cover
Contact Name
Noor Hasanah
Contact Email
jurnaltashwir@uinantasari.ac.id
Phone
+6282350565148
Journal Mail Official
jurnaltashwir@uinantasari.ac.id
Editorial Address
Jalan Jenderal Ahmad Yani KM. 4,5 Kel. Kebun Bunga Kec. Banjarmasin Timur Kota Banjarmasin 70235
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Tashwir: Jurnal Penelitian Agama dan Budaya
ISSN : 23389702     EISSN : 30321166     DOI : https://doi.org/10.18592/jt
The focus of this journal is on important and actual issues regarding Islam, social and culture, such as; Religious Values, and Local Wisdom Issues, Islam Integration, History of Islam and Turats. o Contemporary Islamic Religious Social Phenomena o Islamic Spirituality o Religious Values o Local Wisdom Issues o Islam Integration o History of Islam dan Turats.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 138 Documents
MENELUSURI NILAI-NILAI ISLAM DALAM ADAT PALANGKAHAN Ahmad Dzikry Ramadhan; Muhammad Ardian Maulana Azmi; Adisti Anisa; Suwaibatul Aslamiah; Muaimin Nazar; Noor Efendy
TASHWIR Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v13i01.14049

Abstract

Abstract: In the wedding practices of the Banjar community, there is a tradition called palangkahan. Palangkahan is a customary tradition practiced by the Banjar people when a younger sister marries before her older sister. This tradition involves a form of compensation or gift, usually in the form of money, as a sign of respect from a younger sister to the older one. The moral values within the palangkahan tradition include honoring women within the family, respecting older siblings, and the practice of exchanging gifts. This study aims to analyze the moral values in the palangkahan tradition and their alignment with Islamic teachings. Islam emphasizes the importance of maintaining family ties, mutual respect, and giving gifts and assistance to relatives. Therefore, although palangkahan is part of local customs, the values it contains are in harmony with Islamic teachings. Based on this analysis, the palangkahan tradition is acceptable in Islam as long as it does not conflict with the principles of Sharia. Keywords: Palangkahan, Banjar Custom, Moral Values Abstrak: Dalam pelaksanaan pernikahan pada masyarakat Banjar ada yang dinamakan dengan palangkahan. Palangkahan merupakan tradisi adat yang dilakukan oleh masyarakat Banjar ketika seorang adik perempuan menikah lebih dahulu dibandingkan kakak perempuannya. Tradisi ini melibatkan tebusan atau pemberian yang biasanya berupa uang, sebagai bentuk penghormatan dari adik kepada kakaknya. Nilai moral dalam adat palangkahan meliputi penghormatan terhadap perempuan dalam keluarga, menghargai saudara yang lebih tua, dan praktik saling memberi hadiah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai moral dalam adat palangkahan  dan kesesuaiannya dengan ajaran Islam. Islam menekankan pentingnya menjaga silaturahmi, saling menghormati, memberi hadiah dan bantuan kepada kerabat. Oleh karena itu, meskipun palangkahan adalah bagian dari adat istiadat lokal, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya selaras dengan ajaran Islam. Berdasarkan analisis tersebut, adat palangkahan dapat diterima dalam Islam selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. Kata Kunci: Palangkahan, Adat Banjar, Nilai Moral.
“BAPUKUNG” IDENTITAS BUDAYA LOKAL SUKU BANJAR DI TEMBILAHAN Riko Andrian
TASHWIR Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v12i02.14708

