cover
Contact Name
Oktavia Rahayu Puspitarini
Contact Email
oktaviarahayu@unisma.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dinamikarekasatwa@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang, Jl. MT Haryono 193, Malang 65144
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)
ISSN : 23383720     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Dinamika Rekasatwa (Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan) Merupakan Jurnal Hasil Penelitian yang Diterbitkan Secara Berkala oleh Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang (terbit 2 kali setahun)
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 471 Documents
EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI BIOSECURITY TERHADAP KEJADIAN CHRONIC RESPIRATORY DISAESE AYAM PETELUR DI PETERNAKAN RAKYAT Sayyidil Faiz Ahmad; Nurul Humaidah; Sri Susilowati
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Choronic Respiratory Disaese (CRD) merupakan salah satu penyakit pernapasan pada ayam petelur yang dapat menurunkan produktivitas dan menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak. Penerapan biosecurity menjadi langkah penting dalam mencegah masuk dan penyebaran agen penyakit di lingkungan peternakan. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas implementasi biosecurity terhadap kejadian Chronic respiratory Disaese (CRD) pada peternakan rakyat ayam petelur di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Materi penelitian berupa 10 peternakan rakyat ayam petelur dengan populasi 1.000 hingga 10.000 ekor. Penelitian menggunakan metode survei melalui observasi lapangan dan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Variabel yang diamati meliputi biosecurity, manajemen pengolaan pakan, dan manajemen kesehatan. Data dianlisis secara kualitatif deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil penelitian, menunjukan biosecurity konseptual, 80% peternak memiliki suhu kendang di atas kisaran nyaman serta 100% kandang berjarak <500 meter dari pemukiman. Kelembaban kandang 20% peternak mencatat kelembaban lebih tinggi (71-73%). Pada biosecurity structural, seluruh peternak (100%) tidak memiliki saluran pembuangan limbah. pos jaga tersedia pada 30% peternak, dan mess pegawai tidak ditemukan sama sekali (100%). Tata letak kendang yang sesuai standar hanya dimiliki oleh 50% peternak. Biosecurity operasional, system all in all out tidak diterapkan oleh 90% peternak, serta 30% peternak tidak secara rutin melakukan desinfeksi secara konsisten. Pada aspek manajemen pengolaan pakan, 20% peternak kurang baik. Teknik pemberian pakan 100% peternak kurang baik. Manajemen kesehatan terdapat variasi dalam penggunaan vaksin, antibiotik, dan vitamin. Namun masih terdapat 30% peternak tidak menggunakan antibiotik sama sekali. Disimpulkan bahwa aspek biosecurity struktural  dapat di kategorikan sebagai tingkat biosecurity yang paling lemah dan menjadi prioritas utama untuk diperbaiki.Kata Kunci : Ayam petelur, biosecurity, chronic respiratory disaese, mycoplasma gallisepticum, peternakan rakyat Effectiveness of Biosecurity Implementation on the Incidence of Chronic Respiratory Disease in Laying Hens at Small-Scale Farms  AbstractThis study examined the effectiveness of biosecurity practices in relation to Chronic Respiratory Disease (CRD) among small-scale laying hen farms in Wajak District, Malang Regency. Ten farms with flock sizes between 1,000 and 10,000 birds were surveyed using field observations and structured interviews. Variables included biosecurity, feed management, and health management, with data analyzed descriptively. Results showed that 80% of farmers maintained coop temperatures above the comfort range, while all coops were located less than 500 meters from residential areas. Humidity levels were high in 20% of farms. Structurally, none had waste disposal channels, only 30% had security posts, and no employee quarters were present. Half of the coop layouts met standards. Operationally, 90% did not apply the “all-in/all-out” system, and 30% failed to disinfect regularly. Feed management was poor, with 20% showing weak practices and all using inadequate feeding techniques. Health management varied, but 30% did not use antibiotics. Structural biosecurity was identified as the weakest aspect and the top priority for improvement. Keywords: Biosecurity, chronic respiratory disease, laying hens, mycoplasma gallisepticum, small-scale poultry farming
