cover
Contact Name
Arif Abadi
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
+6287723481132
Journal Mail Official
redaksi.panggung@gmail.com
Editorial Address
Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Panggung is a peer-reviewed journal focuses art studies and their cultural contexts with various perspectives such as anthropology, sociology, education, religion, philosophy, technology, and others. Panggung invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies in the areas related to arts and culture with interdisciplinary approaches.
Articles 474 Documents
Patriotisme Perempuan Sunda dalam Tari Ratu Graeni Riyana Rosilawati; Eti Mulyati
PANGGUNG Vol 28 No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v28i4.712

Abstract

AbstractThis study aims to reveal the meaning of Ratu Graenidanceas a symbolic dance,i.e a Sundanese woman withher patriotic spirit. The dance deals with a woman who has a courageous spirit to overcome all problems, both internally and externally. The method employed is descriptive analysis through in-depth interviews and participant observation. The results are that from its performance form, Ratu Graenidancetells the story about the Queen who was preparing to practice a war with cingeus movement, which was disclosed through her head and body movements as a picture of the female characters who is agile and enthusiastic in facing various challenges of life. Her agility is also revealed in herfoot movements, such asmincid, trisik, and so forth. This is associated with the philosophical elements of the dance, which is useful for life. The meaning contained in this dance is that women can also play a role in a life, equally with men, with a sense of toughness, patriotic/struggle, and the perseverance behind the tenderness of a woman. Keywords: Patriotism, Sundanese woman, Ratu Graenidance AbstrakPenelitian ini bertujuan ingin mengungkapkan makna tari Ratu Graenisebagai tarian simbolik mengenai jiwa patriotisme seorang perempuan Sunda.Yakni, seorang perempuan yang mempunyai jiwa pemberani dalam mengatasi segala macam persoalan, baik secara internal maupun eksternal.Metode yang digunakanadalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, yaitu melalui wawancara mendalam dan observasi berperanserta. Hasil yang diperoleh adalahdari segi bentuk pertunjukan, tari Ratu Graenimenggambarkan Sang Ratu yang sedang berlatih perangdengan menggunakan gerakan cingeus(gesit) yang ditarikandengan gerak kepala dan badan sebagai gambaran karakter perempuan yang gesit, penuh antusias dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Kegesitan terungkap pula dalam gerakannusuk, nangkis,kiprat soder,serta gerak kaki, sepertimincid, trisik, dan tincak tilu. Hal ini terkait dengan unsur filosofis dari tarian tersebut yang sangat bemanfaat bagi kehidupan. Makna yang terkandung dalam tarian ini bahwa wanita dapat berperan juga dalam kehidupan sejajar dengan kaum pria, yang sama-sama memiliki ketangguhan, berjiwa patriotik/perjuangan, dan kegigihan dibalik kelembutan seorang wanita. Kata kunci:Patriotisme, perempuan Sunda, tari Ratu Graeni
Inovasi Talempong Gandang Lasuang dalam Upaya Pelestarian Seni Tradisi Susandrajaya Susandrajaya; Yurnalis Yurnalis; Indriyetti Indriyetti
PANGGUNG Vol 28 No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v28i4.713

