Kontemplasi : Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
AIM Kontemplasi : Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin aims to strengthen transdisciplinary perspective on issues related to Islam and Muslim societies. The focus of this paper is an attempt to actualize a better understanding of the Islamic theology, hermeneutic, sociology, philosophy, communication, hadith, and else, both locally and internationally through the publication of articles, research reports, and book reviews. SCOPE Kontemplasi : Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin specializes in the study of Islam and Muslim societies and aims to strengthen transdisciplinary studies on Islam and Muslim societies. Its principal concern includes research development and knowledge dissemination on issues related to Islamic theology in contemporary Muslim societies reserve as the crucial scope of the journal.
Articles
190 Documents
Pemikiran dan Gerakan Tasawuf Kerukunan Tuan Guru Batak di Kabupaten Simalungun
Lubis, Muallim Lubis
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/kontem.2024.12.1.106-126
Abstrak Kerukunan dalam masyarakat multikultural adalah satu hal yang harus terjaga. Ditemukan adanya penanaman kerukunan di tengah masyarakat multiagama dan Etnis melalui nilai-nilai tasawuf di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, tokohnya adalah seorang Mursyid Tarekat yaitu Tuan Guru Batak, melalui Rumah Sufi dan Peradaban Pondok Pesulukan Serambi Babussalam yang didirikannya. Pada kasus di atas perlu kiranya untuk digali seberapa jauh keberhasilan, dampak dan tantangan dari pemikiran dan gerakannya di tengah masyarakat Simalungun. Adapun metode yang digunakan adalah metode kualitatif, yang mana sumber primernya adalah wawancara, kutipan pembicaraan langsung dari tokoh yang dimuat di media online, baik media lokal maupun nasional. Adapun hasil dari tulisan ini menunjukan bahwa pemikiran dan gerakan tasawuf kerukunan yang diusung Tuan Guru Batak terbilang berhasil, dilihat dari temuan selama penelitian, dimana para tokoh lintas agama dan pemeluknya datang ke Rumah Sufi dan Peradaban untuk belajar bersama tentang kerukunan lewat nilai-nilai tasawuf yang dipimpin oleh Tuan Guru Batak.
Kontekstualisasi Makna Bid'ah Dalam Hadis Perspektif Asy-Syatibhi Dan Hasyim Asyari: Analisis Kitab Al-I'tisham Dan Risalah Ahlusunnah Wal Jam'ah
Hasym, Jumiati Binti;
Noorhidayati, Salamah;
Ridho, Muhamad;
Hidayat, Nurul;
Abdul Rahim, Mohd Hisyam Bin
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/kontem.2024.12.1.25-48
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman Asy-Syatibhi dan Hasyim Asyari tentang makna bid'ah dalam hadis, menganalisis konteks pemahaman dan kontekstualisasinya serta pemberdayaan pemahaman Asy-Syatibhi dan Hasyim Asyari tentang bid'ah dalam konteks kekinian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif metode deskriptif yang bersifat kepustakaan (Library Research) dengan menggunakan dua sumber data yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer berupa kitab Al-I'tisham dan kitab Risalah Ahlusunnah Wal Jam'ah, sedangkan sumber data sekunder berupa buku, jurnal, karya ilmiah lain dari penelitian terdahulu atau literatur lain yang berkaitan dengan pokok penelitian serta aplikas hadis lembut. Dalam melakukan proses analisis data, penulis menggunakan teori kontekstualis (pendekatan kontekstualis) yang ditawarkan oleh Abdullah Saeed. Penelitian ini menemukan bahwa Asy-Syatibhi dan Hasyim Asyari memiliki perbedaan pemahaman dalam memahami makna bid'ah yang ditulis dalam kitab Al-I'tisham dan Risalah Ahlusunnah Wal Jam'ah Perbedaan Asy-Syatibhi dan Hasyim Asyari diawali dari lafad hadis “kullu bid' atin dhalalah”dan lafad “man ahdatsa fii amrina”.. Asy-Syatibhi dalam memaham bid'ah secara literal terhadap hadis bid'ah dengan fokus hanya kepada lafaz serta tafsiran asal dan keumuman teks. Sedangkan Hasyim Asyari memahami bid'ah dengan tidak melihat keumuman teks tetapi, mentakhsis dengan teks yang lain untuk menemukan makna yang lebih luas.
