cover
Contact Name
Arich Hawary Anshorullah
Contact Email
lppm.stiuwm@gmail.com
Phone
+6289672966876
Journal Mail Official
lppm.stiuwm@gmail.com
Editorial Address
Komplek Islamic Center Wadi Mubarak Bogor, Jl. Raya Puncak - Cianjur, Gg. Kantor, Kuta, Kec. Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16770
Location
Kab. bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 30312876     EISSN : 2961919X     DOI : http://doi.org/10.62109/izzatuna
Core Subject : Religion,
Izzatuna merupakan jurnal ilmiah yang memfokuskan pembahasannya pada Tafsir Al Quran, Kaidah Kaidah Tafsir, Ilmu Ilmu Al Quran, Tajwid dan Qiraat Al Quran, Rasm Usmani dan Living Quran.
Articles 63 Documents
Ke-ummi-an Rasulullah dan Korelasinya Terhadap Keautentikan Al-Qur’an Waskito, Subarkah Yudi; Astuti, Nurhaliza Yuki
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2021): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v2i1.25

Abstract

The Qur'an that Allah revealed to the Prophet Muhammad is a great miracle and proof of the greatness of Allah towards all of His creation. The ability of the Qur'an to survive to this day from various forms of misuse of meaning and lafadz is proof of the authenticity and divinity of its source. However, until now accusations related to the authenticity of the Qur'an or the divinity of its source, are still being raised by orientalists. This paper intends to examine the authenticity of the Qur'an in terms of the ummi of the Messenger of Allah, so that people are protected from slander spread by orientalists, or misunderstandings in interpreting the word ummi which is leaned on the Prophet, given the differences of opinion regarding the meaning of ummi. the method used by the author is library research or literature review, namely by deepening sources related to the research theme. The results of the study show that the authenticity of the Qur'an will always be guaranteed until the Day of Judgment, and no one will ever be able to match it, while the meaning of ummi which is relied on the Messenger of Allah means that the Prophet is unable to read and write, and the Ummi of the Prophet is not a lack but a miracle and glory so that the accusation that the Qur'an is the result of his study of the previous books can be dispelled.
Studi Analisis Rasa Takut dalam Al-Qur’an Safitri, Dilah Nurfadhilah; Haris, Abdul Rauf
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2022): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v3i2.26

Abstract

Rasa takut merupakan amalan hati yang mampu mengendalikan seseorang dalam mengambil langkah yang diperlukan untuk menghindari suatu bahaya, rasa ini memiliki peran penting dalam Islam, karenanya merupakan salah satu syarat keimanan seseorang kepada Allah. Kadar rasa takut yang dimiliki seseorang itu berbeda-beda, jika rasa takut itu tidak dikelola dengan baik maka akan menjerumuskan pemiliknya ke dalam suatu bencana. Namun tak jarang dari masyarakat yang salah menempatkan rasa takut dikarenakan kurangnya pemahaman dan pengertahuan, jika rasa takut itu dapat dikelola dengan baik, maka pemiliknya akan dapat merasakan begitu banyak manfaat dari rasa takut tersebut, diantaranya mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dari latar belakang masalah tersebut, ditemukanlah rumusan masalah yang membahas tentang konsep rasa takut dalam Al-Qur’an: klasifikasi, manfaat, dan dampak bagi yang kekurangan rasa takut. Metode dalam penelitian ini menggunakan library research. Sebagai kesimpulannya, klasifikasi rasa takut yaitu terbagi tiga, yang pertama khauf yang bersifat naluri, yang kedua khauf yang bersifat terpuji, dan yang ketiga khauf yang bersifat maksiat. Manfaat rasa takut diantaranya; mendapat kebahagaiaan didunia dan diakhirat, ditambahkan keimanannya, mengarahkan kepada perbuatan baik, sebab untuk menuju ke surga-Nya Allah, mendapatkan keamanan dihari kiamat, sebab terkabulnya do’a. Dampak bagi yang kekurangan rasa takut; mudah melakukan kemaksiatan, didunia tidak merasakan ketenangan, mendapat kehinaan didunia dan diakhirat, mengembara di bumi dalam keadaan bingung, mendapatkan adzab yang sangat pedih, dan mendapatkan hinaan dan siksaan. Abstract   Fear is a practice of the heart that is able to control a person in taking the necessary steps to avoid a danger, this feeling has an important role in Islam, because it is one of the conditions of one's faith in Allah. The level of fear that a person has is different, if that fear is not managed properly it will plunge the owner into a disaster. However, it is not uncommon for people to misplace fear due to a lack of understanding and knowledge, if that fear can be managed properly, the owner will be able to feel so many benefits from that fear, including getting happiness in this world and in the hereafter. From the background of the problem, a problem formulation was found that discusses the concept of fear in the Qur'an: classification, benefits, and impacts for those who lack fear. The method in this study uses library research techniques. In conclusion, the classification of fear is divided into three, the first is instinctive khauf, the second is commendable khauf, and the third is immoral khauf. The benefits of fear include; get happiness in this world and in the hereafter, increase in faith, get shade on the Day of Resurrection, lead to good deeds, because to go to Allah's heaven, get security on the Day of Resurrection, because prayers are answered, because he gives taufik and guidance. Impact on those who lack fear; removed all good deeds, easy to commit disobedience, the world does not feel calm, gets humiliation in this world and the hereafter, wanders the earth in a state of confusion, gets a very painful punishment, and gets humiliation and torment.
Akhlak Nabi Zakaria dalam Al-Qur'an Husna, JIhan; Hariyanto, Didik
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2022): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v3i2.27

