cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 487 Documents
Analisis hambatan perilaku pencegahan gangguan pendengaran nelayan pesisir: Sebuah tinjauan sistematis dan sintesis kritis Hanis, Iin Fatimah; Zamli, Zamli
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2051

Abstract

Backgoround: Behavioral barriers to hearing loss prevention among coastal fishers in Palopo are an increasingly pressing issue requiring a systematic review due to the high occupational noise exposure experienced by this group and its long-term consequences on hearing health, occupational safety, and quality of life. Various studies have shown that fishers and maritime industry workers are at high risk of developing noise-induced hearing loss (NIHL) due to exposure to high-intensity and repeated noise from ship engines, fishing gear, and the challenging acoustic dynamics of the maritime work environment. Purpose: To identify and synthesize behavioral barriers to hearing loss prevention among coastal fishers. Method: This study was designed as a systematic review with critical synthesis that integrates cross-study findings on risk perceptions, behavioral barriers, and hearing loss prevention efforts among coastal fishers, following the study selection and analysis framework described in the available references. The research design followed a query transformation stage that formulated the primary research focus into several search questions, such as noise risk perceptions, factors influencing prevention behavior, barriers to hearing protection use, and the success and limitations of educational interventions. Results: Low risk perception, discomfort of protective equipment, unsupportive social norms, and limited organizational structures are key factors hindering preventive behavior. Furthermore, educational interventions reportedly increase knowledge but do not always directly influence behavioral change without adequate tools and policies. Conclusion: This study confirms that preventing hearing loss among fishers requires a multidimensional approach encompassing individual, social, cultural, and organizational factors. This research makes an important contribution to broadening our understanding of the dynamics of preventive behavior in the context of maritime communities and provides a basis for developing more effective and contextualized hearing protection interventions and policies.   Keywords: Fishermen; Hearing Loss; Preventive Behavior.   Pendahuluan: Hambatan perilaku pencegahan gangguan pendengaran pada nelayan pesisir Palopo merupakan isu yang semakin mendesak untuk ditelaah secara sistematis karena tingginya paparan kebisingan kerja yang dialami kelompok ini dan konsekuensi jangka panjang yang ditimbulkannya terhadap kesehatan pendengaran, keselamatan kerja, serta kualitas hidup. Berbagai studi telah menunjukkan, bahwa nelayan dan pekerja industri maritim berada pada risiko signifikan untuk mengalami noise-induced hearing loss (NIHL) akibat paparan kebisingan intensitas tinggi dan berulang dari mesin perahu, alat tangkap, dan lingkungan kerja laut yang dinamika akustiknya sangat menantang. Tujuan: Untuk mengidentifikasi dan mensintesis hambatan perilaku pencegahan gangguan pendengaran pada nelayan pesisir. Metode: Penelitian ini dirancang sebagai tinjauan sistematis dengan sintesis kritis yang mengintegrasikan temuan lintas studi mengenai persepsi risiko, hambatan perilaku, dan upaya pencegahan gangguan pendengaran pada nelayan pesisir, sesuai kerangka seleksi dan analisis studi yang telah dijelaskan dalam referensi yang tersedia. Desain penelitian ini mengikuti tahapan transformasi kueri yang memformulasikan fokus utama penelitian menjadi beberapa pertanyaan pencarian, seperti persepsi risiko terhadap kebisingan, faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pencegahan, hambatan penggunaan alat pelindung pendengaran, serta keberhasilan dan keterbatasan intervensi pendidikan. Hasil: Persepsi risiko yang rendah, ketidaknyamanan alat pelindung, norma sosial yang tidak mendukung, serta keterbatasan struktur organisasi menjadi faktor utama yang menghambat perilaku pencegahan. Selain itu, intervensi pendidikan dilaporkan meningkatkan pengetahuan tetapi tidak selalu berpengaruh langsung terhadap perubahan perilaku tanpa dukungan alat dan kebijakan yang memadai. Simpulan: Penelitian menegaskan bahwa pencegahan gangguan pendengaran pada nelayan memerlukan pendekatan multidimensional yang mencakup faktor individual, sosial, budaya, dan organisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperluas pemahaman mengenai dinamika perilaku pencegahan dalam konteks komunitas maritim serta menyediakan dasar bagi pengembangan intervensi dan kebijakan perlindungan pendengaran yang lebih efektif dan kontekstual.   Kata Kunci: Gangguan Pendengaran; Nelayan; Perilaku Pencegahan.
Hubungan antara perilaku sedentari dengan status gizi pada pelajar Therianto, Febrina Melly Chriesanty; Musa, Ester Candrawati; Langi, Fima Lanra Fredrik Gerarld
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2052

