cover
Contact Name
Irena Sutanto
Contact Email
smjournal@uhamka.ac.id
Phone
+6281290749109
Journal Mail Official
editorsmj@uhamka.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, Jl. Raden Fatah No.01, RT.002/RW.006, Parung Serab, Kec. Ciledug, Kota Tangerang, Banten 13460
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Sanus Medical Journal
ISSN : -     EISSN : 2745868     DOI : https://doi.org/10.22236/sanus
Core Subject : Health, Science,
Sanus Medical Journal is a peer-reviewed medical and health journal published periodically every six months. Sanus Medical Journal publishes descriptive, analytical, and experimental studies, reviews, systematic reviews, case reports, letters, and editorials in the fields of Medicine, Health, Medical and Health Education, and Islamic Medicine. The scope of Sanus Medical Journal goes beyond the boundaries of discussions in the fields of clinical medicine and health in general, by providing new insights into etiologies, determinants, distribution, management and prevention of diseases in individuals and communities. Sanus Medical Journal attempts to meet the demands of rapid developments in information and medical and health research by committing to reduce the range of online publications to around six weeks after the submission of a manuscript. Articles will be published online in advance, and the printed version included in the next scheduled edition. Sanus Medical Journal will continue to strive to improve its scientific reputation by publishing quality articles reviewed by experts who are highly competent in their respective fields. Sanus Medical Journal greatly appreciates the contributions of authors from related disciplines. Manuscripts can be sent via email to: smjournal@uhamka.ac.id or via the website https://journal.uhamka.ac.id/index.php/smj.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2023)" : 10 Documents clear
Chronic Limb Ischemia: Awareness and Treatment in Primary Care Sidhi Laksono Purwowiyoto; Reynaldo Halomoan
Sanus Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): Sanus Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/sanus.v5i1.6347

Abstract

Chronic limb ischemia (CLI) is a type of peripheral arterial disease (PAD) that is still underdiagnosed and undertreated despite the increasing incidence, thus becoming a global health burden. The prevalence of PAD is quite high, approximately around 200 million globally in the adult population and increased drastically in older age population. It might be difficult to diagnose at an early stage because around 20-50% patients may be asymptomatic. More than 70% of primary physicians also did not notice that the diagnosis was already established during screening of the PAD patients. All these problems could increase the incidence of PAD in the following year. The untreated conditions will develop into a more severe form of PAD known as chronic limb-threatening ischemia (or critical limb ischemia), and patients are at a higher risk of having limb loss, and also increased morbidity and mortality. The primary physicians in the primary health facilities hold an important role in the early diagnosis and management of patients with CLI symptoms or with risk factors of CLI. Due to the limitation of diagnostic testing modality at primary health facilities, the physician can assess the ankle-brachial index (ABI) to determine the presence of CLI. Management of the disease is different for every patient and is customized based on the other comorbidities. Risk factors should be controlled in order to achieve a better outcome. A good management strategy will improve the condition. This review aims to describe how to give an early diagnosis and management for CLI patients in primary health care.
Korelasi Lama Menjalani Hemodialisis Dengan Kualitas Hidup Pada Penderita Nefropati Diabetik Di RS Dinda Tangerang Dalam Periode 3 Tahun Dhiki Nugraha; Fahad Hasan; Dedy Gunawandjati; Sidhi Laksono Purwowiyoto; Endin Nokik Stujana; Ahmad Hidayat
Sanus Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): Sanus Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/sanus.v5i1.9601

