cover
Contact Name
Arich Hawary Anshorullah
Contact Email
lppm.stiuwm@gmail.com
Phone
+6289672966876
Journal Mail Official
lppm.stiuwm@gmail.com
Editorial Address
Komplek Islamic Center Wadi Mubarak Bogor, Jl. Raya Puncak - Cianjur, Gg. Kantor, Kuta, Kec. Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16770
Location
Kab. bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 30312876     EISSN : 2961919X     DOI : http://doi.org/10.62109/izzatuna
Core Subject : Religion,
Izzatuna merupakan jurnal ilmiah yang memfokuskan pembahasannya pada Tafsir Al Quran, Kaidah Kaidah Tafsir, Ilmu Ilmu Al Quran, Tajwid dan Qiraat Al Quran, Rasm Usmani dan Living Quran.
Articles 63 Documents
Urgensi dan Dinamika Terjemah Al-Qur’an Anshorullah, Arif; Syayfi, Sohib
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i1.35

Abstract

Memahami dan menyampaikan isi Al-Qur’an merupakan tanggung jawab fundamental bagi setiap muslim. Namun, tantangan muncul ketika individu, terutama mereka yang bukan berbahasa Arab, menghadapi kesulitan dalam memahami teks-teks Al-Qur’an yang ditulis dalam bahasa Arab. Inilah mengapa penerjemahan Al-Qur’an menjadi sangat penting, karena berfungsi sebagai jembatan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang pesan-pesan Al-Qur’an. Artikel ini akan menjelaskan beberapa aspek terkait penerjemahan Al-Qur’an dalam konteks penelitian kepustakaan. Pertama, akan dibahas definisi penerjemahan Al-Qur’an, klasifikasi berbagai jenis terjemahan Al-Qur’an, serta syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam melakukan penerjemahan Al-Qur’an. Kedua, artikel akan mengulas dinamika dan sejarah singkat penerjemahan Al-Qur’an, baik di dunia Timur maupun Barat, dengan fokus khusus pada sejarah penerjemahan Al-Qur’an di Indonesia. Analisis ini akan menggambarkan bagaimana penerjemahan Al-Qur’an telah menjadi sebuah perjalanan intelektual dan spiritual yang penting bagi umat Islam di seluruh dunia, memungkinkan akses yang lebih luas dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap pesan universal yang terkandung dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam konteks literatur Al-Qur’an, menyoroti urgensi dan relevansi penerjemahan sebagai sarana utama dalam memahami dan menyebarkan ajaran Al-Qur’an di era kontemporer.  Abstract Understanding and conveying the contents of the Qur'an is an obligation for every Muslim individual. However, in practice, attempts to convey the contents of the Qur'an sometimes encounter problems. This is because not all Muslim communities, especially the ‘ajam (non-Arabic) are able to directly understand the Arabic texts of the Qur'an. Therein lies the urgency of translating the Koran, namely as a means to understand the Koran. This article will discuss several matters related to the translation of the Qur'an. First, the definition of Al-Qur'an translation, the classification of Al-Qur'an translation, and the requirements for Al-Qur'an translation. Second, the dynamics and brief history of Al-Qur'an translation, both in eastern and western countries, and specifically the history of Al-Qur'an translation in Indonesia
Menilik Bentuk Qasam dalam Al-Qur’an Safira, Dina; Haris, Abdul Rauf
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i1.36

