cover
Contact Name
Arich Hawary Anshorullah
Contact Email
lppm.stiuwm@gmail.com
Phone
+6289672966876
Journal Mail Official
lppm.stiuwm@gmail.com
Editorial Address
Komplek Islamic Center Wadi Mubarak Bogor, Jl. Raya Puncak - Cianjur, Gg. Kantor, Kuta, Kec. Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16770
Location
Kab. bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 30312876     EISSN : 2961919X     DOI : http://doi.org/10.62109/izzatuna
Core Subject : Religion,
Izzatuna merupakan jurnal ilmiah yang memfokuskan pembahasannya pada Tafsir Al Quran, Kaidah Kaidah Tafsir, Ilmu Ilmu Al Quran, Tajwid dan Qiraat Al Quran, Rasm Usmani dan Living Quran.
Articles 70 Documents
Pengelolaan Rasa Takut melalui Kisah Nabi Musa dalam Al-Qur’an Maura, Aisyah Safa; Hakim, Luqman Nol; Yusuf, Muhammad Suaidi
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i1.193

Abstract

Kegagalan atau ketidakmampuan seseorang dalam memanajemen emosinya akan berakibat fatal pada kesehatan mentalnya. Pada kasus emosi takut, ketidakmampuan seseorang dalam memanajemen emosinya akan mengakibatkan gangguan mental berupa gangguan kecemasan serta fobia. Al-Qur’an menawarkan solusi permasalahan ini. Maka dari itu, penelitian ini diangkat untuk mengetahui bagaimana manajemen emosi takut yang Allah ajarkan melalui Al-Qur’an, terkhususnya menurut perspektif ayat-ayat kisah Nabi Musa. Penelitian dilakukan dengan pendekatan ilmu tafsir dan ilmu psikologi serta menggunakan metode penelitian kualitatif dengan kajian studi kepustakaan (library research). Perbedaan kajian ini dengan kajian terdahulu adalah pembahasan mengenai manajemen emosi takut serta menggunakan ayat-ayat emosi takut pada kisah Nabi Musa. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data dengan analisis isi (content anaysis) yang sifatnya deskriptif analisis. Setelah itu, kajian menggunakan tiga model manajemen emosi oleh M. Darwis Hude, yaitu model pengalihan (displacement), model penyesuaian kognisi (cognitive adjustment), dan model coping. Setelah dilakukan penelitian, dihasilkan kesimpulan bahwa model manajemen emosi takut yang dicontohkan oleh Nabi Musa dalam Al-Qur’an setidaknya ada dua jenis, yaitu berupa model manajemen emosi pengalihan (displacement) yang dilakukan dengan bentuk berdoa dan model manajemen emosi penyesuaian kognitif (cognitive adjustment) yang dilakukan dalam bentuk prasangka baik (husnu dzann). Abstract A person's failure or inability to manage their emotions can have fatal consequences for their mental health. In the case of fear, the inability to manage their emotions can lead to mental disorders such as anxiety and phobias. The Quran offers a solution to this problem. Therefore, this study aims to determine how God teaches us to manage the emotion of fear through the Quran, specifically from the perspective of the verses in the story of the Prophet Moses. The research was conducted using an exegetical and psychological approach, using qualitative research methods with a library study. The difference between this study and previous studies is the discussion of the management of the emotion of fear and the use of verses related to the emotion of fear in the story of the Prophet Moses. This study employed descriptive content analysis as a data analysis technique. The study then utilized three models of emotion management by M. Darwis Hude: the displacement model, the cognitive adjustment model, and the coping model. After conducting research, it was concluded that the model for managing fear emotions exemplified by the Prophet Moses in the Quran consists of at least two types: a displacement model, which is carried out through prayer, and a cognitive adjustment model, which is carried out through positive assumptions (husnu dzann).
Analisis Konsep Żikrullah dalam Perspektif Al-Qur’an Hariyanto, Didik; Winnuriyah, Winnuriyah
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i1.195

