cover
Contact Name
Hendra Afiyanto
Contact Email
hendra.iainta11@gmail.com
Phone
+6285935095599
Journal Mail Official
jurnalkontemplasi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mayor Sujadi Timur No. 46 Tulungagung 66221, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kab. tulungagung,
Jawa timur
INDONESIA
Kontemplasi : Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
AIM Kontemplasi : Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin aims to strengthen transdisciplinary perspective on issues related to Islam and Muslim societies. The focus of this paper is an attempt to actualize a better understanding of the Islamic theology, hermeneutic, sociology, philosophy, communication, hadith, and else, both locally and internationally through the publication of articles, research reports, and book reviews. SCOPE Kontemplasi : Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin specializes in the study of Islam and Muslim societies and aims to strengthen transdisciplinary studies on Islam and Muslim societies. Its principal concern includes research development and knowledge dissemination on issues related to Islamic theology in contemporary Muslim societies reserve as the crucial scope of the journal.
Articles 190 Documents
Diskursus Problematika Jilbab Perspektif Yunan Yusuf Dalam Tafsir Al-Izzah Ghoziah, Cima
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 11 No 2 (2023)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2023.11.2.235-254

Abstract

This paper will discuss Yunan Yusuf's perspective on the hijab in his interpretation of Al-Izzah while seeking answers to social issues such as women wearing the hijab still being victims of sexual harassment, the hijab being considered unfashionable by certain groups, and the hijab being seen as a hindrance to career advancement. This research is a literature-based study (library research) using a descriptive analysis method with a sociological approach. The results of this study indicate that victims of sexual harassment among women who wear the hijab have two possibilities. Yunan Yusuf explains that women who are still victims of sexual harassment may be wearing a hijab that has sexual appeal, or it could be due to men who cannot control their desires and should be advised to restrain their carnal desires to avoid seducing or disturbing women who already wear the hijab or dress according to Islamic Sharia. Furthermore, concerns of women hesitating to wear the hijab due to unfashionable reasons have been addressed with the emergence of many stores and fashion designers selling clothing that adheres to Islamic Sharia while keeping up with contemporary fashion trends. Lastly, the discussion regarding discrimination against women wearing the hijab in the workplace, leading some women to reluctantly remove their hijabs, is not justified. First, they would be violating religious rules. Second, they are protected by the law. Third, they can seek alternative employment while trusting that Allah has promised sufficiency to His faithful servants who rely on Him.
A Kaidah-kaidah Penafsiran dan Ilmu-ilmu Al-Qur'an cici, cici noviana
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 11 No 2 (2023)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2023.11.2.215-234

Abstract

Pengkajian terhadap kisah-kisah dalam al-Quran selama ini terfokus pada penggalian aspek bukti kesejarahannya. Hal ini dilakukan untuk membuktikan keberadaan kisah-kisah dalam al-Quran sebagai fakta sejarah yang benar-benar terjadi. Disisi lain, sering kali perhatian terhadap ‘ibrah atau pelajaran yang terkandung dalam kisah justru kurang, bahkan sampai terlalaikan. Mutawalli as-Sya’rawi datang dengan menawarkan pemahaman terhadap kisah dalam al-Quran, tidak hanya dengan menggali ‘ibrahnya saja, melainkan juga menghadirkan kisah serupa pada setiap tempat dan waktu. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analisis. Apa yang ditawarka oleh as-Sya’rawi tertuang dalam kaidah bahwa suatu kisah yang tidak menyebutkan nama asli tokohnya, maka kisah tersebut akan terulang dimanapun dan kapanpun. Seperti firaun yang dzalim, dikdator, dan menuhankan dirinya. Begitu pula Dzul Qarnain, yang baik dan memberdayakan orang lemah. Sosok-sosok seperti dua tokoh ini akan terusada di dalam kehidupan, dimanapun dan kapanpun.
NALAR ‘IRFANI DALAM PENAFSIRAN: STUDI TAFSIR SUFI ‘ISYARI SAHL AL-TUSTARY Azmin, Sirojul
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 11 No 2 (2023)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2023.11.2.281-304

Abstract

Al-Qur'an is a sacred doctrine for the Islamic community. It requires sincere effort and sound reasoning to delve into its interpretative meanings. In the epistemology of Islamic scholarship, three types of reasoning are known: bayani, Irfani, and burhani. Irfani reasoning comprises a set of epistemological principles that have garnered much debate, including strong opposition, with some figures vehemently prohibiting its use in interpreting the meanings of the Qur'an. This opposition aims to prevent the potential deviation from Islamic law, especially in matters of creed. Sahl al-Tustari is a renowned figure considered to be qualified in interpreting the Qur'an using Irfani or ishari reasoning. He is regarded as a moderate ishari figure, minimizing the likelihood of misinterpretation. The epistemology of Irfani reasoning has been practiced since the time of the Prophet Muhammad and has received direct approval from him. Using a descriptive-analytical method, this writing attempts to present and analyze the discourse on Sufi ishari commentary, along with the associated pros and cons.
Double Burden (Dual Roles) of Women in Domestic and Public: Perspectives Surah Al-Qasas 23 and Surah Al-Ahzab 33 Halimah, Ulfatul
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 11 No 2 (2023)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2023.11.2.305-321

