cover
Contact Name
Dominikus Sukristiono
Contact Email
seminarfilsafat.teo@usd.ac.id
Phone
+62274-880957
Journal Mail Official
seminarfilsafat.teo@usd.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma Jl. Kaliurang Km. 7, Yogyakarta, Indonesia Kotak Pos : 1194, Yogyakarta 55011 Telp : 0274-880957
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
ISSN : 30471451     EISSN : 30470714     DOI : https://doi.org/10.24071/snf
Proceedings of the National Conference on Indonesian Philosophy and Theology is an academic journal organized and operated by Faculty of Theology, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia. The Theological Faculty has been acknowledged as the Pontifical Faculty of Theology “Wedhabakti” by the Holy See. These proceedings aim to disseminate reflections on Philosophy and Theology, especially those conducted in or related to the Indonesian context. The proceedings conduct interdisciplinary and monodisciplinary reflections and are scientific publications with a peer review process. The themes in these proceedings include (but are not limited to): Methods of Philosophy and Theology, Philosophy of Religion, Metaphysics, Epistemology, Philosophy of Education, Empirical Research in Philosophy and Theology, Public Philosophy and Theology, Eastern Thought, Socio-Political Philosophy, Interreligious Dialogue, Ecological Theology, Ethno-religiosity, and Socio-Biblical Studies. The Proceedings conduct a rigorous process of paper submission. We welcome only selected (and invited) papers, both in Bahasa Indonesia and in English, that has been accepted and presented at the Annual Seminar on Indonesian Philosophy and Theology (Seminar Nasional Filsafat dan Teologi Indonesia), and those that are suggested by the Chief Editor of the Annual Seminar. The suggested papers will be peer reviewed by our editors and independent reviewers.
Articles 88 Documents
Peran Relasi Timbal Balik di Era Globalisasi dalam Petuah Jawa dan Lamaholot Dwika Tegar Ardiansah; Yufensia Afriantis Gowo Making; Anselmus Wikan Wicaksono
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 4, No 1 (2026): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v4i1.13728

Abstract

The era of globalization demands innovation and emphasizes the importance of reciprocal relationships between humans and nature, as well as between humans themselves. Nature provides for human needs, while humans must contribute in return. However, exploitation of nature without reciprocity often occurs. In human relationships, especially between the old and the young, there has been a shift in roles; in the past, the young learned from the old, but now the old must also learn from the young. This study uses literature review and interviews to explore the ethical imperative of the advice “Kebo Nyusu Gudel” from Java and “Lewotana molo nage kame dore, Teti pana ake todok, Gawe ake wale” from Lamaholot. The three main questions are: What is the literal meaning of this advice? How do these sayings function as instruments in Javanese and Lamaholot society? What is the relevance of these sayings to relational roles in the era of globalization? The results of the study show the importance of human awareness in appreciating reciprocal relationships, the ethical message to continue learning and appreciating, and the relevance of these sayings as an answer to the importance of reciprocal relationships in the lives of Javanese and Lamaholot communities in the era of globalization.AbstrakEra globalisasi menuntut inovasi dan menegaskan pentingnya relasi timbal balik antara manusia dan alam serta antar manusia. Alam memberi kebutuhan kepada manusia, sementara manusia harus memberi kontribusi kembali. Meski sering terjadi eksploitasi alam tanpa timbal balik. Dalam hubungan antar manusia, khususnya antara yang tua dan muda, terjadi perubahan peran; dulu yang muda belajar dari yang tua, kini yang tua juga harus belajar dari yang muda. Penelitian ini menggunakan studi pustaka dan wawancara untuk mengeksplorasi imperatif etis petuah “Kebo Nyusu Gudel” dari Jawa dan “Lewotana molo nage kame dore, Teti pana ake todok, Gawe ake wale” dari Lamaholot. Tiga pertanyaan utama adalah: Apa makna literal petuah ini? Bagaimana petuah menjadi instrumen dalam masyarakat Jawa dan Lamaholot? Apa relevansi petuah terhadap peran relasi di era globalisasi? Hasil penelitian menunjukkan pentingnya kesadaran manusia menghargai relasi timbal balik, pesan etis untuk terus belajar dan menghargai, serta relevansi petuah sebagai jawaban atas pentingnya keterhubungan relasi timbal balik dalam kehidupan masyarakat Jawa dan Lamaholot di era global.
Kajian Komparatif: Gotong Royong dalam Pepatah Mamasa dan Tana Ai untuk Kohesi Sosial Kristian Kristian; Pangkrasio Raul Dharma Putra; Reski Kresensia
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 4, No 1 (2026): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v4i1.13730

