cover
Contact Name
Hendrik Legi
Contact Email
hendriklegi83@gmail.com
Phone
+62811484408
Journal Mail Official
hendriklegi83@gmail.com
Editorial Address
Jalan Patimura Kel. Wamena Kota Kec. Wamena Papua 99511
Location
Kab. jayawijaya,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Ap-Kain
ISSN : -     EISSN : 29864208     DOI : 10.52879
urnal Ap-Kain merupakan jurnal penelitian dan PKM bagi Mahasiswa dan Dosen yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena. Jurna Ap-Kain mengundang bapak/ibu sebagai mahasiswa untuk dapat menerbitkan hasil penelitian yang dikerjakan baik bersama dosen maupun sesama mahasiswa lainnya. Kata Ap-Kain diambil dari bahasa Lembah Baliem Wamena Papua. Ap-Kain memiliki arti seorang pemimpin yang berkarisma dan dihormati, Ap-Kain bisa juga diartikan sebagai seorang pemimpin atau kepala suku.
Articles 32 Documents
Menguatkan Spiritualitas Generasi Alpha Melalui Pendidikan Agama Kristen Yang Kontekstual Legi, Hendrik; Legi, Devarsh Gevariel Dean
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i1.173

Abstract

The Alpha Generation is a generation born in the digital era with very wide and fast access to information. However, the main challenge faced by this generation is the weakness of spirituality due to the dominance of technology in daily life. Christian religious education as part of character and faith formation has an important role in strengthening the spirituality of the Alpha generation. This article aims to examine how contextual Christian religious education can strengthen the spirituality of the Alpha generation. The method used in this study is a literature study with a qualitative approach. Data is collected through scientific literature, books, research articles, and relevant online sources. The analysis was carried out using the content analysis method to identify important themes related to spirituality and Christian education in the context of the Alpha generation. The results of the study show that contextual Christian religious education is able to answer the challenges of the spirituality of the Alpha generation by integrating the principles of the Christian faith into the digital context. This involves the use of digital media as a means of spiritual learning as well as a pedagogical approach that is interactive and relevant to the daily life of the Alpha generation. Christian religious education needs to prioritize the formation of character based on biblical values, such as love, loyalty, and integrity, while still considering the wise use of technology. This article concludes that strengthening the spirituality of the Alpha generation through contextual Christian religious education requires a dynamic, contextual, and technology-based approach. Thus, the Alpha generation can grow spiritually despite being in a challenging digital world. The recommendation for educators is to continue to develop creative and innovative learning strategies so that spirituality development remains relevant and effective.AbstrakGenerasi Alpha merupakan generasi yang lahir dalam era digital dengan akses informasi yang sangat luas dan cepat. Namun, tantangan utama yang dihadapi oleh generasi ini adalah lemahnya spiritualitas akibat dominasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Agama Kristen sebagai bagian dari pembentukan karakter dan iman memiliki peran penting dalam menguatkan spiritualitas generasi Alpha. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pendidikan agama Kristen yang kontekstual dapat menguatkan spiritualitas generasi Alpha. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui literatur ilmiah, buku, artikel penelitian, dan sumber daring yang relevan. Analisis dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis) untuk mengidentifikasi tema-tema penting terkait spiritualitas dan pendidikan Kristen dalam konteks generasi Alpha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan agama Kristen yang kontekstual mampu menjawab tantangan spiritualitas generasi Alpha dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip iman Kristen ke dalam konteks digital. Hal ini melibatkan pemanfaatan media digital sebagai sarana pembelajaran rohani serta pendekatan pedagogis yang interaktif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari generasi Alpha. Pendidikan agama Kristen perlu mengedepankan pembentukan karakter berbasis nilai alkitabiah, seperti kasih, kesetiaan, dan integritas, dengan tetap mempertimbangkan penggunaan teknologi secara bijaksana. Artikel ini menyimpulkan bahwa penguatan spiritualitas generasi Alpha melalui pendidikan agama Kristen yang kontekstual membutuhkan pendekatan yang dinamis, kontekstual, dan berbasis teknologi.
Strategi Membangun Keluarga Muda yang Berkomitmen Melayani di Gereja Baptis Pengharapan Manado Paoki, Suzan Grace; Saptorini, Sari; Arifianto, Yonatan Alex
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i1.167