Abstract

Background: Sedentary behavior, or a lack of movement, can have negative health consequences if allowed to persist over time. One impact of sedentary behavior is nutritional status. Teenagers who are sedentary are also at higher risk of obesity and non-communicable diseases (chronic illnesses). Purpose: To analyze the relationship between sedentary behavior and nutritional status. Method: This quantitative research used a cross-sectional approach. The population studied were students at State Senior High School 2 Tondano in July-September 2025. The sample used was 88 respondents selected through a total sampling technique. The instruments used were the Physical Activity Questionnaire of Adolescents (PAQ-A) questionnaire to observe physical activity and assess sedentary behavior of students in adolescence, and a height and weight measuring instrument to measure nutritional status. Results: The average physical activity questionnaire of adolescents (PAQ-A) score of students was quite low, with results around 1.80 with a standard deviation of 0.40. The average sample student had a body mass index (BMI) in the good category (mean 22.09 ± 5.14 kg/m2). However, 14 (16%) of the sample students were in the obese category (BMI/U Z score above +2 SD). The results of the bivariate analysis obtained a p value of 0.65 (p>0.05), meaning that H0 was accepted and the hypothesis was rejected. This indicates that there is no relationship between sedentary behavior and nutritional status in students. Conclusion: The association between sedentary behavior and nutritional status was not statistically significant, but the direction of the association suggests that lower physical activity may be associated with an increased risk of overnutrition. Suggestion: Further research with longitudinal designs and more objective measures of sedentary behavior is recommended to strengthen the causal evidence.   Keywords: Nutritional Status; Sedentary Behavior; Students.   Pendahuluan: Perilaku sedentari merupakan perilaku menetap atau kurang bergerak, perilaku ini memiliki dampak buruk untuk kesehatan jika dibiarkan dalam waktu yang lama. Salah satu dampak yang dapat dipengaruhi oleh perilaku sedentari yaitu status gizi. Remaja yang kurang bergerak juga dapat berisiko lebih tinggi mengalami kegemukan, hingga berisiko mengalami penyakit tidak menular (penyakit kronis). Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara perilaku sedentari dengan status gizi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi yang diteliti adalah pelajar di SMA Negeri 2 Tondano pada bulan Juli-September 2025. Sampel yang digunakan sebanyak 88 responden yang dipilih melalui teknik total sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner physical activity questionnaire of adolescents (PAQ-A) untuk melihat aktivitas fisik dan menilai perilaku sedentari pelajar diusia remaja, alat ukur tinggi badan dan berat badan untuk mengukur status gizi. Hasil: Rata-rata skor PAQ-A pelajar cukup rendah dengan hasil di sekitar 1.80 dengan standar deviasi 0.40. Rata-rata pelajar sampel memiliki indeks massa tubuh (IMT) dalam kategori baik (mean 22.09 ± 5.14 kg/m2). Namun, sebanyak 14 responden (16%) telah berada di kategori obese (skor Z IMT/U di atas +2 SD). Hasil analisis bivariat diperoleh p value sebesar 0.65 (p>0.05), artinya H0 diterima, maka hipotesis ditolak. Hal ini menunjukkan tidak terdapat hubungan perilaku sedentaridengan status gizi pada pelajar. Simpulan: Hubungan antara perilaku sedentari dan status gizi tidak signifikan secara statistik, namun arah hubungan menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang lebih rendah mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko gizi lebih. Saran: Penelitian lanjutan dengan desain longitudinal dan pengukuran perilaku sedentari yang lebih objektif disarankan untuk memperkuat bukti kausal.   Kata Kunci: Pelajar; Perilaku Sedentari; Status Gizi.
Implementasi aplikasi “Mentari” assessment berbasis kearifan lokal Sunda pada remaja untuk peningkatan literasi dan ketahanan mental Hertini, Reni; Rohita, Tita; Wahyudin, Asep; Riyantina, Ade Sity; Cahyani, Gita; Berliani, Melin; Awaliyah, Rida Nurfarida; Mubarok, Resdyana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2055