NILAI EKONOMIS PAKAN AYAM PETELUR TINGGI POLYUNSATURATED FATTY ACID MELALUI PEMBERIAN PAKAN MENGANDUNG MINYAK LEMURU DAN ANTIOKSIDAN TEPUNG KAYU MANIS Syahrul Tri Saputra; Sri Susilowati; Brahmadhita Pratama Mahardhika
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 8, No 2 (2025): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengalisis nilai ekonomis pakan ayam petelur tinggi Polyunsaturated Fatty Acid (PUFA) melalui penambahan minyak lemuru dan tepung kayu manis. Penelitian ini menggunakan ayam petelur sebanyak 27 ekor Strain Lohman Brown Platinum umur 22 minggu dengan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) dengan kombinasi dosis minyak lemuru (0%, 1,5% 3%) dan tepung kayu manis (0%, 2% 4%). Ayam dipelihara secara individu dengan pakan perlakuan selama 39 hari. Variabel yang diamati meliputi biaya produksi perKg telur dan Income Over Feed Cost (IOFC). Data dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) dan dilanjutkan dengan uji Duncan apabila terdapat perbedaan. Hasil analisis statistik perlakuan kombinasi penambahan minyak lemuru dan tepung kayu manis pada formulasi ransum pakan ayam petelur berpengaruh secara tidak nyata (P<0,05) terhadap nilai ekonomis pakan yang ditinjau dari biaya produksi per kilogram telur dan IOFC, namun terdapat perbedaan hasil pada nilai secara rataan. Kombinasi antara minyak lemuru dan tepung kayu manis dapat menurunkan biaya produksi per kilogram telur dan dapat meningkatkan IOFC. Hal tersebut menunjukkan bahwa kombinasi yang sinergis dapat meningkatkan energi metabolis menjadi efisien dan keuntungan produksi telur tinggi PUFA menjadi lebih stabil. Dengan demikian, penambahan bahan pakan lokal dapat menekan biaya pakan dan mendukung keberlanjutan usaha peternakan rakyat.  Kata Kunci : Lactobacillus salivarius, ayam broiler, litter, bobot badan, Haugh Unit Telur, FCR, indeks performa.
ANALISIS EFISIENSI PETERNAKAN AYAM PETELUR DENGAN STRAIN BERBEDA (STUDI KASUS DI PT SUMBER KELAPA BEKY BLITAR) Abrar Arief Fayi’ Kusuma; Sri Susilowati; Dedi Suryanto
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi usaha, kelayakan ekonomi, serta menentukan strain ayam petelur (Lohmann Brown vs Hy-Line Brown) yang lebih menguntungkan pada sistem kandang closed house. Penelitian dilaksanakan pada Mei 2026 di PT Sumber Kelapa Beky, Blitar, Jawa Timur, dengan popilasi ± 48.500 ekor ayam petelur strain Lohmann Brown dan Hy-Line Brown pada uisa 18 dan 49 minggu, menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Analisis data meliputi performa produksi (Feed Conversion Ratio/FCR, Hen Day Production/HDP) dan kelayakan finansial (R/C Ratio, BEP, dan keuntungan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strain Lohmann memiliki efisiensi pakan lebih baik dengan HDP umur 49 minggu sebesar 94,3% dan nilai FCR lebih rendah. Sebaliknya, strain Hy-Line unggul dalam volume produksi telur (38.878,80 kg/bulan), penerimaan (Rp933.091.200/bulan), dan keuntungan (Rp226.424.200/bulan). Analisis finansial menunjukkan kedua strain layak secara ekonomi (R/C Ratio > 1), di mana nilai R/C Ratio Hy-Line (1,32) sedikit lebih tinggi dari Lohmann (1,29). BEP harga untuk Lohmann sebesar Rp1.142/butir dan Hy-Line Rp1.178/butir, dengan BEP produksi berturut-turut 459.471 dan 453.573 butir/bulan. Disimpulkan bahwa kedua strain layak diusahakan pada sistem closed house, namun strain Hy-Line lebih menguntungkan dan efisien secara ekonomi, terutama pada sistem penjualan berbasis berat (kg). Strain Hy-Line direkomendasikan sebagai pilihan utama dengan tetap mengoptimalkan manajemen pakan. Kata Kunci: Ayam Petelur, Closed House, Efisiensi Usaha, Hy-Line Brown, Lohmann Brown. EFFICIENCY ANALYSIS OF EGG-LAYING HEN FARMING WITH DIFFERENT STRAINS (A CASE STUDY AT PT SUMBER KELAPA BEKY BLITAR) Abstract This study aims to analyze business efficiency and economic feasibility, as well as to determine the more profitable layer hen strain (Lohmann Brown vs. Hy-Line Brown) under a closed-house housing system. The research was conducted in May 2026 at PT Sumber Kelapa Beky, Blitar, East Java, involving population of approximately 48,500 layer hens of the Lohmann Brown and Hy-Line Brown strains aged 18 to 49 weeks, using a