cover
Contact Name
Haisyah
Contact Email
gungun.yudhistira.kalimasada@gmail.com
Phone
+6287774552655
Journal Mail Official
gungun.yudhistira.kalimasada@gmail.com
Editorial Address
Blok Kedung Gede RT. 13, RW 003 Desa Bode Lor Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat
Location
Kab. cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
YUDHISTIRA : Jurnal Yurisprudensi, Hukum dan Peradilan
Published by CV. Kalimasada Group
ISSN : -     EISSN : 29887658     DOI : 10.59966
Core Subject : Social,
Yudhistira: Jurnal Yurisprudensi, Hukum dan Peradilan diterbitkan oleh CV Kalimasada. Yudhistira bertujuan untuk menjadi platform peer-review dan sumber informasi yang otoritatif mengenai studi yurisprudensi, hukum dan peradilan. Ruang lingkup Yudhistira adalah literatur yang bersifat analitis, obyektif, empiris, dan kontributif terhadap dinamika dan perkembangan studi hukum, khususnya di Indonesia. Yudhistira menerima tulisan ilmiah dalam berbagai topik mulai dari studi penelitian, putusan pengadilan, kajian teori, tinjauan pustaka, konsultasi filosofis dan kritis yang bersifat analitis, obyektif, dan sistematis. Namun, dari berbagai macam topik yang dapat dipilih oleh para peneliti, Yudhistira memberikan perhatian lebih pada makalah yang berfokus pada sosiologi hukum, hukum yang hidup, filsafat hukum, sejarah hukum nasional, hukum adat, studi literatur, hukum internasional, interdisipliner, dan studi empiris. JYudhistira: Jurnal Yurisprudensi, Hukum dan Peradilan merupakan media yang didedikasikan bagi insan peradilan, akademisi, praktisi, dan ahli hukum dalam mengaktualisasikan gagasan penelitian, pengembangan, dan analisis hukum dan peradilan. Yudhistira: Jurnal Yurisprudensi, Hukum dan Peradilan terbit empat kali dalam setahun yaitu pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 127 Documents
Analisis Yuridis Kepemilikan Pohon Pepaya yang Ditanam Tanpa Izin di Area Pabrik dan Implikasi Penebangannya Gregorius Fabius Caesar Niki; Gunawan Widjaja
YUDHISTIRA : Jurnal Yurisprudensi, Hukum dan Peradilan Vol. 4 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Cv. Kalimasada Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59966/yudhistira.v4i1.2682

Abstract

Penelitian ini mengkaji status hukum pohon pepaya yang ditanam tanpa izin di atas tanah milik perusahaan serta konsekuensi hukum dari penebangan pohon-pohon tersebut oleh petugas keamanan pabrik. Dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif yang menggabungkan pendekatan yuridis dan konseptual, penelitian ini menganalisis ketentuan-ketentuan yang relevan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) dan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA No. 5/1960). Temuan menunjukkan bahwa, berdasarkan prinsip aksesie (accessie) sebagaimana diatur dalam Pasal 500, 571, dan 588 KUH Perdata, benda-benda yang tumbuh secara permanen di atas tanah menjadi milik pemilik tanah secara otomatis berdasarkan ketentuan hukum. Meskipun UUPA mengakui prinsip pemisahan horizontal, penerapannya mensyaratkan adanya dasar hukum yang sah seperti perjanjian tertulis, yang tidak ada dalam kasus ini. Akibatnya, penanam yang tidak berizin tidak memiliki klaim kepemilikan yang dapat ditegakkan secara hukum atas pohon-pohon tersebut. Penebangan yang dilakukan oleh petugas keamanan pabrik tidak termasuk dalam kategori perbuatan melawan hukum berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata, karena hal tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan hak perusahaan sebagai pemilik tanah yang sah. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kejelasan hukum terkait sengketa hak milik dalam kerangka normatif ganda sipil-agri di Indonesia
Analisis Yuridis Tindak Pidana Peredaran Pupuk Tidak Terdaftar dalam Perspektif Hukum Positif Indonesia Dita Dwi Angela Putri; Ismail Marzuki
YUDHISTIRA : Jurnal Yurisprudensi, Hukum dan Peradilan Vol. 4 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Cv. Kalimasada Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59966/yudhistira.v4i2.2720

