cover
Contact Name
Arich Hawary Anshorullah
Contact Email
lppm.stiuwm@gmail.com
Phone
+6289672966876
Journal Mail Official
lppm.stiuwm@gmail.com
Editorial Address
Komplek Islamic Center Wadi Mubarak Bogor, Jl. Raya Puncak - Cianjur, Gg. Kantor, Kuta, Kec. Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16770
Location
Kab. bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 30312876     EISSN : 2961919X     DOI : http://doi.org/10.62109/izzatuna
Core Subject : Religion,
Izzatuna merupakan jurnal ilmiah yang memfokuskan pembahasannya pada Tafsir Al Quran, Kaidah Kaidah Tafsir, Ilmu Ilmu Al Quran, Tajwid dan Qiraat Al Quran, Rasm Usmani dan Living Quran.
Articles 63 Documents
Studi Analisis ad-Dakhil dalam Penafsiran al-Qummi terhadap QS. Ar-Rahman Alfaridzi, Malik; Syayfi, Sohib
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i2.47

Abstract

Ad-dakhil merujuk pada kata-kata atau frasa yang secara eksplisit atau implisit dimasukkan ke dalam ayat Al-Qur'an untuk memberikan penjelasan atau pemahaman yang lebih baik. Tafsīr al-Qummi, yang dikenal sebagai salah satu tafsir Syi’ah yang penting, menawarkan perspektif unik dalam memahami dan menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur'an. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ad-dakhil  yang terdapat dalam tafsīr al-Qummi, dengan fokus pada Surat Ar-Rahman ayat 1-25. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode library research (kepustakaan)untuk menganalisis dan menginterpretasikan ayat-ayat Surat Ar-Rahman yang mengandung penafiran ad-dakhil. Adapun hasil analisis menunjukkan bahwa ad-dakhil dalam Surat Ar-Rahman 1-25 terdapat 4 riwayat yang termasuk dalam kategori ad-dakhil bi al-ma’tsur dengan status mardūd dan 2 tafirsan yang termasuk dalam kategori ad-dakhil bi al-ra’yi dengan status mardūd. Kesimpulannya, ad-dakhil dalam Tafsīr al-Qummi dapat memberikan kontribusi penting agar bisa lebih berhati-hati dalam mengambil pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur'an, khususnya dalam Surat Ar-Rahman. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang konsep ad-dakhil dan memberikan sumbangan dalam studi tafsir Al-Qur'an. Abstract   This study discusses the phenomenon of ad-dakhīl in the interpretation of the Quran, especially in the book Tafsīr al-Qummī by ʻAlī ibn Ibrāhim al-Qummī. Al-Qummī, a commentator from the Shi'a community, often quotes narratives that sometimes lack a clear chain of transmission and are frequently used as a reference by Shi'a scholars to understand the Quran. The focus of this research is on Surah ar-Raḥmān: 1-25, where al-Qummī interprets these verses, showing his inclination towards specific schools of thought and doctrines, particularly in the context of Shi'a understanding. This indicates the presence of ad-dakhīl in his interpretations. The research uses the method of Textual Criticism, with a literature study approach. Primary data is obtained from the book Tafsīr al-Qummī, while secondary data comes from relevant books, journals, and scholarly works. Descriptive analysis is used to examine ad-dakhīl in al-Qummī's interpretations. Some research findings indicate the existence of ad-dakhīl in al-Qummī's interpretations, such as the use of narratives without a clear chain of transmission, interpretations inconsistent with Sharia evidence, and connections between verses and Shi'a figures. Ad-dakhīl also includes elements of bias towards specific schools of thought and doctrines, making al-Qummī's interpretations controversial and not in line with the understanding of the majority of commentators.
Penafsiran Ayat-ayat Mutasyābihāt dalam Sifat Majī’ Suardi, Faldi Naviz; Nurhidayah, Lilik
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i2.48

