cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jks@unsyiah.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala
ISSN : 14421026     EISSN : 25500112     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
TeknikOperasiMillardpadaLabioplasty Unilateral M. Jailani M. Jailani
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 8, No 1 (2008): Volume 8 Nomor 1 April 2008
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Labioschizis atau Cleft Lip adalah salah satu bentuk kelainan cacat lahir pada bibir. Labioplasty cara Millard yang dimodifikasi oleh Prof. Djohansjah adalah teknik yang kami pakai pada penelitian ini. Banyak teknik yang ditawarkan pada operasi Labioplasty Unilateral tetapi kita selalu diingatkan bahwa teknik yang simpel dan yang telah terbiasa adalah yang terbaik dan sebaiknya dipakai.  Cara Millard pada operasi bibir sumbing unilateral adalah salah satu pilihan cara operasi yang mudah dan mendapatkan basil operasi yang maksimal dengan letak titik sangat anatomis. (JKS 2007; 1: 15-22) Kata Kunci: Labioschizis, Labioplasty Unilateral.  Abstract.  Labioschizis or  Cleft Lip is one  form of birth  defect disorder on the lips. Labioplasty  Millard Technique modified by Prof. Djohansjah is a technique that we use in this study. There are many techniques offered in Unilateral Labioplasty operations but we are always reminded that the simple technique and which have been used are the best and should be used. Millard technique on unilateral cleft lip surgery is one option of operation technique that is easy and obtain maximum operating  results by its location of the point is really anatomic. (JKS 2007,· J:15-22)                                                                                                            · Keywords: Labioschizis, Unilateral Labioplasty
Melanoma Koroid Saiful Basri
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 14, No 2 (2014): Volume 14 Nomor 2 Agustus 2014
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melanoma Koroid
DUA KASUS ACQUIRED PROTHROMBIN COMPLEX DEFICIENCY DENGAN PERDARAHAN INTRAKRANIAL : LAPORAN KASUS Jufitriani Ismy
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v17i3.9068

Abstract

Abstrak. Acquired Prothrombin Complex Deficiency (APCD) merupakan perdarahan spontan yang disebabkan oleh penurunan aktivitas faktor koagulasi yang tergantung vitamin K (faktor II, VII, IX dan X), sedangkan aktivitas faktor koagulasi lain, kadar fibrinogen dan jumlah trombosit masih dalam batas normal. Insiden tertinggi APCD pada anak usia 3 – 8 minggu. Dilaporkan 2 kasus APCD di RS Zainoel Abidin Banda Aceh dengan hasil CT-Scan tampak adanya perdarahan Subaracnoid haemorhagic, Subdural haemorhagic, Intracranial Haemorhagic dan Edema cerebri. Pasien mengalami penyembuhan tanpa dilakukan intervensi bedah.Kata kunci : Acquired Prothrombin Complex Deficiency , vitamin K, Perdarahan Subaracnoid haemorhagic, Subdural haemorhagic, Intracranial Haemorhagic AbstractAcquired Prothrombin Complex Deficiency (APCD) is a spontaneous haemorrhage caused by decreased vitamin K-dependent coagulation factor activity (factor II, VII, IX and X), while other coagulation factor activity, fibrinogen levels and platelet counts are within normal limits. Highest incidence of APCD at age 3 - 8 weeks. Reported 2 cases of APCD in RS Zainoel Abidin Banda Aceh with CT-Scan result seen bleeding Subaracnoid haemorhagic, Subdural haemorhagic, Intracranial Haemorhagic and Edema cerebri. The patient is healed without surgical intervention.Key words : Acquired Prothrombin Complex Deficiency, child, vitamin K, Subaracnoid haemorhagic, Subdural haemorhagic, Intracranial Haemorhagic
GAMBARAN TRANSILUMINASI TERHADAP PENDERITA SINUSITIS MAKSILARIS DAN SINUSITIS FRONTALIS DI POLI THT RSUD Dr. ZAINOEL ABIDIN Teuku Husni