Abstract

Gotong royong (mutual cooperation), which serves as a vital pillar of social cohesion in Indonesian society, is deeply embedded in community life and articulated through various local proverbs. Modernization and the influence of individualistic lifestyles are causing the values of gotong royong to fade and become increasingly difficult to practice in daily life. This study aims to examine two proverbs from different ethnic groups: "Rakka Batu Tuo Na Olai Kada Mesa" from the Mamasa community (West Sulawesi) and "Ganu Ipun Tama Nanga, Ganu Teban Lema Likon" from the Tana Ai community (Sikka, East Flores). The research employed a literature review and interviews with community leaders, which were then analyzed using a qualitative-descriptive and comparative approach. The findings indicate that the Mamasa proverb emphasizes the power of collective will and unity in facing major challenges, metaphorically represented by a hard stone that can be broken by one voice. In contrast, the Tana Ai proverb underscores the importance of communal life, solidarity, and compassion, using the symbol of fish swimming in schools as a metaphor for human togetherness. The comparative analysis confirms that both proverbs similarly teach the values of unity and gotong royong, albeit with different symbols and points of emphasis. Their relevance in the modern context is highly significant, as they serve as a crucial reminder of the importance of social cohesion amidst the currents of globalization, urbanization, and the culture of individualism. Thus, this study affirms that traditional proverbs are not merely cultural heritage but rather reflective and dynamic instruments that can strengthen identity, solidarity, and social justice in Indonesian society.AbstrakGotong royong yang menjadi pilar penting kohesi sosial masyarakat Indonesia dihayati oleh masyarakat dan terartikulasi dalam berbagai petuah lokal. Modernisasi dan pengaruh gaya hidup individualis menyebabkan nilai-nilai gotong royong semakin luntur dan sulit dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini tujuan untuk  mengkaji dua pepatah dari etnis berbeda, yakni “Rakka Batu Tuo Na Olai Kada Mesa” dari masyarakat Mamasa (Sulawesi Barat) dan “Ganu Ipun Tama Nanga, Ganu Teban Lema Likon” dari masyarakat Tana Ai (Sikka, Flores Timur). Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dan wawancara dengan tokoh masyarakat, kemudian dianalisis melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dan komparatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pepatah Mamasa menekankan kekuatan tekad kolektif dan persatuan dalam menghadapi tantangan besar, yang dimetaforakan melalui batu keras yang dapat dipecahkan oleh satu suara. Sementara itu, pepatah Tana Ai menekankan pentingnya kehidupan komunal, solidaritas, dan belarasa, dengan simbol ikan yang hidup bergerombol sebagai metafora kebersamaan manusia. Analisis komparatif menegaskan bahwa keduanya sama-sama mengajarkan nilai persatuan dan gotong royong, meski dengan simbol dan titik tekan yang berbeda. Relevansinya dalam konteks modern sangat signifikan, karena mampu menjadi pengingat akan pentingnya kohesi sosial di tengah arus globalisasi, urbanisasi, dan budaya individualisme. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa pepatah tradisional bukan sekadar warisan budaya, melainkan instrumen reflektif dan dinamis yang dapat memperkuat identitas, solidaritas, dan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Membangun Dialog Antaragama secara Autentik Berdasarkan Pemikiran Masao Abe Reinaldo Patricio Tedja; Albertus Ananda Orlando; Andreas Rahul Pratama; Albert Arysatya Ray Raja
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 4, No 1 (2026): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v4i1.13723

