cover
Contact Name
Julian Dwi Saptadi
Contact Email
julian.juli27@gmail.com
Phone
+6285753453577
Journal Mail Official
julian.juli27@gmail.com
Editorial Address
komp. Sumber Indah no.117, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat (JLKM)
ISSN : 29880726     EISSN : 2985895X     DOI : https://doi.org/10.69883/jlkm.v2i3.48
Core Subject : Health,
Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat (JLKM) is a scientific journal that focuses on the science of Public Health. This journal contains Health Editorials, Literature Reviews, and Research Results in the field of public health such as Environmental Health, Occupational Health and Safety (OHS), Health Nutrition, Health Policy Administration, Epidemiology, Biostatistics and Population, Behavior and Health Promotion, Maternal Child Health and Reproductive Health.
Articles 95 Documents
Uji kerentanan nyamuk Aedes aegypti Surabaya terhadap sipermetrin menggunakan metode tabung WHO Safitri, Noviandini Intan; Arifin, Hana Maghfira; Dessanty, Regina Putri; Etik Ainun Rohmah
Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat
Publisher : PT. Lentera Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69883/vd4sgj34

Abstract

Kegagalan program pengendalian vektor demam berdarah sering dikaitkan dengan munculnya resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida. Penelitian ini dilakukan untuk menilai tingkat kerentanan nyamuk Aedes aegypti dewasa strain Surabaya terhadap insektisida sipermetrin menggunakan metode tabung WHO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strain Surabaya Timur dan Surabaya Selatan dari nyamuk Aedes aegypti mulai menunjukkan tanda-tanda resistensi terhadap insektisida sipermetrin dengan tingkat kematian untuk strain Surabaya Timur hanya mencapai 85% pada konsentrasi insektisida sipermetrin terendah dan masuk ke dalam kategori ‘resisten’, sedangkan tingkat kematian strain Surabaya Selatan mencapai 90% pada konsentrasi insektisida sipermetrin terendah dan masuk ke dalam kategori ‘terduga resisten’. Waktu yang dibutuhkan untuk melumpuhkan 95% populasi nyamuk uji dari kedua strain (KT 95) lebih dari 1 jam dan nilai rasio resistensi kelumpuhan (KRR) lebih dari 1. Temuan ini menunjukkan perlunya perubahan tindakan dalam menangani vektor seperti perlunya rotasi insektisida, pengembangan metode pengendalian alternatif, atau pemantauan resistensi secara berkala. Informasi ini penting untuk merumuskan kebijakan pengendalian vektor yang lebih tepat dan berkelanjutan di Surabaya.
Evaluasi penggunaan Amlodipin pada pasien geriatri di Puskesmas Mojogedang 1 Karanganyar periode Juli – Desember 2024 Adiningsih, Retnowati; Hapsari, Eliza Dian
Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat
Publisher : PT. Lentera Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69883/7vkja684

Abstract

Evaluasi penggunaan Amlodipin pada pasien geriatri penting dilakukan karena pada kelompok usia ini sering mengalami perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik yang meningkatkan risiko efek samping. Amlodipin efektif dalam mengontrol hipertensi, tetapi pasien geriatri dengan komorbiditas seperti penyakit ginjal atau penggunaan obat multiple rentan terhadap interaksi obat yang memperburuk efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaaan obat Amlodipin dan memberikan gambaran nyata mengenai kualitas penggunaan Amlodipin pada pasien geriatri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif menggunakan data rekam medis dalam Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS). Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Selanjutnya dilakukan evaluasi penggunaan Amlodipin, berdasarkan indikator tepat pasien, tepat obat, dan tepat dosis yang disesuaikan dengan dengan pedoman JNC VIII. Dari 46 pasien, didapatkan 100% tepat pasien, 100% tepat obat, dan 97,83% tepat dosis. Ditemukan ketidaktepatan dosis sebanyak 2,17% yang menunjukkan perlunya perhatian lebih dalam penentuan dosis pada pasien geriatri. Penggunaan Amlodipin pada pasien geriatri belum sesuai semua dengan pedoman JNC VIII, maka evaluasi penggunaan obat secara berkala tetap perlu dikakukan untuk memastikan terapi yang optimal dan aman pada pasien geriatri.
Peningkatan kadar myoglobin, IGF-1 dan kreatinin kinase terhadap asupan protein (Trichiurus lepturus) dan aktivitas fisik Suryadinata, Rivan Virlando; Boengas, Sawitri; Jayasaputri, Priscilla Keshia; Latuputty, Henriette Milda; Dianti Mulyadi, Nisa Kirania; Haya, Nawal Fajril
Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat
Publisher : PT. Lentera Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69883/eh7v4a25