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Sinusitis adalah proses peradangan pada ruang sinus. Penelitian tentang gambaran transiluminasi pada penderita sinusitis maksilaris dan sinusitis frontalis di poli telinga hidung dan tenggorok (THT) Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran transiluminasi pada penderita sinusitis maksilaris dan frontalis serta menilai derajat keparahannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode cross sectional. Sebanyak 52 penderita sinusitis maksilaris dan sinusitis frontalis di poli THT RSUD dr. Zainoel Abidin dilakukan pemeriksaan transiluminasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase penderita sinusitis maksilaris sebesar 86,54% dan penderita dengan sinusitis frontalis sebesar 9,62%. Derajat keparahan sinusitis maksilaris pada penelitian ini adalah: derajat 2 derajat 1 derajat 0 derajat 3, sedangkan untuk sinusitis frontalis memenuhi urutan: derajat 2 derajat 3 derajat 1 = derajat 0. Analisa deskriptif menunjukkan bahwa perempuan (n=32) lebih dominan menderita sinusitis maksilaris dibandingkan laki-laki (n=15), sedangkan untuk sinusitis frontalis, perempuan (n=2) lebih sedikit dibandingkan laki-laki (n=3). Abstract. Sinusitis is the inflammation of the sinus space. The research on transillumination’s description toward patient with maxillary sinusitis and frontal sinusitis in Ear, Nose and Throat (ENT) policlinic at Dr. Zainoel Abidin Hospital has been done. The research has an objective to determine transillumination description toward patient with maxillary sinusitis and frontal sinusitis and to acces severity level. The research is a descriptive study with cross sectional method. A total of 52 sampel of patient who suffered from maxillary sinusitis and frontal sinusitis in ENT policlinic. The result of the research indicate that the percentage of patient with maxillary was 86.54% and patient with frontal sinusitis was 9.62. Sinusitis and examination results in this study shows are maxillary sinusitis has the following level order: Grade 2 grade 1 grade 0 grade 3, where as for frontal sinusitis has the following level order grade 2 grade 3 grade 1 = grade 0. Descriptive analysis getting that female (n=32) has dominant case on maxillary sinusitis over male (n=15), whereas for frontalis sinusitis case on female (n=2) has fewercase than male (n=3).
Pola resistensi bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Acinetobacter baumannii pada spesimen darah terhadap antibiotik golongan β-laktam dan aminoglikosida di Rumah Sakit DR. Soetomo periode Januari 2016 – Desember 2016 Pascalis Fabian; Lindawati Alimsardjono; Danti Nur Indiastuti
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 20, No 1 (2020): Volume 20 Nomor 1 April 2020
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v20i1.18296

Abstract

Abstrak. Pseudomonas aeruginosa dan Acinetobacter baumannii merupakan salah satu penyebab dari infeksi bakteri di rumah sakit. Di seluruh dunia terdapat berbagai kasus yang mana bakteri tersebut memiliki resistensi terhadap antibiotik. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mengetahui pola resistensi dari Pseudomonas aeruginosa dan Acinetobacter baumannii terhadap antibiotik, khususnya dari golongan β-laktam dan golongan aminoglikosida. Data penelitian ini didapat dari buku log isolat bakteri di Instalasi Mikrobiologi Klinik RSUD Dr. Soetomo pada periode Januari 2016-Desember 2016. Didapatkan hasil dari 63 sampel Pseudomonas aeruginosa yaitu kelompok umur yang paling rentan terhadap infeksi adalah kelompok umur 0-5 tahun (38%) diikuti kelompok umur 45 tahun (23,8%). Serupa, hasil dari 164 sampel Acinetobacter baumannii yaitu kelompok umur yang paling rentan terhadap infeksi adalah kelompok umur 0-5 tahun (32,9%) diikuti kelompok umur 45 tahun (29,9%). Dibagi menurut jenis kelamin, sampel Pseudomonas aeruginosa adalah 55,5% laki-laki dan 45,5% wanita. Untuk sampel Acinetobacter baumannii, 51,2% laki-laki dan 48,8% wanita. Pola resistensi dari Pseudomonas aeruginosa menunjukkan bahwa bakteri secara berurutan telah resisten terhadap ceftazidime (27,4%), gentamicin (24,1%), imipenem (14%), meropenem (11,7%), dan amikacin (4,9%). Sedangkan bakteri Acinetobacter baumannii sudah mengalami resistensi terhadap antibiotik ceftazidime (78,8%), gentamicin (70,1%), amikacin (51,2%), imipenem (49,3%), dan meropenem (48,1%).Kata kunci: Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannii, resistensi, antibiotikAbstract. Pseudomonas aeruginosa and Acinetobacter baumannii are one of the causes of bacterial infection in the hospital. All throughout the world there had been cases of which those bacterias