cover
Contact Name
Ilham Zulfahmi
Contact Email
ilham.zulfahmi@usk.ac.id
Phone
+6285262743552
Journal Mail Official
jkpi@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala, Jl. Teuku Nyak Arief No.441, Kopelma Darussalam, Kota Banda Aceh, Aceh 23111 Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia
ISSN : -     EISSN : 27973735     DOI : https://doi.org/10.24815/jkpi
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia (JKPI) atau nama lain Indonesia Marine and Fisheries Journal merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil - hasil penelitian bidang kelautan dan perikanan dalam skala luas meliputi ilmu kelautan, akuakultur, perikanan tangkap, teknologi hasil perikanan, pengelolaan sumberdaya perairan, serta sosial ekonomi perikanan. JKPI terbit tiga kali dalam setahun yaitu pada bulan April, Agustus dan Desember. Artikel yang diterbitkan pada JKPI berupa artikel riset (research article) dan ulas balik (literature review). Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia (JKPI) dikelola dan diterbitkan oleh Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala. Focus and Scope Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia (JKPI) adalah jurnal berskala nasional yang mencakup kajian ilmu perikanan dan kelautan. Jurnal ini menaruh perhatian pada perikanan dan kelautan di Indonesia. Topik yang dibahas dalam jurnal mencakup aspek : 1. Ilmu dan Teknologi Kelautan 2. Akuakultur 3. Teknologi Hasil Perikanan 4. Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap 5. Pengelolaan dan Konservasi Sumberdaya 6. Iktiologi 7. Sosial Ekonomi Perikanan
Articles 89 Documents
Pengaruh Padat Tebar Berbeda Pada Polikultur Pendederan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) Dan Nila Payau (Oreocrhomis niloticus) Untuk Menekan Perifiton Dan Ektoparasit Mahathir Rifadh; Cut Nanda Defira; Ibnu Sahidhir
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 1, No 3: Desember (2021)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh padat tebar ikan nila yang berbeda pada polikultur pendederan ikan kakap putih (Lates calcarifer) dan nila payau (Oreocrhomis niloticus) untuk menekan perifiton dan ektoparasit. Penelitian ini dilakukan di Balai Perikanan Budiaya Air Payau (BPBAP), Ujung Batee, Aceh Besar. Metode pada penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan dan 4 ulangan yaitu: perlakuan A: tanpa ikan nila + 10 ekor kakap putih, perlakuan B: 1 ekor ikan nila + 10 ekor kakap putih, perlakuan C: 2 ekor ikan nila + 10 ekor kakap putih, perlakuan D: 4 ekor ikan nila + 10 ekor kakap putih). Wadah yang digunakan berukuran P: 53 cm, L:36 cm dan T: 34 cm dengan volume air saat pemeliharaan 50 liter. Ikan Kakap putih berukuran 0,40 gr dan ikan nila 0,50 gr, Pemberian pakan 5%/hari pada pada pagi dan sore. Sampling pertumbuhan dan pengecekan kualitas air dilakukan setiap minggu. Pengamatan perifiton dan ektoparasit dilakukan diakhir penelitian. Hasil pengamatan perifiton menunjukkan jenis perifiton dominan adalah Chrorella, Naviculla dan Rotifer bdelloid. Kepadatan Perifiton tertinggi adalah A (91,75 ml/m2) dan terendah D (41,5 ml/m2). Intensitas ektoparasit 25%, prevalensi 1 parasit/ekor ikan dan mengalami kenaikan intensitas pada perlakuan D (3 ekor ektoparasit/ Ikan). Parasit yang dijumpai adalah dari jenis cacing monogenea dengan Dominansi 100%. Berdasarkan hasil uji ANOVA menunjukkan padat tebar berbeda pada polikultur pendederan ikan kakap putih (Lates calcarifer) dan nila payau (Oreocrhomis niloticus) untuk menekan perifiton dan ektoparasit tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup (P0,05) namun berbeda nyata terhadap nilai kepadatan perifiton dan efesiensi pakan (P0,05).
Study of Green Mussel Eating Habits (Perna Viridis) in Aleu Naga Waters, Banda Aceh Abdullah Abbas, Muhammadar; Rusydi, Ichsan; Anna Misqa, Nur; Mellisa, Siska; Nurfadillah, Nurfadillah; Nanda Devira, Cut
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 2, No 3: Desember (2022)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v2i3.29698

