cover
Contact Name
Arich Hawary Anshorullah
Contact Email
lppm.stiuwm@gmail.com
Phone
+6289672966876
Journal Mail Official
lppm.stiuwm@gmail.com
Editorial Address
Komplek Islamic Center Wadi Mubarak Bogor, Jl. Raya Puncak - Cianjur, Gg. Kantor, Kuta, Kec. Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16770
Location
Kab. bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 30312876     EISSN : 2961919X     DOI : http://doi.org/10.62109/izzatuna
Core Subject : Religion,
Izzatuna merupakan jurnal ilmiah yang memfokuskan pembahasannya pada Tafsir Al Quran, Kaidah Kaidah Tafsir, Ilmu Ilmu Al Quran, Tajwid dan Qiraat Al Quran, Rasm Usmani dan Living Quran.
Articles 63 Documents
Pengelolaan Rasa Takut melalui Kisah Nabi Musa dalam Al-Qur’an Maura, Aisyah Safa; Hakim, Luqman Nol; Yusuf, Muhammad Suaidi
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i1.193

Abstract

Kegagalan atau ketidakmampuan seseorang dalam memanajemen emosinya akan berakibat fatal pada kesehatan mentalnya. Pada kasus emosi takut, ketidakmampuan seseorang dalam memanajemen emosinya akan mengakibatkan gangguan mental berupa gangguan kecemasan serta fobia. Al-Qur’an menawarkan solusi permasalahan ini. Maka dari itu, penelitian ini diangkat untuk mengetahui bagaimana manajemen emosi takut yang Allah ajarkan melalui Al-Qur’an, terkhususnya menurut perspektif ayat-ayat kisah Nabi Musa. Penelitian dilakukan dengan pendekatan ilmu tafsir dan ilmu psikologi serta menggunakan metode penelitian kualitatif dengan kajian studi kepustakaan (library research). Perbedaan kajian ini dengan kajian terdahulu adalah pembahasan mengenai manajemen emosi takut serta menggunakan ayat-ayat emosi takut pada kisah Nabi Musa. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data dengan analisis isi (content anaysis) yang sifatnya deskriptif analisis. Setelah itu, kajian menggunakan tiga model manajemen emosi oleh M. Darwis Hude, yaitu model pengalihan (displacement), model penyesuaian kognisi (cognitive adjustment), dan model coping. Setelah dilakukan penelitian, dihasilkan kesimpulan bahwa model manajemen emosi takut yang dicontohkan oleh Nabi Musa dalam Al-Qur’an setidaknya ada dua jenis, yaitu berupa model manajemen emosi pengalihan (displacement) yang dilakukan dengan bentuk berdoa dan model manajemen emosi penyesuaian kognitif (cognitive adjustment) yang dilakukan dalam bentuk prasangka baik (husnu dzann). Abstract A person's failure or inability to manage their emotions can have fatal consequences for their mental health. In the case of fear, the inability to manage their emotions can lead to mental disorders such as anxiety and phobias. The Quran offers a solution to this problem. Therefore, this study aims to determine how God teaches us to manage the emotion of fear through the Quran, specifically from the perspective of the verses in the story of the Prophet Moses. The research was conducted using an exegetical and psychological approach, using qualitative research methods with a library study. The difference between this study and previous studies is the discussion of the management of the emotion of fear and the use of verses related to the emotion of fear in the story of the Prophet Moses. This study employed descriptive content analysis as a data analysis technique. The study then utilized three models of emotion management by M. Darwis Hude: the displacement model, the cognitive adjustment model, and the coping model. After conducting research, it was concluded that the model for managing fear emotions exemplified by the Prophet Moses in the Quran consists of at least two types: a displacement model, which is carried out through prayer, and a cognitive adjustment model, which is carried out through positive assumptions (husnu dzann).
Analisis Konsep Żikrullah dalam Perspektif Al-Qur’an Hariyanto, Didik; Winnuriyah, Winnuriyah
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i1.195

