cover
Contact Name
Rezky Yunita
Contact Email
rezky.yunita@bmkg.go.id
Phone
+6282125693687
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Meteorologi dan Geofisika
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 174 Documents
Homogenisasi sebagai Tahap Pra-Pemrosesan Kajian Perubahan Iklim dengan Metode ACMANT Sutikno Sutikno; Putri Juanita Wahab; Ardhasena Sopaheluwakan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 18 No. 3 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v18i3.368

Abstract

Kesalahan interpretasi hasil kajian perubahan iklim rentan terjadi pada runtun data yang tidak kontinu atau tidak homogen. Oleh karena itu, homogenitas data menjadi syarat utama dalam kajian tersebut. Homogenitas data adalah kondisi data yang nilai variansinya disebabkan oleh variansi dalam cuaca dan iklim, sehingga apabila selama perekaman data terjadi kalibrasi alat, perpindahan lokasi alat/stasiun, dan perbedaan teknik pengambilan data oleh pengamat, dapat menyebabkan data mengandung variasi non-alamiah lainnya selain karena faktor iklim dan cuaca. Tahap awal dalam kajian perubahan iklim diperlukan tahap pra-pemrosesan berupa pengendalian kualitas. Pengendalian kualitas terdiri atas pengendalian kualitas basic dan pengendalian lanjutan, yaitu homogenisasi runtun data. Pengendalian kualitas basic, seperti: kasus pengulangan data yang mengindikasikan adanya kesalahan dalam perekaman data atau kesalahan pengamat saat melakukan pencatatan data, sedangkan homogenisasi data dilakukan dengan mengidentifikasi pola data. Penelitian ini menggunakan prosedur ACMANT dalam melakukan homogenisasi. Unsur cuaca yang dilakukan homogenisasi adalah temperatur di Kota Surabaya dan sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata mean temperatur hasil homogenisasi sebesar 0,1 lebih kecil daripada rata-rata  mean data asli
POLA SPASIAL DAN TEMPORAL PREDIKSI HUJAN INDONESIA BARAT MENGGUNAKAN WRF-EMS Sri Muslimah; Rahmat Hidayat; Wido Hanggoro
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.371

Abstract

Model numerik Weather Research and Forecasting Environmental Modelling System (WRF-EMS) digunakan pada studi ini dengan tujuan untuk mengkaji hasil keluaran prediksi hujan model WRF-EMS 1 dan 2 hari ke depan di 6 stasiun pengamatan cuaca terhadap data sinoptik dan TRMM, 8 initial and boundary conditions, serta mengkaji hasil keluaran prediksi hujan secara spasial model WRF-EMS. Konfigurasi skema standar dari model WRF-EMS dipertahankan dan hanya mengubah skema kumulus saja, yaitu menggunakan skema kumulus Betts-Miller-Janjic. Akurasi model ditunjukkan oleh rentang nilai threat score (TS) hasil prediksi hujan 1 dan 2 hari kedepan. Hasil prediksi hujan menunjukkan bahwa model WRF-EMS cukup baik untuk mensimulasikan kejadian tidak-hujan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Nilai TS di stasiun pengamatan cuaca Citeko dari model dengan resolusi horizontal 27 km untuk prediksi 1 dan 2 hari kedepan masing-masing berkisar antara 0 – 0.33 dan 0 – 0.30 sedangkan nilai TS dari model dengan resolusi horizontal 3 km untuk prediksi hujan 1 dan 2 hari kedepan masing-masing berkisar antara 0,17 – 0,75 dan 0.38 – 0.63. Peningkatan resolusi horizontal dari 27 km menjadi 3 km dapat meningkatkan nilai TS. Hal ini mengindikasikan bahwa model dengan resolusi horizontal 3 km lebih akurat untuk memprediksi hujan dibandingkan dengan model resolusi horizontal 27 km. Model WRF-EMS menghasilkan prediksi hujan yang over estimated secara spasial dan model ini lebih sensitif memprediksi hujan di Stasiun Citeko. WRF-EMS numerical models use to examine the output prediction of rain on 1 or two days ahead   using the WRF-EMS model at 6 weather observations stations and the TRMM data, 8 initials and boundary conditions, and to examine the output prediction of rain spatially using the WRF-EMS. In this study, the configuration of the standard scheme using the WRF-EMS model is maintained; however, the cumulus scheme is the Betts-Miller-Janjic cumulus scheme. The accuracy shown by threat values score (TS) of rain predicted on the 1 and 2 days later. The result shows that the model predictions of rain using WRF-EMS is good enough to simulate a no-rain events on the island of Sumatra and Kalimantan. The TS value at Citeko, horizontal resolution of 27 km, for the prediction of 1 and 2 days in advance of each ranged from 0 – 0.33, and 0 – 0.30, while the TS value of the model with a horizontal resolution of 3 km for rainfall predictions 1 and 2 days in advance each ranged from 0.17 to 0.75 and 0.38 - 0.63. The increased of horizontal resolution from 27 km to 3 km can also increase the value of TS. This indicates that the model with a horizontal resolution of 3 km is more accurate for predicting rain compared to the model horizontal resolution of 27 km. The rainfall prediction was spatially over estimated when using the WRF-EMS Model, and this model is more sensitive in predicting rain at Citeko Station.
SUMBER TSUNAMI GEMPA BUMI IQUIQUE, CHILI 2014 MENGGUNAKAN METODE BACK PROPAGATION TSUNAMI TRAVEL TIME (TTT) Dwi Hartanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.372