Abstract

Salah satu hak Al-Qur’an yang harus dipenuhi ialah men-tadabburi ayat-ayatnya, sehingga sang pembaca dapat mengambil hikmah juga pelajaran yang Allah berikan. Penafsiran yang banyak dijumpai sekarang jarang mefokuskan pembahasan tentang ayat-ayat qasam; merupakan salah satu uslub penegasan dalam Al-Qur’an. Ayat yang mengandung penegasan ini harus ditelaah lebih dalam agar maksud yang terkandung didalamnya tidak begitu saja terlewatkan. Artikel ini membahas tentang tujuan dan hikmah dari ayat-ayat qasam. Penulis memaparkan bagaimana bentuk lafaz qasam dalam Al-Qur’an serta pembagiannya. Dari pembahasan ini dapat diketahui: pertama, ayat qasam bertujuan untuk menegaskan sebuah perkara yang pasti terjadi. Qasam juga ditujukan untuk mengagungkan muqsam bihi (sesuatu yang dijadikan sumpah). Sedangkan melalui qasam yang menggunakan ayat-ayat kauniyyah, pembaca akan tersadar akan kekuasaan Sang Pencipta. Kedua, bentuk qasam terdiri dari tiga unsur utama, yaitu fi’il qasam (kata kerja sumpah), muqsam bihi (sesuatu yang dijadikan sumpah), dan muqsam ‘alaih (kabar atau perkara yang akan ditegaskan). Ketiga, qasam dalam bentuk kejelasannya terbagi menjadi dua, yaitu qasam dzhohir (jelas) dan qasam mudhmar (tersembunyi). Abstract One of the rights of the Qur'an that must be fulfilled is to recite its verses with taddabur, so that the reader can take the wisdom and lessons that Allah has given.The interpretations that are often found today rarely focus on discussing the verses about qasam. Qasam is one of the ways Allah emphasizes about something in the Qur'an.Verses which contain affirmation about something in the Quran should be studied more deeply and carefully so that the meaning contained inside of the verses are not missed. This article discusses about the purpose and wisdom of the Qasam verses in the Qur'an.The author will describe how many forms of Qasam are there in the Qur'an and each of its sections.The first purpose of the Qasam verses is to emphasize an event that will definitely happen.The second purpose of the Qasam verses is to glorify whatever is being swore upon. within kauniyyah verses. The purpose of this is to make readers realize how mighty Allah is. The second form of the Qasam is divided into three sections, the first is the fi'il qasam (a verb for swearing), the second is muqsam bihi (to glorify whatever is being swore upon), and the third is muqsam 'alaih (to emphasize an event that will definitely happen). The third form of the Qasam is divided into 2 groups based on how clear the Qasam is. The first is Qasam dzhohir (that is able to be seen) and the second is qasam mudhmar (that is hidden).
Bentuk Ilmiah Kemukjizatan Al-Qur’an Fikram, Fikram; Anis, Ahmad
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i1.37

Abstract

  Di zaman seperti sekarang ini perkembangan teknologi sangatlah pesat. Jika tidak didasari dengan pondasi agama yang kuat maka akan menghasilkan sesuatu yang tidak diharapkan bahkan dapat bertentangan dengan agama. Contohnya adalah belakangan ini ada penemuan ilmiah barat yang menyatakan bahwa alam semesta terjadi begitu saja tanpa adanya proses penciptaan. Ini jelas bertentangan dengan salah satu kemukjizatan Al-Qur’an yaitu dari segi ilmiah bahwa alam semesta terjadi melalui suatu proses atas kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Untuk mengantisipasi hal demikian berulang kembali maka penulis berusaha memberikan wawasan kepada masyarakat untuk dapat memahami  mukjizat Al-Qur’an dari segi ilmiahnya melalui artikel penelitian ini. Secara garis besar ada dua pokok bahasan dalam artikel penelitian ini, pembahasan pertama mengenai mukjizat Al-Qur’an secara umum dan pembahasan kedua secara khusus mengenai mukjizat ilmiah Al-Qur’an. Maka dengan adanya artikel penelitian ini, terjadi kesesuaian antara agama Islam dengan perkembangan IPTEK saat ini, serta sebagai pembantah konsep penemuan barat tersebut. Abstract In this era, the development of technology is very fast. If it is not based on a strong religious foundation, it will produce something that is not expected and can even conflict with religion. An example is that recently there has been a western scientific discovery which states that the universe just happened without any creation process. This clearly contradicts one of the miracles of the Qur'an, namely from a scientific point of view that the universe came about through a process by the will of Allah subhanahu wa ta'ala. To anticipate this happening again, the author tries to provide insight to the public to be able to understand the miracles of the Qur'an from a scientific point of view through this research article. Broadly speaking there are two main points of discussion in this research article, the first discussion regarding the miracles of the Al-Qur'an in general and the second discussion specifically regarding the scientific miracles of the Qur'an. So with this research article, there is compatibility between Islam and the current developments in science and technology, as well as being a rebuttal to the concept of western invention.
Sejarah Perkembangan Ilmu Tafsir Era Salaf Azizah, Lutfi Nur; Hariyanto, Didik
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i1.38

