cover
Contact Name
Dominikus Sukristiono
Contact Email
seminarfilsafat.teo@usd.ac.id
Phone
+62274-880957
Journal Mail Official
seminarfilsafat.teo@usd.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma Jl. Kaliurang Km. 7, Yogyakarta, Indonesia Kotak Pos : 1194, Yogyakarta 55011 Telp : 0274-880957
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
ISSN : 30471451     EISSN : 30470714     DOI : https://doi.org/10.24071/snf
Proceedings of the National Conference on Indonesian Philosophy and Theology is an academic journal organized and operated by Faculty of Theology, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia. The Theological Faculty has been acknowledged as the Pontifical Faculty of Theology “Wedhabakti” by the Holy See. These proceedings aim to disseminate reflections on Philosophy and Theology, especially those conducted in or related to the Indonesian context. The proceedings conduct interdisciplinary and monodisciplinary reflections and are scientific publications with a peer review process. The themes in these proceedings include (but are not limited to): Methods of Philosophy and Theology, Philosophy of Religion, Metaphysics, Epistemology, Philosophy of Education, Empirical Research in Philosophy and Theology, Public Philosophy and Theology, Eastern Thought, Socio-Political Philosophy, Interreligious Dialogue, Ecological Theology, Ethno-religiosity, and Socio-Biblical Studies. The Proceedings conduct a rigorous process of paper submission. We welcome only selected (and invited) papers, both in Bahasa Indonesia and in English, that has been accepted and presented at the Annual Seminar on Indonesian Philosophy and Theology (Seminar Nasional Filsafat dan Teologi Indonesia), and those that are suggested by the Chief Editor of the Annual Seminar. The suggested papers will be peer reviewed by our editors and independent reviewers.
Articles 78 Documents
Menganalisis Kasus Penyuapan dalam Moral Kristiani dan Ditinjau dari Ensiklik Yohanes Paulus II Ut Unum Sint Usman, Yosef
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10130

Abstract

The focus of this paper is to describe the case of bribery at the Supreme Court, Ex-Commissioner of Wika Beton Charged with 11 Years and 5 Months in Prison that occurred on Wednesday, February 14, 2024 - 15:05 and the emphasis of the case is on Christian moral rules and norms. The aim is to provide a brief panorama of the synopsis of the case and the moral issues raised in the case.  In addition, the author looks first at the general principles and ways of evaluating moral acts in a specific theory (fontes moralitas), followed by an analysis of the rules and norms of Christian morality and an assessment of the rules and norms of Christian morality.  The methods used in this article are literature study and case study, namely by looking at the overall explanation of the lectures in class, looking at the diktat of fundamental moral theology two, books related to Christian morals, and articles from journals.  The author found that in reality, some people do not live according to the rules and norms that apply in society. Some people consider rules and norms only as symbols in an institution. This means that humans are immersed in the comfort or enjoyment of their position, so there is a tendency to bribe or extortion or even arbitrary corruption.  Here there is a conclusion or virtue (Arete) from the case that the church does not turn a blind eye to the actions of Christians against all the crimes that take turns either in days, months or years. The church continues to pay attention to the rules and norms that occur in Christian moral life, so Pope John Paul II issued an encyclical entitled “Ut Unum Sint” (May 25, 1995). This encyclical discusses the Catholic Church's commitment to ecumenism, the fruits of dialogue, how far we have to go, and a recommendation. In addition, it is not only about corruption but also includes the issue of bribery or extortion.AbstrakPenulis meletakkan fokus tulisan ini menganalisis kasus suap menyuap yang dilakukan di  Perkara MA, Eks Komisaris Wika Beton  yang dituntut 11 Tahun 5 Bulan Penjara yang terjadi pada Rabu 14 Februari 2024 - 15:05.Tujuannya adalah penulis mau memberikan panorama singkat sinopsis kasus dan persoalan moral yang muncul dalam kasus tersebut dengan melihat terlebih dahulu prinsip umum dan cara penilaian perbuatan moral secara khusus “teori (fontes moralitas)” dan dilanjutkan dengan analisis “aturan dan norma moral” serta memberi penilaian dari sisi aturan dan norma dalam moral Kristiani. Metode yang digunakan dalam artikel ini  ini adalah studi kasus yaitu dengan melihat keseluruhan teologi moral Kristiani, buku-buku terkait moral Kristiani, dan artikel jurnal.  Penulis menemukan bahwa dalam kenyataannya sebagian manusia hidup tidak sesuai teori (fontes moralitas) dan  “aturan dan norma” yang berlaku dalam masyarakat. Sebagian orang lagi menganggap aturan dan norma hanya sebagai lambang dalam sebuah instansi. Dari situasi ini, maka ada tendensi untuk menyuap, pungli atau bahkan korupsi seenaknya. Kesimpulan dari kasus tersebut bahwa Gereja tidak menutup mata terhadap tindakan orang Kristiani terhadap segala kejahatan yang silih berganti baik dalam hari, bulan atau tahun. Gereja terus memperhatikan aturan dan norma yang terjadi dalam kehidupan moral Kristiani maka Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan ensiklik yang berjudul “Ut Unum Sint” (25 Mei 1995). Dalam ensiklik ini persoalan yang dibahas komitmen Gereja Katolik terhadap ekumenisme, buah-buah dialog, dan masih berapa jauhkah perjalanan kita?, dan sebuah anjuran. Selain Itu juga bahkan bukan hanya persoalan korupsi saja melainkan termasuk persoalan suap menyuap atau pungli itu.
Spiritualitas Kepemimpinan Kaum Awam dalam Gereja Sinodal Seto, Nerius; Andalas, Mutiara
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10216