Abstract

:  Young families are a strategic element in supporting the sustainability of church ministry. However, various challenges such as economic pressure, busy work, and limited relevant church programmes often hinder their active involvement. Pengharapan Baptist Church Manado faces similar challenges, where the presence of young families as drivers of ministry is not optimal. This research aims to identify strategies that the church can use in building the commitment of young families to serve on an ongoing basis. This research was conducted using a descriptive qualitative method with a literature study approach to describe which aims to describe and explain certain phenomena, situations, or problems based on existing data and information in scientific literature, articles, and other documents. Based on this research, the author draws the conclusion that effective strategies include, among others: strengthening the teaching of God's word, building close fellowship, diaconal service, effective leadership of the pastor and the adaptation of services in the digital era. This research is based on a case study at Pengharapan Baptist Church Manado and is also specifically designed to answer the needs of young families at Pengharapan Baptist Church Manado. This research is expected to make a significant contribution in supporting a relevant and sustainable ministry strategy, as well as a basis for further research related to evaluating the implementation of this strategy.AbstrakKeluarga muda merupakan elemen strategis dalam mendukung keberlanjutan pelayanan gereja. Namun, berbagai tantangan seperti tekanan ekonomi, kesibukan pekerjaan, dan keterbatasan program gereja yang relevan seringkali menghambat keterlibatan mereka secara aktif. Gereja Baptis Pengharapan Manado menghadapi tantangan serupa, dimana keberadaan keluarga muda sebagai penggerak pelayanan belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi yang dapat digunakan gereja dalam membangun komitmen keluarga muda untuk melayani secara berkesinambungan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur untuk mendeskripsikan yang bertujuan untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena, situasi, atau masalah tertentu berdasarkan data dan informasi yang telah ada dalam literatur ilmiah, artikel, dan dokumen lainnya. Berdasarkan penelitian ini, penulis menarik kesimpulan bahwa strategi yang efektif meliputi antara lain: penguatan pengajaran firman Tuhan, membangun persekutuan yang erat, pelayanan diakonia, kepemimpinan gembala sidang yang efektif dan adanya adaptasi pelayanan di era digital. Penelitian ini dibuat didasarkan atas studi kasus pada Gereja Baptis Pengharapan Manado dan juga dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan keluarga muda di Gereja Baptis Pengharapan Manado. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung strategi pelayanan yang relevan dan berkelanjutan, sekaligus menjadi dasar untuk penelitian lanjutan terkait evaluasi implementasi strategi ini.
Pemanfaatan Chat GPT Dalam Pengerjaan Tugas Perkuliahan Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup Albert, Kevin William; Kristiani, Kristiani
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i1.135

Abstract

The use of ChatGPT among students at STT Berita Hidup has become a significant phenomenon; however, its impact on learning and academic integrity needs further investigation. This study aims to explore the effects of using ChatGPT in completing academic assignments and to identify the challenges and benefits associated with its use. The study employs a qualitative phenomenological approach by interviewing students who use ChatGPT for their assignments. The results indicate that while ChatGPT provides convenience, it also poses challenges such as a loss of motivation to learn and a lack of honesty in completing tasks. The implications of this research include the need for clear regulations and the promotion of academic integrity to mitigate the negative effects of this technology.AbstrakPenggunaan ChatGPT di kalangan mahasiswa STT Berita Hidup menjadi fenomena yang signifikan, namun dampaknya terhadap pembelajaran dan integritas akademik perlu diselidiki lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak penggunaan ChatGPT dalam pengerjaan tugas akademik dan mengidentifikasi tantangan serta manfaatnya. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan mewawancarai mahasiswa yang menggunakan ChatGPT dalam pengerjaan tugas. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT memberikan kemudahan namun juga menimbulkan tantangan seperti hilangnya motivasi belajar dan kurangnya kejujuran dalam pengerjaan tugas. Implikasi penelitian ini mencakup perlunya regulasi yang jelas dan pembinaan integritas akademik untuk mengatasi dampak negatif penggunaan teknologi ini.
Optimalisasi Artificial intelligence (AI) dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen: Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Marbun, Theresia Puspita S.G
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i1.172