Abstract

  Saat ini banyak gagasan pembaharuan tafsir Al-Qur’an yang meragukan dan mengesampingkan tafsir salaf, padahal para salaf —sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin— adalah generasi terbaik umat ini. Metode tafsir klasik yang mengedepankan pengutipan riwayat dinilai kaku dan gagal menjawab permasalahan umat yang semakin hari semakin kompleks. Pendapat tersebut tentu saja sangat tidak tepat. Tafsir salaf seharusnya menjadi penafsiran yang terbaik dan diutamakan karena mereka adalah generasi terbaik. Penafsiran terbaik itu dapat dilihat karakteristik penafsiran masing-masing generasi. Hal tersebutlah yang akan dibahas dalam artikel ini. Selain itu, artikel ini juga membahas metode serta tokoh-tokoh tafsir tiap generasi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian literatur dengan mengumpulkan data yang dibutuhkan melalui sumber refernsi seperti buku, jurnal, artikel ilmiah, dan lain sebagainya. Hasil kajian menunjukkan bahwa penafsiran salaf didominasi oleh tafsir bil ma’tsur melalui talaqqi riwayat, di samping terdapat pula penafsiran dengan ijtihad dan pemahaman mufasir. Hal tersebut menjadikan tafsir salaf sangat layak untuk dijadikan rujukan utama dalam menafsirkan Al-Qur’an. Abstract At present there are many ideas for reforming the interpretation of the Qur'an which doubt and set aside the interpretation of the salaf, even though the salaf - shahabah, tabiin, and tabiut tabiin - are the best generation of this ummah. The classical interpretation method which emphasizes quoting history is considered rigid and fails to answer the problems of the people who are increasingly complex. This opinion is of course very wrong. The interpretation of the salaf should be the best and preferred interpretation because they are the best generation. The best interpretation can be seen from the interpretation characteristics of each generation. This is what will be discussed in this article. In addition, this article also discusses the methods and figures of interpretation of each generation. The research method used is literature research by collecting the required data through reference sources such as books, journals, scientific articles, and so on. The results of the study show that the interpretation of the salaf is dominated by the interpretation of bil ma'tsur through talaqqi history, besides that there is also an interpretation with ijtihad and the understanding of the mufasir. This makes the interpretation of the salaf very appropriate to be used as the main reference in interpreting the Qur'an. It is imperative for Muslims to pay great attention to the interpretation of the Salaf and put it above all others.
Identifikasi Corak Isyari dalam Tafsir Sufi Ihsan, Muhammad; Hakim, Lukman Nol
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i1.39