have developed resistance to antibiotics. This descriptive study was aimed towards finding the resistance pattern of Pseudomonas aeruginosa and Acinetobacter baumannii to antibiotics treatment, specifically from the β-lactam group and aminoglycoside group. Data was cited from the isolate logbook of the Department of Clinical Microbiology of Dr. Soetomo General and Teaching Hospital within January 2016 – December 2016. The results from 63 samples for Pseudomonas aeruginosa showed that the most susceptible age groups were within 0-5 years of age (38%) followed by age 45 years (23,8%). Whereas the results from 164 samples for Acinetobacter baumannii the most susceptible age groups were also within 5 years of age (32,9%) followed by age 45 years (29,9%). According to gender, the Pseudomonas aeruginosa samples were 55,5% male and 45,5% female. For Acinetobacter baumannii the samples were 51,2% male and 48,8% female. Resistance patterns showed that Pseudomonas aeruginosa was resistant to ceftazidime (27,4%), gentamicin (24,1%), imipenem (14%), meropenem (11,7%), and amikacin (4,9%). Acinetobacter baumannii was resistant to ceftazidime (78,8%), gentamicin (70,1%), amikacin (51,2%), imipenem (49,3%), and meropenem (48,1%),. In conclusion, both Pseudomonas aeruginosa and Acinetobacter baumannii had shown resistance towards antibiotics, in particular towards ceftazidime, imipenem, meropenem, gentamicin, and amikacin.Keywords: Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannii, Resistance, Antibiotics
Isolasi dan Karakterisasi Protein Spesifik Pregnancy Associated Substance (PAS) Serum Sebagai Kandidat untuk Test Kebuntingan Dini pada Sapi Lokal Dasrul Dasrul; Cut Nila Thasmi; Abdul Harris
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 6, No 2 (2006): Volume 6 Nomor 2 Agustus 2006
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.  Penelitian   ini  bertujuan   untuk  rnengetahui   karakterisasi   protein   PAS  serum  sapi  bunting sebagai  kandidat  bahan  aktif  untuk  test  kebuntingan   dini  pada  sapi  Aceh, Penelitian   ini  merupakan penelitian    eksperimental     laboratorium    dengan    menggunakan     serum   darah   sapi   bunting    yang diperoleh   dari  petemakan   masyarakat   disekitar   Darussalam-Banda    Aceh.  Preparasi   dan  ekstraksi protein  PAS dilakukan   dengan  mengunakan   metode  sonikasi  dan identifikasi   protein  PAS dilakukan dengan   elektroferosis     rnelalui   SDS-PAGE    dan   Western   bloting.    Sedangkan    uji   kadar   protein dilakukan   rnelalui metode biuret.  Hasil  penelitian  menunjukan  bahwa  serum  darah  sapi bunting  dapat memproduksi   epitop  protein  PAS,  dengan  berat  molekul  protein  PAS    sebesar  65, 15 kDa.   Protein PAS  serum  darah  dapat   menginduksi   antibodi   terhadap   PAS  yang  efektif  sebagai   bahan  bioaktif deteksi  kebuntingan  dini pada sapi Aceh.  (JKS  2006; 2:59-68)  Kata Kunci: kotiledon  sapi aceh,  protein  PAS,  anti-PAS,  deteksi  dini kebuntinganAbstract.    This research  was aimed  to study  the characteristic   of PAS protein  of serum as a candidate of active  material  for early  detection   of cow  pregnancy.   This  study  was  conducted  as a  laboratory experimental   by using  serum  of pregnant  cow,  which  was  obtained  from  livestoxk  in Darussalam- Banda   Aceh.   Preparation   and  extraction    of  PAS   protein  ··were  performed    using  sonication   and identification    of  PAS   protein,   by  SDS-PAGE   electrophoresis    and  Western   blotting.   The  results showed   that  serum  is able  to produce   the epitope  of PAS protein.  The  weight  of molecule  of PAS protein  epitope  was  6~, 15 kDa.  PAS  protein  of serum  could  cause  an induction  of antibody  to PAS, which   is effective  as a bioactive  material  for early detection  of cow pregnancy.  (JKS 2006;  2:59-68)Keywords:  serum Aceh  bovine, protein  PAS, Anti PAS  and early pregnant
APLIKASI SEL iPSC SEBAGAI KANDIDAT TERAPI ADJUVAN REMODELING JANTUNG PASKA INFARK MIOKARD AKUT Wira Winardi
