cover
Contact Name
Rahma Oktavia
Contact Email
mscjournal35@gmail.com
Phone
+6287847363862
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, 3 Kota Bandar Lampung 5247
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Medical Surgical Concerns
ISSN : 27978400     EISSN : 27978419     DOI : https://doi.org/10.56922/msc.v3i1
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian dibidang keperawatan medikal bedah pada klien dewasa yang mengalami dan atau cenderung mengalami perubahan fisiologi dengan atau tanpa gangguan struktur tanpa trauma atau penyakit-penyakit yang sering/umum terjadi. Pembahasan berfokus pada konsep dan prinsip keperawatan dengan gangguan fungsi tubuh meliputi gangguan system pernapasan, hematologi, imunologi, muskuloskeletal, penglihatan, THT, kardiovaskular, endokrin, pencernaan, perkemihan dan klien dengan penyakit akut dan kronis. Desain penelitian kuantitatif quasi eksperimen dan sistematik review. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juni dan Desember
Articles 30 Documents
Pengaruh komunikasi persuasif terhadap tingkat pengetahuan pada pasien tuberkulosis paru Afrida, Afrida; Sari, Lolita; Nuryani, Dina Dwi
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v4i2.698

Abstract

Absract Background: Tuberculosis (pulmonary TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis. Purpose: To determine the effect of the level of knowledge of pulmonary TB patients. Method: Quantitative research design using quasi experiment. The population is outpatients (pulmonary poly) who are still being treated at RSPBA, the sample size is 30 participants divided into 3 groups and each group contains 10 participants. The intervention of each group is different, namely by carrying out linear communication interventions, interactional communication interventions and transactional communication. Univariate data analysis obtained the average value of pre-test and post-test, bivariate analysis using t-test and multivariate. There is an influence on the level of knowledge that undergoes linear communication interventions, interactional communication interventions and transactional communication interventions. Results: Based on multivariate analysis with annova, it was found that there was no dominant communication on the knowledge level of pulmonary tuberculosis patients. There is an effect on the level of knowledge after the intervention of linear communication, interactional communication and transactional communication with a p-value <0.05. Based on the results of research on knowledge in the Transactional group, there was a significant influence between before the intervention and after the intervention, with a p value of 0.000 (p <0.05). Conclusion: Analysis used One way ANOVA. For health workers at Pertamina Bintang Amin Hospital, they can apply transactional communication in order to increase the knowledge of pulmonary TB patients in particular.   Pendahuluan: Tuberkulosis (Tb Paru) merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan pasien TB Paru. Metode: Desain penelitian kuantitatif menggunakan kuasi eksperimen. Populasinya adalah pasien rawat jalan (Poli paru) yang masih dalam pengobatan di RSPBA, jumlah sampelnya adalah 30 partisipan dikelompokkan menjadi 3 kelompok dan masing-masing kelompok berisi 10 peserta. Intervensi tiap kelompok berbeda-beda, yaitu dengan melakukan intervensi komunikasi linier, intervensi komunikasi interaksional dan komunikasi transaksional. Analisis data univariat didapatkan nilai rata-rata pre test dan post test, analisis bivariat menggunakan uji t dan multivariat. Terdapat pengaruh tingkat pengetahuan yang menjalani intervensi komunikasi linier, intervensi komunikasi interaksional dan intervensi komunikasi transaksional. Hasil: Berdasarkan analisis multivariat dengan annova, ditemukan bahwa tidak ada komunikasi yang dominan terhadap tingkat pengetahuan pasien tb paru. Terdapat pengaruh tingkat pengetahuan setelah dilakukan intervensi komunikasi linier, komunikasi interaksional dan komunikasi transaksional dengan p-value <0.05. Berdasarkan hasil penelitian tentang pengetahuan pada kelompok transaksional terjadi pengaruh yang signifikan antara sebelum dilakukan intervensi dan sesudah dilakukan intervensi, dengan p value 0.000 (p<0.05). Simpulan: Analisis menggunakan One way ANOVA. Bagi tenaga kesehatan di RS Pertamina Bintang Amin bisa menerapkan komunikasi transaksional dalam rangka meningkatkan pengetahuan pasien tb paru khususnya.
Hubungan Frekuensi Konsumsi Kopi Dengan Gejala Gastritis Pada Mahasiswa Sutrisno; Murti, Rizal Indera Permana Bayu; Putra, Fajar Alam
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): June Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i1.1297