Abstract

In order for a Synodal Church to be realized, laypeople are essential. All members must actively participate in walking together, but especially the laity, who are crucial to the establishment of a synodal church. The challenge in aiming for a synodal church is the absence of lay participation. This is because of the laity's ignorance of their role in establishing a synodal church, their perception of the church as hierarchical, and their lack of comprehension of spirituality in ministry. According to Christophe Pierre (2021), "Synodality involves a spirituality of affirmation of the Spirit expressed in an attitude of understanding, discernment, and decision-making."  In the Synodal Church, lay leadership spirituality is very important. How does the encounter-based spirituality of laity leadership function within the Synodal Church? by employing a literature review and descriptive analysis with an emphasis on the spirituality of laity leadership. According to KTI, SG Art. 6:12, "synodality is the modus vivendi et operandi (mission and vocation) of the Church, which walks together." Finding the spirituality of laity leadership in the realization of a synodal church is the research's outcomeAbstrakKaum Awam berperan penting dalam mewujudkan Gereja Sinodal. Di mana berjalan bersama dengan melibatkan semua anggota untuk berperan aktif ambil bagian, terutama kaum awam yang memiliki peran penting dalam mewujudkan Gereja Sinodal. Kurangnya keterlibatan kaum awam menjadi permasalahan yang muncul dalam mengusahakan Gereja Sinodal. Hal ini karena kurangnya pemahaman awam mengenai keterlibatan mereka dalam mewujudkan Gereja Sinodal, karena pandangan mengenai Gereja masih hierarkis, serta kurangnya pemahaman mengenai spiritualitas dalam pelayanan. Chirstophe Pierre (2021) memaparkan bahwa: “sinodalitas melibatkan sebuah spiritualitas penegasan Roh yang diekspresikan dalam sikap memahami, menimbang-nimbang, dan memutuskan.” Spiritualitas kepemimpinan awam memiliki peranan penting dalam Gereja Sinodal. Bagaimana spiritualitas kepemimpinan awam melalui perjumpaan dalam Gereja sinodal? Dengan berfokus pada spiritualitas kepemimpinan awam, menggunakan pendekatan riset pustaka dengan analisis deskriptif. ‘Sinodalitas merupakan modus vivendi et operandi (misi dan panggilan) Gereja, yang berjalan bersama’ (KTI, SG Art. 6:12). Hasil dari penelitian ini adalah menemukan spiritualitas kepemimpinan awam dalam mewujudkan Gereja sinodal.
Ritus Tombor Maghi Sebagai Teks Lokal: Politik Keseharian Pluralisme di Fakfak, Papua Barat Ngabalin, Marthinus
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.11583

