cover
Contact Name
Arich Hawary Anshorullah
Contact Email
lppm.stiuwm@gmail.com
Phone
+6289672966876
Journal Mail Official
lppm.stiuwm@gmail.com
Editorial Address
Komplek Islamic Center Wadi Mubarak Bogor, Jl. Raya Puncak - Cianjur, Gg. Kantor, Kuta, Kec. Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16770
Location
Kab. bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 30312876     EISSN : 2961919X     DOI : http://doi.org/10.62109/izzatuna
Core Subject : Religion,
Izzatuna merupakan jurnal ilmiah yang memfokuskan pembahasannya pada Tafsir Al Quran, Kaidah Kaidah Tafsir, Ilmu Ilmu Al Quran, Tajwid dan Qiraat Al Quran, Rasm Usmani dan Living Quran.
Articles 63 Documents
Aktualisasi Syukur dan Interpretasinya: Studi Tafsir Tematik Al-Qur'an Surat Saba Ayat 13 Dan Adh-Dhuha Ayat 11 Herman, Herman; Maya, Rahendra; Zakariya, Aceng
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i2.85

Abstract

Kalimat syukur yang diperuntukkan terkhusus bagi Allah Swt, hal ini sebagai bentuk ungkapan terimakasi pada Zat yang memberikan karunia kebaikan yang berbagai bentuknya dan tidak terhingga batasnya. Tujuan penelitian adalah mengungkapkan interpretasi, ekspresi, dan aktualisasi syukur sesuai penafsiran. Penelitan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendendekatan studi kepustakaan data-data yang diambil dengan mengumpulkan leteratur-literatur berupa buku-buku dan jurnal ilmiah yang sesui dengan tema bahasan. Hasil penelitian ini bahwamengekspresikan dan aktualisasi syukur bi al-lisan berupa ucapan pujian, istigfar, do’a; asy-syukru bi qalbi berupa mentauhidkan Allah, mencintai, dan tawadhu; dan asy-syukru bi jawarih, yaitu dengan shalat dan shadaqoh.Abstract Consists of background problems, research objectives, research methods, research results, conclusions, and suggestions for further research in a maximum of 200 words. The sentence of gratitude is intended specifically for Allah SWT, this is a form of expression of appreciation for the Substance that provides the gift of goodness in various forms and infinite. The purpose of the research is to reveal the interpretation, expression, and actualization of gratitude according to interpretation. This research uses a qualitative method by approaching the literature study of the data taken by collecting literature in the form of books and scientific journals that are in line with the theme of the discussion. The results of this study are that expressing and actualizing gratitude bi al-oran in the form of praise, istigfar, do'a; asy-syukru bi qalbi in the form of worshipping Allah, loving, and tawadhu; and ash-syukru bi jawarih, namely by prayer and shadaqoh.
Konsep Keadilan Pembagian Warisan dalam Ayat “Li Al-Dzakari Mithlu Hazizi Al-Unthayayn”: Studi Kitab Tafsir Klasik dan Tafsir Kontemporer Muridatul Qutsiyah; Mubarok, Ghozi
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i2.89