Abstract

Background: Adolescent mental health is a critical issue currently of global, national, and local concern. According to data from the World Health Organization (WHO), more than 970 million people worldwide experience mental disorders, with depression and anxiety disorders being the two most common conditions. Specifically, the WHO states that approximately 1 in 7 adolescents aged 10–19 years experience a mental disorder. Purpose: To analyze the implementation of the "Mentari" assessment app, based on Sundanese local wisdom, for adolescents to improve mental literacy and resilience. Method: A quantitative approach with a single-group pre-posttest (single-group pretest–posttest) quasi-experimental design was used. Participants were 117 adolescents in Ciamis Regency. The sample was selected using a non-probability purposive sampling technique. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. Results: There was a significant difference between anxiety and depression levels before and after using the "Mentari" assessment app, with a downward trend. Conclusion: The "Mentari" app intervention was shown to have a significant impact on reducing participants' anxiety and depression levels. The integration of a digital approach with the cultural values ​​of silih asah, silih asih, and silih asuh makes this application effective as a medium for early detection and support for promotive-preventive mental health efforts.   Keywords: Adolescents; Digital-Based Intervention; Mental Health Literacy; Mental Resilience; Sundanese Local Wisdom.   Pendahuluan: Kesehatan mental remaja merupakan isu penting yang saat ini menjadi perhatian global, nasional, maupun lokal. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), lebih dari 970 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan mental, dengan depresi dan gangguan kecemasan sebagai dua kondisi yang paling umum. Secara khusus, WHO menyebutkan bahwa sekitar 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan mental. Tujuan: Untuk menganalisis Implementasi aplikasi “Mentari” assessment berbasis kearifan lokal Sunda pada remaja untuk peningkatan literasi dan ketahanan mental. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental pre-post single group (one-group pretest–posttest). Partisipan adalah remaja di Kabupaten Ciamis sebanyak 117 siswa. Pemilihan sampel dilakukan secara non-probabilitas purposive. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna antara tingkat kecemasan dan depresi sebelum dan sesudah penggunaan aplikasi “Mentari”  Assessment dengan arah perubahan yang cenderung menurun. Simpulan: Intervensi aplikasi “Mentari” terbukti memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan tingkat kecemasan dan depresi partisipan. Integrasi pendekatan digital dengan nilai budaya silih asah, silih asih, dan silih asuh menjadikan aplikasi tersebut efektif sebagai media deteksi dini dan pendukung upaya promotif-preventif kesehatan mental.   Kata Kunci: Intervensi Berbasis Digital; Kearifan Lokal Sunda; Ketahanan Mental; Literasi Kesehatan Mental; Remaja.
Pemanfaatan nilai kearifan lokal siri’ na pesse’ dalam pencegahan stigma remaja ODHIV: A systematic literature review Jamil, Bidasari; Zamli, Zamli
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2077

Abstract

Background: Stigma against adolescents living with Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a multidimensional problem that significantly impacts mental health, social relationships, and treatment adherence. This stigma is formed through a social construction process influenced by cultural values ​​of honor and shame, and reinforced by the dynamics of interactions on social media. Purpose: To review various literature on the use of local wisdom values ​​(siri' na pesse') in preventing stigma among adolescents living with HIV. Method: A systematic literature review (SLR) of national and international journal articles was conducted based on topic suitability, use of a theoretical framework, cultural relevance, and validity of the DOI. The data extraction process was conducted using a matrix that included study characteristics, research methods, theoretical foundations, forms of stigma, the role of cultural values, types of interventions, and their relevance to local wisdom values. Results: People living with HIV experience stigma in the form of internalized, embodied, perceived, and anticipated stigma. This stigma contributes to mental health disorders, decreased social relationships, and non-adherence to treatment. Cultural values ​​regarding honor and shame, as well as the use of social media, play a role in shaping and reproducing stigma across various communities. Identified interventions include family-based, school-based, community-based, culture-based, and digital approaches. Conclusion: The findings of this study provide a conceptual foundation for developing an intervention model to prevent stigma against people living with HIV (PLHIV) based on Siri' na Pesse' cultural values, specifically in the local context of Palopo City. Suggestion: Longitudinal studies are needed to evaluate the effectiveness of culture-based interventions in reducing long-term stigma. Future research should also explore the perspectives of health workers and teachers as key actors in shaping adolescent social norms.   Keywords: Adolescents; Local Wisdom Values; People Living with Human Immunodeficiency Virus (PLHIV).   Pendahuluan: Stigma terhadap remaja Orang Dengan Human Immunodeficiency Virus (ODHIV) merupakan permasalahan multidimensional yang berdampak signifikan terhadap kesehatan mental, relasi sosial, serta kepatuhan pengobatan. Stigma tersebut terbentuk melalui proses konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh nilai budaya kehormatan dan rasa malu, serta diperkuat oleh dinamika interaksi di media sosial. Tujuan: Untuk mengkaji berbagai literatur tentang pemanfaatan nilai kearifan lokal siri’ na pesse’ dalam pencegahan stigma remaja ODHIV. Metode: Penelitian systematic literature review (SLR) terhadap artikel jurnal nasional dan internasional yang diseleksi berdasarkan kesesuaian topik, penggunaan kerangka teori, relevansi budaya, serta validitas DOI. Proses ekstraksi data dilakukan menggunakan matriks yang mencakup karakteristik studi, metode penelitian, landasan teori, bentuk stigma, peran nilai budaya, jenis intervensi, dan relevansinya dengan nilai kearifan lokal. Hasil: Menunjukkan bahwa ODHIV mengalami stigma dalam bentuk internal, enacted, perceived, dan anticipated stigma. Stigma tersebut berkontribusi terhadap gangguan kesehatan mental, penurunan kualitas hubungan sosial, serta ketidakpatuhan terhadap pengobatan. Nilai budaya kehormatan dan rasa malu, serta penggunaan media sosial, berperan dalam membentuk dan mereproduksi stigma dalam berbagai komunitas. Intervensi yang diidentifikasi meliputi pendekatan berbasis keluarga, sekolah, komunitas, budaya, dan digital. Simpulan: Temuan penelitian ini memberikan landasan konseptual bagi pengembangan model intervensi pencegahan stigma ODHIV berbasis nilai budaya Siri’ na Pesse’, khususnya dalam konteks lokal Kota Palopo. Saran: Diperlukan studi longitudinal untuk mengevaluasi efektivitas intervensi berbasis budaya dalam mengurangi stigma jangka panjang. Penelitian selanjutnya juga perlu menggali perspektif tenaga kesehatan dan guru sebagai aktor penting dalam membentuk norma sosial remaja.   Kata Kunci: Nilai Kearifan Lokal; Orang Dengan Human Immunodeficiency Virus (ODHIV); Remaja.
Hubungan komponen health belief model (HBM) dengan kepatuhan minum obat dan tingkat stress pada pasien hipertensi Fauziah, Fauziah; Sastrawan, Sastrawan; Setiawan, Sabar; Mardani, Raden Ahmad Dedy
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2079

