cover
Contact Name
Putri Widelia Welkriana
Contact Email
tlmjflms@gmail.com
Phone
+6281379618818
Journal Mail Official
tlmjflms@gmail.com
Editorial Address
Jalan Indra Giri No. 3 Padang Harapan, Kota Bengkulu-Indonesia
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Journal Fatmawati Laboratory & Medical Science
ISSN : -     EISSN : 28088492     DOI : https://doi.org/10.33088/flms.3.2.82-89
Core Subject : Health, Science,
Jurnal FLMS merupakan jurnal yang memuat naskah hasil penelitian kesehatan dan biomedis khususnya bidang Teknologi Laboratorium Medis yang diterbitkan secara berkala 2 kali setahun. Jurnal ini disusun dengan maksud sebagai wadah publikasi ilmiah sehingga dapat menjadi sumber referensi dan inspirasi penelitian dibidang Biomedis dan Kesehatan.
Articles 62 Documents
Prevalensi Pedikulosis Kapitis pada Santriwati Pondok Pesantren: Tinjauan Literatur dan Analisis Faktor Risiko Bedah, Sumiati
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 5 No 2 (2025): Hematologi Klinik
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v5i2.1202

Abstract

Pendahuluan : Pedikulosis kapitis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama pada kelompok remaja perempuan yang tinggal di lingkungan berasrama seperti pondok pesantren. Infestasi oleh Pediculus humanus capitis menyebabkan gangguan fisik, psikologis, dan sosial, serta sering diperburuk oleh kepadatan hunian, personal hygiene yang kurang optimal, dan kebiasaan berbagi barang pribadi. Penelitian ini dilakukan untuk menyajikan gambaran komprehensif mengenai prevalensi dan faktor risiko pedikulosis kapitis pada santriwati pondok pesantren melalui tinjauan literatur terbaru. Metode: Studi ini merupakan tinjauan literatur dengan pendekatan naratif berdasarkan prinsip PRISMA. Pencarian artikel dilakukan pada PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, SpringerLink, dan ProQuest untuk publikasi tahun 2016–2025. Sebanyak 1.258 artikel teridentifikasi pada tahap awal, kemudian disaring berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga diperoleh 27 artikel yang dianalisis. Data yang diekstraksi meliputi desain penelitian, lokasi, jumlah sampel, metode diagnosis, prevalensi, serta faktor risiko yang terkait dengan infestasi pedikulosis kapitis. Hasil: Analisis literatur menunjukkan bahwa prevalensi pedikulosis kapitis pada santriwati pondok pesantren berkisar antara 23% hingga 59%, dengan sebagian besar penelitian menggunakan desain cross-sectional dan metode pemeriksaan visual serta sisir serit. Faktor risiko yang paling konsisten dilaporkan adalah frekuensi keramas ≤2 kali/minggu, rambut panjang, kebiasaan berbagi alat pribadi (sisir, jilbab, handuk, bantal), kepadatan hunian, ventilasi buruk, dan tingkat pengetahuan kebersihan yang rendah. Odds Ratio (OR) dari faktor-faktor tersebut berada pada kategori risiko sedang hingga tinggi, memperkuat hubungan antara perilaku dan lingkungan dengan kejadian pedikulosis. Pembahasan: Temuan menunjukkan bahwa pedikulosis kapitis tidak hanya merupakan infestasi parasit biasa, tetapi juga indikator lingkungan hunian dan praktik kebersihan santri. Interaksi sosial yang erat, karakteristik hunian pesantren yang padat, serta praktik kebersihan rambut yang rendah mendukung transmisi parasit. Edukasi higiene, skrining berkala, penataan hunian, dan kebijakan barang pribadi menjadi intervensi yang disarankan. Kesimpulan: Pedikulosis kapitis merupakan masalah kesehatan yang sangat umum pada santriwati pondok pesantren, dengan prevalensi tinggi dan faktor risiko yang konsisten berkaitan dengan personal hygiene dan kondisi lingkungan. Upaya pengendalian membutuhkan pendekatan komprehensif berbasis komunitas yang meliputi edukasi, pemeriksaan rutin, peningkatan higiene pribadi, serta perbaikan kondisi hunian.
Karakteristik Penderita Penyakit Jantung Koroner Di Rs M.Yunus Bengkulu Fausia , Elda Safa; Adi Irawan, Putra; Asa Dudin, Gani; Farizal, Jon; Sahidan, Sahidan
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 5 No 2 (2025): Hematologi Klinik
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v5i2.1207

