cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 3 (2025)" : 28 Documents clear
STRATEGI GURU DALAM IMPLEMENTASI LITERASI MORAL ISLAMI PADA ANAK USIA DINI: SEBUAH STUDI KASUS Nurhayati, Yuliana; Aziz, Abdul
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.7117

Abstract

ABSTRACT The need to cultivate character and moral values in early childhood, particularly those grounded in religious principles as the foundation of social ethics, often faces challenges in formal educational settings. Although Islamic moral values are highly relevant in shaping noble character, the implementation of effective and structured learning strategies in Early Childhood Education (PAUD) still requires deeper exploration. This study aims to describe the strategies employed by teachers in fostering moral literacy based on Islamic values among young children. The research was conducted at PAUD Terpadu Anak Sholeh Mandiri in Banjarmasin using a qualitative descriptive approach and a case study method. Data were collected through interviews, participatory observations, and documentation. The findings reveal that teachers apply various strategies such as habituation, role modeling, Islamic storytelling, the integration of Islamic values into daily activities, and the utilization of the surrounding environment as a learning partner. These strategies are consistently implemented in daily routines such as prayers, congregational worship, charitable giving, and guided social interactions infused with Islamic principles. The success of these strategies is supported by teacher commitment, adequate school facilities, and strong collaboration with parents and the community. However, challenges remain, including the lack of synergy between school practices and parenting at home, as well as the need for teachers to adjust their communication styles to suit the characteristics of young children. This study contributes to the development of character education practices based on Islamic values in early childhood education institutions. ABSTRAK Kebutuhan akan penanaman karakter dan moral pada anak usia dini terutama yang berbasis nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi etika sosial seringkali menghadapi tantangan dalam praktik pendidikan formal. Meskipun nilai-nilai moral Islam sangat relevan dalam membentuk akhlak mulia, implementasi strategi pembelajaran yang efektif dan terstruktur di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih memerlukan eksplorasi mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi yang diterapkan oleh guru dalam menanamkan literasi moral berbasis nilai-nilai Islam pada anak usia dini. Studi ini dilakukan di PAUD Terpadu Anak Sholeh Mandiri Kota Banjarmasin dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menggunakan berbagai strategi, seperti pembiasaan, keteladanan, storytelling Islami, integrasi nilai-nilai Islam dalam kegiatan sehari-hari, serta pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai mitra pembelajaran. Strategi ini diterapkan secara konsisten dalam rutinitas pembelajaran, seperti kegiatan doa, salat berjamaah, infak, serta interaksi sosial anak yang dibimbing dengan nilai-nilai Islami. Keberhasilan strategi ini didukung oleh komitmen guru, fasilitas sekolah, serta kemitraan dengan orang tua dan masyarakat. Namun, ditemukan pula hambatan seperti kurangnya sinergi antara sekolah dan pola asuh di rumah, serta komunikasi guru yang perlu disesuaikan dengan karakteristik anak usia dini. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan praktik pendidikan karakter berbasis nilai Islam di lembaga PAUD.
MEMBANGUN PENDIDIKAN WARGA YANG KRITIS TENTANG DEMOKRASI DAN HAM Fatwa, M.; Mukhrodi, Mukhrodi; Istinaroh, Istinaroh; Khasan, Nur
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.7141

Abstract

Democracy in Indonesia provides broad opportunities for citizens to express their aspirations and participate in national life. However, it still faces various challenges such as political polarization, low civic literacy, and frequent violations of human rights (HR). Education on democracy and HR has not been implemented optimally and often lacks contextual relevance to social realities. Therefore, developing critical thinking skills is an urgent necessity so that citizens can participate actively, reflectively, and understand democratic values more profoundly. Teachers hold a strategic role in fostering students’ sense of nationalism, tolerance, and democratic attitudes within educational environments. Strengthening critical education on democracy and HR is thus essential to build a conscious, fair, inclusive, and responsible society. These efforts must be supported through participatory approaches, teacher capacity building, and the involvement of families, educational institutions, and the wider community. Furthermore, developing media literacy and reflective abilities helps students internalize and implement democratic and human rights values sustainably in the digital era. ABSTRAK Demokrasi di Indonesia memberikan ruang yang luas bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi dan berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa, namun masih menghadapi berbagai tantangan seperti polarisasi politik, rendahnya literasi warga, serta maraknya pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Pendidikan tentang demokrasi dan HAM belum berjalan optimal dan sering kali kurang kontekstual dengan realitas sosial, sehingga pengembangan kemampuan berpikir kritis menjadi kebutuhan mendesak agar warga mampu berpartisipasi aktif, reflektif, serta memahami nilai-nilai demokrasi secara lebih mendalam. Guru memiliki peran strategis dalam menumbuhkan kesadaran nasionalisme, toleransi, dan sikap demokratis siswa di lingkungan pendidikan. Oleh karena itu, penguatan pendidikan kritis mengenai demokrasi dan HAM menjadi langkah penting untuk membentuk masyarakat yang sadar, adil, inklusif, serta bertanggung jawab terhadap kehidupan bernegara. Upaya ini perlu didukung dengan pendekatan partisipatif, peningkatan kapasitas guru, serta keterlibatan keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas. Selain itu, pengembangan literasi media dan kemampuan reflektif turut membantu siswa memahami, menginternalisasi, serta mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi dan HAM secara berkelanjutan di era digital.
PERAN GURU DALAM MEMBENTUK KARAKTER RELIGIUS SISWA KELAS IV DAN V DI SDN 9 NAGRIKALER Mulyana, Anwar
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.7184

