cover
Contact Name
Riztika Widyasari
Contact Email
jurnalsangkala@untag-banyuwangi.ac.id
Phone
+6282231019002
Journal Mail Official
jurnalsangkala@untag-banyuwangi.ac.id
Editorial Address
Jl. Adi Sucipto No. 26 Banyuwangi - Jawa Timur
Location
Kab. banyuwangi,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sangkala
ISSN : -     EISSN : 30327741     DOI : https://doi.org/10.62734/js.v3i2.260
Jurnal Sangkala adalah jurnal peer-review, dan berspesialisasi dalam Pendidikan Sejarah. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman dan menyediakan sumber informasi ilmiah bagi pembaca, peneliti, pendidik di dunia akademis tentang Pendidikan Sejarah. Jurnal Sangkala menyajikannya melalui penerbitan artikel, artikel konseptual, artikel ulasan, studi kasus yang berfokus pada pembelajaran sejarah dan pendidikan sejarah serta topik terkait. Jurnal Sangkala diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Sejarah, Universita 17 Agustus 1945 Banyuwangi sebanyak dua kali dalam setiap volumenya (setiap bulan Januari dan Juli).
Articles 70 Documents
ANALISIS PEMBELAJARAN MELALUI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MAHASISWA TENTANG PANCASILA Hirnanda Dimas Pradana Pradana; Riztika Widyasari Widyasari
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i1.199

Abstract

Penelitian survey ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman mahasiswa tentang penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa. Sampel penelitian adalah mahasiswa angkatan 2022/2023 dari seluruh mahasiswa aktif. Data dikumpulkan melalui angket dan dianalisis dengan teknik persentase. Hasil penelitian ini secara umum yakni mahasiswa belum sepenuhnya memahami implementasi nilai-nilai Pancasia dalam kehidupan sehari-hari. Secara khusus, didapatkan hasil bahwa mahasiswa tahun angkatan 2022 rata-rata pemahaman Pancasila yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari rata-rata 76, 19% dengan predikat C (Cukup Baik). Pemahaman tertinggi mahasiswa ada pada konsep Pancasila dalam kehidupan masyarakat dengan persentase 100%. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa secara konseptual memahami bahwa Pancasila sangat penting untuk dijadikan landasan dalam kehidupan bermasyarakat. Sementara itu, pemahaman terendah mahasiswa adalah angket nomor 30 mengenai kegiatan kemanusiaan untuk memberikan yang terbaik untuk orang lain mendapat dukungan dari 3 kelas atau 100%. Secara umum, pemahaman mahasiswa terhadap nilai-nilai Pancasila, baik secara konseptual maupun implementatif perlu ditingkatkan, khususnya dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama.
INVENTARISASI PENINGGALAN PRASEJARAH DI KABUPATEN BANYUWANGI DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA Mahfud Mahfud
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i1.200

Abstract

Banyuwangi merupakan kabutapen yang terletak di ujung timur pulau jawa yang memiliki beragam daya tarik wisata baik wisata alam maupun budaya. Pengembangan pariwsata di Kabupaten banyuwangi belum maksimal mengingat sampai saat ini masih terfokus pada pengembangan wisata alam, sedangkan pariwisata sejarah masih belum dikembangkan. Padahal banyuwangi memiliki asset sumberdaya arkeologi yang sangat melimpah yang terdiri dari masa prasejarah, sejarah klasik, dan kolonial tersebar diberbagai daerah seperti Wongsorejo, Kalipuro, Banyuwangi, Kabat, Rogojampi, Muncar, Sempu, dan Songgon. Penelitian ini bertujuan Untuk (1) menginventarisasi persebaran peninggalan Pra-sejarah yang ada di Kabupaten Banyuwangi; (2) mengetahui pemanfaatan peninggalan prasejarah sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Dalam penelitian ini menggunakan beberapa teori, yaitu: 1) Sumberdaya Arkeologi; 2) Pariwisata; dan 3) Pariwisata Sejarah. Penelitian ini menggunakan bentuk dan strategi deskriptif kualitatif. Teknik pengambilan data berupa wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumen. Data yang diperoleh divaliditas dengan menggunakan triannggulasi data, peneliti, teori, dan metodelogis. Sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik analisis data kualitatif yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan/verifikasi.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peninggalan prasejarah di banyuwangi meliputi situs gua di Songgon, Situs Goa di Wongsorejo, situs gua di Kalipuro, dan situs neolitik di kendenglembu. Sedangkan untuk pemanfaatanya sebagai media dan sumber belajar sudah diterapkan oleh sekolah-sekolah SMA di Kabupaten Banyuwangi.
GEGER GANDRUNG BANYUWANGI PADA MASA ORDE BARU (PERSPEKTIF SEJARAH DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA) Hervina Nurulita Nurulita; Riztika Widyasari Widyasari
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i1.203