Abstract

Tubuh menggunakan trigliserida sebagai penyimpanan kalori dan sumber energi. Risiko aterosklerosis yaitu menumpuknya plak yang menyumbat pembuluh darah akibat tingginya kadar trigliserida. Apabila terjadi penyumbatan di pembuluh darah maka dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular. Mengetahui gambaran kadar trigliserida pada penderita penyakit jantung koroner di RSUD Dr M.Yunus Bengkulu Tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Pada penelitian ini didapatkan hasil kadar trigliserida abnormal (53.3%) dan kadar normal (46.7%). Kategori usia terbanyak pada penderita penyakit jantung koroner yaitu 56 sampai 65 tahun (43.3%), dengan jenis kelamin laki-laki (63.3%). Responden sebagai mantan perokok berjumlah (40.0%) dan tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi sebanyak (66.7%). Kadar trigliserida yang tidak normal ditemukan pada sebagian besar penderita penyakit jantung koroner sebanyak (53.3%), dengan usia 56 hingga 65 tahun (lansia akhir) sebesar (43.3%) yang jenis kelamin laki-laki sebanyak (63.3%), memiliki kebiasaan merokok sebagai mantan perokok (40.0%) serta tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi (66.7%). Penelitian ini diharapkan membuat masyarakat untuk memperhatikan kesehatan.
Gambaran Kadar Serum Glutamic Pyruvat Transminase (Sgpt) Pada Pengguna Kontrasepsi Pil Kb Di Wilayah Kerja Puskesmas Kandang Kota Bengkulu Anjani, Icha Ayu; Widelia, Putri; Laksono, Heru
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 5 No 2 (2025): Hematologi Klinik
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v5i2.1213

Abstract

Latar Belakang: Pil kontrasepsi (pil KB) adalah salah satu metode keluarga berencana hormonal yang mengandung hormon estrogen dan progesteron. Hormon ini dapat memengaruhi fungsi hati jika dikonsumsi dalam jangka panjang, dan salah satu indikator gangguan fungsi hati adalah peningkatan kadar Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT).dan penelitian ini didasarkan pada tingginya penggunaan pil KB sebagai metode kontrasepsi kedua terbanyak di wilayah tersebut, serta adanya potensi efek samping berupa gangguan fungsi hati akibat konsumsi hormon estrogen dan progesteron yang terkandung dalam pil KB. SGPT merupakan enzim hati yang kadarnya meningkat pada kondisi kerusakan sel hati, sehingga dapat dijadikan indikator awal gangguan fungsi hati pada pengguna pil KB. Tujuan: Mengetahui gambaran kadar SGPT pada pengguna kontrasepsi pil KB di wilayah kerja Puskesmas Kandang Kota Bengkulu tahun 2025. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan teknik pengambilan sampel total sampling sebanyak 38 responden pengguna pil KB. Pemeriksaan kadar SGPT dilakukan di Laboratorium Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu menggunakan metode spektrofotometri kinetik IFCC.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (89,47%) memiliki kadar SGPT normal (0–35 U/L), sedangkan sebagian kecil (10,52%) memiliki kadar SGPT yang tinggi.Kesimpulan: Hampir seluruh pengguna pil KB di wilayah kerja Puskesmas Kandang Kota Bengkulu memiliki kadar SGPT dalam batas normal. Hanya sebagian kecil yang mengalami peningkatan, yang dapat dikaitkan dengan faktor usia lanjut dan lama penggunaan pil KB lebih dari 10 tahun.
Identifikasi Bakteri Pada Luka Diabetes Melitus Di Praktek Keperawatan Medikal Bedah Alfacare Center Kota Bengkulu Tahun 2025 Olimvia, Ganesa Della; Laksono, Heru
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 5 No 2 (2025): Hematologi Klinik
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v5i2.1214