Abstract

ABSTRACT Talempong Gandang Lasuang is a traditional musical ensemble originated from Pariaman. This music is usually played by women during the cooking activity at the wedding party. This traditional art is almost extinct, therefore it is necessary to conduct research to make it survival and functional in its milieu. The effort to make this revivalis innovation and development of the art, by producing a new art form, both musical and aesthetical aspects without eliminating the traditional values. This research uses qualitative method with anthropological approach, sociology, aesthetics, and musicology. Data collection are obtained through observation, interviews, and documentation. The final result of this research is a new composition of ensemble ofTalempong Gandang Lasuang, which has functions and economic values, especially for the artists.Keywords: Tradition, innovation, concept ofperforming arts, Talempong Gandang Lasuang. ABSTRAK             Talempong Gandang Lasuang merupakan ensambel musik tradisi yang hidup di Pariaman. Musik ini biasanya dimainkan pada saat kegiatan memasak oleh ibu-ibu paruh baya pada upacara pesta perkawinan. Seni tradisi ini hampir mengalami kepunahan, oleh karenanya perlu dilakukan penelitian agar seni tradisi ini bisa kembali hidup dan berfungsi di tengah masyarakat. Usaha yang dapat dilakukan agar seni tradisi ini bisa eksis kembali di tengah masyarakat adalah perlu adanya sentuhan inovasi dan pengembangan, sehingga meghasilkan bentuk garapan baru, baik dari garapan musik maupun pada estetika pertunjukannya.Namun, hal itu tidak menghilangkan nilai ketradisiannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan antropologi, sosiologi, estetika dan musikologi. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil akhir penelitian ini berupa garapan atau komposisi baru dari ensambel Talempong Gandang Lasuang, yang memiliki fungsi dan nilai ekonomi terutama bagi seniman pendukungnya.Kata Kunci: Tradisi, inovasi, konsep seni pertunjukan Talempong Gandang Lasuang.
Ketoprak,Seni Pertunjukan Tradisional Jawa di Sumatera Utara: Pengembangan dan Keberlanjutannya Torang Naiborhu; Nina Karina
PANGGUNG Vol 28 No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v28i4.714

Abstract

ABSTRACT Ketoprak (Ketoprak Dor) is a Javanese art performance found in North Sumatera which was originated from Surakarta, Central Java. The Performance combines dialogue, drama, dance, and music. It is performed on stage, taking stories about history, old kingdom, fairy tale, daily life, and others with an interspersed joke. Data collection is collected through observation and interviews with the ketoprak artists, owners of the studio, and the spectators, and documentation. The data is analyzed by qualitative analysis technique using performing art theory, ethnomusicology, and history. The results are, first, ketoprak in North Sumatera began to be slowly abandoned despite the adoption of local culture in music, story, clothing, as well as vocabularies used. Second, for its development, it requires strategies for the survival of the performing art among its audiences, particularly Javanese community.Keywords: KetoprakDor, ketoprak in North Sumatra, developing ketoprak, art performance  ABSTRAK Ketoprak (Ketoprak Dor)adalah seni pertunjukan Jawa di Sumatera Utara yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Pementasannya menggunakan dialog, drama, tarian, dan musik. Ketoprak dipertunjukkan di atas panggung dengan mengambil cerita sejarah, kerajaan, dongeng, kehidupan sehari-hari, dan lainnya dengan diselingi lawak.Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan danwawancara kepada seniman ketoprak, pemilik sanggar, dan masyarakat pengguna, dokumentasi,dan hasilnya dianalisis dengan teknik analisis kualitatif menggunakan teori seni pertunjukan, etnomusikologi, dan metode sejarah. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ketoprak di Sumatera Utara secara perlahan mulai ditinggalkan walaupun telah mengadopsi budaya setempat dalam hal musik, cerita, busana, atau tata bahasa yang dipakai. Untuk pengembangannya diperlukan upaya-upaya strategis agar seni pertunjukan ini dapat bertahan dan tetap diminati oleh masyarakat, khususnya komunitas Jawa.Katakunci: KetoprakDor, ketoprak di Sumatra Utara, pengembanganketoprak, seni pertunjukan     
Makna Simbolik Tari Ilau Nagari Sumani, Kabupaten Solok Sumatera Barat Yesriva Nursyam; Supriando Supriando
PANGGUNG Vol 28 No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v28i4.715