Abstract

Alue Naga waters is one of the coastal areas that have been used by the community as a residential area, a place for tourism, shrimp ponds, fish and fishing ground for oysters, green mussels and fish. Green mussels are one of the groups of the phylum molluscs in the class bivalves of the genus Perna and live attached to hard objects. This study aimed to analyze the food habits of the digestive tract of green mussels in the waters of Alue, Naga, Banda Aceh. This research was conducted from February to April 2022 in Alue Naga waters. Determination of the sampling location was carried out by purposive sampling with 3 stations. The method used for sampling green mussels was done by Random Sampling method and the number of samples taken was 45 samples, then preserved with 4% formalin. Food analysis was carried out at Marine Biology Laboratory, Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University. The study, found that the food composition of green mussels consisted of 7 classes, namely: Baccillariophyceae class 45%, Chlorophyceae class 16%, Cyanophyceae class 19%, Dinophyceae class 3%, Coscinosiscophyceae class 10%, Zygnematophyceae class 3% and Euglenoidea 3%. Based on the highest IP (preponderance index) value, the main food of green mussels was obtained from the Baccillariophyceae class. The total length of green mussels was 79.56 mm and the average of intestinal length was 108.10 mm, the relative length of gut was 1.36. Based on the relative length of the intestine with a value of 1, green mussels are classified as omnivorous fish.Keywords: Green mussel, Food Habits, Gut
Analisis Komoditas Unggulan Perikanan Tangkap di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan Silvia Triola Audina; Ratna Mutia Aprilla; Chitra Octavina; Alvi Rahmah; Rianjuanda Djamani
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 1, No 1: April (2021)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komoditas unggulan merupakan barang atau jasa yang dihasilkan masyarakat melalui proses pemilihan dan pengembangan, serta memiliki nilai lebih dibanding dengan produk lainnya. Tujuan pada penelitian ini adalah mengetahui komoditas unggulan hasil perikanan tangkap di PPS Belawan. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Maret-April 2019, bertempat di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan, Medan Belawan, Sumatera Utara. Pengumpulan data yang dikumpulkan meliputi kegiatan pengamatan, wawancara, dan penelusuran studi pustaka (menggali sumber-sumber sekunder). Perhitungan komoditas unggulan dilakukan dengan menggunakan metode Location Quotient (LQ). Penentuan didasarkan pada empat kriteria yaitu: nilai LQ dari volume produksi ikan, LQ dari nilai produksi, dan produksi hasil tangkapan yang diekspor melalui penerbitan SHTI. Pemilihan komoditas jenis ikan unggulan kemudian dilakukan dengan metode Comparative Performance Index (CPI). Berdasarkan perhitungan LQ diperoleh empat jenis hasil tangkapan dengan nilai LQ volume produksi tertinggi yakni cumi- cumi sebesar 24,19; sotong 4,10; tongkol 3,62; dan udang 3,31. Berdasarkan perhitungan LQ nilai produksi, diperoleh LQ nilai produksi terbesar adalah cumi-cumi sebesar 11,23; udang sebesar 5,98; sotong 1,45; dan tongkol sebesar 1,02. Berdasarkan potensi pasar hasil tangkapan yang di ekspor melalui penerbitan SHTI jumlah hasil tangkapan terbesar adalah cumi-cumi sebanyak 13.566,09 ton, sotong sebanyak 10.485,15 ton, tongkol sebanyak 4.586,10 ton, dan udang sebanyak 3.971,48 ton. Berdasarkan tiga kriteria tersebut diperoleh cumi-cumi sebagai komoditas unggulan di PPS Belawan dengan jumlah analisis CPI sebesar 2173, udang sebesar 786, sotong sebesar 530, dan tongkol sebesar 325.
Analisis Hasil Tangkapan Alat Tangkap Pancing Rawai di TPI Gunung Cut Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan Muhammad, Muhammad; Ramadhani, Thaharah; Siffah, Indah Lainatul; M. Affan, Junaidi
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 4, No 1: April (2024)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v4i1.38491

