cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Research Report - Social Science
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Research Report - Humanities and Social Science merupakan kumpulan laporan penelitian yang dilakukan oleh para dosen Universitas Katolik Parahyangan, Bandung dalam bidang sosial. Penelitian tersebut didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Katolik Parahyangan. Bidang sosial mencakup berbagai disiplin ilmu, diantaranya Managemen, Akuntansi, Ekonomi dan Studi Pembangunan, Hukum, Administrasi Bisnis, Administrasi Publik, Hubungan Internasional dan Filsafat. Research Abstract diterbitkan dua (2) kali setiap tahunnya.
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
Eksplorasi paradigma negativitas sebagai akar kekerasan kultural Stephanus Djunatan; FX. Rudi Setiawan
Research Report - Humanities and Social Science Vol. 2 (2013)
Publisher : Research Report - Humanities and Social Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.511 KB)

Abstract

Kekerasan tidak hanya digeluti dengan pendekatan sosiologis, politis, ekonomis atau anthropologis. Melengkapi pendekatan tersebut, kekerasan sebagai fenomena manusia didekati pula dari perspektif filosofis. Sebagai fenomena manusia, kekerasan tidak hanya berkaitan dengan sistem ekonomi, politik, budaya dan sosial; juga tidak hanya berkaitan dengan struktur sosial. Kekerasan terjadi juga pada wilayah kultural. Kekerasan kultural menuntun kita masuk pada wilayah internal manusia, yakni pada ranah kesadaran dan ketaksadaran. Karena itulah, kajian terhadap kekerasan kultural membutuhkan pula pendekatan filosofis: salah satunya pendekatan hermeneutika. Kajian hermeneutik akan menelusuri pola-pola berpikir yang mempengaruhi pemikiran dan kesadaran individual dan kolektif sedemikian rupa sehingga opsi yang dinyatakan ialah agenda dan praksis kekerasan. Pola berpikir yang dimaksud berkaitan dengan paradigma negatif. Paradigma negatif ini berkaitan dengan pola pikir yang terjajah (colonized mind). Pola pikir tersebut dapat dicermati melalui ungkapan verbal yang bersifat diametrikal seperti pribumi dan non-pribumi, asli dan pendatang. Preferensi pada paradgima negatif ini cenderung mendorong pilihan untuk melakukan kekerasan kultural, yang tampil baik dalam sistem dan struktur sosial. Dalam penelitian filosofis ini, kami memilih kasus kekerasan terhadap orang Tionghoa Indonesia sebagai konteks medan penelaahan epistemologis terhadap kekerasan kultural. Telaah epistemologi dalam rekaman sejarah kasus kekerasan terhadap orang Indonesia ini mencoba menyoroti preferensi pada negativitas sebagai salah satu akar fenomena kekerasan. Penelitian ini juga berupaya menawarkan paradigma afirmatif, sebagai wacana bagi preferensi opsi kepada pembentukan paradigma dan praksis yang mengutamakan pendekatan tanpa-kekerasan.Kata kunci: kekerasan kultural, Tionghoa Indonesia, hermeneutika kecurigaan, Paradigma negatif, pola pikir yang terjajah, paradigma afirmatif.
PEMBENTUKAN DAN IMPLEMENTASI AFCTA DIPANDANG DENGAN PERSPEKTIF KRITIKAL TEORI P. Y Nur Indro
Research Report - Humanities and Social Science Vol. 1 (2012)
Publisher : Research Report - Humanities and Social Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.422 KB)