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Penyakit jantung koroner telah diketahui sebagai salah satu masalah utama dalam pelayanan kesehatan di berbagai belahan dunia. Perkembangan terkini pengobatan Infark Miokard Akut (IMA) belum mampu menurunkan insidensi, angka rawat inap, serta angka kematian. Efek yang paling merugikan paska kejadian infark miokard akut adalah  remodeling jantung. Telah banyak penelitian yang menunjukkan potensi terapi sel punca untuk memperbaiki kerusakan jaringan jantung paska IMA. induced pluripotent stem cell (iPSC) adalah salah satu kandidat potensial sumber sel punca untuk terapi gagal jantung paska IMA. Abstract : Coronary Heart Disease is known as one of  major global health care problem. Recent advance of myocardial infarct therapy still not able to reduce incidence, hospitalization, and mortality. One of notable event following myocardial infarct is heart remodeling. Numerous of study showed stem cell potential to repair heart tissue after acute myocardial infarction. Induced pluripotent stem cell (iPSC) is one of potential candidate of stem cell resource for heart failure therapy post myocardial infarction.  
Pengaruh Dukungan Keluarga, Pengetahuan, dan Pendidikan Penderita Tuberkulosis (TB Paru) Terhadap Kepatuhan Minum Obat Dedy Syahrizal
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 10, No 3 (2010): Volume 10 Nomor 3 Desember 2010
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang masih menjadi masalah kesehatan dunia sehingga perlu mendapatkan perhatian yang besar. Sampai saat ini belum ada satu negara di dunia yang telah bebas dari penyakit TB. Di Indonesia, jumlah kasus TB merupakan peringkat ke-3 terbanyak di dunia dalam 22 negara yang dikategorikan sebagai High Burden Countries terhadap TB. Sulitnya pengobatan penderita TB menyebabkan terjadinya kegagalan pengobatan. Pengobatan yang tidak teratur, penggunaan obat anti tuberkulosis (OAT) tidak adekuat ataupun pengobatan terputus menimbulkan kuman yang resisten.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dukungan keluarga, pengetahuan dan pendidikan penderita tuberkulosis terhadap kepatuhan minum obat. Penelitian dilakukan di kota Banda Aceh dengan mengambil sampel seluruh penderita TB di tiga kecamatan yaitu Ulee Kareng, Batoh dan Kuta Alam. Penelitian dilakukan dengan metoda wawancara terpimpin. Adapun hasil yang didapat berupa 90,5% dari responden tidak patuh dalam  mengkonsumsi  obat,  33,3% responden  memiliki pendidikan menegah,  61,9%  responden  memiliki pengatahuan yang rendah tentang TB, dan 48% responden memiliki dukungan keluarga dalam tingkat sedang. Dijumpai hubungan yang bermakna antara dukungan kelurga dengan kepatuhan minum obat. Hal ini menunjukkan   bahwa   keluarga   memiliki   peranan   penting   dalam   proses   pengobatan   penderita   TB. (JKS 2010; 3:131-136) Kata Kunci: Tuberkulosis, kepatuhan minum obat, dukungan keluarga, pengetahuan, pendidikan Abstract.  Tuberculosis is the chronic infectious disease that make common health problem in the world. At the time no one country free from this disease. Indonesia is the 3rd rank of TB population in the world. The difficulties to manage this problem are make increasing of treatment failure. lngradual treatment, inadequate therapy and lost of therapy make bactery resistence. The objective in this research is to know influence of familiy support, knowlegde ang education grade in tuberculosis patient towards drugs compliance. For this purpose indepth interview has been done to all of TB patient in three district in Banda Aceh regency i.e, Ulee Kareng, Batoh and Kuta Alam. The result of this research show 90,5% respondence have no good compliance in TB treatment, 33,3% in moderate grade in education level, 61,9% have lower knowledge in TB and 48% have a moderate level in family support. It have founded relation between family support and patient compliance. The result show that family support have an impotant role in TB patient treatment. (JKS 2010; 3:131-136) Keywords: Tuberculosis, drug compliace,family support, knowledge, education
TEKNIK ANALISIS DNA DALAM MENGIDENTIFIKASI GENOTIP GOLONGAN DARAH PADA JENAZAH KASUS FORENSIK Taufik Suryadi
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 15, No 3 (2015): Volume 15 Nomor 3 Desember 2015