Abstract

Kewarisan merupakan salah satu dari beberapa aspek mu’amalah yang mana diatur oleh Allah SWT, terutama hal yang berkaitan dengan pembagian harta setelah seseorang meninggal dunia. Pembagian warisan Antara laki-laki dan perempuan dalam al-Qur’an dengan rumus satu banding dua seringkali memicu perdebatan di kalangan ulama dan pemikir kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interpretasi ayat li al-dzakari mithlu haz}z} al-unthayayn dalam tafsir klasik dan tafsir kontemporer serta menilai pengaruh dari interpretasi tersebut terhadap pemahaman keadilan pembagian warisan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka dengan analisis konten dan deskriptif terhadap berbagai sumber tafsir terkemuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir klasik menekankan reformasi social yang dibawa oleh Islam dalam hal ketidakadilan pembagian warisan pra- Islam, sementara tafsir kontemporer cenderung mengkaji ulang interpretasi tersebut dengan mempertimbangkan perubahan peran dan tanggung jawab gender dalam masyarakat modern. Dengan kesimpulan, pertama penafsiran dalam kitab tafsir klasik dan kontemporer menunjukkan bahwa ajaran Islam mengubah praktik pembagian warisan dari sistem tidak adil pra-islam menjadi sistem yang adil dan merata. Kedua, dalam penafsiran klasik, ayat "li al-dzakari mithlu haz}z} al-unthayayn" dianggap sebagai penegasan Allah SWT dalam pembagian warisan yang adil. Sedangkan menurut tafsir kontemporer, ayat ini merupakan penerapan konsep kesetaraan gender dalam hokum waris. Meskipun ada diferensiasi berdasarkan jenis, hal ini mencerminkan peran gender dalam masyarakat Islam, yakni di mana laki-laki memiliki tanggung jawab ekonomi yang lebih besar.   Abstract Inheritance is one of several aspects of mu'amalah which is regulated by Allah SWT, especially matters related to the distribution of property after someone dies. The division of inheritance between men and women in the Qur'an with the formula one to two often triggers debate among contemporary scholars and thinkers. This study aims to analyze the interpretation of the verse li al-dzakari mithlu haz}z} al-unthayayn in classical and contemporary interpretations and to assess the influence of these interpretations on the understanding of the justice of inheritance distribution. The method used in this study is a literature study with content and descriptive analysis of various leading sources of interpretation. The results of the study show that classical interpretations emphasize the social reform brought by Islam in terms of the injustice of pra-Islamic inheritance distribution, while contemporary interpretations tend to review these interpretations by considering changes in gender roles and responsibilities in modern society. In conclusion, first, the interpretation in classical and contemporary tafsir books shows that Islamic teachings changed the practice of inheritance distribution from an unfair pre-Islamic system to a just and equitable system. Second, in classical interpretation, the verse "li al-dzakari mithlu haz}z} al-unthayayn" is considered as an affirmation of Allah SWT in the fair distribution of inheritance. Meanwhile, according to contemporary interpretation, this verse is an application of the concept of gender equality in inheritance law. Although there is differentiation based on gender, this reflects gender roles in Islamic society, namely where men have greater economic responsibility.
الأدب في التواصل الإجتماعي من منظور تفسير القرآن Triyani; Sahaya, Yida; Al-Hakim, Lukman
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i2.90

Abstract

ملخصفي العصر الحديث، هناك العديد من الأزمات الأخلاقية في عصرنا الحالي، ومن بين هذه الأزمات فقدان التهذيب الذي يعد أحد العناصر المهمة في أخلاقيات التواصل. يركز هذا البحث على كيفية تطبيق المداراة في الحياة اليومية، سواء في العالمين الواقعي والافتراضي. ويحلل هذا البحث تفسير سورة البقرة [2] الآية 83، وسورة النور [24] الآيتان 27-28، وسورة لقمان [31] الآيتان 18-19 لإيجاد فهم لمفهوم المداراة في التفاعل مع الآخر، سواء اللفظية وغير اللفظية. يستخدم هذا البحث المنهج الكيفي مع منهج الدراسة الأدبية. وقد أظهرت النتائج أن القرآن الكريم يقدم توجيهات كاملة حول الأدب. سةرة البقرة [2] الآية 83 تؤكد على أهمية حسن الكلام والأدب كشكل من أشكال النضج الأخلاقي والإيماني لمنع النزاع وخلق الوئام في المجتمع. سورة النور [24] الآيتان 27-28 تؤكد على آداب الضيافة كشكل من أشكال احترام خصوصيات الآخرين. سورة لقمان [31] الآيتان 18-19 تؤكدان على أهمية التواضع في التواصل. يُظهر هذا البحث أن تعاليم الأدب الواردة في القرآن الكريم مهمة جدًا للتغلب على تحديات التواصل المعاصر مثل وسائل التواصل الاجتماعي التي غالبًا ما تتجاهل الأخلاق. AbstrakDi era modern saat ini banyak terjadi krisis moral, salah satunya adalah hilangnya kesopanan yang merupakan salah satu elemen penting dalam etika berkomunikasi. Penelitian ini berfokus pada bagaimana kesopanan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam dunia nyata maupun maya. Penelitian ini menganalisis penafsiran QS. Al-Baqarah [2] ayat 83, QS. An-Nur [24] ayat 27-28 dan QS. Luqman [31] ayat 18-19 untuk menemukan pemahaman tentang konsep kesopanan dalam berinteraksi satu sama lain, baik verbal maupun nonverbal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan arahan yang lengkap tentang kesopanan. QS. Al-Baqarah [2] ayat 83 menekankan pentingnya berkata baik dan bersikap sopan sebagai bentuk kedewasaan moral dan iman demi mencegah konlik serta menciptakan keharmonisan di masyarakat. QS. An-Nur [24] ayat 27-28 menegaskan tentang etika bertamu yang merupakan wujud menghormati privasi orang lain. QS. Luqman [31] ayat 18-19 menekankan pentingnya sikap rendah hati dalam berkomunikasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa ajaran kesopanan yang terkandung dalam Al-Qur’an sangat penting untuk mengatasi tantangan komunikasi kontemporer seperti media sosial yang kerap mengabaikan etika. AbstractIn today's modern era, there are many moral crises, one of which is the loss of politeness, which is one of the important elements in communication ethics. This research focuses on how politeness can be implemented in everyday life, both in the real and virtual worlds. This research analyzes the interpretation of QS. Al-Baqarah [2] verse 83, QS. An-Nur [24] verses 27-28 and QS. Luqman [31] verses 18-19 to find an understanding of the concept of politeness in interacting with each other, both verbal and nonverbal. This research uses a qualitative method with a literature study approach. The results show that the Qur'an provides complete directions on politeness. QS. Al-Baqarah [2] verse 83 emphasizes the importance of speaking well and being polite as a form of moral maturity and faith to prevent conflicts and create harmony in society. QS. An-Nur [24] verses 27-28 emphasizes the ethics of visiting which is a form of respecting other people's privacy. QS. Luqman [31] verses 18-19 emphasizes the importance of a humble attitude in communication. This research shows that the teachings of politeness contained in the Qur'an are very important to overcome the challenges of contemporary communication such as social media that often ignore ethics.
Moral Messages in the Story of Prophet Adam AS and Its Relevance to Contemporary Social Contexts: Analysis of Tafsir Nusantara Sartika, Ela; Wahab Junaedi, Abdul; Ismawati, Nova
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i2.91