Abstract

Wilayah perairan Aceh Selatan yang langsung berbatasan dengan Samudera Hindia, memiliki potensi sumberdaya kelautan perikanan yang besar dan dapat menjadi sumber pendapatan utama dalam perekonomian. TPI Gunung Cut merupakan salah satu desa yang memiliki Pelabuhan berskala kecil atau kolam tambat labuh. Pengoperasian alat tangkap pancing rawai di TPI Gunung Cut menggunakan kapal yang berukuran 1 Gross Tonnage (GT). Alat tangkap yang dominan digunakan oleh nelayan di TPI Gunung Cut yaitu pancing rawai atau dikenal dengan sebutan rawai aset. Masalah pokoknya yaitu masih terbatasnya informasi yang diperoleh saat ini terkait jumlah hasil tangkapan, jenis ikan dan ukuran layak tangkap yang terdapat pada alat tangkap pancing rawai di TPI Gunung Cut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan, mengetahui keanekaragaman dan dominansi hasil tangkapan serta mengetahui ukuran layak tangkap pada alat tangkap pancing rawai di TPI Gunung Cut. Penelitian ini dilakukan satu bulan selama bulan Agustus 2023. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu pengamatan langsung di lapangan. Data yang diambil berupa data primer dan data sekunder. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Accidental sampling sebanyak 28 kapal. Data yang dianalisis berupa analisis hasil tangkapan meliputi komposisi hasil tangkapan, ukuran morfometrik, keanekaragaman dan dominansi kemudian dianalisis menggunakan Microsoft excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 21 jenis ikan yang didapatkan menggunakan alat tangkap pancing rawai dengan total hasil tangkapan 1.714 ekor dan berat 234,02 kg. Nilai Indeks keanekaragaman diperoleh 2,24 dimana 1 H 3 termasuk kedalam kriteria sedang sedangkan Indeks dominansi diperoleh 0,15 dimana D 0,4, maka kriteria tersebut termasuk kedalam kategori rendah. Terdapat 474 ekor (28%) hasil tangkapan yang layak tangkap dan 1.240 ekor (72%) ikan yang tidak layak tangkap. Hal tersebut menunjukkan bahwa ikan yang tertangkap menggunakan alat tangkap pancing rawai di TPI Gunung Cut dominan tidak layak tangkap.
Analisis Kebutuhan BBM Pada Kapal Purse Seine > 30 GT di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaraja, Banda Aceh, Indonesia Chaliluddin M.A; Thaib Rizwan; Syarifah Aini; Muhammad Muhammad; Ichsan Rusydi; Roesa Nellyana
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 1, No 3: Desember (2021)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kapal penangkapan ikan yang dominan yang digunakan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaraja yaitu kapal purse seine. Jumlah armada penangkapan purse seine meningkat setiap tahun. Tahun 2015 jumlah armada kapal purse seine 250 unit dan pada tahun 2019 berjumlah 299 unit. Peningkatan jumlah armada kapal purse seine ini tentunya akan mempengaruhi kebutuhan dan ketersediaan BBM untuk keperluan pembekalan melaut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi kebutuhan BBM kapal purse seine 30 GT. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yang bersifat survey peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap obyek berupa jumlah kebutuhan BBM/trip, lama trip penangkapan, frekuensi trip/bulan, mekanisme distribusi BBM, jarak tempuh operasioal, dan daya mesin kapal. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa kebutuhan perbekalan BBM yang dibutuhkan oleh kapal purse seine sebanyak 1.627,229 liter/bulan.
KOMPARASI ANALISIS KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN PUKAT PANTAI DI DESA PADANG KAWA DAN DESA ALUE NAGA R. Asmar, Nuria Isra
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 3, No 3: Desember (2023)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v3i3.31535