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh kerusakan moral yang terjadi pada remaja zaman sekarang yang mana salah satu penyebabnya adalah tidak tertanamnya akhlak yang baik pada diri mereka padahal sejatinya akhlak merupakan tolak ukur kehidupan seseorang baik sebagai individu ataupun anggota masyarakat. Akhlak juga merupakan indikator keimanan seseorang, orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya. Objek yang akan diteliti adalah kisah Nabi Zakaria dalam Al-Qur’an dengan tujuan menjelaskan penafsiran ayat-ayat tentang kisah beliau dan akhlak-akhlak yang terdapat dalam penafsiran ayat tentang kisah beliau. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah jenis penelitian Library Research (kepustakaan) dengan metode maudhu’i. Dalam penelitian ini ditemukan akhlak-akhlak Nabi Zakaria dalam Al-Qur’an yaitu sabar, berdoa kepada Allah, zuhud, ikhlas dalam beribadah, bersyukur, taat beribadah, tawadhu’, amanah, khusyu’, tawakkal dan penyayang. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah bahwa Nabi Zakaria merupakan sosok teladan dalam berakhlak. Abstract This Research is motivated by the moral damage that occurs in today’s youth, where one of the causes is the lack of good morals in them ehen in fact morality is a benchmark for one’s life, both as individuals and members of society. Morals are also an indicator of a person’s faith, the believers who have the most perfect faith are those who have the best morals. The object to be studied is the story of the Prophet Zakaria in the Qur’an with the aim of explaining the interpretation of the verses about his story and the morals contained in the interpretation of the verses about his story. The research method used by the author is the type of library research with the maudhu’I method. In this study, it was found that the morals of Prophet Zakaria in the Qur’an were patient, praying to Allah, zuhud, sincere in worship, grateful, obedient to worship, tawadhu’, trustful, khusyu’, tawakkal and merciful. The conclusion obtained from this research is that the Prophet Zakaria is an exemplary figure in morals
Bercanda Menurut At-Tabari Yusuf, Muhammad Suaidi; Nasuki, Ahmad
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2022): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v3i2.28