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Pada beberapa kasus forensik, penting sekali identifikasi golongan darah dalam kaitannya dengan kecocokan golongan darah pada barang bukti korban atau pelaku. Dalam hal identifikasi korban, seringkali tidak dapat ditegakkan melalui metode konvensional, sehingga diperlukan cara identifikasi forensik melalui analisis DNA. Teknik analisis DNA yang digunakan dalam genetika modern banyak menggunakan petanda genetik sebagai alat bantu identifikasi genotip suatu individu. Petanda genetik, biasa juga disebut dengan petanda atau marker, merupakan ekspresi pada individu yang terlihat oleh mata atau terdeteksi dengan alat tertentu, yang menunjukkan dengan pasti genotip suatu individu. Aplikasi petanda genetik sangat luas, khususnya dalam bidang medis (kedokteran) dan kepolisian dalam melakukan proses identifikasi.Kata kunci : Kasus forensik, golongan darah, analisis DNAAbstract. In some forensic cases, blood group identification is important in relation to the suitability of blood group on the evidence of the victim or the perpetrator. In terms of identification of the victim often cannot be enforced through conventional methods, so that the necessary means of forensic identification through DNA analysis. DNA analysis technique used in many modern genetics using genetic markers as tools genotypic identification of an individual. Genetic markers, also called markers or marker, is an expression of the individual that is seen by the eye or detectable by a particular tool, which shows exactly genotype of an individual. Genetic markers, also called markers or marker, is an expression of the individual that is seen by the eye or detectable by a particular tool, which shows exactly genotype of an individual. Application of genetic markers is very broad, especially in the medical field (medicine) and police in the identification process. Key word : Forensic cases, blood group, DNA analysis
TERAPI KOMBINASI MICRONEEDLE DAN PLATELET RICH PLASMA PADA SKAR AKNE Fitria Fitria
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v13i1.3432

Abstract

Abstrak. Skar akne adalah jaringan parut yang terjadi karena proses penyembuhan akne terganggu sehingga menyebabkan kelainan tekstur dan warna kulit. Skar akne dapat berpengaruh pada aspek psikologi dan sosial penderitanya sehingga penatalaksanaan yang memberikan hasil memuaskan sangat diperlukan. Terapi microneedle menyebabkan trauma kecil pada dermis akan merangsang pembentukan kolagen dan akan mengisi cekungan pada skar atrofik dengan pelepasan beberapa growth factors, selain itu dapat meningkatkan absorpsi platelet rich plasma (PRP) yang diaplikasi setelahnya yang juga mengandung berbagai macam growth factors (GF) seperti platelet derived growth factors (PDGF) dan transforming growth factors (TGF) yang bermanfaat untuk regenerasi jaringan serta memperbaiki skar atrofik. Evaluasi terapi skar akne dapat dilakukan dengan penilaian tingkat kedalaman skar dengan menggunakan program FSIA (facial skin imaging analysis) yaitu mengukur tingkat kedalaman skar yang ditangkap oleh kamera digital. Pada semua kasus yang dilakukan terapi ini menunjukkan penurunan tingkat kedalaman skar dan tidak didapatkan efek samping pada penderita. Abstract. Acne scar is the scar tissue that occurs because of impaired healing process of acne causing abnormalities of skin texture and color. Acne scars can affect the psychological and social aspect, so that the management of patients should gives satisfactory results is needed. Microneedle therapy causes little trauma to the dermis that will stimulate collagen formation and fill the hollows in atrophic scars with the release of several growth factors, and it can increase the absorption of platelet rich plasma (PRP) are applied afterwards which contains a variety of growth factors (GF) such as platelet derived growth factors (PDGF) and transforming growth factors (TGF) that useful for tissue regeneration and repair atrophic scars. Evaluation of acne scars treatment can be done with the depth of scar assessment using FSIA (facial skin imaging analysis) program which measures the depth of scars that were captured by a digital camera. In all cases that were done this therapy showed a decrease in the level depth of scars and side effects in all of the patients were not found.