Abstract

Pendahuluan: Salah satu komplikasi mikrovaskular dari diabetes yaitu nefropati diabetik. Penderita nefropati diabetik yang menjalani hemodialisis membutuhkan waktu yang lama dan membutuhkan kepatuhan dalam mengobati komorbid yang mendasarinya. Hal ini akan memberikan stresor baik fisiologis maupun psikologis penderita yang akan mempengaruhi kualitas hidup. Tujuan penelitian ini menentukan korelasi antara lamanya menjalani terapi hemodialisis pada penderita nefropatik diabetik dengan kualitas hidup di RS Dinda Tangerang. Metode: metode penelitian menggunakan analisis parametrik dengan metode pendekatan non parametrik. sampel penelitian ini menggunakan consecutive sampling yang melibatkan 40 penderita nefropati diabetik. data di analisis menggunakan korelasi spearman. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner KDQOL SF 1.3. Hasil: berdasarkan hasil penelitian didapatkan 23 penderita 57.5% yang menjalani hemodialisis 1- 3 tahun  dan 6 di antara nya penderita yang memiliki kualitas hidup kurang sebanyak 2 orang, dan yang memiliki kualitas hidup cukup  sebanyak 2 orang serta sebanyak  15 orang lainya memiliki kualitas hidup baik. Simpulan: kesimpulan penelitian ini terdapat korelasi yang bermakna p=0,043 antara lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup dengan nilai (r): 0.309 yang mana mengarah ke arah positif sehingga ketika penderita telah lama melakukan terapi hemodialisis maka semakin baik kualitas hidup dari penderita.
Hubungan Tingginya Nilai ANC (Absolute Neutrophil Count) dengan Kejadian Apendisitis Akut dan Perforasi di RS Islam Jakarta Pondok Kopi Pada Tahun 2018-2020 Amirah Amalia; Fahad Hasan; Ira Wahyuni; Mohamad Riza El Anshori; Zahra Nurusshofa
Sanus Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): Sanus Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/sanus.v5i1.10715

Abstract

Apendisitis adalah kejadian peradangan pada apendiks vermiformis. Penelitian ini melihat hubungan antara tingginya nilai Absolute Neutrophil Count (ANC) dengan kejadian apendisitis akut dan perforasi. Penelitian ini dilakukan menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingginya nilai ANC dengan kejadian apendisitis akut dan perforasi dengan nilai p value sebesar 0.000. Juga ditemukan cut off nilai ANC antara apendisitis akut dan perforasi sebesar 9053 sel/µL dengan sensitivitas sebesar 100% dan spesifisitas sebesar 72,6%. Hasil penelitian menyarankan bahwa penghitungan nilai ANC dapat digunakan sebagai pemeriksaan alternatif untuk penegakan diagnosis apendisitis, namun tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya tolak ukur untuk membedakan antara diagnosis apendisitis akut dan perforasi.
Uji Antibakterial dari Ekstrak Etanol Biji Mangga (Mangifera indica L) Terhadap Bakteri Salmonella typphimurium Adinda Octaviani; Muhammad Zaim; Rizkyana Avissa
Sanus Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): Sanus Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/sanus.v5i1.10719

Abstract

Abstrak Bakteri Salmonella sp. adalah bakteri gram negatif yang dapat menyebabkan penyakit demam tifoid. Terapi demam tifoid adalah antibiotik seperti kotrimoksazol, kloramfenikol, dan ampisilin. Namun, menurut Badan Litbang Kesehatan, didapatkan Salmonella sp. menunjukkan resistensi sebesar 71% terhadap kotrimoksazol, 57% terhadap kloramfenikol, dan 42% terhadap ampisilin. Oleh karena itu, dibutuhkan bahan alami alternatif untuk memperoleh senyawa antibakteri baru. Salah satu bahan alam yang dapat digunakan adalah biji mangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri terhadap bakteri Salmonella sp dari ekstrak biji mangga (Mangifera indica L). Ekstraksi biji mangga menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% yang dilanjutkan dengan pengujian kandungan fitokimia. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak biji mangga mengandung senyawa alkaloid, saponin, tanin, fenolik, flavonoid, tritepernoid, steroid, dan glikosida. Pada penelitian ini dilakukan uji coba perendaman cakram dengan variasi waktu perendaman cakram di ekstrak selama 5 menit, 15 menit, 6 jam, 12 jam, dan 24 jam. Kemudian dilanjutkan dengan peletakan cakram di medium yang mengandung bakteri Salmonella typhimurium sesuai dengan metode difusi cakram. Dari hasil yang didapat, zona hambat muncul secara optimal pada perendaman cakram selama 24 jam. Oleh karena itu, dilakukan perendaman cakram selama 24 jam pada ujicoba antibakteri dengan konsentrasi ekstrak 2.000 ppm, 10.000 ppm, 50.000 ppm, dan 100.000 ppm. Hasil dari penelitian ini adalah ekstrak biji mangga memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Salmonella typhimurium yang dapat terlihat mulai dari konsentrasi ekstrak 50.000 ppm dan 100.000 ppm.
Monosodium Glutamat (MSG) dan Gambaran Histologis Otak: Implikasi terhadap Pembentukan Otak Mencit Suriyani Tan; Machrumnizar Machrumnizar; Muhamad Andanu Yunus Slamet
Sanus Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): Sanus Medical Journal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/sanus.v5i1.11335