Abstract

  Setiap umat manusia menginginkan keselamatan didunia dan akhirat, Allah subḥanahu wa ta’ālaatelah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman untuk jalan keselamatannya. Fenomena bercanda atau bersenda gurau kerap kali menjadi salah satu sebab terjadinya perpecahan dan kesnjangan antar sesama umat. Candaan yang seharusnya dijadikan sebagai pemererat persatuan serta menambah keharmonian dalam pesaudaraan malah berujung perpecahan dan permusuhan, lantaran candaan yang dilakukan tidak sesuai dengan tuntutan agama, serta salahnya memahami tentang hakikat senda gurau yang sebenarnya.Al-qur’an menjelaskan serta menyebutkan perbuatan orang-orang terdahulu dalam bersenda gurau, sebagai salah satu pelajaran serta pemahaman yang dapat diambil dalam bersenda gurau, melalui penelitian ini penulis akan membahas ayat-ayat senda gurau dengan metode penelitian kepustakaan (library reseach), dengan penjelasan deskriptif analisis. Senda gurau dalam al-Qur’an disebutkan dalam kata lahwun yang terulang sebanyak sebelas kali dengan siyaq yang berbeda beda. Dari analisis ayat-ayat senda gurau yang telah dilakukan penulis mengambil kesimpulan bahwa senda gurau atau candaan ialah suatu perkataan atau perbuatan dengan tujuan mencari kesenangan yang memiliki dampak positif dan negatif yang dapat melalaikan seseorang dari mengingat Allah dan mengikuti jalannya Abstract Every human being wants salvation in this world and the hereafter, Allah sub-anahu wa ta'ālaaate has made the Qur'an as a guide for the way of his salvation. The phenomenon of joking or joking is often one of the causes of divisions and gaps between people. The jokes that should be used to strengthen unity and increase harmony in brotherhood actually lead to division and hostility, because the jokes are not in accordance with religious demands, and there is a misunderstanding about the true nature of jokes. The Qur'an explains and mentions the actions of people. In the past in joking, as one of the lessons and understandings that can be taken in joking, through this research the author will discuss the verses of joking with the library research method, with a descriptive analysis explanation. Joking in the Qur'an is mentioned in the word lahwun which is repeated eleven times with different siyaq. From the analysis of the joking verses that have been carried out, the author concludes that joking or joking is a word or deed with the aim of seeking pleasure that has positive and negative impacts that can distract a person from remembering Allah and following his path.
Makanan Sehat dalam Kitab Mafatih Al-Ghaib Ramadhany, Nur Laily; Waskito, Subarkah Yudi
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2022): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v3i2.29

Abstract

Makanan sehat merupakan makanan yang memiliki kandungan gizi seimbang yang dibutuhkan oleh tubuh. Tren kehidupan modern menjadikan makanan-makanan siap saji menjadi alternatif pilihan. Hal tersebut menyebabkan kurangnya asupam gizi pada tubuh juga beberapa penyakit berbahaya lainnya. Penyakit-penyakit seperti jantung, kanker dan lainnya yang tergolong kedalam jenis penyakit degeneratif. Penelitian ini dilakukan Untuk mendeskripsikan macam-macam makanan sehat yang di sebutkan dalam Al-Qur’an. Juga memaparkan manfaat yang diperoleh dari makanan sehat menurut Ar-Razi dalam Tafsir Mafatih Al-Ghaib. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research), yang disajikan melalui metode deskriptif analitis. Penelitian ini menghasilkan pemahaman terhadap beberapa manfaat makanan sehat yang dijelaskan oleh Imam Ar-Razi dalam tafsirnya. Seperti buah-buahan mulia yang sering disebut dalam Al-Qur’an yaitu kurma, anggur, delima, tin dan zaitun. Juga suatu minuman ajaib yang berasal dari lebah yaitu madu. Buah anggur merupakan yang manfaatnya paling banyak disebutkan oleh imam Ar-Razi, jika diolah menjadi jus aatu minuman, anggur sangat baik untuk empedu. Selain itu anggur juga sangat baik untuk pencernaan dan lambung yang lemah.   Abstract Healthy food is food that has a balanced nutritional content needed by the body. Trends in modern life make ready-to-eat foods an alternative. This causes a lack of nutritional intake in the body as well as several other dangerous diseases. Diseases such as heart disease, cancer and others are classified as degenerative diseases. This study was conducted to describe the kinds of healthy foods mentioned in the Qur'an. Also describes the benefits obtained from healthy food according to Ar-Razi in Tafsir Mafatih Al-Ghaib. This research is library research, which is presented through descriptive analytical method. This research resulted in an understanding of some of the benefits of healthy food described by Imam Ar-Razi in his commentary. Like the noble fruits that are often mentioned in the Qur'an, namely dates, grapes, pomegranates, figs, and olives. Also, a magical drink that comes from bees, namely honey. The grapes are the benefits most mentioned by Imam Ar-Razi, if processed into juice or drink, grapes are very good for bile. In addition, grapes are also very good for digestion and a weak stomach
Sifat-sifat Allah dalam Kitab Mahasin At-Ta’wil tanti, tanti; Nurhidayah, Lilik
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2022): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v3i2.30