Abstract

The development of technology, especially Artificial Intelligence (AI), brings its own challenges to the world of education, including Christian Religious Education (PAK). PAK teachers are expected to adapt to these changes by exploring the potential application of AI in learning to improve teaching effectiveness. This research uses a descriptive qualitative method with a case study approach to analyse how AI can be integrated in PAK learning. The results show that AI can improve interactivity and personalisation of learning, assist teachers in student data analysis, and expand access to religious education. However, challenges include technological limitations, data privacy, educator readiness, and implementation and maintenance costs, which are still an obstacle, especially for institutions with limited resources. Therefore, optimising the application of AI in PAK requires careful planning and a well-thought-out strategy. Thus, the integration of AI in PAK can be an innovative strategy to improve the quality of learning that not only transfers knowledge, but also on spiritual growth while preparing them for the increasingly complex digital era. The novelty of this research lies in the in-depth analysis of how AI can be applied in PAK learning and its impact on students' learning experience. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi dan tantangan dalam penggunaan Artificial Intelligence (AI) pada pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK). Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendekatan pendidikan yang lebih relevan dan efektif di era digital. Perkembangan teknologi AI membawa tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan, termasuk PAK. Guru PAK diharapkan dapat beradaptasi dengan perubahan ini dengan mengeksplorasi potensi penerapan AI dalam pembelajaran untuk meningkatkan efektivitas pengajaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus untuk menganalisis bagaimana AI dapat diintegrasikan dalam pembelajaran PAK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI mampu meningkatkan interaktivitas dan personalisasi pembelajaran, membantu guru dalam analisis data siswa, serta memperluas akses terhadap pendidikan agama. Namun, tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan teknologi, privasi data, kesiapan tenaga pendidik, serta biaya implementasi dan pemeliharaan yang masih menjadi kendala, terutama bagi institusi dengan sumber daya terbatas. Oleh karena itu, optimalisasi penerapan AI dalam PAK memerlukan perencanaan yang hati-hati dan strategi yang matang. Dengan demikian, integrasi AI dalam PAK dapat menjadi strategi yang inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga pada pertumbuhan spiritual sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi era digital yang semakin kompleks. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis mendalam mengenai bagaimana AI dapat diterapkan dalam pembelajaran PAK dan dampaknya terhadap pengalaman belajar siswa.
Analisis Pola Triadik Trinitarian dalam Perspektif Teologi Kovenan: Eksposisi Yohanes 14:26 Adi, Didit Yuliantono; Purwonugroho, Daniel Pesah
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i1.168

Abstract

The purpose of this paper is to analyze the trinitarian triadic pattern in the perspective of covenant theology with the exposition of John 14:26. The concept of the trinity is the foundation of Christian faith that affirms who and how God is. The trinitarian triadic pattern is seen in John 14:26 where the Father sends the Holy Spirit in the name of Jesus Christ. This pattern emphasizes the intra-trinitarian relationship involved in the lives of human beings. The trinitarian triadic pattern in John 14:26 can also be seen from the perspective of covenant theology. The presence of the Holy Spirit is the fulfillment of the covenant that the Father has established through the work of the Son from eternity. The fulfillment of the covenant has an active impact in the lives of believers. Through a descriptive qualitative approach, the author analyzes the triadic pattern of the trinity in the perspective of covenant theology through the exposition of John 14:26. The author states that the exposition of John 14:26 shows a trinitarian triadic pattern that is also closely related in the perspective of the covenant. This paper provides new theological insights in trinitarian studies through a covenantal approach.AbstrakTujuan dari tulisan ini adalah untuk menganalisa pola triadik trinitarian dalam perspektif teologi kovenan dengan eksposisi Yohanes 14:26. Konsep trinitas merupakan dasar iman Kristen yang menegaskan siapa dan bagaimana Allah itu. Pola triadik trinitarian terlihat di dalam Yohanes 14:26 dimana Bapa mengirimkan Roh Kudus dalam nama Yesus Kristus. Pola ini menegaskan hubungan intra-trinitarian yang terlibat di dalam kehidupan umat manusia. Pola triadik trinitarian dalam Yohanes 14:26 juga dapat dilihat dari perspektif teologi kovenan. Kehadiran Roh Kudus merupakan pemenuhan kovenan yang telah Bapa rangkai melalui pekerjaan sang Anak dari kekekalan. Pemenuhan kovenan tersebut berdampak aktif di dalam kehidupan umat percaya. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penulis menganalisa pola triadik trinitaraian dalam perspektif teologi kovenan melalui eksposisi Yohanes 14:26. Penulis menyatakan bahwa eksposisi Yohanes 14:26 menunjukkan sebuah pola triadik trinitarian yang juga berkaitan erat dalam perspektif kovenan. Tulisan ini memberikan wawasan teologis yang baru dalam kajian trinitarian melalui pendekatan kovenantal.
Menyikapi Tantangan Pendidikan Agama Kristen bagi Generasi Muda di Era Digital Mawo Ate, Norbertus; Triposa, Reni
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i1.171