Abstract

Abstract: The bapukung tradition is a cultural heritage of the Banjar people that has existed since ancestral times. This tradition is practiced when a child is fussy, tired, or experiencing stomach pain and crying continuously. The bapukung method involves placing the child in a swing in a seated position, with the neck supported using a tapih (a traditional lower cloth), allowing the baby to sleep soundly for up to 12 hours. Bapukung is typically performed on babies aged 2 to 9 months. To help the baby fall asleep, lullabies containing prayers and parental hopes are often sung. This study employs a qualitative approach using ethnographic methods, viewing culture not merely as a product but as a continuously evolving process. Data collection was conducted through interviews and direct observations of the Tembilahan community who practice the bapukung tradition. The findings of this research indicate that, despite modernization and technological advancements influencing baby-carrying practices, the fundamental principles of the bapukung tradition are still upheld by the Banjar community in Tembilahan. This tradition remains an integral part of daily life and serves as an effort to preserve local cultural heritage. Keywords: Bapukung, Banjar Tribe Abstrak: Tradisi bapukung merupakan warisan budaya dari suku Banjar yang telah ada sejak zaman nenek moyang. Tradisi ini dilakukan ketika anak sedang rewel, lelah, atau mengalami sakit perut serta menangis terus-menerus. Cara bapukung dilakukan dengan memasukkan anak ke dalam ayunan dalam posisi duduk, dengan bagian lehernya disangga menggunakan tapih (kain bawahan), sehingga bayi dapat tidur nyenyak selama sekitar 12 jam. Bapukung umumnya dilakukan pada bayi berusia 2 hingga 9 bulan. Untuk membantu bayi tidur, biasanya ada nyanyian pengantar tidur yang mengandung doa dan harapan orang tua untuk anaknya.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi etnografi yang melihat budaya tidak hanya sebagai hasil atau produk, tetapi sebagai suatu proses yang terus berkembang. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara dan observasi langsung kepada masyarakat Tembilahan yang melakukan tradisi bapukung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun modernisasi dan pengaruh teknologi membawa perubahan dalam cara mengayun bayi, prinsip dasar dari tradisi bapukung tetap dijaga oleh masyarakat Banjar di Tembilahan. Tradisi ini masih hidup dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari upaya menjaga keutuhan budaya lokal. Kata Kunci: Bapukung, Suku Banjar
INTEGRASINILAI-NILAI PENDIDIKANaL QURAN DAN BUDAYA DALAM TRADISI MAULID FATIMAH DI KAMPUNG CIKAMPEK KOTA SERANG Nanda Agustina; Putri Mamduhah Handayani; Ina Salma Febriani
TASHWIR Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v13i01.14970

Abstract

Abstact:   Every year, precisely in the month of Rabiul Awwal, Muslims around the world usually commemorate the birth or birthday of the Prophet Muhammad SAW with great joy. However, the people of Banten not only perform the ritual of the birthday of the Prophet Muhammad SAW, but also the "Maulid Fatimah." The people of Banten usually carry out Fatimah's birthday in the month of Rabiul Akhir. Apart from that, for the people of Banten, religious customs have a strong binding force, so abandoning tradition means threatening the continued existence of the community. This research on Fatimah's birthday was carried out as part of the Commemoration of Islamic Holidays (PHBI) which was considered necessary because the people of Banten consider religious values ​​as the main values ​​that are binding and influence other values. Apart from that, for the people of Banten, religious customs have a strong binding force, so abandoning tradition means threatening the continued existence of the community. The aim of this research is not to draw generalizations on the conclusions produced but only to explore in depth the tradition of Fatimah's birthday in Cikampak Village, Serang City. Keyword: Al-Qur’an Education, Tradition, Birthday Of Fatimah                                                                                                                              Abstrak: Setiap tahun tepatnya di bulan Rabiul Awwal umat Islam di seluruh dunia biasanya memperingati hari kelahiran atau maulid Nabi Muhammad SAW dengan penuh suka cita. Akan tetapi di masyarakat Banten tidak hanya melakukan ritual Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga “Maulid Fatimah.” Pelaksanaan Maulid Fatimah biasanya dilaksanakan oleh masyarakat Banten pada bulan Rabiul Akhir. Selain itu bagi masyarakat Banten adat istiadat keagamaan memiliki daya pengikat yang kuat, sehingga meninggalkan tradisi berarti mengancam kelanggengan eksistensi masyarakatnya. Penelitian tentang Maulid Fatimah ini dilakukan sebagai bagian dari Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) dianggap perlu karena masyarakat Banten menjadikan nilai agama sebagai nilai utama yang bersifat mengikat dan mempengaruhi nilai-nilai yang lain. Selain itu bagi masyarakat Banten adat istiadat keagamaan memiliki daya pengikat yang kuat, sehingga meninggalkan tradisi berarti mengancam kelanggengan eksistensi masyarakatnya. Tujuan dari penelitian ini tidak bermaksud menarik generalisasi atas kesimpulan yang dihasilkan tetapi hanya bermaksud menelusurinya secara mendalam mengenai tradisi maulid Fatimah yang ada di Kampung Cikampak, Kota Serang. Kata Kunci: Pendidikan Al-Qur’an, Tradisi, Maulid Fatimah  
MASYARAKAT BANTARAN SUNGAI MARTAPURA DALAM MENJAGA LINGKUNGAN PERSFEKTIF SUNNAH Ratna Yulinda; Ahmad Riduan; Muhammad Fuad Sya’ban
TASHWIR Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v12i02.15143