Abstract

This study aims to describe the role of teachers in shaping the religious character of fourth and fifth grade students at SDN 9 Nagrikaler. Religious character is a crucial aspect of character education that must be instilled from an early age so that students develop attitudes and behaviors that reflect religious values in their daily lives. As educators, teachers hold a strategic responsibility in this character formation process, both through classroom learning, habituation activities, and extracurricular programs. This research uses a qualitative approach with descriptive methods. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. The subjects of this study were fourth and fifth grade teachers and students at SDN 9 Nagrikaler. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that teachers play an active role in shaping students' religious character through exemplary behavior, habituation, and reinforcement of religious values in daily school activities. Activities such as communal prayers, Qur’an recitation (tadarus), congregational prayers, and flag ceremonies infused with religious messages are part of the teacher’s strategy to instill religious character. Supporting factors include cooperation between teachers and parents, a conducive school environment, and support from the principal. Inhibiting factors include a lack of awareness among some students and limited instructional time. The conclusion of this study is that the role of teachers is highly significant and influential in shaping students’ religious character, especially through consistent and continuous efforts within school activities. This research is expected to serve as a reference for teachers and school administrators in developing character education based on religious values at the elementary school level. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru dalam membentuk karakter religius peserta didik kelas IV dan V di SDN 9 Nagrikaler. Karakter religius merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan karakter yang harus ditanamkan sejak dini, agar peserta didik memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Guru sebagai pendidik memiliki tanggung jawab strategis dalam proses pembentukan karakter tersebut, baik melalui pembelajaran di kelas, kegiatan pembiasaan, maupun kegiatan ekstrakurikuler. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas IV dan V serta peserta didik di SDN 9 Nagrikaler. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan aktif dalam membentuk karakter religius peserta didik melalui keteladanan, pembiasaan, dan penguatan nilai-nilai keagamaan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Kegiatan-kegiatan seperti doa bersama, tadarus Al-Qur’an, salat berjamaah, serta pelaksanaan upacara yang disisipkan dengan nilai religius menjadi bagian dari strategi guru dalam menanamkan nilai karakter religius. Faktor pendukung dalam pelaksanaan peran ini antara lain adalah adanya kerja sama antara guru dan orang tua, lingkungan sekolah yang kondusif, serta dukungan dari kepala sekolah. Sementara itu, faktor penghambat meliputi kurangnya kesadaran sebagian peserta didik dan keterbatasan waktu pembelajaran. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa peran guru sangat penting dan berpengaruh dalam membentuk karakter religius peserta didik, khususnya melalui pendekatan yang konsisten dan berkesinambungan dalam kegiatan sekolah. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi guru maupun pihak sekolah dalam mengembangkan pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai religius di tingkat sekolah dasar.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN YANG TERKANDUNG DALAM QS. AN-NAHL AYAT 106 DAN QS. AZ-ZUMAR AYAT 9 Saputra, Muhammad Rohan; Wardan, Khusnul
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.7186

