cover
Contact Name
M Dian Hikmawan
Contact Email
m.dian.hikmawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dian.hikmawan@untirta.ac.id
Editorial Address
Jl raya Pandeglang-Rangkas KM 2 Cilendu, Pandeglang-Banten
Location
Kab. pandeglang,
Banten
INDONESIA
Journal of Citizenship
Published by HK-Publishing
ISSN : -     EISSN : 28296028     DOI : https://doi.org/10.37950/joc
Core Subject : Social,
Journal of Citizenship (JOC) is an open-access journal and peer-reviewed journal. JOC try to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various contemporary social and Political issues in Asia: Democratization, citizenship, Comparative politics, environmental issues, digital society and disruption, community welfare, social development, public policy innovation, international politics & security, media, information & literacy, governance, human rights & democracy. (JOC) Invites researcher, academician, practitioners, and public to submit their critical writings and to contribute to the development of social and political sciences.
Articles 108 Documents
Intrapersonal Communication as the Foundation of Public Speaking for Gen-Z Employees: A Case Study at New Cammary Cafe Khoir, Yuan; Zulkarnain, Farabi Avicena
Journal of Citizenship Volume 4 Issue 2, 2025
Publisher : HK Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v4i2.648

Abstract

This study aims to analyze the role of intrap communication as a foundation in the formation of public speaking skills among Generation Z employees at New Cammary Cafe, Bandung. Generation Z, who grew up in the digital era, has unique communication characteristics, especially in face-to-face interactions that require confidence, emotional management, and spontaneity in speaking. This study uses a qualitative approach with a case study method to explore in depth the subjective experiences of employees in managing intrapersonal communication and its implications for public communication performance. Data were obtained through in-depth interviews with four employees consisting of baristas and waitresses, as well as direct observation of service activities and communication interactions in the work environment. The results show that intrapersonal communication plays an important role in shaping employees' mental and emotional readiness when dealing with customers. The dominant forms of intrapersonal communication include positive self-talk, self-reflection, and social imagination, which serve as mechanisms for managing anxiety and strengthening self-confidence. Healthy intrapersonal communication has been proven to support employees public speaking abilities, particularly in explaining products, responding to customer questions, and handling challenging communication situations. In addition, the existence of informal discussion spaces such as SAMARA activities helps strengthen public speaking skills while enriching the personal reflection process of employees. This study concludes that the development of public speaking skills cannot be separated from the strengthening of intrapersonal communication. Therefore, communication training in the informal service sector needs to adopt a holistic approach that focuses not only on speaking techniques but also on self-awareness, emotion management, and personal reflection, especially for Generation Z employees. Keywords: intrapersonal communication, public speaking, Generation Z, cafes, case study
Analisis Kepemimpinan Kepala Desa dalam Pelaksanaan Program Penanggulangan Kemiskinan di Desa Malingping Utara Ombi Romli; Maulfianti, Afdi; Said Ariyan; Siti Humaeroh; Siti Nurbani
Journal of Citizenship Volume 4 Issue 2, 2025
Publisher : HK Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v4i2.652

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepemimpinan Kepala Desa dalam pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan di Desa Malingping Utara, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak. Kepala desa memiliki peran strategis dalam menentukan arah kebijakan pembangunan desa, termasuk upaya penanggulangan kemiskinan yang menjadi isu sentral dalam pembangunan lokal. Penelitian ini menggunakan teori kepemimpinan dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Informan penelitian meliputi Kepala Desa, perangkat desa, ketua RT/RW, serta masyarakat penerima manfaat program. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan secara induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan Kepala Desa cenderung partisipatif dan komunikatif, yang berdampak positif terhadap efektivitas program penanggulangan kemiskinan. Namun demikian, ditemukan beberapa kendala seperti validasi data penerima manfaat dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam tahap evaluasi program. Secara keseluruhan, kepemimpinan yang adaptif dan terbuka terbukti mendukung tercapainya tujuan program secara lebih efektif.
Sejarah Sosial Adat dan Budaya Lokal Masyarakat Desa Cikate: Sebuah Studi Kualitatif Deri, Deri alamsyah
Journal of Citizenship Volume 4 Issue 2, 2025
Publisher : HK Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v4i1.654