Abstract

Sebagai kitab suci yang memiliki kedudukan yang tinggi bagi manusia, mempelajari isi kandungan Al-Qur’an adalah tuntutan bagi umat Islam. Namun, dikarenakan beberapa sisi dalam keindahan rangkaian Al-Qur’an yang mengandung mukjizat, tidak seluruh manusia dapat memahami Al-Qur’an langsung dari teksnya. Lafaz pada sifat Allah seperti majī’ maupun sifat lainnya, sering disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi Muhammad. Jumhur ulama mengatakan bahwa sifat-sifat tersebut termasuk ke dalam sifat Mutasyābihāt yang secara makna hakiki hanya diketahui Allah selaku yang memfirmankannya, tanpa perlu menafsirkannya serta menyucikan-Nya dari maknanya secara hakikat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan penafsiran ayat-ayat mutasyābihāt menurut Imam ar-Rāzī, Imam az-Zamakhsyarī, dan Imam  aṭ-Ṭabarī serta menjelaskan persamaan dan perbedaan pada penafsiran ketiga imam tersebut dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyābihāt. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pustaka. Hasil dalam penelitian ini terdapat beberapa persamaan dan perbedaan pada penafsiran ketiga mufassir tersebut. Aṭ-Ṭabarī menafsirkan ayat  terkait sifat majī’  pada surah al-Fajr ayat 22, al-Baqarah ayat 210 dan al-An'am ayat 158 dengan datang secara hakiki tanpa menyamakan datang-Nya dengan datangnya makhluk. Abstract   The study of the Quran, a revered scripture for humanity, is an imperative for Muslims. Yet, the Quran's intricate beauty, particularly its mutasyābihāt or ambiguous verses, poses challenges to direct comprehension. Expressions denoting Allah's attributes, such as majī' (glorious), are recurrent in the Quran and the hadiths of Prophet Muhammad. Scholars categorize these attributes as mutasyābihāt, emphasizing their inherent ambiguity, known only to Allah without the need for human interpretation or attribution of anthropomorphic meanings. This research delves into the interpretations of mutasyābihāt verses by Imams ar-Rāzī, az-Zamakhsyarī, and aṭ-Ṭabarī, aiming to elucidate their perspectives and highlight similarities and differences in their interpretations. Employing a literature review methodology, the findings indicate shared and distinct interpretations among the three scholars. For instance, aṭ-Ṭabarī's exposition of verses related to the majī' attribute in Surah al-Fajr (22), al-Baqarah (210), and al-An'am (158) underscores the genuine arrival of these attributes, distinct from the arrival of created beings. This comparative analysis contributes to a deeper understanding of the nuanced interpretations of mutasyābihāt verses, providing valuable insights into the diverse approaches employed by eminent Islamic scholars in deciphering the profound meanings embedded in the Quranic text.
Analisis Komparatif Terhadap Interpretasi Sifat Istiwa Allah Menurut Pandangan Sunni, Salafi dan Syi’ah Kontemporer Bakri, Abu; Ulinnuha, Muhammad; Ariyadi, Samsul
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i1.54