Abstract

Peringatan dini berupa estimasi waktu tiba gelombang tsunami bisa berguna untuk daerah yang terancam. Dengan mengetahui waktu tiba gelombang tsunami, negara-negara yang menerima peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) atau dari Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) dapat mempersiapkan diri dari ancaman tsunami. Waktu tiba gelombang tsunami yang tercatat oleh Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunamis (DART) dan tide gauge dapat digunakan untuk mengetahui luasan area gempa bumi, menggunakan metode Waktu Penjalaran Gelombang Tsunami Balik (Back Propagation Tsunami Travel Time (TTT)). Di dalam penelitian ini menggunakan 3 data DART dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan 4 data tide gauge dari Intergovernmental Oceanographic Commission (IOC) untuk gempa bumi Iquique, Chili 2014. Sumber tsunami menggunakan metode penjalaran gelombang tsunami balik untuk gempa bumi Iquique 2014 menghasilkan luas area dengan panjang sekitar 150 km, dan lebar 60 km. Luas area ini dapat menghasilkan gempa bumi dengan magnitude 8.0. Tsunami arrival time is very useful for tsunami early warning in certain areas. Countries that received tsunami early warning from Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) or from Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) in form of tsunami arrival time can be prepared for the incoming tsunami.  Tsunami wave arrival time recorded by a deep-ocean assessment and reporting of tsunami ( DART ) and tide gauges could be used to determine the extent of the earthquake area using the method of Back Propagation Tsunami Travel Time ( TTT ) . In this study, we used 3 DART Data from the National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA ) and 4 Data tide gauge of the Intergovernmental Oceanographic Commission ( IOC ) for the earthquake Iquique, Chile, 2014. Tsunami source area by back propagation method of The 2014 Iquique, Chile, Earthquake is approximately 150 km long and 60 km width. This source area can produce earthquake with magnitude of 8.0.
TOMOGRAFI GEOLISTRIK UNTUK IDENTIFIKASI LITOLOGI PADA LOKASI RENCANA BENDUNG DAN TEROWONGAN DI SULAWESI UTARA Boko Nurdiyanto; Imam Suyanto; Bambang Sunardi; Pupung Susilanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.373

