cover
Contact Name
Ahmad Yousuf Kurniawan
Contact Email
frontbiz@ulm.ac.id
Phone
+6281211109125
Journal Mail Official
frontbiz@ulm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat Jl. Jend. Ahmad Yani Km. 36, Banjarbaru, Kalimantan Selatan 70714, Indonesia
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Frontier Agribisnis
ISSN : -     EISSN : 30481260     DOI : https://doi.org/10.20527/frontbiz
Frontier Agribisnis adalah jurnal yang dikelola Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat. Tema jurnal ini mencakup agribisnis secara umum, meliputi: analisis penyediaan input pertanian, analisis usaha tani dan perkebunan, analisis pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, penyuluhan dan komunikasi pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan analisis kebijakan pertanian. Terbit 4 kali dalam satu tahun (Maret, Juni, September dan Desember).
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 3 (2018)" : 10 Documents clear
ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI PADI SAWAH DI DESA ALAT KECAMATAN HANTAKAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH Muhammad Suprianur; Taufik Hidayat; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i3.647

Abstract

Pembangunan seringkali diartikan pada pertumbuhan dan perubahan.ITujuanIdari penelitian iniIadalahIuntukImengetahuiIbesarnyaIbiaya, penerimaan, pendapatan,IdanIkeuntunganIusahatani padiIsawahIdiIDesaIAlat Kecamatan Hantakan KabupatenIHulu Sungai Tengah dan tentang layak atau tidak layaknya suatu usahatani padi sawah di Desa Alat Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret 2018 sampai bulan Juli 2018 hasil penelitian ini menunjukan bahwa rata-rata biaya total dalam usahatani padi sawah di Desa Alat Kecamatan Hantakan selama satu kali musim tanam adalah Rp 6.667.843/usahatani, total penerimaan Rp 8.289.000/usahatani, rata-rata pendapatan Rp 3.680.082/usahatani dan rata-rata keuntungan Rp 1.621.157/usahatani. Usahatani padi sawah di Desa Alat Kecamatan Hantakan signifikan layak untuk diusahakan karena nilai RCRnya 1,24IlebihIbesarIdariI1.Kata kunci: analisis kelayakan, usahatani, padi sawah
KAJIAN TATANIAGA KARET RAKYAT DI KECAMATAN WANARAYA KABUPATEN BARITO KUALA Andri Hidayat; Hairi Firmansyah; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i3.639

Abstract

Potensi pengembangan dari salah satu sub-sektor perkebunan, salah satunya adalah perkebunan karet, tanaman karet memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan perekonomian rakyat, Perkebunan karet merupakan salah satu mata pencaharian sebagian besar masyarakat di Kecamatan Wanaraya Kabupaten Barito Kuala. Penelitian ini bertujuan mengetahui saluran tataniaga, biaya, marjin, bagian(share) harga dan kendala – kendala atau permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh petani maupun pedagang pengumpul di Kecamatan Wanaraya. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Jumlah sampel responden yang diambil berjumlah 32 sampel,terdiri dari 30 orang petani karet dan 2 orang pedagang pengumpul. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei dan snowball. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 2 saluran tataniaga karet rakyat di Kecamatan Wanaraya yang teridiri dari petani karet(produsen), pedagang pengumpul ditingkat desa pengumpul ditingkat kecamatan dan Pabrik olah karet. Biaya rata-rata dalam tataniaga karet dari dua saluran yang ada adalah sebesar Rp 335,-/kg dan Rp 707,-/kg. Marjin tataniaga yang diterima dari pedagang pengumpul memiliki perbedaan yaitu sebesar Rp 739,-/kg. Keuntungan yang diperoleh dari dua pedagang pengumpul yaitu Rp 4.665,-/kg dan Rp 5.032,-/kg dan bagian (share) harga yang diterima petani pada saluran I dan II masing-masing sebesar 62% dan 59% dan ditingkat pedagang pengumpul tingkat desa maupun kecamatan sama besarnya yaitu sebesar 82,5%. Kendala/permasalahan yang dihadapi oleh petani karet dan pedagang pengumpul yaitu harga yang tidak stabil dan kualitas bahan olah karet hasil produksi yang kurang baik.Kata kunci : tataniaga, saluran tataniaga, biaya, marjin, keuntungan
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENDORONG ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH MENJADI LAHAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI KECAMATAN BARAMBAI KABUPATEN BARITO KUALA Supiandi Supiandi; Luthfi Fatah; Nuri Dewi Yanti
Frontier Agribisnis Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i3.649