Abstract

Islamic education aims to shape individuals who are faithful, knowledgeable, and virtuous, yet the reality in the field still shows a gap between the ideal goals and actual practices. Students are often weak in integrity, have low learning motivation, and perform worship merely as a routine. This study focuses on the educational values contained in QS. An-Nahl verse 106 and QS. Az-Zumar verse 9, namely steadfast faith, sincerity of heart, the importance of knowledge, and sincerity in worship. This research employed a literature study method by collecting and analyzing sources from books, Qur’anic exegesis, and relevant scientific articles. The analysis was conducted by examining the Ministry of Religious Affairs’ interpretation and Quraish Shihab’s Tafsir Al-Mishbah to obtain both philosophical and applicative understandings of the verses. The findings reveal that QS. An-Nahl verse 106 emphasizes steadfast faith and sincerity of heart as the foundation of religious character, while QS. Az-Zumar verse 9 stresses the importance of knowledge and sincerity in worship as the basis of forming a complete Muslim personality. This study concludes that integrating Qur’anic values into Islamic education can strengthen students’ cognitive, affective, and spiritual aspects. The prospect of this research lies in its application to the curriculum, learning strategies, teacher role modeling, and habituation programs to produce a religious, intelligent, honest, and sincere generation capable of facing global challenges. ABSTRAKPendidikan Islam bertujuan membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, namun realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan ideal dan praktik nyata. Peserta didik masih sering lemah dalam integritas, rendah motivasi belajar, serta menjalankan ibadah sebatas rutinitas. Penelitian ini berfokus pada nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam QS. An-Nahl ayat 106 dan QS. Az-Zumar ayat 9, yaitu keteguhan iman, kejujuran hati, pentingnya ilmu, dan keikhlasan ibadah. Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan menghimpun dan menganalisis sumber dari buku, tafsir, dan artikel ilmiah yang relevan. Analisis dilakukan dengan mengkaji tafsir Kemenag dan Tafsir Al-Mishbah untuk memperoleh pemahaman filosofis sekaligus aplikatif terhadap ayat-ayat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. An-Nahl ayat 106 menekankan keteguhan iman dan kejujuran hati sebagai fondasi karakter religius, sedangkan QS. Az-Zumar ayat 9 menegaskan keutamaan ilmu dan keikhlasan ibadah sebagai dasar pembentukan pribadi muslim yang utuh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi nilai Qur’ani ke dalam pendidikan Islam dapat memperkuat aspek kognitif, afektif, dan spiritual peserta didik. Prospek pengembangan penelitian ini adalah penerapannya dalam kurikulum, strategi pembelajaran, keteladanan guru, dan program pembiasaan sehingga dapat melahirkan generasi yang religius, cerdas, jujur, dan ikhlas dalam menghadapi tantangan global.
STUDI KONSEP INTEGRALISASI PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF PEMIKIRAN MUHAMMAD NATSIR Sari, Evi Pratama; Wardan, Khusnul
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.7187

Abstract

This study examines the idea of ??Islamic education from the perspective of Muhammad Natsir's thought. According to Natsir, Islamic education is a system that combines religious learning and general knowledge in a balanced manner. He emphasized that the foundation of Islamic education lies in the Qur'an, Hadith, and ijtihad, with comprehensive, harmonious, and universal characteristics. This education includes the development of physical, spiritual, intellectual, and moral aspects of students. In this study, a literature study method was used by analyzing ten articles discussing Natsir's thoughts on the development of integrated Islamic education. The results of the study indicate that Natsir's concept of educational integration connects the national curriculum with the religious curriculum, balances worldly and afterlife needs, and reduces the sharp gap between Western and Eastern traditions. The implementation of integrated Islamic education is directed at character formation, strengthening leadership, and mastery of general and religious knowledge in a comprehensive manner, thus providing renewal for Islamic education to be relevant to the challenges of the modern era. ABSTRAKPenelitian ini mengkaji gagasan pendidikan Islam dari perspektif pemikiran Muhammad Natsir. Menurut Natsir, pendidikan Islam merupakan suatu sistem yang menyatukan pembelajaran agama dan ilmu umum secara seimbang, la menegaskan bahwa landasan pendidikan islam terletak pada Al-Qur'an, Hadis, dan ijtihad, dengan karakteristik yang menyeluruh, harmonis, serta bersifat universal. Pendidikan tersebut mencakup pengembangan aspek fisik, spiritual, intelektual, dan moral peserta didik. Dalam penelitian ini digunakan metode studi literatur dengan menganalisis sepuluh artikel yang membahas pemikiran Natsir mengerjai pengembangan pendidikan Islam terintegrasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep integrasi pendidikan menurut Natsir menghubungkan kurikulum nasional dengan kurikulum keagamaan, meriyeimbangkan antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi serta mengurangi jurang pemisah yang terlalu tajam antara tradisi Barat dan Timur. Implementasi pendidikan Islam yang terintegrasi diarahkan pada pembentukan karakter penguatan jiwa kepemimpinan, serta penguasaan ilmu pengetahuan umum dan agama secara utuh sehingga mampu memberikan pembaruan bagi pendidikan Islam agar relevan dengan tantangan zaman modern.
ECOPROJECT TEMPAT SAMPAH BAMBU: MEDIA EDUKASI PENGELOLAAN SAMPAH UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN LINGKUNGAN SISWA Umar, Umar; Setiawan, Dedi; Sabri, Debi; Kartika, Dian
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.7243