Abstract

Background: Gastritis is a disorder of the human digestive system. It is a lifelong, serious disease that many people experience. Coffee drinking is a contributing factor to gastritis due to its caffeine content, which can affect stomach acid. Common symptoms of gastritis include abdominal discomfort, bloating, nausea, headaches that interfere with daily activities, vomiting, and burning or stinging pain. Purpose: To determine the relationship between coffee consumption frequency and gastritis symptoms in students at the Faculty of Science, Technology, and Health, Sahid University, Surakarta. Method: This is a descriptive analytical study with a cross-sectional design, with a population of 93 students. A sample size of 56 was used, with a non-probability sampling method. The instruments used were a gastritis symptom questionnaire and a coffee consumption frequency questionnaire. The statistical test used was the Kendall-tau test. Results: The Kendall-tau correlation test showed a relationship between the frequency of coffee consumption and gastritis symptoms. The p-value was 0.002, lower than 0.05, and the r-value was 0.401. Conclusion: There is a correlation between the frequency of coffee consumption in college students and their gastritis symptoms, with a moderate correlation. Keywords: College Students; Frequency of Coffee Consumption; Gastritis Symptoms.   Pendahuluan: Gastritis merupakan salah satu gangguan yang terjadi pada sistem pencernaan manusia. Gastristis menjadi salah satu penyakit sepanjang umur hidup, penyakit cukup serius yang banyak dialami seseorang. Kebiasaan minum kopi menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya gastritis karena kandungan kafein didalamnya yang dapat mempengaruhi asam lambung. Gejala umum yang terjadi pada penderita gastritis adalah rasa tidak nyaman pada perut, perut kembung, mual dan sakit kepala yang menggangu aktivitas sehari – hari, muntah, perih atau sakit seperti terbakar pada perut. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara frekuensi konsumsi minum kopi dengan gejala gastritis pada mahasiswa Fakultas Sains , Teknologi dan Kesehatan  Universitas Sahid Surakarta. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan  desain studi potong lintang, dengan jumlah populasi 93 mahasiswa. Sampel yang digunakan 56, dengan metode pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesiner gejala gastritis dan kuesioner frekuensi konsumsi kopi. Uji ststistik yang digunakan dengan uji Kendall tau Hasil: Hasil uji korelasi kendall tau menunjukan hubungan frekuensi konsumsi kopi dan gejala gastritis didapatkan nilai p sebesar 0.002, lebih rendah dari 0.05, dan nilai r sebesar 0.401. Simpulan: Terdapat korelasi antara frekuensi konsumsi kopi pada  mahasiswa dengan gejala gastritis yang dialami, hubungan pada tingkat sedang. Kata Kunci: Frekuensi Konsumsi Kopi; Gejala Gastritis; Mahasiswa.
Modification of deep breathing relaxation techniques on the osce participants’ anxiety level: a randomized control trial Nurhilmiah, Tia; Alamsyah, Azhar; Novryanthi, Dhinny
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): June Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i1.1321