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Ingin meneliti dan mendiskripsikan perkembangan kesenian gandrung tahun 1997 – 2001; 2) Ingin meneliti dan mendiskripsikan Bagaimana perkembangan kesenian gandrung tahun 2002 – 2006; 3) Ingin meneliti dan mendiskripsikan kesenian gandrung ditinjau dari aspek ekonomi, bidaya dan pariwisata; 4) Ingin meneliti dampak penetapan kesenian gandrung sebagai maskot Banyuwangi pada tahun 2002. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang terdiri dari: 1) heuristik, (2) kritik, (3) interpretasi, (4) historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Secara garis besar kostum, peralatan dan tata laku kesenian gandrung pada periode tahun 1997 – 2001 tidak mengalami perkembangan. Pada periode 1997 – 2001, kesenian gandrung mendapat pengaruh dari kesenian islami seperti hadrah. Kesenian gandrung mengalami perkembangan pesat setelah keluarnya ketetapan Bupati pada tahun 2002 tentang penetapan gandrung sebagai maskot pariwisata Banyuwangi, Dari segi peralatan, kostum, musik pengiring dan tata laku kesenian gandrung masih sama dengan aslinya / pakemnya. Penetapan gandrung sebagai maskot Banyuwangi ini membawa dampak besar terutama bagi kesenian gandrung itu sendiri. Dalam bidang pendidikan gandrung diwajibakan untuk diajarkan menjadi pelajaran ekstrakurikuler di sekolah baik tingkat SD sampai SMA.
ANALISIS LATAR BELAKANG KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA I Kadek Yudiana Yudiana; Sahru Romadloni Romadloni
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i1.204

Abstract

Desa patoman merupakan sebuah desa yang terletak di Ujung Timur Pulau Jawa yang terdiri dari berbagai agama dan etnis. Penduduk desa Patoman sangat majemuk dari 5.246 terbagi menjadi 4.084 jiwa atau 82.3 %, beragama Hindu mencapai 860 jiwa atau 17.3 % dan sisanya beragama Kristen sebanyak 8 jiwa, beragama Buda 7 Jiwa. Ditengah ketegangan antar suku, agama, ras, dan etnik yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia saat ini sangat berbeda dengan Desa Patoman Mampu menjaga Harmonisasi antar suku, rusa, dan agama. Dalam penelitian ini mencoba menganalisis dengan kritis latar belakang kerukunan antar umat beragama yang ada di desa Patoman, Blimbingsari, Banyuwangi. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif analitik kritik dengan tahapan penelitian meliputi penentuan lokasi penelitian, metode penentuan informan, metode pengumpulan data, istrumen penelitian, metode pengujian keabsahan data, dan metode analisis data. Hasil dalam penelitian menunjukkan yang menjadi latar belakang kerukanan antar umat beragama di Desa Patoman, Blimbingsari, Banyuwangi antara lain: 1) Latar belakang Histori; 2) Perkawinan; 3) Ideologi Pancasila; 4) Perspektif ajaran masing-masing agama yang ada di Desa Patoman.
DAMPAK PENUTUPAN LOKALISASI DI KABUPATEN BANYUWANGI (STUDI KASUS PENUTUPAN LOKALISASI PADANGBULAN) Miskawi Miskawi; I Kadek Yudiana Yudiana; Mahfud Mahfud
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i1.205

Abstract

Setelah penutupan Lokalisasi di Padangbulan, masyarakat sekitar eks-lokalisasi tersebut diperkirakan terkena dampaknya. Dampak yang terjadi pada masyarakat sekitar bisa positif atau pun negatif. Namun, tentu dalam kondisi di mana dampak itu terjadi, masyarakat sekitar akan melakukan adaptasi agar dapat tetap bertahan hidup. tujuan penelitian ini adalah menggambarkan atau mendeskripsikan gambaran umum keadaan masyarakat setempat, mengetahui pandangan masyarakat setempat, menganalisis bentuk-bentuk adaptasi yang terjadi baik pada masyarakat setempat maupun pada eks- WTS, dan memberikan masukan tentang upaya apa yang perlu dilakukan pemerintah maupun masyarakat untuk mengurangi dampak negatif. Penelitian ini menggunakan survei. Survei dipakai sebagai alat untuk mengetahui pandangan sebanyak- banyak masyarakat setempat terhadap penutupan lokaliasi tersebut. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah survei, observasi, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya berkaitan dengan penutupan lokalisasi/resosialisasi Padabulan, masyarakat terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendukung dan kelompok yang tidak mendukung. Sebagian besar anggota kelompok yang tidak mendukung beralasan bahwa penutupan tersebut tidak dibarengi dengan upaya penanggulangan dampak yang akan muncul.
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN SEJARAH Devi Dian Anggaretha Anggaretha; Riztika Widyasari Widyasari; I Kadek Yudiana Yudiana
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i2.260