Abstract

Studies on ritual have been extensively conducted by scholars in anthropology, notably Victor Turner (1920–1983) and Max Gluckman (1911–1975), who examined the complexity and dynamics of ritual in relation to customs, social conflict, and individual and collective integration among African societies. Within sociology, Emile Durkheim (1858–1917) and Jeffrey C. Alexander (1947) explored the correlation between rites, religious beliefs, and social performance. However, research on ritual specifically addressing interreligious relations through the lens of cultural sociology remains limited. This study examines the Tombor Maghi ritual practiced by the Fakfak community in West Papua as a means of strengthening interfaith relations between Islam and Christianity. Originally performed within the context of marriage, the ritual has undergone a significant expansion of meaning, now encompassing the construction of a mosque (Wewowo Maesjid Maghi), a church (Wewowo Gereja Maghi), an educational institution (Wewowo STT Maghi), and a customary community organization (Wewowo Lembaga Masyarakat Adat Maghi) in Fakfak Regency. This study addresses the ontological question of how the Fakfak community understands the Tombor Maghi ritual in fostering Islamic-Christian relations. A qualitative method employing a realist ethnographic approach was adopted, with data collected through interviews and field observations conducted in Fakfak Regency. The study concludes that the Tombor Maghi ritual continues to serve as a medium of dialogue and a lived text for weaving interfaith relations, particularly within the domain of marriage. Furthermore, the ritual has undergone cultural reproduction, whereby communities of differing religious, ethnic, cultural, and educational backgrounds collaborate in the construction and inauguration of religious and educational facilities. The preservation of this ritual within the fabric of everyday life reflects a politics of pluralism in the Fakfak community, functioning as a collective strategy for cultivating sustainable interreligious harmony.AbstrakStudi tentang ritual banyak dilakukan oleh ahli yang berfokus pada bidang antropologi [Victor Turner [1920-1983]; Max Gluckman [1911-1975] yang mendiskusikan kompleksitas dan dinamika ritual kaitannya dengan adat-istiadat serta konflik dan integrasi sosial dan individual di kalangan masyarakat Afrika. Bidang sosiologi [Emile Durkheim [1858-1917], Jeffrey C Alexander [1947] mendiskusikan korelasi ritus dan keyakinan agama serta pertunjukkan sosial. Namun penelitian mengenai ritual yang berfokus pada studi antaragama jarang dilakukan melalui lensa sosiologi budaya. Maka penelitian ini berfokus pada masyarakat Fakfak di Papua Barat memiliki ritus Tombor Maghi yang dilakukan sebagai bentuk mempererat relasi lintas agama, yaitu Islam dan Kristen. Pelaksanaan ritus ini dilakukan awalnya dilakukan dalam bidang pernikahan, namun mengalami perkembangan makna, sehingga ritus Tombor Maghi dilakukan dalam rangka membangun Mesjid “Wewowo Maesjid Maghi”, Gereja “Wewowo Gereja Maghi”, menopang pendidikan  “Wewowo STT Maghi” dan pembangunan “Wewowo Lembaga Masyarakat Adat Maghi” di Kabupaten Fakfak. Oleh sebab itu, tulisan ini hendak menjawab pertanyaan ontologis tentang apa pemahaman masyarakat Fakfak tentang ritus Tombor Maghi dalam mempererat relasi Islam dan Kristen. Untuk menjawab pertanyaan ini, penelitian dilakukan dengan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi realis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi yang dilaksanakan di Kabupaten Fakfak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ritus Tombor Maghi tetap dilakukan sebagai bagian dari sarana dialog dan teks kehidupan dalam merajut relasi lintas agama, khususnya dalam bidang pernikahan. Selain itu, Tombor Maghi memiliki perkembangan makna atau reproduksi budaya di mana melalui proses pembangunan dan peresmian maesjid, gedung gereja dan lembaga pendidikan, masyarakat yang berbeda agama, budaya, suku, latar belakang pendidikan bekerjasama untuk saling membantu, menolong di mana ritual itu dilestarikan dalam ruang keseharian masyarakat, sehingga hal ini dapat dilihat sebagai  bagian dari politik pluralisme dalam kehidupan keseharian orang Fakfak untuk menciptakan relasi antaragama.
Urgensi Penyiaran Misa Online bagi Orang Muda Katolik Gereja Katedral Santo Petrus Bandung Yehudatama, Alfonso Hedo; Sugiarto, Bernardus Ario Tejo
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10222