Abstract

ASEAN – China Free Trade Area dibentuk berdasarkan berbagai kepentingan nasional negara-negara angota ASEAN serta China.  Negara-negara ASEAN terutama karena usaha untuk mengatasi dan keinginan untuk tidak terjerembab lagi ke dalam krisis moneter 1997-1998. Dalam hal ini China dilihat ASEAN sebagai negara yang mulai membuka diri dan memiliki berbagai produk yang dibutuhkan negara-negara anggotanya dengan harga cukup murah. Di lain pihak China melihat bahwa negara-negara ASEAN memiliki bahan baku bagi kebutuhan industrinya. Selain itu negara-negara ASEAN dipandang China sebagai pasar yang mampu menerima produk-produknya. Sebagai sebuah kerja sama, ASEAN Free Trade Area masuk dalam bahasan ilmu Hubungan Internasional, sehingga dapat dipahami berdasarkan perspektif-perspektif yang ada dalam ilmu tersebut. Dalam penelitian ini, pembentukan dan implementasi ASEAN Free Trade Area dipahami/dipandang dengan menggunakan perspektif Critical Theory. Dalam hal ini, terutama pemikiran Critical Theory yang sesuai dengan Jurgen Habermas, Robert Cox, Andrew Linklater dan Ken Booth. Pembentukan dan implementasi ASEAN-Free Trade Area, dalam pandangan Critical Theory, terutama merupakan rasio Instrumental. Padahal negara dibangun pada intinya untuk memenuhi kepentingan rakyatnya. Tetapi regulasi yang muncul dalam kerjasama tersebut, hanya ditentukan oleh ngara tanpa keikutsertaan rakyatnya.  Selain itu bangunan kerjasama ASEAN dengan China ini bersifat semu karena terdapat permasalahan Laut China Selatan dan Kepulauan Spratley. Dengan demikian kesepakatan yang muncul tidak didasarkan pada dialog emansipatoris seperti pandangan Critical Theory. Dengan membangun ACFTA negara-negara ASEAN mampu membuka diri terhadap  kerangka pasar bebas. Namun keterbukaan diri yang tanpa persiapan untuk menerima aktor-aktor yang lain memberi ancaman bagi negara-negara ASEAN. MNC mulai masuk ke negara-negara ASEAN karena keterbukaan tersebut dan mulai membuat internasionalisasi produk.
Pendampingan Studi, Seni dan Pendidikan Jasmani Siswa Sekolah Dasar Ciumbuleuit Bandung Elisabeth Dewi; Sylvia Yazid; Yericha Yericha; Phenny Phenny; Yulius Purwadi Hermawan
Research Report - Humanities and Social Science Vol. 2 (2015)
Publisher : Research Report - Humanities and Social Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1844.029 KB)

Abstract

Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk membantu siswa-siswi beberapa sekolah dasar di sekitar Universitas Katolik Parahyangan dengan membentuk sebuah kegiatan mengajar bahasa Inggris serta beberapa mata pelajaran lainnya yang akan  menjadi materi ujian akhir, mengasah kemampuan seni serta pendidikan jasmin untuk kesehatan para siswa. Kegiatan ini berlangsung selama satu tahun pendidikan dengan kegiatan mengajar diadakan sekali setiap minggunya. Pengabdian ini juga dirancang untuk mengembangkan potensi anak di luar bidang akademis dengan mengadakan art week dan sport week, kegiatan yang mengajak siswa untuk menunjukan kemampuan non akademisnya, seperti menggambar, menulis dan membaca puisi, kabaret, menari serta bermain futsal.Target yang diharapkan dari setiap kegiatan adalah adanya peningkatan kemampuan berbahasa Inggris, pemahaman materi ujian sebagai suplemen dari materi yang diberikan oleh sekolah, Potensi softskill siswa-siswi SD melalui kegiatan art week serta memberikan pendidikan jasmani sejak dini untuk menanamkan kebiasaan untuk hidup sehat. Disamping itu, menumbuhkan kepedulian sosial dari para dosen dan mahasiswa terhadap lingkungan sekitar Universitas Katolik Parahyangan, Sehingga Keseluruhan proses pengabdian ini dapat membantu membentuk generasi muda yang utuh baik secara akademis maupun sifat sosial.
Pola Distribusi Beras dan Ketahanan Pangan Di Propinsi Jawa Barat : studi kasus Kabupaten Garut Gandhi Pawitan; Hubertus Hassan; Maria Widyarini
Research Report - Humanities and Social Science Vol. 2 (2010)
Publisher : Research Report - Humanities and Social Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6.705 KB)

Abstract

Ulasan surat kabar acapkali menggambarkan realita carut marut perberasan yang belum terselesaikan (lihat Kompas, 22 Juni 2010). Sementara itu Indonesia menghadapi tantangan terbesar yang harus disikapi serius oleh semua aktor perberasan. Tantangan liberalisasi perdagangan beras di kawasan perdagangan bebas ACFTA yang sudah mulai dijajaki dan paling lambat tahun 2018 sudah dilaksanakan. Jika pemerintah tidak menyikapi secara serius, dapat dipastikan posisi petani beras akan semakin termarjinalkan. Sikap keberpihakan pemerintah kepada petani hanya sebatas retorika sampai dengan saat ini. Ironisnya, permasalahan ketahanan pangan justru sering ditemukan di rumah tangga petani yang merupakan bagian net producer beras nasional.
Identifikasi Value Chain pada Bidang Fashion sebagai Bagian dari Industri Kreatif Untuk Membuat Bandung Juara Amelia Setiawan; Ria Satyarini; Agus Hasan P.A; Retno L. Adriani
Research Report - Humanities and Social Science Vol. 2 (2014)
Publisher : Research Report - Humanities and Social Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1595.066 KB)