Abstract

ABSTRAKPerairan di Aceh merupakan perairan yang sangat strategis sebagai daerah perikanan, sehingga banyak jenis alat tangkap yang digunakan di Aceh, salah satunya alat tangkap pukat pantai. Pukat pantai ialah salah satu alat tangkap tradisional yang masih dipakai di Aceh, hal ini dikarenakan skala usaha pukat pantai relatif kecil. Pukat pantai adalah salah satu jenis pukat kantong yang digunakan untuk menangkap ikan, baik ikan pelagis maupun ikan demersal yang berada di tepi pantai. Penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap pukat pantai telah banyak dilakukan oleh nelayan Aceh. Upaya penangkapan yang dilakukan oleh nelayan dengan jenis alat tangkap ini masih berlangsung hingga sekarang, dimana usaha ini dapat dijadikan sebagai suatu sumber pendapatan. Penelitian komparasi analisis komposisi hasil tangkapan pukat pantai di Desa Padang Kawa dan Desa Alue Naga dilaksanakan pada bulan April 2022 selama 13 hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah komposisi jenis hasil tangkapan pukat pantai dan membandingkan komposisi hasil tangkapan pukat pantai. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode survei dengan melakukan pengamatan dan pengumpulan informasi langsung di lokasi penelitian, data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 21 jenis hasil tangkapan di Desa Padang Kawa dengan komposisi hasil tangkapan dominan oleh ikan teri (Encrasicholina punctifer) yaitu sebanyak 22% dan terdapat 23 jenis hasil tangkapan pukat pantai di Desa Alue Naga dengan hasil tangkapan yang mendominasi adalah ikan pepetek (Leiognathus equulus) yaitu sebanyak 25% serta terdapat 17 jenis hasil tangkapan dengan spesies yang sama.Kata kunci: Komposisi hasil tangkapan, Pukat pantai, Alue Naga, Padang Kawa.ABSTRACTWaters in Aceh are very waters strategic as area fisheries, so many type tool catch used in Aceh, one of them tool catch trawl beach. Trawl beach is one tool catch still traditional used in Aceh, this because scale effort trawl beach relatively small. Trawl the beach is one type trawl pouch used for catch fish, both pelagic fish and demersal fish that are on the edge beach. Fishing with use tool catch trawl beach has many carried out by Acehnese fishermen. Effort fishing done by fishermen with type tool catch this still going on until now, where effort this could made as something source income. Study comparison analysis composition results catch trawl beach in Padang Kawa Village and Village Alue Naga will be held in April 2022 for 13 days. Study this aim to know total composition type results catch trawl beach and compare composition results catch trawl beach. The method used in the research this use method survey with do observation and collection information right on site research, data analyzed in a manner descriptive and presented in shape table. Research results show that there are 21 types results catch in Padang Kawa Village with composition results catch dominated by anchovy (Encrasicholina punctifer) ie as much as 22% and there are 23 types results catch trawl beach in the village Alue Naga with results dominating catch is pepetek fish (Leiognathus equulus) ie as much as 25% as well there are 17 types results catch with same species.Keywords: Composition results catch, Trawl beach, Alue Naga, Padang Kawa.
Profil Endoparasit pada Ikan Gabus (Channa striata) Berdasarkan Kondisi Habitat Dina Meltia; Diannita Harahap; Rizki Nanda; Nanda Rizki Purnama
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 2, No 1: April (2022)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v2i1.24548

Abstract

Profil endoparasit pada ikan Gabus (Channa striata) berdasarkan kondisi habitatnya. Infeksi endoparasit berpotensi mengakibatkan ganguan pertumbuhan hingga kematian ikan. Infeksi endoparasit menganggu sistem metabolisme tubuh inang dengan merusak organ pencernaan seperti lambung dan usus. Ikan Gabus juga mengandung Cu, Fe, Ca dan Zn yang bermanfaat mempercepat pembentukan sel baru dalam penyembuhan luka pasca operasi maupun luka bakar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi, intensitas, dominansi, hubungan panjang bobot, dan Faktor kondisi ikan gabus berdasarkan kondisi habitatnya. Penelitian ini dilakukan Laboratorium Multifungsi Biologi Uin Ar-raniry. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2021. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 3 jenis endoparasit yang menginfeksi ikan gabus yaitu Pallisentis sp, Anisakis sp dan Camallanus sp. prevalensi endoparasit yang paling tinggi terdapat pada areal selokan senilai 76,67 % (Usually/biasanya) dan prevalensi palig rendah didapatkan pada areal rawa 63, 3 % (Frequently/sangat sering), intensitas paling rendah terdapat pada areal sawah senilai 8,1 (sedang)  dan paling tinggi pada areal rawa senilai 9,32 (sedang). Dominansi endoparasit yang paling banyak ditemukan Anisakis sp dan pallisentis sp mendominansi ke 3 habitat tersebut sedangkan Camallanus Cuma terdapat pada habitat sawah dan selokan saja. Ikan gabus yang terinfeksi cenderung memiliki panjang bobot rata-rata lebih rendah dibandingkan ikan yang sehat. Ikan gabus dengan kisaran panjang 218,5-228,5 dan 258,5-268,5 mm serta berat 146,2-176,2 dan 177,2-207,2 cenderung terhadap infeksi endoparasit dibandingkan ukuran lainnya.
Description of Lobster Catching in The Baai Island Area, Bengkulu City Rafif Iqra Gunawan; Dedy Bakhtiar; Nurlaila Ervina H
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 3, No 1: April (2023)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v3i1.30043