Abstract

The Saint Peter's Cathedral in Bandung has continued to broadcast Mass online, both daily and weekly, through the YouTube account of the Communications Commission of the Archdiocese of Bandung, even in the post-COVID-19 pandemic period. After the pandemic, congregants have been allowed to attend Mass in person at the church. Consequently, the online Mass broadcasts from Saint Peter's Cathedral have lost the urgency they once held during the pandemic. Is the online broadcasting of Mass still necessary for the faithful? The researcher has selected the Youth Catholic Community (OMK) at Saint Peter's Cathedral as the subject of the study. This group primarily consists of Generation Z, known for their familiarity with the internet and digital environments. Generation Z is generally more comfortable in the virtual realm than in the physical one. The research employs a quantitative methodology, with data collected via an e-questionnaire using Google Forms, which was distributed to OMK members through WhatsApp. The hypothesis of this study posits that OMK, as representatives of Generation Z, prefer online Mass over in-person attendance.AbstrakGereja Katedral Santo Petrus Bandung di paska pandemi Covid-19 masih menyiarkan misa secara online, baik harian dan mingguan melalui akun Youtube Komisi Komsos Keuskupan Bandung. Di paska pandemi Covid-19, umat sudah diperkenankan hadir kembali merayakan misa di Gereja. Dengan demikian, misa online yang disiarkan Gereja Katedral Santo Petrus Bandung telah kehilangan urgensinya seperti yang ada pada masa pandemi. Apakah penyiaran misa online masih diperlukan oleh umat? Untuk menjawab pertanyaan ini, peneliti memilih OMK (Orang Muda Katolik) di Gereja Katedral Santo Petrus Bandung sebagai subjek penelitian, karena OMK saat ini termasuk di dalam Generasi Z yang dikenal sebagai Generasi Internet dan Generasi Digital. Generasi Z lebih akrab dengan dunia virtual, dibandingkan dengan dunia real. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Peneliti mengumpulkan data melalui e-kuesioner menggunakan aplikasi G-form dan disebarkan kepada OMK melalui WhatsApp. Hipotesis penelitian ini adalah OMK sebagai perwakilan Generasi Z lebih menyukai misa online dibandingkan misa offline.
Perjumpaan Ekumenis dalam Komunitas Doa dengan Nyanyian Taizé (DNTZ) UKDW Yubile, Andreas Agung; Bahari Nadeak, Ferdy Rudy; Wijaya, Krisnandi Candra
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10157

