cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jks@unsyiah.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala
ISSN : 14421026     EISSN : 25500112     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK BUNGA KAMBOJA (Plumeria alba) SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP Streptococcus pyogenes Felicia Jiwantono; Marijam Purwanta; Yuani Setiawati
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v17i3.9066

Abstract

Abstract. infeksi adalah salah satu dari isu kesehatan yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen dan salah satu mikroorganisme yang tersering adalah Streptococcus. Terdapat 616 kasus faringitis di dunia yang disebabkan oleh Streptococcus. Penyakit tersebut dapat menimbulkan berbgai komplikasi lain bila tidak diterapi dengan baik. Pengobatan menggunakan antibiotik memiliki risiko terjadinya resistensi. Oleh sebab itu, diperlukan pengembangan penelitian pada herbal sebagai pengobatan. Bunga kamboja putih (Plumeria alba) diketahui memiliki aktivitas antibakteri melawan berbagai macam mikroorganisme. Dengan latar belakang tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan adanya aktivitas antimikroba dari Plumeria alba terhadap Streptococcus pyogenes yang dapat diamati dari Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM). Penelitian ini dikerjakan menggunakan metode eksperimental. Metode dilusi agar digunakan untuk menentukan KHM dan KBM. Konentrasi yang digunakan pada penelitian ini adalah 250 mg/ml, 125 mg/ml, 62,50 mg/ml, 31.25 mg/ml, 15,63 mg/m, 7,81 mg/ml, 3,91 mg/ml, 1,95 mg/ml, 0,98 mg/ml, kontrol positif (+) dan kontrol negatif (-).Melalui observasi dari penelitian ini, KHM tidak dapat ditentukan. Nilai dari KBM adalah 7,81 mg/ml yang menunjukkan konsentrasi dimana tidak didapatkan pertumbuhan koloni bakteri. Ekstrak etanol dari bunga kamboja putih (Plumeria alba) memiliki aktivitas antimikroba terhadapt Streptococcus pyogenes. Dalam studi in vitro ini menggunakan metode dilusi agar, KBM untuk Streptococcus pyogenes adalah 7,81 mg/ml.
ANALISIS MOLEKULER GENOM VIRUS HEPATITIS C SERTA PERANANNYA DALAM PATOGENESIS INFEKSI Tristia Rinanda
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 Nomor 1 April 2012
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Virus Hepatitis C (HCV) adalah penyebab Hepatitis C, suatu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia, khususnya di Indonesia. Virus ini bergenom RNA untai tunggal yang berukuran sekitar 9,6 kilobasa. Genom HCV terdiri dari untranslated region serta sejumlah gen yang mengkode protein struktural dan non struktural. Setiap bagian dari struktur genom ini memiliki peran yang sangat penting dalam patogenesis infeksi. Abstract. Hepatitis C Virus (HCV) is the causing agent of Hepatitis C, one of the major health problem in the world, especially in Indonesia. It is positive strand RNA virus with a genome size around 9,6 Kilobases. The single strand RNA genome of the virus contains untranslated regions and a large open reading frame that encodes structural and non-structural proteins. Each part of the genome plays important role on the pathogenesis of infection.