Abstract

Dzikir adalah ibadah yang sangat penting bagi manusia karena mencakup berbagai macam ibadah dan banyak manfaat, salah satunya adalah kebahagiaan. Dikatakan bahwa dzikir adalah ibadah yang harus dilakukan sesuai dengan kehendak Allah, tetapi banyak orang di zaman sekarang yang melakukannya dengan cara yang tidak sesuai dengan syari'at. Studi ini menjelaskan semua konsep yang ada dalam Al-Qur'an tentang dzikir, termasuk metode, waktu, keuntungan, dan konsekuensi bagi mereka yang meninggalkannya. Penelitian kepustakaan ini menghimpun buku-buku dan bahan tertulis lain yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dzikir, atau ibadah apa pun yang dilakukan untuk mengingat Allah dan mengharapkan pahala dari-Nya, dapat dianggap sebagai ibadah. Cara berdzikir adalah dengan berdzikir dengan hati, lisan, atau keduanya, dengan memahami artinya, tunduk, takut, dan tidak mengeraskan suara, dan mengamalkannya. Waktu untuk berdzikir kepada Allah disebut muṭlaq dan muqayyad. Manfaat berdzikir adalah; diingat oleh Allah, mendapatkan ampunan dan pahala yang besar, dijauhkan dari kemunkaran, menjadikan hati tenang, mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan, istiqamah dalam shalat dan berinfak, menjadikan hati sabar, diberikan kekuatan dan pertolongan. Akibat bagi yang meninggalkan dzikir adalah; disifati sebagai orang Munafik, seperti orang Musyrik yang keras hati, ditampakan kepadanya neraka Jahanam, kehidupan yang sempit, di hari kiamat menjadi buta, menjadi orang yang celaka dan sesat, Termasuk orang yang dzalim, mendapatkan azab yang pedih, termasuk golongan syaithan dan mendapatkan kerugian. Abstract Dhikr (remembrance of Allah) is a very important act of worship for humans because it encompasses various forms of worship and offers many benefits, one of which is happiness. It is said that dhikr is an act of worship that must be performed according to Allah's will, but many people today perform it in ways that do not comply with sharia. This study explains all the concepts in the Qur'an about dhikr, including the methods, times, benefits, and consequences for those who abandon it. This literature study compiles books and other written materials related to the topic discussed. The research findings show that dhikr, or any act of worship performed to remember Allah and seek His reward, can be considered worship. The methods of dhikr are to perform it with the heart, the tongue, or both, understanding its meaning, being humble, fearful, not raising the voice, and practicing it. The times for dhikr of Allah are referred to as muṭlaq (general) and muqayyad (specific). The benefits of dhikr are: being remembered by Allah, obtaining forgiveness and great rewards, being kept away from evil, making the heart calm, attaining success and happiness, being steadfast in prayer and giving charity, making the heart patient, being granted strength and help. The consequences for those who abandon dhikr are: being characterized as hypocrites, like polytheists with hard hearts, being shown Hellfire, having a constrained life, being blind on the Day of Judgment, becoming wretched and misguided, being among the oppressors, receiving a severe punishment, being among the followers of Satan, and incurring loss.
Peran dan Karakter Ayah dalam Pendidikan Anak menurut Tafsir Surah Yusuf Hariyanto, Didik; Nafish, Nur Arrizkin
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i1.196