Abstract

Background: Hypertension is a silent killer because sufferers often do not experience any symptoms at all. Complications can occur if hypertension cannot be controlled or remains high for a long period of time. The Health Belief Model (HBM) is a model used to describe individuals' beliefs about healthy living behaviors, so that individuals will engage in healthy behaviors, which can be preventive behaviors or the use of health facilities. Purpose: To determine the relationship between components of the Health Belief Model (HBM) and medication adherence and stress levels in hypertensive patients. Method: This observational analytical study, using a cross-sectional design, was conducted at the North Batukliang District Community Health Center in hypertensive patients. A sample of 90 respondents was used. Data collection was conducted through interviews, surveys, and questionnaires. Multiple logistic regression was used as the data analysis technique. Results: Based on the results of statistical tests on the relationship between the health belief model (HBM) and medication adherence, the p-value was 0.000 (< 0.05), with an Odd Ratio (OR) = 9.425. Respondents in the high perception category were 9.425 times more likely to adhere to medication compared to those in the low perception category. The relationship between the health belief model (HBM) and stress levels yielded a p-value of 0.002 (<0.05) and an odds ratio (OR) of 4.286, indicating that respondents in the high perception category were 4.286 times more likely to experience stress than those in the low perception category. Conclusion: There is a relationship between medication adherence and stress levels with the health belief model (HBM) in hypertensive patients at the North Batukliang District Health Center. Suggestion: For future researchers, it is hoped that the research population will be larger and come from different places. Health workers should also play a role in encouraging the prevention of hypertension in healthy individuals and treatment at health centers for individuals who are already sick.   Keywords: Health Belief Model (HBM); Hypertension Patients; Medication Adherence; Stress.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit pembunuh diam-diam karena penderita sering kali tidak merasakan gejalanya sama sekali. Komplikasi dapat terjadi jika penyakit hipertensi yang tidak mampu di kontrol atau tetap terus menerus tinggi berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Health belief model (HBM) adalah suatu model yang digunakan untuk menggambarkan kepercayaan individu terhadap perilaku hidup sehat, sehingga individu akan melakukan perilaku sehat, perilaku sehat tersebut dapat berupa perilaku pencegahan maupun penggunaan fasilitas kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan komponen health belief model (HBM) dengan kepatuhan minum obat dan tingkat stress pada pasien hipertens. Metode: Penelitian analitik observasional dengan rancangan cross-sectional, dilakukan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Batukliang Utara pada pasien hipertensi. Sampel yang digunakan sebanyak 90 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, survei, dan penyebaran kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan regresi logistik berganda. Hasil: Berdasarkan uji statistik pada hubungan health belief model (HBM) dengan kepatuhan minum obat, diperoleh p-value: 0.000 (< 0.05), Odd Ratio (OR) = 9.425, responden kategori persepsi tinggi memiliki peluang 9.425 kali patuh minum obat dibandingkan kategori persepsi rendah. Dan hubungan health belief model (HBM) dengan tingkat stres diperoleh p-value: 0.002 (< 0.05), Odd Ratio (OR) = 4.286, responden kategori persepsi tinggi memiliki peluang 4.286 kali mengalami stress dibandingkan kategori persepsi rendah. Simpulan: Terdapat hubungan kepatuhan minum obat dan tingkat stres dengan health belief model (HBM) pada pasien hipertensi. Saran: Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan populasi penelitian lebih besar dan berasal dari tempat yang berbeda. Dan untuk kader supaya ikut berperan serta mendorong pencegahan penyakit hipertensi pada individu yang sehat dan pengobatan ke puskesmas untuk individu yang telah sakit.   Kata Kunci: Health Belief Model (HBM); Kepatuhan Minum Obat; Pasien Hipertensi; Stres.
Peran madu sebagai intervensi mencegah oral mukositis pada pasien kemoterapi dan radioterapi: A literature review Permai, Echia Srikandi; Huda, Nurul; Erika, Erika
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2089