Abstract

Abstract BACKGROUND The sodium salt of glutamic acid, monosodium glutamate (MSG), is a white crystalline compound (glutamic acid). MSG was first produced in large quantities in early 1963 by Korea and Japan which then spread to other countries, including Indonesia. The medical profession is concerned about the detrimental consequences of MSG because of its widespread and uncontrolled consumption. The histological differences between the cerebellum of MSG-treated and MSG-free rats are of interest to researchers. METHOD The Post Test-Only Control Group design was used in this study and used data collected for 14 days. This study used 30 male mice of the Swiss Webster type (Mus Musculus) which were reared as pure strains through inbreeding. Mice taken were 8 weeks old weighing 20 – 40 grams and divided into three groups, each consisting of nine mice with one tail in reserve for each group. One group as a control and two groups will receive MSG orally, each at a dose of 3 mg and 8 mg. Termination of mice was carried out by means of dislocation of the cervical vertebrae and continued with preparation of mice brain tissue preparations. Data analysis, which was obtained from observing the histological appearance of the mouse brain, used the Paired-Sample T test in the SPSS (Statistical Product and Service Solutions) version 20.0 for Windows with a significance level of 0.05. RESULTS In this study, there was no difference in the histological appearance of the brain cerebellum of mice in the control group and the administration of 3 mg and 8 mg of MSG. However, there was a greater increase in body weight in mice given 3 mg of MSG compared to the group given 8 mg of MSG and controls, the average weight gain was 2.87 mg. CONCLUSION After observing through a microscope on the brain preparations of control mice, MSG 3 mg and MSG 8 mg, no difference in histological appearance was found. But giving MSG to mice affects weight gain.   Abstrak LATAR BELAKANG Garam natrium dari asam glutamat, monosodium glutamat (MSG), adalah senyawa kristal putih (asam glutamat). MSG pertama kali diproduksi dalam jumlah besar pada awal tahun 1963 oleh Korea dan Jepang yang kemudian menyebar ke negara lain, termasuk Indonesia. Profesi medis prihatin dengan konsekuensi merugikan dari MSG karena konsumsinya yang meluas dan tidak terkendali. Perbedaan histologis antara otak kecil tikus yang diberi MSG dan bebas MSG adalah hal yang menarik untuk diketahui. METODE Desain Post Test-Only Control Group digunakan dalam penelitian ini dan menggunakan data yang terkumpul selama 14 hari. Penelitian ini menggunakan 30 ekor mencit jantan jenis Swiss Webster (Mus Musculus) yang dipelihara sebagai galur murni melalui perkawinan sedarah. Mencit yang diambil berumur 8 minggu dengan berat 20 – 40gram dan dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing terdiri atas sembilan ekor mencit dengan cadangan satu ekor untuk setiap kelompok. Satu kelompok sebagai kontrol dan dua kelompok akan menerima MSG secara oral, masing-masing dengan dosis 3 mg dan 8 mg. Terminasi mencit dilakukan dengan cara dislokasi vertebra servikal dan dilanjutkan pembuatan preparat jaringan otak mencit. Analisis data, yang diperoleh dari pengamatan gambaran histologis otak mencit, menggunakan Paired-Sample T test pada program SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi 20.0 for Windows dengan tingkat kemaknaan 0,05. HASIL Pada penelitan ini tidak ditemukan adanya perbedaan pada gambaran histologis cerebellum otak mencit pada kelompok kontrol dan pemberian MSG 3 mg dan 8 mg. Namun, terdapat peningkatan berat badan lebih banyak pada mencit yang diberikan MSG 3 mg dibandingkan dengan kelompok yang diberikan MSG 8 mg dan kontrol, rata-rata kenaikan berat badan sebesar 2,87 mg. KESIMPULAN Setelah dilakukan pengamatan melalui mikroskop pada preparat otak mencit kontrol, MSG 3 mg dan MSG 8 mg, belum ditemukan perbedaan gambaran histologis. Tetapi pemberian MSG pada mencit mempengaruhi pertambahan berat badan.
Chronic Limb Ischemia: Awareness and Treatment in Primary Care Purwowiyoto, Sidhi Laksono; Halomoan, Reynaldo
Sanus Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/sanus.v5i1.6347