Abstract

Abstract: Public Martapura Riverbanks are people who live in the area located between the edge of the riverbed and the foot of the inner embankment, which is on the left and/or right side of the Martapura Riverbed. People still use the river for bathing, washing, cooking and fetching water. However, rivers are also used for urination, even as a place to defecate and dispose of rubbish. In the view of environmental ethics according to Islam, Muslims are reminded of the threats posed by natural destruction, therefore researchers examine community behavior from the perspective of the Sunnah. Researchers used a descriptive qualitative approach, through: interviews, observations and documentation studies. The people on the banks of the Martapura River still do not pay attention to maintaining the environment from a Sunnah perspective, because they still do not pay attention to cleanliness, especially disposing of domestic waste and rubbish along the Martapura River, and pay little attention to the quality of river water even though the river is the source of life for the community in their daily activities. Keywords: Public Martapura Riverbanks, Environment, Sunnah Abstrak: Masyarakat bantaran Sungai Martapura adalah masyarakat yang hidup di area yang terletak di antara tepi palung sungai dan kaki tanggul bagian dalam, yang berada di sisi kiri dan/atau kanan palung Sungai Martapura. Masyarakat masih memanfaatkan sungai untuk mandi, mencuci, memasak, dan mengambil air. Namun, sungai juga digunakan untuk membuang air kecil, bahkan sebagai tempat buang air besar (BAB) dan membuang sampah. Dalam pandangan etika lingkungan menurut Islam, umat Muslim diingatkan akan ancaman yang ditimbulkan oleh kerusakan alam, oleh sebab itu peneliti mengkaji perilaku masyarakat dalam persfektif Sunnah. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, melalui: wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Masyarakat bantaran Sungai Martapura masih belum memperhatikan dalam hal menjaga lingkungan persfektif sunnah, karena masih belum memperhatikan kebersihan khususnya membuang limbah domestik dan sampah di sepanjang Sungai Martapura, dan kurang memperdulikan kualiatas air sungai padahal sungai merupakan sumber kehidupan masyarakat dalam beraktifitas sehari-hari. Kata Kunci: Masyarakat Bantaran Sungai, Lingkungan, Sunnah
KULTUR MASYARAKAT BANJAR DALAM MERESPON SAKIT: BANJAR CULTURE IN RESPONSE TO ILLNESS Helsa Nadia
TASHWIR Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v12i02.15194