Abstract

AbstractIlau dance is one type of dance in Minangkabau which is performed in traditional customs in Nagari Sumani. The tradition of the Nagari Sumani community in the wedding ceremony has its own uniqueness that is interesting to study. As a cultural product, ilau dance has meanings and symbols, which is manifested in a visual form that gives a certain meaningful content but is communicative for its people. This study aims to find the symbolic meanings of Ilau dance. This study uses a descriptive method with data collection through observation and interviews to get an overview of the subjects and research objects of the ilau dance. The results of the study show that the symbolic meaning of the Ilau dance can be interpreted from the people’s point of view and their understanding of cultural life, both textually and contextually.Keywords: Ilau dance, marriage custom, symbol, Nagari Sumani.AbstrakTari Ilau merupakan salah satu jenis tarian di Minangkabau yang dipertunjukkan dalam adat perkawinan di Nagari Sumani. Tradisi masyarakat Nagari Sumani dalam upacara perkawinan memiliki keunikan tersendiri yang menarik untuk dikaji. Sebagai sebuah produk budaya, tari ilau memiliki makna dan simbol, yang diwujudkan dalam bentuk visual yang memberi muatan makna tertentu, tetapi bersifat komunikatif bagi masyarakatnya.  Penelitian ini bertujuan untuk menjawab makna simbolik yang terdapat pada tari Ilau. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan perolehan data melalui observasi dan wawancara untuk mendapatkan gambaran terhadap subyek dan obyek penelitian tari ilau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna simbolis tari Ilau dapat diinterpretasi dari sudut pandang dan pemahaman berkaitan dengan kehidupan masyarakat pemilik kebudayaan, baik secara tekstual maupun kontekstual. Kata kunci: Tari ilau, adat perkawinan, simbol, Nagari Sumani.
Bentuk Pengembangan Baru Tari Manyakok sebagai Upaya Pelestarian Tradisi Idun Ariastuti; Risnawati Risnawati
PANGGUNG Vol 28 No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v28i4.716

Abstract

AbstractManyakok dance is a traditional dance of the Pangean community, Kuantan Singingi Regency, RiauProvince, which describes the daily routine of people's lives in fishing. This activity is called manyakok by the community. Initially, this dance had an important role in its supporting community, as entertainment in traditional events and others. However, nowadays, the dance has almost disappeared. This study uses two methods, namely, qualitative and Research & Development (R & D). A Qualitative methodis carried out through observation, interviews, and documentation studies. While interpretive analysis is used in the research to dig the concept of dance itself. Research & Deployment is employed through some stages: (1) product design; (2) design validation; (3) design improvements; (4) product trials; (5) product revisions; and (6) production. Through the emic approach, the results of this study indicate that Manyakok dance has a potential to be developed in the packaging of dance entertainment. Meanwhile, from an aesthetic point of view, the structure of the Manyakok dance is still very simple, does not have a well-ordered pattern. Therefore, creativity is required to maintain its continuity.Keywords: creativity, manyakok dance, developing art, the preservation of traditionAbstrakTari manyakok merupakan tari tradisional masyarakat Pangean, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, yang menggambarkan rutinitas kehidupan masyarakat sehari-hari dalam menangkap ikan. Kegiatan ini oleh masyarakat setempat disebut dengan manyakok.Awalnya, tari ini memiliki peran yang penting bagi masyarakat pendukungnya, yakni sebagai hiburan dalam acara adat dan acara lainnya.Akan tetapi, sekarang tari tersebut sudah hampir hilang keberadaannya.Penelitianinimenggunakanduametode,yaitu kualitatif dan Research & Depelopment (R&D).Metode kualitatif dilakukan melalu iobservasi, wawancara, dan studi dokumentasi.Sedangkan analisis interpretatif digunakan dalam penelitian untuk menggali konseptari itu sendiri.Research &Depelopment dilakukan melalui tahapan: (1)desain produk; (2)validasi desain; (3)perbaikan desain; (4) uji coba produk; (5) revisi produk; dan (6) produksi. Melalui pendekatan emik, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tari manyakok memiliki potensi untuk dikembangkan dalam kemasan tari hiburan. Sedangkan apabila ditinjau dari sudut estetika, struktur tari manyakok masih sangat sederhana, belum memiliki pola yang tertata dengan baik. Oleh karena itu, dituntut kreativitas untuk mempertahankan kontinuitasnya.Kata kunci:kreativitas, tarima nyakok, pengembangan seni, pelestarian tradisi 
Fungsi dan Makna Desain Karakter Wayang Potehi Lakon Shi Jhin Kwie Teguh Hartono Patriantoro
PANGGUNG Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.728