Abstract

Alih fungsi lahan di Indonesia masih terjadi dua dekade terakhir,salah satunya alih fungsi lahan pertanian sawah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Barito Kuala,menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2017 terjadi peningkatan luas tanam (LT) perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Barito Kuala yang terdiri dari 17 Kecamatan pada tahun 2015 seluas 158 hektar dan pada tahun 2016 seluas 2.908 hektar, peningkatan alih fungsi lahan persawahan menjadi lahan perkebunan sawit yang terjadi di Barito Kuala sangatlah besar,hal ini menarik untuk diteliti. Alih fungsi lahan yang pesat memiliki dampak positif dan negatif secara langsung terhadap petani. Tujuan penelitian adalah menganalisis faktor-faktor yang mendorong rumah tangga petani untuk mengkonversi lahan pertanian, perubahan struktur pendapatan akibat konversilahan sawah menjadi lahan perkebunan sawit di Kecamatan Barambai. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan April 2018 sampai bulan Agustus 2018. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor–faktor pendorong terdiri atas dua komponen dasar yaitu faktor Faktor utama yang banyak dipilih oleh petani responden (40%) sebagai alasan untuk mendorong melakukan alih fugsi lahan. Sedangkan faktor eksternal faktor utama yang paling memprioritaskan petani pengaruh dari warga lain yang lebih dahulu mengkonversi lahannya sejumlah 19 orang responden (63,4%), sebagai alasan yang mendorong mengkonversikan lahan sawahnya menjadi lahan perkebunan kelapa sawit di Kecamtan Barambai. Struktu pendapatan rumah tanggah petani pendapatan petani rata-rata Rp 8.280.000,- dalam satu bulan sedangkan sesudah konversi lahan penadapatan rata-rata Rp 7.040.000,- dapat dilihat bahwa pendapatan para petani mengalami penurunan sesudah konversi lahan sebesar Rp 1,240,000,- dari sebelumnya.Kata kunci: alih fungsi lahan, pendapatan.
ANALISIS FINANSIAL USAHATANI JAMUR TIRAM DI KELURAHAN LANDASAN ULIN TIMUR KOTA BANJARBARU Marni Marni; Muhammad Husaini; Abdurrahman Abdurrahman
Frontier Agribisnis Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i3.645

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara pembudidayaan usahatani jamur tiram. Menganalisis biaya yang dikeluarkan, serta peneriman, pendapatan dan keuntungan yang diperoleh dan tingkat kelayakan usaha budidaya jamur tiram di Kelurahan Landasan Ulin Timur. Hasil dari penilitian ini adalah cara pembudidayan jamur tiram yang baik di lakukan dengan menyiapkan kubung terlebih dahulu selanjutnya dilakukan pemeliharaan pada baglog jamur tiram meliputi penyiraman, menjaga kebersihan serta pengaturan suhu, selanjutnya dilakukan pemanenan dimana mencabut jamur tiram yang tumbuh pada baglog. Dengan kata lain bahwausahatani jamur tiram sudah sesuaidengan ajuran secara teoritis. Total biaya yang dikeluarkan meliputi biaya eksplisit terdiridari(biaya log, biaya penyusutan kubung, biaya penyusutan rak, biaya penyusutan alat, biaya tenaga kerja luar keluarga, dan biaya air serta biaya listrik)yaitusebesarRp13.690.015. Sementara biaya implisit terdiridari(biaya tenaga kerja dalam keluarga, biaya sewa lahan milik sendiri dan bunga modal) sebesar Rp 3.995.287/usahatani. Penerimaan yang diperoleh sebesar Rp 29.440.476/usahatani, sehingga besarnya pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 15.750.462/usahatani. Keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 11.755.174/usahatani, dengan nilai RCR yang diperoleh sebesar 1,63. Hal ini berarti bahwa usahatani jamur tiram layak untuk diusahakan, karena nilai RCR > 1.Kata Kunci : analisis, efektivitas, produksi, biaya
ANALISIS PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN PETANI KARET DI KECAMATAN LIMPASU KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH Purnama Sari; Nina Budiwati; Luki Anjardiani
Frontier Agribisnis Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i3.640