Abstract

Banyaknya fenomena saat ini yang kehilangan nilai moral dan spiritual karena adanya perkembangan zaman yang semakin pesat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang pesan moral yang diambil dari kisah Nabi Adam as., serta relevansinya dengan konteks sosial kontemporer saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir tematik (tafsir maudhu'i) untuk mengeksplorasi pesan moral dari kisah Nabi Adam serta menganalisis relevansinya dalam kehidupan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama kisah Nabi Adam mengandung pelajaran penting tentang sebuah ketaatan kepada Allah sebagai seorang hamba yang sejatinya ada di dunia ini hanya untuk beribadah dan taat kepada Allah. Kedua, sikap tanggung jawab yang mencirikan sebagai manusia sejati sekaligus pemimpin di muka bumi ini. Ketiga, kesadaran diri bahwa sebagai manusia harus seantiasa rendah hati dan menghindari sikap sombong. Keempat, sebagai manusia yang tidak luput dari dosa tentunya harus dengan rendah hati melakukan pengakuan dosa dan bertaubat. Hal ini perlu diaktualisasikan kembali dalam menghadapi tantangan yang ada  seperti krisis identitas, kesombongan, dan kelalaian terhadap perintah Allah. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa pesan moral dari kisah Nabi Adam sangat relevan untuk memberikan panduan etis dalam menghadapi berbagai dilema dan tantangan moral di era digital, dengan menekankan pentingnya introspeksi dan kesadaran akan perintah Allah. Abstract   There are many phenomena today that many humans have lost moral and spiritual values due to the rapid development of the times, such as cyberbullying and the spread of fake news. Therefore, this study aims to discuss the moral message taken from the story of Prophet Adam (peace be upon him), as well as its relevance to today's contemporary social context. This research uses a qualitative method with a thematic interpretation approach (tafsir maudhu'i) to explore the moral message of the story of Prophet Adam and analyze its relevance in contemporary life. The results show that first the story of Prophet Adam contains an important lesson about obedience to God as a servant who actually exists in this world only to worship and obey God. Second, the attitude of responsibility that characterizes a true human being as well as a leader on this earth. Third, self-awareness that as a human being must always be humble and avoid arrogant attitudes. Fourth, as a human being who is not free from sin, of course, we must humbly confess and repent. This needs to be re-actualized in facing existing challenges such as identity crisis, arrogance, and negligence of God's commands. The conclusion of this study is that the moral message of the story of Prophet Adam is very relevant to provide ethical guidance in facing various moral dilemmas and challenges in the digital era, by emphasizing the importance of introspection and awareness of God's commandments.
ثقافة التفاعل الاجتماعي: دراسة تفسير سورة الأنبياء الآية 107، والزمر الآية 53، ولقمان الآية 18 Rohman, Abdul; Harhab, Khalik Fazarin
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i2.92