Abstract

Akidah semua ajaran yang diwahyukan Allah kepada NabiNya untuk disampaikan kepada umat manusia adalah sama, tidak mengalami perubahan di dalamnya. Iman kepada asma dan sifat Allah merupakan bagian dari akidah. Namun dari zaman salaf terdahulu sampai sekarang masalah asma wa shifat menjadi perdebatan, khususnya di kalangan para ulama, sehingga dibutuhkan berbagai rujukan untuk membantah masalah ini. Salah satunya Mahasin At-Ta’wil yang ditulis oleh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi. Di masa modern ini, belum ada penelitian tentang penafsiran sifat-sifat Allah yang merujuk pada pemikiran Al-Qasmi, maka hal ini membuat penulis tertarik untuk membahas tentang sifat-sifat Allah berdasarkan tafrir Al-Qasimi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penafsiran Al-Qasimi terhadap sifat-sifat Allah dan bagaimana metode Al-Qasimi dalam menafsirkannya. Penelitian ini lebih difokuskan pada sifatsifat yang banyak diperdebatkan, seperti istiwa, kalam, kursiy, yad, ityan, dan maiyah. Penelitian ini menggunakan library reasearch dan menggunakan metode tafsir tematik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Al-Qasimi dalam menafsirkan sifat Allah berdasarkan ulama salaf. Metode Al-Qasimi dalam menafsirkan ayat-ayat sifat adalah dengan menyebutkan pendapat beliau terlebih dahulu. Selanjutnya menyembutkan pendapat ulama lain untuk menguatkan pendapatnya. Selain itu, terkadang Al-Qasimi juga menyebutkan beberapa pembahasan penting yang harus diperhatikan, seperti syubhat-syubhat dalam menafsirkan sifat Allah dan cara untuk membantahnya. Abstract The creed of all the teachings revealed by Allah to His Prophet to be conveyed to mankind is the same, there is no change in it. Faith in the names and attributes of Allah is part of the faith. However, from the time of the previous Salaf until now the issue of asthma wa shifat has become a debate, especially among scholars, so that various references are needed to refute this problem. One of them is Mahasin At-Ta'wil written by Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi. In modern times, there has been no research on the interpretation of the attributes of Allah that refers to Al-Qasmi's thoughts, so this makes the writer interested in discussing the attributes of Allah based on Al-Qasimi's interpretation. The purpose of this study is to describe how Al-Qasimi interprets the attributes of Allah and how Al-Qasimi interprets them. This research focuses more on traits that are much debated, such as istiwa, kalam, kursiy, yad, ityan, and maiyah. This research uses library research and uses thematic interpretation method. The results of this study indicate that Al-Qasimi in interpreting the nature of Allah based on the salaf scholars. Al-Qasimi's method of interpreting the nature verses is to mention his opinion first. Furthermore, mention the opinion of other scholars to strengthen his opinion. In addition, sometimes Al-Qasimi also mentions some important discussions that must be considered, such as doubts in interpreting the nature of Allah and how to refute it.
Analisis Rasm Usmani pada Surat Ar-Ra’d dalam Mushaf Bangkalan M Aufa; Syayfi, Sohib
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2022): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v3i2.31