Abstract

The waters of the city of Bengkulu, as one of the sources of livelihood for Baii Island fishermen, are located at position 03”47”30” South Latitude and 120”15”40” East Longitude, and have clusters of coral reefs according to the position and name of the coral reefs. Taping 1, Taping 2, Karang Sawang, Karang Lebar, Karang Gosong and other coral reefs are the destinations for fishermen to catch lobsters. Based on the results of field research on 3 fishing boats that catch lobsters using gill nets, obtained results; 11 stone prawns (Panulirus penicillatus) (36.70%) with carapace length between 11.2 – 16.7 cm, weight between 110 – 470 grams. Sand Shrimp (Panulirus homarus) 8 heads (26.70%), carapace length between 13.5 – 15.9 cm, weight between 200 – 300 grams. Pearl Shrimp (Panulirus ornatus), 5 individuals (16.60%) with carapace length between 15.6 – 17.7 cm, weight between 280 – 590 grams, and Bamboo Shrimp (Panulirus polyhagus) 6 individuals (20.00%) with carapace length between 12.9 – 18.7 cm, weight between 260 – 630 grams. From the results of the regression analysis using the formula, W = a Lb, it is known that b 3. Thus, the relationship between carapace length and weight is negative allometric, with the understanding that carapace length growth is not directly/significantly proportional to weight growth. Or in other words, the growth of carapace length is faster than the growth of lobster weight.Keywords: Gill net, lobster, Bengkulu city lobster fishermen
Aspek Biologi Dan Hubungan Panjang Berat Udang Swallow (Metapenaeus Ensis), Udang Putih (Panaeus merguiensis) Dan Udang Dogol (Metapenaeus monoceros Fab.) Di Perairan Aceh Utara Ardiansyah Ardiansyah; Muhammadar Muhammadar; Dedi Fazriansyah Putra
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 1, No 2: Agustus (2021)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Matang Puntong Seunuddon Kabupaten Aceh utara merupakan wilayah pesisir yang sangat potensial dalam bidang Kelautan dan perikanan. Potensi perikanan diwilayah ini salah satu diantara nya adalah udang dengan nilai ekonomis tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa aspek biologi seperti mengidentifikasi jenis meliputi hubungan panjang berat dan nisbah kelamain. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penarikan acak sederhana yaitu dengan mengambil sampel udang secara acak dari satu bakul hasil tangkapan nelayan dalam 1 kali berlayar. Sampel udang diambil 10% dari total hasil tangkapan nelayan kemudian diukur panjang dan ditimbang beratnya. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan April 2021 dipesisir pantai Desa Matang Puntong, Seunuddon Kabupaten Aceh Utara. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga jenis udang yaitu udang swallow dengan kisaran panjang 95-150 cm, udang putih dengan kisaran panjang 12 – 90 cm, dan udang dogol dengan kisaran panjang 59 – 96 cm dengan karakteristik pertumbuhan udang baik jantan maupun betina adalah allometrik negatif. Berdasarkan perhitungan nisbah kelamin didapatkan rasio perbandingan udang swallow jantan dan betina sebesar 1:0,60 dengan nilai tes chi square 4,353,77 dan udang dogol dengan perbandinagan sebesar 1:23 dengan nilai tes chi square 4,350,63.
The Effect Thyroxine Hormone with Different Doses and Age of Larvae on Growth and Survival Rate of Snakehead (Channa striata) Larvae Hanifa, Hanifa; Aryani, Netti; Sukendi, Sukendi
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 2, No 3: Desember (2022)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v2i3.28244

Abstract

This research was conducted on November - December 2021, at Fish Hatchery and Breeding Laboratory of Fishery and Marine Faculty of Riau University. The research aim is to determine the effect of thyroxin hormone with doses and different age on growth and survival rate of snakehead larvae. The method used was Completely Randomized Design Factorial. The first factor was the different doses with 4 levels, namely 0 mg/L (D0), 0,3 mg/L (D1), 0,5 mg/L (D2) and 0,7 mg/L (D3). The second factor is larvae age with 3 levels, namely 3 days (U3), 5 days (U5) and 7 days (U7). Larvae was rearing for 40 days in an aquarium with a density of 2 fish/L. The findings showed that thyroxin hormone with different doses and larvae age affected the growth of absolute weight and length, specific growth rate, and also survival rate of snakehead larvae. The treatment of doses 0,7 mg/L and 7 days of larvae age (D3U7) showed the highest growth, namely absolute weight 3.32 g, absolute length 6,19 cm, specific growth rate of 17.53%/day, and survival rate of 90%. The parameter of water quality during the research was 26,9-28.9C, pH 6.7-7.6, dissolved oxygen 5-7.2 mg/L, and ammonia 0.0024-0.0035 mg/L.Keywords: Thyroxine Doses, Different Age, Channa striata, Growth and Survival Rate