Kontruksi Sosial Tradisi Zikir Fida’ Pada Bulan Suro (Studi Living Qur’an dan Sunnah di Desa Wateskroyo Kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung)
Saepuloh, Ahmat
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/kontem.2024.12.1.174-197
Tradisi zikir fida>’ pada bulan Suro oleh masyarakat desa Wateskroyo bukan sekedar tradisi keagamaan semata. Akan tetapi itu merupakan salah satu bentuk wajah al-Qur’an dan Sunnah yang hidup di masyarakat akibat penafsiran dan reformulasi progresif terhadap al-Qur’an dan Sunnah. Permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini: pertama, bagaimana model variasi living Qur’an dan sunnah yang ada dalam tradisi zikir fida’ bulan Suro? Kedua, bagaimana kontruksi sosial pembacaan zikir fida’ bagi masayarakat desa Wateskroyo? Fenomena ini akan dianalisis menggunakan teori kontruksi social-nya Berger. Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari penelitian ditemukan enam ragam living Qur’an dan Sunnah dalam tradisi zikir fida>’ pada bulan Suro di desa Wateskroyo. Tradisi pembacaan zikir fida>’ terbentuk karena adanya tiga momen dialektik. Pertama, ekternalisasi, adanya budaya nahdliyin yang kental di masyarakat serta dogma dan ajaran tokoh agama yang membentuk. Kedua, Objektifasi. Rasa tenang dan harapan mendapatkan berkah serta mendapatkan ampunan serta tujuan dari zikir fida>’ sendiri merupakan daya tarik khusus yang bisa membuat tradisi tersebut masih tetap berlangsung. Ketiga, internalisasi. Masyarakat memiliki respon yang berbeda-beda terkait tradisi zikir fida>’ pada bulan Suro ini. Bagi yang menerima dan menjalankan tradisi ini juga mempunyai makna yang subjektif dan variatif. Ada yang memaknainya sebagai media untuk menarik masyarakat untuk memakmurkan masjid, media melatih masyarakat agar suka berzikir, momen silaturrahmi antar warga, melatih jiwa kedermawanan, momen mendekatkan diri kepada Allah Swt, perantara mendapatkan ampunan dan perantara untuk ketenangan hati.
Kedudukan Linguistik Dalam Penafsiran Al-Qur’an: Telaah Pemikiran Āmīn Al-Khūlī Dan Naṣr Hāmid Abū Zaid
Irfani, Muhammad
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/kontem.2024.12.1.85-105
Pengkaji al-Qur’an mengakui bahwa muncul keragaman metode penafsiran untuk menginterpretasikan teks al-Qur’an. Adalah linguistik salah satu metode penafsiran yang digunakan untuk menafsirkan al-Qur’an. Nyatanya kajian linguistik menjadi tahapan dalam penafsiran sebagaimana yang dinyalakan oleh Amīn al-Khūlī dan Naṣr Hāmid Abū Zaid dalam melakukan pembaruan dalam metode penafsiran. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan (library reseach) dengan menggunakan sumber berupa buku, majalah, jurnal atau tulisan yang berkaitan dengan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Amīn al-Khūlī dan Naṣr Hāmid Abū Zaid menjadikan linguistik menjadi pijakan yang utama dalam menemukan penafsirsan teks al-Qur’an, dimana al-Khūlī mendudukan kajian sastra sebagai prioritas pemerolehan makna, yang dalam hal ini kajian linguistik menjadi pijakan dalam interpretasi teks. Sedangkan Naṣr Hāmid Abū Zaid mendudukan linguistik hanya sebagai proses tahapan awal menginterpretasikan teks al-Qur’an. Tahapan selanjutnya masih dibutuhkan pendekatan lain yang menjadi penyelaras interpretasi dengan kondisi masa kini, baik teologi, filsafat, historis maupun sosial dan budaya. Rumusan metode penafsiran mereka berdua bertujuan untuk membebaskan dari unsur subyektifitas penafsir.
