cover
Contact Name
Alfiah
Contact Email
alfiah@upgris.ac.id
Phone
+6281325581104
Journal Mail Official
alfiah@upgris.ac.id
Editorial Address
Universitas PGRI Semarang Kampus 4 UPGRIS, Jalan Gajah Raya No. 40 Sambirejo, Gayamsari, Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Kaloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah
ISSN : -     EISSN : 28291123     DOI : https://doi.org/10.26877/kaloka
Core Subject : Education, Social,
Kaloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah adalah jurnal nasional yang memfasilitasi guru, mahasiswa, dosen, dan praktisi pendidikan dalam penerbitan karya ilmiah atau artikel hasil penelitian maupun studi pustaka di bidang bahasa dan sastra daerah serta pengajarannya. Jurnal ini diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang. Kaloka Terbit 2 kali setahun pada bulan Maret dan September.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "vol 5, no 2 (2026)" : 7 Documents clear
KEPERCAYAAN TRADISI NYADRAN DI MAKAM LELUHUR DUKUH KALIKANGKUNG DESA NGLEBAK KECAMATAN KRADENAN KABUPATEN BLORA Tintingan Folklor Setengah Lisan Amin, Vesalwa Lutfia Kolfi
Kaloka Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Vol 5, No 2 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/kaloka.v5i2.27671

Abstract

This study examines the Nyadran tradition at the ancestral gravesite in Dukuh Kalikangkung, Nglebak Village, Kradenan Subdistrict, Blora Regency. The Nyadran tradition is a form of Javanese cultural heritage that is still preserved by the community as a sign of respect for their ancestors and an expression of gratitude to God. This study aims to describe the origin of the name Dukuh Kalikangkung, the procession of the Nyadran tradition, and the offerings used. This study employs a qualitative method using data collection techniques such as interviews, documentation, and non-participant observation. The results of this study indicate that the Nyadran tradition in Dukuh Kalikangkung is still routinely held on Tuesday Kliwon during the big month or the month of Sapar. The series of activities includes weweh, offering prayers at the ancestral graves, a gathering at the village head’s house, and a performance of the Gambyong dance. The Gambyong dance performance at the village head’s residence used to take place from Wednesday morning through the afternoon and evening; however, with the passage of time, it has been condensed to Tuesday Kliwon or Wednesday night. The offerings used, such as roasted chicken, flower arrangements, fresh pandan leaves, and rice wrapped in banana leaves, symbolize gratitude, respect, harmony, and the spiritual values of the community. Meanwhile, the offerings during the weweh ceremony include jadah, jenang, rengginang, gedhang, and krupuk gareng. This tradition has endured because it is regarded as a cultural identity and serves to strengthen social bonds within the Nglebak village community.
Logika Analogis dan Potret Realitas Sosial dalam Saloka Jawa: Sebuah Analisis Metafora Konseptual Tukijo, Tukijo
Kaloka Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Vol 5, No 2 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/kaloka.v5i2.27791

Abstract

Saloka merupakan bentuk peribahasa metaforis yang menggunakan berbagai ranah, antara lain sumber dari dunia hewan, benda, atau  alam untuk menjelaskan ranah sasaran berupa perilaku, karakter, watak, atau kondisi sosial manusia. Penelitian ini mengkaji logika analogis dalam saloka bahasa Jawa membangun dan merepresentasikan realitas sosial masyarakat penuturnya dengan menggunakan kerangka Metafora Konseptual dari Lakoff dan Johnson. Penelitian ini menggunakan kualitatif-deskriptif diterapkan pada korpus saloka yang diperoleh dari sumber tertulis (kumpulan peribahasa Jawa baku) dan konfirmasi lisan dari penutur asli bahasa Jawa. Hasil analisis menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, terdapat peta metafora yang dominan, yakni manusia adalah hewan (misal: kacang ora ninggal lanjaran), manusia adalah tumbuhan (misal: alang-alang mangan sambak), dan interaksi sosial adalah perjalanan. Kedua, logika analogis dalam saloka tidak bersifat universal, melainkan  terikat pada skema pengalaman sensoris dan nilai budaya Jawa, seperti konsep rukun, hormat, sungkan, ewuh pakewuh, dan tepa slira. Ketiga, saloka berfungsi tidak hanya sebagai pernyataan keindahan, tetapi sebagai instrumen kritik sosial yang halus sekaligus penguat kohesi komunitas melalui pemaknaan bersama. Secara filosofis, temuan ini menolak pandangan bahwa metafora hanyalah hiasan saja; sebaliknya  saloka membuktikan bahwa bahasa Jawa membentuk cara berpikir analogis yang secara ontologis merekonstruksi realitas sosial. Studi ini menyimpulkan bahwa saloka Jawa merupakan bukti empiris bagi tesis relativitas linguistik versi lemah: struktur metaforis bahasa memengaruhi sekaligus merefleksikan pola relasi sosial dalam masyarakat Jawa. Implikasinya, pendidikan karakter dan analisis wacana budaya Jawa perlu memulihkan kesadaran atas logika analogis yang tersimpan dalam saloka
KAJIAN PSIKOLOGI HUMANISTIK TERHADAP TOKOH DALAM DRAMA TARLING “KI MARDIYAH PUTRA SANGKALA” H ABDUL ADJIB Ali, Annisa; Della, Della; Alini, Cindy N Nur Rahma
Kaloka Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Vol 5, No 2 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/kaloka.v5i2.28213