case study method with a quantitative descriptive approach. Data analysis encompassed production performance (Feed Conversion Ratio/FCR, Hen Day Production/HDP) and financial feasibility (R/C Ratio, BEP, and profitability). The results indicated that the Lohmann strain achieved better feed efficiency, with a 49-week HDP of 94.3% and a lower FCR value. Conversely, the Hy-Line strain excelled in egg production volume (38,878.80 kg/month), revenue (IDR 933,091,200/month), and profit (IDR 226,424,200/month). Financial analysis revealed that both strains are economically viable (R/C Ratio > 1), with the Hy-Line strain obtaining a slightly higher R/C Ratio (1.32) than the Lohmann strain (1.29). Price BEP for Lohmann was IDR 1,142/egg and for Hy-Line was IDR 1,178/egg, with production BEP reaching 459,471 and 453,573 eggs/month, respectively. In conclusion, both strains are economically feasible for closed-house farming systems; however, the Hy-Line strain is more profitable and economically efficient, particularly in weight-based (kilogram) egg marketing systems. Consequently, the Hy-Line strain is recommended as the primary choice while maintaining optimized feed management. Keywords: Closed House, Business Efficiency, Hy-Line Brown, Layer Hen, Lohmann Brown.
PENGARUH UMUR TELUR TERHADAP TOTAL BAKTERI DAN VISKOSITAS MAYONNAISE Narendra Se’o Ananda; Inggit Kentjonowaty; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telur telur merupakan salah satu bahan pangan kaya protein yang banyak dimanfaatkan dalam pembuatan mayonnaise karena mengandung lesitin yang berperan sebagai elmusifier alami. Kualitas telur dapat menurun seiring bertambahnya umur simpan, sehingga berpotensi memengaruhi kualitas mayonnaise. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh umur telur terdap jumlah total bakteri dan viskositas mayonnaise. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimen dengn Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas tiga perlakuan umur telur, yaitu 1, 5, dan 10 hari, dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak sembilan kali. Parameter yang diamati meliputi pengujian total bakteri dengan metode Total Plate Count (TPC) dan viskositas menggunakan viskometer brookfield. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan telur tidak memberikan pengaruh yag signifikan (P>0,05) terhadap total bakteri maupun viskositas mayonnaise. Nilai total bakteri (CFU/g) bertutut-turut pada P1, P2, P3 adalah 5,63×105; 7,07×105; dan 8,73×105, sedangakan nilai viskositas (%) sebesar 21,44; 20,33; dan 13,66. Disimpulkan bahwa perbedaan umur telur tidak memengaruhi total bakteri dan viskositas mayonnaise. Telur umur 1 hari menghasilkan total bakteri yang lebih rendah 5,63×105 CFU/g meskipun nilainya masih melampaui SNI dan nilai viskositas tertinggi 21,44%. Kata Kunci : Umur Telur, Masa Simpan, Mayonnaise, Total Bakteri, Viskositas. THE EFFECT OF EGG AGE ON TOTAL BACTERIA ANDA MAYONNAISE VISCOSITY AbstractEggs are a food source of protein that is widely used in making mayonnaise because they contain lecithin which acts as a natural emulsifier. The quality of eggs can decrease as shelf life increases, potentially affecting the quality og mayonnaise. This research was conducted to investigate the effect of egg age on total bacterial count and viscosity. The research was carried out experimentally usinga Completely Randomized design (CRD) with three treatments (egg age), namely 1, 5, and 10 days, as well as nine replications. The observed parameters consisted of total bacterial count analyzed using the Total Plate Count (TPC) method and viscosity measured with a Brookfield viscometer. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA). The findings indicated that the egg treatments did not significantly affect (P>0.05) the total bacterial count or mayonnaise viscosity. The total bacterial values (CFU/g) respectively at P1, P2, P3 were 5.63×105; 7.07×105; and 8.73×105, while the viscosity (%) was 21.44; 20.33; and 13.66. it was concluded that differences in egg age did not affect total bacteria and mayonnaise viscosity. 1 day old eggs produced a lower total bacteria 5.63×105 CFU/g although the value still exceeded the SNI standard and the highest viscosity value was 21.44%.  Keywords: Egg Age,  Storage Time , Mayonnaise, Total Bacteria Viscosity.