Abstract

Asupan protein dan aktivitas fisik merupakan salah satu cara mempercepat pertumbuhan otot. Jumlah asupan protein menjadi salah satu faktor menentukan proses pertumbuhan otot. Sedangkan aktivitas fisik akan memicu kerusakan sel otot pasca latihan, namun akan mengalami perbaikan kembali sehingga terjadi perubahan massa otot. Myoglobin dan kreatin kinase menjadi salah penanda adanya kerusakan sel akibat aktivitas fisik dan Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1) merupakan hormon pertumbuhan bagi otot. Beltfish (Trichiurus lepturus) memiliki kandungan protein yang tinggi dan mudah diolah sebagai bahan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kadar myoglobin, IGF-1 dan kreatinin kinase dalam darah terhadap asupan protein beltfish dan aktivitis fisik. Metode penelitian ini adalah eksperimental dengan menggunakan hewan coba tikus wistar (Rattus novergicus) yang terbagi menjadi 6 kelompok. 3 kelompok merupakan kelompok kontrol sedangkan 3 kelompok lainnya diberikan kadar protein yang berbeda dan aktivitas fisik selama 28 hari. Parameter pengukuran perkembangan otot menggunakan kadar myoglobin, kreatin kinase dan IGF-1 dalam darah. Data yang telah didapatkan akan dilakukan uji one way ANOVA untuk mengetahui perbedaan antar kelompok. Hasil penelitian memperlihatkan aktivitas fisik dapat meningkatkan kadar myoglobin, IGF-1 dan kreatinin kinase. Pemberian asupan protein terbukti dapat meningkatkan massa otot melalui perbaikan kadar myoglobin, IGF-1, dan kreatinin kinase
Evaluasi context, input, reaction pada pelatihan kader posyandu integrasi layanan kesehatan primer (ILP) di Puskesmas Tegal Timur Lestari, Ayu Khusnia; Arso, Septo Pawelas; Nandini, Nurhasmadiar
Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat
Publisher : PT. Lentera Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69883/8whc3753

Abstract

Seiring dengan perluasan kelompok sasaran dalam Posyandu ILP, kader sebagai pelaksana utama dituntut memiliki keterampilan yang memadai. Puskesmas Tegal Timur telah melaksanakan pelatihan kader Posyandu ILP, tetapi capaian keterampilan kader masih belum sepenuhnya optimal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi context, input, dan reaction pelatihan kader Posyandu Integrasi Layanan Kesehatan Primer (ILP) di Puskesmas Tegal Timur. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui wawancara mendalam. Informan penelitian dipilih secara purposive dengan total 11 informan, terdiri dari 4 informan utama dan 7 informan triangulasi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2025 – Maret 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek context, pemahaman tujuan pelatihan masih bersifat umum dan belum dilengkapi indikator keberhasilan secara spesifik, serta kebutuhan pelatihan masih berorientasi pada pemenuhan ketentuan administratif. Pada aspek input, ditemukan tantangan berupa penyesuaian jadwal, terbatasnya anggaran, monitoring dan evaluasi di lapangan masih bersifat umum, serta pedoman belum diketahui secara menyeluruh. Pada aspek reaction, sebagian besar petugas dan peserta memberikan respons positif, namun reaksi pada pascapelatihan belum sepenuhnya maksimal karena monitoring dan evaluasi hanya melihat gambaran umum, sehingga diperlukan penguatan terkait pemahaman tujuan dan indikator pelatihan secara spesifik, pendampingan dan evaluasi yang lebih terstruktur untuk memastikan peningkatan keterampilan kader dapat berjalan secara berkelanjutan.
Determinan pemanfaatan pemeriksaan kesehatan gratis pada lansia di Desa Bedali, Kabupaten Malang Djuari, Lilik; Anindya Mubarok, Helga; Adia Abiati , Nathan; Fida Sauqina , Adilla; Syaichullah Ghazur Ilahi , Muhammad; Amalia Febriyana, Alisa; Rahmalya Ardy , Najmi; Maulina Efendi, Rizka; Amirasanti Fepiosardi , Raihanette; Sumiati
Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat
Publisher : PT. Lentera Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69883/2bb6gz39

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) menjadi salah satu tantangan dalam sistem kesehatan masyarakat. Lansia memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit kronis sehingga diperlukan upaya deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala. Pemerintah Indonesia telah menyediakan program pemeriksaan kesehatan gratis sebagai bagian dari penguatan pelayanan kesehatan primer melalui pendekatan Integrasi Layanan Primer (ILP). Pemanfaatan pemeriksaan kesehatan gratis pada lansia merupakan salah satu upaya penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, namun tingkat pemanfaatannya masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dan aksesibilitas pelayanan kesehatan dengan pemanfaatan pemeriksaan kesehatan gratis pada lansia. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan di Dusun Krajan, Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Sampel penelitian sebanyak 40 lansia yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, serta multivariat menggunakan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan berhubungan signifikan dengan pemanfaatan pemeriksaan kesehatan gratis (PR = 2,45; p = 0,032) dan menjadi faktor yang paling berpengaruh berdasarkan analisis multivariat (AOR = 3,12). Sementara itu, sikap (p = 0,705) dan aksesibilitas pelayanan kesehatan (p = 0,861) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Pengetahuan merupakan faktor dominan yang memengaruhi pemanfaatan pemeriksaan kesehatan gratis pada lansia. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan dan literasi kesehatan melalui edukasi yang terstruktur dan berkelanjutan perlu dilakukan untuk meningkatkan partisipasi lansia dalam pelayanan kesehatan preventif.

Page 10 of 10 | Total Record : 95