Abstract

Abstract : This study aims to analyze the sustainability of customary tradition systems and the mechanisms of socio-religious harmonization in Cikate Village, Malingping District, Lebak Regency, Banten. Using a qualitative approach with participatory ethnography methods, this research deeply explores ritual practices such as Seren Tahun, earth alms (sedekah bumi), and pilgrimage, while reconstructing local historical narratives that form the basis of customary legitimacy. Talcott Parsons' Structural Functionalism theory and Emile Durkheim's Social Cohesion concept are employed as analytical frameworks to understand how social subsystems (customs, religion, and social structure) interact functionally to maintain societal equilibrium. The findings indicate that customary traditions in Cikate Village not only survive as cultural heritage but function actively as social integration mechanisms producing strong mechanical solidarity amid modernization. The kesepuhan system serves as a latent institution (Latency) that maintains collective value patterns and norms, while deliberative consensus practices create social cohesion through shared emotional experiences. Key findings demonstrate that the customary-religious relationship in Cikate Village confirms a pattern of harmonious syncretism not assimilation that erases identity, but accommodation that maintains functional differentiation between elements. System integration is strengthened by emotional bonds (we-feeling), shared moral commitments, and functional interdependence between customary elders, religious figures, and the community. This research confirms that local cultural sustainability requires institutions capable of performing adaptation functions to external changes without losing core identity. The theoretical implications enrich understanding of customary system survivability in universal religion contexts, while practical contributions provide a model for community-based cultural preservation policy development. Keywords: customary traditions, kesepuhan, social cohesion, structural func
Dinamika Kolaborasi antara Pelaku UMKM Ekonomi Kreatif, Pemerintah, dan Komunitas di Kota Solo Adam, Adam Sudaryanto; Sylvana, Andi
Journal of Citizenship Volume 4 Issue 2, 2025
Publisher : HK Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v4i1.656

Abstract

Ekonomi kreatif di Kota Surakarta berkembang sebagai sektor strategis yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui peran aktif UMKM berbasis budaya, kuliner, fesyen, dan kerajinan. Perkembangan ini menghadapi berbagai persoalan seperti keterbatasan modal, rendahnya kapasitas manajerial, serta akses pasar yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika kolaborasi antara pelaku UMKM ekonomi kreatif, pemerintah, dan komunitas lokal sebagai upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif daerah. Analisis didasarkan pada kerangka teori Penta Helix yang menekankan kolaborasi lima unsur utama: pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan media. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara mendalam kepada informan kunci dari masing-masing unsur tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi antarpemangku kepentingan telah berjalan, namun belum mencapai efektivitas yang ideal akibat ketimpangan kapasitas, koordinasi yang lemah, serta perbedaan orientasi program. Kolaborasi tetap membuka peluang besar melalui penguatan jejaring kerja, inovasi kreatif, dan dukungan kebijakan yang lebih responsif. Dinamika ini memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas interaksi antaraktor menjadi syarat utama bagi pengembangan ekonomi kreatif Surakarta yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Optimalisasi Pengawasan Partisipatif Pemilih Melalui Inovasi Teknologi Pendidikan Politik Dengan Model Digital Civic Pedagogy Aspariah, Siti; Hermawan, Agus Aan
Journal of Citizenship Volume 4 Issue 2, 2025
Publisher : HK Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v4i1.659