PENGARUH PENAMBAHAN AIR LERI PADA PROSES FERMENTASI COMPLETE FEED OLEH EM4 TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN HARIAN, KONSUMSI, DAN KONVERSI PAKAN DOMBA EKOR TIPIS M. Ali Muzaki; Badat Muwakhid; Nisa&#039;us Sholikah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air leri, juga disebut air cucian beras, adalah limbah rumah tangga yang dapat digunakan sebagai tambahan untuk pakan ternak. Ini karena mengandung karbohidrat, protein, dan vitamin B kompleks yang baik untuk ternak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana penambahan air leri memengaruhi fermentasi pakan lengkap oleh EM4 terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH), konsumsi pakan, dan konversi pakan domba ekor tipis. Penelitian ini dilakukan selama 37 hari, terdiri dari 7 hari masa adaptasi dan 30 hari pemeliharaan dan pengambilan data. 12 ekor domba jantan ekor tipis berumur 5-8 bulan dengan bobot awal 16,3-20,3 kg adalah subjek penelitian. Penelitian ini menggunakan eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan pada masing-masing. Perlakuan P0 adalah fermentasi pakan lengkap dengan EM4 tanpa air leri, perlakuan P1 adalah penambahan air leri 2%, perlakuan P2 adalah penambahan air leri 4%, dan perlakuan P3 adalah penambahan air leri 6%. Data yang didapat dianalisis menggunakan (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan air leri tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap PBBH, konversi pakan, dan konsumsi pakan domba ekor tipis. Rata-rata PBBH adalah 136,67–185,56 g per ekor per hari, konsumsi pakan adalah 761,59–777,78 g per ekor per hari, dan konversi pakan adalah 4,27-6,37 g per ekor per hari. Perlakuan P2 (penambahan air leri 4%) menunjukkan kecenderungan hasil FCR terbaik secara numerik, dengan konversi pakan terendah 4,27. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan air leri pada proses fermentasi complete feed oleh EM4 tidak mempengaruhi perfoma domba ekor tipis, namun taraf penambahan 4% cenderung berpotensi menjadi taraf yang paling efisien untuk diterapkan. Kata Kunci : Air Leri, EM4, Complete Feed, Domba Ekor Tipis, Pertambahan Bobot Badan Harian, Konversi Pakan, Konsumsi Pakan. EFFECT OF RICE WASHING WATER ADDITION DURING EM4-FERMENTED COMPLETE FEED ON AVERAGE DAILY GAIN, FEED INTAKE, AND FEED CONVERSION RATIO OF THIN-TAILED SHEEP AbstractRice washing water is a household by-product with the potential to be utilized as a feed additive due to its carbohydrate, protein, and B-complex vitamin content, which may support animal performance. This study aimed to evaluate the effect of rice washing water addition during the fermentation of complete feed using EM4 on average daily gain (ADG), feed intake, and feed conversion ratio (FCR) of Thin-Tailed sheep. The experiment was conducted at Cahaya Satu Ternak Farm, Gedangan Village, Mojowarno District, Jombang Regency, for 37 days, consisting of a 7-day adaptation period followed by a 30-day feeding and data collection period. The experimental animals consisted of 12 male Thin-Tailed sheep aged 5–8 months with initial body weights ranging from 16.3 to 20.3 kg. A Completely Randomized Design (CRD) was applied, consisting of four treatments with three replications each: P0 (EM4-fermented complete feed without rice washing water), P1 (2% rice washing water), P2 (4% rice washing water), and P3 (6% rice washing water). The data