Abstract

Religious intolerance and discrimination remain serious issues in Indonesia, threatening social harmony within its pluralistic society. This reality highlights the urgent need to foster authentic interreligious dialogue as a bridge toward mutual understanding. This study examines the thought of Masao Abe, a Japanese Buddhist philosopher from the Kyoto School, who offers a transformative perspective on interreligious dialogue. Two main questions are formulated: how does Masao Abe understand the nature of interreligious dialogue, and how can his ideas be applied within the context of religious pluralism in Indonesia? Using a qualitative method with a literature study approach, this research analyzes Abe’s key works as well as secondary literature related to interreligious dialogue and pluralism. The findings show that, according to Abe, interreligious dialogue is not merely a formal conversation or religious diplomacy, but a radical inner openness to learn from other traditions by letting go of the claim to absolute truth. Genuine dialogue requires the willingness to transcend doctrinal boundaries in the search for a shared truth that recognizes the universal dimensions of humanity and divinity. In the Indonesian context, Abe’s thought can be implemented through multicultural education that emphasizes deep understanding of other religious traditions, the establishment of sustainable interfaith forums, and the cultivation of epistemological humility in embracing diversity. This study concludes that Masao Abe’s model of interreligious dialogue can serve as a strong foundation for fostering harmony, reducing intolerance, and strengthening social cohesion amid Indonesia’s plural society.AbstrakIntoleransi dan diskriminasi berbasis agama masih menjadi persoalan serius di Indonesia, yang mengancam harmoni sosial dalam masyarakat yang majemuk. Realitas ini menunjukkan urgensi membangun dialog antaragama yang autentik untuk menemukan jembatan hidup saling memahami. Penelitian ini mengkaji pemikiran Masao Abe, filsuf Buddhis Jepang dari Sekolah Kyoto, yang menawarkan perspektif transformatif tentang dialog antaragama. Dua pertanyaan utama yang dirumuskan adalah: bagaimana Masao Abe memahami hakikat dialog antaragama, dan bagaimana pemikirannya dapat diaplikasikan dalam konteks pluralisme agama di Indonesia. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, penelitian ini menelaah karya-karya utama Masao Abe serta literatur sekunder terkait dialog antaragama dan pluralisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Abe, dialog antaragama bukan sekadar percakapan formal atau diplomasi keagamaan, melainkan keterbukaan batin yang radikal untuk belajar dari tradisi lain dengan melepaskan klaim absolutisme kebenaran. Dialog sejati menuntut kesediaan untuk melampaui batas-batas doktrin demi pencarian kebenaran bersama yang mengakui dimensi kemanusiaan dan keilahian secara universal. Dalam konteks Indonesia, pemikiran Abe dapat diimplementasikan melalui pendidikan multikultural yang menekankan pemahaman mendalam terhadap tradisi keagamaan lain, pembentukan forum lintas iman yang berkelanjutan, serta pengembangan sikap kerendahan hati epistemologis dalam menerima keragaman. Penelitian ini menegaskan bahwa dialog antaragama model Masao Abe dapat menjadi landasan kokoh untuk membangun kerukunan, mengikis intoleransi, dan memperkuat kohesi sosial di tengah pluralitas masyarakat Indonesia.
Mengembalikan Peran Kapital Budaya dalam Pendidikan Kritis Berdasarkan Pemikiran Pierre Bourdieu Norbertus Alexandro Tutu Sare; Adelstein Kadola; Rodriques Payung; Emanuel Gobang
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 4, No 1 (2026): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v4i1.13755

Abstract

Education often serves as a pathway that mobilizes society but simultaneously reproduces social inequality due to the marginalization of cultural capital. As a result, education fails to fulfill its mission of developing critical, moral, and civilized human beings. This qualitative study aims to explore Pierre Bourdieu’s concept of cultural capital and analyze how the dominance of economic and social capital within the education system contributes to the marginalization of cultural capital. The method used is a literature study examining Bourdieu’s theoretical framework. The findings indicate the necessity of repositioning cultural capital to restore the function of education as a space for intellectual and moral empowerment. The dominance of economic and social capital has led education to become pragmatically oriented, reinforcing the reproduction of unjust social structures. Repositioning cultural capital provides a foundation for developing educational policies that strengthen knowledge accessibility, critical literacy, appreciation of arts and culture, and equitable intellectual skills development. Strengthening cultural capital allows education to once again fulfill its essential role as a means of shaping critical, moral, and civilized human beings.AbstrakPendidikan sering menjadi jalan memobilisasi masyarakat yang memproduksi ketimpangan sosial akibat terpinggirkannya kapital budaya. Akibatnya, pendidikan gagal mewujudkan tugas untuk mengembangkan manusia yang kritis, bermoral, dan beradab . Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep kapital budaya Pierre Bourdieu dan menganalisis bagaimana dominasi kapital ekonomi dan sosial dalam sistem pendidikan berkontribusi terhadap marginalisasi kapital budaya. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menelaah pemikiran Bourdieu. Hasil penelitian ini menunjukkan perlunya reposisi kapital budaya untuk mengembalikan fungsi pendidikan sebagai ruang pemberdayaan intelektual dan moral. Dominasi kapital ekonomi dan sosial menjadikan pendidikan cenderung berorientasi pada tujuan pragmatis yang memperkuat reproduksi struktur sosial yang tidak adil. Reposisi kapital budaya menjadi dasar pengembangan kebijakan pendidikan yang menguatkan aksesibilitas pengetahuan, penguatan literasi kritis, apresiasi seni dan budaya, serta pengembangan keterampilan intelektual yang merata. Pengembangan kapital budaya menjadikan pendidikan dapat kembali menjalankan fungsinya sebagai sarana pembentukan manusia yang kritis, bermoral, dan beradab.
Harmoni Ekologis dalam Petuah Adat Sikka dan Lamalera: Pedoman Hidup di Tengah Tantangan Modern Christian Wildeciano Jogo; Marselinus Kalang Lelaona; Kasimirus Rape Baluk
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 4, No 1 (2026): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v4i1.13765