Abstract

Potensi pengembangan dari salah satu sub-sektor perkebunan, salah satunya adalah perkebunan karet tanaman ini merupakan tanaman perkebunan yang bernilai ekonomis tinggi, dan memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan perekonomian rakyat. PerkebunanIkaret salah satu pekerjaan utamaIyang diusahakan kebanyakanImasyarakat diIKecamatan Limpasu. Penelitian ini bertujuan mengetahuiIpendapatanIpetani karet diIKecamatan Limpasu dan mengetahui tingkat kesejahteraan petani karet di Kecamatan Limpasu KabupatenIHulu Sungai Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Jumlah sampel responden yang diambil berjumlah 30 sampel dengan metode proportionate random sampling. Berdasarkan hasil penelitian pendapatan yang diperoleh petani karet di Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah rata-rata sebesar Rp 18.545.336/tahun, pendapatan usahatani padi rata-rata sebesar Rp 4.459.000/tahun, dan rata-rata untuk pendapatan nonusahatani sebesar Rp 5.164.000/tahun. Kemudian untuk rata-rata pendapatan rumah tangga petani di Kecamatan Limpasu adalah Rp 28.168.336/tahun. Tingkat kesejahteraan petani di Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah berdasarkan indikator BKKBN rata-rata termasuk dalam sejahtera II sebanyak 30% dan sejahtera III sebanyak 70%. Menurut acuan dari BPS petani di katakan tidak miskin karena rata-rata pendapatan yang di terima petani diatas acuan dari BPS yaitu sebesar Rp 4.092.288/kapita/tahun. Sedangkan menurut acuan dari Bank Dunia terdapat 80% petani yang pendapatan dibawah Rp 9.651.600/kapita/tahun, sisanya 20% yang memiliki pendapatan diatas acuan Bank Dunia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa petani di Kecamatan Limpasu tergolong tidak sejahtera atau miskin dan tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.Kata kunci : pendapatan, tingkat kesejahteraan
PERANAN PENYULUH DALAM MENINGKATKAN DINAMIKA KELOMPOK TANI DI DESA PANGGALAMAN KECAMATAN MARTAPURA BARAT KABUPATEN BANJAR Ahmad Farhansyah; Taufik Hidayat; Muzdalifah Muzdalifah
Frontier Agribisnis Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i3.643

Abstract

Kebijakan pembangunan pertanian di kebanyakan Negara adalah meningkatkan produksi dalam jumlah yang sama dengan pememintaan akan bahan pangan yang semakin meningkat, dengan harga yang bersaing dipasar dunia. Pembangunan pertanian seharusnya berkelanjutan dengan mengikuti perkembangan zaman. informasi yang di lakukan tidak hanya dari penyuluh, tetapi juga dari sumber lain, termasuk pengalaman mereka sendiri serta pengalaman dalam mengembangkan wawasan. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat dinamika kelompok tani di Desa Panggalaman termasuk dalam kategori sedang atau cukup dinamis dengan persentase 75,39%. Sedangkan untuk tingkat peran penyuluh dalam meningkatkan dinamika kelompok tani dalam kategori sedang dengan persentase 73,03%. Hal tersebut disebabkan beberapa variabel yang memiliki nilai yang mayoritas tergolong dalam kategori sedang karena hubungan penyuluh dengan kelompok tani dalam memfasilitasi, memperlancar komunikasi dan meningkatkan motivasi belum sepenuhnya tercapai.Kata kunci: pembangunan pertanian, peranan penyuluh, dinamika kelompok
ANALISIS FINANSIAL USAHA INDUSTRI PENGOLAHAN KERUPUK LILIT “PADA SUKA” DI KELURAHAN LOKTABAT SELATAN KOTA BANJARBARU Muslimin Muslimin; Mira Yulianti; Hairi Firmansyah
Frontier Agribisnis Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i3.648

Abstract

Salah satu produk industri pengolahan hasil pertanian yang banyak berkembang adalah industri pengolahan pangan. Industri pengolahan pangan mempunyai prospek bisnis yang cukup baik dan keberadaanya banyak dibutuhkan masyarakat untuk mencukupi kebutuhanya terhadap pangan khususnya pangan yang berupa produk olahan, baik setengah jadi maupun sudah jadi yang siap untuk dikonsumsi secara langsung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran umum usaha industri pengolahan kerupuk Lilit “Pada Suka” perusahaan milik H. Aendi, mengetahui besarnya biaya, penerimaan, dan keuntungan dari usaha industri pengolahan kerupuk Lilit “Pada Suka” perusahaan milik H. Aendi, mengetahui besarnya titik impas/Break Even Point (BEP) dari usaha industri pengolahan kerupuk Lilit “Pada Suka” perusahaan milik H. Aendi dan mengetahui hambatan apa saja yang dihadapi dalam usaha industri pengolahan kerupuk Lilit “Pada Suka” perusahaan milik H. Aendi. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus 2017 sampai bulan Maret 2018. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa biaya total dalam usaha industri pengolahan kerupuk Lilit “Pada Suka” selama tahun 2017 adalah sebesar Rp 1.832.492.096,-, total penerimaan selama tahun 2017 sebesar Rp 2.835.000.000,-, dan keuntungan selama tahun 2017 sebesar Rp 1.002.507.904,-. Usaha industri pengolahan kerupuk Lilit “Pada Suka” milik H. Aendi mencapai titik impas/Break Even Point (BEP) pada saat jumlah produksi minimal sebanyak 317.592 bungkus, dengan jumlah penjualan minimal sebesar Rp 952.778.792,- dan dengan harga minimal sebesar Rp 1.938,-. Permasalahan yang dihadapi dalam menjalankan usaha industri pengolahan kerupuk Lilit “Pada Suka” adalah apabila terjadi musim hujan, hal ini dapat mempengaruhi hasil kerupuk yang dihasilkan karena penjemuran yang efektif menggunakan sinar matahari. Selain itu permasalahan yang dihadapi adalah terjadinya perubahan harga bahan baku utama terhadap bawang merah dan bawang putih.Kata kunci: pengolahan, biaya, titik impas
ANALISIS FINANSIAL USAHA PENGOLAHAN AMPLANG (STUDI KASUS AMPLANG “KUNCI MAS KU”) di DESA HILIR KECAMATAN PULAU LAUT UTARA KABUPATEN KOTABARU Widiyas Astuti; Nina Budiwati; Hamdani Hamdani
Frontier Agribisnis Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i3.642