Abstract

The development of adolescent faith is underwritten by Christian religious education. The implementation of PAK for teenagers in the church is the responsibility of PAK. Many teenagers in today's digital era face mental and psychological disorders, moral threats, crime, free sex, and easy copyright infringement. Teenagers also face problems because many of them do not understand the use of technology and do not realise the dangers of using the wrong information technology. As a result, they easily fall into negative behaviours. How Christian religious education helps teenagers handle the challenges of the digital modern age is the subject of this study. Qualitative research was conducted with literature study data collection techniques. The results of this study show that Christian religious education can help teenagers not to be afraid in facing the challenges of the ever-changing digital age.AbstrakEra digital yang cepat ini telah membawa perubahan yang signifikan dalam perilaku dan interaksi sosial, terutama di kalangan remaja. Perkembangan teknologi ini memengaruhi moralitas remaja, yang menjadi semakin rumit dan rentan terhadap pengaruh negatif dari dunia digital yang luas dan tidak terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dampak pendidikan karakter terhadap moralitas remaja di era digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka dalam menganalisis dampak pendidikan karakter terhadap moralitas remaja. Hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan karakter berpengaruh positif dalam membentuk moralitas remaja. Nilai-nilai moral yang diajarkan seperti integritas, kejujuran, dan tanggung jawab, membantu remaja dalam menghadapi efek negatif di era digital. Pendidikan karakter bukan hanya merupakan tanggung jawab sekolah, tetapi juga merupakan tanggung jawab masyarakat, lebih khusus lagi tanggung jawab orang tua. Orang tua perlu memantau penggunaan gadget oleh anak-anak mereka dan memberikan arahan serta batasan. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi dasar yang penting dalam mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan moral di era digital ini.
Kiat Ayah Membangun Pemahaman Moderasi Beragama Di Keluarga Kristiani Manurung, Kosma
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 2 (2025): Ap-Kain: Jurnal Penelitian dan PKM
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i2.202

Abstract

Religious moderation upholds human dignity. It is believed that through religious moderation, societal harmony will be established, national unity will be strengthened, and the values of Pancasila will be practiced in daily life, including in the context of religious life. Given the importance of religious moderation, it is necessary to teach it within the family. This article seeks to describe fathers' tips for developing an understanding of religious moderation in Christian families. Through the use of descriptive qualitative methods and elaborating on literature reviews, it is hoped that it will provide a strong, systematic, and in-depth picture related to Christianity and public life, the importance of religious moderation, and fathers' tips for developing an understanding of religious moderation in Christian families. It is concluded that a father will maximize the development of an understanding of religious moderation in a Christian family when he introduces religious moderation to his children from an early age, builds an ecosystem, becomes a practice partner for his children, and becomes a role model in religious moderation himself.AbstrakModerasi beragama menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. Melalui moderasi beragama diyakini keharmonisan masyarakat akan terbentuk, persatuan dan kesatuan bangsa semakin dipererat, serta nilai-nilai Pancasila teramalkan dalam praktik keseharian hidup termasuk juga dalam konteks kehidupan beragama. Mengingat begitu pentingnya moderasi beragama ini, maka perlu untuk diajarkan hingga pada tatanan keluarga. Adapun artikel ini berupaya untuk menjabarkan kiat ayah dalam membangun pemahaman moderasi beragama di kelaurga Kristiani. Melalui penggunaan metode kualitatif deskriptif dan mengelaborasikannya dengan kajian literatur diharapkan mampu memberikan gambaran yang kuat, tersistimatik, serta mendalam terkait dengan kekristenan dan kehidupan publik, arti penting moderasi beragama, juga kiat ayah membangun pemahaman moderasi beragama di keluarga Kristiani. Disimpulkan seorang ayah akan maksimal membangung pemahaman moderasi beragama di keluarga Kristiani ketika sang ayah memperkenalkan moderasi beragama sedari awal pada anak-anaknya, membangun ekosistem, menjadi teman latihan anak, serta menjadi dirinya role model dalam moderasi beragama.
Kajian Teologis Kepemimpinan Rohani Kristen Dalam Perspektif Titus 1:7-8 Vinson, Vinson; Triposa, Reni; Boiliu, Esti Regina
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 2 (2025): Ap-Kain: Jurnal Penelitian dan PKM
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i2.203