Abstract

This research analyzes the noble values of the Sikka and Lamalera communities contained within the customary advice, "Hode Lau Ina Limé, Ina Soro Sare-Sare" (Lamalera – Lembata) and "Blatang Ganu Wair, Blirang Ganu Wolong/Bao" (Sikka, Maumere). Both pieces of advice are inherited from ancestors, serve as the foundation for the formation of local culture, and reflect a harmonious relationship between humans and nature with an emphasis on the ecological aspect.They illustrate how nature, encompassing both the sea and the land with its environment, is viewed not merely as a resource but also as a sacred entity that must be respected. Amidst rapid modernization, the appreciation for tradition and customary advice is increasingly marginalized, and the articulation of the noble values of the surrounding environment is often neglected.The main challenge lies in how these noble values can serve as an effective guide for life in maintaining environmental balance and harmony amid the challenges of modern development, and how to prevent the destruction of the harmonious relationship between humans and nature as attention to tradition diminishes. The research methodology is descriptive qualitative with an analytical approach, utilizing interviews and literature review for data collection. Findings indicate that the noble values of the environment represent the embodiment of the Creator's presence, who sustains and maintains the community's survival.AbstrakPenelitian ini menganalisis nilai-nilai luhur masyarakat Sikka dan Lamalera yang terkandung dalam petuah adat "Hode Lau Ina Limé, Ina Soro Sare-Sare" (Lamalera – Lembata) dan "Blatang Ganu Wair, Blirang Ganu Wolong/Bao" (Sikka, Maumere). Kedua petuah ini diwariskan nenek moyang dan berfungsi sebagai latar belakang terbentuknya kebudayaan lokal, serta mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam dengan penekanan pada aspek ekologis. Keduanya menggambarkan bagaimana alam, baik laut maupun daratan dengan lingkungannya, tidak hanya dipandang sebagai sumber daya, tetapi juga sebagai entitas suci yang harus dihormati. Di tengah pesatnya perkembangan zaman, penghayatan terhadap tradisi dan petuah adat kian terpinggirkan, dan pengungkapan nilai luhur alam sekitar sering kali diabaikan. Padahal, petuah-petuah ini menggambarkan alam, baik laut maupun daratan, tidak hanya sebagai sumber daya, tetapi juga sebagai entitas suci yang harus dihormati. Tantangan utama adalah bagaimana nilai-nilai luhur ini dapat berfungsi sebagai pedoman hidup efektif dalam menjaga keseimbangan dan keselarasan lingkungan di tengah tantangan pembangunan modern, serta mencegah rusaknya hubungan harmonis antara manusia dan alam seiring berkurangnya perhatian terhadap tradisi. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analitis, menggunakan wawancara dan studi pustaka untuk penyediaan data. Temuan menunjukkan bahwa nilai luhur lingkungan hidup merepresentasikan perwujudan kehadiran Sang Pencipta yang memelihara kelangsungan hidup masyarakat.
Pedagogi Dialogis Yesus dalam Yohanes 4: Fondasi Etika Biblis bagi Pendidikan Pembebasan yang Keberlanjutan Bofry Wahyu Samosir
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 4, No 1 (2026): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v4i1.13731