were analyzed using analysis of variance (ANOVA). The results showed that the addition of rice washing water had no significant effect (P>0.05) on average daily gain, feed intake, or feed conversion ratio. The average daily gain ranged from 136.67 to 185.56 g/head/day, feed intake ranged from 761.59 to 777.78 g/head/day, and the feed conversion ratio ranged from 4.27 to 6.37. Although the differences were not statistically significant, treatment P2 (4% rice washing water) produced the lowest FCR value (4.27), indicating a tendency toward better feed utilization efficiency than the other treatments. It can be concluded that the addition of rice washing water during the EM4 fermentation of complete feed did not significantly affect the performance of Thin-Tailed sheep. However, the 4% inclusion level showed the greatest potential as the most efficient treatment. Keywords: Rice Washing Water, EM4, Complete Feed, Thin-Tailed Sheep, Average Daily Gain, Feed Conversion Ratio, Feed Intake.
PENGARUH PEMBERIAN MINUMAN ISOTONIK BERBASIS AIR KELAPA TERHADAP PERSENTASE BERAT ORGAN BROILER PASCA TRANSPORTASI Moch Arieffandi Agus Putra; Dyah Lestari Yulianti; Brahmadhita Pratama Mahardhika
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 8, No 2 (2025): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui efektivitas pemberian minuman isotonik yang terbuat dari air kelapa terhadap persentase berat organ broiler pasca transportasi. Materi penelitian menggunakan 75 ekor day-old chick (DOC) yang diberi perlakuan mulai umur 21 hari hingga panen dengan pakan komersial produksi PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Broiler ditransportasikan menggunakan mobil pick-up dengan kecepatan kendaraan 60 km/jam pada jarak tempuh 65 km selama 3 jam pada siang hari. Penelitian ini memakai metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang didalamnya terdapat lima perlakuan, yaitu air mineral sebagai kontrol (P1), air gula merah (P2), air garam (P3), air kelapa (P4), dan Coconichick (P5). Coconichick merupakan minuman isotonik broiler yang tersusun atas kombinasi air kelapa, air garam, dan air gula merah. Terdapat lima ekor ayam broiler dalam setiap unit percobaan karena masing-masing perlakuan terdiri dari tiga kali pengulangan. Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa persentase berat relatif ginjal, jantung, dan paru-paru ayam broiler selama transportasi tidak terpengaruh secara signifikan (P > 0,05) oleh pemberian berbagai jenis minuman isotonik. Namun demikian, perlakuan air kelapa (P4) secara deskriptif menunjukkan nilai bobot organ yang lebih stabil dibandingkan perlakuan lainnya, yang mengindikasikan adanya kecenderungan dalam membantu mempertahankan keseimbangan fisiologis ayam selama transportasi. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa pemberian minuman isotonik berbasis air kelapa belum memberikan pengaruh nyata secara statistik, namun berpotensi berperan dalam menjaga stabilitas fisiologis broiler selama proses transportasi jarak menengah. Penelitian lanjutan disarankan untuk dilakukan dengan kondisi transportasi yang lebih menantang, seperti jarak tempuh yang lebih panjang atau suhu lingkungan yang lebih ekstrem, guna mengoptimalkan evaluasi efektivitas minuman isotonik terhadap respons stres unggas. Kata Kunci : Ayam Broiler, Stres Transportasi, Air Kelapa, Coconichik, Isotonik, Bobot Organ Relatif.