Abstract

Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolism kronis yang dapat menyebabkan luka kaki diabetes (ulkus diabetikum). Luka ini memiliki risiko tinggi terjadinya infeksi bakteri yang dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko amputasi. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pengambilan 12 sampel luka diabetes mellitus secara simple ramdom sampling di Praktek Keperawatan Medikal Bedah Alfacare Center Kota Bengkulu Tahun 2025. Pemeriksaan sampel luka dilakukan melalui metode pewarnaan gram untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri gram positif maupun Gram negative. Hasil penelitian menunjukan bahwa 42% luka diabetes teridentifikasi bakteri Gram positif, sedangkan 58% luka tidak ditemukan bakteri. Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (66%) dan memiliki lama menderita diabetes lebih dari 5 tahun (75%). Tingkat keparahan luka diabetes mellitus hampir seluruh 80% memiliki tingkat keparahan luka besar. Penelitian ini menunjukan adanya bakteri Gram positif pada hampir separuh luka diabetes, menunjukkan pentingnya deteksi dini dan perawatan luka yang tepat untuk meminimalkan risiko infeksi dan komplikasi lebih lanjut.
Identifikasi Jamur Aspergillus Sp Pada Usapan Filter Air Conditioner (Ac) Di Masjid Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu Tahun 2025 Hazotti, Saza Tirta; Halimah, Halimah
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 5 No 2 (2025): Hematologi Klinik
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v5i2.1215

Abstract

Aspergillus sp. merupakan jamur lingkungan yang umum ditemukan pada area lembap dan tertutup, termasuk sistem pendingin udara (Air Conditioner/AC), dan berpotensi menurunkan kualitas udara dalam ruangan. Masjid sebagai tempat ibadah dengan intensitas kunjungan tinggi dan penggunaan AC yang rutin berisiko menjadi sumber paparan spora jamur bagi jamaah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan Aspergillus sp. pada hapusan filter AC di masjid Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu tahun 2025. Penelitian menggunakan desain deskriptif observasional dengan sampel sebanyak 20 unit AC masjid yang dipilih dari total 64 masjid. Sampel debu filter AC diambil menggunakan cotton swab steril, kemudian diinokulasikan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan diinkubasi pada suhu ±37°C selama 3–7 hari. Identifikasi jamur dilakukan berdasarkan karakteristik makroskopis dan mikroskopis menggunakan pewarnaan Lactophenol Cotton Blue (LPCB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 14 dari 20 sampel (70%) teridentifikasi positif mengandung Aspergillus sp., sedangkan 6 sampel (30%) tidak menunjukkan pertumbuhan jamur tersebut. Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar filter AC masjid di Kecamatan Ratu Agung terkontaminasi Aspergillus sp., sehingga berpotensi menurunkan kualitas udara dalam ruangan dan menimbulkan risiko kesehatan bagi jamaah. Temuan ini menegaskan pentingnya perawatan dan pembersihan AC secara berkala sebagai upaya pencegahan paparan jamur di lingkungan masjid.
The Relationship Between Exclusive Breastfeeding and Allergic Manifestations Among Toddlers at Sawah Lebar Public Health Center Tari Puspita; Devi Cynthia Dewi; Ardiana Podesta
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 6 No 1 (2026): Hemotology and Hemostatis
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/vol11pp1-11