Abstract

يتناول هذا البحث ثقافة التفاعل الاجتماعي في الإسلام من خلال منهج تفسير سورة الأنبياء الآية 107، والزمر الآية 53، ولقمان الآية 18، فالإسلام بوصفه دينًا مثاليًا يقدم مبادئ توجيهية للعلاقات الإنسانية التي تتضمن مبادئ روحية وأخلاقية. لا يقتصر التفاعل الاجتماعي في الإسلام على العلاقات الرسمية فحسب، بل يشمل أيضًا قيمًا مثل الرحمة والتسامح والتواضع التي تناقشها هذه الآيات الثلاث. تؤكد الآية 107 من سورة الأنبياء على أن النبي محمد صلى الله عليه وسلم بُعث رحمة للعالمين، وهو ما يسلط الضوء على أهمية الرحمة في العلاقات الاجتماعية. وتؤكد الآية 53 من سورة الزمر على العفو والتسامح، بينما تؤكد الآية 18 من سورة لقمان على أهمية التواضع وتجنب الكبر. ويستخدم هذا البحث منهجًا نوعيًّا من خلال منهج الدراسة العلمية، حيث يدرس كتب التفسير التقليدي والمعاصر. ويتم التحليل من خلال منهج التفسير الموضوعي لمعرفة مدى ملاءمة هذه التعاليم في الحياة الاجتماعية المعاصرة. وتظهر النتائج أن قيم القرآن الكريم يمكن أن تكون ثقافة التفاعل الاجتماعي أكثر انسجامًا وملاءمةً. ثقافة تفاعل اجتماعي أكثر انسجامًا وأوثق صلة بالموضوع، خاصة في وسط المجتمع الحديث متعدد الثقافات. Abstrak Tulisan ini mengkaji budaya interaksi sosial dalam Islam melalui pendekatan tafsir Surat Al-Anbiya ayat 107, Al-Zumar ayat 53, dan Luqman ayat 18. Sebagai agama yang ideal, Islam memberikan pedoman hubungan antar manusia yang mencakup prinsip-prinsip spiritual dan etika. Interaksi sosial dalam Islam tidak terbatas pada hubungan formal, tetapi juga mencakup nilai-nilai seperti kasih sayang, toleransi, dan kerendahan hati, yang dibahas dalam ketiga ayat ini. Ayat 107 dari Surat al-Anbiya menekankan bahwa Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, menyoroti pentingnya belas kasih dalam hubungan sosial. Ayat 53 dari Surat Al-Zamar menekankan pada pengampunan dan toleransi, sementara ayat 18 dari Surat Luqman menekankan pentingnya kerendahan hati dan menghindari kesombongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi ilmiah, dengan mengkaji kitab-kitab tafsir tradisional dan kontemporer. Kemudian dianalisis melalui pendekatan tafsir tematik untuk melihat relevansi ajaran-ajaran tersebut dalam kehidupan sosial kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Al-Quran dapat menjadi budaya interaksi sosial yang lebih harmonis dan sesuai. Budaya interaksi sosial yang lebih harmonis dan relevan, terutama di tengah-tengah masyarakat modern yang multikultural. Abstract This paper examines the culture of social interaction in Islam through the exegetical approach of Surah Al-Anbiya verse 107, Al-Zummar verse 53, and Luqman verse 18. As an ideal religion, Islam provides guidelines for human relationships that include spiritual and ethical principles. Social interaction in Islam is not limited to formal relationships, but also includes values such as mercy, tolerance and humility, which are discussed in these three verses. Verse 107 of Surat al-Anbiya emphasises that the Prophet Muhammad was sent as a mercy to the world, highlighting the importance of mercy in social relations. Verse 53 of Surat Al-Zamar emphasises forgiveness and tolerance, while verse 18 of Surat Luqman emphasises the importance of humility and the avoidance of pride. This research utilises a qualitative approach through the scientific study method, examining traditional and contemporary books of tafsir. It is analysed through a thematic exegesis approach to see the relevance of these teachings in contemporary social life. The results show that the values of the Holy Quran can be a more harmonious and appropriate culture of social interaction. A more harmonious and relevant culture of social interaction, especially in the midst of modern multicultural society.
Karakterisrik Term Al-Ta’lim, Al-Tarbiyah, dan Al-Tazkiyah dalam al-Qur’an Mubarok, Ghozi; Mohammad Zakin Mamduh
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i2.101