Abstract

Salah satu polemik utama dalam kajian teologis Islam adalah interpretasi ayat-ayat sifat Allah. Perselisihan dalam memahami ayat-ayat ini telah menimbulkan tuduhan, hinaan terhadap ulama, dan memicu perpecahan di kalangan umat Islam. Jika tidak ditangani dengan dialog antar kelompok, perbedaan ini bisa menyebabkan saling mengkafirkan atau membid’ahkan sesama Muslim. Penelitian ini menganalisis karya tafsir modern dari tiga kelompok utama dalam Islam: Sunni, Salafi, dan Syiah. Ketiga kelompok ini dipilih karena mereka masih memiliki pengikut yang signifikan. Pendekatan yang digunakan adalah teori kontekstualisasi double movement Fazlur Rahman untuk mengeksplorasi pemahaman para mufassir dari ketiga kelompok tersebut terhadap ayat sifat. Tujuannya adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan interpretasi ayat-ayat ini dan membangun kerangka pemahaman yang sesuai dengan ajaran Rasulullah saw. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan dalam interpretasi ayat sifat terutama disebabkan oleh cara klasifikasi ayat dan tujuan pemahaman mereka. Sunni dan Syiah menganggap ayat sifat sebagai âyât mutasyâbihat, yang berarti mereka lebih memilih untuk mengimani dan menyerahkan maknanya kepada Allah atau menakwilkannya. Sebaliknya, Salafi menganggap ayat sifat sebagai muhkam dalam lafaz dan makna, tetapi mutasyâbihat dalam kaifiyyahnya. Meskipun berbeda, tujuan ketiga kelompok ini adalah mensucikan Allah. Abstract One of the main controversies in Islamic theological studies is the interpretation of verses regarding Allah's attributes. Disagreements in understanding these verses have led to accusations, insults against scholars, and divisions within the Muslim community. Without intergroup dialogue, these differences could result in mutual accusations of disbelief or heresy among Muslims. This research analyzes modern exegesis from three major Islamic groups: Sunni, Salafi, and Shia. These groups were selected due to their significant followings. The approach used is Fazlur Rahman's double movement contextualization theory to explore the exegesis from these groups on verses about Allah's attributes. The goal is to identify factors causing interpretative differences and develop an understanding framework in line with the teachings of Prophet Muhammad (peace be upon him). The research results indicate that differences in interpreting these verses are primarily due to the classification method and their intended understanding. Sunni and Shia consider the verses about attributes as âyât mutasyâbihât, meaning they prefer to believe in them and leave their meanings to Allah or interpret them allegorically. In contrast, Salafi view these verses as muhkam in wording and meaning but mutasyâbihât in their modality. Despite their differences, all three groups aim to exalt Allah.
Implementasi Sikap Pemimpin Transformatif Dalam Perspektif Al-Qur’an Faros Nur Muhammad
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i1.55

Abstract

Gaya kepemimpinan saat ini sering dipandang sebagai faktor kunci dalam menentukan kemajuan dan evolusi suatu peradaban atau kelompok. Salah satu model kepemimpinan kontemporer yang dikenal efektif dalam menghasilkan transformasi dan dianggap sesuai untuk diterapkan adalah gaya kepemimpinan transformatif. Namun, gaya kepemimpinan transformatif dinilai memiliki kesesuaian dengan nilai-nilai yang terdapat dalam ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an. Metode penelitian yang diterapkan adalah studi konseptual tematik, dengan sumber data yang terutama bersifat literatur. Penelitian ini merujuk pada teori gaya kepemimpinan transformatif sebagai landasan utamanya. Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan adalah implementasi sikap pemimpin dalam perspektif Al-Qur’an yang mengadopsi konsep gaya kepemimpinan transformatif dapat dijelaskan sebagai individu yang menjadi contoh yang baik (Qudwah ḥasanah), menginspirasi dan memotivasi pengikutnya, belajar dari pengalaman, memberikan dorongan untuk perubahan, serta memberikan perhatian yang mendalam terhadap setiap individu di dalam kelompoknya. Abstract The leadership style today is often viewed as a key factor in determining the progress and evolution of a civilization or group. One contemporary leadership model known to be effective in generating transformation and considered suitable for implementation is the transformative leadership style. However, the transformative leadership style is assessed to be in line with the values found in the teachings of Islam as outlined in the Qur'an. The research method employed is thematic conceptual study, with the primary data source being literature. This study refers to the theory of transformative leadership style as its main foundation. The conclusion drawn from the conducted research is that the implementation of a leader's attitude from the perspective of the Qur'an adopting the concept of transformative leadership style can be described as an individual who sets a good example (Qudwah ḥasanah), inspires and motivates their followers, learns from experiences, provides encouragement for change, and shows deep concern for each individual within the group.
Telaah Komparasi Farsyul Huruf Dalam Qiraat Hafsh Dan Syu'bah Serta Implikasinya Terhadap Persepsi Ayat-Ayat Ahkam Yusuf, Muhammad; Hakim, Luqman Nol; Aufa, M
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i1.74