Abstract

Background: Oral mucositis (OM) is a common and severe complication in cancer patients undergoing chemotherapy and radiotherapy, with a prevalence of 20-40% in chemotherapy patients and up to 90% in those receiving head and neck radiotherapy. The pathophysiology of OM involves a complex inflammatory process starting from initiation by free radicals to epithelial healing. Risk factors such as chemotherapy drug types, older age, female gender, immune status, and poor oral hygiene influence OM occurrence. Standard prevention and treatment approaches like cryotherapy, palifermin, and lidocaine are often limited by side effects and cost. Purpose: To analyze the therapeutic potential of honey as a natural agent in the prevention and management of oral mucositis among oncology patients. Method: This literature review analyzed findings from Randomized Controlled Trials (RCTs) assessing both oral and topical honey for oral mucositis management in cancer patients. Results: The review showed that honey effectively reduces the incidence and severity of OM, accelerates mucosal healing, alleviates pain, and improves patients’ quality of life. Local natural honey demonstrated more consistent results than Manuka honey, which may be cytotoxic at high concentrations. Optimal therapeutic effects were achieved through regular honey application three times daily for 2–6 weeks, primarily via modulation of inflammatory and oxidative stress pathways and stimulation of epithelial regeneration through phenolic compounds, flavonoids, and enzymatic antioxidants. Conclusion: Honey is a safe, well-tolerated, and clinically effective adjunctive therapy for preventing and managing oral mucositis in oncology patients. However, variations in honey composition and treatment protocols require further standardized clinical trials to confirm its efficacy and optimize its use.   Keywords: Chemotherapy; Honey; Inflammation; Oral Mucositis; Radiotherapy.   Pendahuluan: Oral mucositis (OM) merupakan komplikasi umum dan berat yang terjadi pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi dan radioterapi, dengan prevalensi 20–40% pada pasien kemoterapi dan mencapai 90% pada pasien yang menerima radioterapi kepala dan leher. Patofisiologi OM melibatkan proses inflamasi kompleks yang dimulai dari inisiasi oleh radikal bebas hingga penyembuhan epitel. Faktor risiko seperti jenis obat kemoterapi, usia lanjut, jenis kelamin perempuan, status imun, dan kebersihan mulut yang buruk memengaruhi terjadinya OM. Pendekatan pencegahan dan pengobatan standar seperti krioterapi, palifermin, dan lidokain seringkali terbatas karena efek samping dan biaya yang tinggi. Tujuan: Untuk menganalisis potensi terapeutik madu sebagai agen alami dalam pencegahan dan penatalaksanaan oral mucositis pada pasien onkologi. Metode: Tinjauan literatur ini menganalisis temuan dari Randomized Controlled Trials (RCT) yang menilai efektivitas madu, baik secara oral maupun topikal, dalam penatalaksanaan oral mucositis pada pasien kanker. Hasil: Madu secara efektif menurunkan insidensi dan tingkat keparahan OM, mempercepat penyembuhan mukosa, mengurangi nyeri, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Madu alami lokal menunjukkan hasil klinis yang lebih konsisten dibandingkan madu Manuka, yang pada konsentrasi tinggi dapat bersifat sitotoksik. Efek terapeutik optimal diperoleh melalui aplikasi madu secara teratur tiga kali sehari selama 2–6 minggu, terutama melalui modulasi jalur inflamasi dan stres oksidatif serta stimulasi regenerasi epitel oleh senyawa fenolik, flavonoid, dan enzim antioksidan. Simpulan: Madu merupakan terapi tambahan yang aman, dapat ditoleransi dengan baik, dan efektif secara klinis untuk pencegahan serta penanganan oral mucositis pada pasien onkologi. Namun, variasi komposisi madu dan protokol pengobatan memerlukan uji klinis lebih lanjut yang terstandarisasi untuk memastikan efektivitas dan mengoptimalkan penggunaannya.   Kata Kunci: Inflamasi; Madu; Oral mucositis; Penyembuhan; Terapi kanker.
Efektivitas electrical nerve stimulation (TENS) dalam menurunkan spastisitas pasca stroke Sibarani, Nasrani Widiyanata
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2090

