cover
Contact Name
Hendrik Legi
Contact Email
hendriklegi83@gmail.com
Phone
+62811484408
Journal Mail Official
hendriklegi83@gmail.com
Editorial Address
Jalan Patimura Kel. Wamena Kota Kec. Wamena Papua 99511
Location
Kab. jayawijaya,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Ap-Kain
ISSN : -     EISSN : 29864208     DOI : 10.52879
urnal Ap-Kain merupakan jurnal penelitian dan PKM bagi Mahasiswa dan Dosen yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena. Jurna Ap-Kain mengundang bapak/ibu sebagai mahasiswa untuk dapat menerbitkan hasil penelitian yang dikerjakan baik bersama dosen maupun sesama mahasiswa lainnya. Kata Ap-Kain diambil dari bahasa Lembah Baliem Wamena Papua. Ap-Kain memiliki arti seorang pemimpin yang berkarisma dan dihormati, Ap-Kain bisa juga diartikan sebagai seorang pemimpin atau kepala suku.
Articles 32 Documents
Kajian Gaya Hidup Anak Muda: Telaah dari Perspektif Kehidupan Spiritual Dalam Kitab Mazmur 119:9-16 Widyanti, Kezia Putri; Soeliasih, Soeliasih
Jurnal Ap-Kain Vol 2, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v2i1.125

Abstract

Young people are the next generation of the future. Therefore, young people must be well prepared, especially in their lifestyle. As time goes by, the lifestyle of young people is also inscreasingly showing changes. The purpose of writing this article is to find out how to study the lifestyle of young people: Study from the perspective of spiritual life in the Book of Psalm 119:9-16. What is the spiritual lifestyle that young Christians should have, in accordance with Psalm 119:9-16 which teaches about the importance of obeying God’s Word and having a life according to His decrees to achieve happiness and success in life. The research method used is a qualitative approach using data form various journal articles, books and also trusted online news sites. The results of the research show that the lifestyle of young people from the perspective of spiritual life in the book of Psalm 119:9-16 is by not deviating from God’s commands, having a desre to be taught about Good’s decrees, having the courage to tell about God’s decrees and carrying out God’s Word with joy.AbstrakAnak muda merupakan generasi penerus masa depan. Oleh sebab itu anak muda harus dipersiapkan dengan baik terutama dalam gaya hidup mereka. Seiring dengan berkembangnya zaman, gaya hidup anak muda juga semakin berkembang menunjukkan perubahan. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui bagaimana kajian gaya hidup anak muda: Telaah dari perspektif kehidupan spiritual dalam Kitab Mazmur 119:9-16 . Bagaimana gaya hidup spiritual yang seharusnya dimiliki oleh anak muda kristen, yang sesuai dengan Mazmur 119:9-16 yang mengajarkan tentang pentingnya mentaati Firman Tuhan dan memiliki kehidupan sesuai dengan ketetapanNya untuk mencapai kebahagiaan dan keberhasilan dalam hidup. Metode penelitian yang digunakan metode pendekatan kualitatif  dengan menggunakan data dari berbagai artikel jurnal, buku dan juga situs berita online yang dapat dipercaya. Hasil dari penelitian memperoleh bahwa gaya hidup anak muda dari perspektif kehidupan spiritual dalam kitab Mazmur 119:9-16 yaitu dengan tidak menyimpang dari perintah Tuhan, memiliki kerinduan untuk diajar tentang ketetapan Tuhan, berani menceritakan ketetapan Tuhan dan melakukan Firman Tuhan dengan sukacita.
Deskriptif Kepemimpinan Kristen dalam Perspektif Filipi 2: 3-8 Sutono, Yohanes; Arifianto, Yonatan Alex; Loveano, Noel Yosan
Jurnal Ap-Kain Vol 1, No 1 (2023): Jurnal Ap-Kain Februari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v1i1.58