PENGARUH PENGGUNAAN CSL (CORN STEEP LIQUOR) DAN ASAM AMINO ESENSIAL DALAM AIR MINUM TERHADAP PERSENTASE KARKAS DAN LEMAK ABDOMINAL BROILER FASE FINISHER Muhammad Abiyu As’ad; Muhammad Farid Wadjdi; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji sejauh mana pemberian Corn Steep Liquor (CSL) bersama asam amino esensial melalui air minum memengaruhi persentase karkas serta lemak abdominal broiler pada fase finisher. Kegiatan penelitian berlangsung di Luqman Farm, Probolinggo, dengan memanfaatkan 80 ekor broiler strain Lohman berumur 22 hari yang dipelihara sampai fase finisher. Larutan induk disiapkan dengan menggabungkan 1 liter CSL, 100 g metionin, serta 200 g lisin. Rancangan yang dipakai adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan empat ulangan, meliputi P0 sebagai kontrol, P1 (CSL + asam amino esensial 4%), P2 (CSL + asam amino esensial 5%), dan P3 (CSL + asam amino esensial 6%). Seluruh data diolah dengan analisis ragam (ANOVA) dan bila terdapat pengaruh diteruskan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Temuan penelitian memperlihatkan bahwa kombinasi CSL dan asam amino esensial berpengaruh nyata (P
PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI KONSENTRASI EKSTRAK DAUN PARE SECARA PENGUAPAN TERHADAP NILAI pH DAN PENURUNAN BOBOT TELUR AYAM RAS Muhammad Ghozali Ridwan Assabil; Inggit Kentjonowaty; Dedi Suryanto
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pengaruh berbagai tingkat konsentrasi ekstrak daun pare (Momordica charantia) yang diaplikasikan selama penguapan terhadap parameter kualitas telur, meliputi pH albumen, pH kuning telur, dan penurunan berat telur ayam ras selama 21 hari penyimpanan. Dengan menggunakan 24 butir telur ayam ras Isa Brown yang berumur satu hari, studi ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Universitas Islam Malang dari tanggal 19 September hingga 10 Oktober 2025. Desain Eksperimen ini didasarkan pada uji coba Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat tingkat perlakuan dan enam kali pengulangan. Tingkat P0 adalah konsentrasi tanpa ekstrak, Tingkat P1 adalah konsentrasi 5%, Tingkat P2 adalah konsentrasi 10%, dan Tingkat P3 adalah konsentrasi 15%. Data analisis menggunakan uji Analisis Varian ANOVA, yang kemudian dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) apabila terdeteksi perbedaan yang signifikan. Hasil studi menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak daun pare dengan metode penguapan tidak memiliki dampak statistic yang signifikan (P>0,05) pada parameter kualitas telur, yaitu pH putih telur (kisaran 9,42–9,65), pH kuning telur (kisaran 6,70–6,89), dan berat telur (kisaran 53,50–54,67 gram), yang masih berada dalam kisaran normal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan ekstrak daun pare hingga konsentrasi 15% melalui metode penguapan belum efektif mempertahankan kualitas pH dan berat telur selama penyimpanan 21 hari, sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan metode aplikasi atau konsentrasi yang berbeda.Kata kunci: ekstrak daun pare, penguapan, pH telur, bobot telur, kualitas telur. THE EFFECT OF  VARYING  CONCENTRATIONS OF BITTER MELON LEAF EXTRACT BY EVAPORATION ON THE pH VALUE AND WEIGHT REDUCTION OF CHICKEN EGGS AbstractThis study aims to examine the effect of various concentration levels of bitter melon leaf extract (Momordica charantia) applied during evaporation on egg quality parameters, including albumen pH, yolk pH, and egg weight loss of broiler chickens during 21 days of storage. Using 24 one-day-old Isa Brown broiler chicken eggs, this study was conducted at the Integrated Laboratory of the Islamic University of Malang from September 19 to October 10, 2025. This experimental design was based on a completely randomized design (CRD) trial with four treatment levels and six replications. Level