Abstract

Indonesia adalah negara kaya akan budaya, hasil hutan, dan lautnya. Negara Indonesia sebagai negara agraris dan negara maritim. Indonesia adalah negara maritim terbesar didunia, bahkan negara kita 2/3 wilayahnya adalah lautan sehingga tidak heran jika Indonesia memiliki banyak spesies ikan yang tidak dipunyai dinegara lain. Amplang adalah khas panganan yang terbuat dari ikan tenggiri. Salah satu wilayahnya pengolahan amplang adalah Kotabaru. Industri amplang Kunci Mas Ku pengolahan industri skala kecil yang bergerak dalam pengolahan amplang. Home industry ini terdapat di Jalan Batu Selira Gg. Kunci Mas No.42 Desa Perumnas Hilir Kecamatan Pulau Laut Utara Kabupaten Kotabaru. Usaha berlangsung selama Usaha ini sudah berlangsung selama ± 16 tahun dimulai pada tahun 2000 hingga sekarang tahun 2017. Usaha Amplang Kunci Mas Ku mampu bertahan dengan maraknya usaha yang sama dan meningkat karena kualitas produk yang dihasilkan memiliki rasa yang gurih. Ibu Mariana menggunakan bahan baku yaitu ikan tenggiri saja tanpa adanya campuran dari ikan–ikan lainnya. Pemasaran amplang Kunci Mas Ku dipasarkan di Kotabaru, dikirim ke Batulicin, serta Sungai Danau. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran umum pengolahan amplang, besar biaya, penerimaan, keuntungan, pendapatan, BEP (Break Event Point), serta permasalahan yang terjadi selama usaha amplang Kunci Mas Ku berajalan selama tiga bulan terakhir yaitu bulan Desember, Januari, dan Februari. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dimana metode ini merupakan metode yang hanya meneliti pada satu kasus, penelitian ini adalah deskriptif dan kualitatif. Hasil penelitian di home industry amplang Kunci Mas Ku adalah Pembuatan amplang merk Kunci Mas Ku menggunakan bahan baku berupa daging ikan tenggiri segar, dicampur dengan bahan pembantu lainnya yaitu: tepung tapioka, telur ayam, garam, gula, penyedap rasa, bawang merah, bawang. Usaha ini sangat menguntungkan namun pemasaran yang dilakukan oleh produsen selama ini tidak memanfaatkan social media untuk menjual hasil dagangannya sehingga kurang dikenal oleh masyarakat luas.Kata kunci: analisis finansial, amplang, biaya.
ANALISIS RANTAI PASOK PRODUKSI UDANG WINDU (Penaeus monodon) PADA GUDANG PT WIRONTONO BARU KABUPATEN KOTABARU (Studi Kasus pada Gudang PT Wirontono Baru Kabupaten Kotabaru) Leni Pebriani; Yudi Ferrianta; Luki Anjardiani
Frontier Agribisnis Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i3.646