Abstract

Background: Spasticity is a common complication after stroke, characterized by increased muscle tone and exaggerated tendon reflexes, which impede movement and reduce patients’ quality of life. Pharmacological therapies are often associated with side effects and relatively high costs, making non-invasive therapies such as Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) a promising alternative. Purpose: To evaluate the effectiveness of TENS in reducing spasticity in post-stroke patients. Method: Articles were searched in PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar for the period 2015–2025. Inclusion criteria included randomized controlled trials (RCTs) that measured spasticity using the Modified Ashworth Scale (MAS) or other validated instruments. Of 25 articles identified, 16 met the criteria and were analyzed narratively. Results: TENS was effective in reducing spasticity, particularly in the lower extremities and during the subacute to chronic phases, with a frequency of 100 Hz and a minimum session duration of 30 minutes. Combining TENS with other modalities, such as Neuromuscular Electrical Stimulation (NMES), Functional Electrical Stimulation (FES), or task-oriented training, produced more significant synergistic effects. Conclusion: TENS is a promising and safe rehabilitation therapy for effectively reducing post-stroke spasticity.   Keywords: Electrical Nerve Stimulation (TENS); Post-Stroke; Spasticity.   Pendahuluan: Spastisitas merupakan komplikasi yang sering terjadi setelah stroke, ditandai dengan peningkatan tonus otot dan refleks tendon yang berlebihan, sehingga menghambat pergerakan dan menurunkan kualitas hidup pasien. Terapi farmakologis sering kali disertai efek samping serta biaya yang relatif tinggi, sehingga terapi non-invasif seperti Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) mulai dipertimbangkan sebagai alternatif. Tujuan: Untuk menilai efektivitas TENS dalam menurunkan spastisitas pada pasien pasca stroke. Metode: Meliputi penelusuran artikel pada basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar selama periode 2015–2025, dengan kriteria inklusi berupa penelitian randomized controlled trial (RCT) yang mengukur spastisitas menggunakan Modified Ashworth Scale (MAS) atau instrumen valid lainnya. Dari 25 artikel yang ditemukan, 16 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis secara naratif. Hasil: TENS efektif dalam menurunkan spastisitas, terutama pada ekstremitas bawah serta pada fase subakut hingga kronik, dengan frekuensi 100 Hz dan durasi minimal 30 menit per sesi. Kombinasi TENS dengan modalitas lain seperti Neuromuscular Electrical Stimulation (NMES), Functional Electrical Stimulation (FES), atau latihan berorientasi tugas menunjukkan efek sinergis yang lebih signifikan. Simpulan: TENS merupakan terapi rehabilitasi yang menjanjikan untuk menurunkan spastisitas pasca stroke secara aman dan efektif.   Kata Kunci: Electrical Nerve Stimulation (TENS); Pasca Stroke; Spastisitas.
Korelasi antara lama diabetes mellitus dan kadar hba1c dengan skor diabetic neuropathy symptom (DNS) dan diabetic neuropathy examination (DNE) pada penderita diabetes mellitus tipe 2 Andora, Novika; Maryuni, Sri; Yudha, Fajar
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2092

Abstract

Background: Type 2 Diabetes Mellitus (DM) often leads to diabetic neuropathy, which can be assessed using the Diabetic Neuropathy Symptom (DNS) and Diabetic Neuropathy Examination (DNE) scores. Purpose: To analyze the correlation between the duration of DM and HbA1c levels with DNS and DNE scores in patients with type 2 DM Method: This quantitative study with a cross-sectional approach was conducted from January to February 2025 at Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung. The sampling technique used simple random sampling with a sample size of 35 respondents. The independent variables in this study were the duration of DM and HbA1c levels, while the dependent variables were DNS and DNE scores. Data analysis was performed using univariate analysis in the form of frequency distribution and bivariate analysis using Pearson's correlation test. Results: The results showed a significant correlation between the duration of DM and both DNS and DNE scores (p < 0.05). However, there was no significant correlation between HbA1c levels and DNS or DNE scores (p > 0.05). Conclusion: The duration of DM was significantly associated with the degree of diabetic neuropathy, while HbA1c levels showed no significant association.   Keywords: Diabetic Neuropathy Symptom (DNS); Diabetic Neuropathy Examination (DNE); HbA1c Levels; Type 2 Diabetes Mellitus.   Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 sering menyebabkan komplikasi berupa neuropati diabetik, yang dapat dinilai menggunakan skor Diabetic Neuropathy Symptom (DNS) dan Diabetic Neuropathy Examination (DNE). Tujuan: Untuk menganalisis korelasi antara lama menderita DM dan kadar HbA1c dengan skor DNS dan DNE pada pasien DM tipe 2. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan bulan Januari-Febuari 2025 di RS Bintang Amin Bandar Lampung. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 35 responden. Variabel independent dalam penelitian ini adalah lama menderita DM dan kadar HbA1c, sedangkan variabel dependen adalah skor DNS dan DNE. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Korelasi Pearson. Hasil: Terdapat korelasi yang signifikan antara lama menderita DM dengan skor DNS dan DNE (p < 0.05). Namun, tidak ditemukan korelasi yang signifikan antara kadar HbA1c dengan skor DNS maupun DNE (p > 0.05). Simpulan: Lama menderita DM berhubungan secara signifikan dengan derajat neuropati diabetik, sedangkan kadar HbA1c tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.   Kata Kunci: Diabetes Mellitus Tipe 2; Diabetic Neuropathy Symptom (DNS); Diabetic Neuropathy Examination (DNE); Kadar Hba1c.
Pengaruh penggunaan selimut thermal terhadap perubahan suhu tubuh pada bayi dengan hipothermia di ruang perinatologi: A systematic literature review Maniasih, Elisah; Purwandar, Haryatiningsih; Purnawan, Iwan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2113