Abstract

Background: The final semester exam for students is a stressor that causes anxiety. The semester’s final exam can be theoretical and practice exams. The practice exam is an evaluation to know nursing students' skills before practicing in healthcare facilities. The method to evaluate students’ skills is Objective Structured Clinical Examination (OSCE) Purpose: To determine the effect of modified deep breathing relaxation techniques on the anxiety levels of (OSCE) participants through a randomized controlled trial design. Method: A randomized control trial of the parallel groups. The number of samples was 36 respondents. Data analysis using shapiro wilk, Levene test, paired t-test, independent t-test, and Cohen’s d. Results: the mean of anxiety decreased from 66.72 (3.2) to 53.72 (5.8) in the experimental group with a p-value is 0.000. On the other hand, the mean of anxiety increased from 43.17 (7.5) to 48.39 (9.3) in the control group with a p-value of 0.017. Additional data showed that the p-value of experimental vs control is 0.000, meaning there is a difference in score anxiety between the experimental and control group with an effect size is 0.5 (medium). Conclusion: A significant effect of modification of deep breathing relaxation on the anxiety level of students facing the OSCE exam.  Keywords: Anxiety; Deep Breathing Relaxation Technique; Dzikr; OSCE.
Pengaruh emotional freedom technique (eft) terhadap tingkat kecemasan pasien dengan hemodialisis Kumara, Ryan Aditya; Sutrisno; Widiyono, Widiyono
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): June Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i1.1330

Abstract

outside the body. This action can cause psychological and physical stress that interferes with the neurological system, including; disorientation, tremors and decreased concentration and anxiety. Anxiety can have an impact on behavior such as withdrawing from the environment, difficulty focusing on activities, difficulty eating, irritability, low control of anger emotions, sensitivity, difficulty sleeping. One way to reduce anxiety is to do emotional freedom technique (EFT). Non-invasive action to balance the body's natural meridian energy when symptoms of physical and emotional decline occur. Purpose: To determine the effect of EFT therapy on anxiety levels in patients with chronic kidney failure with hemodialisis. Method: The type of research is pre-experimental with one group pretest-posttest design. The population in this study were patients undergoing hemodialisis in the ICU Rooms. The research sample used was 27 respondents. Data were analyzed using the Wilcoxon signed rank test. Results: The study showed that anxiety before and after the EFT intervention decreased with median score 22 before intervention and 15 after interventiio. The results of the Wilcoxon signed rank test obtained a p value of 0.001 Conclusion: There is an effect of emotional freedom technique on anxiety in patients undergoing hemodialisis. Keywords: Anxiety; Chronic Kidney Disease; Emotional Freedom Technique; Hemodialisis; Paliative.   Pendahuluan: Hemodialisis merupakan proses pembersihan darah dari zat-zat sampah melalui proses penyaringan diluar tubuh.  Tindakan ini dapat menimbulkan stres psikologis dan fisik yang mengganggu sistem neurologi antara lain; diorientasi, tremor dan penurunan konsentrasi dan kecemasan. Cemas dapat berdampak pada perilaku seperti menarik diri dari lingkungan, sulit fokus dalam beraktifitas, susah makan, mudah tersinggung, rendahnya pengendalian emosi amarah, sensitive, susah tidur. Salah satu cara untuk mengurangi kecemasan yaitu melakukan emotional freedom technique (EFT). Tindakan non invasive untuk menyeimbangkan energi meridian alam tubuh ketika terjadi gejala-gejala kemunduran fisik dan emosional. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh terapi EFT terhadap tingkat kecemasan pada pasien Gagal ginjal kronik dengan Hemodialisis. Metode: Jenis penelitian adalah pre eksperimental dengan desain one group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani hemodilisis di Ruang ICU. Sampel penelitian yang digunakan adalah 27 responden. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon signed rank test. Hasil: Penelitian menunjukkan kecemasan sebelum dan setelah intervensi EFT mengalami penurunan dengan nilai median sebelum intervensi 22 dan setelah intervensi 15. Hasil uji dengan Wilcoxon signed rank test didapatkan nilai p: 0.001 Simpulan: Ada pengaruh emotional freedom technique terhadap kecemasan pada pasien yang menjalani hemodialisis. Kata Kunci: Emotional Freedom Technique; Gagal Ginjal Kronik; Hemodialisis; Kecemasan; Paliatif.
Hubungan health literacy dengan manajemen diri pada pasien chronic kidney disease yang menjalani hemodialisis Ni Komang Emi Trisnawati; Dewa Putu Arwidiana; Wati, Ni Made Nopita Wati
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): June Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i1.1334