Abstract

Industri kreatif adalah Industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Industri kreatif saat ini sedang berusaha dimajukan oleh pemerintahan Indonesia. Pelopor dari industri kreatif di Indonesia adalah Kota Bandung, dengan dibentuknya Bandung Creative City Forum (BCCF)yang merupakan langkah awal terjunnya kota Bandung menjadi kota kreatif.Dari semua sub sektor dari industri kreatif yang ada, terdapat tiga sektor yang terlihat terus berkembang dan menjadi acuan para wisatwan untuk datang ke Kota Bandung, sektor tersebut adalah sektor fesyen, kerajinan serta kuliner. Dari ketiga sektor tersebut, yang terlihat cukup menarik untuk diamati adalah sektor fesyen. Melihat dari sejarah Bandung, maka Bandung sangat terkenal akan industri tekstil serta garmen. Kedua industri ini yang menjadikan kota Bandung tidak dapat terlepas dari industri fesyen secara keseluruhan. Industri fesyen saat inimenuntut para pelaku usahanya untuk selalu selalu berinovasi, hal tersebut dikarenakan persaingan pada industri ini sangat berat.Salah satu bagian dari industri fesyen adalah distro (distribution outlet). Perkembangan dari distro ini sangat baik sehingga banyak pelaku usaha muda yang kemudian mencoba terjun kebidang ini. Yang cukup menarik adalah distro dibandung dibangun dengan system yang sama sekali berbeda dari system yang sudah ada. Bagaimana suatu produk distro yang diawali dari bahan mentah sampai ke produk akhir yang akhirnya sampai ketangan konsumen sangat menarik untuk diteliti.Aktivitas penciptaan nilai disetiap rantai proses produksi tersebut disebut dengan value chain. Dengan mengetahui dan dapat menganalisa value chain yang ada diharapkan dapat dijadikan suatu model yang kemudian dapat dijadikan percontohan untuk industri-industri lain, atau bahkan model tersebut di modifikasi agar menjadi model yang lebih efektif dan efisien.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dimana pengambilan datanya berdasarkanmetode survey, Focus Group Discussion dan penyebaran kuesioner.Keywords: competitive advantage, industri kreatif, industri fesyen, value chain  
AZAS NE BIS IN IDEM (Apakah Dapat Diterapkan dalam Kasus Perceraian ?) Djaja S. Meliala; Nasar Ambarita
Research Report - Humanities and Social Science Vol. 2 (2013)
Publisher : Research Report - Humanities and Social Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.993 KB)

Abstract

Tujuan penelitian tentang Ne bis in idem (Apakah dapat diterapkan dalam Kasus Perceraian) dilakukan untuk mengetahui bagaimana penerapan Asas Ne Bis in dalam Kasus Perceraian. Selain itu pula penelitian ini juga dilakukan untukmemberi kontribusi bagi pengembangan kajian dan upaya penyempurnaan terhadap peraturan perundang-undangan tentang perkawinan.Dengan menggunakan mencoba metode yuridis empiris, penelitian ini akan mencoba menelusuri putusan-putusan yang diperkarakan lebih dari sekali khususnya perkara perceraian.
MODEL ATRIBUT MINIMARKET DI LINGKUNGAN KAMPUS MENURUT MAHASISWA UNPAR DAN MARANATHA BANDUNG Fransisca Mulyono
Research Report - Humanities and Social Science Vol. 1 (2012)
Publisher : Research Report - Humanities and Social Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.577 KB)

Abstract

Research Purpose – the purpose of this research is to see what minimarket’s attributes on campuses are perceived important by students of Unpar and Maranatha, Bandung. The result is models on minimarket attributes around the two campuses mentioned above.Methodology – a review of current store attribute literatures reveal 61 attributes considered important by the researchers to then distributed to the students UNPAR and Maranatha as the respondents.Findings – data analysis showed the difference in the models, where five main priority Unpar’s minimarket attribute model consists of: promotions, staff, appearance, relaxation and product organizing dimensions. While the five highest priority Maranatha’s minimarket attribute model are: attitude of employees, security, promotion, minimarket access, and relaxation dimensions.Orijinalitas –because of research on minimarket attribute on campus as far as researchers know is rare, so this study was conducted to make the model in the range of minimarket attributes around Unpar and Maranatha campuses, Bandung.Keywords – store attribute, minimarket attribute, minimarket on campuses, EFA.
PENINGKATAN KONEKTIVITAS DOMESTIK MELALUI INFRASTRUKTUR LAUT DAN DAMPAKNYA TERHADAP STABILITAS HARGA MAKANAN Rulyusa Pratikto; Nia Juliawati
Research Report - Humanities and Social Science Vol. 2 (2015)
Publisher : Research Report - Humanities and Social Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.484 KB)

