cover
Contact Name
M Rusli B
Contact Email
mruslib@gmail.com
Phone
+6285242908070
Journal Mail Official
pusdig.id@gmail.com
Editorial Address
Perumahan Griya Lumandi Permai Blok B19, Kec. Wara Selatan, Palopo
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Pelita: Jurnal Pembelajaran IPA Terpadu
ISSN : -     EISSN : 28087232     DOI : https://doi.org/10.54065/28087232
Jurnal PELITA atau Jurnal Pembelajaran IPA Terpadu  merupakan karya ilmiah yang diterbitkan oleh Pustaka Digital Indonesia. Jurnal Pelita menyebarluaskan hasil-hasil penelitian yang ditulis berdasarkan hasil kajian dan kajian literatur di bidang Pembelajaran IPA Terpadu pada pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, serta teknologi pembelajaran. Jurnal Pelita menerbitkan edisinya dua kali setahun yaitu pada bulan juni dan desember. Fokus Kajian & Ruang Lingkup, Seperti (1) Implementasi Pembelajaran Tematik dan IPA Terpadu, (2) Penerapan Model/Metode/Strategi Pembelajaran IPA Terpadu, (3) Pengembangan Aplikasi dan Media Pembelajaran IPA Terpadu, (4) STEAM (Science, Technology, Eengineering, Art, Mathematic), (5) Proses dan Hasil Pembelajaran Biologi, Fisika, dan Kimia dll
Articles 173 Documents
Synergy of Science Literacy and Student Sustainability Literacy in Biology Learning Towards the Sustainable Development Goals Agenda Nukhbatul Bidayati Haka; Anggun Fransiska; Meita Dwi Solviana; Hardiyansyah Masya; Tengku Idris
Jurnal Pelita: Jurnal Pembelajaran IPA Terpadu Vol. 6 No. 2 (2026): Juli - Desember 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/pelita.6.2.2026.1528

Abstract

The urgency of this research is to strengthen the synergy between science literacy and students' sustainability literacy in biology learning to support the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs) .The Sustainable Development Goals (SDGs) agenda requires biology learning to be oriented not only towards mastering concepts but also towards fostering ecological awareness, sustainability mindsets, and student action competencies to address the 21st-century environmental crisis. The low achievement in science literacy among Indonesian students in the Programme for International Student Assessment, coupled with biology learning that is predominantly theoretical and memorized, underscores the importance of strengthening the synergy between science literacy and sustainability literacy. The research aims to analyze the correlation between science literacy and sustainability literacy among grade X students in ecosystem materials, as a basis for developing biology learning that supports the SDGs agenda. The research sample comprised 276 students selected through purposive sampling from SN4, SN10, SN14, and SN16. The research instrument consisted of 20 multiple-choice science literacy tests, 18 statements of science identity questionnaires, and 18 statements of literacy questionnaires. Data were analyzed using SPSS for normality, homogeneity, linearity, moment product correlation, simple linear regression, and the coefficient of determination. The results of the study show variation in achievement across schools. SN10 obtained the highest average scores in science literacy (85.46%) and sustainability literacy (92.36%). Meanwhile, SN16 had the lowest average sustainability literacy score at 56%. Knowledge displacement in sustainability literacy reached the highest level across schools, while the dimensions of skills and mindset were lower. The correlation results showed a positive and significant relationship between science literacy and sustainability literacy, with a very strong correlation in SN14 of r= 0.909 with R2=82.7%, and SN10 of r= 0.894 with R2=79.9%. These findings confirm that science literacy is an important foundation for building students' sustainability literacy, so biology learning on ecosystem materials needs to be integrated to support the achievement of the Sustainable Development Goals agenda.
Analisis Persepsi Siswa terhadap Pembelajaran IPA Berbasis STEM serta Dampaknya terhadap Minat Berkarir di Bidang Sains Nanda Kristiyaningsih; Septiko Aji; Fenny Widiyanti
Jurnal Pelita: Jurnal Pembelajaran IPA Terpadu Vol. 6 No. 2 (2026): Juli - Desember 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/pelita.6.2.2026.1614