Abstract

The dynamics of education in the 21st century still tend to be instrumental in nature, emphasizing only the transfer of knowledge and the preparation of workers for the market. As a result, this system fails to shape individuals into well-rounded human beings who have social and ecological responsibilities towards the world around them. This problem is also in line with Paulo Freire's criticism of the “banking concept of education,” which stifles critical consciousness. Faced with this problem, this article offers an alternative philosophy of education by recontextualizing the pedagogy of Jesus Christ in John 4 as a liberating and restorative educational paradigm. Specifically, through a hermeneutical approach, this article argues that Jesus' pedagogy, based on Christology Λόγος (Word), systematically breaks down the walls of gender and ethnic marginalization. The uniqueness of Jesus' dialogue with the Samaritan woman not only frees her from the shackles of social and religious marginalization as imago Dei, but also transforms her into an active agent of change. For the author, this process of personal liberation is an ethical prerequisite for the realization of personal responsibility towards others and nature. Thus, this article concludes that Jesus' dialogical pedagogy in John 4 is an ethical imperative that provides a biblical foundation for developing a framework of liberation education, leading to holistic sustainability practices. Therefore, as a form of contextualization, this pedagogical model provides a roadmap for educators, theologians, and ecologists to build collaborative networks in realizing concrete, sustainable, and just actions at the community level.AbstrakDinamika Pendidikan di abad ke-21 masih cenderung bersifat paradigma instrumental yaitu memberikan penekanan hanya pada aspek transfer pengetahuan, dan penyiapan tenaga kerja untuk pasar. Akibatnya sistem ini gagal membentuk setiap pribadi menjadi manusia utuh yang memiliki tanggung jawab secara sosial dan ekologis terhadap dunia di sekitarnya. Permasalahan ini juga sejalan dengan kritik Paulo Freire terhadap "konsep pendidikan gaya bank" yang melumpuhkan kesadaran kritis. Berhadapan dengan masalah ini, artikel ini hendak menawarkan sebuah alternatif filsafat pendidikan dengan merekontekstualisasi pedagogi Yesus Kristus dalam Yohanes 4 sebagai paradigma pendidikan yang memerdekakan dan memulihkan. Secara khusus, melalui pendekatan hermeneutika, artikel ini berargumen bahwa pedagogi Yesus, yang didasarkan pada Kristologi Λόγος (Sabda), secara sistematis mendobrak tembok marginalisasi gender dan etnis. Kekhasan dialog Yesus dengan Perempuan Samaria ternyata tidak hanya membebaskan perempuan Samaria dari belenggu marginalisasi sosial dan religius sebagai imago Dei, tetapi juga mentransformasinya menjadi seorang agen perubahan yang aktif. Bagi penulis, proses pembebasan personal inilah yang menjadi prasyarat etis bagi terwujudnya tanggung jawab pribadi terhadap sesama dan alam. Dengan demikian, artikel ini menyimpulkan bahwa pedagogi dialogis Yesus dalam Yohanes 4 merupakan sebuah imperatif etis yang menyediakan fondasi biblis untuk membangun sebuah kerangka pendidikan pembebasan yang mengarah pada praksis keberlanjutan yang holistik. Maka, sebagai bentuk kontekstualisasinya, model pedagogis ini memberikan sebuah peta jalan bagi para pendidik, teolog, dan pegiat ekologi untuk membangun jejaring kolaboratif dalam mewujudkan aksi nyata berkelanjutan yang berkeadilan di tingkat komunitas tertentu.
Pendidikan yang Berdaya Transformatif Menurut Henry Armand Giroux Stefanus Albert Putra Widiasena; Stefanus Rizki Adi Purnama; Vinsentius Julianus Janggo; Yusuf Caesarea Arianto
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 4, No 1 (2026): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v4i1.13737

Abstract

In the era of neoliberalism, education has become trapped in the free market system that emphasizes competition, profit, and achievement based solely on numbers. As a result, critical and transformative thinking in education has weakened. The purpose of this study is to examine and describe Henry A. Giroux's ideas about transformative education. Through a literature review, this study will analyze three of Giroux's main ideas. First, the socio-political aspects of education, which emphasize the close relationship between education, power, and the struggle against injustice. Second, a critique of neoliberalism, which reduces the role of teachers and students, and the dangers of the commercialization of education, which erodes public values and democracy. Third, the concept of teachers as transformative actors and students as critical subjects who play an active role in building social awareness and praxis. Thus, according to Giroux, transformative education is an important alternative to restore the function of education as a means of liberation and the formation of a more just and humane society.AbstrakDi era perkembangan neoliberalisme, pendidikan terjebak dalam arus pasar bebas yang menekankan kompetisi, keuntungan, dan pencapaian berdasarkan angka semata. Konsekuensinya, daya kritis dan transformatif dalam pendidikan menjadi semakin melemah. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji dan mendeskripsikan pemikiran Henry A. Giroux tentang pendidikan yang berdaya transformatif. Melalui studi pustaka, penelitian ini akan menganalisis tiga gagasan utama Giroux. Pertama, aspek sosial-politik pendidikan yang menegaskan keterkaitan erat antara pendidikan, kekuasaan, dan perjuangan melawan ketidakadilan. Kedua, kritik terhadap neoliberalisme yang mereduksi peran guru dan siswa serta bahaya komersialisasi pendidikan yang mengikis nilai publik dan demokrasi. Ketiga, konsep guru sebagai pelaku transformatif dan siswa sebagai subjek kritis yang berperan aktif dalam membangun kesadaran serta praksis sosial. Dengan demikian, pendidikan transformatif menurut Giroux menjadi alternatif penting untuk mengembalikan fungsi pendidikan sebagai sarana pembebasan dan pembentukan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi.
Dari Kali Code ke Ruang Digital: Meneguhkan Filsafat Memanusiakan Manusia Romo Mangun sebagai Etika Publik Generasi Kontemporer Yanto Yanto
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 4, No 1 (2026): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v4i1.13754