Abstract

Background: Hypothermia in infants is a critical care emergency that increases the risk of morbidity and mortality. The use of thermal blankets is an effective non-pharmacological intervention to maintain body temperature, but scientific evidence regarding its effectiveness in perinatology wards is limited. Purpose: To assess the effect of thermal blankets on changes in body temperature in infants with hypothermia in perinatology wards. Method: A systematic literature review was conducted using various national and international databases. The search databases used were PubMed, Google Scholar, Scimago, DOAJ, Garuda, and Neliti. Keywords were structured based on the PICO framework and using Boolean operators (AND/OR). Inclusion criteria for this study were articles published between 2015 and 2025, in English or Indonesian, and published online. Results: The most common intervention in this literature was thermal intervention (warming) using thermal blankets. All programs showed a significant increase or stabilization in body temperature (p < 0.05). Infants are vulnerable to hypothermia due to their immature thermoregulatory systems, low subcutaneous fat, large body surface area, and limited metabolic capacity to generate heat. Meanwhile, external challenges for healthcare workers include limited heating equipment, the need for infant mobility, and the risk of heat loss during transport and cesarean delivery. Conclusion: The use of thermal blankets has been shown to significantly increase the body temperature of infants with hypothermia in the perinatology ward. This intervention can be recommended as a nursing intervention to stabilize infant temperature, especially in settings with limited facilities.   Keywords: Hypothermia; Infant Body Temperature; Perinatology Ward; Thermal Blanket.   Pendahuluan: Hipotermia pada bayi adalah kondisi gawat darurat yang meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas. Penggunaan selimut thermal menjadi intervensi non-farmakologis yang efektif untuk menjaga suhu tubuh, namun bukti ilmiah mengenai efektivitasnya di ruang perinatologi masih terbatas. Tujuan: Untuk menilai pengaruh selimut thermal terhadap perubahan suhu tubuh bayi dengan hipotermia di ruang perinatologi. Metode: Penelitian literature review dilakukan secara sistematis melalui berbagai basis data nasional dan internasional. Database pencarian yang digunakan yaitu PubMed, Google Scholar, Scimago, DOAJ, Garuda, dan Neliti. Kata kunci disusun berdasarkan kerangka PICO dan menggunakan Boolean operator (AND/OR). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah artikel yang dipublikasikan antara 2015-2025, berbahasa Inggris atau bahasa Indonesia dan diterbitkan secara daring. Hasil: Intervensi yang paling umum dalam literatur ini adalah intervensi termal (penghangat) penggunaan selimut thermal. Seluruh program menunjukkan peningkatan peningkatan atau stabilisasi suhu tubuh secara signifikan (p < 0.05). Bayi rentan hipotermia karena sistem termoregulasi yang belum matang, lemak subkutan sedikit, luas permukaan tubuh besar, dan kemampuan metabolik yang masih terbatas untuk menghasilkan panas. Sementara tantangan eksternal tenaga kesehatan, seperti keterbatasan alat pemanas, kebutuhan mobilitas bayi, serta risiko kehilangan panas saat transportasi dan pada persalinan sesarea. Simpulan: Penggunaan selimut thermal terbukti berpengaruh signifikan terhadap peningkatan suhu tubuh bayi dengan hipotermia di ruang perinatologi. Intervensi ini dapat direkomendasikan sebagai salah satu tindakan keperawatan dalam stabilisasi suhu bayi, khususnya pada kondisi fasilitas yang terbatas.   Kata Kunci: Hipotermia; Ruang Perinatologi; Selimut Thermal; Suhu Tubuh Bayi.
Metode yawn sigh dalam mengatasi permasalahan suara pada penyiar radio Nasywa, Rifda Na'il; Tirtawati, Dewi; Sudrajad, Kiyat
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2170