Abstract

Chronic limb ischemia (CLI) is a type of peripheral arterial disease (PAD) that is still underdiagnosed and undertreated despite the increasing incidence, thus becoming a global health burden. The prevalence of PAD is quite high, approximately around 200 million globally in the adult population and increased drastically in older age population. It might be difficult to diagnose at an early stage because around 20-50% patients may be asymptomatic. More than 70% of primary physicians also did not notice that the diagnosis was already established during screening of the PAD patients. All these problems could increase the incidence of PAD in the following year. The untreated conditions will develop into a more severe form of PAD known as chronic limb-threatening ischemia (or critical limb ischemia), and patients are at a higher risk of having limb loss, and also increased morbidity and mortality. The primary physicians in the primary health facilities hold an important role in the early diagnosis and management of patients with CLI symptoms or with risk factors of CLI. Due to the limitation of diagnostic testing modality at primary health facilities, the physician can assess the ankle-brachial index (ABI) to determine the presence of CLI. Management of the disease is different for every patient and is customized based on the other comorbidities. Risk factors should be controlled in order to achieve a better outcome. A good management strategy will improve the condition. This review aims to describe how to give an early diagnosis and management for CLI patients in primary health care.
Korelasi Lama Menjalani Hemodialisis Dengan Kualitas Hidup Pada Penderita Nefropati Diabetik Di RS Dinda Tangerang Dalam Periode 3 Tahun Nugraha, Dhiki; Hasan, Fahad; Gunawandjati, Dedy; Purwowiyoto, Sidhi Laksono; Stujana, Endin Nokik; Hidayat, Ahmad
Sanus Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/sanus.v5i1.9601

Abstract

Pendahuluan: Salah satu komplikasi mikrovaskular dari diabetes yaitu nefropati diabetik. Penderita nefropati diabetik yang menjalani hemodialisis membutuhkan waktu yang lama dan membutuhkan kepatuhan dalam mengobati komorbid yang mendasarinya. Hal ini akan memberikan stresor baik fisiologis maupun psikologis penderita yang akan mempengaruhi kualitas hidup. Tujuan penelitian ini menentukan korelasi antara lamanya menjalani terapi hemodialisis pada penderita nefropatik diabetik dengan kualitas hidup di RS Dinda Tangerang. Metode: metode penelitian menggunakan analisis parametrik dengan metode pendekatan non parametrik. sampel penelitian ini menggunakan consecutive sampling yang melibatkan 40 penderita nefropati diabetik. data di analisis menggunakan korelasi spearman. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner KDQOL SF 1.3. Hasil: berdasarkan hasil penelitian didapatkan 23 penderita 57.5% yang menjalani hemodialisis 1- 3 tahun  dan 6 di antara nya penderita yang memiliki kualitas hidup kurang sebanyak 2 orang, dan yang memiliki kualitas hidup cukup  sebanyak 2 orang serta sebanyak  15 orang lainya memiliki kualitas hidup baik. Simpulan: kesimpulan penelitian ini terdapat korelasi yang bermakna p=0,043 antara lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup dengan nilai (r): 0.309 yang mana mengarah ke arah positif sehingga ketika penderita telah lama melakukan terapi hemodialisis maka semakin baik kualitas hidup dari penderita.
Hubungan Tingginya Nilai ANC (Absolute Neutrophil Count) dengan Kejadian Apendisitis Akut dan Perforasi di RS Islam Jakarta Pondok Kopi Pada Tahun 2018-2020 Amalia, Amirah; Hasan, Fahad; Wahyuni, Ira; El Anshori, Mohamad Riza; Nurusshofa, Zahra
Sanus Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/sanus.v5i1.10715