Abstract

  Al-Qur'an, sebagai pedoman untuk semua manusia, terus-menerus dipelajari dari masa ke masa dari berbagai perspektif. Ini meliputi sejarah penurunannya, proses pembukuan, interpretasi, makna tersirat, tata bahasa, hingga cara membacanya sesuai dengan variasi qiraat. Qiraat, yang merupakan plural dari qiraah, mengacu pada berbagai cara membaca teks Al-Qur'an yang diwariskan dari Rasulullah. Studi tentang qiraat adalah bagian integral dari pemahaman Al-Qur'an dan penafsirannya, khususnya dalam konteks fikih. Penelitian ini, melalui metode telaah pustaka, mengkaji implikasi perbedaan dalam penulisan huruf antara riwayat Hafs dan Syu'bah terhadap ayat-ayat hukum, yang dapat menghasilkan perbedaan dalam hukum fikih. Jika tidak ada perbedaan dalam hukum fikih, maka penelitian akan berfokus pada analisis linguistiknya. Abstract The Qur'an, as the final revelation and eternal miracle of Prophet Muhammad (peace be upon him), exhibits a unique and profound linguistic magnificence. One prominent aspect of the Qur'an is its qira'at, the variations in recitation of the same text with significant implications for understanding religious law. This research focuses on comparing the farsy al-ḥuruf (variations in letters) between the qira'at of Hafs and Shu'bah in the legal verses (Aḥkām) of the Qur'an, exploring differences in meaning and interpretative implications. The research methodology employs a qualitative approach by gathering data from relevant exegesis literature. Findings indicate that these variations in farsy al-ḥuruf have significant implications for understanding Islamic jurisprudence, highlighting the importance of historical and linguistic contexts in Qur'anic interpretation.
Kajian Al-Wujuh wa An-Nazhair atas Kata Marad dalam Al-Qur’an Nufus, Thoyyibah; Anis, Ahmad; Haris, Abdul Rauf
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i1.76