Abstract

Pengukuran geolistrik telah dilakukan untuk mengidentifikasi litologi dan akuifer berdasarkan resistivitas batuan pada lokasi rencana pembangunan bendung dan terowongan di daerah Sulawesi Utara. Survei tiga lintasan menggunakan konfigurasi dipole-dipole dengan 32 elektroda (a = 5,5 m) dan kabel ekstensi 9 elektroda (a = 20 m). Analisa tomografi resistivitas menunjukan daerah survei tersusun oleh tanah berupa lempung pasiran (resistivitas rendah di permukaaan), breksi Tondano (30 –1000 Ωm), lapukan tufa Tondano (30 – 80 Ωm) dan tufa Tondano (< 30 Ωm). Di area bendung pada bagian tepi sungai terdapat tanahtipis, breksi Tondano danlapisan tufa Tondano. Lapisan Tondano daerah terowongan telah mengalami pelapukan menjadi lempung pasiran dengan ketebalan hingga 15 m, sedangkan lapisan dibawahnya berupa breksi tondano yang telah lapuk menjadi pasir kelempungan dengan fragmen kerikil (40 – 125 Ωm) hingga bongkah (200 – 2000 Ωm) dengan ketebalan 10 – 35 meter. Pada kedalaman 50 m ditemukan intrusi andesit, kekar-kekar pada andesit diisi oleh air. Terdapat setidaknya ada lima akuifer dengan kedalaman sekitar 50 meter diantara lokasi rencana surgetank sampai powerhouse. Geoelectric measurements have been conducted to identify the lithology and aquifers based on rock resistivity at a dam and tunnel site plan in North Celebes using three-lines survey with 32 electrodes (a= 5,5 m) dipole-dipole configuration and 9 electrode extension cables (a=20 m). Based on electrical resistivity tomography (ERT), it can be interpreted that the survey area is composed of soil in the form of sandy clay (low resistivity), breccia Tondano (30-1000 Ωm), weathered of Tondano tuff (30-80 Ωm) and tondano tuff(<30 Ωm). In the area of the dam, there are thin soil, a layer of tuff and breccia tondano on the river banks. Tondano layer in the tunnel area has experienced weathering into sandy clay with a thickness of up to 15 m, while layers below it has took the form of breccia, which has weathered into sandy loam with fragments of gravel (40-125 Ωm) to boulder (200-2000 Ωm) with a thickness of 10 - 35 meters. Andesite intrusion was found at a depth of 50 m, with cracks on andesite filled by water. There are at least five of the aquifers at a depth of about 50 meters between the location of surgetank to the powerhouse plan.
PENGUKURAN VS30 MENGGUNAKAN METODE MASW UNTUK WILAYAH YOGYAKARTA Muzli Muzli; R. Pandhu Mahesworo; R. Madijono; Siswoyo Siswoyo; K.R. Dewi; Budiarta Budiarta; O. Sativa; B. Sulistyo; R. Swastikarani; N. Oktavia; Moehajirin Moehajirin; N. Efendi; T.A. Wijaya; B. Subadyo; Mujianto Mujianto; Suwarto Suwarto; S. Pramono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.374

Abstract

Yogyakarta merupakan salah satu wilayah yang aktif gempabumi di Indonesia. Sumber gempabumi dapat berasal dari patahan lokal Opak di bagian timur ataupun zona subduksi pada bagian selatan Yogyakarta. Pembuatan peta mikrozonasi gempa sangat dibutuhkan untuk pertimbangan pembangunan infrastruktur atau bangunan yang tahan terhadap gempabumi. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak resiko yang mungkin ditimbulkan. Pada pertengahan tahun 2014 telah dilakukan pengukuran kecepatan gelombang geser (Vs30) di wilayah Yogyakarta khususnya wilayah Kabupaten Bantul dan Sleman. Pengukuran dilakukan terhadap 55 titik yang menyebar pada dua wilayah Kabupaten tersebut dengan jarak antar titik sekitar 1 sampai 5 km. Vs30 merupakan salah satu parameter yang digunakan dalam peta mikrozonasi. Pengukuran Vs30 dengan metode Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) menggunakan 24 geofon komponen vertikal dengan frekuensi 4.5 Hz. Nilai Vs30 memberikan informasi klasifikasi tanah permukaan sampai pada kedalaman 30 meter. Hasil interpretasi nilai Vs30 menunjukkan bahwa pusat kota yaitu Kotamadya Yogyakarta memiliki resiko amplifikasi gelombang yang relatif besar dengan nilai Vs30 berkisar antara 115-175 m/s. Pembangunan di wilayah ini sangat disarankan untuk memperhatikan aturan yang memenuhi standard sesuai rujukan SNI 1726-2012. Pada sisi lain, wilayah yang memiliki tanah permukaan klasifikasi padat dengan nilai rata-rata Vs30 antara 350-480 m/s adalah Kecamatan Kretek, Sanden, Pandak dan Bambanglipuro. Wilayah ini memiliki potensi untuk pelemahan atau atenuasi gelombang sehingga resiko kerusakan akibat gempabumi relatif lebih kecil. Yogyakarta region is one of a seismically active region in Indonesia. Earthquake source can be generated from a local fault Opak in the eastern or subduction zone in the southern part of Yogyakarta. Map of seismic microzonation is needed for infrastructure development considerations or buildings resistant to earthquakes. The use of this map is expected to reduce the impact of risks that may be posed. In mid-2014 measurements of shear wave velocity (Vs30) in Yogyakarta has been carried out, especially in the districts of Bantul and Sleman. Measurements were made on the 55 points spread in the two districts with the distance between the points is 1 to 5 km apart. Vs30 is one of the parameters used in the microzonation maps. Vs30 measurements using Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) method. It is acquired using 24 geophones of the vertical component with the frequency of 4.5 Hz. The values provide information of the classification of the soil surface to a depth of 30 meters. Results and interpretation of Vs30 value indicates that the city center of Yogyakarta has intermediate risk with relatively large possibility of seismic wave amplification with the values of Vs30 ranging between 115-175 m/s. The Building Construction in this region are strongly recommended to follow the regulation or building code of SNI 1726-2012. Whereas the region which has a solid surface soil classification with the average Vs30 values between 350-480 m/s is the districts of Kretek, Sanden, Pandak and Bambanglipuro. This region could potentially attenuate the seismic wave, hence they have relatively low risk for the damages due to strong earthquakes.
PEAK GROUND ACCELERATION AT SURFACE AND SPECTRAL ACCELERATION FOR MAKASSAR CITY BASED ON A PROBABILISTIC APPROACH Bambang Sunardi; Jimmi Nugraha
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.380