Aplikasi Metodologi Yusuf Al-Qardhawi Dalam Interpretasi Hadis Laknat Bagi Peziarah Wanita
Insan Labib, Muhammad Alfreda Daib;
Nurhaedi, Dadi
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 02 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/kontem.2024.12.02.198-214
This research discusses about interpretation of hadith which explains that women who make grave pilgrimages will be cursed by Allah or Rasulullah. In this research, the methodology used is the methodology of interpreting Hadith of Yusuf al-Qardhawi. The research methodology used is descriptive-analysis, namely carrying out a description of the data collected, then carrying out an in-depth analysis to achieve the research objectives. Among the discussions in this research are, 1). Presentation of data regarding hadith and al-Jarḥ wa al-Ta'dīl hadith transmitter that will be examined. 2). Takhrīj hadith Curse for female pilgrims in kutub al-tis’ah. 3). Interpretation of the cursed hadith for female pilgrims using Yusuf al-Qardhawi's meaning methodology. This research concludes that 1). The main hadith used is the cursed hadith for female pilgrims narrated by Abu Hurairah. This hadith has saḥīḥ qualities. The reason is, all of the hadith transmitters have al-Jarḥ wa al-Ta'dīl good status and does not affect about hadith quality. 2). There are 15 same hadiths and seven similar hadiths. Among the seven hadiths, four allow grave pilgrimage for women, and the remaining three prohibit it. 3). Based on the interpretation of the hadith through Yusuf al-Qardawi's methodology, it is mentioned that women pilgrims who will be cursed by God are women who make pilgrimages very often and excessively.
Nilai-nilai Pendidikan Islam pada Teks Tanbih TQN Suryalaya serta Relevansinya dengan Hadits Nabi
Syakir, Mukhlis
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 02 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/kontem.2024.12.02.310-352
Teks Tanbih merupakan manifesto Ikhwan Tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah Suryalaya, Tasikmalaya. Teks ini lahir semenjak tahun 1956 melalui Mursyid Tarekat yang pertama yakni Abah Sepuh sebagai wasiat. Baru kemudian ditulis sehingga menjadi teks oleh putranya sekaligus penerus kemursyidan, Abah Anom. Teks ini selalu dibacakan minimal sebulan sekali oleh pengikutnya dalam rangkaian acara yang bernama manaqiban. Pada penelitian ini penulis bermaksud untuk menguji dan memastikan relevansi antara isi teks tersebut dengan hadis-hadis nabi serta menggali nilai-nilai Pendidikan Islam yang terkandung dalam Teks Tanbih. Sehingga masyarakat di luar tarekat tersebut dapat memahami bahwa tarekat ini membawa nilai-nilai kenabian dan pengikut dari tarekat ini sendiri bertambaha yakin akan kebenaran yang mereka pegang. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti hendak mengumpulkan data-data pustaka yang berkaitan dengan judul sehingga dapat dianalisis dan disampaikan secara deksriptif. Teks tanbih berbahasa Sunda yang diterbitkan langsung oleh Pondok Pesantren Suryalaya akan menjadi sumber primer. Sehingga orisinalitasnya dapat terjaga, tanpa ada reduksi makna akibat perpindahan bahasa. Setiap kutipan teks akan diterjemahkan pada Bahasa Indonesia sehingga bisa dipahami oleh khalayak penutur non-Sunda. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pendidikan Islam yang dibawa oleh teks tanbih sangatlah cocok dengan hadits-hadits nabi. Sehingga bagi masyarakat di luar TQN bisa memahami dasar-dasar kehidupan yang dianut, dan bagi ikhwan TQN tidak lagi ragu dan bertambah yakin dengan ajaran yang diikutinya.