Abstract

Leadership in a church is very important. Leadership is a divine mandate given by God to His people. Leaders are directly responsible to God who gives authority. Leadership is very influential in the development and growth of the church. The mature church is one that follows the example of Christ. Leaders can lead the congregation to grow up and have the character of Christ. The problem that arises is that the leader cannot be an example in implementing leadership in Christ. Leaders are not carrying out their duties properly and act arbitrarily. Leaders do not have the heart to serve. In this discussion we follow the example of Jesus recorded at Philippians 2:3-8 regarding the heart that serves. This study uses descriptive literature, namely discussing descriptive Christian leadership in the perspective of Philippians 2:3-8. The formation of a leader's character from the Word of God which is the standard of living for Christians. The purpose of this paper is first, Christian leadership that has a serving heart can become a lifestyle. Second, Christian leaders who can impact everyone. Third, leaders who have the character of Christ.AbstrakSebagai pusat kehidupan orang percaya adalah Kristus. Tetapi dalam kenyataannya masih orang percaya tidak hidup berpusat kepada Kristus. Orang percaya adalah orang yang dipanggil untuk menjadi pemimpin. Kepemimpinan Kristen juga harus berpusat kepada Kristus. Kepemimpinan adalah sebuah mandat Ilahi yang diberikan Tuhan kepada umatNya. Pemimpin bertanggungjawab langsung kepada Tuhan yang memberi otoritas. Kepemimpinan sanggatlah berpengaruh dalam perkembangan dan pertumbuhan gereja. Gereja yang dewasa adalah gereja yang mengikuti teladan dari Kristus. Pemimpin dapat membawa jemaat untuk bertumbuh dewasa dan memiliki karakter Kristus. Persoalan yang muncul adalah pemimpin tidak dapat menjadi teladan dalam menerapkan kepemimpinan dalam Kristus. Pemimpin sudah tidak mengemban tugas dengan baik dan bertindak semena-mena. Pemimpin sudah tidak memiliki hati melayani. Dalam pembahasan artikel ini mengacu dan mengikuti keteladanan dari Yesus yang tercatat di Filipi 2:3-8 mengenai hati yang melayani. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu membahas tentang deskriptif kepemimpinan Kristen dalam perspektif Filipi 2:3-8. Pembentukan karakter pemimpin dari Firman Tuhan yang menjadi standar hidup orang Kristen. Tujuan dari penulisan ini adalah pertama, kepemimpinan Kristen yang memiliki hati yang melayani dapat menjadi gaya hidup. Kedua, pemimpin Kristen yang dapat berdampak bagi semua orang. Ketiga, pemimpin yang memiliki karakter Kristus.
Membentuk Karakter dan Moralitas Kristen: Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Mencegah Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Lingkungan Keluarga Dei, Joshua Agnus
Jurnal Ap-Kain Vol 2, No 2 (2024): Teogi dan Pendidiakn Agama Kristen (Juli 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v2i2.130

Abstract

The purpose of writing this article is as an effort to prevent sexual violence againts children in the family environment. Cases of sexual violence against minors that are rife in Indonesia are everyone’s duty to follow up on them and prevent them from increasing. Christian Religious Education, as part of efforts to prevent sexual violence against minors, plays an important role in it. Christian Religious Education as knowledge and insight containing Biblical values guides every Christian, especially parents and children, so that they can grow in faith in the Lord Jesus. Using descriptive qualitative methods with a literature study or library research approach, it can be concluded that Christian Religious Education plays an important role in educating, guiding, and directing parents and children so that they have character and morals that are in accordance with the will of the Lord Jesus. Furthermore, parents and children in family life can love each other, give each other a sense of comfort and security. In the end, Christian families can have a correct understanding of family life in accordance with God’s word, and can be kept away from actions or desires to commit sexual violence against minors.Abstrak: Tujuan penulisan artikel ini adalah sebagai upaya pencegahan terhadap kekerasan seksual terhadap anak di lingkungan keluarga. Kasus kekerasan seksual pada anak dibawah umur yang marak terjadi di Indonesia merupakan tugas semua orang dalam menindaklanjuti, maupun mencegahnya agar tidak semakin bertambah. Pendidikan Agama Kristen sebagai bagian dari usaha dalam pencegahan kekerasan seksual pada anak dibawah umur, memegang peranan penting di dalamnya. Pendidikan Agama Kristen sebagai ilmu dan wawasan yang berisi nilai-nilai Alkitabiah menuntun setiap orang Kristen khususnya orang tua dan anak, agar dapat bertumbuh iman di dalam Tuhan Yesus. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur atau penelitian pustaka, maka dapat disimpulkan Pendidikan Agama Kristen berperan penting dalam mendidik, membimbing dan mengarahkan orang tua maupun anak agar memiliki karakter dan moral yang sesuai dengan kehendak Tuhan Yesus. Selanjutnya orang tua dan anak dalam kehidupan keluarga dapat saling mengasihi, memberi rasa nyaman dan aman satu sama lain. Pada akhirnya keluarga Kristen dapat memiliki pemahaman yang benar tentang kehidupan berkeluarga yang sesuai dengan firman Tuhan, serta dapat dijauhkan dari tindakan atau keinginan untuk melakukan kekerasan seksual pada anak dibawah umur.
Peran Inovatif Gereja dalam Menumbuhkan Iman Anak Bredabu, Tirsa Ariance; Kujiro, Yanti; Simorangkir, Rinto Fernando
Jurnal Ap-Kain Vol 1, No 2 (2023): Pendidikan Kristen dan Teologi (Juli 2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v1i2.84