Hubungan derajat penyakit paru obstruktif kronik dengan malnutrisi pada pasien penyakit paru obstruktif kronik di poli Rumah Sakit Umum Meuraxa Husnah Husnah
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 20, No 1 (2020): Volume 20 Nomor 1 April 2020
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v20i1.18295

Abstract

Abstrak. Latar Belakang: Penyakit paru obstruksi kronik (PPOK) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi peringkat keempat kematian di dunia. Pasien PPOK sering mengalami kehilangan berat badan sekitar 15-50% pada PPOK ringan sampai parah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan derajat PPOK dengan resiko malnutrisi pada pasien PPOK di poli paru RSU Meuraxa. Metode: Jenis penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional, teknik sampel secara accidental sampling. Penilaian derajat PPOK dengan spirometri dan resiko malnutrisi menggunakan Mini Nutrition Assesment (MNA), dengan waktu penelitian tanggal 1 maret sampai 7 april 2014 didapatkan sejumlah 60 responden. Hasil: Jenis kelamin laki-laki 40 orang (66.7%), usia terbanyak antara 51-60 tahun 25 orang (41.7%), malnutrisi sebanyak 45 orang (75%), PPOK dengan derajat sedang 28 (47.7%), dan pola makan salah 43 orang (71.7%). Analisis secara uji spearman terdapat hubungan antara derajat PPOK dengan malnutrisi nilai p = 00,1 (α0,05). r = -0,665 dengan kekuatan hubungan sedang dimana semakin berat derajat PPOK maka risiko malnutrisi semakin besar.Kata kunci: Derajat PPOK, Malnutrisi, MNA                                             Abstract. Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a public health problem being ranked 4th death in the world. COPD patients often experience weight loss of approximately 15-50% in mild to severe COPD. The purpose of this study was to determine the relationship of the degree of COPD at risk of malnutrition in patients with COPD. Methods: observational analytic study with cross-sectional design, engineering samples of accidental sampling. Assessment of the degree of COPD with spirometry and risk of malnutrition using Mini Nutrition Assesment (MNA), the research time on 1 March to 7 April 2014 there were 60 respondents. Results: Male gender is 40 people (66.7%), most of them are between 51-60 years of age, 25 people (41.7%), 45 people with malnutrition (75%), 28 people with moderate COPD (47.7%), and 43 people with wrong diet (71.7%). Analysis by means of the spearman test, there was a relationship between the degree of COPD and malnutrition, the value of p = 00.1 (α 0.05). r = -0.665 with moderate relationship strength where the heavier the degree of COPD, the greater the risk of malnutrition.Keywords: Degree of COPD, Malnutrition, MNA
Reseptor Androgen dan Organ Reproduksi Pria Zulfitri Zulfitri
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 6, No 1 (2006): Volume 6 Nomor 1 April 2006
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.   Hormon  androgen  berperan  penting    dalam   perkembangan   scksual    individu    jaruan.   Mormon   androgen yang  penting  adalah   hormon  testosteron   dan  hormon  dyindrotestosteron.      Ke1j:1  hormon  androgen    pada sel  target diperantarai  oleh   molekul    reseptor   hormon  androgen  yang  dapat   mengikat    hormon  androgen,  mengikat   gen dan mengatur   transkripsi     gen.  Epididimis    merupakan   salah    satu   organ   target   hormon   androgen.    Fungsi   utarna epididimis    rnerupakan  ternpat  pernatangan  spermatozoa.    Fungsi   ini   dapat  dimungkinkan   karna  adanya  aktivitas absorbsi   dan  sekresi    dari  sel-sel    epitel   epididimis.      Aktivitas    tersebut    mernbutuhkan      horrnon  androgen   dan molekul   reseptor  androgen  sebagai  perantara  kerja.   Suatu  ketidak  normalan  dari  reseptor  androgen  atau  bahkan hilangnya  reseptor  androgen  pada sel  target,  menyebabkan   kelainan  yang disebut   sebagai   Androgen  insensitivity Syndrom.(JKS 2006;1:39-48) Kata   Kunci: Reseptor,  Androgen,   Reproduksi,  Pria Abstract.    Androgen   hormones  play  an  important   role   in  male   sexual    development.     There  are  two  important kinds   of androgen  hormones;  they are testosterone   and dyindrotestosteron.     The  work of androgen  hormones  on target   cells is  mediated  by the androgen  hormone  receptor  molecules  that could  bind   the androgen,  binding   and regulating   genes  transcription.   The  epididymis   is  a target  organ  of androgen   hormones.   The  main   function   of epididymis    is  used  as a place  for spermatozoa   maturation.    This  function  may  possibly   be made  since   there are the  absorption   and  secretion   activities     of  the  epididymis    epithelial     cells.  These   activities     require  androgen hormones  and androgen  receptor  molecules  as the mediator.   One of the androgen  receptor  abnormalities  or even the  loss   of  androgen   receptors   on  target  cells   will  create  a  kind  of  disorder   called  androgen   insensitivitysyndrome.  (JKS 2-006;1:39-48) Keywords:Receptors, Androgen, Reproduction,Male
PENTINGNYA KOMUNIKASI DALAM PELAYANAN KESEHATAN PRIMER Tita Menawati; Hendra Kurniawan
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Ilmu komunikasi dalam promosi kesehatan telah menjadi komponen utama. Tantangan utama dalam komunikasi kesehatan terutama dalam promosi kesehatan adalah bagaimana cara merangkul pelayanan primer dalam mensukseskan promosi kesehatan yang diberikan. Dalam profesi kedokteran komunikasi antara dokter dan pasien merupakan komponen paling penting. Permasalahan komunikasi dalam bidang kedokteran yang paling sering muncul ke permukaan disebabkan karena kurang dipahaminya komunikasi baik dokter maupun pasien.Abstract.Science communicationin health promotionhasbecome amajor component. The mainchallengein health communication, especially in the promotion ofhealthishow toembraceprimary carein the success ofhealth promotiongiven.In themedical professionof communicationbetweendoctor and patientis themostimportantcomponent. Problemsof communication inthe field of medicinemostoftencome to the surfacedue to the lackof communicationunderstoodboth doctors andpatients.