Page 6 of 55 | Total Record : 545


Filter by Year

2005 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 1: April 2023 Vol 22, No 1 (2022): Volume 22 Nomor 1 Maret 2022 JKS Edisi Khusus Oktober 2022 Vol 21, No 3 (2021): Volume 21 Nomor 3 Desember 2021 Vol 21, No 2 (2021): Volume 21 Nomor 2 Agustus 2021 Vol 21, No 1 (2021): Volume 21 Nomor 1 April 2021 Vol 20, No 3 (2020): Volume 20 Nomor 3 Desember 2020 Vol 20, No 2 (2020): Volume 20 Nomor 2 Agustus 2020 Vol 20, No 1 (2020): Volume 20 Nomor 1 April 2020 Vol 19, No 3 (2019): Volume 19 Nomor 3 Desember 2019 Vol 19, No 2 (2019): Volume 19 Nomor 2 Agustus 2019 Vol 19, No 1 (2019): Volume 19 Nomor 1 April 2019 Vol 18, No 3 (2018): Volume 18 Nomor 3 Desember 2018 Vol 18, No 2 (2018): Volume 18 Nomor 2 Agustus 2018 Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018 Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017 Vol 17, No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017 Vol 17, No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 April 2017 Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016 Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016 Vol 16, No 1 (2016): Volume 16 Nomor 1 April 2016 Vol 15, No 3 (2015): Volume 15 Nomor 3 Desember 2015 Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015 Vol 15, No 1 (2015): Volume 15 Nomor 1 April 2015 Vol 14, No 3 (2014): Volume 14 Nomor 3 Desember 2014 Vol 14, No 2 (2014): Volume 14 Nomor 2 Agustus 2014 Vol 14, No 1 (2014): Volume 14 Nomor 1 April 2014 Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013 Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013 Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013 Vol 12, No 3 (2012): Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012 Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 Nomor 1 April 2012 Vol 11, No 3 (2011): Volume 11 Nomor 3 Desember 2011 Vol 11, No 2 (2011): Volume 11 Nomor 2 Agustus 2011 Vol 11, No 1 (2011): Volume 11 Nomor 1 April 2011 Vol 10, No 3 (2010): Volume 10 Nomor 3 Desember 2010 Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010 Vol 10, No 1 (2010): Volume 10 Nomor 1 April 2010 Vol 9, No 3 (2009): Volume 9 Nomor 3 Desember 2009 Vol 9, No 2 (2009): Volume 9 Nomor 2 Agustus 2009 Vol 9, No 1 (2009): Volume 9 Nomor 1 April 2009 Vol 8, No 3 (2008): Volume 8 Nomor 3 Desember 2008 Vol 8, No 2 (2008): Volume 8 Nomor 2 Agustus 2008 Vol 8, No 1 (2008): Volume 8 Nomor 1 April 2008 Vol 7, No 3 (2007): Volume 7 Nomor 3 Desember 2007 Vol 7, No 2 (2007): Volume 7 Nomor 2 Agustus 2007 Vol 7, No 1 (2007): Volume 7 Nomor 1 April 2007 Vol 6, No 3 (2006): Volume 6 Nomor 3 Desember 2006 Vol 6, No 2 (2006): Volume 6 Nomor 2 Agustus 2006 Vol 6, No 1 (2006): Volume 6 Nomor 1 April 2006 Vol 5, No 1 (2005): Volume 5 Nomor 1 April 2005 More Issue