Abstract

  Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang dipelajari oleh berbagai kalangan, termasuk non-Muslim. Kaum sufi turut mempelajari Al-Qur’an dengan metode isyari, yaitu pendekatan yang mengedepankan makna-makna batiniah dari ayat-ayat Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi corak isyari dalam tafsir sufi. Dengan menelaah beberapa contoh tafsir sufi, peneliti menemukan bahwa corak isyari sering kali menjadi ciri khas dalam penafsiran mereka.Penelitian ini menggunakan berbagai tafsir sufi sebagai bahan analisis untuk mengungkap bagaimana corak isyari diterapkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun kaum sufi memiliki kedalaman spiritual, tafsir mereka sering kali tidak memenuhi syarat-syarat metodologis yang diterima dalam penafsiran isyari. Penafsiran isyari memerlukan keseimbangan antara makna lahiriah dan batiniah serta harus didukung oleh dalil-dalil yang jelas. Namun, dalam banyak kasus, tafsir sufi lebih condong kepada aspek esoteris tanpa dukungan kuat dari konteks lahiriah. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa tafsir sufi tidak dapat diterima secara umum sebagai metode isyari yang sahih karena tidak memenuhi syarat-syarat yang diperlukan. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih kritis dan metodologis dalam penafsiran Al-Qur’an agar hasilnya dapat diterima oleh berbagai kalangan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi dalam diskursus ilmiah mengenai metode penafsiran Al-Qur’an, khususnya dalam mengkaji validitas tafsir isyari dalam tradisi sufi. Abstract The Qur’an is the holy book of Muslims, so it cannot be denied that all parties study the Koran and even the Koran is studied by non-Muslims. Likewise with the Sufis, they study the Qur'an with the isyari method. Therefore, researchers are interested in examining the identification of isyari patterns in Sufi interpretations. By looking at several examples of Sufi exegesis in interpreting the Qur'an there is an isyari style in it. This then becomes the researcher's step in identifying the isyari pattern in the Sufi exegesis. In conclusion, the researcher found that the Sufis exceeded the requirements for accepting the isyari method as a pattern in interpretation. So that the Sufi interpretation cannot be accepted on the grounds that it does not meet the requirements of the isyari method.
Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al-Qur’an Menurut Hamka Dan Al-Zamakhsyari Dalam Qs. Yusuf (12): 2 Dan Asy-Syu’ara’ (26): 195 Rifqi, Mandra Jaya; Rahman, Pathur; Gusti, Gusti
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i2.41

Abstract

Artikel ini akan mengulas penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran, seperti yang dijelaskan oleh Hamka dan az-Zamakhsyarī ketika menafsirkan QS. Yūsuf/12: 2 dan Asy-Syuʻarāʼ/26: 195. Penelitian ini dilakukan melalui metode penelitian perpustakaan (library research), dengan meneliti literatur tertulis seperti turāṡ, buku dan jurnal. Bahasa Arab dianggap sebagai bahasa Al-Qur’an, sehingga dalam memahami pesan-pesan Al-Qur’an mutlak harus memiliki pengetahuan tentang bahasa Arab. Namun, sifat bahasa Al-Qur’an sedikit berbeda dengan bahasa Arab yang digunakan oleh masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Qur’an. Poin menarik dalam artikel ini adalah konsep bahwa bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an telah ditentukan oleh ketetapan Tuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah bangsa Arab yang menggunakan bahasa Arab, dan umat pertama yang dihadapi oleh Nabi adalah bangsa Arab dengan bahasa mereka sendiri. Hamka berpendapat bahwa Al-Quran diturunkan oleh Tuhan dalam bahasa Arab agar dapat dibaca dan dipikirkan, bukan sekadar dibaca tanpa pemahaman dan refleksi atas isinya. Sementara itu, az-Zamakhsyarī menyatakan bahwa Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab agar bisa dipahami dan memahami makna-maknanya, serta untuk menghindari kebingungan. Abstract This article delves into the utilization of the Arabic language as the language of the Quran, as expounded by Hamka and az-Zamakhsyarī in their interpretations of Surah Yusuf (12): 2 and Ash-Syu'ara' (26): 195. The research employs the method of library research, involving an examination of written literature such as turaṡ (Islamic heritage), books, and journals. Arabic is considered the language of the Quran, necessitating a fundamental understanding of the Arabic language to comprehend the messages conveyed in the Quran. However, the nature of the Quranic language differs slightly from the Arabic language used by the Arab community during the revelation of the Quran. The research findings indicate that according to Hamka, the Quran was revealed by God in Arabic to facilitate both reading and contemplation, emphasizing the importance of understanding and reflecting upon its content rather than mere recitation. On the other hand, az-Zamakhsyarī asserts that the Quran was revealed in Arabic to enable comprehension of its meanings and to avoid confusion.
Pesan Moral Pendidikan dalam Al-Qur’an: Kajian Profetik Al-Qur’an: Telaah Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa dalam Surat Al-Kahfi Hanifah, Ummu; Putri Miftahul Khoir; Ade Naelul Huda; Muhammad Adjieb Fadhil; Rahmat Munadhir
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i2.43