Analisis KecenderunganAkseptorKB TerhadapPemilihan Alat KontrasepsidalamRahim (AKDR) di Poli PKBRS RSUDZA Tilaili Ibrahim
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 10, No 3 (2010): Volume 10 Nomor 3 Desember 2010
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.  Keluarga berencana diartikan sebagai metode-metode pengendalian kelahiran yang memungkinkan pasien untuk menunda atau mencegah reproduksi. Alat kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan salah satu  metode  kontrasepsi  yang  dianggap  efektif  dan  efisien  namun  pengunaannya relatif  lebih  rendah dibandingkan dengan penggunaan metode kontrasepsi lain. Berdasarkan mini survei BKKBN, pengguna AKDR mengalami penurunan dari  10,9% pada tahun 2002-2003 menjadi 5,4% pada tahun 2006. Telah dilakukan penelitian deskriptif dengan metode cross sectional survey mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi akseptor KB terhadap pemilihan AKDR di Poli PKBRS RSUDZA Banda Aceh Periode Agustus 2009. Populasinya adalah seluruh akseptor KB yang datang ke Poli PKBRS RSUDZA Banda Aceh tahun 2009.  Sampelnya adalah pasien yang datang ke poli PKBRS RSUDZA dan yang bersedia untuk diwawancara   pada saat dilakukannya penelitian ini{lO Agustus 2009 - 21 Agustus 2009) yang berjumlah 57 orang.  Tujuan penelitian ini  adalah untuk mengetahui faktor-faktor   yang mempengaruhi akseptor KB terhadap Alat Kontrasepsi Dalam Rahim. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 12 responden (21,05%) sebagai pengguna AKDR dan 45 responden (78,94%) sebagai akseptor KB selain AKDR. Pemilihan AKDR sebagai  alat  kontrasepsi  cenderung  ditemukan pada  Akseptor  dengan  tingkat pengetahuan  yang  baik mengenai AKDR, tingkat pendidikan yang tinggi, akseptor yang berumur 20-35 tahun dan akseptor yang bekerja.(J.KS2010;3:123-130)Kata kunci : Akseptor KB, AKDR, Pengetahuan, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Peran Suami.Abstract.   Family  planning  as  birth  control  methods  that  provide  pastients  to  postpone  or  avoid the pregnancy. Intra uterine device (IUD) is one of contraception method which had lower acceptor than others. Based on small survey ofBKKBN, IUD acceptors decrease from 10,9%  in 2002-2003 to 5,4% in 2006. It has been done a descriptive research using  cross sectional survey about The Factors of Contraception Acceptors in Choosing Intra Uterine Device (IUD) in Family Planning Service Polyclinic of Zainoel Abidin Hospital in2009.  The respondents are all acceptors who visited Family Planning Service Polyclinic of Zainoel AbidinHospital and be ready to interviewed. This research performed on August 10 until August 21 2009 and had57 respondents .The goal of this research is to know the factors of contraception acceptors in choosing intrauterine device in family planning service. polyclinic Zainoel Abidin Hospital Banda Aceh. The results of this research are 12 respondent (21,05%)  as Intra Uterine Device acceptors and 45 respondents (78,94%) as other contraception acceptors. Tendency of choosing IUD can be finded in acceptors with well knowladge about IUD,  well education level, 20-35 years old acceptors, and employee acceptors. (JKS 2010;3:123-130)Keywords: Contraception acceptor, IUD, Knowledge, Age, Education, Husband Participation
MALARIA BERAT DENGAN BERBAGAI KOMPLIKASI Masra Lena Siregar
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 15, No 3 (2015): Volume 15 Nomor 3 Desember 2015