Abstract

Perkembangan anak terpengaruh negatif jika ayah tidak mengikuti pendidikan keluarga. Al-Qur'an menggambarkan ayah ideal melalui kisah nabi. Salah satu dari cerita Nabi Ya'qub. Untuk melahirkan generasi yang baik, pemahaman tentang peran ayah dan sifat-sifatnya yang ideal dipelajari. Dengan mengacu pada kisah Nabi Ya'qub dalam Kitab Suci, penelitian ini bertujuan untuk menentukan peran yang harus dimainkan seorang ayah sebagai pendidik dalam keluarga, serta kualitas atau sifat yang harus ditanamkan dalam diri seorang ayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan tafsir tematik, dengan data yang berasal dari sumber primer dan sekunder. Dalam memahami pesan terkait konsep tertentu dalam Al-Qur'an, diterapkan metode tafsir maudu’i, yang menjadi landasan dalam penelitian ini. Dari banyak ayat yang menggambarkan interaksi antara Nabi Ya’qub dengan anak-anaknya, dapat diidentifikasi setidaknya sepuluh peran yang dimainkan oleh beliau sebagai seorang ayah. Ini mencakup pelindung, pengajar tauhid, pembimbing untuk bertawakkal kepada Allah, pendorong untuk memenuhi janji, pembina agar tidak mudah putus asa, pemberi nasihat yang baik, pendidik dalam menjaga rahasia, pencari informasi tentang keadaan anak-anaknya, mediator dalam memecahkan konflik di antara mereka, serta doa-doanya untuk kebaikan anak-anaknya. Dalam melaksanakan peran-peran ini, Nabi Ya’qub menunjukkan beberapa karakteristik penting seorang ayah, termasuk cinta dan kasih sayang yang mendalam terhadap anak-anaknya, responsif terhadap kebutuhan mereka, menjadi pendengar yang baik, bersabar dalam menghadapi cobaan, mencari kedamaian, memaafkan, berserah kepada Allah, tidak putus asa terhadap rahmat-Nya, serta tidak mengeluh kecuali kepada-Nya. Abstract Child development is negatively affected if the father does not attend family education. The Qur'an describes the ideal father through the story of the prophet. One of the stories of Prophet Ya'qub. In order to give birth to a good generation, an understanding of the role of the father and his ideal traits is studied. With reference to the story of Prophet Ya'qub in the Holy Bible, this study aims to determine the role that a father should play as an educator in the family, as well as the qualities or traits that should be instilled in a father. This study used a thematic interpretation approach, with data coming from primary and secondary sources. In understanding the message related to certain concepts in the Qur'an, the method of maudu'i interpretation is applied, which is the basis for this research. From the many verses describing the interaction between Prophet Ya'qub and his sons, at least ten roles can be identified that he played as a father. This includes a protector, a teacher of monotheism, a guide to trust Allah, a guide to fulfill promises, a coach so as not to be easily discouraged, a good advice giver, an educator in keeping secrets, a seeker of information about the situation of his children, a mediator in resolving conflicts between them, and his prayers for the good of his children. In performing these roles, Prophet Ya'qub exhibited several important characteristics of a father, including deep love and affection for his children, responsiveness to their needs, being a good listener, being patient in the face of trials, seeking peace, forgiving, surrendering to Allah, not discourageing His mercy, and not complaining except to Him.
Fostering Character Education in Pesantren: An Analysis of ‘Abd ar-Raḥmān Ḥabannakah’s Tadabbur Rules Saleh, Muhammad; Rahmawati, Yeni; An-Nafi', Muhammad Bilal; Huda, Ade Naelul
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i2.176

Abstract

Character education is a crucial solution to the moral crisis among young people, with Islamic boarding schools (pesantren) serving as leading institutions for integrating religious values and local wisdom. This study analyzes the application of Abdurrahman Habanakah's Qur'anic tadabbur (contemplation) principles munasabah (intertextual coherence), asbabun nuzul (context of revelation), lughah (linguistics), balaghah (rhetoric), and ijtihad (independent reasoning) in character education within pesantren. This qualitative library research employs documentary analysis, focusing specifically on Surah Al-Isra: 23 and Al-Maidah: 8. The findings indicate that Habanakah's tadabbur approach effectively instills Qur'anic values such as birrul walidain (filial piety), justice, and piety through linguistic (lughah) and thematic (munasabah) analysis. The study concludes that integrating Qur'anic tadabbur into the pesantren curriculum strengthens religious textual understanding and fosters reflective and virtuous character among students. This research is limited to textual analysis of two selected verses; therefore, future studies could expand the scope to include more verses and empirical fieldwork to observe the direct application and impact of this method in pesantren settings. Abstrak Pendidikan karakter menjadi solusi penting dalam menghadapi krisis moral generasi muda, dengan pesantren sebagai institusi utama yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dan kearifan lokal. Penelitian ini menganalisis penerapan kaidah tadabbur Al-Qur’an ‘Abd ar-Raḥmān Ḥasan Ḥabannakah al-Maidānī (w. 2004) meliputi munāsabah, asbāb an-nuzūl, luġah, balāġah, dan ijtihād dalam pendidikan karakter di lingkungan pesantren. Penelitian kualitatif kepustakaan ini menggunakan analisis dokumen dengan fokus pada QS. Al-Isrā’/17: 23 dan Al-Mā’idah/5: 8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan tadabbur Habanakah efektif menanamkan nilai-nilai Qur’ani seperti birr al-wālidain, keadilan, dan ketakwaan melalui analisis kebahasaan (luġah) dan tematik (munāsabah). Disimpulkan bahwa integrasi tadabbur Al-Qur’an ke dalam kurikulum pesantren tidak hanya memperdalam pemahaman teks keagamaan tetapi juga membentuk karakter santri yang reflektif dan berakhlak mulia. Penelitian ini terbatas pada analisis tekstual dua ayat pilihan; sehingga kajian lanjutan dapat memperluas cakupan ayat yang dikaji dan melakukan penelitian lapangan untuk mengamati penerapan serta dampak metode ini secara langsung di pesantren.
The Algorithm of Tafsīr: Characteristics of Content and Patterns of Audience Reception in the Case of @anugerahwulandari Rezwandi, Rezwandi
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i2.203