Abstract

Melalui ilmu wujūh wa naẓāir, beragam term atau lafaz dalam Al-Qur’an yang diartikan sama dalam bahasa lain bisa dipahami lebih baik perbedaan maknanya. Penyakit dalam Al-Qur’an diwakili beberapa term atau lafaz yaitu marad, saqam, alam, durr, dan nusb. Dari term tersebut, hanya dua term yang dapat dikaji melalui al-wujuh wa an-nazair yaitu term marad dan durr. Penyakit disebutkan dengan term durr hanya sebagai salah satu bentuk wujuhnya dari enam wujūh. Adapun term maraḍ, keempat wujūhnya merupakan macam-macam penyakit. Penelitian term marad dalam perspektif wujūh wa nażāir belum ditemukan, sehingga menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan 8 ayat yang telah mewakili makna dari setiap wujūh maraḍ dari 23 ayat yang mengandung empat wujūh maraḍ. Dari delapan ayat tersebut, penulis mencari tafsiran setiap ayatnya, lalu menganilisisnya sehingga bisa mendapatkan jawaban dari makna-makna maraḍ dengan kajian al-wujūh wa an-naẓāir. Metode yang penulis gunakan yaitu metode tematik (mauḍu’i). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wujūh dari maraḍ ada empat. Maraḍ bermakna keraguan, kefajiran (kemesuman), luka, dan penyakit tubuh. Dari delapan ayat tersebut, dua ayat bermakna keraguan, dua ayat bermakna kefajiran (kemesuman), dua ayat bermakna luka dan dua ayat lainnya bermakna penyakit tubuh. Hubungan dari empat makna yaitu, keraguan dan kefajiran (kemesuman) termasuk penyakit hati yang keduanya merupakan ciri-ciri orang munafik, sedangkan luka dan penyakit tubuh termasuk penyakit jasmani. Adanya penyakit hati bisa menjadi salah satu sebab munculnya penyakit jasmani. Abstract Through the science of wujūh and naẓāir, the various terms or words in the Qur'an that are translated similarly in other languages can be better understood in terms of their nuanced differences. In the Qur'an, the concept of illness is represented by several terms or words: marad, saqam, alam, durr, and nusb. Of these terms, only two can be examined through the lens of wujūh wa an-naẓāir, specifically marad and durr. The term durr is mentioned in the Qur'an in the context of illness as one of its six wujūh. In contrast, the term maraḍ has four wujūh, all of which pertain to different types of illnesses. Research into the term marad from the perspective of wujūh wa naẓāir has yet to be conducted, making it an intriguing subject for investigation. This study utilizes eight verses that represent the meanings of each wujūh of maraḍ, selected from the 23 verses containing the four wujūh of maraḍ. The researcher seeks to interpret each of these eight verses and analyze them to elucidate the meanings of maraḍ through the study of wujūh wa an-naẓāir. The methodology employed is the thematic (mauḍu’i) method. The findings of this research indicate that there are four wujūh of maraḍ. Maraḍ signifies doubt, wickedness (immorality), wound, and physical illness. Among the eight verses, two imply doubt, two imply wickedness (immorality), two imply wounds, and the remaining two imply physical illness. The relationship among these four meanings is as follows: doubt and wickedness (immorality) fall under the category of heart diseases, both of which are characteristic of hypocrites, whereas wounds and physical illness fall under physical diseases. The presence of heart disease can potentially lead to the emergence of physical illness.
Kajian Amtsal Al-Qur’an: Analisis Perumpamaan Pohon Sebagai Kalimah Thayyibah Dalam Qs. Ibrahim: 24-27 Jannah, Tilkal; Sohib Syayfi
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i1.77

Abstract

Al-Qur'an memberikan perumpamaan tentang kalimat thayyibah (perkataan baik) dan khabitsah (perkataan buruk), menggambarkan mereka seperti pohon yang baik dan yang buruk. Penelitian ini menganalisis esensi dan pendapat ulama terhadap ayat-ayat tersebut, terutama dalam surat Ibrahim ayat 24-27. Metode yang digunakan adalah tahlili, mengurai makna Al-Qur'an ayat demi ayat, dan melibatkan aspek-aspek seperti kosakata, asbab an-nuzul, dan pendapat ulama. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa perumpamaan tersebut menggambarkan kalimat-kalimat baik sebagai pohon yang kokoh dan memberi manfaat, seperti ajaran tauhid atau ajakan kepada kebaikan. Sebaliknya, kalimat-kalimat buruk diibaratkan sebagai pohon yang tidak berguna, mengandung kekufuran atau ajakan kepada perbuatan maksiat. Penelitian ini menegaskan pentingnya memahami dan mengaplikasikan kalimat baik dalam kehidupan, yang akan memberikan manfaat bagi mukmin dan orang lain, sementara menghindari kalimat buruk yang hanya akan menyebabkan mudharat. Dengan demikian, pemahaman terhadap perumpamaan ini dapat menjadi panduan bagi individu dalam memilih kata-kata dan tindakan, serta menegaskan bahwa baik buruknya sebuah ucapan atau tindakan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang di dunia dan di akhirat. Abstract The Quran provides parables about thayyibah (good words) and khabitsah (bad words), likening them to good and bad trees. This research analyzes the essence and scholarly opinions on these verses, particularly in Surah Ibrahim verses 24-27. The method employed is tahlili, dissecting the meaning of the Quran verse by verse and involving aspects such as vocabulary, asbab an-nuzul, and scholarly opinions. The research concludes that these parables depict good words as sturdy trees that provide benefits, such as teachings of monotheism or calls to goodness. Conversely, bad words are likened to useless trees, containing disbelief or encouraging sinful acts. The study emphasizes the importance of understanding and applying good words in life, which will benefit believers and others, while avoiding bad words that only cause harm. Thus, understanding these parables can serve as a guide for individuals in choosing their words and actions, reaffirming that the goodness or badness of speech or action can affect one's life in this world and in the Hereafter.
Makna Term Khalil Menurut Ibnu Katsir Saputra, Wandi
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i1.78