Abstract

Tujuan utama dari studi ini adalah untuk megetahui pengaruh dari pengembangan infrastruktur laut terhadap tingkat harga khususnya komoditas makanan di Indonesia. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat komoditas makanan merupakan penyumbang terbesar inflasi, bersifat persisten, dan merupakan komoditas yang penting bagi masyarakat miskin. Dengan menggunakan metodologi data panel, temuan utama dari studi ini menunjukkan bahwa pengembangan pelabuhan komersial memiliki peran penting untuk menurunkan tingkat harga makanan melalui penurunan biaya logistik. Perbaikan pada infrastruktur darat, terutama pengelolaan jembatan timbang dan koneksi darat dari pasar menuju pelabuhan pun cukup penting dalam proses pembentukan harga makanan.
KATA SEBAGAI SARANA PENYAIR - Sebuah Studi Kritis Terhadap Sjaka Pamflet W.S. Rendra Yohanes Peka Wisok; Darius Jehanih
Research Report - Humanities and Social Science Vol. 1 (2009)
Publisher : Research Report - Humanities and Social Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.126 KB)

Abstract

Setiap pribadi manusia itu unik. Situasi yang diciptakan dan yang pada akhirnya mengitarinya juga unik. Keunikan diri seseorang dan dunia ciptaannya memungkinkan banyak hal dalam dirinya tidak dapat dipahami secara utuh. Akan tetapi harus disadari bahwa sekalipun unik, namun ada struktur dasar yang sama antara diri seseorang individu dengan pribadi yang lain di luar dirinya. Demikian pula, dunia yang diciptakan seorang pribadi dengan dunia yang merupakan hasil rekayasa pribadi lain.Dengan cara berpikir demikian, maka dapat dikatakan bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dimengerti secara utuh dari diri seseorang. Sebaliknya juga benar, bahwa ada bganyak hal yang bias dipahami dan diketahui dari diri seseorang. Karena itu, dunia sastra, para penyair dan kata-kata yang digunakan dalam kehidupan seni budaya sastra yang ditekuninya dengan segala keunikannya tidak serta merta membuat dunia sastra berpisah dari dunia manusia pada umumnya. Demikian juga sang penyair dan kata-kata yang dipakainya dengan makna yang khas tidak membuatnya asing di tengah sesame manusia, di tengah masyarakat.Dunia sastra memang memilki keunikannya tersendiri. Bahasa yang digunakan dirangkai dalam kalimat bermakna dalam penuh kiasan dan analogi. Seribu satu macam kata dirangkai dalam kalimat ucapan dan bait-baik sajak dan puisi yang mengandung makna polisemi.Para penyairnya pun seolah memiliki dunia sendiri lepas dari masyarakat. Padahal, para penyair yang sedang berbicara, sebenarnya mereka berbicara tentang kenyataan hidup setiap hari. Bukan saja tentang kehidupan dirinya sendiri melainkan kehidupan sosial suatu masyarakat dan juga sebuah bangsa. Para penyair mengkritik kebijakan pembangunan yang mengabaikan rakyat, tidak berarti penyair itu seorang politisi. Dia hanya seorang sahabat semua jenis manusia hanya yang senantiasa berbicara tidak untuk kepentingan dirinya, dan tidak untuk mencari musuh melainkan dalam nada kritis dia tetap menjadi sahabat.
IDENTIFIKASI MODEL BISNIS PERUSAHAAN SOSIAL Studi Kasus: Komunitas Hong, Greeneration Indonesia, dan Asgar Muda Muliadi Palesangi; Fernando Mulia
Research Report - Humanities and Social Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Research Report - Humanities and Social Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1145.941 KB)

Abstract

Meningkatnya minat kaum muda untuk merintis perusahaan sosial tentunya sangat membantu mengatasi berbagai permasalahan sosial yang ada di Indonesia. Inisiatif mereka perlu kita apresiasi. Namun merintis usaha barulah tahap awal, tantangan selanjutnya adalah bagaimana mereka melanggengkan perusahaan sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk memotret potensi keberlanjutan (sustainability) perusahaan sosial dengan menggunakan kerangka kerja Kanvas Model Bisnis (KMB).Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus pada tiga perusahaan sosial yang ada di Jawa Barat, yakni: Komunitas Hong, Greeneration Indonesia, dan Asgar Muda.Studi kasus ini menemukan bahwa ketiga perusahaan sosial tersebut memiliki potensi keberlanjutan karena unggul dalam hal: mengoptimalkan sumber daya utama (manusia, intelektual, dan merek), menyelaraskan misi sosial dengan sisi bisnis; dan menghadirkan inovasi sosial.Kata-kata kunci: Model Bisnis, Perusahaan Sosial, Kewirausahaan Sosial

Page 7 of 15 | Total Record : 149