Abstract

Background: Voice disorders are pathological conditions that can manifest as changes in voice quality, pitch discrepancies, loudness, or phonation difficulties that affect effective communication. These disorders are often associated with vocal hyperfunction, which is the excessive and inefficient use of the laryngeal muscles, which can then lead to vocal fatigue, hoarseness, and decreased phonation. Professionals such as radio announcers are at higher risk of developing voice disorders than the general population due to repeated and prolonged increased vocal load without voice control, especially if proper vocal hygiene is not practiced. However, research on methods to address voice problems specific to radio announcers, particularly the yawn-sigh method, has been limited. Purpose: To determine the effectiveness of the yawn-sigh method in addressing voice problems in radio announcers. Method: A quantitative experimental study using a one-group pretest-posttest design with an intervention in the form of yawn-sigh therapy with 12 sessions. The study population was all radio announcers experiencing voice problems in Surakarta. The sampling technique used purposive sampling, resulting in a sample size of 10 participants. The study used the GRBAS questionnaire to measure voice problems before and after the intervention. The analysis used univariate and bivariate Wilcoxon tests to determine comparative hypotheses before and after the intervention with a significance level of α = 0.05. Results: A total of 10 participants, most of whom were radio announcers who experienced voice problems at the age of 20-24 years and 6 (60%) were male participants. Voice problems in radio announcers before the intervention were obtained in 9 participants (90%) in the moderate category and 1 participant (10%) in the severe category. While voice problems in radio announcers after the intervention were carried out, 10 participants (100%) were in the mild category. The Wilcoxon statistical test that was carried out after and before the intervention using the yawning method obtained p = 0.005 (<0.05), so that Hₐ (alternative hypothesis) was accepted. Conclusion: The intervention using the yawn sigh method was effective in reducing voice problems among radio announcers.   Keywords: Radio Announcers; Voice Problems; Yawn Sigh.   Pendahuluan: Gangguan suara merupakan kondisi patologis yang dapat muncul sebagai perubahan kualitas suara, ketidaksesuaian pitch, kenyaringan, atau kesulitan fonasi yang memengaruhi efektivitas komunikasi. Gangguan ini sering berkaitan dengan hiperfungsi vokal, yakni penggunaan otot laring secara berlebihan dan tidak efisien, yang kemudian dapat menimbulkan kelelahan vokal, suara serak, dan penurunan kualitas fonasi. Profesional seperti penyiar radio memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan suara dibandingkan populasi umum karena peningkatan beban vokal yang berulang dan berkepanjangan tanpa pengontrolan suara, terutama bila higiene vokal tidak dilakukan secara tepat. Namun, penelitian mengenai metode untuk mengatasi permasalahan suara khusus pada penyiar radio belum banyak dilakukan, terutama metode yawn sigh. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas metode yawn sigh dalam mengatasi permasalahan suara pada penyiar radio. Metode: Penelitian kuantitatif eksperimen one group pretest-posttest design dengan intervensi berupa terapi metode yawn sigh dengan 12x pertemuan. Populasi penelitian adalah seluruh penyiar radio yang mengalami permasalahan suara di Surakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sehingga besar sampel yang digunakan sebanyak 10 partisipan. Penelitian menggunakan kuesioner GRBAS sebagai alat ukur permasalahan suara sebelum dan sesudah intervensi. Analisis yang digunakan yaitu univariat dan bivariat uji Wilcoxon untuk mengetahui hipotesis komparatif sebelum dan sesudah intervensi dengan tingkat signifikansi α = 0.05 Hasil: Sebanyak 10 partisipan, mayoritas penyiar radio yang mengalami permasalahan suara pada berusia 20-24 tahun dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 6 (60%) partisipan. Permasalahan suara pada penyiar radio sebelum dilakukan intervensi diperoleh 9 partisipan (90%) berada pada kategori sedang dan 1 partisipan (10%) berada pada kategori berat. Sedangkan permasalahan suara pada penyiar radio sesudah dilakukan intervensi, diperoleh 10 partisipan (100%) berada pada kategori ringan. Uji statistik Wilcoxon yang telah dilakukan sesudah dan sebelum intervensi menggunakan metode yawn sigh didapatkan p = 0.005 (< 0.05), sehingga Hₐ (hipotesis alternatif) diterima. Simpulan: Intervensi menggunakan metode yawn sigh efektif dalam mengurangi permasalahan suara pada penyiar radio.   Kata Kunci: Penyiar Radio; Permasalahan Suara; Yawn Sigh.