Abstract

The December 12, 2010 earthquakes (M 5.9) has drawn attention on the importance of knowledge of peak ground acceleration at surface (PGAM) and spectral acceleration for Makassar City. The PGAM and spectral acceleration play an important role in seismic design regulations. The purpose of this paper is to present the PGAM and spectral acceleration for Makassar City based on a probabilistic approach. The analysis involved determination of peak ground acceleration at bedrock using Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), the average shear wave velocity at 30 m depth (Vs30), and site classification. Results of the analysis showed that the values of PGAM for Makassar City were varied from 0.177 – 0.21 g. Meanwhile, the spectral acceleration values at T = 0.2 and T = 1 second were varied from 0.459 – 0.541 g and 0.277 – 0.369 g respectively. From these results, the values of PGAM and spectral acceleration are relatively higher at Tamalanrea and Biringkanaya districts and relatively lower at Tamalate district in comparison to other districts in Makassar City. This condition is associated with the location of those areas which are relatively closer to the  earthquake source (Walanae fault), and is geologically dominated by stiff soil (SD).Gempa 12 Desember 2010 (M5.9) menarik perhatian kita akan pentingnya pengetahuan tentang percepatan tanah maksimum di permukaan (PGAM) dan spektra percepatan untuk Kota Makassar. PGAM dan spektra percepatan memegang peranan penting dalam peraturan desain gempa. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan PGAM dan percepatan spektra untuk Kota Makassar berdasarkan pendekatan probabilistik. Analisis yang dilakukan meliputi penentuan percepatan tanah maksimum di batuan dasar menggunakan Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), rata-rata kecepatan gelombang geser pada kedalaman 30 m (Vs30), dan klasifikasi site. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai PGAM untuk Kota Makassar bervariasi dari 0.177 – 0.21 g. Sementaraitu, nilai spektra percepatan pada T=0.2 dan T=1 detik berturut-turut bervariasi dari 0.459 – 0.541 g dan 0.277 – 0.369 g. Nilai PGAM dan spektra percepatan relatif lebih tinggi di Kecamatan Tamalanrea dan Biringkanaya serta relatif lebih rendah di Kecamatan Tamalate dibandingkan dengan Kecamatan lainnya di Kota Makassar. Hal tersebut dikarenakan lokasinya yang relatif lebih dekat dengan sumber gempa (patahan Walanae), dan secara geologi di dominasi oleh jenis tanah sedang (SD).
APLIKASI METODE ENSEMBLE MEAN UNTUK MENINGKATKAN RELIABILITAS PREDIKSI HyBMG Kurnia Endah Komalasari; Yuaning Fajariana; Tri Astuti Nuraini; Rian Anggraeni
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.381