Relevansi Semiotika Dan Uṣhūl Fiqh: Telaah Atas Hadis-Hadis Aḥkām
Basayif, Muhammad Syamil
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 02 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/kontem.2024.12.02.215-238
Abstract The integration of semiotics as a modern analytical tool into the classical Islamic sciences is often limited to the discourse of ‘ulūm al-Qur'ān and ’ulūm al-hadīs. The themes discussed are only dominated by ethical discussions. However, uṣhūl fiqh plays an important role in analysing naṣ that relate to the jurisprudential-practical dimension. This article is a literature review that seeks to explore the relevance between Ferdinand de Saussure's semiotics and classical uṣhūl fiqh theory. The focus is on examining hadīths that contain legal-formal laws (hadīś ahkām). The question in this study is how the relevance between the two and how semiotics is implemented as a basis for the production of fiqh law (istinbāt al-ahkām). The main argument is that contemporary scientific paradigms do not necessarily contradict classical Islamic knowledge. However, differences in terminology and function are often considered as a gap between the two poles. The relevance of both appears especially in the concept of sign systems. This can be seen in how the uṣhūlīs assign new sign systems such as amr meaning obligatory and nahy meaning forbidden to naṣṣ. Integrating semiotics into uṣhūl fiqh will provide a new nuance in the treasury of Islamic knowledge. Keywords: Ferdinand de Saussure semiotics, Uṣhūl Fiqh, hadith ahkām. Abstrak Usaha mengintegrasikan semiotika sebagai pisau analisis modern ke dalam khazanah ilmu keislaman klasik kerap kali hanya berkutat pada diskursus ‘ulūm al-Qur’ān dan ‘ulūm al-hadīs. Tema yang dibicarakan pun hanya didominasi diskusi tataran dalam etis. Padahal selain keduanya, terdapat pula uṣhūl fiqh yang berperan penting dalam menganalisa naṣṣ yang berkaitan dengan dimensi yurisprudis–praksis. Artikel ini adalah kajian pustaka yang berusaha menelusuri relevansi antara semiotika Ferdinand de Saussure dengan teori uṣhūl fiqh klasik. Fokusnya adalah meneliti hadis-hadis yang bermuatan hukum legal-formal (hadīś ahkām). Pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana relevansi antara keduanya dan bagaimana semiotika diimplementasikan sebagai basis produksi hukum fikih (istinbāt al-ahkām). Argumen utamanya adalah bahwa tidak selamanya paradigma keilmuan kontemporer bertentangan dengan khazanah ilmu keislaman klasik. Hanya saja, perbedaan terminologi dan fungsi kerap kali dianggap sebagai jurang pemisah antara dua kutub tersebut. Relevansi keduanya nampak terutama dalam konsep sistem tanda. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana para uṣhūlī memberikan sistem tanda baru seperti amr bermakna wajib dan nahy bermakna haram ke dalam naṣṣ. Mengintegrasikan semiotika ke dalam uṣhūl fiqh akan memberikan nuansa baru dalam khazanah ilmu Keislaman.