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah melihat bagaimana persoalan iman anak yang muncul akhir-akhir ini dan bagaimana peran inovatif gereja seharusnya dalam menolong Anak. Metode penelitian untuk membahas atau mengkaji kedua persoalan tersebut yakni menggunakan pendekatan literatur. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, gereja masih belum memandang anak sebagai penerus masa depan gereja, sebaliknya gereja memandang anak adalah sumber masalah bagi gereja. Alhasil gereja harusnya menolong anak keluar dari masalah tersebut, justru berkebalikan dari tindakan gereja seperti tidak menyediakan ruangan sekolah minggu bagi anak, masih mengutamakan ibadah orang dewasa dibanding anak, dan masih kurangnya fasilitas yang memadai untuk melakukan pelayanan anak. Berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut maka gereja perlu untuk bertindak dengan serius dalam menanggapi setiap permasalahan yang dihadapi dalam pelayanan anak. Sehingga, gereja mampu menolong iman anak bertumbuh.AbstrakThe purpose of this research is to see how the issue of children's faith that has emerged recently and how the innovative role of the church should be in helping children. The research method to discuss or examine these two issues is using a literature approach. Based on the results of the research conducted, the church still does not see children as the future successors of the church, instead the church sees children as a source of problems for the church. As a result, the church should help children get out of the problem, just the opposite of church actions such as not providing Sunday school rooms for children, still prioritizing adult worship over children, and still lacking adequate facilities to carry out children's services. Based on these problems, the church needs to act seriously in responding to every problem faced in children's ministry. Thus, the church is able to help children's faith grow.
Pandangan Kekristenan Mengenai Praktik Spiritisme Berlandaskan Alkitab Zega, Desriaman; Mangoli, Yefta Yan
Jurnal Ap-Kain Vol 2, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v2i1.126

Abstract

Spiritualism is a person's view or belief that people who have died that people who have died still have a relationship with people who are still alive. The relationship referred to in this case is that people who have died can be communicated or dialogued with. can be invited to communicate or dialogue. Well, this is often done by Christians who believe in the Lord Jesus. Therefore, through this article, the author tries to find answers regarding the biblical view of spiritualism. towards the practice of spiritualism. This research uses a qualitative method with a descriptive approach with sources from the Bible and literature related to the topic. literature related to the topic of discussion. Based on the results of the research conducted through the study of the Bible and literature related to the topic, it can be explained that people who have died have no relationship with the living and the practice of spiritism is a behavior that is against the Christian faith. contrary to the Christian faith. God is strongly against the practices of spiritism in any form. In fact, anyone who practices spiritism will not inherit the kingdom of heaven.AbstrakSpiritualisme adalah pandangan atau keyakinan seseorang bahwa orang-orang yang telah meninggal masih memiliki hubungan dengan orang-orang yang masih hidup. Hubungan yang dimaksud dalam hal ini adalah bahwa orang-orang yang telah meninggal dapat diajak berkomunikasi atau berdialog. Nah, ini sering dilakukan oleh umat Kristiani yang percaya kepada Tuhan Yesus. Oleh karena itu, melalui artikel ini, penulis mencoba mencari jawaban mengenai pandangan Alkitab terhadap praktik spiritisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan sumber dari Alkitab dan literatur yang terkait dengan topik pembahasan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui studi Alkitab dan literatur yang terkait dengan topik pembahasan, dapat dijelaskan bahwa orang-orang yang telah meninggal tidak memiliki hubungan dengan orang-orang yang masih hidup dan praktik spiritisme adalah perilaku yang bertentangan dengan iman Kristiani. Tuhan sangat menentang praktik-praktik spiritisme dalam bentuk apapun. Bahkan, siapa pun yang mempraktikkan spiritisme tidak akan mewarisi kerajaan surga.
Kode Etik Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Kebebasan Media Sosial Napa, Misrini; Triposa, Reni
Jurnal Ap-Kain Vol 1, No 1 (2023): Jurnal Ap-Kain Februari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v1i1.59