Abstract

Solid waste management at the elementary school level remains a crucial issue due to low student awareness and a lack of adequate educational media. This study aimed to design and implement an eco-project in the form of bamboo waste bins as an educational medium for waste management to enhance students’ environmental awareness. Bamboo was chosen for its eco-friendly properties, easy availability, and familiarity in students’ daily lives. These attributes were expected to bridge the gap between the ideals of environmental education and real-world practices in schools. The study employed a Participatory Action Research (PAR) approach, involving teachers and students at every stage (planning, implementation, observation, and reflection). Evaluation instruments included interviews, observations, and documentation to assess student engagement and behavioral change. The project resulted in four functional bamboo waste bins installed at strategic points around the school. Field findings indicated positive support from teachers and students, improved discipline in proper waste disposal, and the emergence of collective awareness to maintain cleanliness. Teacher role modeling proved essential in strengthening social norms, while active student participation in maintaining the facilities fostered a shared sense of ownership. This eco-project was effective as both a contextual learning tool and a means of cultivating a culture of environmental care. The study contributes to environmental education literature by emphasizing the importance of integrating place-based education, experiential learning, and ecological citizenship. ABSTRAKPengelolaan sampah di tingkat sekolah dasar masih menjadi isu krusial karena rendahnya kesadaran siswa dan minimnya media edukatif yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menerapkan ecoproject berupa pembuatan tempat sampah dari bambu sebagai media edukasi pengelolaan sampah guna meningkatkan kesadaran lingkungan siswa. Bambu dipilih sebagai bahan karena ramah lingkungan, mudah diperoleh, dan akrab dengan keseharian siswa; dengan demikian diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara idealisme pendidikan lingkungan dan praktik nyata di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode Participatory Action Research (PAR) dengan melibatkan guru dan siswa pada setiap tahap (perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi). Instrumen evaluasi berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi digunakan untuk menilai tingkat keterlibatan siswa serta perubahan perilaku. Ecoproject ini menghasilkan empat unit tempat sampah bambu fungsional yang ditempatkan di titik strategis sekolah. Hasil pengamatan menunjukkan dukungan positif dari guru dan siswa, peningkatan disiplin dalam membuang sampah pada tempatnya, dan tumbuhnya kesadaran kolektif menjaga kebersihan lingkungan. Keteladanan guru menjadi faktor penting yang memperkuat norma sosial, sedangkan partisipasi aktif siswa dalam merawat fasilitas memupuk rasa memiliki bersama. Ecoproject ini efektif sebagai media pembelajaran kontekstual sekaligus sarana membangun budaya peduli lingkungan. Studi ini berkontribusi pada literatur pendidikan lingkungan dengan menegaskan pentingnya integrasi konsep place-based education, experiential learning, dan ecological citizenship.
PEMIKIRAN AL-GHAZALI TENTANG SOSOK GURU PROFESIONAL YANG IDEAL Rodhiah, Saniatur; Wardan, Khusnul
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.7325