Abstract

The term "Double Burden" refers to a situation in which women simultaneously hold two or more roles as wives, mothers, and employees outside the house, alongside their traditional roles within the household. In this framework, a conflict arises between family responsibilities and employment, creating a dilemma faced by many working women. In Islam, there are various perspectives on the roles of women, including whether they should work outside the house or focus more on domestic duties. This article discusses the two roles performed by women, both in the domestic and public spheres. There are two Quranic verses that indicate different point of views: Surah Al-Qasas: 23 demonstrates women's ability to work outside the home, while Surah Al-Ahzab: 33 suggests that women are better off engaging in activities within the home. The result is the domestic and public roles can both function with the commitment between partners and in accordance with their respective abilities to fulfill their responsibilities.
Impelementasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyah: Upaya Membangun Sikap Tasamuh Generasi Milenial dan Generasi Z Rizayanti, Hana; Waharjani, Waharjani; Perawironegoro, Djamaluddin
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2024.12.1.127-146

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai Islam wasathiyah. Urgensi penelitian pada artikel ini yaitu memberikan penjelaskan implementasi nilai-nilai Islam wasathiyah yang kemudian berkontribusi dalam membangun sikap tasamuh. Terlebih fokus penelitian ini berupa kajian tentang nilai yang terkandung dalam Islamasathiyah dalam membangun sikap tasamuh pada generasi milenaial dan generazi Z. Allah Swt. menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan perempuan, lalu menjadikan mereka bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan tujuan untuk saling mengenal bukan untuk bertikai. Mengakui keberagaman merupakan bukti keimanan manusia. Namun, realitanya tidak semua menerima dan memahmi makna keberagaman. Sungguh menyedihkan keadaan masa kini di mana menjadi sangat umum aneka tuduhan kepada sesama muslim hanya karena yang dituduh berbeda pendapat dengan yang menuduh. Sungguh, toleransi telah hilang atau memudar dari umat Islam. Maka, Islam wasathiyah adalah solusi untuk menumbuhkan sikap tasamuh, mengakui, menghargai, dan menghormati satu sama lain. Dengan adanya implementasi nilai-nilai Islam wasathiyah akan lahir generasi yang menjunjung tingggi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, implementasi nilai-nilai Islam wasathiyah dalam membangun sikap tasamuh meliputi: (1) nilai ta’aruf, (2) nilai ta’awun, (3) nilai tawassuth, (4) nilai syura, (5) nilai tatawur wa ibtikar.
Integrasi Mitos Dan Religi: (Mitologi Jawa dan Religi Islam dalam Ritual Ruwatan Pernikahan oleh Masyarakat Desa Jombok Ngoro Jombang Jawa Timur) Musonnif, Ahmad
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2024.12.1.147-163

Abstract

Masyarakat Jawa memiliki tradisi warisan leluhur yang sampai sekarang masih dlestarikan yaitu ritual ruwatan. Ritual ini adalah sarana masyarakat Jawa untuk memohon kepada Tuhan agar terhindar dari bencana. Salah satu masyarakat Jawa yang masih melakukan ini adalah masyarakat Desa Jombok Ngoro Jombang Jawa Timur. Di antara ritual ruwatan yang dilakukan oleh masyarakat desa Jombok adalah ruwatan perkawinan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adaalaah wawancara dan penellusuran literatur. Penelitian menunjukkan bahwa Ritual ruwatan juga dilakukan oranng tua untuk anaknya yang akan menikah, meskipun juga dilakukan untuk hal-hal yang lain. Prosesi ritual tersebut membutuhkan beberapa barang-barang yang digunakan sebagai simboolisasi harapan kepada Tuhan. Bagi masyarakat desa Jombok setiap barang memiliki makna filosofisnya seendiri. Ritual ruwatan tersebut merupakan perpaduan antara mitos Jawa Hindu dengan latar belakaan kisah Bathara Kala yang mencari korban disertai religi Islam dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT yang disertai bertawasul dengan Nabi Muhammad, malaikat Jibril dan surat al-Ikhlas. Proses integrasi ini menunjukkan bahwa orang Jawa sangat pandai meramu ajaran leluhur yang bernuansa Hindu-Kapitayan dengan nilai-nilai keislaman.
Kritik Ibn Hajar Terhadap ‘Ikrimah Perawi Khawarij Dalam Sahih Al-Bukhari As'ad, As'ad Kholilurrahman
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2024.12.1.1-24