Abstract

Penulisan Al-Qur’an dengan menggunakan rasm usmani merupakan suatu kewajiban. Hal ini sebagaimana yang telah disepakati oleh umat islam sejak zaman khalifah Usman bin Affan dan terus berlanjut hingga masa kini. Di Indonesia sendiri, kegiatan penulisan Al-Qur’an sudah berlangsung sejak lama. Hal ini ditandai dengan banyaknya naskah mushaf kuno nusantara yang berhasil ditemukan oleh para pegiat filologi. Mushaf kuno bangkalan merupakan satu diantara banyak mushaf kuno lainnya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menelusuri penggunaan riwayat penulisan rasm usmani pada mushaf bangkalan. Dari hasil penelitian, penulis mendapatkan bahwa penulisan rasm usmani pada mushaf kuno bangkalan ini didominasi oleh riwayat Abu Amr Ad-Dani. Abstract Writing the Qur'an using rasm usmani is an obligation. This is what has been agreed upon by Muslims since the time of the caliph Usman bin Affan and continues to the present. In Indonesia itself, Al-Qur'an writing activities have been going on for a long time. This is marked by the many manuscripts of ancient nusantara mushaf manuscripts that have been found by philological activists. Bangkalan ancient mushaf manuscripts are one among many other ancient mushaf manuscripts. This research is a library research using descriptive-analytical method. The purpose of this research is to explore the use of the riwayah of Rasm Usmani writing in Bangkalan ancient mushaf Manuscripts. The results is, the authors found that the writing of rasm usmani in this Bangkalan ancient mushaf manuscript was dominated by the riwayah of Abu Amr Ad-Dani
Sabar dalam Tafsir As-Sa'di Hakim, Luqman Nol; Saleh, Muhammad
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2022): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v3i2.32

Abstract

  Kata sabar di dalam al-Quran sangat banyak mengandung makna yang unik untuk dikaji dan diteliti. makna sabar itu sediri memiliki banyak arti, yaitu: bertahan, tabah dan teguh. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba untuk meneliti ayat-ayat yang belum diteli atau dikaji dengan tujuan untuk megetahui tafsir ayat sabar dalam tafsir Taisiri al Karim ar Rahman Fi Tafsir Kalam al Mannan yang ditulis oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis library reseach. Proses yang ditempuh peneliti adalah: yang pertama, mengumpulkan ayat-ayat tentang sabar dalam Al-Qur’an. yang kedua, menganalisisa penafsiran ayat yang berkaitan dengan sabar dalam Taisiri al Karim ar Rahman Fi Tafsir Kalam al Mannan. yang ketiga, penulis mengambil kesimpulan dari tafsir ayat tersebut. Adapun ayat sabar dalam perspektif Tafsir As Sa’di yang peneliti temukan, di antaranya adalah sabar dalam mengerjakan shalat, sabar dalam megahadapi ujian, sabar dalam berjihad, sabar dalam meghadapi gangguan, sabar dalam berdakwah, sabar dalam menolak kejahatan dengan kebaikan, sabar dalam menjaga kehormatan, sabar dalam amar ma’ruf nahi mungkar dan kesabaran dalam saling menesehati. Abstract The word patience in the Qur'an contains many unique meanings to be studied and researched. the meaning of patience itself has many meanings, namely: enduring, steadfast and firm. Therefore, this study tries to examine verses that have not been studied or studied with the aim of knowing the interpretation of the verse of patience in the commentary of Taisiri al Karim ar Rahman Fi Tafsir Kalam al Mannan written by Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. This research methodology uses a qualitative approach to the type of library research. The process that the researcher took was: first, collecting verses about patience in the Qur'an. secondly, analyzing the interpretation of verses related to patience in Taisiri al Karim ar Rahman Fi Tafsir Kalam al Mannan. third, the author draws conclusions from the interpretation of the verse. The patient verses in the perspective of Tafsir As Sa'di that the researchers found include patience in praying, patience in facing exams, patience in jihad, patience in dealing with disturbances, patience in preaching, patience in rejecting evil with good, patience in guarding honor, patience in amar ma'ruf nahi mungkar and patience in advising each other.
Tafsir ‘Ilmi dalam Perspektif Ulama Klasik dan Kontemporer Afifah, Aisyah; Nurhidayah, Lilik
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i1.33