Abstract

Diantara metode Al-Qur'an dalam menyampaikan pesan dan naschat adalah melalui kisah. Metode ini sangat menyentuh hati untuk menjadi sarana menumbuhkan dan menguatkan keimanan kepada Allah Swt. Bahkan metode dengan kisah ini mendominasi al-Qur'an karena juga merupakan cara yang paling disenangi orang, mempesona dan paling mengena serta mudah diterima oleh orang lain. Al-Qur'an menyebut banyak kisah, baik bekenaan dengan napak tilas perjuangan para Nabi dan Rasul. Degradasi moral sebagai isu yang berkelanjutan sejak zaman dahulu sampai dengan sekarang menjadi salah satu tugas utama kita semua. Peneliti mengkaji kisah Nabi Musa dan Nabi Khaidir. dengan menggunakan kajian profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo, yaitu kajian yang mengacu pada tiga pilar utama: humanisasi (ta 'muruna bil ma'ruf), liberasi (tanhauna anil munkar) dan trasendensi (tu'minuna billah). Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan metode kualitatif desrkriptif dengan sumber data dalam surah Maryam. Salah satu kisah penting dalam al-Qur'an yang membahas tentang pendidikan profetik adalah kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa yang terdapat dalam Surah al-Kahfi. Dalam kisah tersebut, Nabi Musa mencari Khidir untuk belajar tentang kebijaksanaan dan keadilan, namun serangkaian peristiwa yang dihadapi oleh Nabi Musa mengajarkan bahwa kebijaksanaan dan keadilan memiliki dimensi yang lebih dalam. Dalam konteks pendidikan, pesan moral pendidikan profetik dalam al-Qur'an menegaskan bahwa pendidikan harus memperhatikan aspek moral dan spiritual, dan mengajarkan murid untuk memiliki karakter yang baik dan etis. Abstract Among the Qur'anic methods of conveying messages and naschat is through stories. This method is very touching to be a means of growing and strengthening faith in Allah SWT. Even the method with this story dominates the Qur'an because it is also the way that people like the most, fascinate and most familiar and easily accepted by others. The Qur'an mentions many stories, both related to the tracing of the struggles of the Prophets and Messengers. Moral degradation as an ongoing issue from ancient times until now is one of the main tasks of all of us. Researchers examined the story of Prophet Moses and Prophet Khaidir. by using prophetic studies initiated by Kuntowijoyo, namely studies that refer to three main pillars: humanization (ta' muruna bil ma'ruf), liberation (tanhauna anil munkar) and trasendensi (tu'minuna billah). This type of research is library research with descriptive qualitative methods with data sources in surah Maryam. One of the important stories in the Qur'an that discusses prophetic education is the story of Prophet Khidir and Prophet Moses contained in Surah al-Kahf. In the story, Moses sought out Khidir to learn about wisdom and justice, but the series of events faced by Moses taught that wisdom and justice have a deeper dimension. In the context of education, the moral message of prophetic education in the Qur'an affirms that education should pay attention to moral and spiritual aspects, and teach students to have good and ethical character.
Relevansi Kisah Nabi Musa dan Fir’aun menurut Al-Qur’an dengan Islamofobia Gantara, Gilang Eksa; Fiqriadi; Yusuf, Muhammad Suaidi
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i2.44