Abstract

Background: Patients with CKD undergoing hemodialysis require good self-management skills to maintain quality of life and prevent complications. One factor that influences the success of self-management is the level of health literacy, namely the individual's ability to access, understand, and use health information. Purpose: To determine the relationship between health literacy and self-management in CKD patients undergoing hemodialysi. Method: A descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 112 CKD patients undergoing hemodialysis, selected using a purposive sampling technique. The instruments used included health literacy and self-management questionnaires. Data analysis was performed using the Rank Spearman correlation test. Results: There was a significant relationship between health literacy and self-management in CKD patients undergoing hemodialysis (p <0.05). Patients with high levels of health literacy tend to have better self-management skills. Conclusion: Health literacy plays an important role in improving the self-management skills of hemodialysis patients. Improving health literacy through appropriate education can be an effective strategy in supporting long-term care of CKD patients. Keyword: Chronic Kidney Disease; Health Literacy; Hemodialysi; Self-Management.   Pendahuluan: Pasien dengan penyakit CKD yang menjalani hemodialisis memerlukan kemampuan manajemen diri yang baik untuk menjaga kualitas hidup dan mencegah komplikasi. Salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan manajemen diri adalah tingkat literasi kesehatan (health literacy), yaitu kemampuan individu dalam mengakses, memahami, dan menggunakan informasi kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara health literacy dengan manajemen diri pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis. Metode: Desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 112 pasien CKD yang menjalani hemodialisis, dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner health literacy dan manajemen diri. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara health literacy dengan manajemen diri pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis (p <0.05). Pasien dengan tingkat literasi kesehatan yang tinggi cenderung memiliki kemampuan manajemen diri yang lebih baik. Simpulan: Health literacy berperan penting dalam meningkatkan kemampuan manajemen diri pasien hemodialisis. Peningkatan literasi kesehatan melalui edukasi yang tepat dapat menjadi strategi efektif dalam mendukung perawatan jangka panjang pasien CKD. Kata Kunci: Health Literacy; Hemodialis; Manajemen Diri; Penyakit Gagal Ginjal Kronik.
Hubungan mekanisme koping dengan burnout pada perawat I Putu Eka Yoga Pratama; Dewa Putu Arwidiana; Ni Made Nopita Wati
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i2.1380

Abstract

Background: High workload for a long period of time, the risk of contracting diseases from patients, uncomfortable workplaces, lack of time to complete tasks, and ineffective coping mechanisms during work can trigger nurses to experience burnout. Purpose: To determine the relationship of coping mechanisms with burnout in nurses who treat patients. Method: A descriptive correlational study using a cross-sectional approach. The total sampling technique involved a population of 48 people. A questionnaire was used as the instrument. Data were analyzed using the Spearman Rank Test. Results: The study showed that most coping mechanisms were categorized as adaptive coping mechanisms (56.3%), and most nurses had low levels of burnout (58.3%). The analysis showed a p-value of 0.003, indicating a relationship between coping mechanisms and burnout in nurses caring for patients. The correlation strength was 0.424 (moderate strength) with a negative correlation. The results of this study indicate a relationship between coping mechanisms and burnout in nurses, indicating that the quality of coping mechanisms will influence the level of burnout in nurses. Conclusion: It is recommended that nursing departments organize activities that can enhance coping mechanisms, such as family gatherings or capacity building to foster a sense of community.   Keywords: Burnout; Coping Mechanisms; Nurses.   Pendahuluan: Beban kerja yang tinggi dalam jangka waktu yang lama, risiko tertular penyakit dari pasien, tempat kerja yang tidak nyaman, kuranngnya waktu untuk menyelesaikan tugas, dan mekanisme koping yang tidak efektif selama masa bekerja dapat memicu perawat mengalami burnout. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan mekanisme koping dengan burnout pada perawat yang menangani pasien. Metode: Deskriptif korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik total sampling dengan jumlah populasi sebanyak 48 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji Rank Spearman. Hasil: Mekanisme koping sebagian besar memiliki kategori mekanisme koping adaptif (56.3%), dan sebagian besar perawat memiliki tingkat burnout yang rendah (58.3%). Hasil Analisa menunjukan nilai p=0.003 yang berarti ada hubungan antara mekanisme koping dengan burnout pada perawat yang menangani pasien. Nilai kekuatan korelasi 0.424 (kekuatan sedang) dengan arah korelasi bernilai negatif. Hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara mekanisme koping dengan burnout pada perawat menandakan jika baik buruknya mekanisme koping akan mempengaruhi tinggi rendahnya burnout pada perawat. Simpulan: Bidang perawatan agar mengadakan kegiatan yang bisa meningkatkan mekanisme koping seperti family gatring atau capacity building untuk meningkatkan rasa kebersamaan.   Kata Kunci: Burnout; Mekanisme Koping; Perawat.
Analisis asuhan keperawatan pada pasien dengan kegawatdaruratan sistem kardiovaskuler berbasis teori adaptasi calista roy Lilik Sriwiyati; Utami, Ayuni Rizka; Oktiva, Yayuk Dwi; Wariani, Wiwik
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i2.2042