Abstract

 Drama Tarling Ki Mardiyah Putra Sangkala karya Maestro H. Abdul Adjib merupakan salah satu bentuk karya sastra pertunjukan pesisir Pantura yang sarat akan pesan moral, sosial, dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika psikologis tokoh utama, Ki Mardiyah, melalui pendekatan psikologi humanistik. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik studi teks dan analisis isi terhadap naskah drama serta rekaman pementasan. Analisis ini didasarkan pada teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow dan teori kepribadian Carl Rogers, dengan fokus pada konsep diri dan tingkat kongruensi tokoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ki Mardiyah mengalami konflik psikologis yang mendalam akibat adanya inkongruensi antara konsep diri ideal dan kenyataan hidup yang juga dipengaruhi oleh tekanan lingkungan sosial. Perjalanan hidup tokoh menggambarkan proses penyediaan kebutuhan psikologis secara bertahap, yang bergerak dari kebutuhan rasa aman menuju penghargaan diri. Pada akhirnya, penyelesaian konflik tercapai melalui aktualisasi diri yang ditandai dengan kebebasan mengambil keputusan, keberanian mengambil risiko, serta penemuan makna hidup yang sejati. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karya tersebut tidak sekedar hadir sebagai sarana hiburan, melainkan merepresentasikan perjuangan eksistensial manusia dalam membentuk jati diri dan mencapai keharmonisan batin. Drama ini memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi dan mengukuhkan relevansi psikologi
NilaiNilai Pendidikan Dalam Gaguritan Peititp Kalahin Mati Karya Bapa Ketut Mushala Garba Priyatna, Kadek Ari Putra; Wisnu, I Wayan Gede; Paramartha, I Ketut
Kaloka Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Vol 5, No 2 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/kaloka.v5i2.28304

Abstract

Gaguritan sebagai salah satu bentuk sastra Bali tradisional mengandung nilai-nilai luhur yang relevan untuk pendidikan karakter, namun keberadaannya kini kurang diapresiasi oleh generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan isi Gaguritan Petitip Kalahin Mati (GPKM) karya Bapa Ketut Mushala Garba dan (2) mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan tekstual. Sumber data utama adalah naskah GPKM yang diterbitkan oleh CV Indra Jaya Singaraja. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca catat dengan instrumen kartu data. Analisis data menggunakan teori semiotika Ferdinand de Saussure dan teori nilai-nilai pendidikan Zaim Elmubarok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GPKM terdiri dari tujuh pupuh, yaitu Mijil, Pangkur, Semarandana, Durma, Sinom, Ginanti, dan Pucung. Isi GPKM menceritakan perjalanan hidup manusia dari perilaku angkara murka hingga kehidupan pertapaan yang sarat dengan ajaran dharma. Ditemukan sembilan nilai pendidikan dalam GPKM, yaitu sradha bhakti, kejujuran, saling berbagi, kerja keras, kesabaran, kegigihan, disiplin, kesetiaan, dan tolong-menolong. Nilai tolong-menolong dan saling berbagi merupakan nilai yang paling dominan karena tercermin dalam perilaku saling asah-asih-asuh antartokoh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa GPKM tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter yang relevan untuk diajarkan di sekolah dan dihayati oleh masyarakat Bali.
Inovasi Pertunjukan Tembang Macapat: Kolaborasi Musik Kekinian dan Nilai Tradisi Paramesti, Niki Nugrah; Sulanjari, Bambang
Kaloka Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Vol 5, No 2 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/kaloka.v5i2.26533