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Malaria merupakan penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Plasmodium menyerang eritrosit yang ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual didalam darah. Di Indonesia, penyakit ini endemis di sebagian besar wilayah Indonesia dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian. Upaya untuk menekan angka kesakitan dan kematian dilakukan melalui program pemberantasan malaria yang beberapa kegiatannya antara lain diagnosis dini, pengobatan cepat dan tepat, yang bertujuan untuk memutus mata rantai penularan malaria. Dilaporkan satu kasus seorang laki-laki pekerjaan TNI yang melakukan tugas negara ke daerah endemis malaria di Aceh Singkil. Selama bertugas  pasien mengalami demam tinggi disertai menggigil dan keringat banyak sejak empat hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan lain yang didapatkan adalah anuria, hemoglobinuria, pucat dan ikterik. Pada pemeriksaan hapusan darah tebal dan tipis ditemukan tropozoit plasmodium falciparum. Komplikasi malaria berat yang didapat berupa black water fever, malaria billiosa, anemia dan malaria related acute kidney injury (MAKI). Terapi yang diberikan adalah injeksi artemeter kemudian dilanjutkan dengan obat oral anti malaria primakuin dan dihydroartemisinin-piperaquine (DHP) selama 3 hari, selain itu pasien dilakukan hemodialisis karena komplikasi MAKI. Pasien mengalami perbaikan klinis yang sangat baik dan diperbolehkan rawat jalan. Kata kunci : anemia, black water fever, MAKI, malaria berat, malaria billiosaAbstract. Malaria is a parasite infection disease which is caused by plasmodium and transmitted to human body by female anopheles mosquito bite. Plasmodium attaches erythrocytes that we can prove by asexual form finding blood smear. This infection disease is endemic in Indonesia which is all over in Indonesia region and still become problem of public health, because its high mortality. The efforts to decrease morbidity and mortality are malaria eradication programme in several things i.e early diagnosis, early and effectively treatment to support stopping transmitted malaria. We reported a soldier man who work in Aceh Singkil which is an endemic malaria area. He had high fever, shiffering and sweating in his duty since four days before arrived to hospital. Another complains i.e anuria, haemoglobinuria, pale and icteric. The thick and thin blood smear found trophozoid form plasmodium falciparum. The complication of severe malaria in this patient are black water fever, billiosa malaria, anemia and malaria related acute kidney injury. We treated with artemeter injection and switched to anti malaria drugs (primakuin and dihydroartemisinin-piperaquine) for three days. On the other hand the patient must going haemodialysis because of his complication in the kidney. The patient had clinically improved and could discharge. Key words : anemia, black water fever, MAKI, severe malaria, billiosa malaria
HUBUNGAN FAKTOR PENGETAHUAN, SIKAP, PENDIDIKAN, SOSIAL BUDAYA, EKONOMI KELUARGA SERTA PERAN PETUGAS KESEHATAN TERHADAP RENDAHNYA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF Mulya Safri; Aulia Rahman Putra
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v13i1.3431

Abstract

Abstrak. Air Susu Ibu (ASI) eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi tanpa makanan atau minuman tambahan sampai bayi berusia 6 bulan. Pemberian ASI eksklusif pada bayi hingga usia 6 bulan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain pengetahuan, sikap, pendidikan, sosial budaya, ekonomi keluarga dan petugas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor pengetahuan, sikap, pendidikan, sosial budaya, ekonomi keluarga serta peran petugas kesehatan terhadap rendahnya pemberian ASI eksklusif. Penelitian merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil dengan teknik total sampling sebanyak 111 orang ibu-ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan. Penelitian ini memperlihatkan 12% ibu menyusui secara eksklusif dan 88% yang tidak menyusui secara eksklusif. 