Abstract

The distribution of unregistered fertilizers constitutes a criminal offense in the agricultural sector that may cause financial losses to farmers, reduce agricultural productivity, and threaten national food security. This study aims to analyze the legal regulation of criminal acts involving the distribution of unregistered fertilizers under Indonesian positive law and to examine the criminal liability of individuals or business entities that produce or distribute fertilizers without complying with statutory requirements. This research employs a normative legal research method using statutory, conceptual, and case approaches. The legal materials consist of primary, secondary, and tertiary legal sources analyzed qualitatively through library research. The findings indicate that the regulation of fertilizer distribution in Indonesia is governed by Law Number 22 of 2019 concerning Sustainable Agricultural Cultivation Systems and its implementing regulations. Every fertilizer distributed in Indonesia must comply with quality standards, be officially registered, and obtain a valid distribution permit. Individuals or business entities that produce or distribute unregistered fertilizers may be held criminally liable if all elements of the offense stipulated by the applicable legislation are fulfilled. However, law enforcement in this field still faces several challenges, including weak supervision, limited institutional resources, and low legal awareness among business actors. Therefore, stronger supervision, improved inter-agency coordination, and greater legal compliance are necessary to prevent the circulation of unregistered fertilizers and to support the realization of a sustainable agricultural cultivation system.
Prinsip Pertanggungjawaban Pidana bagi Influencer yang Mempromosikan Produk Kosmetik Ilegal di Indonesia milda atia; Sulistina
YUDHISTIRA : Jurnal Yurisprudensi, Hukum dan Peradilan Vol. 4 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Cv. Kalimasada Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59966/yudhistira.v4i2.2722

Abstract

The prevalence of digital promotions for illegal cosmetics involving influencers raises legal issues regarding criminal liability for promoting products that potentially endanger consumers. This study aims to analyze the principles of criminal liability for influencers promoting illegal cosmetic products in Indonesia, as well as to examine the types of offenses and legal basis for their imposition. The research method used is normative legal research with a statutory and conceptual approach, through an analysis of relevant regulations such as the Consumer Protection Law, the Electronic Information and Transactions Law, and health provisions. The results indicate that influencers can be held criminally liable if proven guilty, whether intentional or negligent, especially if they knew or reasonably suspected that the product being promoted did not have a distribution permit. Furthermore, influencers' involvement in the promotional distribution chain strengthens their position as legal subjects subject to criminal sanctions. The implications of this study emphasize the importance of improving legal literacy for influencers and the need for strengthened government oversight of digital promotions to protect consumers from the risks of using dangerous illegal cosmetics.
Kebijakan Penguatan Tanggung Jawab Hukum Pemilik Hewan Penular Rabies dalam Menjamin Perlindungan Masyarakat di Provinsi Bali Made Adi Widnyana
YUDHISTIRA : Jurnal Yurisprudensi, Hukum dan Peradilan Vol. 3 No. 4 (2025): Desember
Publisher : Cv. Kalimasada Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59966/yudhistira.v3i4.2724

Abstract

Rabies remains one of the most significant zoonotic diseases threatening public health in Bali Province, Indonesia. The close interaction between local communities and rabies-transmitting animals, particularly dogs, combined with the low level of legal compliance among pet owners, continues to contribute to animal bite incidents and rabies transmission. This study aims to examine the legal responsibility of rabies-transmitting animal owners within the Indonesian legal system, evaluate the implementation of Bali Provincial Regulation Number 15 of 2009 concerning Rabies Control, and formulate a strengthened legal responsibility model capable of providing more effective public protection. This research employs normative legal research using statutory, conceptual, and case approaches. Primary legal materials consist of national and regional legislation governing animal health and rabies control, while secondary legal materials include scientific journals, legal textbooks, and previous research. The collected materials were analyzed qualitatively through legal interpretation and prescriptive legal analysis. The findings reveal that although legal obligations of pet owners have been regulated in various national and regional legal instruments, their implementation remains ineffective due to weak law enforcement, limited public legal awareness, and the predominance of informal family-based dispute resolution following animal bite incidents. This study proposes a collaborative legal responsibility model integrating local government, customary villages, veterinary authorities, and community participation through administrative sanctions, civil liability, criminal responsibility, and customary law enforcement. Such an integrated approach is expected to strengthen public legal protection while supporting the long-term realization of a rabies-free Bali.
Analisis Yuridis Pembentukan Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih sebagai Instrumen Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Efrilia Yusri; Muhammad Islahuddin
YUDHISTIRA : Jurnal Yurisprudensi, Hukum dan Peradilan Vol. 4 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Cv. Kalimasada Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59966/yudhistira.v4i2.2754

Abstract

The Merah Putih Village and Sub-district Cooperative (KDKMP) is a government policy directed at strengthening the community economy through cooperative institutions based on the principles of family values, mutual cooperation, and economic self-reliance. The establishment of KDKMP is part of efforts to empower the economy of village and sub-district communities, yet its implementation requires an assessment of the suitability of its legal basis, formation mechanism, and legal standing within the Indonesian legal system. This study aims to analyze the juridical basis for the establishment of KDKMP and examine its position as an instrument of community economic empowerment. The method used is normative legal research with a statute approach and a conceptual approach, employing primary, secondary, and tertiary legal materials analyzed qualitatively and systematically. Research findings indicate that the establishment of KDKMP is grounded in Article 33, Paragraph (1) of the 1945 Constitution, Law Number 25 of 1992 concerning Cooperatives, and Presidential Instruction Number 9 of 2025. KDKMP serves as an instrument for community economic empowerment by expanding economic access, enhancing business self-reliance, and strengthening local economic potential. The study also identifies a need to strengthen regulations and institutional frameworks to ensure legal certainty and support the optimal implementation of KDKMP.
Perkawinan Anak di Kelurahan Argasunya Kota Cirebon: Faktor Penyebab, Implikasi, dan Analisis Maqasid al-Syari’ah Pasca Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Hartono
YUDHISTIRA : Jurnal Yurisprudensi, Hukum dan Peradilan Vol. 3 No. 4 (2025): Desember
Publisher : Cv. Kalimasada Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59966/yudhistira.v3i4.2779