Abstract

Tingginya variasi curah hujan di Indonesia mengakibatkan sulit untuk menentukan model prakiraan iklim yang memiliki validitas dan reliabilitas terbaik. Penelitian ini dilakukan untuk  mendapatkan model prakiraan iklim dengan akurasi yang lebih baik dengan menggunakan metode ensemble mean. Metode ensemble mean menggabungkan hasil prediksi dari empat model prakiraan iklim berbasis statistik yang terintegrasi ke dalam software HyBMG, yaitu ARIMA, ANFIS, Wavelet ANFIS, dan Wavelet ARIMA.  Berdasarkan hasil uji coba terhadap data curah hujan dari tahun 2003-2012, ensemble mean dapat meningkatkan performa dari hasil prakiraan iklim dengan single method; hasil prakiraan iklim untuk metode ARIMA dapat meningkat hingga 44.4%, ANFIS 43.4%, Wavelet ARIMA 55.6%, dan Wavelet ANFIS hingga 58.6%. The high rainfall variability in Indonesia makes it difficult to determine the climate forecast models that have the best reliability and validity. This study was conducted to obtain climate forecasting model with better accuracy using the ensemble mean. This method combines prediction results from four statistical climate models integrated within the HyBMG software, i.e. ARIMA, ANFIS, ANFIS Wavelet and Wavelet ARIMA. Based on test results of the 2003-2012 rainfall data, the ensemble mean method is proven to improve the performance of climate forecasts results with only one single method; for ARIMA the improvement is up to 44.4%, ANFIS 43.4%, ARIMA Wavelet 55.6%, and Wavelet ANFIS 58.6%.
KARAKTERISTIK ANGIN ZONAL SELAMA UPWELLING DI PERAIRAN SELATAN JAWA PADA KONDISI NORMAL DAN ENSO Martono Martono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 18 No. 3 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v18i3.382

Abstract

Perairan selatan Jawa dikenal sebagai salah satu lokasi upwelling di Indonesia. Penelitian upwelling di perairan ini sudah banyak dilakukan oleh para peneliti. Namun, penelitian tentang aspek-aspek atmosfer pada saat terjadi upwelling masih sedikit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik angin zonal selama upwelling di perairan selatan Jawa pada kondisi normal dan ENSO. Data yang digunakan terdiri dari suhu permukaan laut dari tahun 1984-2013 dan angin zonal dari tahun 1988-2011 yang diperoleh dari Physical Oceanography Distributed Active Center – National Aeronautics and Space Administration. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angin zonal di perairan selatan Jawa dominan bergerak ke arah barat. Upwelling di perairan selatan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur terjadi ketika angin zonal bergerak ke arah barat secara terus menerus lebih dari 2 bulan, kecepatan lebih besar dari 5 m/dt dan fluktuasi kecepatan kecil. Terdapat jeda waktu sekitar 1-1,5 bulan antara tiupan angin zonal sejajar pantai dengan proses upwelling. Intensitas upwelling paling kuat dan paling lama terjadi di atas perairan selatan Jawa Timur. Arus Lintas Indonesia mempunyai peranan penting terhadap peningkatan intensitas upwelling di selatan Jawa Timur. Intensitas upwelling selama periode El Niño lebih kuat, tetapi selama periode La Niña lebih lemah daripada kondisi normal. Kata kunci : angin zonal, upwelling, Arus Lintas Indonesia, El Niño, La Niña
RELOKASI HIPOSENTER DAN PENCITRAAN STRUKTUR GELOMBANG P MENGGUNAKAN METODE INVERSI SIMULTAN DI WILAYAH PAPUA Arif Rahman Hakim; Supriyanto Rohadi; Jajat Jatnika
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v18i2.395