Abstract

The code of conduct of teachers of Christian religious education in the freedom of social media. The code of ethics has a role and becomes very important for education. Because the code of ethics is an ethic that must be possessed by all teachers, especially for Christian religious education teachers. This code of ethics has the ability to guide teachers and can understand learners well. Christian religious education teachers, which currently still lack the application of Christian religious education, are a challenge for education in the digital era. With this research, it has the aim of providing understanding for every educator, especially Christian religious education teachers, so that they can be an example and example for their students in the process of teaching and learning. Christian religious education teachers are teachers who are role models and are able to bring every student in this digital era, where every student knows and uses social media. This research uses a qualitative method, namely by studying literature to collect various sources of scientific data, both articles, journals and books. The sources of data collected are appropriate and related to observations, namely the facts that occur in the field. The result of this research is that Christian religious education teachers must be able to be role models and live Christian values and make the Lord Jesus an example, before sharing or being an example for their students. Because Christian religious education teachers already have a good and correct code of ethics, it will be reflected and can produce students with the character of Christ.AbstrakKode etik guru pendidikan agama Kristen dalam kebebasan media sosial. Kode etik mempunyai peran dan menjadi sangat penting bagi pendidikan. Karena kode etik merupakan suatu etika yang harus dimiliki oleh semua guru, terutama bagi guru pendidikan agama Kristen. Kode etik ini memiliki kemampuan untuk membimbing guru dan dapat memahami peserta didik dengan baik. Guru pendidikan agama Kristen yang saat ini masih adanya kurang penerapan pendidikan agama Kristen merupakan tantangan tersendiri bagi pendidikan di era digital. Dengan adanya penilitian ini memiliki tujuan dimana memberikan pemahaman bagi setiap pendidik terutama guru pendidikan agama Kristen agar bisa menjadi contoh dan teladan bagi peserta didiknya dalam berlangsungnya proses belajar mengajar. Guru pendidikan agama Kristen merupakan guru yang menjadi teladan dan mampu membawah setiap peserta didiknya di era digital ini, dimana setiap para peserta didik mengenal dan memnggunakan media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu dengan studi Pustaka mengumpulkan berbagai sumber data ilmiah baik artikel, jurnal dan buku. Sumber-sumber data yang dikumpulkan sesuai dan berkaitan dengan dari pengamatan yaitu fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Hasil dari penelitian ini adalah guru pendidikan agama Kristen harus mampu menjadi teladan dan menghidupi nilai-nilai Kristen dan menjadikan Tuhan Yesus sebagai teladan, sebelum membagikan atau menjadi teladan bagi para peserta didiknya. Karena guru pendidikan agama kristena sudah mempunyai kode etik yang baik dan benar maka itu akan tercermin dan dapat menghasilkan peserta didik yang berkarakter Kristus.
Persepsi Humor Masyarakat Kristen Di Indonesia Terhadap Kehidupan Yesus: Suatu Tinjauan dari Hasil Kuisioner Zakarijah, Edi
Jurnal Ap-Kain Vol 2, No 2 (2024): Teogi dan Pendidiakn Agama Kristen (Juli 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v2i2.133

Abstract

This study aims to explore Christian perceptions of the humor of Jesus Christ and the implications of these perceptions for Christian practice. Using a descriptive qualitative research method with questionnaires as the data collection tool, the study surveyed members of various Christian churches with diverse backgrounds and denominations. The results reveal that Jesus' humor is seen as an important aspect of His teachings and life, adding a human dimension that complements His divine nature. Analysis of the questionnaire data shows variations in how respondents understand and interpret Jesus' joy and humor. Despite these differences, many respondents emphasize that Jesus' humor reflects His empathy towards the human condition, which is often marked by suffering and difficulty. This research highlights the importance of a balanced approach to both the human and divine aspects of Jesus in shaping an authentic Christian identity and practice. Practical implications include the need for a more inclusive approach to Christian spirituality and efforts to correct misconceptions about joy and humor in contemporary Christian life.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana masyarakat Kristen memandang kehumorisan Yesus Kristus dan dampak dari pandangan tersebut terhadap praktik kekristenan. Dengan menggunakan metode studi kualitatif deskriptif melalui kuisioner, penelitian ini mengumpulkan data dari anggota gereja Kristen yang beragam latar belakang dan denominasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kehumorisan Yesus dianggap sebagai elemen penting dalam ajaran dan kehidupan-Nya, menambah dimensi kemanusiaan yang melengkapi sifat keilahian-Nya. Analisis kuisioner mengungkapkan perbedaan dalam cara responden memahami dan menginterpretasikan kegembiraan serta humor Yesus. Meskipun ada variasi, banyak yang menyatakan bahwa kehumorisan Yesus mencerminkan empati-Nya terhadap kondisi manusia yang penuh penderitaan. Penelitian ini menekankan perlunya pendekatan seimbang terhadap aspek kemanusiaan dan keilahian Yesus untuk membentuk identitas dan praktik kehidupan Kristen yang autentik. Implikasi praktis dari temuan ini meliputi perlunya dukungan untuk pendekatan inklusif dalam spiritualitas Kristen serta upaya untuk memperbaiki pemahaman yang salah mengenai kegembiraan dan kehumorisan dalam kehidupan Kristen kontemporer.
Upaya Meningkatkan Percaya Diri Anak Melalui Sentra Bermain Peran Dengan Metode Bcct (Beyond Center And Circle Time) Pada Kelompok B Tk El Shaddai Terpadu Untang Un, Yunita Aek; Sriyati, Sriyati; Herminayu, Herminayu
Jurnal Ap-Kain Vol 1, No 2 (2023): Pendidikan Kristen dan Teologi (Juli 2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v1i2.99