Abstract

Penelitian ini mengkaji penafsiran Ibnu Katsir mengenai makna pertemanan dalam istilah khalil di Al-Qur’an. Tujuan utamanya adalah mendeskripsikan bagaimana Ibnu Katsir menginterpretasikan makna pertemanan tersebut dalam kitab tafsirnya. Dalam Islam, penting bagi umat untuk memahami batasan bergaul dan berteman agar tidak merugikan mereka. Memahami tujuan pertemanan yang baik menjadi semakin relevan seiring perkembangan zaman. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan metode analisis tematik. Ayat-ayat Al-Qur’an yang terkait dengan tema pertemanan dikumpulkan dan ditafsirkan. Data primer terdiri dari kitab-kitab tafsir, sementara data sekunder mencakup literatur terkait. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertemanan yang didasari keimanan kepada Allah subhanahu wa ta'ala membawa kebaikan di akhirat, sedangkan pertemanan tanpa landasan keimanan akan berujung pada saling menyalahkan di akhirat. Temuan ini menegaskan pentingnya landasan religius dalam hubungan pertemanan menurut perspektif Islam sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Abstract This study examines Ibn Kathir's interpretation of the concept of friendship in the term "khalīl" as found in the Qur'an. The primary objective of this research is to describe how Ibn Kathir interprets the meaning of friendship in his exegesis. In Islam, it is crucial for adherents to understand the boundaries of social interactions and friendships to avoid detrimental outcomes. With the progression of time, understanding the objectives of virtuous friendships has become increasingly pertinent. This research adopts a library research methodology, utilizing thematic analysis. This method involves collecting Qur'anic verses related to the theme of friendship and subsequently interpreting these verses. The data used in this study comprises primary data, including exegesis texts, and secondary data, encompassing relevant literature. The data is analyzed using a descriptive-analytical method. The findings indicate that friendships founded on faith in Allah subhanahu wa ta'ala will yield benefits in the hereafter. Conversely, friendships not based on faith in Allah will result in mutual recrimination in the hereafter. These findings underscore the importance of a religious foundation in friendships from an Islamic perspective, as elucidated by Ibn Kathir in his exegesis.
Fatwa Zakat Profesi dalam Timbangan al-Qur’an: Studi Penafsiran Yusuf Al-Qaradhawi Fathurrahman, Muhammad Rifqi; Juniar Amalia Hendraningsih
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i1.80