Abstract

Dengan era globalisasi saat ini, pengaruh Islam bisa tersebar dengan mudah dan cepat. Ekses negatifnya adalah banyak orang yang belum memahami Islam tapi dengan cepat juga merasa fobia terhadap Islam dan ajarannya, atau yang disebut juga dengan Islamofobia. Kebencian terhadap Islam sendiri bukan barang baru dari era globalisasi, tapi sudah ada sejak dulu. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkontekstualisasikan kisah Nabi Musa dan Fir’aun dengan tema Islamofobia, serta menjelaskan strategi yang Musa ambil dalam melawan Islamofobia Fir’aun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah Nabi Musa melawan Fir’aun apabila dikontekstualisasikan dengan fenomena Islamofobia sangat relevan. Tuduhan-tuduhan Fir’aun yang menunjukkan kebenciannya terhadap Musa dan pengikutnya adalah; penyihir, ingin merusak, ingin berkuasa, bahkan ingin mengusir orang Mesir; padahal Musa hanya ingin membebaskan Bani Israil untuk beribadah. Begitu juga Fir’aun memberikan ancaman penjara, melakukan genosida, pembantaian, perusakan reputasi Musa, juga ancaman pembunuhan terhadap Musa. Dalam menghadapi Islamofobia Fir’aun, Nabi Musa menerapkan tiga strategi kunci, yaitu: mencoba berdialog dengan Fir’aun secara positif dan konstruktif, menguatkan komunitasnya agar tidak terpengaruh oleh Islamofobia Fir’aun, membentuk komunitas yang mandiri dan bebas dari pengaruh kekuasaan Fir’aun. Strategi-strategi ini menjadi landasan penting untuk merespons tantangan Islamofobia dengan bijak dan efektif. Abstract In the current era of globalization, the influence of Islam is easily and rapidly disseminated. However, a negative consequence of this is the emergence of Islamophobia, where many individuals, despite lacking a comprehensive understanding of Islam, quickly develop a phobic attitude towards the religion and its teachings. Nevertheless, the hatred towards Islam is not a novel phenomenon and has persisted over time. This study aims to contextualize the narrative of Prophet Moses and Pharaoh within the theme of Islamophobia, elucidating the strategies employed by Moses to counter Pharaoh's Islamophobic sentiments. The study reveals the resonance of the Prophet Moses' story against Pharaoh with the contemporary phenomenon of Islamophobia. Pharaoh, portraying his animosity towards Moses and his followers, was accusing them of wanting to corrupt, rule, and even expel the Egyptians. Pharaoh also responded Moses’s call with threats of imprisonment, genocide, murder, character assassination against Moses, and even death threats. Faced with Pharaoh's Islamophobia, Prophet Moses implemented three strategic approaches: engaging in constructive dialogue with Pharaoh, fortifying his community to resist the impact of Islamophobia, and establishing an independent community free from Pharaoh's influence. These strategies serve as a crucial foundation for responding wisely to the challenge posed by Islamophobia.
Khauf, Wajal dan Rahaba Menurut asy-Syaukani dan Wahbah az-Zuhaili Mukhtar, Juaenni; Anis, Ahmad
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i2.45