Abstract

Self-confidence is a very important aspect for a person to be able to develop potential. For this reason, this study aims to provide an overview of the confidence of group B children in Elshaddai Untang Kindergarten, explain the application of role play centers in the BCCT method as an effort to increase children's confidence, and explain the results of the application of role play centers in the BCCT method can increase children's confidence in group B in Elshaddai Untang Kindergarten. The research method used, namely Classroom Action Research, uses three cycles of nine meetings, one cycle of three meetings. With the number of subjects 10 children. Data collection techniques used observation and documentation. The results showed that the application of BCCT with role play centers can increase children's self-confidence, there are some children who increase their confidence. Overall increase in self-confidence of cycle 1 children 42.625% cycle 2 67.25% cycle 3 80.5%. So it can be concluded in this study that children's self-confidence can increase through role play centers with the BCCT method.AbstrakPercaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi seseorang untuk dapat mengembangkan potensi, khusunya kepada anak. Dalam penelitian ini, anak-anak yang diamati merupakan murid TK B di Taman Kanak-kanak Elsahadai Untang Terpadu Kalimantan Barat. Di mana dalam pengamatan penulis anak anak belum memiliki kepercayaan diri yang kuat, ketika diberi kesempatan memimpin baik dalam barisan, menyampaikan pendapat ataupun bertanya. Penelitian ini bertujuan memberi gambaran percaya diri anak kelompok B di TK Elshaddai Untang, menjelaskan penerapan sentra bermaian peran pada metode BCCT sebagai upaya meningkatkan percaya diri anak, serta menjelaskan hasil penerapan sentra bermain peran pada metode BCCT dapat meningkatkan percaya diri anak pada kelompok B di TK Elshaddai Untang. Metode penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas, menggunakan tiga siklus sebanyak sembilan kali pertemuan, satu siklus ada tiga kali pertemuan. Dengan jumlah subjek 10 anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan BCCT dengan sentra bermain peran dapat meningkatkan percaya diri anak, ada beberapa anak yang meningkat percaya dirinya. Secara keseluruhan peningkatan percaya diri anak siklus 1 42,625% siklus 2 67, 25% siklus 3 80, 5%. Jadi dapat disimpulkan pada penelitian ini percaya diri anak dapat meningkat melalui sentra bermain peran dengan metode BCCT.
Pendidikan Sepanjang Hayat Untuk Menunjang Kompetensi Tenaga Pendidik Sembiring, Naulia Julitandari; Silalahi, Anjai; Siagian, Putri Maria Magdalena
Jurnal Ap-Kain Vol 2, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v2i1.128