Abstract

Apendisitis adalah kejadian peradangan pada apendiks vermiformis. Penelitian ini melihat hubungan antara tingginya nilai Absolute Neutrophil Count (ANC) dengan kejadian apendisitis akut dan perforasi. Penelitian ini dilakukan menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingginya nilai ANC dengan kejadian apendisitis akut dan perforasi dengan nilai p value sebesar 0.000. Juga ditemukan cut off nilai ANC antara apendisitis akut dan perforasi sebesar 9053 sel/µL dengan sensitivitas sebesar 100% dan spesifisitas sebesar 72,6%. Hasil penelitian menyarankan bahwa penghitungan nilai ANC dapat digunakan sebagai pemeriksaan alternatif untuk penegakan diagnosis apendisitis, namun tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya tolak ukur untuk membedakan antara diagnosis apendisitis akut dan perforasi.
Uji Antibakterial dari Ekstrak Etanol Biji Mangga (Mangifera indica L) Terhadap Bakteri Salmonella typphimurium Adinda Octaviani; Zaim, Muhammad; Avissa, Rizkyana
Sanus Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/sanus.v5i1.10719

Abstract

Abstrak Bakteri Salmonella sp. adalah bakteri gram negatif yang dapat menyebabkan penyakit demam tifoid. Terapi demam tifoid adalah antibiotik seperti kotrimoksazol, kloramfenikol, dan ampisilin. Namun, menurut Badan Litbang Kesehatan, didapatkan Salmonella sp. menunjukkan resistensi sebesar 71% terhadap kotrimoksazol, 57% terhadap kloramfenikol, dan 42% terhadap ampisilin. Oleh karena itu, dibutuhkan bahan alami alternatif untuk memperoleh senyawa antibakteri baru. Salah satu bahan alam yang dapat digunakan adalah biji mangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri terhadap bakteri Salmonella sp dari ekstrak biji mangga (Mangifera indica L). Ekstraksi biji mangga menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% yang dilanjutkan dengan pengujian kandungan fitokimia. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak biji mangga mengandung senyawa alkaloid, saponin, tanin, fenolik, flavonoid, tritepernoid, steroid, dan glikosida. Pada penelitian ini dilakukan uji coba perendaman cakram dengan variasi waktu perendaman cakram di ekstrak selama 5 menit, 15 menit, 6 jam, 12 jam, dan 24 jam. Kemudian dilanjutkan dengan peletakan cakram di medium yang mengandung bakteri Salmonella typhimurium sesuai dengan metode difusi cakram. Dari hasil yang didapat, zona hambat muncul secara optimal pada perendaman cakram selama 24 jam. Oleh karena itu, dilakukan perendaman cakram selama 24 jam pada ujicoba antibakteri dengan konsentrasi ekstrak 2.000 ppm, 10.000 ppm, 50.000 ppm, dan 100.000 ppm. Hasil dari penelitian ini adalah ekstrak biji mangga memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Salmonella typhimurium yang dapat terlihat mulai dari konsentrasi ekstrak 50.000 ppm dan 100.000 ppm.
Monosodium Glutamat (MSG) dan Gambaran Histologis Otak: Implikasi terhadap Pembentukan Otak Mencit Tan, Suriyani; Machrumnizar, Machrumnizar; Yunus Slamet, Muhamad Andanu
Sanus Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/sanus.v5i1.11335