Abstract

Pilkada 2024 menuntut optimalisasi peran pemilih tidak hanya sebagai peserta elektoral, tetapi juga sebagai aktor aktif dalam pengawasan proses demokrasi di tingkat lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis optimalisasi pengawasan partisipatif pemilih melalui inovasi teknologi pendidikan politik dengan menggunakan model Digital Civic Pedagogy. Model ini memposisikan teknologi digital sebagai medium pedagogis untuk membangun literasi politik, kesadaran kewargaan, dan kapasitas partisipatif pemilih dalam pengawasan pemilihan kepala daerah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus terhadap inovasi pengawasan yang dikembangkan oleh Bawaslu Kota Serang pada Pilkada 2024, meliputi pemanfaatan teknologi informasi, edukasi dan sosialisasi interaktif, pelibatan masyarakat dalam pengawasan partisipatif, serta pengembangan platform keterbukaan data Pilkada. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan observasi terhadap praktik pengawasan partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi teknologi pendidikan politik berbasis model Digital Civic Pedagogy mampu mengoptimalkan pemahaman pemilih terhadap tahapan Pilkada dan mekanisme pengawasan, serta meningkatkan keterlibatan aktif pemilih dalam pemantauan dan pelaporan dugaan pelanggaran. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi pendidikan kewargaan digital dan pengawasan partisipatif sebagai strategi penguatan demokrasi lokal yang berkelanjutan.
Peran Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Serang dalam Penataan Tata Ruang dan Wajah Kota Kawasan Royal Baroe dan Pasar Lama Putra, Raden Rakha Manggala; Sanusi, Haromin; Kusnadi, Tedi; Amiruddin, Suwaib
Journal of Citizenship Volume 4 Issue 2, 2025
Publisher : HK Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v4i1.671

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota Serang dalam penataan tata ruang dan pembentukan wajah kota di kawasan Royal Baroe–Pasar Lama–China Town. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus melalui wawancara mendalam dengan perangkat daerah kunci (Bappeda, PUPR, Dishub, Satpol PP, DLH, Perdagangan/Pariwisata), observasi lapangan pada koridor komersial, serta telaah dokumen kebijakan (RTRW/RDTR, SOP penertiban, dan rencana penataan kawasan). Temuan menunjukkan peran ASN terartikulasikan sebagai regulator, koordinator lintas-OPD, implementor lapangan, dan mediator konflik ruang antara pedagang, pengguna jalan, dan pemilik usaha. Kinerja penataan dipengaruhi oleh kejelasan arahan zonasi, konsistensi penegakan, kapasitas anggaran, serta mekanisme kolaborasi dengan komunitas lokal. Diskresi petugas lapangan sering menjadi strategi adaptif namun berisiko menurunkan kepastian aturan. Penelitian merekomendasikan penguatan forum kolaboratif, indikator kinerja berbasis kualitas ruang publik, dan integrasi program penataan PKL–parkir–heritage untuk meningkatkan keberlanjutan revitalisasi kawasan. Implikasinya, penataan perlu menempatkan pejalan kaki, aksesibilitas, dan identitas sejarah sebagai prioritas desain layanan publik utama.
Antara Keadilan Ekonomi dan Tata Kelola Sumberdaya Alam: Dilema Tatakelola Pertambangan Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Bogor Jonah Silas; Wawan wawan; Teguh Aris Munandar
Journal of Citizenship Volume 5 Issue 1, 2026
Publisher : HK Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v5i1.631

Abstract

Penelitian ini berangkat dari persoalan empirik maraknya praktik pertambangan emas ilegal yang berlangsung di tengah lemahnya tata kelola sumber daya alam, khususnya pada wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi dan keterbatasan akses ekonomi masyarakat. Praktik tersebut menghadirkan dilema serius antara upaya penyelamatan lingkungan dan kebutuhan masyarakat lokal untuk mempertahankan sumber penghidupan. Kerusakan ekologi, risiko bencana, serta ancaman kesehatan berjalan beriringan dengan terbukanya peluang ekonomi yang dianggap paling rasional bagi kelompok masyarakat termarjinalkan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kegagalan dan tantangan tata kelola pertambangan rakyat, serta merumuskan alternatif tata kelola yang berkeadilan secara ekonomi dan berkelanjutan secara ekologis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui observasi langsung di lokasi penelitian serta observasi berbasis media dan dokumen kebijakan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa praktik pertambangan ilegal tidak semata disebabkan oleh lemahnya kontrol negara, melainkan oleh kegagalan negara dalam menghadirkan tata kelola pertambangan yang adil, partisipatif, dan adaptif terhadap realitas sosial ekonomi masyarakat. Pembahasan juga menegaskan adanya dilema struktural antara perlindungan lingkungan dan keadilan ekonomi, yang diperparah oleh rezim perizinan yang sentralistik dan eksklusif. Penelitian ini menawarkan model tata kelola pertambangan berbasis kearifan lokal melalui penguatan peran institusi adat, dengan negara berfungsi sebagai pemberi legitimasi hukum, sebagai alternatif solusi yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Implementasi Program Desa Tangguh Bencana (Destana) dalam Upaya Mitigasi Bencana di Desa Cigondang Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang Tahun 2023–2024 Aditya Noor Azmi; Suwaib Amiruddin; Ima Maisaroh
Journal of Citizenship Volume 5 Issue 1, 2026
Publisher : HK Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v5i1.637