64% ibu memiliki pengetahuan yang baik mengenai ASI eksklusif, 54% sikap ibu tidak mendukung praktek pemberian ASI eksklusif, 53% ibu berada pada kategori pendidikan dasar, 58% sosial budaya ibu tidak mendukung praktek pemberian ASI eksklusif, 65% ibu berada pada tingkat ekonomi keluarga menengah dan 60% ibu mendapat dukungan dari petugas kesehatan mengenai pemberian ASI eksklusif. Faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya pemberian ASI eksklusif di Kecamatan Cot Glie Aceh Besar yaitu faktor pengetahuan (p=0,004), sikap (p=0,000), pendidikan (p=0,000), sosial budaya (p=0,000) dan petugas kesehatan (p=0,012). Sedangkan faktor ekonomi keluarga (p=0,074) tidak memiliki hubungan dengan rendahnya pemberian ASI eksklusif di wilayah tersebut. Abstract. Exclusive breastfeeding is only breast milk for babies without any additional food or drink until the baby is 6 months old. Exclusive breastfeeding for infants up to age 6 months is influenced by various factors including knowledge, attitudes, educational, social cultural, economic of family and health workers. This study aims to determine knowledge, attitudes, educational, social cultural, economic of family and health workers that are associated with low exclusive breast feeding. The design of this study is descriptive analytical with cross sectional approach. Samples have been taken with total sampling technique as many as 111 mothers with babies aged 6-12 months. The results of this study shows that 12% of mothers breastfeed exclusively and 88% are not exclusive. 64% of mothers has a good knowledge of exclusive breastfeeding, 54% of mothers do not support the practice of exclusive breastfeeding, 53% of mothers are in the category of basic education, 58% of social and cultural mothers do not support the practice of exclusive breastfeeding, 65% mother is in the middle of family economic level and 60% of mothers received support from health workers to practice exclusive breastfeeding. Conclusion:Factors that are associated with low exclusive breast feeding in Cot Glie District namely knowledge (p=0,004), attitudes (p=0,000), educational (p=0,000), social cultural (p=0,000) and health workers (p=0,012). While the economic of family (p=0,074) do not have a relationship with the low exclusive breastfeeding in the region.
KISTA DERMOID OVARIUM KANAN Mohd Andalas; Cut Rika Maharani; Shazni Nadia; Violita Aprilyana
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 18, No 3 (2018): Volume 18 Nomor 3 Desember 2018
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v18i3.18024

Abstract

Abstrak. Kista ovarium merupakan  tumor yang paling umum dengan prevalensi melebihi 30%.Kista Dermoid pada ovarium dapat terjadi pada semua usia dengan prevalensi tertinggi pada usia reproduksi (16–55 tahun) dengan insidensi tertinggi pada usia 30 tahun.Seorang  perempuan berusia 33 tahun datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah yang dirasakan sejak 2012. Nyeri yang dialami menjalar sampai ke pinggang. Kemudian pasien dilakukan pemeriksaan ultrasonografi  dan tampak masa kista berukuran 5,35x4,52 cm pada ovarium kanan. Pasien kemudian dilakukan tindakan kistektomi perlaparoskopi. Pasca pembedahan pasien didiagnosa dengan kista dermoid ovarium kanan. Pendekatan laparoskopi tidak membutuhkan waku yang lama dengan perdarahan yang minimal. Kista dermoid ovarium bersifat jinak sehingga prognosis setelah dilakukan pengangkatan ad bonam. Meskipun ada kemungkinan bertansformasi menjadi keganasan. Kata Kunci: Kista Ovarium, Kista Dermoid, Ultrasonografi, Kistektomi per Laparoskopi Abstract. Ovarian cysts are the