Abstract

Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah kelas X B masih rendah, disebabkan guru monoton menggunakan metode ceramah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran Sejarah. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan memberikan tindakan dalam dua siklus pembelajaran yang terdiri dari dua kali pertemuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2023 . Subyek penelitianya adalah 29 siswa kelas X B MAN 3 Banyuwangi. Hasil belajar kognitif diperoleh dari hasil Test sedangkan hasil belajar afektif diperoleh dari lembar observasi. Hasil penelitian menunjukan hasil belajar kognitif dimana pada siklus I mencapai 40% dengan nilai rata-rata 76.34 yang masih belum mencapai ketuntasan. Persentase tersebut dikategorikan nilai cukup rendah. Karena pada siklus I dinilai cukup rendah, dilakukan penelitian lanjutan di siklus II dimana hasil nilai belajar kognitif dan afektif dinilai meningkat. Hasil penelitian menunjukkan hasil belajar kognitif pada siklus II meningkat sebanyak 30% menjadi 70% dengan rata-rata nilai 93.10%, dan afektif meningkat 17.25% menjadi 82.75%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam penilaian kognitif maupun afektif pada pembelajaran Sejarah kelas X-B MAN 3 Banyuwangi.
ANALISIS IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI MAN 3 BANYUWANGI Agnes Tasya Tasya; Riztika Widyasari Widyasari; I Kadek Yudiana Yudiana
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i2.261

Abstract

Kurikulum merdeka adalah inisiatif pendidikan Indonesia yang bertujuan untuk memberikan lebih banyak kebebasan kepada sekolah dalam merancang pembelajaran sesuai dengan karakter dan kebutuhan peserta didik. Dengan kurikulum  merdeka diharapkan dapat meningkatkan  hasil  motivasi  belajar  siswa  dan  prestasi  akademik.  Tujuan  penelitian  ini untuk  mengetahui  bagai mana  pemahaman  guru  tentang  kurikulum  merdeka,  bagai mana implementasi kurikulum merdeka pada mata pelajaran sejarah di MAN 3 Banyuwangi dan hambatannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yaitu kualitataif deskriptif. dan teknik  pengumpulan  data yang  digunakan  yaitu  observasi,wawancara,  serta  dokumentasi. Data dianalisis dengan cara mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesi mpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan pemahaman guru serta i mplementasi kurikulum merdeka sudah sesuai dengan ketentuan pada kurikulum merdeka dan untuk penerapan kurikulum merdeka pada mata pelajaran sejarah hanya diterapkan pada kelas X dan pada kelas XI yang sudah diterapkan dari awal tahun 2022 dengan baik dan sesuai dengan kurikulum merdeka. Kurikulum dalam pembelajaran sejarah dibagi menjadi dua fase yaitu fase E untuk kelas X dan fase F untuk kelas XI dan pembelajaran sejarah tidak dibagi menjadi sejarah peminatan dan sejarah wajib. Pada kurikulum merdeka pembelajaran ini dirubah menjadi pembelajaran sejarah  saja  dan  dalam  penerapannya  kurikulum  merdeka  pada  MAN  3  Banyuwangi ini menggunakan program projek penguatan profil pelajar pancasila (P5) dan profil pelajar rahmatan lil’alamin (P2RA) yang di mana projek ini sudah dii mplementasikan dengan baik dan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh kementrian agama. Hambatan yang dialami oleh  pihak  sekolah  maupun  peserta  didik  penyesuaian  pembelajaran  berbasis projek  dan pengembangan keterampilan peserta didik.
DINAMIKA SOSIAL DAN BUDAYA DALAM TRADISI METIK PARI Lidya Putri Putri; Mahfud Mahfud; I Kadek Yudiana Yudiana
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i2.262