P0 is the concentration without extract, Level P1 is the concentration of 5%, Level P2 is the concentration of 10%, and Level P3 is the concentration of 15%. Data analysis used the Analysis of Variance ANOVA test, which was then followed by the LSD (Least Significant Difference) test if a significant difference was detected. The results of the study showed that the application of bitter melon leaf extract using the evaporation method did not have a statistically significant impact (P>0.05) on egg quality parameters, namely egg white pH (range 9.42–9.65), egg yolk pH (range 6.70–6.89), and egg weight (range 53.50–54.67 grams), which were still within the normal range. Further research using different application methods or concentrations is recommended to achieve more optimal results.Keywords: bitter melon leaf extract, evaporation, egg pH, weight egg , egg quality
PENGARUH TINGKAT PENGGANTIAN TEBON JAGUNG DENGAN RUMPUT PAKCHONG TERFERMENTASI ASPERGILLUS NIGER TERHADAP KADAR LEMAK DAN BERAT JENIS SUSU Ahmad Zamzami Alifi; Inggit Kentjonowaty; M Farid Wajdi
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tebon jagung serta rumput Pakchong memiliki potensi tinggi sebagai sumber hijauan dalam ransum sapi perah pada masa laktasi, namun aplikasinya kerap terhambat oleh tingginya kadar lignoselulosa yang sukar untuk dicerna. Proses fermentasi yang memanfaatkan Aspergillus niger diyakini mampu menaikkan daya cerna kedua bahan pakan tersebut berkat bantuan aktivitas enzim protease, hemiselulase, dan selulase. Riset ini dilaksanakan dengan tujuan mengevaluasi dampak substitusi tebon jagung menggunakan rumput Pakchong hasil fermentasi Aspergillus niger terhadap persentase lemak serta berat jenis susu sapi perah laktasi. Pelaksanaan penelitian berlangsung mulai 20 Mei hingga 20 Juni 2026, bertempat di Koperasi Unit Desa (KUD) Gondanglegi dan PT Nestle Indonesia Unit Kejayan, Kabupaten Malang. Objek penelitian ini mengikutsertakan 12 ekor sapi perah laktasi pada periode ke-2, ke-3, dan ke-4. Rancangan Acak Kelompok (RAK) diterapkan sebagai metode eksperimen, yang terbagi ke dalam 4 perlakuan beserta 3 ulangan. Susunan perlakuannya meliputi P0 (100% tebon jagung non-fermentasi), P1 (75% tebon jagung + 25% rumput Pakchong fermentasi), P2 (50% tebon jagung + 50% rumput Pakchong fermentasi), dan P3 (25% tebon jagung + 75% rumput Pakchong fermentasi). Pengolahan data menerapkan analisis ragam (ANOVA), yang akan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) apabila ditemukan pengaruh yang signifikan. Temuan riset mengindikasikan bahwa substitusi tebon jagung dengan rumput Pakchong terfermentasi Aspergillus niger tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap parameter kadar lemak maupun berat jenis susu. Persentase lemak rata-rata pada kelompok P0, P1, P2, dan P3 secara berurutan adalah 4,04%; 3,80%; 4,41%; dan 4,02%. Di sisi lain, nilai rata-rata berat jenis susu tercatat sebesar 1,02752; 1,02889; 1,02637; dan 1,02814 g/ml. Sebagai penutup, penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan rumput Pakchong terfermentasi Aspergillus niger sebagai pengganti tebon jagung hingga rasio 75% terbukti aman dan efektif dalam menjaga kualitas fisik susu (kadar lemak 3,18-5,38% dan berat jenis 1,024-1,030 g/ml), yang mana nilai tersebut tetap mematuhi standar mutu nasional untuk susu segar. Kata Kunci : Tebon jagung, Rumput Pakchong, Aspergillus niger, Kadar Lemak Susu, Berat Jenis Susu. THE EFFECT OF CORN STOVER REPLACEMENT LEVEL WITH ASPERGILLUS NIGER-FERMENTED PAKCHONG GRASS ON MILK FAT CONTENT AND SPECIFIC GRAVITYAbstractCorn stover and Pakchong grass hold significant potential as forage sources in the diets of lactating dairy cows; however, their optimal application is frequently limited by high lignocellulose levels which complicate digestion. The implementation