Abstract

Kelompok-kelompok yang memiliki sekte aneh dan unik selalu menjadi sasaran kajian penting dalam kajian keislaman, terutama dalam ilmu hadis. Ulama memberikan identitas kepada kelompok-kelompok ini sebagai ahl al-ahwa wa al-bida’ (orang yang mengikuti hawa nafsunya dan membuat sesuatu yang baru dalam perkara agama). Salah satu periwayat adalah ‘Ikrimah Maula ibn ‘Abbas, yang termasuk dalam kelompok Khawarij, dan hadisnya termaktub dalam kitab Sahih al-Bukhari, sebuah kitab yang sangat terkenal atas keautentikannya. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengkaji hal ini dengan tujuan untuk memahami apa dan bagaimana priwayat ahl bid’ah dapat diterima hadisnya. Selain itu, perlu juga untuk melihat tanggapan Ibn Hajar terhadap periwayat ‘Ikrimah ini. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan atau (library research). Sumber datanya adalah karya-karya Ibn Hajar. Dengan melalui serangkaian masalah dan metode yang digunakan, menghasilkan kesimpulan bahwa; ada tiga tuduhan yang dipaparkan oleh Ibn Hajar pertama, dituduh berbohong, kedua dituduh berpaham khawarij, ketiga dituduh suka memina-minta, kesemuanya merupakan tuduhan yang tidak ada bukti.
Makar Kenabian Dalam Al-Qur’an: Telaah Surat Al-Anbiya’ Ayat 57 Menurut Ibnu ‘Ashur Ramadhan, Ahnaf Gilang
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2024.12.1.61-84

Abstract

Makar merupakan salah satu perbuatan yang berusaha dan merencakan sesuatu guna berbuat kerusakan atau kejahatan secara sembunyi sembunyi. Jika dilihat sekilas dari pengertian secara etimologi makar ini hanya berkonotasi pada hal negatif, namun pada hakikatnya jga mengandung makna yang positif, hal ini terlihat Ketika lafaz makar ini disandingkan dengan Allah sebagai subjeknya. Dan juga terjadi pada kisah Nabi Ibrahim dengan umatnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan termasuk ke dalam penelitian (library research). kepustakaan yaitu pengambilan data dari buku buku yang sesuai. Hasil dari penelitian ini bahwa dalam tafsir tahrir wa tanwi>r kata makar yang memiliki makna mirip dengan kata Kayd dalam kisah nabi Ibrahim memiliki makna yang positif, yakni berusaha memperdayai umatnya dengan tujuan membuktikan kebenaran allah terhadap berhala yang selama ini mereka sembah tidak bisa berkendak apa apa.
Konsep Al-‘Ilm Al-Ushuliy: Signifikansi Ushul Fiqh Dalam Paradigma Kesatuan Ilmu Majid, Ilham
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2024.12.1.49-60

Abstract

Ushul fiqh as a discipline that constructs the basic principles of Islamic law has a deep significance for the paradigm of unity of Sciences. Conceptually, ushul fiqh is not only concerned with methods of legal reasoning but also serves as a philosophical foundation and practical reform in uniting the various branches of Islamic science. The unity of knowledge enables the integration of Islamic legal principles with global issues, social dynamics, contemporary problems and creates harmony between reason and revelation. Thus, a holistic understanding of ushul fiqh not only provides a theoretical basis for Islamic legal thought, but also enriches the people's insight in responding to the dynamics of the times.
Signifikansi Pemilihan Kata Qatilu Dalam Qs. At-taubah [9]: 29 (Studi Analisis Hermeneutika Ma’na Cum Maghza) Hamid, Rahman
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2024.12.1.164-173

Abstract

Penafsiran QS. at-Taubah [9]: 29 khususnya kata Qatilu dalam berbagai kitab tafsir klasik cenderung fokus pada pemaknaan tekstual, sehingga menimbulkan pemaknaan yang radikal, seperti beberapa kelompok yang mengatasnamakan agama Islam memahami ayat tersebut sebagai perintah untuk berperang dan membunuh musuh umat Islam dan menjadi landasan aksi terror yang mereka lakukan. Oleh sebab itu, perlu adanya rekosntruksi pemaknaan holistic agar pesan utama yang terdapat dalam QS. at-Taubah [9]: 29 dapat terungkap secara detail sesuai perkembangan zaman. Metode dalam penelitian ini menggunakan library research dengan tujuan merekonstruksi makna yang terdapat dalam QS. at-Taubah {[9]: 29 menggunakan ma’na cum magzha. Metode penafsiran magna cum magzha memadukan antara teks dan konteks, serta masa lalu dan masa kini sehingga menghasilkan penafsiran yang kontekstual. Hasilnya, penggunaan kata Qatilu di ayat ini mengandung dua pesan utama. Pertama, pergeseran cara (worldview), yakni dari perintah perang dan membunuh yang bersifat tekstual menuju sikap siaga kaum muslimin terhadap ancaman yang datang kapan saja. Kedua, keharusan untuk selalu siaga dan siap dalam menghadapi sesuatu yang mengancam dan membahayakan kedaulatan dan kebebasan.