Abstract

 Many of the ethical and sustainability challenges we face today, from the environmental crisis to the impacts of digital disruption, share a common root: we often compartmentalize nature, humanity, and technology. This complex problem demands a perspective that views everything as interconnected. This qualitative research aims to analyze the urgency of Integral Ecology as a transformative ethical framework and to ground it in the Pancasila Philosophy as a foundation in the Digital Age. I highlight the figure and thought of Father Y.B. Mangunwijaya as a practical model for implementing Social Ecology and Human Rights (HR). Using a literature review and philosophical analysis method, this research addresses three main questions. First, how does the concept of Integral Ecology bridge the environmental crisis and digital disruption? Second, what are the core moral values of Pancasila that must be applied in Public Ethics? Third, how can Father Mangun's spirit of "humanizing humanity" be expanded to "humanize all creation" in the technological era? The results indicate that the current sustainability crisis necessitates a holistic understanding, where environmental degradation is also a form of social injustice. Three core moral imperatives are derived from the Pancasila perspective. First, technological advancement must always be subordinate to the Humanity principle (Sila Kemanusiaan) to safeguard the dignity of both humanity and nature. Second, Public Ethics must integrate ecological responsibility as a component of social justice. Third, the younger generation must actively participate in pro-environmental democratic efforts, inheriting the spirit of Father Mangunwijaya. In summary, Integral Ecology grounded in Pancasila offers an essential ethical roadmap for shaping the current generation's critical awareness towards technology and the environment in a balanced manner.AbstrakBanyak masalah etika dan keberlanjutan yang kita hadapi saat ini, mulai dari krisis lingkungan hingga dampak gejolak digital, berakar pada satu hal, kita sering memisahkan alam, manusia, dan teknologi. Permasalahan ini sangat rumit sehingga menuntut cara pandang yang melihat semuanya terhubung. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menganalisis betapa mendesaknya Ekologi Integral sebagai kerangka etika yang transformatif dan menjadikannya berlandaskan pada Filsafat Pancasila sebagai pijakan di era digital. Saya mengangkat sosok dan pemikiran Romo Y.B. Mangunwijaya sebagai model nyata bagaimana mempraktikkan Ekologi Sosial dan Hak Asasi Manusia (HAM). Dengan menggunakan metode studi pustaka dan analisis filosofis, penelitian ini menjawab tiga pertanyaan utama. Pertama, bagaimana konsep Ekologi Integral menjembatani krisis lingkungan dan disrupsi digital. Kedua, apa nilai moral utama Pancasila yang harus diterapkan dalam Etika Publik. Ketiga,  bagaimana semangat Romo Mangun "memanusiakan manusia" dapat diperluas untuk "memanusiakan seluruh ciptaan" di era teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis keberlanjutan saat ini membutuhkan pemahaman holistik, di mana kerusakan lingkungan adalah juga bentuk ketidakadilan sosial. Ditemukan tiga perintah moral utama dari perspektif Pancasila. Pertama, kemajuan teknologi harus selalu berada di bawah kendali Sila Kemanusiaan demi menjaga martabat manusia dan alam. Kedua, etika Publik wajib mengintegrasikan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari keadilan sosial. Ketiga,  generasi muda mesti berpartisipasi aktif dalam upaya demokrasi yang pro-lingkungan, mewarisi semangat Romo Mangunwijaya. Singkatnya, Ekologi Integral yang berlandaskan Pancasila menawarkan peta jalan etika yang sangat penting untuk membentuk kesadaran kritis generasi sekarang terhadap teknologi dan lingkungan secara seimbang.