Abstract

This study examines the characteristics of Al-Qur’an interpretation on the TikTok account @anugerahwulandari and audience reception in the digital da'wah context. A qualitative-descriptive approach is applied through the Digital Da'wah Theory and Stuart Hall's Reception Theory (encoding/decoding). Data were collected via virtual observation and documentation of videos and netizen comments, then analyzed with open-axial-selective coding to map message construction and audience meaning-making patterns. Results show that @anugerahwulandari utilizes taḥlīlī and thematic methods, referencing various classical and contemporary commentaries. This practice builds scholarly legitimacy and enhances reference validity amidst authority issues in digital spaces. At the reception level, comment analysis identifies three decoding positions: dominant-hegemonic (affirming interpretation and creator authority), negotiated (reconstructing meaning based on religious backgrounds and personal experiences), and oppositional (criticizing or rejecting narratives). These findings suggest that TikTok interpretation represents a communicative adaptation preserving validity while triggering tensions between scholarly authority, concise audiovisual formats, and evolving audience reception dynamics within contemporary digital da'wah spaces. Abstrak Penelitian ini menganalisis karakteristik tafsir Al-Qur’an pada akun TikTok @anugerahwulandari serta resepsi audiens dalam konteks dakwah digital. Pendekatan kualitatif-deskriptif digunakan melalui kerangka Teori Dakwah Digital dan Teori Resepsi Stuart Hall (encoding-decoding). Data dihimpun via observasi virtual dan dokumentasi video serta komentar netizen, lalu dianalisis memakai teknik open-axial-selective coding guna memetakan konstruksi pesan dan pola pemaknaan audiens secara komprehensif. Hasilnya penelitian menunjukkan akun @anugerahwulandari menerapkan metode tafsir taḥlīlī dan tematik dengan merujuk berbagai kitab klasik maupun kontemporer. Praktik ini bertujuan membangun legitimasi keilmuan serta meningkatkan validitas rujukan konten di tengah isu otoritas tafsir di ruang digital. Pada level resepsi, analisis komentar menunjukkan tiga posisi decoding; dominant-hegemonic (menerima tafsir secara afirmatif), negotiated (merekonstruksi makna sesuai latar religius dan pengalaman pribadi), dan oppositional (mengkritik atau menolak narasi tafsir). Temuan ini menegaskan tafsir TikTok sebagai adaptasi komunikatif yang menjaga validitas rujukan, sekaligus memicu ketegangan antara otoritas keilmuan, format audiovisual ringkas, dan dinamika resepsi audiens di ruang dakwah digital kontemporer.
Ibn Kaṡīr’s Stance on Isrā’īliyyāt: A Descriptive-Critical Analysis Fathony, Bimba Valid
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i2.204