Abstract

Pendidikan merupakan suatu proses penanaman nilai-nilai kehidupan ke dalam diri seseorang. Islam setidaknya memperkenalkan istilah pendidikan dalam merujuk ke beberapa istilah yaitu Al-Ta'lim, Al-Tarbiyah, dan Al-Tazkiyah. Ketiga istilah tersebut memiliki makna yang berbeda, namun istilah al-Tarbiyah merupakan istilah yang paling umum digunakan dalam praktik pendidikan. Secara keseluruhan, Al-Ta'lim, Al-Tarbiyah, dan Al-Tazkiyah merupakan elemen-elemen pendidikan yang saling mendukung dalam kerangka pendidikan Islam. Ketika suatu pendidikan difokuskan kepada al-Tazkiyah (Pensucian), pengajaran (Al-Ta’lim) menjadi sarana untuk memperoleh ilmu yang kemudian harus dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudia agar ilmu ini benar-benar melekat dan menjadi bagian dari kepribadian seseorang, diperlukan bimbingan dan pembinaan yang menyeluruh melalui Al-Tarbiyah (pendidikan). Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi pustaka dengan analisis konten dan deskriptif terhadap berbagai sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Ta'lim, Al-Tarbiyah, dan Al-Tazkiyah merupakan elemen-elemen yang membentuk kerangka proses pendidikan yang lengkap dan integral, yang bertujuan untuk menciptakan individu yang berpengetahuan luas, berkarakter mulia, dan beradab dalam setiap aspek kehidupannya. Abstract Education is a process of instilling life values ​​into a person. Islam at least introduced the term education in referring to several terms, namely Al-Ta'lim, Al-Tarbiyah, and Al-Tazkiyah. These three terms have different meanings, but the term al-Tarbiyah is the term most commonly used in educational practice. Overall, Al-Ta'lim, Al-Tarbiyah, and Al-Tazkiyah are educational elements that support each other within the framework of Islamic education. When education is focused on al-Tazkiyah (Purification), teaching (Al-Ta'lim) becomes a means of acquiring knowledge which must then be understood, internalized and put into practice in everyday life. Then, for this knowledge to truly stick and become part of a person's personality, comprehensive guidance and coaching through Al-Tarbiyah (education) is needed. The method used in this research is a literature study with content and descriptive analysis of various sources. The research results show that Al-Ta'lim, Al-Tarbiyah, and Al-Tazkiyah are elements that form a complete and integral educational process framework, which aims to create individuals who are knowledgeable, have noble character, and are civilized in every aspect of his life.
Telaah Tafsir Nuzuli Surah al-Muddatsir dalam Perspektif Habannakah dan Muhammad Abid al-Jabiri Santosa, Nahel Azizi; Bariroh, Najwa; Amru, Khobirul
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i1.105