Abstract

Indonesia memiliki lahan budidaya perikanan yang cukup potensial, yang merupakan lahan budidaya terluas di dunia. Perairan Indonesia seluas 75 persen dari negaranya memberikan potensi yang baik bagi sektor perikanan.Kabupaten Kotabaru merupakan kantong produksi perikanan terbesar di Provinsi Kalimantan Selatan, baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya.Udang beku (frozen shrimp) merupakan hasil perikanan yang memiliki volume angka tertinggi dan nilai tertinggi dalam ekspor perikanan Indonesia dibandingkan dengan komoditi – komoditi lain pada hasil perikanan Indonesia. Penerapan sistem rantai pasok akan membuat keberlangsungan perusahaan dalam proses bisnis berjalan dengan baik, hal ini dilihat dari fenomena perusahaan yang tidak menerapkan sistem manajemen rantai pasok dapat kesulitan untuk mencari rekanan dalam usaha/bisnis yang dilakukan oleh perusahaan.Pengolahan industri frozen shrimp yang berdaya saing tinggi perlu melakukan perbaikan dalam kinerja manajemen rantai pasok pada perusahaan pengolahan udang beku secara menyeluruh. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui manajemen rantai pasok dan permasalahan gudang terhadap sebuah perusahaan berkembang di sektor Udang Windu yang berada di Kabupaten Kotabaru pada bulanJuni, Juli dan Agustus 2017. Penelitian dengan metode studi kasus, dimana metode ini merupakan metode yang hanya meneliti pada satu kasus, penelitian ini adalah deskriptif. Hasil penelitian manajemen rantai pasok udang windu pada gudang PT Wirontono Baru Kabupaten Kotabaru dalam menjalankan usahanya yaitu dengan sistem organisasi perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staf organisasi (staffing), pemotivasian dan pengawasan berjalan dengan baik dibawah pengawasan dari kepala gudang di gudang PT Wirontono Baru tersebut.Masalah yang terdapat pada gudang PT Wirontono Baru Kabupaten Kotabaru yakni seringnya terjadi kekurangan pasokan udang windu yang disebabkan oleh saat gagal panen pada petani tambak yakni saat udang mati mendadak karena terkena penyakit atau pada saat cuaca ekstrem yang menyebabkan tingginya gelombang laut dan mengakibatkan para nelayan tidak bisa menangkap udang dilaut.Kata kunci:analis rantai pasok, udang windu
ANALISIS KOMPARATIF KEUNTUNGAN PETANI KARET DENGAN DAN TANPA PROGRAM GERAKAN BOKAR BERSIH DI DESA KEBUN RAYA KECAMATAN KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT Rita Puspitasari; Nina Budiwati; Rifiana Rifiana
Frontier Agribisnis Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i3.641

Abstract

Hal yang mendasari adanya gerakan bokar bersih yaitu untuk meningkatkan mutu karet yang dihasilkan oleh petani karet karena melihat semakin merosotnya harga karet ditingkat petani disebabkan karena pengolahan bokar yang masih dibawah standar dengan cara memasukkan kotoran berat maupun ringan serta penggunaan pembeku lateks yang tidak direkomendasikan.Pemerintah melalui Permentan No.38 Tahun 2009 menjelaskan betapa pentingnya petani karet mengolah bokar bersih, karena dengan adanya gerakan bokar bersih akan meningkatkan pendapatan petani serta bokar yang dihasilkan memiliki harga jual yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini yaitu Untuk mengetahui biaya, penerimaan, pendapatan, keuntungan petani karet dengan dan tanpa program gerakan bokar bersih, untuk menganalisis komparatif keuntungan petani karet dengan dan tanpa program gerakan bokar bersih, dan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh petani karet dalam mengolah dan menjual Bokar. Data yang digunakan adalah primer dan sekunder. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode secara non proporsionite random sampling dengan memilih 30 responden di Desa Kebun Raya Kecamatan Kintap.OAnalisisOyangOdigunakaniyaituianalisis kualitatifIdanikuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan dalam jangka waktu satu bulan rata-rata biaya total petani karet dengan program gerakan bokar bersih sebesar Rp 772.611 per ha dengan pendapatan sebesar Rp 2.166.856 per ha dan keuntungan sebesar Rp 1.666.856 per ha. Sedangkan untuk rata-rata biaya total petani karet tanpa program gerakan bokar bersih dalam jangka waktu satu bulan sebesar Rp 740.386 per ha dengan pendapatan sebesar Rp 1.279.497 per ha dan keuntungan sebesar Rp 769.497 per ha.Perbandingan keuntungan petani karet dengan dan tanpa program gerakan bokar bersih menggunakan Uji-t diperoleh nilai t hitung 6,752 dengan nilai sig 0,000 yang berarti nilai probabilitas sig < 0,05 ini menjelaskan bahwa keuntungan petani karet dengan dan tanpa program gerakan bokar bersih berbeda secara nyata.Kata kunci: Keuntungan, petani karet, bokar.

Page 1 of 1 | Total Record : 10