instalasi Gawat Darurat RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro tahun 2019 dan pasien yang kontrol sesuai saran. Pengambilan data secara kohort retrospektif. Data diolah secara deskriptif terkait demografi dan penyebab kasus forensik klinik, dilanjutkan analisis penyebab terkait kepatuhan tindak lanjut. Hasil: hasil penelitian, terdapat 943 kasus cedera sepanjang tahun 2019. Pasien cedera yang ditindaklanjuti dengan pembuatan Visum et Repertum forensik klinik berdasarkan surat permintaan penyidik berjumlah 80 kasus. Delapan puluh empat pasien kasus forensik klinik ini pembiayaannya digratiskan oleh rumah sakit. Terdapat 15% pasien yang tercatat datang kembali untuk tindak lanjut pemeriksaan. Kesimpulan: simpulan dari penelitian ini adalah 8,4% pasien cedera ditindaklanjuti dengan permintaan Visum et Repertum Forensik Klinik. Dua belas persen kasus forensik klinik datang untuk tindak lanjut pemeriksaan.
Identifikasi Ragam Modifikasi Gigi pada Jenazah Tidak Dikenal dan Rangka Manusia Forensik
Rusyad Adi Suriyanto
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/plexus.v2i1.389
Latar Belakang: Ragam modifikasi gigi sebagai produk budaya sudah dikenal penduduk Indonesia sejak zaman kuno. Ragam modifikasi gigi ini masih dipratekkan oleh beberapa kelompok etnis di Indonesia sampai sekarang. Jadi ragam modifikasi gigi ini dapat menunjukkan kelompok kultural si empunya. Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan beragam modifikasi gigi yang dapat menyumbangan suatu indikator untuk mengetahui identitas kultural jenazah tidak dikenal atau jenazah skeletonisasi. Metode: Penduduk Indonesia telah mengenal beragam modifikasi gigi. Seluruh informasi mengenai modifikasi gigi ini dikumpulkan dari hasil-hasil riset yang telah dipublikasikan. Hasil-hasil riset itu menunjukkan bahwa modifikasi gigi yang paling umum adalah pangur gigi. Modifikasi gigi telah dilakukan sejak zaman kuno di Indonesia. Saat ini hanya etnis tertentu yang masih mempratekkan modifikasi gigi. Modifikasi gigi sebagai konstruksi budaya dari masing-masing kelompok etnis yang memiliki tradisi tersebut mempunyai kekhasannya sendiri. Dari aspek forensik informasi ini sangat membantu dalam proses individualisasi. Hasil dan Diskusi: Beberapa kelompok etnis di Indonesia masih mempratekkan beragam modifikasi gigi walaupun sudah tidak seintensif di masa lalu. Modifikasi gigi sebagai mode kultural itu senantiasa berubah. Di sini pemahaman beragam modifikasi gigi dapat menyumbangkan suatu indikator untuk mengetahui identitas kultural jenazah tidak dikenal atau jenazah skeletonisasi, khususnya di Indonesia. Identitas kultural jenazah tidak dikenal atau jenazah skeletonisasi itu yang terkait dengan jejak mode kulturalnya juga senantiasa dinamis. Kesimpulan: Pemahaman beragam modifikasi gigi masih dapat menyumbangkan suatu indikator untuk mengetahui identitas kultural jenazah tidak dikenal atau jenazah skeletonisasi, khususnya di Indonesia.
Perbedaan Kadar D-dimer antara Persalinan Pervaginam dan C-section pada Ibu Hamil COVID-19
Garwita Anindya Restisa;
Teguh Prakosa;
Eric Edwin Yuliantara;
Hermawan Udiyanto
Plexus Medical Journal Vol. 1 No. 5 (2022): Oktober
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/plexus.v1i5.400
Pendahuluan: COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang sebagian besar menyerang sistem pernapasan dan bersifat menular. COVID-19 memiliki jumlah kasus dan tingkat mortalitas yang tinggi. Bahkan, ibu hamil pun rentan tertular penyakit COVID-19. D-dimer merupakan produk akhir degenerasi cross-linked fibrin oleh aktivitas kerja plasmin dalam sistem fibrinolitik. D-dimer dapat menjadi biomarker aktivitas koagulasi dan alat prognosis pasien COVID-19. D-dimer meningkat pada kehamilan, persalinan, dan infeksi COVID-19. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan kadar D-dimer antara persalinan pervaginam dan C-section pada ibu hamil COVID-19, sehingga mengetahui apakah riwayat persalinan memengaruhi kadar D-dimer. Metode: Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan pendekatan cross sectional. Penelitian menggunakan 67 sampel yang tercatat pada rekam medis sejak Maret 2020 hingga Maret 2022. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney pada software SPSS. Hasil: Hasil uji Mann-Whitney pada 26 subjek dengan persalinan pervaginam dan 41 subjek dengan C-section didapatkan P-Value 0,031 (P<0,05) yang menunjukkan terdapat perbedaan kadar D-dimer yang bermakna antara persalinan pervaginam (mean 40,44) dan C-section (mean 29,91). Kesimpulan: Terdapat perbedaan kadar D-dimer antara persalinan pervaginam dan C-section pada ibu hamil COVID-19, kadar D-dimer lebih tinggi pada persalinan pervaginam dibandingkan dengan C-section.