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan membandingkan tafsir Surah al-Muddassir oleh dua mufasir kontemporer, yaitu ‘Abd al-Rahman Hasan Habannakah dan Muhammad ‘Abid al-Jabiri, dalam perspektif tafsir nuzuli atau pendekatan berdasarkan kronologi turunnya wahyu. Dengan metode penelitian kepustakaan, kajian ini memusatkan analisis pada dua teks tafsir utama dari masing-masing mufasir, yaitu Ma’arij al-Tafakkur wa Daqaiq al-Tadabbur karya Habannakah dan Fahm al-Qur’an al-Hakim karya al-Jabiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Habannakah lebih menekankan aspek moralitas dan pembentukan karakter umat melalui panduan spiritual, sementara al-Jabiri mengarahkan fokus pada konteks sosial-historis dalam dakwah Nabi, khususnya dalam menghadapi tantangan dari kaum Quraisy. Penafsiran keduanya menunjukkan pendekatan berbeda yang saling melengkapi dalam memahami relevansi tema Surah al-Muddassir pada masa awal Islam. Kesimpulannya, pendekatan tafsir nuzuli mampu menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam dan relevan terhadap pesan al-Qur’an dalam konteks sejarah dan tantangan kontemporer. Abstract This study aims to compare the interpretations of Surah al-Muddassir by two contemporary scholars, ‘Abd al-Rahman Hasan Habannakah and Muhammad ‘Abid al-Jabiri, through the lens of nuzuli interpretation, which is based on the chronological order of revelation. Using library research, this study focuses on analyzing the main tafsir texts from each scholar, namely Ma’arij al-Tafakkur wa Daqaiq al-Tadabbur by Habannakah and Fahm al-Qur’an al-Hakim by al-Jabiri. The findings reveal that Habannakah emphasizes moral aspects and the formation of community character through spiritual guidance, while al-Jabiri focuses on the socio-historical context of the Prophet's mission, particularly in facing challenges from the Quraysh. Their interpretations offer complementary approaches to understanding the relevance of Surah al-Muddassir during the early period of Islam. In conclusion, the nuzuli approach provides a deeper and more relevant understanding of the Qur'an's message within its historical context and contemporary challenges.
Analisis Nilai Sosial dalam Al-Quran untuk Mengatasi Terjadinya Social Withdrawal Zayyadi, Ach; Unsiyyah, Ummi Farhatil
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i1.157

Abstract

Penarikan diri dari lingkungan sosial merujuk pada keadaan ketika seseorang menghindari keterlibatan dalam interaksi sosial. Kondisi ini bertentangan dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang saling bergantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai sosial dalam Al-Qur'an yang dapat membantu mengatasi kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial serta mendorong terwujudnya hubungan yang harmonis antarindividu. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi pustaka serta analisis tematik terhadap ayat-ayat dalam Al-Qur'an, seperti Al-Hujurat (49:11), Al-Ma'idah (5:2), An-Nisa' (4:86), dan Al-Mujadilah. Penafsiran terhadap ayat-ayat tersebut merujuk pada tafsir Fi Zilalil Qur'an, Tafsir Al-Munir, dan Tafsir Al-Misbah guna menggali makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai sosial Al-Qur'an seperti ukhuwah (persaudaraan), tolong-menolong, dan empati memiliki peran krusial dalam membentuk tatanan sosial yang harmonis. Lingkungan sosial yang demikian mampu mencegah terjadinya penarikan diri secara sosial dengan memberikan dukungan secara emosional maupun sosial, serta mendorong keterlibatan aktif dalam interaksi sosial yang sehat. Abstract Social withdrawal refers to a condition in which individuals avoid engagement in social interactions. This condition contradicts the human nature as social beings who depend on one another. This study aims to explore the social values found in the Qur'an that can help address the tendency toward social withdrawal and encourage the development of harmonious interpersonal relationships. The research employs a qualitative approach using a literature review method and thematic analysis of selected Qur’anic verses, such as Al-Hujurat (49:11), Al-Ma’idah (5:2), An-Nisa’ (4:86), and Al-Mujadilah. The interpretation of these verses refers to classical and contemporary exegeses, including Fi Zilalil Qur'an, Tafsir Al-Munir, and Tafsir Al-Misbah, in order to uncover the meanings and messages contained within. The findings reveal that Qur'anic social values such as ukhuwah (brotherhood), mutual assistance, and empathy play a vital role in shaping a harmonious social order. Such an environment helps prevent social withdrawal by offering emotional and social support, while also encouraging active participation in healthy social interactions
Kajian Tafsir Ilmiah Q.S. Aṭ-Ṭāriq Ayat 1-3: Menelusuri Makna ‘Bintang Cemerlang’ dalam Perspektif Kosmologi Khairunissa; Liya Azizah; Zuraida Ramadhani; Norhidayah; Ahmad Mujahid
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i2.159