Abstract

Perkawinan anak masih menjadi persoalan struktural di Indonesia meskipun Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 telah menaikkan batas usia minimum perkawinan menjadi 19 tahun bagi kedua calon mempelai. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor penyebab perkawinan anak di Kelurahan Argasunya Kota Cirebon, mengidentifikasi implikasinya bagi pelaku, serta membaca temuan tersebut melalui kerangka yuridis pascareformasi hukum dan kerangka maqāṣid al-syarī'ah. Penelitian menggunakan pendekatan yuridis-empiris dengan desain studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara semiterstruktur terhadap 21 informan yang terdiri atas 8 pelaku perkawinan anak, 10 orang tua, dan 3 tokoh agama serta aparat kelurahan, dilengkapi dokumentasi register nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Harjamukti periode 2016–2018. Data dianalisis dengan teknik analisis tematik melalui tahapan reduksi, pengodean, kategorisasi, dan verifikasi, serta divalidasi melalui triangulasi sumber dan member check. Hasil penelitian menunjukkan empat faktor penyebab yang saling berkelindan, yaitu tekanan ekonomi keluarga, rendahnya kesadaran pendidikan orang tua, konstruksi adat-budaya yang memandang perawan tua sebagai aib, dan tekanan lingkungan sosial berupa peniruan kolektif. Implikasi yang terdokumentasi mencakup instabilitas psikologis, penghentian pendidikan, ketergantungan ekonomi pada keluarga asal, dan risiko kesehatan reproduksi. Analisis maqāṣid al-syarī'ah menunjukkan bahwa praktik tersebut mencederai ḥifẓ al-nafs, ḥifẓ al-'aql, dan ḥifẓ al-nasl sehingga argumen sadd al-żarī'ah untuk mencegah zina tidak dapat dibenarkan karena mafsadat yang ditimbulkan lebih besar daripada maslahat yang dituju. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kenaikan batas usia perkawinan belum menyentuh akar sosio-ekonomi persoalan dan berpotensi menggeser praktik ke perkawinan tidak tercatat apabila tidak disertai intervensi nonyudisial yang terpadu.
Kepemimpinan Perempuan dalam Keluarga: Perbandingan Konstruksi Peran Perspektif Barat dan Hukum Keluarga Islam Hartono
YUDHISTIRA : Jurnal Yurisprudensi, Hukum dan Peradilan Vol. 4 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Cv. Kalimasada Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59966/yudhistira.v4i1.2780

Abstract

Kepemimpinan perempuan dalam keluarga merupakan persoalan yang terus diperdebatkan karena bertemunya dua kerangka normatif yang berbeda titik tolaknya, yaitu kerangka kesetaraan gender yang berkembang di Barat dan kerangka fikih munakahat yang bertumpu pada konsep qiwāmah. Penelitian ini bertujuan membandingkan konstruksi peran kepemimpinan perempuan dalam keluarga menurut kedua perspektif tersebut, mengidentifikasi tantangan yang menyertainya, dan merumuskan titik temu yang dapat dijadikan dasar pengembangan hukum keluarga Islam di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan komparatif-normatif. Sumber primer meliputi Al-Qur'an, kitab tafsir dan fikih klasik, Kompilasi Hukum Islam, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, serta karya rujukan utama kajian kepemimpinan gender di Barat, sedangkan sumber sekunder berupa artikel jurnal nasional dan internasional bereputasi. Data dianalisis dengan teknik analisis isi komparatif melalui enam dimensi pembanding, yaitu dasar legitimasi, sumber otoritas, ruang lingkup peran, mekanisme pengambilan keputusan, hambatan utama, dan implikasi hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perspektif Barat membangun kepemimpinan keluarga di atas prinsip otonomi individu dan kontrak kesetaraan, sedangkan hukum keluarga Islam membangunnya di atas prinsip amanah dan tanggung jawab yang bersumber dari syariat. Perbedaan titik tolak tersebut tidak melahirkan pertentangan pada tataran praktis karena keduanya bertemu pada tiga hal, yakni penolakan terhadap dominasi, pengakuan atas kapasitas perempuan sebagai pengambil keputusan, dan orientasi pada kesejahteraan keluarga. Pembacaan qiwāmah berbasis maqāṣid al-syarī'ah menempatkannya sebagai tanggung jawab fungsional yang dapat berpindah sesuai kemampuan, bukan sebagai keistimewaan gender yang melekat permanen pada suami. Penelitian ini merekomendasikan penguatan rumusan kemitraan suami istri dalam pembaruan Kompilasi Hukum Islam dan penajaman materi bimbingan perkawinan

Page 13 of 13 | Total Record : 127