Abstract

ABSTRAKPapua merupakan bagian dari pulau New Guinea, yang memiliki tatanan tektonik sangat komplek, dimana tektonik papua dipengaruhi 4 lempeng utama yaitu Lempeng Australia, Lempeng Pasifik, Lempeng Filipina dan Lempeng Eurasia, serta sesar lokal aktif seperti Sesar Sorong, Sesar Yapen, dan lainnya. Tatanan tektonik yang sangat komplek ini, menjadikan Papua menarik untuk dikaji lebih lanjut. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pola tektonik wilayah Papua, menggunakan metode simultan menggunakan software simulPS12. Data yang digunakan adalah katalog gempa PGR V Jayapura hasil analisa seiscomp3 dari tahun 2010 hingga 2015, dengan 19 stasiun pencatat. Hasil relokasi gempabumi memperlihatkan adanya perubahan sebesar 75%, baik secara kedalaman maupun secara lintang ataupun bujur, dengan nilai RMS mendekati 0. Sedangkan hasil tomogram pada penampang horisontal menunjukkan resolusi yang baik pada kedalaman 30 km dan 50 km, yang di indikasikan sebagai zona dengan kecepatan rendah berasosiasi dengan sesar sorong dan manokwari trench. Pada penampang vertikal didapatkan tomogram yang juga menginidikasikan zona lemah teridentifikasi sesar sorong, patahan ransiki dan manokwari trench.
KAJIAN AWAL UJI STATISTIK PERBANDINGAN SUHU UDARA DARI PERALATAN OTOMATIS DAN MANUAL Kharisma Aprilina; Tri Astuti Nuraini; Ardhasena Sopaheluwakan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v18i1.396

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan secara statistik hasil pengukuran suhu udara menggunakan peralatan otomatis (Automatic Weather Station/AWS) dengan hasil pengukuran suhu udara secara manual atau sinoptik. Data yang diuji adalah data per-tiga-jam-an yang berasal dari data AWS dan data sinoptik dari 12 (dua belas) stasiun milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yaitu Bengkulu, Dabo Singkep, Gunung Sitoli, Lhokseumawe, Meulaboh, Ranai, Rengat, Sibolga, Tanjung Pandan, Tarakan, Tarempa, dan Tegal dari bulan Februari-Juni 2016. Uji normalitas menggunakan metode Anderson-Darling dan Shapiro-Wilk menghasilkan keputusan data AWS dan data sinoptik dari seluruh stasiun yang diujikan tidak berdistribusi normal pada taraf signifikansi α = 0,05. Uji homogenitas menggunakan uji Levene menghasilkan keputusan bahwa kedua data di stasiun Bengkulu, Dabo Singkep, Gunung Sitoli, Lhokseumawe, dan Rengat homogen pada taraf signifikansi α = 0,05, sedangkan kedua data di stasiun Meulaboh, Ranai, Sibolga, Tanjung Pandan, Tarakan, Tarempa, dan Tegal tidak homogen pada taraf signifikansi α = 0,05. Uji beda statistik menggunakan metode Wilcoxon-Mann-Whitney menghasilkan keputusan bahwa antara data AWS dan data sinoptik tidak berbeda nyata pada taraf signifikansi α = 0,05 pada semua stasiun kecuali stasiun Lhokseumawe dan Ranai kedua data berbeda nyata pada taraf signifikansi α = 0,05. This study aims to determine the statistical differences between measurements of air temperature using the automatic instrument (Automatic Weather Station/AWS) and air temperature measurements using the manual instrument. The data that is used in this study are three-hourly data collected from February to June 2016 in 12 (twelve) synoptic stations of the Indonesian Agency for Meteorology Climatology and Geophysics (BMKG), which are Bengkulu, Dabo Singkep, Gunung Sitoli, Lhokseumawe, Meulaboh, Ranai, Rengat, Sibolga, Tanjung Pandan, Tarakan, Tarempa, and Tegal. Normality tests performed using the Anderson-Darling and Shapiro-Wilk methods conclude that AWS data and synoptic data from all stations are not normally distributed with a significance level of α = 0.05. Meanwhile, homogeneity test using the Levene's test concludes that both types of data in Bengkulu, Dabo Singkep, Gunung Sitoli, Lhokseumawe, and Rengat are homogeneous in their variance at the significance level α = 0.05, while in Meulaboh, Ranai, Sibolga, Tanjung Pandan, Tarakan, Tarempa, and Tegal the two types of data are not homogeneous in their variance with a significance level of α = 0.05. The test of statistical significance, which is performed using the non-parametric Wilcoxon-Mann-Whitney test, concludes that there is no significant difference (with a significance level of α = 0.05) between the AWS data and synoptic data for all stations, except for Lhokseumawe and Ranai stations. 

Page 4 of 18 | Total Record : 174