Abstract

Background: Cardiovascular emergencies are a leading cause of mortality and morbidity in Indonesia and worldwide. Approximately 80% of sudden deaths are caused by coronary heart disease. Nurses play an important role in the management of patients experiencing cardiovascular emergencies. Consistent and comprehensive implementation of the emergency nursing process is key to providing quality nursing care. Purpose: to analyze nursing care for patients with cardiovascular emergencies. Method: A case study design. Data were collected through direct observation, interviews with patients and families, and review of medical records. Variables collected included medical diagnoses, assessment data, physical examination and supporting examination results, problem analysis, interventions, implementation, and nursing evaluation. Results: STEMI patients experience chest pain, shortness of breath, cold sweats, ST elevation on electrocardiography, and elevated troponin levels. The nursing problem identified is ineffective myocardial perfusion. The actions taken included administering nasal cannula oxygen therapy at 3 lpm, recording a 12-lead ECG, administering ASA 300 mg, CPG 300 mg, parenteral fluids, ISDN 5 mg (sublingual), Candesartan 8 mg, inserting a urinary catheter, and observing vital signs. Evaluation after treatment in the ER showed that the problem of ineffective myocardial perfusion was partially resolved, so the patient was admitted to the ICCU for further treatment. Conclusion: Patients with cardiovascular emergencies experience ineffective myocardial tissue perfusion. Patients are given several treatments to address their emergency conditions, including ASA, CPG, ISDN, and Candesartan therapy. Keywords: Cardiovascular System; Emergency Care; Nursing Care.   Pendahuluan: Kegawatdaruratan sistem kardiovaskular merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas utama di Indonesia dan di dunia. Sekitar 80% kematian mendadak disebabkan oleh penyakit jantung coroner. Perawat memiliki peran yang penting dalam penanganan pasien yang mengalami kegawatdaruratan sistem kardiovaskular. Penerapan proses keperawatan gawat darurat secara konsisten dan komprehensif menjadi kunci keberhasilan dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas. Tujuan: Untuk menganalisis asuhan keperawatan pada pasien kegawatdaruratan sistem kardiovaskuler. Metode: Desain studi kasus. Data dikumpulkan dengan melakukan observasi langsung, wawancara dengan pasien dan keluarga, serta review rekam medis. Variabel yang dikumpulkan meliputi diagnosa medis, data hasil pengkajian, hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, analisis masalah, intervensi, implementasi, serta evaluasi keperawatan. Hasil: Pasien STEMI mengalami manifestasi nyeri dada, sesak napas, keringat dingin, Gambaran ST elevasi pada elektrokardiografi, serta adanya peningkatan troponin. Masalah keperawatan yang ditemukan adalah perfusi jaringan miokard tidak efektif. Tindakan yang dilakukan berupa pemberian terapi oksigen nasal canul 3 lpm, perekaman EKG 12 lead, pemberian terapi ASA 300 mg, CPG 300 mg, cairan parenteral, ISDN tab 5 mg (sub lingual), Candesartan 8 mg, pemasangan kateter urin dan observasi TTV. Evaluasi setelah dilakukan perawatan di UGD didapatkan hasil masalah perfusi jaringan miokard tidak efektif teratasi sebagian, maka untuk perawatan lebih lanjut pasien dirawat di ICCU Simpulan. Pasien dengan kegawatdaruratan sistem kardiovaskuler mengalami masalah perfusi jaringan miokard tidak efektif. Pasien diberikan beberapa tindakan untuk menangani kondisi kegawatdaruratannya berupa pemberian terapi ASA, CPG, ISDN, dan Candesartan. Kata Kunci: Asuhan Keperawatan; Kegawatdaruratan; Sistem Kardiovaskuler.
The allergic potential and xenobiotic metabolism of anethole in toothpaste: A scoping review Lina Nur Laili; Muhammad Bintang Fattan
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i2.2134