Abstract

Nowadays, the awareness and call to build unity, especially within the Church, is becoming increasingly stronger. The efforts to realize this unity are not only present among theologians or Church leaders but are also lived out by the congregation in even the simplest forms. This article discusses the importance of Christian unity in the ecumenical movement through the Taizé Prayer and Song Community (DNTZ) at Duta Wacana Christian University (UKDW). Based on Jesus’ prayer in John 17:21, this ecumenical movement aims to restore the unity of divided churches through prayer and cross-denominational collaboration. The research method used is descriptive qualitative, employing a literature study approach and complemented by interviews with DNTZ UKDW community activists. The article is enriched with analyses based on Yves Congar’s thoughts on ecumenism and Habermas’ thoughts on the public sphere. This article delves deeper into the ecumenical practices embodied in the DNTZ UKDW community, which serves as a new public space where people from various denominations can pray together and encounter one another. The research findings show that through Taizé songs, this community has successfully created an inclusive, meditative, and spiritual encounter space that transcends denominational and theological boundaries. This unity in prayer demonstrates significant potential in fostering cross-church dialogue and cooperation including social movements, making DNTZ a living and real ecumenical model.AbstrakDewasa ini, kesadaran dan panggilan untuk membangun kesatuan terutama dalam lingkup Gereja semakin kuat. Usaha perwujudan tersebut tidak hanya ada dalam kalangan para teolog atau petinggi Gereja tetapi juga dihidupi oleh umat dalam bentuk sederhana sekalipun. Artikel ini membahas pentingnya kesatuan umat Kristen dalam gerakan ekumenis melalui komunitas Doa dengan Nyanyian Taizé (DNTZ) di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Berlandaskan pada doa Yesus dalam Yohanes 17:21, gerakan ekumenis ini bertujuan memulihkan kesatuan gereja-gereja yang terpecah melalui doa dan kolaborasi lintas denominasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan serta dilengkapi dengan wawancara dari pegiat komunitas DNTZ UKDW. Artikel ini turut diperkaya dengan analisis berdasarkan pemikiran Yves Congar mengenai ekumenisme dan Habermas mengenai ruang publik. Kajian ini hendak menggali lebih dalam tentang praktik ekumenis yang diwujudkan dalam komunitas DNTZ UKDW, yang berfungsi sebagai ruang publik baru di mana umat dari berbagai denominasi dapat berdoa bersama dan saling berjumpa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui nyanyian Taizé, komunitas ini berhasil menciptakan ruang perjumpaan yang inklusif, meditatif, dan spiritual, yang melampaui batasan denominasi dan teologi. Kesatuan dalam doa ini menunjukkan potensi besar dalam membangun dialog dan kerja sama lintas-gereja termasuk gerakan sosial, menjadikan DNTZ sebagai model ekumenis yang hidup dan nyata.
Teknologi Artificial Intelligence dan Pelestarian Lingkungan dalam Perspektif Laudato Si Hermanto, Edyson
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10236

Abstract

The development of technology in today's digital era has grown so rapidly. Artificial intelligence (AI) has great potential to help address global environmental challenges. Pope Francis in his encyclical Laudato Si' explains that humans are called to ecological conversion and take responsibility for the care of the environment. Humans, with the help of AI, can monitor and manage natural resources more efficiently and appropriately, from analyzing climate change to mitigating environmental impacts. This article uses the literature study method by analyzing relevant literature to discuss this article. This article aims to explore the role of AI in environmental conservation, particularly in the context of the teachings of the encyclical Laudato Si', which emphasizes the importance of caring for the earth as a common home. Ultimately, the application of technology should always be guided by ethical and moral values that respect the dignity of nature and human life.AbstrakPerkembangan teknologi dalam era digital saat ini telah berkembang begitu pesat. Kecerdasan buatan (AI) memiliki potensi besar untuk membantu mengatasi berbagai tantangan lingkungan global. Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ menjelaskan bahwa manusia dipanggil untuk melakukan pertobatan ekologis dan bertanggung jawab atas pemeliharaan lingkungan hidup. Manusia dengan bantuan AI, dapat memantau dan mengelola sumber daya alam secara lebih efisien dan tepat guna, dari menganalisis perubahan iklim hingga mitigasi dampak lingkungan. Artikel ini menggunakan metode studi pustaka dengan menganalisis literatur yang relevan untuk membahas artikel ini. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran AI dalam pelestarian lingkungan, khususnya dalam konteks ajaran ensiklik Laudato Si’, yang menekankan pentingnya merawat bumi sebagai rumah bersama. Pada akhirnya, penerapan teknologi harus senantiasa dipandu oleh nilai-nilai etika dan moral yang menghargai martabat alam dan kehidupan manusia.
Peran Kearifan Lokal Tentang Kesucian dalam Tradisi Kultural bagi Perjumpaan Antarpribadi di Tengah Tantangan Masyarakat: sebuah Refleksi Filosofis Menurut Seyyed Hossein Nasr Sili, Adrianus Musu; Udu, Gabrile Mikael Mareska
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10160