Abstract

The object of this research is to analyze the functions and meanings of the characters of Wayang Potehi or Potehi puppet by taking the play of Shi Jin Kwie. The play is a popular fiction story which was later adapted into the story of Prabu Lisanpuro in Javanese theater (ketoprak). The results of the research found the organology structure of Wayang Potehi. It consists of 2, namely (1) parts of the body; head, hand, feet, and (2) clothing; along with ornaments and additional accessories such as swords and hats. The head section can be identified as the interpretation of the puppet character. For instance, an antagonist character depicted as if he was using a Balinese leak mask with his mouth open and angry. The clothes could be the interpretation of social status. For example, the villagers wear plain clothes without ornaments, while the nobles use yellow, red clothing with a dragon/ phoenix pattern. There are 4 types of character design in this show, specifically (1) the firm/ wise character, (2) the entertaining character, (3) the functionaries/ officials/ priyayi character, (4) the antagonist character. Especially for entertaining characters, it has a dual function; to return the underlying causes of the story and become the spy of the enemy. The methods used in this research are personality theory and functional theory approaches. Keywords: potehi character design, Shi Jin Kwie, Function of potehi
Mural sebagai Tanda dan Identitas Kontemporer Kota Bramantijo Bramantijo
PANGGUNG Vol 21 No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v21i1.737

Abstract

Tradisi Upacara Adat Buang Jong dalam Konteks Budaya Masa Kini Aep Saepuloh
PANGGUNG Vol 29 No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i1.810

Abstract

ABSTRACTThis paper aims to find out the history, processes, functions and forms of Buang Jong traditional ceremonies in the contemporary context. This research was conducted using qualitative methods. Buang Jong is a traditional ceremony conducted by the Sawang tribe community on Belitung Island. Buang Jong's ceremony is done to deliver offerings to the sea gods, so that they are given sea products and beg for them to avoid all kinds of calamities and destitution. This ceremony is a reflection of the desire of the Sawang Tribe to live in harmony with nature. They believe that they will expose the sea to those who will confront them in their social-cultural life will be disturbed. But after they lived on the mainland, there was a negative change in the traditional ceremony of Buang Jong, that is, there was a show that was not in harmony with the traditional provisions which caused a reduction in the sacred value of the traditional ceremony. Government protocol rules are a priority over traditional ceremonies as the main event. This goes beyond the shifting time and the ceremony is no longer in accordance with customary provisions, thereby reducing the meaning and sacredness of the traditional ceremony.Keywords: Traditional ceremony, Buang Jong ritual, cultural changes.ABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui sejarah, proses, fungsi dan bentuk tradisi upacara adat Buang Jong dalam konteks budaya masa kini. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Buang Jong merupakan upacara adat yang secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat suku Sawang di Pulau Belitung. Upacara Buang Jong dilakukan untuk menyampaikan persembahan kepada dewa laut, agar mereka diberikan hasil laut dan memohon agar mereka terhindar dari segala macam malapetaka dan kemelaratan. Upacara ini merupakan refleksi dari keinginan Suku Sawang untuk hidup harmonis dengan alam. Mereka percaya bahwa jika mereka memperlakukan laut dengan tidak baik maka laut akan marah kepada mereka sehingga kehidupan sosial-budaya mereka akan terganggu. Namun setelah mereka tinggal di daratan, terjadi perubahan negatif dalam unsur upacara adat Buang Jong yaitu adanya penambahan acara yang tidak selaras dengan ketentuan adat yang menyebabkan berkurangnya nilai kesakralan dari upacara adat tersebut. Aturan protokol pemerintah menjadi prioritas di atas upacara adat sebagai acara utama. Hal ini mengakibatkan bergesernya waktu dan susunan upacara tidak lagi sesuai dengan ketentuan adat, sehingga mengurangi makna dan kesakralan dari upacara adat tersebut.Kata Kunci: Upacara adat, ritual Buang Jong, pergeseran budaya.
Pemaknaan dan Nilai dalam Upacara Adat Maras Taun di Kabupaten Belitung Asep Dadan Wildan; Moh. Dulkiah; Irwandi Irwandi
PANGGUNG Vol 29 No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i1.811

