cover
Contact Name
USMAEDI
Contact Email
prodisejarahusbr@gmail.com
Phone
+6287773140507
Journal Mail Official
prodisejarahusbr@gmail.com
Editorial Address
Jl. Budi Utomo No. 22 L Komplek Pendidikan, Kel. Muara Ciujung Timur, Kec. Rangkasbitung, Kab. Lebak-Banten
Location
Kab. lebak,
Banten
INDONESIA
Kala Manca: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 23032189     EISSN : 26154447     DOI : -
Kala Manca menerima dan memuat artikel-artikel yang fokus pada hasil penelitian ilmiah dan hasil penelitian sejarah, pendidikan (pembelajaran) sejarah, Budaya, Bahasa. Hasil penelitian memberikan kontribusi terhadap pemahaman, pengembangan teori dan konsep keilmuan, serta penerapannya dalam pendidikan dan sejarah di Indonesia dan dunia. Skala Kala Manca meliputi kajian sejarah Indonesia dan sejarah dunia, serta kajian pendidikan berupa materi pelajaran, strategi, media, model pembelajaran, kajian budaya, bahasa serta evaluasi pembelajaran sejarah.
Articles 45 Documents
Perkembangan Industri Tahu di Desa Kulur dalam Perspektif Sejarah Sosial Ekonomi Imas Siti Masitoh; Rahmanul Rahmanul
KALA MANCA: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH Vol 14 No 2 (2026): Kala Manca: Jurnal Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Setiabudhi Rangkasbitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69744/kamaca.v14i2.825

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan industri tahu di Desa Kulur, Kecamatan Majalengka, serta dampaknya terhadap perubahan sosial ekonomi masyarakat dalam perspektif sejarah lokal. Penelitian menggunakan metode historis yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, dengan memanfaatkan sumber tertulis dan sumber lisan melalui wawancara sebagai upaya memperoleh gambaran yang kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri tahu mulai berkembang sejak tahun 1999 yang dirintis oleh pelaku lokal sebagai respons terhadap kebutuhan ekonomi dan peluang pasar. Perkembangannya ditandai oleh bertambahnya jumlah pelaku usaha, inovasi produk, serta perubahan dalam penggunaan teknologi dan bahan bakar produksi yang lebih efisien. Industri ini terbukti memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, serta pergeseran mata pencaharian dari sektor agraris ke sektor industri. Selain itu, industri tahu juga mendorong dinamika sosial ekonomi, seperti munculnya pelaku usaha baru, mobilitas sosial, dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. Namun demikian, perkembangan tersebut tidak terlepas dari tantangan berupa persaingan usaha dan keterbatasan manajemen pada sebagian pelaku. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperkaya kajian sejarah sosial ekonomi pada skala lokal serta menunjukkan peran industri kecil sebagai penggerak transformasi ekonomi masyarakat pedesaan.
Manajemen Koleksi Arkeologi di Museum Song Terus: Tantangan dan Peluang dalam Pelestarian Benda Cagar Budaya Diva Lusiani; Hanifatul Azizah; Nabilah Fairuz Fathiyah Yusfi Mustofa; Ahmad Zidbik Maulana Rohmani; Moh. Khotam Habib Widyatmaja; Nastiti Mufida
KALA MANCA: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH Vol 14 No 2 (2026): Kala Manca: Jurnal Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Setiabudhi Rangkasbitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69744/kamaca.v14i2.827

Abstract

Manajemen koleksi arkeologi merupakan aspek penting dalam pelestarian benda cagar budaya yang memiliki nilai sejarah, ilmiah, dan edukatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan manajemen koleksi arkeologi di Museum Song Terus, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta mengkaji peluang pengembangannya dalam mendukung pelestarian warisan budaya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan koleksi di Museum Song Terus telah mencakup proses registrasi, inventarisasi, konservasi, dan penyajian koleksi sebagai media edukasi bagi masyarakat. Namun, pengelolaan tersebut masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan sumber daya manusia, minimnya pemanfaatan teknologi digital, serta kurangnya inovasi dalam pengemasan informasi dan promosi museum. Di sisi lain, museum memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai pusat edukasi dan wisata budaya sejarah melalui peningkatan kualitas pengelolaan, pemanfaatan teknologi, serta penguatan kerja sama lintas sektor. Dengan demikian, pengelolaan yang profesional dan berkelanjutan diharapkan mampu meningkatkan peran museum dalam pelestarian benda cagar budaya serta memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya warisan budaya
Tradisi Ngajiwa pada Upacara Seren Taun Masyarakat Kasepuhan Citorek: Kajian tentang Makna Simbolik, Fungsi Sosial, dan Pelestarian Kearifan Lokal Nendi Mulyana; Usmaedi Usmaedi; Iman Sampurna
KALA MANCA: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH Vol 14 No 1 (2026): Kala Manca: Jurnal Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Setiabudhi Rangkasbitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Ngajiwa merupakan salah satu rangkaian ritual sakral dalam pelaksanaan upacara adat Seren Taun masyarakat Kasepuhan Citorek, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Tradisi ini tidak hanya merepresentasikan ungkapan rasa syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai-nilai budaya, spiritualitas, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, keberadaan tradisi Ngajiwa menghadapi berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi keberlanjutannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan tradisi Ngajiwa, menganalisis makna simbolik yang terkandung di dalamnya, mengidentifikasi fungsi sosialnya bagi masyarakat Kasepuhan Citorek, serta mengkaji perannya dalam pelestarian kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pemangku adat, tokoh masyarakat, dan masyarakat adat Kasepuhan Citorek, serta studi dokumentasi terhadap berbagai sumber pustaka yang relevan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan model analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Ngajiwa merupakan ritual spiritual yang mengandung makna penghormatan kepada Tuhan YME, penghargaan terhadap jasa leluhur, serta ungkapan syukur atas hasil pertanian. Tradisi ini juga berfungsi sebagai media integrasi sosial, penguatan identitas budaya, pewarisan nilai-nilai adat, serta sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Selain itu, Ngajiwa menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang menjadi dasar kehidupan masyarakat adat Kasepuhan Citorek. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi Ngajiwa memiliki peran strategis dalam mempertahankan eksistensi budaya lokal dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat adat di tengah perubahan zaman. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara masyarakat adat, pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendokumentasikan, melestarikan, serta mengembangkan tradisi Ngajiwa sebagai bagian dari warisan budaya takbenda Indonesia.
Pelanggaran Kemanusiaan dan Keadilan yang Tertunda: Studi Historis Korban Romusha di Pertambangan Batubara Blok Madur, Bayah (1943-sekarang) Apriliya Millani; Usmaedi Usmaedi; Weny Widyawati Bastaman
KALA MANCA: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH Vol 14 No 2 (2026): Kala Manca: Jurnal Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Setiabudhi Rangkasbitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69744/kamaca.v14i2.829