Abstract

Background: Ingredients that have a role as fragrance and flavoring in toothpaste have the potential to cause allergies and irritation to the body, especially to the mucous tissue in the mouth. Diseases of the oral mucosa are very common: recurrent aphthous stomatitis (recurrent oral ulceration) affects 20% of the population. Therefore, allergenic substances such as anethole toothpaste on the patient's oral symptoms (stomatitis, glossitis, gingivitis, buccal mucositis, burning, pain, and possibly burning mouth syndrome and recurrent aphthous ulcers) are unclear and should be further investigated. Purpose: To investigate and provide further explanation of our body's xenobiotic metabolic reactions to anethole. Method: We collected and analyzed several research journal articles related to the effects of anethole compounds. Results: The majority of articles indicated the role of the tiny anethole as an allergen. The dose of anethole which is generally contained in toothpaste normally is really low so that within an average of 72 hours it is likely to have been completely eliminated from the body's system. Conclusion: Claims of anethole compound C10H12O as a cause of irritation or inflammation are inaccurate and considered too explicit as the main factor causing allergies. Keywords: Allergen; Anethole; Metabolism; Toothpaste;  Xenobiotic.
Hubungan antara konsumsi minuman berkafein dengan pola tidur pada mahasiswa keperawatan Herliana, Sovitri; Murtando, Jelita Ghina
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i2.2135

Abstract

Background: Caffeine in low doses can have positive and negative effects on a person's body. The main pharmacological effect of caffeine is an adenosine receptor antagonist that can affect the function of the central nervous system and can disrupt sleep quality and will affect sleep patterns, sleep should be important to maintain physical, mental and emotional health. Purpose: To determine the relationship between caffeine consumption and sleep patterns. Method: An analytical method with a cross-sectional approach. The population is all students of the Faculty of Nursing class of 2025. With a total sampling technique, a total of 142 students. Data collection methods use primary data and interviews. Results: The 34 students who do not consume caffeine, there are 12 (35.3%) students who have poor sleep patterns, while 22 (64.7%) students have good sleep patterns. Conclusion: There is a significant relationship between caffeine consumption and sleep patterns.   Keywords: Caffeine; Caffeine Consumption; Sleep Patterns.   Pendahuluan: Kafein dalam dosis rendah dapat memiliki efek positif dan negatif pada tubuh seseorang. Efek farmakologis utama kafein adalah antagonis reseptor adenosin yang dapat memengaruhi fungsi sistem saraf pusat dan dapat mengganggu kualitas tidur serta memengaruhi pola tidur, padahal tidur sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan emosional. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara konsumsi kafein dan pola tidur. Metode: Analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh mahasiswa Fakultas Keperawatan angkatan 2025. Dengan teknik pengambilan sampel total, sebanyak 142 mahasiswa. Metode pengumpulan data menggunakan data primer dan wawancara. Hasil: Dari 34 mahasiswa yang tidak mengonsumsi kafein, terdapat 12 (35.3%) mahasiswa yang memiliki pola tidur buruk, sedangkan 22 (64.7%) mahasiswa memiliki pola tidur baik. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi kafein dan pola tidur. Kata Kunci: Kafein; Konsumsi Kafein; Pola Tidur.
Analisa bagan teori human caring model jean watson Ula, Shiva Zakiyatul; Irna Nursanti, Irna Nursanti
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i2.2216