Komparasi Hermeneutika Sahiron Syamsuddin Dan Nasr Hamid Abu Zayd Dalam Menafsirkan Jihad: Humanisme, Konteks, Dan Relevansi
aulya, Tsaqifa Aulya Afifah
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 02 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/kontem.2024.12.02.270-309
Ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan oleh para mufassir, baik klasik maupun modern terus mengalami perubahan dan perkembangan. Hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan Al-Qur’an yang ṣho>liḥ li kulli zama>n wa makan. Tak heran jika metode-metode penafsiran Al-Qur’an sangat beragam guna peningkatan intensitas penelitian akademik untuk mendapatkan variasi makna Al-Qur’an secara integratif. Penelitian ini berfokus pada makna Jihad dalam surah al-Ankabu>t/29: 69. Studi ini membahas penafsiran dua tokoh hermenutika, Sahiron Syamsuddin dan Nasr Hamid Abu Zayd. Pertanyaan yang akan dikaji: bagaimana pemikiran kedua tokoh tersebut dalam menafsirkan ayat-ayat jihad dan bagaimana analisis penafsiran ayat-ayat jihad kedua tokoh tersebut? Penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif, sedangkan sifat penelitian ini berupa deksriptif-analisis. Metode yang digunakan untuk mengolah dan menganalisis data dalam penelitian ini adalah gabungan antara deduktif-induktif-komparatif. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kedua tokoh membantah adanya penafsiran tekstual mengenai ayat jihad yang hanya ditafsirkan dengan konteks peperangan. Menurut Syamsuddin, makna jihad Surah al-Ankabu>t/29: 69 bisa dilihat dengan tiga tahapan: pertama, jihad melawan hawa nafsu diri sendiri untuk meraih jalan ketaatan kepada Allah. Kedua, jihad kepada orang-orang terdekat kita. Ketiga, jihad kepada pemerintahan, negara, dan tanah air. Sedangkan Zayd melalui hermeneutikanya (tafsir al-siya>qi) menjelaskan bahwa makna jihad Surah al-Ankabu>t/29: 69 membebaskan negara dari segala permasalahannya.
Semantic And Science Research Model: Relation Underground Water Concept With Agricultural Growth In Qur’an
Al Faruq, Abdul Qudus;
Halimah, Ulfatul;
Bakar, Abu
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 02 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/kontem.2024.12.02.243-269
This research explores the relationship between the concept of underground water and agricultural plant growth as mentioned in the Qur'an, focusing on Surah Az-Zumar verse 21 and Al-Baqarah verse 74. The identified issue is the lack of research combining semantic and scientific approaches to understand this relationship, even though the concept was mentioned in the Qur'an long before modern scientific discoveries. The research study uses a descriptive-analytical method with a semantic and scientific approach, employing theories of isytiqaq (derivation) and siyaq (context) for Qur’anic text analysis. The research demonstrates that rainwater seeping into the ground and stored in underground reservoirs is a vital source of life, as illustrated in the Qur'an. The study argues that the Qur'an provides clear guidance on natural processes that sustain life, which is later validated by modern science, showcasing the scientific evidence of i'jaz ilmy in a broader context.
Bertemu Tuhan Dalam Bahasa
Shobir, Muhammad
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 02 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/kontem.2024.12.02.383-409
Perjalanan keyakinan manusia kepada eksistensi Tuhan merupakan suatu hal yang masih terus berlanjut hingga dewasa ini. Perjalanan tersebut berisikan pencarian bukti yang tidak hanya bersifat logis, tetapi juga empiris. Seiring waktu, manusia bertemu dengan berbagai hal yang dapat memperkuat keyakinannya. Agama menjadi jalan utama manusia dalam memperkuat keyakinannya. Namun, Tuhan yang Maha Pemurah menyediakan jalan-jalan yang mendukung jalan agama untuk memperkuat keyakinan melalui berbagai ciptaan-Nya. Salah satunya adalah bahasa. Bahasa dapat membantu manusia dalam berpikir dan mengetahui berbagai hal, tidak terkecuali tentang Ketuhanan. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bahasa sebagai media dalam menunjukkan eksistensi Tuhan. Tulisan ini menggunakan ancangan studi pustaka. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi yang kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Data divalidasi dengan teknik pengecekan sejawat. Hasil dari penelitian ini adalah bahasa dapat mengantarkan manusia pada pengetahuan dan keyakinan tentang eksistensi Tuhan. Pengetahuan dan keyakinan tersebut tidak hanya bersifat logis, tetapi juga empiris. Bahasa mengantarkan manusia pada bukti-bukti nyata yang dapat diindra oleh manusia. Bukti tersebut terdapat dalam bahasa itu sendiri dan juga hal-hal yang ditunjukkan oleh bahasa (referen).