Abstract

Spiritual leadership in the church is a vital aspect because a leader serves as a role model and guide for the growth of the congregation's faith. However, this spiritual dimension is often neglected, resulting in leadership that does not produce true fruit of service. Titus 1:7–8 emphasises the standards of Christian leadership, which emphasise integrity, exemplary behaviour, and sound teaching. This study aims to theologically examine Christian spiritual leadership in the perspective of Titus 1:7–8 by highlighting its relevance to the responsibility of church pastors in maintaining their personal lives, character, and role in shepherding the congregation. The research method used is qualitative literature study through analysis of biblical texts, theological literature, and relevant previous studies. The results of the study show that Christian spiritual leadership rests on three main dimensions: personal morality, family responsibility, and public exemplary behaviour. These three dimensions emphasise that a leader is called not only to be skilled in teaching, but also to live with integrity, to exemplify Christ, and to be responsible for the souls entrusted to them by God.AbstrakKepemimpinan rohani dalam gereja merupakan aspek vital karena seorang pemimpin berperan sebagai teladan dan penuntun pertumbuhan iman jemaat. Namun, sering kali dimensi rohani ini terabaikan sehingga kepemimpinan tidak menghasilkan buah pelayanan yang sejati. Titus 1:7–8 menegaskan standar kepemimpinan Kristen yang menekankan integritas, keteladanan, dan pengajaran yang benar. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara teologis kepemimpinan rohani Kristen dalam perspektif Titus 1:7–8 dengan menyoroti relevansinya terhadap tanggung jawab gembala sidang dalam menjaga kehidupan pribadi, karakter, serta peran penggembalaan jemaat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif studi pustaka melalui analisis teks Alkitab, literatur teologi, serta penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan rohani Kristen bertumpu pada tiga dimensi utama: moralitas pribadi, tanggung jawab keluarga, dan keteladanan publik. Ketiga dimensi ini menegaskan bahwa seorang pemimpin dipanggil bukan sekadar mahir dalam pengajaran, tetapi juga hidup dalam integritas, meneladani Kristus, serta bertanggung jawab atas jiwa-jiwa yang dipercayakan Allah.
Hiperkonektivitas Internet dan Overstimulasi dalam Kehidupan Remaja terhadap Pertumbuhan Iman Kristen Sarayar, Yane Ivana; lumingas, Gloria Gabriel
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 2 (2025): Ap-Kain: Jurnal Penelitian dan PKM
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i2.204