Self-disclosure (Keterbukaan Diri) dan Quarter-life Crisis (Krisis Seperempat Abad) Mahasiswa Psikologi
Afifah Ulva Zein;
Istar Yuliadi;
Jarot Subandono;
Debree Septiawan
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/plexus.v2i1.416
Introduction: Quarter-life crisis is an individual who enters the period of emerging adulthood without stopping questioning the future, confused in dealing with problems, and reflecting a lot on the past to see whether his life up to now is in accordance with the life he dreamed of. This crisis is most intense in their twenties and often occurs in someone who is in the transition phase from education to the next career level, for example, a final year student. Therefore, it is necessary to find a way to reduce the negative impacts that arise, which is by knowing more about the situation that being experienced by self disclosure. This study aimed to determine whether there is a relationship between self-disclosure and quarter-life crisis in final year students. Methods:This research was observasional analytics with cross-sectional design. Subject in this research was psychology student at UNS in year 2018, amounted to 46 people who met the inclusion and exclusion criteria. Sampling was done by pusposive sampling technique. The level of self-disclosure was measured by filling out the Self-disclosure questionnaire, while the degree of quarter-life crisis was measured by the Quarter-life Crisis questionnaire. The data obtained were then analyzed by spearman rank correlation test. Results: This study showed a significant and negative relationship between the level of self-disclosure with quarter-life crisis (sig f=0,049) Conclusions: Based on the results of this study, there was a moderate relationship between the level of self-disclosure and quarter-life crisis on psychology students Universitas Sebelas Maret year 2018, where the higher level of self-disclosure, the lower level of quarter-life crisis.
Hubungan Resiliensi Diri dengan Tingkat Kecemasan Pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
An'nurihza Zidhan Azhara;
I Gusti Bagus Indro Nugroho;
Bulan Kakanita Hermasari
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/plexus.v2i1.456
Pendahuluan: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit inflamasi kronis yang memengaruhi banyak organ yang dapat menimbulkan masalah psikologis berupa kecemasan. Dalam mengatasi tekanan psikis seseorang memiliki kemampuan bertahan dan menguasai tekanan yang ada atau resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan resiliensi diri dengan tingkat kecemasan pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Yayasan Tittari Surakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah resiliensi diri yang dinilai dengan kuesioner CD-RISC 10 (Connor Davidson Resilience Scale) dan variabel terikat berupa tingkat kecemasan yang dinilai dengan kuesioner TMAS (Taylor Manifest Anxiety Scale). Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rank. Hasil: Sebanyak 42 orang (82.4%) mengalami cemas. Hasil terbanyak subjek memiliki tingkat resiliensi diri sedang sebanyak 31 orang (60.8%). Hasil uji korelasi mendapatkan nilai p=0,005 (p<0,05) dengan nilai r -0,389 menunjukkan kedua variabel memiliki sifat hubungan yang negatif. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara resiliensi diri dengan tingkat kecemasan pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE).
Hubungan Gaya Hidup Hedonis Dengan Tingkat Stres pada Mahasiswi Kedokteran
Albert Yohanes Axel Yoagnesto;
Mohammad Fanani;
Lukman Aryoseto
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/plexus.v2i1.461
Pendahuluan: Perkembangan jaman menyebabkan perubahan kebiasaan dan gaya hidup terutama pada mahasiswi salah satunya adalah gaya hidup hedonisme. Mahasiswi yang mengikuti gaya hidup hedonis memerlukan uang yang banyak untuk mencukupi keinginannya, hal ini dapat menyebabkan pengeluaran mahasiswi lebih banyak padahal mahasiswi mayoritas belum bekerja. Tidak dapat mengikuti gaya hidup hedonis dapat memicu rasa takut dan tertekan yang jika dibiarkan dapat menyebabkan stres. Tujuan dari penelitian ini untuk menilai hubungan antara gaya hidup hedonis dan tingkat stress mahasiswi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan studi cross sectional yang dilaksanakan di Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sampel dari penelitian ini adalah 215 mahasiswi yang termasuk kedalam kriteria inklusi. Sampel diambil dengan teknik probability sampling jenis simple random sampling. Variable terikat adalah tingkat stress dan variable bebas adalah hedonism. Data gaya hidup hedonism diperoleh dari pengisian kuisioner skala gaya hidup hedonis dan data tingkat stress diperoleh dari pengisian kuisioner PSS-10 (Perceived Stres Scale). Data kemudian akan dihitung menggunakan software SPSS dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hedonism dengan tingkat stress dengan kekuatan korelasi yang rendah dan arah negative antara gaya hidup hedonisme dengan tingkat stress pada mahasiswi di Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara gaya hidup hedonisme dengan tingkat stress pada mahasiswi di Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.