Abstract

Abstract BACKGROUND The sodium salt of glutamic acid, monosodium glutamate (MSG), is a white crystalline compound (glutamic acid). MSG was first produced in large quantities in early 1963 by Korea and Japan which then spread to other countries, including Indonesia. The medical profession is concerned about the detrimental consequences of MSG because of its widespread and uncontrolled consumption. The histological differences between the cerebellum of MSG-treated and MSG-free rats are of interest to researchers. METHOD The Post Test-Only Control Group design was used in this study and used data collected for 14 days. This study used 30 male mice of the Swiss Webster type (Mus Musculus) which were reared as pure strains through inbreeding. Mice taken were 8 weeks old weighing 20 – 40 grams and divided into three groups, each consisting of nine mice with one tail in reserve for each group. One group as a control and two groups will receive MSG orally, each at a dose of 3 mg and 8 mg. Termination of mice was carried out by means of dislocation of the cervical vertebrae and continued with preparation of mice brain tissue preparations. Data analysis, which was obtained from observing the histological appearance of the mouse brain, used the Paired-Sample T test in the SPSS (Statistical Product and Service Solutions) version 20.0 for Windows with a significance level of 0.05. RESULTS In this study, there was no difference in the histological appearance of the brain cerebellum of mice in the control group and the administration of 3 mg and 8 mg of MSG. However, there was a greater increase in body weight in mice given 3 mg of MSG compared to the group given 8 mg of MSG and controls, the average weight gain was 2.87 mg. CONCLUSION After observing through a microscope on the brain preparations of control mice, MSG 3 mg and MSG 8 mg, no difference in histological appearance was found. But giving MSG to mice affects weight gain.   Abstrak LATAR BELAKANG Garam natrium dari asam glutamat, monosodium glutamat (MSG), adalah senyawa kristal putih (asam glutamat). MSG pertama kali diproduksi dalam jumlah besar pada awal tahun 1963 oleh Korea dan Jepang yang kemudian menyebar ke negara lain, termasuk Indonesia. Profesi medis prihatin dengan konsekuensi merugikan dari MSG karena konsumsinya yang meluas dan tidak terkendali. Perbedaan histologis antara otak kecil tikus yang diberi MSG dan bebas MSG adalah hal yang menarik untuk diketahui. METODE Desain Post Test-Only Control Group digunakan dalam penelitian ini dan menggunakan data yang terkumpul selama 14 hari. Penelitian ini menggunakan 30 ekor mencit jantan jenis Swiss Webster (Mus Musculus) yang dipelihara sebagai galur murni melalui perkawinan sedarah. Mencit yang diambil berumur 8 minggu dengan berat 20 – 40gram dan dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing terdiri atas sembilan ekor mencit dengan cadangan satu ekor untuk setiap kelompok. Satu kelompok sebagai kontrol dan dua kelompok akan menerima MSG secara oral, masing-masing dengan dosis 3 mg dan 8 mg. Terminasi mencit dilakukan dengan cara dislokasi vertebra servikal dan dilanjutkan pembuatan preparat jaringan otak mencit. Analisis data, yang diperoleh dari pengamatan gambaran histologis otak mencit, menggunakan Paired-Sample T test pada program SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi 20.0 for Windows dengan tingkat kemaknaan 0,05. HASIL Pada penelitan ini tidak ditemukan adanya perbedaan pada gambaran histologis cerebellum otak mencit pada kelompok kontrol dan pemberian MSG 3 mg dan 8 mg. Namun, terdapat peningkatan berat badan lebih banyak pada mencit yang diberikan MSG 3 mg dibandingkan dengan kelompok yang diberikan MSG 8 mg dan kontrol, rata-rata kenaikan berat badan sebesar 2,87 mg. KESIMPULAN Setelah dilakukan pengamatan melalui mikroskop pada preparat otak mencit kontrol, MSG 3 mg dan MSG 8 mg, belum ditemukan perbedaan gambaran histologis. Tetapi pemberian MSG pada mencit mempengaruhi pertambahan berat badan.

Page 1 of 1 | Total Record : 10