Abstract

BackgroundAllergic manifestations in toddlers continue to increase and are influenced by several factors, including exclusive breastfeeding. Allergy is a specific immune system reaction to substances called allergens, which may trigger different responses in different individuals. Allergic reactions are hypersensitivity responses initiated through immunological mechanisms involving Immunoglobulin E (IgE) bound to mast cells after exposure to allergens. Allergies frequently occur in toddlers because their immune systems are still immature and vulnerable. The highest incidence of allergies in children aged 2–5 years is associated with food and inhalant allergens. Several factors are suspected to influence allergic manifestations in children, one of which is breastfeeding. Previous studies have shown that exclusive breastfeeding may reduce the occurrence of allergic diseases in children. ObjectiveThis study aimed to analyze the relationship between exclusive breastfeeding and allergic manifestations in toddlers. MethodsA cross-sectional study was conducted among 97 toddlers using consecutive sampling and Chi-square analysis. The study sample consisted of toddlers aged 2–60 months. ResultsThe study involved 97 toddlers, of whom 37 toddlers (34.1%) experienced allergic manifestations. Toddlers aged more than 6 months who received exclusive breastfeeding accounted for 45.1% (37 toddlers), while 54.9% (60 toddlers) did not receive exclusive breastfeeding. There was a significant relationship between exclusive breastfeeding and allergic manifestations (p<0.001; PR=0.084; 95% CI=0.021–0.332). ConclusionExclusive breastfeeding acts as a protective factor against allergic manifestations in toddlers.
Bleeding Time Profile Using the Duke Method in Type 2 Diabetes Mellitus Patients at Telaga Dewa Public Health Center, Bengkulu Tedy Febriyanto; Guntur Baruara; Jon Farizal; Putri Welkriana; Lidya Elvaretta
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 6 No 1 (2026): Hemotology and Hemostatis
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/vol61pp54-61

Abstract

Background : Type II Diabetes Mellitus is a chronic metabolic disease characterized by hyperglycemia caused by impaired insulin secretion or insulin resistance. Chronic hyperglycemia may lead to various complications, including hemostatic disorders affecting bleeding time. The bleeding time examination using the Duke method is an important parameter in evaluating primary hemostatic function. This study aimed to analyze the bleeding time profile among patients with Type II Diabetes Mellitus at Telaga Dewa Public Health Center, Bengkulu City. Methods :This study used a descriptive cross-sectional design. The population consisted of all Type II Diabetes Mellitus patients at Telaga Dewa Public Health Center, totaling 55 individuals. A total of 31 respondents were selected using accidental sampling techniques. Data collection was conducted using questionnaires and bleeding time measurements on capillary vessels employing the Duke method. Data were analyzed univariately and presented in frequency distribution tables and percentages. Results : The results showed that the average bleeding time among Type II Diabetes Mellitus patients was 1 minute and 24 seconds. Most respondents (71%) had normal bleeding times (1–3 minutes), while nearly 29% experienced shortened bleeding times. No respondents were found to have prolonged bleeding times. Conclusion : The average bleeding time among Type II Diabetes Mellitus patients at Telaga Dewa Public Health Center was 1 minute and 24 seconds. Nearly one-third of respondents experienced shortened bleeding times. These findings indicate the importance of routine monitoring of the coagulation system in patients with Type II Diabetes Mellitus to prevent thrombotic complications. Therefore, periodic bleeding time examinations are recommended.
Description of Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) Levels Among Arthritis Patients Receiving NSAID Therapy at Betungan Public Health Center, Bengkulu City Eprillia Masrianti; Putri Widelia
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 6 No 1 (2026): Hemotology and Hemostatis
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/vol61pp37-44