Abstract

Bintang merupakan salah satu objek langit yang menjadi perhatian dalam kosmologi modern maupun dalam teks-teks suci, termasuk Al-Qur’an. Salah satu penggambaran tentang bintang dalam Al-Qur’an terdapat pada Q.S. Aṭ-Ṭāriq ayat 1–3, yang menyebutkan istilah an-najm ats-tsāqib, yakni “bintang cemerlang”. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri makna an-najm ats-tsāqib melalui pendekatan tafsir ilmiah dan mengaitkannya dengan temuan kosmologi modern. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan. Data diperoleh dari sumber-sumber tafsir klasik dan literatur kosmologi kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para mufassir klasik memahami an-najm ats-tsāqib sebagai bintang yang bercahaya terang dan menembus kegelapan malam. Dalam perspektif ilmiah modern, istilah ini dikorelasikan dengan fenomena objek astronomi seperti bintang neutron atau pulsaryang memiliki karakteristik radiasi inten. Penelitian ini memperlihatkan adanya keserasian makna antara isyarat Al-Qur’an dan penemuan kosmologi modern, sekaligus menguatkan bahwa Al-Qur’an mengandung petunjuk ilmiah yang relevan sepanjang masa.   Abstract Stars are one of the celestial objects that are of interest in modern cosmology and in sacred texts, including the Qur'an. One of the depictions of stars in the Qur'an is in Q.S. Aṭ-Ṭāriq verses 1-3, which mentions the term an-Najm ats-Tsāqib, namely "bright star". This study aims to explore the meaning of an-Najm ats-Tsāqib through a scientific interpretation approach and relate it to the findings of modern cosmology. The method used is qualitative research based on literature studies. Data were obtained from classical interpretation sources and contemporary cosmological literature. The results of the study show that classical interpreters understand an-Najm ats-Tsāqib as a star that shines brightly and penetrates the darkness of the night. In a modern scientific perspective, this term is correlated with the phenomenon of astronomical objects such as neutron stars or pulsars that have intense radiation characteristics. This research shows that there is harmony in meaning between the signs of the Qur'an and the discoveries of modern cosmology, while also confirming that the Qur'an contains scientific guidance that is relevant for all time.
Relevansi Kesalehan Ibu Terhadap Perkembangan Kepribadian Anak Perspektif Al-Qur'an: Studi QS. Ali Imran: 35-36 Efendi, Sufrin; Malini, Riem
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i1.161

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan relevansi kesalehan seorang ibu di dalam rumah tangga terhadap perkembangan kepribadian anak. Penelitian ini  merupakan  penelitian  kualitatif  dengan  jenis  kepustakaan. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis konten. Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa  ada  empat point sebagai bukti tentang kuatnya relevansi perkemangan kepribadian anak dengan kesalehan ibu. Pertama, anak merupakan titipan Allah SWT., yang bersifat fitrah dan orang tua terkhsus ibu berkewajiban untuk menjaga fitrah tersebut. Kedua, ayah dan ibu memiliki kewajiban yang sama terhadap anak namun dengan proporsi yang berbeda, ayah lebih ditekankan pada pemenuhan yang bersifat materil; makanan dan pakaian, sementara ibu ditugaskan untuk mendampingin perkembagan psikis dan emosional anak. Ketiga,  ibu adalah aktor utama yang membentuk kepribadian anak, oleh sebab itu ibu berperan sebagai guru yang menentukan arah perkebangan kepribadian anak. Keempat, perkembangan seseorang dipengaruhi oleh lingkungannya dan ibu menjadi sosok yang paling intens berinteraksi dengan anak, baik dan atau buruknya anak banyak ditentukan ibu yang menyertainya. Abstract This study aims to describe the relevance of a mother's piety in the family to the development of a child's personality. This study is a qualitative study with a literature type. Data were collected using documentation techniques and then analyzed using content analysis techniques. The results of the study show that there are four points as evidence of the extent of the relationship between the development of a child's personality and the mother's piety. First, children are a gift from Allah SWT, which is natural and parents, especially mothers, are obliged to maintain this natural. Second, fathers and mothers have the same obligations to children but with different proportions, fathers are more emphasized on fulfilling material needs; food and clothing, while mothers are tasked with controlling the child's psychological and emotional development. Third, mothers are the main actors who shape children's personalities, therefore mothers play a role as teachers who determine the direction of children's personality development. Fourth, a person's development is influenced by their environment and mothers are the figures who interact most intensely with children, the good and or bad of children is largely determined by the mother who accompanies them.