Abstract

The phenomenon of religious drunkenness is a major problem in Indonesia. This destruction has an effect on the issue of community order. Seyyed Hossein Nasr's approach provides a framework for thinking about the approach of tradition and the search for holiness to examine the phenomenon of religious drunkenness. This research aims to understand this line of thought by matching it with local wisdom in Indonesia. It shows that the approach of tradition and the search for sanctity helps religious adherents to understand the spiritual values of their religion. Adherents are able to get sacred values from their religion. Faced with a plural society in Indonesia, sacred values are dialogued together. Pancasila as the ideology of the Indonesian state becomes a role model to understand each of these encounters. This research uses a qualitative approach with a literature study of Nasr's relevant works to identify key concepts in his thought.AbstrakFenomena mabuk agama menjadi satu persoalan yang besar Indonesia. Perusakan ini berefek pada persoalan tatanan masyarakat. Pendekataan Seyyed Hossein Nasr memberikan sebuah karangka berpikir tentang pendekatan tradisi dan pencarian kesucian untuk menelaah fenomena mabuk agama. Penelitian ini bertujuan untuk memahami alur pemikiran tersebut dengan memadankan dengan kearifan lokal di Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa pendekatan tradisi dan pencarian kesucian membantu pemeluk agama untuk memahami nilai-nilai spiritualitas agamanya. Pemeluk mampu mendapat nilai-nilai kesucian dari agamanya. Berhadapan dengan masyarakat plural di Indonesia, nilia-nilai kesucian didialogkan secara bersama. Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia menjadi satu panutan untuk memahammi setiap perjumpaan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekataan kualitatif dengan studi literatur terhadap karya-karya Nasr yang relevan untuk mengidentifikasi konsep-konsep kunci dalam pemikirannya.
Mengharmonisasikan Manusia dan Alam: Kajian Filsafat Relasionalitas Armada Riyanto atas Kejadian 2:6-16 Ton, Sekundus Septo Pigang
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10168

Abstract

The writing of this article focuses on Harmonizing Man and Nature: Armada Riyanto's Relationality Philosophy Study on Genesis 2:6-16. The current ecological crisis is caused by human over-exploitation, such as mining, deforestation, factory waste into rivers and plastic waste. The purpose of writing this article is to harmonize nature and humans who have been destroyed by the ecological crisis. The findings are first, the similarity of the word 'Ādam םדא (Human) with the word המדא Adamā (Land) as a relation of "I and Reality (Phenomenon)" gives an understanding that humans come from the land. To destroy the soil is to destroy oneself. Second, the Garden of Eden (ןֶֶדֶג-ןַּג, Gan' Eden) as a space of subjectivity, namely the existential experience of the first human, and the teaching of Eco-Ethics for modern humans to act as subjects within its scope. Third, the tree of knowledge ַןַעהַַּ ַּןַּע (Etz Hada'at) and the river as a "Lifeworld" space have double meanings. The method used is literature review with descriptive analysis and hermeneutic exegesis.AbstrakPenulisan artikel ini berfokus pada Mengharmonisasikan Manusia dan Alam: Kajian Filsafat Relasionalitas Armada Riyanto atas Kejadian 2:6-16. Krisis ekologi yang terjadi saat ini disebabkan ulah manusia yang mengeksploitasi secara berlebihan, seperti pertambangan, deforestasi, limbah pabrik ke sungai dan sampah plastik. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah mengharmonisasikan alam dan manusia yang telah hancur akibat kurasakan ekologi. Temuannya adalah pertama, kesamaan kata 'Ādam אדם (Manusia) dengan kata אדמה Adamā (Tanah) sebagai relasi “Aku dan Realitas (Fenomena)” memberi pemahaman bahwa manusia berasal dari tanah. Merusak tanah berarti merusak diri sendiri. Kedua, Taman Eden (גן־ ֶעֶ דֶן , Gan 'Eden) sebagai ruang subjektivitas yakni pengalaman eksistensial manusia pertama, dan ajaran Eco-Etika bagi manusia modern untuk bertindak sebagai subjek dalam ruang lingkupnya. Ketiga, pohon pengetahuan ֵעֵץ ה ד עת (Etz Hada'at) dan sungai sebagai ruang “Lifeworld” memiliki double makna. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan analisis deskriptif dan hermeneutika eksegesis.