most common tumor, the prevalence is approximately more than 30%. Dermoid cysts in the ovary can occur at any time with the highest prevalence at reproductive period (16-55 years), especially at the age of  30 years. A 33-year-old woman came with chief complaint  lower abdominal pain since 2012. The pain  spread to the waist. Then the patient performed an ultrasound examination revealed the presence of cyst on the right ovary measured 5.35x4.52 cm. The patient then performed laparoscopic cystectomy. Postoperative diagnosis was a right ovarian dermoid cyst. The laparoscopic approach does not require long periods of time with minimal bleeding. Ovarian dermoid cysts are benign  with a better prognosis after removal. Although there is a possibility to transform into malignancy.Keywords: Ovarian Cyst, Dermoid Cyst, Ultrasonography,  Laparoscopic, Cystectomy
Gambarangangguan fungsi hati pada penderita infeksi virus dengue di Banda Aceh Kuroia Fitri Jamil
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 8, No 3 (2008): Volume 8 Nomor 3 Desember 2008
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.  Dcmam berdarah  merupakan  penyakit  yang disebabkan  oleh  infeksi  virus   dengue  dengan demarn, sakit  otot dan  sendi sebagai  manifestasi  klinis,  juga  disertai  leuopenia  dan trombositopenia.   Jika  ditemukan kebocoran plasma, disebut Demam Berdarah  Dengue (DBD). Disfungsi hati yang disebabkan oleh virus dengue sangat  jarang   terjadi  namun  terdokumentasi  dengan  baik.  Tujuan  penelitian  ini adalah  untuk  menjelaskan disfungsi  hati pada pasien dengan infeksi  virus  dengue.  I  lasil  pemeriksaan  laboratorium  dikumpulkan   secara retrospektif dari laboratoriurn  Prodia dan bcberapa rumah sakit swasta di Banda Aceh dari Januari sampai Mei2007.   Pemcriksaan  virus Dengue dilakukan  dengan "ACON  dengue" uji cepat. Tes fungsi  hati  menggunakan metodc  TFcc· dan  tingkat   bilirubin  telah  diperiksa   dengan   menggunakan   mctode  Jendrasik   Graff.  Dari pengarnatan antara Januari-Mei 2007, diternukan  60 kasus  dengue,  16  pasien rnenunjukkan   keabnormalan  nilaites fungsi  hati.  Pasien  dengan  tingkat  bilirubin  kurang dari 2 mg/di  adalah  6 kasus (37,50%),  total  bilirubin antara 2-5% sebanyak 7 kasus (43,75%)  tingkat bilirubin   total  antara 5-10 mg/di sebanyak  3 kasus (18,75%). Pemeriksaan  kadar transaminase,  ditemukan  4 kasus ( 12,5%)   dengan SOOT  2-4 UNL (Upper Normal Limit),8 kasus (50%) dengan SOOT  4 UNL dan 6 kasus  (37,25%) dengan normal SOOT sedangkan  I   kasus (6,25%) dari SGPT 2-4 UNL, 7 kasus (43,75%) dari SGPT 4 UNL, dan 8 kasus (50%) dengan tingkat SGPT normal. Pada  pasien  yang  terinfeksi  oleh  virus  dengue,  lcbih  dari  seperempat  dari  semua  pasien  yang  mengalami disfungsi hati, walaupun itu  tidak serius, tetapi rnemakan waktu lama bagi  pasien untuk dirawat.   (JKS 2008; 3:135-137) Kata Kunci  : fungsi hati,  infeksi virus, dengue Abstract.  Dengue fever is an infection  disease   caused by dengue virus  with fever, muscle and pain joints  as clinical  manifestations,   and also  with  leucopenia  and thrombocytopenia.  If  plasma  leakage  was  found, it is called  Dengue Hemorrhagic  Fever (DHF).   Hepatic dysfunction   caused  by dengue  infection  is  rare but well documented.   The  objective  is  to describe   hepatic  dysfunction  in  patient  with  dengue  fever  infection.  