Abstract

In today's modern world, technological advances and widespread internet access have had a significant impact on human life, including the lives of adolescents. Hyperconnectivity and overstimulation in this modern era are phenomena that require vigilance because they affect the character, personality, social, emotional, and especially spiritual development of Christian adolescents. Teenagers who are constantly connected to the internet tend to experience identity crises, decreased focus, impulsive behavior, and even a decline in faith due to limited time for quiet time, prayer, reading God's Word, and even building a relationship with God. Moral challenges such as pornography, the spread of fake news, and cybercrime further exacerbate this situation. This study used qualitative methods with a theological and pastoral approach to analyze the impact of hyperconnectivity and overstimulation on the faith growth of Christian adolescents. The results indicate that the church and family play a central and primary role in guiding and nurturing adolescents through theological strategies such as affirming their identity as the image of God (Imago Dei) and understanding the importance of the real presence through the example of the incarnation of Jesus Christ. Pastorally, the church is also expected to provide digital literacy, character development, and foster a healthy spiritual community. This research is expected to be a significant contribution to developing faith-building strategies for adolescents in the modern era so that they continue to grow as a generation pleasing to God.AbstrakDi dunia yang modern dimana kemajuan teknologi serta akses internet yang meluas telah membawa dampak yang sangat besar terhadap kehidupan manusia, termasuk kehidupan di kalangan anak remaja. Hiperkonektivitas dan overstimulasi di era modern ini menjadi fenomena yang perlu di waspadai karena mempengaruhi perkembangan karakter,sifat, sosial, emosional dan terutama spiritual remaja Kristen. Anak remaja yang selalu terhubung dengan internet cenderung mengalami krisis identitas, penurunan fokus, perilaku instan, bahkan hingga kemerosotan iman akibat minimnya waktu untuk saat teduh, berdoa, membaca Firman Tuhan bahkan membangun relasi dengan Tuhan. Tantangan moral seperti pornografi, penyebaran berita bohong, dan kejahatan siber semakin memperparah keadaan ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologis dan pastoral untuk menganalisis dampak hiperkonektivitas dan overstimulasi terhadap pertumbuhan iman remaja Kristen. Hasil kajian menunjukan bahwa gereja dan keluarga memiliki peran sentral dan utama dalam membimbing serta membina remaja melalui strategi teologis seperti penegasan identitas diri sebagai gambar Allah (Imago Dei) dan pemahamanakan pentingnya kehadiran nyata melalui teladan inkranasi Yesus Kristus. Secara pastoral, gereja juga di harapkan memberikan literasi digital, pembinaan karakter, serta dapat membentuk komunitas rohani yang sehat. Penelitian ini di harapkan menjadi kontribusi penti dalam mengembangkan strategi pembinaan iman kepada anak remaja di era modern agar mereka tetap bertumbuh sebagai generasi yang berkenan di hadapan Allah.
Membangun Struktur Khotbah yang Transformatif Menurut 2 Timotius 3:16-17 Bagi Generasi Muda Di Era 5.0 Suwondo, Victorio Emmanuela Sammy; Baskoro, Paulus Kunto; Jani, Jani
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 2 (2025): Ap-Kain: Jurnal Penelitian dan PKM
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i2.214

Abstract

Sermons are the primary means of conveying God's word in church life. However, sermons today often focus solely on theological information. Sermons should be transformative, bringing about real change in the mindset, attitudes, and behavior of listeners. This is so that today's younger generation can become doers of the Word, not just hearers. This study aims to examine how to build a transformative sermon structure based on the principle of 2 Timothy 3:16, which emphasizes four key functions of God’s Word: teaching, rebuking, correcting, and training in righteousness. Using a kualitatf deskritif method, this research highlights that transformative preaching is urgently needed by young people who live amidst digitalization, moral relativism, and identity crises. Preaching that is rooted in the Word of God, delivered in a communicative language, and contextualized to the digital life of the younger generation will serve as an effective means of shaping faith and Christlike character. This study is expected to contribute theoretically to the field of homiletics and practically to churches and preachers in designing sermons that are relevant, applicable, and transformative for the young generation in the Society 5.0 era.AbstrakKhotbah merupakan sarana utama penyampaian firman Tuhan dalam kehidupan gereja. Namun saat ini yang terjadi kotbah hanya berhenti dalam informasi teologis semata. Padahal kotbah harus bersifat transformatif, yaitu membawa perubahan nyata dalam pola pikir, sikap hati, dan perilaku pendengar. Supaya generasi muda sekarang dapat menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar Firman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana membangun struktur khotbah transformatif berdasarkan prinsip 2 Timotius 3:16, yang menekankan empat fungsi utama firman Allah: mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik dalam kebenaran. Dengan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menegaskan bahwa khotbah transformatif sangat dibutuhkan generasi muda yang hidup di tengah arus digitalisasi, relativisme moral, dan krisis identitas. Khotbah yang berakar pada firman Allah, disampaikan dengan bahasa komunikatif, serta relevan dengan konteks kehidupan digital generasi muda, akan menjadi sarana efektif bagi pembentukan iman dan karakter Kristus. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritis dalam bidang homiletika serta manfaat praktis bagi gereja dan pengkhotbah untuk merancang khotbah yang relevan, aplikatif, dan transformatif bagi generasi muda di era 5.0.

Page 3 of 4 | Total Record : 32