Abstract

Ibn Kaṡīr (d. 774 H) is recognized as a leading exegete through his monumental work Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. A defining characteristic of his tafsīr is his cautious engagement with isrā’īliyyāt accounts. This study critically examines his treatment of such narrations using a descriptive and systematic approach. Three typologies of response emerge: acceptance, suspension (tawaquf), and rejection. Employing qualitative methodology, this research is conducted as library-based inquiry. The findings highlight Ibn Kaṡīr’s critical stance in his commentary on QS. Ṣāḍ/38: 34, where he challenges certain reports. He also explicitly rejects accounts in the interpretation of QS. al-Baqarah/2: 67 concerning Moses and the Children of Israel. Conversely, some narrations remain unassessed, as seen in his exegesis of QS. An-Nisā’/4: 1. The study concludes that the presence of isrā’īliyyāt in Qur’anic exegesis reflects cultural interaction between Arabs and Jews. Ibn Kaṡīr’s response demonstrates methodological rigor: while he occasionally incorporates isrā’īliyyāt narrations, he consistently critiques and rejects those deemed incompatible with Islamic principles. His approach underscores a balance between transmission and critical evaluation, positioning his tafsīr as both cautious and discerning in addressing external narrative traditions.Abstrak Ibn Kaṡīr (w. 774 H) merupakan seorang mufassir besar yang dikenal melalui karya tafsir monumentalnya, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Salah satu ciri khas tafsirnya adalah sikap selektif dan penuh kehati-hatian terhadap kisah-kisah isrā’īliyyāt. Penelitian ini menghadirkan kebaruan dengan menelaah secara deskriptif dan kritis bagaimana Ibn Kaṡīr menanggapi riwayat isrā’īliyyāt melalui pendekatan sistematis dan objektif. Dalam tafsirnya, ditemukan tiga tipologi sikap yang ia gunakan, yaitu penerimaan, tawaqquf, dan penolakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian pustaka (library research). Hasil utama menunjukkan bahwa Ibn Kaṡīr memberikan kritik dan komentar terhadap kisah tafsir QS. Ṣāḍ/38: 34. Ia juga menolak serta tidak membenarkan kisah tertentu, seperti pada interpretasi surah QS. al-Baqarah/2: 67 mengenai Nabi Mūsā dan Bānī Isrā’īl. Namun, terdapat pula kisah yang luput dari penilaiannya, misalnya ketika menafsirkan QS. An-Nisā’/4: 1. Berdasarkan temuan, dapat disimpulkan bahwa masuknya riwayat isrā’īliyyāt dalam tafsir Al-Qur’an berawal dari interaksi budaya antara bangsa Arab dan kaum Yahudi. Respons Ibn Kaṡīr terhadap riwayat isrā’īliyyāt menunjukkan sikap kritis dan berhati-hati. Walaupun ia menyertakan sebagian riwayat isrā’īliyyāt, ia tetap menolak dan mengkritik riwayat yang tidak sesuai dengan prinsip ajaran Islam. Pendekatan ini menegaskan keseimbangan antara transmisi dan evaluasi kritis dalam tafsirnya.
Living Qur’an in Action: The Practice of Ziyādah in Qur’anic Memorization among Students at UIN Syekh Wasil Kediri Maula, Nabila An'imatul; Nur, Syafiqah; Mahmudah, Umi; Khairunnisa, Elvina; Umayyah, Asaa Nur Faridatul
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i2.219

Abstract

The phenomenon of ziyādah in Qur’anic memorization is generally associated with the community of ḥuffāẓ, those who have completed the memorization of the entire Qur’an. However, this study specifically highlights a similar practice undertaken by non-ḥuffāẓ students, a context that has been relatively underexplored within the field of living Qur’an studies. The research focuses on third-semester students of the Qur’anic Studies and Tafsir Program (IAT) at UIN Syekh Wasil Kediri. Its primary aim is to describe the forms of ziyādah implementation and to uncover the meanings embedded within the practice. Employing a qualitative descriptive approach with the living Qur’an method, data were collected through direct observation, in-depth interviews, and documentation of taḥfīẓ activities conducted in the academic environment. Findings reveal that ziyādah is routinely carried out in weekly taḥfīẓ sessions supervised by faculty members. Students participate not merely to increase memorization, but also to strengthen spirituality, enhance discipline, and internalize Qur’anic values in both academic and daily life. These results affirm that ziyādah among non-ḥuffāẓ students represents an authentic expression of religiosity, while simultaneously broadening the scope of living Qur’an practices within Islamic higher education. Abstrak Fenomena ziyādah hafalan Al-Qur’an umumnya identik dengan kalangan ḥuffāẓ, yaitu mereka yang telah menuntaskan hafalan secara menyeluruh. Namun, penelitian ini menyoroti praktik serupa yang dilakukan oleh mahasiswa non-ḥuffāẓ, sebuah konteks yang relatif jarang dikaji dalam ranah studi living qur’an. Fokus penelitian diarahkan pada mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) semester III di UIN Syekh Wasil Kediri. Tujuan utamanya adalah mendeskripsikan bentuk pelaksanaan ziyādah serta menggali makna yang terkandung di balik praktik tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Living Qur’an, di mana data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi kegiatan taḥfīẓ di lingkungan akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ziyādah dilaksanakan secara rutin dalam program taḥfīẓ mingguan yang dibimbing dosen pengampu. Mahasiswa mengikuti kegiatan ini bukan hanya untuk menambah hafalan, tetapi juga memperkuat spiritualitas, meningkatkan kedisiplinan, serta menginternalisasi nilai-nilai Qur’ani dalam aktivitas akademik maupun keseharian. Temuan ini menegaskan bahwa praktik ziyādah oleh mahasiswa non-ḥuffāẓ merupakan ekspresi keberagamaan yang otentik sekaligus memperluas cakupan makna Living Qur’an di perguruan tinggi Islam.
Navigating Digital Challenges through Qur’anic Ethics: Insights from asy-Sya‘rāwī’s Interpretation of QS. An-Nūr/24 Ilma, Fathia Ainnur; Yusuf, Muhammad Suaidi; Gantara, Gilang Eksa
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i2.227