Abstract

Zakat merupakan syari’at Islam yang jika ditinjau dari maqashid syariah berorientasi membantu dan mengurangi kemiskinan di tengah masyarakat. Ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw menjelaskan perintah, prinsip serta beberapa contoh praktik pelaksanaanya. Namun, seiring berjalanya waktu potensi dan permasalahan baru muncul sehingga ulama berijtihad dalam melakukan transformasi dalam pelaksanaan zakat. Diantaranya penetapan pelaksanaan zakat profesi, ijtihad tersebut dilakukan oleh ulama di era kontemporer karena melihat potensi zakat dalam mengurangi angka kemiskinan. Salah satu ulama yang berperan penting dalam perkembagan pemikiran zakat profesi ialah Yusuf Qardhawi. Dalam fatwa-fatwanya, dia memberi pandangan bahwa profesi yang memiliki pendapatan sesuai dengan nishab zakat bisa membantu mengurangi kemiskinan. Penelitian ini berupaya menganalisis bagaimana penafsiran ayat-ayat dalam fatwanya yang berkaitan dengan zakat profesi. Metode library research atau metode dengan pengumpulan data dengan cara memahami dan mempelajari teori-teori dari berbagai literatur yang berhubungan dengan penelitian akan diterapkan dalam penulisan artikel ini. Dalam penafsiran terkait topik tersebut, Yusuf Al-Qaradhawi  mengutip ayat-ayat yang bersifat umum, kemudian menggunakan Hadits atau Qiyas dalam menentukan suatu hukum dalam ijtihadnya. Kesimpulan yang didapatnya ialah penghasilan atau profesi wajib dikeluarkan zakatnya pada saat diterima, jika sampai pada nishab setelah dikurangi hutang dan kebutuhan pokok.   Abstract Reviewing the maqashid shariah, zakat is an Islamic sharia that aims to alleviate and lessen poverty in society. The principles and commandments, together with certain examples of their practices, are explained in the Qur'an and the Hadith of the Prophet (peace and blessings be upon him). But as time went on, new opportunities and issues surfaced, and scholars became determined to implement changes in the way zakat was carried out. Among these, the academics of the medieval era established and carried out the ijtihad (the profession's zakat execution) because they recognized zakat's capacity to lower the rate of poverty. Yusuf Al-Al-Qaradhawi  was one of the academics who significantly contributed to the evolution of the profession's zakat philosophy. In his fatwa, he expresses the opinion that poverty might be lessened by a career that pays according to zakat. This study looks at the relationship between professional talents and how the verses in the fatwa are interpreted. In order to gather data for this piece, the library research method—which involves comprehending and analyzing theories from a variety of research-related literature—will be used. Yusuf Al-Al-Qaradhawi  cited broad signs in his interpretation of the topic, and he used the Hadith or Qiyas to determine a law in his ijtihad. As a result, if an income or profession reaches the nishab after debt reduction and meeting basic needs, it becomes mandatory to pay zakat at the time of receipt.
Kajian Tematik Frase Mâ adrâka dalam Al-Quran Anshorullah, Arich Hawary; Rahman, Imas Kania; Andriana, Nesia
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i2.83

Abstract

Al-Qur’an seringkali menyebutkan kata mâ adrâka yang memiliki makna serupa sebagaimana kata persepsi. Penyebutan kata ini senantiasa diulang dalam banyak ayat dengan memberikan permisalan yang berbeda pada masing-masing ayat, namun tidak jarang juga ditulis dengan permisalan yang serupa. Metode tematik peneliti gunakan secara sebuah metode tafsir dikarenakan melalui metode tersebut peneliti dapat mengumpulkan kata serupa kemudian menganalisa masing-masing makna yang terkandung dalam masing-masing ayat dan kata. Hasil dari penelitian ini berupa Term mâ adrâka merupakan istilah dalam memakanai persepsi dalam bahasa arab dan dalam Al-Qur’an. Makna term ini adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan gejala, hal, dan sesuatu yang luar biasa. Term ini berkaitan erat dengan unsur metafisik, sehingga mustahil bagi manusia untuk dapat mengetahui kecuali atas petunjuk Allah. Abstract The Qur'an often mentions the word mâ adrâka which has the same meaning as the word perception. The mention of this word is always repeated in many verses by giving different examples in each verse, but not infrequently it is also written with similar examples. The thematic method the researcher uses is a method of interpretation because through this method the researcher can collect similar words and then analyze each meaning contained in each verse and word. The results of this study are the term mâ adrâka which is a term used in perception in Arabic and in the Qur'an. The meaning of this term is everything related to extraordinary symptoms, things and things. This term is closely related to metaphysical elements, so it is impossible for humans to be able to know except for Allah's guidance.