Abstract

Dzikir adalah ibadah yang sangat penting bagi manusia karena mencakup berbagai macam ibadah dan banyak manfaat, salah satunya adalah kebahagiaan. Dikatakan bahwa dzikir adalah ibadah yang harus dilakukan sesuai dengan kehendak Allah, tetapi banyak orang di zaman sekarang yang melakukannya dengan cara yang tidak sesuai dengan syari'at. Studi ini menjelaskan semua konsep yang ada dalam Al-Qur'an tentang dzikir, termasuk metode, waktu, keuntungan, dan konsekuensi bagi mereka yang meninggalkannya. Penelitian kepustakaan ini menghimpun buku-buku dan bahan tertulis lain yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dzikir, atau ibadah apa pun yang dilakukan untuk mengingat Allah dan mengharapkan pahala dari-Nya, dapat dianggap sebagai ibadah. Cara berdzikir adalah dengan berdzikir dengan hati, lisan, atau keduanya, dengan memahami artinya, tunduk, takut, dan tidak mengeraskan suara, dan mengamalkannya. Waktu untuk berdzikir kepada Allah disebut muṭlaq dan muqayyad. Manfaat berdzikir adalah; diingat oleh Allah, mendapatkan ampunan dan pahala yang besar, dijauhkan dari kemunkaran, menjadikan hati tenang, mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan, istiqamah dalam shalat dan berinfak, menjadikan hati sabar, diberikan kekuatan dan pertolongan. Akibat bagi yang meninggalkan dzikir adalah; disifati sebagai orang Munafik, seperti orang Musyrik yang keras hati, ditampakan kepadanya neraka Jahanam, kehidupan yang sempit, di hari kiamat menjadi buta, menjadi orang yang celaka dan sesat, Termasuk orang yang dzalim, mendapatkan azab yang pedih, termasuk golongan syaithan dan mendapatkan kerugian. Abstract Dhikr (remembrance of Allah) is a very important act of worship for humans because it encompasses various forms of worship and offers many benefits, one of which is happiness. It is said that dhikr is an act of worship that must be performed according to Allah's will, but many people today perform it in ways that do not comply with sharia. This study explains all the concepts in the Qur'an about dhikr, including the methods, times, benefits, and consequences for those who abandon it. This literature study compiles books and other written materials related to the topic discussed. The research findings show that dhikr, or any act of worship performed to remember Allah and seek His reward, can be considered worship. The methods of dhikr are to perform it with the heart, the tongue, or both, understanding its meaning, being humble, fearful, not raising the voice, and practicing it. The times for dhikr of Allah are referred to as muṭlaq (general) and muqayyad (specific). The benefits of dhikr are: being remembered by Allah, obtaining forgiveness and great rewards, being kept away from evil, making the heart calm, attaining success and happiness, being steadfast in prayer and giving charity, making the heart patient, being granted strength and help. The consequences for those who abandon dhikr are: being characterized as hypocrites, like polytheists with hard hearts, being shown Hellfire, having a constrained life, being blind on the Day of Judgment, becoming wretched and misguided, being among the oppressors, receiving a severe punishment, being among the followers of Satan, and incurring loss.
Peran dan Karakter Ayah dalam Pendidikan Anak menurut Tafsir Surah Yusuf Hariyanto, Didik; Nafish, Nur Arrizkin
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i1.196

Abstract

Perkembangan anak terpengaruh negatif jika ayah tidak mengikuti pendidikan keluarga. Al-Qur'an menggambarkan ayah ideal melalui kisah nabi. Salah satu dari cerita Nabi Ya'qub. Untuk melahirkan generasi yang baik, pemahaman tentang peran ayah dan sifat-sifatnya yang ideal dipelajari. Dengan mengacu pada kisah Nabi Ya'qub dalam Kitab Suci, penelitian ini bertujuan untuk menentukan peran yang harus dimainkan seorang ayah sebagai pendidik dalam keluarga, serta kualitas atau sifat yang harus ditanamkan dalam diri seorang ayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan tafsir tematik, dengan data yang berasal dari sumber primer dan sekunder. Dalam memahami pesan terkait konsep tertentu dalam Al-Qur'an, diterapkan metode tafsir maudu’i, yang menjadi landasan dalam penelitian ini. Dari banyak ayat yang menggambarkan interaksi antara Nabi Ya’qub dengan anak-anaknya, dapat diidentifikasi setidaknya sepuluh peran yang dimainkan oleh beliau sebagai seorang ayah. Ini mencakup pelindung, pengajar tauhid, pembimbing untuk bertawakkal kepada Allah, pendorong untuk memenuhi janji, pembina agar tidak mudah putus asa, pemberi nasihat yang baik, pendidik dalam menjaga rahasia, pencari informasi tentang keadaan anak-anaknya, mediator dalam memecahkan konflik di antara mereka, serta doa-doanya untuk kebaikan anak-anaknya. Dalam melaksanakan peran-peran ini, Nabi Ya’qub menunjukkan beberapa karakteristik penting seorang ayah, termasuk cinta dan kasih sayang yang mendalam terhadap anak-anaknya, responsif terhadap kebutuhan mereka, menjadi pendengar yang baik, bersabar dalam menghadapi cobaan, mencari kedamaian, memaafkan, berserah kepada Allah, tidak putus asa terhadap rahmat-Nya, serta tidak mengeluh kecuali kepada-Nya. Abstract Child development is negatively affected if the father does not attend family education. The Qur'an describes the ideal father through the story of the prophet. One of the stories of Prophet Ya'qub. In order to give birth to a good generation, an understanding of the role of the father and his ideal traits is studied. With reference to the story of Prophet Ya'qub in the Holy Bible, this study aims to determine the role that a father should play as an educator in the family, as well as the qualities or traits that should be instilled in a father. This study used a thematic interpretation approach, with data coming from primary and secondary sources. In understanding the message related to certain concepts in the Qur'an, the method of maudu'i interpretation is applied, which is the basis for this research. From the many verses describing the interaction between Prophet Ya'qub and his sons, at least ten roles can be identified that he played as a father. This includes a protector, a teacher of monotheism, a guide to trust Allah, a guide to fulfill promises, a coach so as not to be easily discouraged, a good advice giver, an educator in keeping secrets, a seeker of information about the situation of his children, a mediator in resolving conflicts between them, and his prayers for the good of his children. In performing these roles, Prophet Ya'qub exhibited several important characteristics of a father, including deep love and affection for his children, responsiveness to their needs, being a good listener, being patient in the face of trials, seeking peace, forgiving, surrendering to Allah, not discourageing His mercy, and not complaining except to Him.