Abstract

This study aims to analyze the ethical values of social interaction contained in QS. An-Nūr/24: 4, 19, dan 23  through Tafsīr asy-Sya‘rāwī, and explore their relevance in addressing the challenges of the digital era. The type of research used in this study is library research with a thematic approach, focusing on the primary source Tafsīr asy-Sya‘rāwī and supporting literature. The results of the study show that asy-Sya‘rāwī emphasizes four aspects of social interaction ethics: preserving the honor of others, avoiding the spread of evil (slander), respecting individual privacy, and taking responsibility in interactions. The implementation of these values in the digital era serves as a solution to prevent the spread of hoaxes, privacy violations, and to create a healthy and moral social interaction environment. QS. An-Nūr/24 not only establishes legal frameworks but also fosters moral awareness to protect the dignity of individuals and society. In conclusion, implementing the ethical values from QS. An-Nūr/24 can provide practical guidance for creating a healthy, just, and Islamic-compliant social environment, both in the real world and in digital spaces. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai etika interaksi sosial yang terkandung dalam QS. An-Nūr/24: 4, 19, dan 23 melalui Tafsīr asy-Sya‘rāwī, dan mengeksplorasi relevansinya dalam menghadapi tantangan era digital. Jenis penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah metode kepustakaan (library research) dan pendekatan tematik, yang memfokuskan pada sumber primer Tafsīr asy-Sya‘rāwī dan literatur pendukung lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asy-Sya‘rāwī menekankan empat aspek etika interaksi sosial: menjaga kehormatan orang lain, menghindari penyebaran keburukan (fitnah), menghormati privasi individu, dan memikul tanggung jawab dalam berinteraksi. Implementasi nilai-nilai ini dalam era digital menjadi solusi untuk mencegah penyebaran hoaks, pelanggaran privasi, serta menciptakan ruang interaksi sosial yang sehat dan bermoral. QS. An-Nūr/24 tidak hanya membentuk tatanan hukum tetapi juga kesadaran moral yang melindungi kehormatan individu dan masyarakat. Kesimpulannya, implementasi nilai-nilai etika dari QS. An-Nūr/24 dapat memberikan panduan praktis dalam menciptakan lingkungan sosial yang sehat, adil, dan sesuai dengan ajaran Islam, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Reconceptualizing Quranic Pedagogy: Tadabbur Principles in al-Qurṭubī’s al-Jāmi‘ li-Aḥkām al-Qur’ān Adzakiyah, Khoirun Nisa Ashfa
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i2.228