Abstract

Fresh graduate must have competencies that required by job market. In today’s work place, labors must be technologically adept and globally competitive. Thus, educators must enhance their skills continously. Teachers competencies are pedagogy, profesionalism, personality, and social skills also lecturers competencies are excellence in teach, research, and community service that scientifically accountable and rooted scientific expertise skills need further enriched through lifelong education. Lifelong education is a continous learning that surpasses age limits to improve adults knowledge and skills. It is valueable tool for improving educators competencies and maintaining their expertise, contributing to their success. By implementing the principles of andragogy, lifelong education can impart of 8 competencies to educators, enabling them to effectively address educational challenges in Indonesia, particularly in realms of technology, politics, and socio-culture. This research examines lifelong education as a means to elevate the educators competencies and explain lifelong education program for them. Using the literature review method, researchers meticulously analyze data from regulations, books, and joournal to produce objective and scientifically grounded writing.AbstrakLulusan akademisi harusnya memiliki kompetensi yang dibutuhkan lapangan pekerjaan sehingga dapat bersaing. Dunia pekerjaan saat ini membutuhkan sumber daya manusia yang melek teknologi dan mampu bersaing secara global. Karena itu, tenaga pendidik perlu meningkatkan kompetensinya. Kompetensi guru meliputi pedagogik; profesional; kepribadian; dan sosial juga kompetensi dosen yaitu keahlian mengajar; meneliti; dan pengabdian masyarakat yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan keahlian berdasarkan latar belakang pendidikan dapat diperkaya dengan kemampuan serta ketrampilan melalui pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan sepanjang hayat merupakan proses pembelajaran tanpa batasan usia untuk meningkatkan kualitas pengetahuan dan ketrampilan individu berpusat pada orang dewasa sebagai pembelajar. Pendidikan sepanjang hayat bermanfaat untuk meningkatkan kualifikasi tenaga pendidik guna meningkatkan kompetensinya. Pendidikan sepanjang hayat berguna untuk mengawetkan kepakaran agar mencapai kesejahteraan tenaga pendidik. Pendidikan sepanjang hayat yang menerapkan prinsip andragogi setidaknya dapat menambah 8 kompetensi bagi tenaga pendidik. Melalui pendidikan sepanjang hayat, tenaga pendidik berkompetensi dapat mengatasi tantangan pendidikan di Indonesia yaitu di bidang teknologi, politik, dan sosial budaya. Penelitian ini mengkaji pendidikan sepanjang hayat untuk meningkatkan kompetensi tenaga pendidik sebagai upaya pengawetan kepakaran dan memaparkan program pendidikan sepanjang hayat untuk tenaga pendidik. Dengan metode kajian pustaka, peneliti mengkaji data dari peraturan undang.
Penginjilan Kontekstual: Tradisi Penghormatan Orang Tua Dan Leluhur Pada Etnis Tionghoa Sebagai Celah Masuk Injil Kristus Kriswanto, Eliezer Mei
Jurnal Ap-Kain Vol 1, No 1 (2023): Jurnal Ap-Kain Februari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v1i1.54

Abstract

The encounter between people of Ethnic Chinese with the church and Christianity has been going on for a long time. However, this long-standing encounter did not accommodate the good values contained in Chinese tradition and culture into the Church. Chinese community-based Christian churches only accommodate Mandarin. Traditions such as respect for parents and ancestors are not accommodated in Christian practice. This is due to the concern that such a tradition will contaminate the faith of the congregation. This study aims to examine the Chinese-Christian relationship and try to find opportunities to harmonize the two. This study uses a qualitative descriptive method with a literature study technique. As for the results of his research: 1) The finding of conformity to a certain degree of the practice of respecting parents and ancestors with the texts in the Old and New Testaments. This conformity can be found by finding the good side of Chinese tradition and culture; 2) Such conformity and respect can be an entry point for the Gospel of Christ.AbstrakPerjumpaan antara orang-orang dari Etnis Tionghoa dengan gereja dan Kristen telah berlangsung sejak lama. Namun perjumpaan yang telah berlangsung lama tersebut tidak membuat terakomodasinya nilai-nilai baik yang terdapat dalam tradisi dan budaya Tionghoa ke dalam Gereja. Gereja-gereja Kristen berbasis masyarakat Tionghoa hanya mengakomodasi Bahasa Mandarin. Tradisi seperti penghormatan terhadap orang tua dan leluhur tidak terakomodasi dalam praktik Kekristenan. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran bahwa tradisi semacam itu akan mengontaminasi iman jemaat. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah hubungan Tionghoa-Kristen dan berusaha menemukan peluang mengharmoniskan keduanya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik studi literatur. Ada pun hasil penelitiannya: 1) Ditemukannya kesesuaian dalam derajat tertentu praktik penghormatan orang tua dan leluhur dengan teks-teks dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kesesuaian itu dapat dijumpai dengan menemukan sisi baik dari tradisi dan budaya Tionghoa; 2) Kesesuaian  dan penghormatan tersebut dapat menjadi celah masuknya Injil Kristus. 

Page 2 of 4 | Total Record : 32