Abstract

Transformasi teknologi Abad ke-21 menuntut penguasaan literasi STEM sebagai pilar krusial bagi pembangunan talenta nasional, namun pendidikan sains saat ini masih menghadapi tantangan nyata berupa kecemasan akademis (math-anxiety) dan hilangnya potensi talenta (leaky pipeline). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil persepsi siswa terhadap pembelajaran IPA berbasis STEM serta dampaknya terhadap minat berkarir di bidang sains pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Metode penelitian yang digunakan adalah mixed methods dengan desain triangulasi konkuren. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket kepada 300 siswa kelas IX di SMP Negeri 1 Wonosegoro menggunakan teknik total sampling, serta wawancara mendalam terhadap 8 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan empat kuadran tipologi. Instrumen penelitian meliputi angket adaptasi STEM Career Interest Survey (STEM-CIS) dan pedoman wawancara semi-terstruktur. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap STEM secara keseluruhan berada pada kategori tinggi (96%), dengan rincian capaian komponen: Teknologi (99%), Sains (97%), Rekayasa (95%), dan Matematika (92%). Temuan ini mengindikasikan efikasi diri digital yang kuat, meskipun komponen matematika dan rekayasa menunjukkan skor terendah akibat kendala psikologis. Hasil uji regresi linear sederhana membuktikan adanya pengaruh positif dan signifikan persepsi pembelajaran STEM terhadap minat berkarir sains ( ) dengan kontribusi sebesar 32,8%. Data kualitatif mendukung hasil tersebut dan mengungkap bahwa harapan hasil pribadi (outcome expectations) serta kecemasan logika tetap menjadi faktor penghambat bagi sebagian siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perbaikan desain kurikulum melalui penguatan integrasi komponen rekayasa dan matematika yang aplikatif sangat krusial untuk menjaga kontinuitas aspirasi karier sains siswa sejak pendidikan menengah.
Analisis Miskonsepsi dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Peserta Didik Menggunakan Three-Tier Diagnostic Test Berbasis Keterampilan Proses Sains pada Materi Gerak dan Gaya Laura Abiyuan Santoso; Faudina Permatasari
Jurnal Pelita: Jurnal Pembelajaran IPA Terpadu Vol. 6 No. 2 (2026): Juli - Desember 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/pelita.6.2.2026.1649

Abstract

Miskonsepsi dan rendahnya kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) merupakan permasalahan penting dalam pembelajaran IPA yang memerlukan identifikasi melalui instrumen diagnostik yang akurat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi miskonsepsi peserta didik pada materi Gerak dan Gaya menggunakan Three-Tier Diagnostic Test berbasis Keterampilan Proses Sains (KPS) serta menganalisis kemampuan HOTS peserta didik berdasarkan instrumen tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan desain sequential explanatory. Subjek penelitian terdiri atas 31 peserta didik kelas VII SMP Raudlatul Musthofa Tulungagung, dengan empat peserta didik dipilih secara purposif sebagai subjek wawancara. Instrumen penelitian berupa 25 soal Three-Tier Diagnostic Test yang mencakup level C4, C5, dan C6. Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif persentase, sedangkan data kualitatif dianalisis secara tematik mengikuti model Miles, Huberman, dan Saldaña, kemudian diintegrasikan melalui triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase miskonsepsi melebihi 50% pada sebagian besar soal dan didominasi kategori False Negative (M2), yaitu peserta didik mampu memilih jawaban benar tetapi belum dapat memberikan alasan ilmiah yang tepat. Miskonsepsi utama ditemukan pada konsep gerak relatif dan titik acuan, interpretasi grafik jarak-waktu, perbedaan gerak dan perpindahan, penerapan Hukum II Newton, serta gaya pada benda diam. Kemampuan HOTS peserta didik juga tergolong rendah dengan persentase tahu konsep sebesar 35,7% pada level C4, 40,3% pada C5, dan 40,3% pada C6. Penelitian ini menyimpulkan bahwa miskonsepsi dan rendahnya HOTS saling berkaitan sehingga perlu diatasi melalui pembelajaran yang mengintegrasikan rekonstruksi konsep, penguatan KPS, dan pengembangan HOTS. Kombinasi Three-Tier Diagnostic Test dan wawancara dapat menjadi alternatif asesmen diagnostik yang komprehensif untuk mengungkap miskonsepsi peserta didik.