Abstract

Program Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (DESTANA) merupakan salah satu upaya mitigasi bencana yang dikembangkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui kebijakan Pengurangan Risiko Bencana berbasis masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi Program Desa Tangguh Bencana dalam mitigasi bencana di Desa Cigondang, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang pada tahun 2023–2024. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teori implementasi kebijakan George C. Edward III digunakan sebagai kerangka analisis, yang meliputi empat dimensi: komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Program Destana di Desa Cigondang belum berjalan optimal. Pada dimensi komunikasi, program penyampaian informasi belum merata kepada masyarakat. Pada dimensi sumber daya, keterbatasan sarana dan prasarana, serta dukungan informasi yang dapat menghambat terlaksananya kegiatan mitigasi. Pada dimensi disposisi, keaktifan pelaksana masih bersifat reaktif dan kegiatan mitigasi belum dilakukan secara konsisten. Sementara itu, pada dimensi struktur birokrasi belum terdapat Standar Operasional Prosedur yang jelas di tingkat kabupaten maupun desa. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan kebijakan lintas tingkat agar program implementasi dapat berjalan lebih efektif, terarah, dan berkelanjutan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Implementasi E-Government Pada Sektor Pelayanan Publik di Kota Tomohon al putri abral; Susvia Delta Kusdiane
Journal of Citizenship Volume 5 Issue 1, 2026
Publisher : HK Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v5i1.649

Abstract

Teknologi telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Jika kemajuan teknologi ini dimanfaatkan dengan baik di bidang pelayanan publik, dampaknya bisa sangat signifikan. Salah satu manfaatnya adalah pengguna pelayanan publik tidak perlu lagi berinteraksi tatap muka dengan petugas pelayanan, yang juga mengurangi biaya yang terkait dengan kegiatan tersebut. Pemerintah Kota Tomohon memiliki dua situs web resmi; namun, hanya satu yang diperbarui secara teratur. Studi ini mengidentifikasi beberapa faktor yang memengaruhi implementasi e-government, yaitu peran hukum, agen perubahan, sumber daya manusia, dan infrastruktur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kualitas pelayanan informasi publik merupakan faktor kunci dalam mendorong partisipasi masyarakat. Informasi yang lebih transparan dan mudah diakses memungkinkan masyarakat untuk lebih siap dan bersedia berpartisipasi dalam mendukung dan mewujudkan kebijakan pelayanan publik.
Paradoks Opini Audit dan Akuntabilitas Substantif dalam Tata Kelola Keuangan Pemerintah Daerah: Analisis Kota Bandung Tahun 2022–2024 Berbasis Comprehensive Accountability Framework Muhammad Abdillah Faqih Mardiansyah; Erwin Irawan; Kalvin Yulnex; Tita Nurjanah
Journal of Citizenship Volume 5 Issue 1, 2026
Publisher : HK Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v5i1.651

Abstract

This study examines the gap between formal and substantive accountability in the financial management of the Bandung City Government during 2022–2024. Using a Comprehensive Accountability Framework (CAF), the study analyzes how improved audit opinions may coexist with persistent risks of irregularities. Data were collected through document analysis of audit reports issued by the Supreme Audit Agency, local government financial statements, inspectorate reports, and relevant regulations. The findings show that improved audit opinions reflect strengthened administrative accountability but have not been accompanied by enhanced substantive accountability, particularly in public procurement and asset management. This study concludes that favorable audit opinions do not necessarily indicate the actual quality of financial governance, reinforcing the audit opinion paradox in local government.

Page 7 of 11 | Total Record : 108