Abstract

In Islamic perspective, a teacher is not merely a transmitter of knowledge but also a moral educator and spiritual guide who plays a crucial role in shaping students’ character. AlGhazali’s thoughts on the concept of the ideal teacher remain highly relevant to the discourse on teacher professionalism in the modern era. This article focuses on analyzing Al-Ghazali’s perspective regarding the characteristics of an ideal professional teacher, particularly in terms of spiritual, moral, and intellectual competence. This study employs a qualitative method with a library research approach, examining Al-Ghazali’s works especially Ihya’ Ulum al-Din and supported by relevant secondary sources. The research stages include identifying the basic concepts of teacherhood according to Al-Ghazali, analyzing Islamic educational principles, and interpreting their relevance to today’s professional teacher standards. The findings indicate that the ideal teacher, according to Al-Ghazali, is not only one who masters knowledge comprehensively but also embodies noble character, sincerity, humility, and serves as a role model for students. Moreover, the teacher must be able to provide spiritual guidance so that the transfer of knowledge does not remain at the cognitive level but also shapes personality and strengthens students’ relationship with God. The main conclusion emphasizes that the concept of an ideal professional teacher in Al-Ghazali’s perspective integrates academic competence with moral and spiritual dimensions, making it highly relevant as a reference for developing teacher professionalism in today’s era of ethical and social challenges. ABSTRAKGuru dalam pandangan Islam bukan sekedar penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga pendidik akhlak dan pembimbing spiritual yang berperan membentuk kepribadian peserta didik. Pemikiran Al-Ghazali mengenai sosok guru ideal masih relevan untuk dikaji dalam konteks profesionalisme guru di era modern. Artikel ini berfokus pada analisis pemikiran Al-Ghazali tentenag kriteria guru profesional yang ideal, khususnya terkait kompetensi spiritual, moral, dan intelektual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) melalui telaah kritis terhadap karya-karya Al-Ghazali, terutama Ihya’ Ulum al-Din dan literatur sekunder yang relevan. Langkah penelitian meliputi identifikasi konsep dasar guru menurut Al-Ghazali, analisis prinsip-psinsip pendidikan Islam, serta interpretasi relevensinya dengan standar profesional guru masa kini. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru ideal menurut Al-Ghazali bukan hanya menguasai ilmu secara mendalam, tetapi juga berakhlak mulia, ikhlas, tawadhu’, serta menjadikan dirinya teladan bagi peserta didik. Selain itu, guru harus mampu membimbing secara spiritual agar ilmu yang ditransfer tidak sekadar bersifat kognitif, tetapi juga membentuk kepribadian dan mendekatkan murid kepada Allah. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa konsep guru profesional ideal dalam perspektif Al-Ghazali tifak hanya mencakup aspek kompetensi akademik, tetapi juga dimensi moral dan spiritual, sehingga relevan dijadikan rujukan dalam membangun karakter guru di era modern yang sarat tantangan etis dan sosial.
UPAYA GURU DALAM MENANGGULANGI KESULITAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PAI DI SEKOLAH Al Muttaqin, Muhammad Arif Pahsa; Wardan, Khusnul
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.7326

Abstract

This research is motivated by the learning difficulties faced by students in Islamic Religious Education (PAI), even though PAI aims to foster positive behavioral change. The diversity of students' abilities and learning styles results in varying levels of material mastery, often below the mastery standard. The focus of this research is to describe the efforts made by teachers to address students' learning difficulties in PAI. This research used a descriptive qualitative approach (field study) involving 60 fifth and sixth grade students. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and documentation, which were then analyzed descriptively using qualitative and quantitative methods (percentages). The results indicate that PAI learning difficulties, such as understanding the material, memorizing, and achieving academic achievement, are caused by both internal student factors (ability, motivation) and external factors (school facilities, limited PAI time, and teacher methods). Key findings reveal that teachers attempt to overcome these difficulties through various strategies, including the use of learning media, a variety of teaching methods (lectures, question and answer sessions, assignments), providing special guidance, additional tutoring, and creating a pleasant learning environment, supported by efforts from the school and family. It was concluded that Islamic Religious Education (PAI) learning difficulties are multifactorial and addressing them requires collaborative efforts between teachers, schools, students, and parents. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan kesulitan belajar yang dihadapi siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), meskipun PAI bertujuan membentuk perubahan perilaku positif. Adanya keragaman kemampuan dan gaya belajar siswa menyebabkan tingkat penguasaan materi yang berbeda, seringkali di bawah standar ketuntasan. Fokus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan upaya-upaya yang dilakukan guru dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran PAI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif (field study) dengan melibatkan 60 siswa kelas V dan VI. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif (prosentase). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan belajar PAI, seperti memahami materi, menghafal, dan meraih prestasi, disebabkan oleh faktor internal siswa (kemampuan, motivasi) dan eksternal (fasilitas sekolah, keterbatasan waktu PAI, metode guru). Temuan utama mengungkap bahwa guru berupaya mengatasi kesulitan ini melalui berbagai strategi, diantaranya penggunaan media pembelajaran, variasi metode mengajar (ceramah, tanya jawab, tugas), pemberian bimbingan khusus, les tambahan, dan penciptaan suasana belajar yang menyenangkan, didukung oleh upaya dari pihak sekolah dan keluarga. Disimpulkan bahwa kesulitan belajar PAI bersifat multifaktorial dan penanggulangannya memerlukan upaya kolaboratif antara guru, sekolah, siswa, dan orang tua.

Page 3 of 3 | Total Record : 28