Abstract

Dalam menangani penyakit, masyarakat Banjar menggabungkan nilai-nilai tradisi, agama, dan modernitas. Studi ini menyelidiki perilaku kesehatan masyarakat Banjar, terutama dalam hal pencegahan, pengobatan, dan mempertahankan keseimbangan dalam aktivitas sehari-hari. Metode deskriptif-kualitatif digunakan untuk menggambarkan praktik pengobatan tradisional yang masih digunakan, seperti penggunaan tanaman obat dan ritual spiritual. Selain itu, doa-doa dan tokoh agama yang terlibat dalam proses penyembuhan menunjukkan kekuatan agama Islam. Sebaliknya, orang Banjar menggunakan layanan medis modern untuk mengobati penyakit yang lebih parah. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi pengobatan tradisional dan modern menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap perubahan zaman sambil mempertahankan identitas budaya mereka. Ada kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan fisik dan spiritual untuk kesehatan. Penelitian ini menyoroti pentingnya kolaborasi antara tradisi dan inovasi medis untuk menciptakan layanan kesehatan yang holistik dan sesuai dengan nilai-nilai budaya.
GAYA KOMUNIKASI DAKWAH GURU TUNGKAL Muhammad Rifqi; Mir'atun Hasanah
TASHWIR Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v12i02.15225

Abstract

Penelitian ini melihat gaya komunikasi dakwah Guru Tungkal, atau KH Fakhruddin Nur, seorang penceramah dari Jambi, di era modern. Penelitian ini menyelidiki konten ceramah yang ditemukan di saluran YouTube Abang Santribanjar dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Untuk menyampaikan pesan keagamaan secara efektif, Guru Tungkal menggunakan kombinasi komunikasi verbal dan non-verbal. Komunikasi verbalnya menggunakan bahasa Banjar yang diselingi humor, yang membuat pesan lebih mudah dipahami dan diterima oleh penonton lokal. Sementara itu, elemen non-verbal seperti ekspresi wajah, gerakan tangan, dan intonasi suara meningkatkan penyampaian pesan dan menciptakan suasana ceramah yang interaktif dan menarik. Akhlak, tauhid, dan ibadah adalah tema dakwah yang paling umum, dengan penekanan pada nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, dan rasa syukur. Selain itu, Guru Tungkal dan media digital sebagai platform penting untuk memperluas audiensnya dan menjangkau lebih banyak generasi. Penelitian ini menekankan peran penting yang dimainkan oleh media digital dalam mendukung dakwah yang inklusif dan relevan di era modern. Hasilnya memungkinkan mubaligh dan praktisi dakwah untuk membuat strategi komunikasi yang lebih kontekstual dan efektif.
RAJAH DALAM TRADISI MASYARAKAT ACEH Rizka utami; Nisa Auliana
TASHWIR Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v12i02.15491

Abstract

Abstract: Some people in Aceh believe that there are individuals who possess the ability to call upon guardian spirits or khadam that protect them. This is known as "rajah," which is understood as a mantra and prayer, or symbols such as tattoos in certain tribes. This article employs a qualitative approach with ethnographic methods and a sociological perspective. The research findings indicate that Rajah is a form of traditional healing that combines spiritual and symbolic elements, usually performed by individuals considered to have special skills, such as shamans or spiritual experts. In the context of magical healing, rajah is used to counter or neutralize negative energy that may be sent through supernatural means, such as black magic, curses, witchcraft, or peunyaket donya, a term unique to Aceh referring to diseases caused by the malevolent intentions of others. This process typically involves the writing of specific symbols, recitations of prayers, or mantras that are believed to possess the power to protect or heal. The practice aims not only to address physical issues but also to restore the spiritual balance of a person believed to be disturbed by negative energy. In Acehnese culture, peunyaket donya reflects the belief in the influence of magic in daily life, a belief still held by some members of the community. Keywords: Aceh community, Rajah Abstrak:Sebagian masyarakat Aceh percaya bahwa ada individu yang memiliki kemampuan untuk memanggil roh penjaga atau khadam yang melindungi dirinya. Hal tersebut dikenal dengan ungkapan rajah yang dimaknai sebagai mantra dan do’a atau simbol-simbol seperti tato pada suku tertentu. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dan pendekatan sosiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rajah merupakan salah satu bentuk pengobatan tradisional yang memadukan elemen spiritual dan simbolik, biasanya dilakukan oleh individu yang dianggap memiliki keahlian khusus, seperti dukun atau ahli spiritual. Dalam konteks pengobatan magis, rajah digunakan untuk melawan atau menetralkan energi negatif yang bisa dikirimkan melalui cara-cara gaib, seperti teluh, guna-guna, santet, atau peunyaket donya, yang merupakan istilah khas Aceh untuk penyakit yang disebabkan oleh niat jahat orang lain. Proses ini biasanya melibatkan penulisan simbol tertentu, bacaan doa, atau mantra yang diyakini memiliki kekuatan untuk melindungi atau menyembuhkan. Tujuan praktik ini tidak hanya untuk mengatasi masalah fisik, tetapi juga untuk memulihkan keseimbangan spiritual seseorang yang diyakini terganggu oleh energi negatif. Dalam budaya Aceh, peunyaket donya mencerminkan keyakinan terhadap pengaruh magis dalam kehidupan sehari-hari, yang masih diyakini oleh sebagian masyarakat. Kata Kunci: Masyarakat Aceh, Rajah
EKSPLORASI MULTIKULTURAL: SINTESIS PARIBASA SUNDA DAN FALSAFAH ABADI TORAJA SEBAGAI NILAI HIDUP DI ERA DISRUPSI DIGITAL Muhammad Ilham Ramadhan; Sugandi Miharja; Rofiqa Zulfa Salsabila; Bayani Dahlan
TASHWIR Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v13i01.16420