Abstract

Background :Arthritis is a chronic systemic inflammatory disease characterized by inflammation and swelling of the joints. One important laboratory parameter used to assess inflammatory activity is the Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR). Arthritis patients commonly receive Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs) to reduce pain and inflammation. Causing ESR levels to remain abnormal as the disease progresses. This study aimed to describe ESR levels among arthritis patients receiving NSAID therapy at Betungan Public Health Center, Bengkulu City, in 2025. Methods : This study used a descriptive observational design. Samples were collected using an accidental sampling technique involving 35 respondents. ESR examinations were performed automatically using the ESR Analyzer (MICROsed System) at the Laboratory of the Medical Laboratory Technology Department, Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Data were analyzed descriptively and presented in the form of frequency distribution tables and percentages. Results : Among the 35 respondents, most were female (94.29%) with an average age of 46.7 years. The longest duration of NSAID consumption was long-term use (>12 weeks), accounting for 45.7% of respondents. ESR examination results showed that most respondents had abnormal ESR levels, totaling 26 people (74.29%), while respondents with normal ESR levels totaled 9 people (25.71%). Conclusion :In conclusion, while NSAID therapy successfully manages the clinical symptoms of arthritis patients at the Betungan Public Health Center, it is insufficient for normalizing systemic inflammatory markers, as evidenced by the high prevalence of abnormal ESR levels (74.29%). This lack of laboratory normalization is particularly pronounced among female and elderly patients due to their physiological predisposition to elevated ESR.
Description of HbA1c Levels in Patients with Diabetes Mellitus and Hypertension in Bengkulu City Abelia Abelia; Heru Laksono
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 6 No 1 (2026): Hemotology and Hemostatis
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/vol61pp19-28

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) and hypertension are two non-communicable diseases that are closely related and simultaneously increase the risk of serious cardiovascular complications. Long-term uncontrolled blood glucose levels may cause vascular damage, trigger insulin resistance, and contribute to hypertension. One important parameter used to assess long-term glycemic control is HbA1c, which reflects average blood glucose levels during the previous two to three months. Objective: To describe HbA1c levels among diabetes mellitus patients with hypertension in the working areas of Telaga Dewa and Jembatan Kecil Public Health Centers, Bengkulu City, in 2025. Methods: This study used a descriptive design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 30 respondents selected using a total sampling technique. Data were collected through HbA1c examinations using the SD Biosensor Standard F device and interviews regarding age, gender, and duration of illness. A descriptive cross-sectional study was conducted among 30 patients with diabetes mellitus and hypertension selected using total sampling. Results: Most respondents (76.7%) had uncontrolled HbA1c levels (≥7%). The majority of respondents were female (70.0%), aged ≥50 years (86.7%), and had suffered from diabetes mellitus for more than 5 years (60.0%). Conclusion: Blood glucose control among diabetes mellitus patients with hypertension remains low, particularly among elderly and female patients.
Association Between Junk Food Consumption Habits and Total Cholesterol Levels Among Employees of the Bengkulu Provincial Health Office Faridah Faridah; Halimah Halimah; Jon Farizal
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 6 No 1 (2026): Hemotology and Hemostatis
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/vol11pp12-19

Abstract

Background: Urban communities tend to consume junk food due to high levels of busyness and social activities. Junk food generally contains saturated fats that can increase total cholesterol levels and contribute to health problems such as hypertension, vascular obstruction, and heart disease. Low physical activity among office workers also contributes to increased cholesterol levels. Objective: This study aimed to analyze the relationship between junk food consumption habits, including consumption frequency and types of junk food consumed, and total cholesterol levels among employees of the Bengkulu Provincial Health Office. Methods: This study used a descriptive analytic design with a cross-sectional approach. The population consisted of 251 civil servants, with a sample size of 48 respondents selected through random sampling techniques. Dietary habits were measured using a Food Frequency Questionnaire (FFQ) and categorized into frequent and infrequent consumption based on median scores. Total cholesterol examination was performed using venous blood samples analyzed at the Medical Laboratory Technology Laboratory of Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Data were analyzed univariately. Results: Most respondents were female (70.9%) with an average age of 46.4 years. A total of 52.0% of respondents frequently consumed junk food, while 64.6% had abnormal total cholesterol levels. Conclusion: The majority of respondents had abnormal total cholesterol levels, which were related to be associated with junk food consumption habits. These findings emphasize the importance of education regarding healthy dietary patterns as a preventive effort against elevated cholesterol levels among Health Office employees.