Abstract

Penelitian ini mengkaji eksploitasi romusha di pertambangan batu bara Blok Madur, Bayah pada masa pendudukan Jepang dengan fokus pada proses pengerahan, kondisi kerja, dampak, dan persoalan keadilan bagi para korban. Penelitian menggunakan metode sejarah melalui studi literatur, analisis dokumen, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa romusha direkrut melalui bujukan, tipu muslihat, dan paksaan, lalu dipekerjakan dalam kondisi yang berat dan tidak manusiawi tanpa perlindungan keselamatan, upah layak, maupun jaminan kesehatan. Eksploitasi ini menimbulkan dampak fisik, psikis, dan sosial yang berkepanjangan. Pascaperang, para korban belum memperoleh pengakuan dan pemulihan yang memadai. Di sisi lain, ingatan kolektif tentang romusha di Bayah terus memudar akibat hilangnya jejak fisik dan berkurangnya saksi sejarah. Oleh karena itu, dokumentasi sejarah penting untuk menjaga ingatan kolektif dan memberikan pengakuan kepada para korban.
Gaya Kepemimpinan Bupati Serang Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat Tahun 1901-1924 Ridwan Nugroho; Tubagus Umar Syarif Hadi Wibowo; Agus Rustamana
KALA MANCA: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH Vol 14 No 2 (2026): Kala Manca: Jurnal Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Setiabudhi Rangkasbitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69744/kamaca.v14i2.838

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya kepemimpinan Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat selama menjabat sebagai Bupati Serang pada tahun 1901-1924. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya mengkaji kepemimpinan tokoh lokal pada masa kolonial sebagai bagian dari sejarah pemerintahan di Banten serta untuk memahami karakter kepemimpinan yang mampu memadukan nilai-nilai lokal dengan sistem administrasi kolonial. Rumusan masalah penelitian meliputi latar belakang Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat, gaya kepemimpinannya sebagai Bupati Serang, serta perkembangan Kabupaten Serang di bawah kepemimpinannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber penelitian diperoleh dari memoar Herinneringen van Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat, arsip kolonial, surat kabar sezaman, dokumen pemerintahan, wawancara, serta berbagai sumber sekunder yang relevan. Analisis dilakukan menggunakan Teori Sifat (Trait Theory), Teori Perilaku (Behavior Theory), dan Teori Peran Sosial (Role Theory). Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang keluarga bangsawan, pendidikan Barat dan Islam, serta pengalaman birokrasi membentuk karakter kepemimpinan Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat. Selama memimpin Kabupaten Serang, ia menunjukkan kepemimpinan yang adaptif, komunikatif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Kepemimpinannya memberikan dampak terhadap perkembangan pemerintahan, pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat Kabupaten Serang. Berdasarkan hasil analisis, gaya kepemimpinan Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat dapat dikategorikan sebagai gaya kepemimpinan paternalistik yang memadukan nilai-nilai lokal Banten dengan prinsip administrasi modern pada masa kolonial. Kata kunci: Gaya Kepemimpinan, Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat, Bupati Serang, Kolonial. ABSTRACT This study aims to analyze the leadership style of Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat during his tenure as Regent of Serang from 1901 to 1924. The research is motivated by the importance of examining the leadership of local figures during the colonial era as part of the history of governance in Banten, as well as understanding a leadership character capable of integrating local values with the colonial administrative system. The research questions address Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat’s background, his leadership style as Regent of Serang, and the development of Serang Regency under his leadership. The study employs historical research methods, encompassing the stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. Research sources include the memoir Herinneringen van Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat, colonial archives, contemporary newspapers, government documents, interviews, and various relevant secondary sources. The analysis utilizes Trait Theory, Behavior Theory, and Role Theory. The findings indicate that his aristocratic family background, Western and Islamic education, and bureaucratic experience shaped Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat’s leadership character. During his leadership of Serang Regency, he demonstrated an adaptive, communicative, and community-welfare-oriented leadership style. His leadership impacted the development of governance, education, the economy, and the social life of the people in Serang Regency. Based on the analysis, Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat’s leadership style can be categorized as paternalistic, blending local Banten values with modern administrative principles of the colonial era. Keywords: Leadership Style, Prince Aria Achmad Djajadiningrat, Regent of Serang, Colonial.