Abstract

Background: The shift in the healthcare paradigm requires nursing practice to focus not only on curative aspects but also on the emotional, social, and spiritual dimensions of patients. Jean Watson’s Human Caring Theory places caring at the core of nursing through a transpersonal relationship between nurses and patients to achieve holistic healing. Purpose: To analyze the application of Jean Watson’s Human Caring Theory in nursing care for post-mastectomy breast cancer patients and to evaluate its contribution to fulfilling patients’ biophysical, psychosocial, and spiritual needs. Method: This study employed a case study design with a holistic nursing approach based on Jean Watson’s Human Caring Theory. Nursing care was provided by integrating the ten Carative Factors into the processes of assessment, diagnosis, intervention, implementation, and evaluation. Results: The application of the Human Caring Theory demonstrated improvements in patients’ psychological and spiritual well-being, as evidenced by reduced anxiety, increased self-acceptance, and the emergence of meaning in life and hope. Additionally, a stronger therapeutic relationship between nurses and patients was established, accompanied by improvements in physical condition and adherence to care. Conclusion: Jean Watson’s Human Caring Theory is effective as a philosophical and ethical foundation for nursing practice, particularly in post-mastectomy patients. This approach supports holistic healing by integrating physical, psychological, social, and spiritual aspects, thereby restoring the essence of nursing as a profession grounded in humanistic values.   Keywords: Human Caring; Nursing; Theory Chart.   Pendahuluan: Pergeseran paradigma pelayanan kesehatan menuntut praktik keperawatan yang tidak hanya berfokus pada aspek kuratif, tetapi juga memperhatikan dimensi emosional, sosial, dan spiritual pasien. Teori Human Caring Jean Watson menempatkan caring sebagai inti keperawatan melalui hubungan transpersonal antara perawat dan pasien guna mencapai penyembuhan holistik. Tujuan: Untuk menganalisis penerapan Teori Human Caring Jean Watson dalam asuhan keperawatan pada pasien kanker payudara pasca mastektomi serta mengevaluasi kontribusinya terhadap pemenuhan kebutuhan biofisikal, psikososial, dan spiritual pasien. Metode: Studi kasus dengan pendekatan keperawatan holistik berdasarkan Teori Human Caring Jean Watson. Asuhan keperawatan diberikan dengan mengintegrasikan sepuluh Carative Factors dalam proses pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan. Hasil: Penerapan Teori Human Caring menunjukkan peningkatan kesejahteraan psikologis dan spiritual pasien, tercermin dari menurunnya kecemasan, meningkatnya penerimaan diri, serta munculnya makna hidup dan harapan. Selain itu, terjalin hubungan terapeutik yang lebih kuat antara perawat dan pasien, disertai perbaikan kondisi fisik dan kepatuhan pasien terhadap perawatan. Simpulan: Teori Human Caring Jean Watson efektif sebagai landasan filosofis dan etis dalam praktik keperawatan, khususnya pada pasien pasca mastektomi. Pendekatan ini mampu mendukung penyembuhan holistik dengan mengintegrasikan aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual, serta mengembalikan esensi keperawatan sebagai profesi yang berfokus pada nilai kemanusiaan.   Kata Kunci: Bagan Teori; Human Caring; Keperawatan.

Page 3 of 3 | Total Record : 30