The laboratory result was collected with  retrospectively  from Prodia  laboratory  and some private  hospital  in  Banda Aceh from January  until  May 2007. The dengue virus examination  was done by "ACON  dengue"  rapid test. The liver  function test using  !FCC method and the bilirubin level  was checked by using Jendrasik Graff method. From  the  observation  on January-May  2007,  it  was  found  60 case  of dengue  whereas  16   patient  showed abnormality  value of  liver function test. Patient with bilirubin level less than 2 mg/di  is 6 cases (37,50 %), total bilirubin between 2-5 % is 7 cases (43,75 %) total bilirubin  level  between 5-10  mg/di  is 3 cases (18,75   %). On transaminase  level  examination,   we found 2 cases (12,5 %) with  SOOT   2-4   UNL(Upper Normal  Limit), 8 cases (50 %) with SOOT 4 UNL and 6 cases (37,25 %) with  normal SGOT whereas 1 case (6,25 %) of SGP'f. 2-4  UNL, 7 cases (43,75 %) of SGPT 4 UNL, and 8 cases (50 %) with normal  SGPT level. In  the patient who  infected by dengue virus,  more than  quarter of all  patient having   hepatic dysfunction,  eventhough there was not seriously,  but it takes a long  time for patient to hospitalized. (JKS2008; 3: 135-137) Keyword :  liver function, viral  infection, dengue 

Filter by Year

2005 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 1: April 2023 Vol 22, No 1 (2022): Volume 22 Nomor 1 Maret 2022 JKS Edisi Khusus Oktober 2022 Vol 21, No 3 (2021): Volume 21 Nomor 3 Desember 2021 Vol 21, No 2 (2021): Volume 21 Nomor 2 Agustus 2021 Vol 21, No 1 (2021): Volume 21 Nomor 1 April 2021 Vol 20, No 3 (2020): Volume 20 Nomor 3 Desember 2020 Vol 20, No 2 (2020): Volume 20 Nomor 2 Agustus 2020 Vol 20, No 1 (2020): Volume 20 Nomor 1 April 2020 Vol 19, No 3 (2019): Volume 19 Nomor 3 Desember 2019 Vol 19, No 2 (2019): Volume 19 Nomor 2 Agustus 2019 Vol 19, No 1 (2019): Volume 19 Nomor 1 April 2019 Vol 18, No 3 (2018): Volume 18 Nomor 3 Desember 2018 Vol 18, No 2 (2018): Volume 18 Nomor 2 Agustus 2018 Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018 Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017 Vol 17, No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017 Vol 17, No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 April 2017 Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016 Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016 Vol 16, No 1 (2016): Volume 16 Nomor 1 April 2016 Vol 15, No 3 (2015): Volume 15 Nomor 3 Desember 2015 Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015 Vol 15, No 1 (2015): Volume 15 Nomor 1 April 2015 Vol 14, No 3 (2014): Volume 14 Nomor 3 Desember 2014 Vol 14, No 2 (2014): Volume 14 Nomor 2 Agustus 2014 Vol 14, No 1 (2014): Volume 14 Nomor 1 April 2014 Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013 Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013 Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013 Vol 12, No 3 (2012): Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012 Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 Nomor 1 April 2012 Vol 11, No 3 (2011): Volume 11 Nomor 3 Desember 2011 Vol 11, No 2 (2011): Volume 11 Nomor 2 Agustus 2011 Vol 11, No 1 (2011): Volume 11 Nomor 1 April 2011 Vol 10, No 3 (2010): Volume 10 Nomor 3 Desember 2010 Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010 Vol 10, No 1 (2010): Volume 10 Nomor 1 April 2010 Vol 9, No 3 (2009): Volume 9 Nomor 3 Desember 2009 Vol 9, No 2 (2009): Volume 9 Nomor 2 Agustus 2009 Vol 9, No 1 (2009): Volume 9 Nomor 1 April 2009 Vol 8, No 3 (2008): Volume 8 Nomor 3 Desember 2008 Vol 8, No 2 (2008): Volume 8 Nomor 2 Agustus 2008 Vol 8, No 1 (2008): Volume 8 Nomor 1 April 2008 Vol 7, No 3 (2007): Volume 7 Nomor 3 Desember 2007 Vol 7, No 2 (2007): Volume 7 Nomor 2 Agustus 2007 Vol 7, No 1 (2007): Volume 7 Nomor 1 April 2007 Vol 6, No 3 (2006): Volume 6 Nomor 3 Desember 2006 Vol 6, No 2 (2006): Volume 6 Nomor 2 Agustus 2006 Vol 6, No 1 (2006): Volume 6 Nomor 1 April 2006 Vol 5, No 1 (2005): Volume 5 Nomor 1 April 2005 More Issue