Abstract

Abstract: Highlighting the need for integration of local wisdom into education and community development in the digital era, in order to build resilience amidst rapid change. By adopting a multicultural approach, communities are expected to be able to face digital disruption without losing their identity and traditional values ​​that have been inherited. This study explores the synthesis between Sundanese paribasa and Toraja's eternal philosophy as an effort to principle life values ​​in understanding and maintaining local wisdom values ​​in the era of digital disruption. With the rapid development of information technology, many traditional values ​​are threatened, so an approach is needed that can harmonize cultural heritage with the demands of the times. The research method used is descriptive qualitative. The data collection methods used are interviews, observations, and literature studies on Sundanese paribasa and Toraja philosophy and their relevance in the context of modern life. The results of the study show that both Sundanese paribasa and Toraja philosophy emphasize the importance of love for nature, social solidarity, and balance in life, which are very relevant in facing the challenges of globalization and digital disruption. The synthesis of these two cultures can be used as a basis for building ethical and responsible characters in using technology, as well as strengthening community identity. This research is expected to be a reference for the development of education and policies that support the preservation of local wisdom amidst the rapid flow of change. Keywords:. Multicultural, Synthesis, Sundanese paribasa, Toraja eternal philosophy, era of digital disruption   Abstrak:Menyoroti perlunya integrasi kearifan lokal ke dalam pendidikan dan pengembangan komunitas dalam era digital, agar dapat membangun resilien di tengah perubahan yang cepat. Dengan mengadopsi pendekatan multikultural, masyarakat diharapkan dapat menghadapi disrupsi digital tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai tradisional yang telah terwariskan.Penelitian ini mengeksplorasi sintesis antara paribasa Sunda dan falsafah abadi Toraja sebagai upaya untuk prinsip nilai hidup dalam memahami dan mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di era disrupsi digital. Dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, banyak nilai-nilai tradisional yang terancam keberadaannya, sehingga diperlukan pendekatan yang dapat mengharmonisasikan warisan budaya dengan tuntutan zaman. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan studi pustaka mengenai paribasa Sunda dan falsafah Toraja serta relevansinya dalam konteks kehidupan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik paribasa Sunda maupun falsafah Toraja menekankan pentingnya kecintaan terhadap alam, solidaritas sosial, dan keseimbangan hidup, yang sangat relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi dan disrupsi digital. Sintesis kedua budaya ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk membangun karakter yang etis dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi, serta memperkuat identitas masyarakat. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan pendidikan dan kebijakan yang mendukung pelestarian kearifan lokal di tengah arus perubahan yang cepat Kata Kunci : Multikultural, Sintesis, Paribasa sunda, Falsafah abadi toraja,disrupsi digital