Abstract

ABSTRACT This paper aims to find out the meaning and values of the tradition of the Maras Taun ceremony in Belitung Regency. This research is conducted using a qualitative method with sociology and cultural anthropology approaches. Maras Taun is one of the traditional ceremonies that has been carried out for generations in Belitung Regency. It is not just a routine activity in Belitung Island, but at least there are three dimensions contained in the ceremony including tradition, symbolism, and values. Maras Taun is a thanksgiving ceremony for rice harvest which is carried out once a year after the harvest because most of the people earn a living in the fields. The next development of the Maras Taun ceremony is transformed into village salvation as people were not farmed in the fields anymore because of social changes. But, this did not reduce the sacredness of the traditional ceremony of Maras Taun itself. The results of this study found that in each stage of the ceremony contained the symbols and values of cultural practices of the community.Keywords: Tradition of Maras Taun, meaning and values, Belitung RegencyABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui makna dan nilai tradisi upacara adat Maras Taun di Kabupaten Belitung. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosiologi dan antropologi budaya. Maras Taun merupakan salah satu upacara adat yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat di Kabupaten Belitung. Maras Taun tidak hanya sekadar sebuah perayaan rutin yang setiap tahun oleh setiap desa di Pulau Belitung, namun dalam perayaan tersebut setidaknya terdapat tiga dimensi, yakni tradisi, simbolisme, dan nilai. Maras Taun merupakan upacara syukuran panen padi yang dilaksanakan setahun sekali pasca panen padi, karena sebagian besar masyarakat bermata pencaharian petani ladang. Pada perkembangan selanjutnya. upacara ini bertransformasi menjadi selamatan kampung karena masyarakat sudah jarang yang bertani di ladang disebabkan adanya perubahan sosial. Namun hal tersebut tidak mengurangi kesakralan dari upacara adat tersebut. Hasil kajian ini menemukan bahwasanya setiap tahapan dalam upacara perayaan Maras Taun kaya akan simbol-simbol dan nilai yang terkandung di dalamnya.Kata Kunci: Tradisi Maras Taun, makna dan nilai, Kabupaten Belitung  
Perubahan Ronggeng Amen di Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran Etty Suhaeti
PANGGUNG Vol 29 No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i1.812

Abstract

ABSTRACT This paper discusses the changes of Ronggeng Amen in Padaherang district, Pangandaran regency. Some people argue that Ronggeng Amen is the development of Ronggeng Gunung, that is the earlier popular ronggeng in the area. The aim of the research is to find out the development of Ronggeng Amen as a folk art which were influenced by some factors, both internally and externally. The method of research is qualitative with a descriptive approach in its analysis. Data collection techniques employed are observations and interviews, with particularly practising a participant-observer method. Here, the researcher has involved directly in the performance of Ronggeng Amen. The result of the research shows that Ronggeng Amen is a collective activity of folk art which has been changed in several aspects because of the changing era, without leaving its traditional values. Keywords: Tradition folka art, Ronggeng Amen, development of the artABSTRAK Tulisan ini membahas tentang perubahan Ronggeng Amen di Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran, yang merupakan perkembangan dari Ronggeng Gunung, jenis ronggeng yang lebih dulu popular di wilayah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Ronggeng Amen sebagai bentuk kesenian rakyat yang sudah mengalami perkembangan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui observasi lapangan dan wawancara, khususnya dengan observasi partisipasi, ketika peneliti ikut terlibat secara langsung dalam kegiatan pertunjukan Ronggeng Amen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan Ronggeng Amen merupakan sebuah aktivitas kolektif kesenian rakyat yang sudah mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman, namun tidak meninggalkan nilai-nilai tradisi.Kata Kunci: Kesenian rakyat, Ronggeng Amen, perkembangan seni

Filter by Year

2004 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32 No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32 No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31 No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30 No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29 No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28 No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28 No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28 No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28 No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27 No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Con Vol 27 No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27 No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27 No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26 No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Esteti Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26 No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26 No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25 No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25 No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25 No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25 No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24 No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24 No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24 No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24 No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23 No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23 No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23 No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23 No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajara Vol 22 No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22 No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22 No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22 No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21 No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21 No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21 No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18 No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15 No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1 No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional J More Issue