Abstract

Macapat songs, as a Javanese cultural heritage, face challenges of relevance in the contemporary era marked by the dominance of popular culture and globalization. This study examines innovations in macapat song performances through collaboration with contemporary music as a revitalization strategy that continues to preserve traditional values. Employing a descriptive qualitative approach, the research analyzes the performance “Macapat Senja di Malioboro”, published on the YouTube platform, as the main object of study. Data were collected through visual and audio documentation of the performance recordings, which were then analyzed in depth to identify elements of innovation and the preservation of traditional values. The results indicate that modern musical arrangements incorporating jazz and pop elements successfully create a performance format that is more accessible to young audiences without eliminating the philosophical and aesthetic essence of macapat songs. This innovation is manifested in three main dimensions: instrumentation that combines traditional and modern musical instruments, vocal interpretation that blends traditional techniques with contemporary expressiveness, and performance contexts that utilize urban public spaces as arenas for intercultural dialogue.
Lexical and Phonological Relationship between Bulukumba Buginese and Toraja: A HistoricalComparative Study wahyudi, awal
Kaloka Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Vol 5, No 2 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/kaloka.v5i2.28298

Abstract

This study examines the lexical and phonological relationship between Bulukumba Buginese (BB) and Toraja (TL), with attention to local variety, cognate criteria, and recurrent sound correspondences. The dataset comprises 200 Swadesh basic-vocabulary meanings collected in 2026 from six native speakers, three per variety, through interviews, note-taking, and audio recording. The analysis combines lexicostatistics, glottochronology, phonemic-correspondence identification, and comparison with Proto-Austronesian (PAN) forms retained in the dataset. Eighty-seven related pairs were identified: 36 identical pairs, 20 pairs differing by one phoneme, 20 pairs supported by phonemic correspondence, and 11 pairs based on phonetic similarity. The resulting cognacy rate is 43.5%; excluding the 11 phonetic-similarity pairs reduces it to 38.0%, which remains within the same “family” band of the legacy lexicostatistical classification used in the study. With a retention constant of 0.805, the initial glottochronological estimate is approximately 1,919 years before 2026. Recalculation of the stated standard-error formula gives 0.0351 and a model-dependent range of approximately 2,097–1,740 years before 2026 (roughly 71 BCE–286 CE). Six correspondence sets are identified: /ŋ~n/, /w~b/, /ə~a/, /r~d/, /ø~k/, and /o~e/, with unequal evidential strength. PAN-oriented comparisons also show lenition, fortition, aphaeresis, apocope, syncope, and prothesis. The findings support BB–TL historical relatedness while showing that neither cognacy percentages nor glottochronological dates alone establish genealogical subgrouping.
Perubahan Fonem Dari Serapan Bahasa Asing ke Bahasa Sunda Adha, Hilal; Ramadhani, Salma Mia; Zuharo, Muna Siti; Firmansyah, Rizky; Fadillah, Wafi Siti; Widyastuti, Temmy
Kaloka Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Vol 5, No 2 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/kaloka.v5i2.27005

Abstract

This research discusses the phoneme changes in loanwords from foreign languages into Sundanese. The purpose of this study is to explain the process and forms of phoneme changes that occur when a word from a foreign language is incorporated into the Sundanese phonological system. The method used is qualitative descriptive research, by collecting data from dictionaries, everyday conversations, and previous journals. The results of the study show that phoneme changes are usually used to adjust foreign sounds to Sundanese phonological patterns. The changes found include assimilation, vowel reduction, deletion, and insertion, which occur through the processes of assimilation and elimination. For example, the word askes (originating from the English word 'Access') undergoes morphological and phonological adaptation to match the phoneme system of the Sundanese language. Another example is loanwords from Dutch such as the word strip (originating from 'Streep') which undergoes an assimilation process, as well as the word dunya (originating from the Arabic 'Dunyaa') which undergoes an elimination or sound deletion process. The educational implication is to provide concrete examples for learning the process of phonological assimilation and local language adaptation under foreign language influence. In terms of socio-cultural implications, the Sundanese language is open to external influences, so that adaptation of Sundanese language to foreign languages does not eliminate the original characteristics of Sundanese, which can serve as a basis for the development of the Sundanese language.

Page 1 of 1 | Total Record : 7