Abstract

  Tafsir ‘ilmi merupakan salah satu corak penafsiran Al-Qur’an yang dimunculkan sejak abad ke-4 H. Keberadaannya yang menggabungkan hal-hal ilmiah (sains) dengan penafsiran Al-Qur’an mengundang beberapa argumen ulama Islam di zamannya hingga zaman sekarang. Perbincangan mengenai tafsir ‘ilmi menjadi sebuah polemik di antara kaum muslimin, terutama di kalangan para penuntut ilmu. Artikel ini ditulis bertujuan untuk memaparkan secara singkat perbedaan pandangan para ulama mengenai hukum tafsir ‘ilmi. Dimulai dari sejarah singkat kemunculannya, konsep dasar tafsir ‘ilmi, dan uraian beberapa argumen dari tiap kelompok ulama yang bersangkutan. Perbandingan pendapat antar ulama memudahkan para penuntut ilmu secara khusus dan seluruh umat Islam secara umum dalam menganalisis tafsir ‘ilmi. Terkait hukum penerapannya, para ulama terbagi menjadi tiga kelompok; sebagian membenarkan, sebagian menolak dan sebagian lainnya mengambil jalan tengah yang kemudian di-rajih-kan oleh beberapa ulama setelahnya. Jalan tengah inilah yang akhirnya membawa ketenangan dan kemantapan hati kepada seluruh umat Islam dalam memandang kedudukan tafsir ‘ilmi. Abstract Scientific interpretation is one of the features of Al-Qur'an interpretation that has emerged since the 4th century H. Its existence which combines scientific matters (science) with the interpretation of the Qur'an invites several arguments from Islamic scholars in their time to the present day. The discussion about scientific interpretation has become a polemic among Muslims, especially among students of knowledge. This article was written with the aim of briefly explaining the different views of the scholars regarding the law of scientific interpretation. Starting from a brief history of its emergence, the basic concepts of scientific interpretation, and descriptions of several arguments from each group of scholars concerned. Comparison of opinions between scholars makes it easier for students of knowledge and all Muslims in general to analyze scientific interpretations. Regarding the law of its application, the scholars are divided into three groups; some confirmed, some rejected, and some others took the middle way which was later proposed by several scholars afterwards. This harmony finally brings peace and stability to all Muslims in viewing the position of scientific interpretation.
Kajian Tematik Tadabbur QS. Al-Ashr Diansyah, Akmal; Waskito, Subarkah Yudi
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i1.34

Abstract

  Artikel ini bertujuan untuk memperkenalkan tadabbur sebagai sebuah metodologi untuk mempelajari Al-Qur’an guna mengungkapkan hikmah dan petunjuk di dalamnya, sehingga dapat mengatasi tantangan kontemporer dan masalah kehidupan. Studi ini menggunakan pendekatan berbasis literatur (Library Research) dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Data dan materi dikumpulkan dari berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tadabbur, dengan berbagai pendekatannya, dapat secara mendalam mengungkap hikmah dan petunjuk Al-Qur’an. Berbeda dengan tafsir tradisional yang memerlukan seorang mufassir yang memenuhi kriteria tertentu, tadabbur dapat diakses oleh siapa saja yang memiliki motivasi kuat untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. Metode ini hanya membutuhkan kesiapan, baik secara eksternal maupun internal, untuk mendalami dan merenungkan isi Al-Qur’an. Oleh karena itu, tadabbur muncul sebagai pendekatan yang inklusif dan dapat dijangkau oleh semua orang, memberikan kesempatan bagi setiap Muslim untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang Al-Qur’an. Dengan menghilangkan hambatan yang terkait dengan tafsir formal, tadabbur memungkinkan interaksi yang lebih pribadi dan mendalam dengan teks suci tersebut, mendorong keterlibatan yang lebih luas dan penghargaan yang lebih besar terhadap ajarannya. Pendekatan inklusif ini memastikan bahwa hikmah dan petunjuk Al-Qur’an dapat diakses oleh semua orang, memperkuat hubungan dan pemahaman yang lebih dalam di antara para pembacanya. Abstract This article aims to recognize tadabbur as a methodology in studying the Qur'an to reveal the wisdom and guidance contained therein. In order to be able to answer contemporary challenges and problems of life. This discussion is classified as a discussion of literature (Library Research) with qualitative descriptive analysis techniques by collecting data or materials related to the theme of the discussion studied from library sources. The results of this discussion show that tadabbur with its various approaches can reveal the wisdom and guidance of the Qur'an, which is easier for anyone who has a strong motivation to interact with it. It is different from the interpretation which has strict requirements to become a mufassir, tadabbur has no requirements except for preparing oneself physically and mentally to dive into the sea of the Qur'an.