Abstract

Dalam penelitian ini, peneliti mengkaji kata khauf, wajal dan rahaba yang diartikan dengan rasa takut. Data yang digunakan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an yang terdapat ketiga lafaz tersebut dan menggunakan penafsiran kitab Al-Munīr karya Wahbah az-Zuhaili dan kitab Fathul Qodīr karya asy-Syaukani. Penulis meneliti Bagaimana penafsiran asy-Syaukani dan Wahbah az-Zuhaili dalam kitab tafsirnya terhadap kata khauf, wajal dan rahaba dan bagaimana perbedaan dan persamaan kata-kata tersebut. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian kali ini adalah penelitian perpustakaan (library reasearch) dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Hasil penelitian ini adalah kata khauf adalah rasa takut yang dimiliki semua orang yang beriman, dan rasa takut akan terjadi bahaya yang menipa diri sendiri atau orang lain. Wajal adalah terjadinya rasa takut terhadap Allah SWT, ketika mengingatnya. Hal ini merupakakan kondisi orang-orang yang memiliki iman yang sempurna dan ikhlas semata-mata karena Allah SWT. Ar-Rahaba adalah perintah untuk merasa takut yang dibarengi dengan ancaman.  Persamaan ketiga kata tersebut adalah bahwasanya sama-sama bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Perbedaan mendasar lafaz khauf, wajal dan rahaba adalah dari segi subjek dan objek yang digunakan di dalam Al-Qur’an. Abstract   In this research, the researcher examines the words "khauf," "wajal," and "rahaba," which are interpreted as fear. The data used in this study are verses from the Qur'an that contain these three words, along with interpretations from the book "at-Tafsīr al-Munīr" by Wahbah az-Zuhailī and the book "Fathul Qodīr" by asy-Syaukānī. The author investigates how the interpretations of asy-Syaukānī and Wahbah az-Zuhailī in their exegeses relate to the words "khauf," "wajal," and "rahaba," and how these words differ and share similarities. The research method employed in this study is library research using descriptive analysis. The results of this research indicate that "khauf" is the fear possessed by all believers, a fear of potential harm to oneself or others. "Wajal" is the occurrence of fear of Allah SWT when remembering Him. This condition characterizes individuals with perfect faith and sincerity solely for the sake of Allah SWT. "Ar-Rahaba" is a command to feel fear accompanied by a threat. The commonality among these three words is that they all represent forms of obedience to Allah SWT. The fundamental difference between the terms "khauf," "wajal," and "rahaba" lies in the subjects and objects used in the Qur'an.
Urgensi Dakwah Menurut Muḥammad ‘Abduh: Analisis Pendekatan Tafsir Maqāṣidī di dalam Tafsir al-Manār Ayyasi, Hilmi Yahya; Ariyadri, Acep
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v4i2.46

Abstract

Seiring berkembangnya zaman, perhatian masyarakat terhadap dakwah nampaknya semakin berkurang. Masyarakat nampaknya lebih memetingkan isu-isu sosial lainnya dibandingkan dakwah di tengah berbagai macam propaganda yang ditemukan pada zaman modern ini. Masyarakat cenderung menyerahkan tugas dakwah kepada para pemuka agama dan berlepas tangan terhadap isu tersebut. Padahal, peran dakwah sangatlah penting dan membutuhkan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat agar tercipta sinergi dalam menjalankan syariat Allah secara kokoh. Penelitian ini mengupas urgensi dakwah berdasarkan perspektif mufasir modern yang terkenal akan pemikiran pembaharunya di dunia intelektual Islam, yakni Muḥammad ‘Abduh. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode literatur dengan menganalisis sumber pustaka sebelumnya dan menganalisis penerapan paradigma tafsir maqāṣidī di dalam Tafsīr al-Manār, khusunya dalam mengkaji ayat mengenai urgensi dakwah. Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya dakwah sangatlah penting dalam rangka menjaga kesatuan umat dan terhindar dari laknat Allah. Terlihat pula bahwasannya penafsiran Muḥammad ‘Abduh mengenai ayat tentang urgensi dakwah Muḥammad ‘Abduh mengenai ayat tentang urgensi dakwah mengandung aspek-aspek penting tafsir maqāṣidī seperti aspek kognisi tafsir, holistik, keterbukaan, relasi antar hierarki, multidimensi, dan tujuan syariah. Abstract As time progresses, societal attention towards preaching (da’wa) appears to be diminishing. The public seems more preoccupied with other social issues than with preaching, amidst the various propagandas prevalent in this modern era. People tend to delegate the task of preaching to religious leaders, distancing themselves from the issue. However, the role of preaching is crucial and requires collaboration from all elements of society to create synergy in upholding the Sharia of Allah firmly. This research delves into the urgency of preaching based on the perspective of a renowned modern exegete and intellectual reformer in the Islamic intellectual world, Muḥammad ‘Abduh. The study utilizes a literature method, analyzing previous literature sources and applying the maqāṣidī exegesis paradigm in Tafsīr al-Manār, specifically in examining verses related to the urgency of preaching. The findings emphasize the significant role of preaching in maintaining unity among the community and avoiding the curse of Allah. Furthermore, Muḥammad ‘Abduh's interpretation of verses on the urgency of preaching reflects crucial aspects of maqāṣidī exegesis, such as cognitive, holistic, openness, hierarchical relations, multidimensional, and Sharia objectives.