Abstract

Desa Sidodadi merupakan salah satu Desa yang masih melakukan tradisi hingga saat ini salah satunya adalah Metik Pari. Masyarakat Sidodadi juga masih menghargai kebudayaan yang diwariskan oleh leluhur dari jaman dulu hingga saat ini, sehingga tidak dapat dipungkiri juga terdapat masyarakat yang kurang begitu peduli dengan adat istiadat budaya yang sudah ada dari dulu, tradisi ini sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas kelimpahan hasil panen, dihindarkan dari penyakit dan hama serta menghormati Dewi Sri yang telah menjaga padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejarah, dinamika sosial dan budaya serta nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Metik Pari di Desa Sidodadi Kecamatan Wongsorejo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif berupa studi kasus. Pengumpulan data melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian pertama, dapat diperkirakan sejarah Metik Pari pertama kali dilakukan sejak berdirinya Desa Sidodadi. Kedua, terdapat perubahan yang terjadi dalam pelaksanaan maupun sesajian dalam tradisi Metik Pari. Ketiga, nilai yang terkandung dalam tradisi Metik Pari yaitu nilai ibadah, nilai aqidah, nilai akhlak, nilai sosial, dan nilai budaya. Berdasarkan penelitian, tradisi tersebut memiliki makna sebagai penghubung manusia antara leluhur dan Tuhannya.
ANALISIS PEMBELAJARAN LURING DI ERA NEW NORMAL MELALUI MOTIVASI SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS XII IPS Mochammad Soim Soim; Mahfud Mahfud; Sahru Romadloni Romadloni
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i2.263

Abstract

Proses kegiatan belajar mengajar di era new normal di sekolah MA Darul Latief Ar Rosyid Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi tentunya akan mengalami proses adaptasi sebagai langkah penyesuaian terhadap kondisi yang dialami. Tujuan peelitian ini untuk Analisis pembelajaran luring di era new normal melalui motivasi siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XII IPS semester genap MA Darul Latief Ar Rosyid Kabupaten Banyuwangi. Pendekatan penelitian ini  kualitatif deskriptif. Pengumpulan data mengunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi, mengunakan teknik analisis data interaktif menurut Miles dan Hibberman. Hasil penelitian proses pembelajaran luring dibatasi hanya 50 % siswa yang hadir dan menerapkan protokol kesehatan serta durasi pembelajaran dipersingkat. Pembelajaran berlangsung maksimal karena siswa dapat bertanya secara langsung kepada      guru apabila ada materi yang tidak dimengerti dan dapat berinteraksi secara langsung dengan teman teman dan guru. Siswa sangat termotivasi dalam pembelajaran terlihat sangat serius, tekun mengikuti setiap jam pelajaran dan mengerjakan tugas dengan baik.
DINAMIKA ETNIS TIONGHOA DI KELURAHAN KARANGREJO KECAMATAN BANYUWANGI Siti Nurhidayah Nurhidayah; Triana Kartika Santi Santi; Mahfud Mahfud
JURNAL SANGKALA Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v3i2.264

Abstract

Etnis Tionghoa yang ada di Banyuwangi adalah suku Hokkian yang berasal dari Fukien Selatan. Hal tersebut dibuktikan dengan mata pencaharian mereka yang rata - rata adalah berdagang, sesuai dengan asal daerah mereka yang sifat perdagangannya sangat kuat. Tujuan penelitian ini mengetahui dinamika suku Tionghoa di Kelurahan Karangrejo Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi. Pendekatan penelitian ini kualitatif deskriptif dengan teknik pengambilan sampel  purposive sampling dan snowball sampling.Hasil  penelitian terdapat pola  interaksi sosial  antara etnis Tionghoa dengan masyarakat pribumi di  Kelurahan Krangrejo agar usahanya bertahan dan mensejahterakan hidupnya dan keluarganya, sebagian besar etnis Tionghoa di karangrejo  menggantungkan hidupnya dalam sektor perdagangan.  Di Kelurahan Karangrejo terdapat Klenteng tertua dan menyimpan sejarah panjang etnis Tionghoa maka sangatlah wajar jika mereka memilih untuk tetap berdomisili diwilayah tersebut. Masyarakat Tionghoa di Karangrejo pada umumnya sudah lancar berbahasa jawa, dalam berkomunikasi dengan masyarakat pribumi bahkan dengan sesama Tionghoa sehari-hari sering menggunaakan bahasa jawa. Proses tersebut  dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi adanya perbedaan yang terdapat pada kedua individu atau kelompok sosial yang saling bersinggungan.