of fermentation using Aspergillus niger is anticipated to enhance the digestibility of both forages, driven by the action of cellulase, hemicellulase, and protease enzymes. This research was conducted to evaluate how substituting corn stover with Aspergillus niger-fermented Pakchong grass affects the fat percentage and specific gravity of milk produced by lactating dairy cows. The experiment took place between May 20 and June 20, 2026, at the Gondanglegi Village Unit Cooperative (KUD) and the PT Nestle Indonesia - Kejayan Unit in Malang Regency. Twelve lactating dairy cows in their 2nd, 3rd, and 4th lactation periods were utilized as the research subjects. An experimental approach utilizing a Randomized Block Design (RBD) was implemented, featuring 4 distinct treatments and 3 replications. The applied treatments included P0 (100% unfermented corn stover), P1 (75% corn stover + 25% fermented Pakchong grass), P2 (50% corn stover + 50% fermented Pakchong grass), and P3 (25% corn stover + 75% fermented Pakchong grass). The collected data underwent analysis of variance (ANOVA), followed by a Least Significant Difference (LSD) test for any parameters showing significant differences. The findings revealed that replacing corn stover with Aspergillus niger-fermented Pakchong grass did not significantly impact (P>0.05) either the milk fat content or its specific gravity. The mean fat contents recorded for treatments P0, P1, P2, and P3 were 4.04%, 3.80%, 4.41%, and 4.02%, respectively. Concurrently, the average specific gravity of the milk stood at 1.02752, 1.02889, 1.02637, and 1.02814 g/ml. To conclude, incorporating Aspergillus niger-fermented Pakchong grass to replace up to 75% of corn stover is a viable practice that successfully sustains the physical characteristics of the milk (fat content of 3.18-5.38% and specific gravity of 1.024-1.030 g/ml), aligning seamlessly with national quality regulations for fresh milk. Keywords: Corn stover, Pakchong grass, Aspergillus niger, Milk fat content, Milk specific gravity.
PENGARUH BENTUK PAKAN COMPLETE TERFERMENTASI LACTOBACILLUS SALIVARIUS TERHADAP BOBOT RELATIF ORGAN INTERNAL KELINCI HYLA Fahmi Axel Revanda; Badat Muwakhid; Brahmadhita Pratama Mahardhika
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 8, No 2 (2025): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan bentuk pakan complete terfrementasi Lactobacillus salivarius terhadap bobot relatif organ internal kelinci Hyla. Penelitian dilaksanakan selama delapan minggu menggunakan 12 ekor kelinci jantan Hyla umur 10 minggu yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas pakan kontrol mash tanpa probiotik (P0), pakan mash dengan L. salivarius terenkapsulasi (P1), pakan pellet dengan L. salivarius terenkapsulasi (P2), dan pakan wafer dengan L. salivarius terenkapsulasi (P3). Variabel yang diamati meliputi bobot relatif lambung, hati, dan limpa. Data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan apabila terdapat perbedaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pakan tidak memberikan pengaruh signifikan (P>0,05) terhadap bobot lambung dan limpa kelinci Hyla. Namun demikian, berbagai bentuk pakan yang diberikan L. salivarius terenkapsulasi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap penurunan bobot hati dibandingkan kontrol, dengan nilai terendah diperoleh pada perlakuan pakan berbentuk wafer (P3). Penurunan bobot hati tersebut mengindikasikan berkurangnya beban metabolik dan meningkatnya efisiensi fungsi fisiologis hati. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan pakan complete terfermentasi Lactobacillus salivarius, khususnya dalam bentuk wafer, aman bagi organ internal dan berpotensi mendukung kesehatan metabolik kelinci Hyla.  Kata Kunci : Kelinci Hyla, Lactobacillus salivarius, Bentuk Pakan, Organ internal, Fermentasi