Abstract

Qur'anic pedagogy serves as a fundamental instrument in shaping individual character grounded in moral and spiritual values. However, contemporary educational practices are predominantly focused on technical recitation and memorization, often neglecting deep semantic comprehension and the internalization of Divine messages. While previous studies have addressed the importance of understanding the Qur'an, most literature remains confined to linguistic or procedural frameworks, overlooking tadabbur models rooted in classical exegetical traditions. This study fills this gap by examining tadabbur principles in al-Qurṭubī’s al-Jāmi‘ li-Aḥkām al-Qur’ān, which emphasizes integrating reflection, profound meaning-making, and the actualization of values in conduct. Employing a qualitative descriptive method, the research finds that al-Qurṭubī positions the comprehension of a verse's essence as the primary foundation for spiritual proximity and moral transformation. Implementing this method enables students to transcend rote memorization toward capturing wisdom applicable to daily life. Consequently, tadabbur-oriented instruction offers a comprehensive pedagogical solution for holistic character development among the younger generation. Abstrak Pengajaran Al-Qur’an merupakan instrumen fundamental dalam pembentukan karakter individu yang berlandaskan nilai moral serta spiritual. Namun, realitas edukasi saat ini masih didominasi oleh penekanan pada aspek teknis membaca dan menghafal, sehingga cenderung mengabaikan pendalaman makna serta internalisasi pesan Ilahi. Meskipun berbagai studi terdahulu telah mengeksplorasi urgensi pemahaman Al-Qur’an, mayoritas literatur tersebut umumnya membatasi diri pada pendekatan linguistik atau prosedural tanpa menggali model tadabbur yang berakar pada tradisi tafsir klasik. Penelitian ini bertujuan mengisi celah tersebut dengan mengkaji prinsip-prinsip tadabbur dalam al-Jāmi‘ li-Aḥkām al-Qur’ān karya al-Qurṭubī yang menekankan integrasi antara dimensi perenungan, pemaknaan mendalam, dan aktualisasi nilai dalam perilaku nyata. Melalui metode deskriptif kualitatif berbasis kajian pustaka, ditemukan bahwa al-Qurṭubī memposisikan pemahaman esensi ayat sebagai fondasi utama untuk membangun kedekatan spiritual sekaligus katalisator transformasi moral. Implementasi metode tadabbur memungkinkan peserta didik melampaui formalitas hafalan menuju penangkapan hikmah yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pengajaran berbasis tadabbur menjadi pendekatan pedagogis komprehensif yang solutif bagi pembangunan karakter generasi muda secara holistik.
Corruption in Qur’anic Exegesis Articles in Indonesia: A Systematic Literature Review Misbahul Huda
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i2.243

Abstract

This study maps the development and methodological trends of Indonesian Qur’anic exegesis (tafsīr) research on corruption from 2011 to 2025 using a Systematic Literature Review (SLR). Publications were retrieved from Google Scholar with the keyword “tafsir korupsi”; 35 articles out of over 50 identified met the inclusion criteria and were analysed through focus formulation, data selection, quality assessment, and finding synthesis. The findings reveal three phases: (1) early phase (2011–2015) dominated by terminological tracing of Qur’anic concepts such as ġulūl, suḥt, and sariqah; (2) middle phase (2016–2020) characterised by contextual, tarbawī (educational), and fiqh ta‘zīr approaches; and (3) recent phase (2021–2025) marked by a sharp increase in publications and methodological diversification, including liberation hermeneutics, semiotics, and mufasir-figure analysis. Qualitative literature-based studies and thematic exegesis (tafsīr mawḍū‘ī) remain dominant, whereas interdisciplinary, political-economy, critical discourse, and historical-critical approaches are still scarce. The study recommends broader methodological expansion to enable more relevant Qur’anic responses to contemporary structural corruption. Abstrak Penelitian ini bertujuan memetakan perkembangan dan kecenderungan metodologis penelitian tafsir Al-Qur’an bertema korupsi di Indonesia periode 2011–2025. Kajian ini dilakukan menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan menelusuri publikasi melalui Google Scholar menggunakan kata kunci terkait “tafsir korupsi”. Dari lebih dari 50 publikasi yang ditemukan, 35 artikel memenuhi kriteria inklusi, kemudian dianalisis melalui tahap perumusan fokus, seleksi data, penilaian kualitas, serta sintesis temuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga fase perkembangan. Pertama, fase awal (2011–2015) artikel umumnya berfokus pada pelacakan istilah Qur’ani seperti ġulūl, suḥt, dan sarqah. Kedua, fase tengah (2016–2020) artikel umumnya menggunakan pendekatan kontekstual, tarbawī, dan fiqh ta‘zīr. Ketiga, fase akhir (2021–2025) yang memperlihatkan peningkatan signifikan dalam hal jumlah publikasi dan diversifikasi metodologis, termasuk hermeneutika pembebasan, semiotika, dan analisis tokoh mufasir. Secara umum, penelitian didominasi metode kualitatif berbasis studi literatur dan tafsir tematik. Sementara pendekatan interdisipliner, ekonomi-politik, analisis wacana kritis, dan historis-kritis masih terbatas. Studi ini menegaskan perlunya perluasan metodologi tafsir agar respons Al-Qur’an terhadap isu korupsi lebih relevan dengan tantangan struktural kontemporer.