cover
Contact Name
Ella Evrita
Contact Email
e.evrita@sae.edu
Phone
+628158712890
Journal Mail Official
g.putra@sae.edu
Editorial Address
YAYASAN NEXT AKADEMI Jl. Pejaten Raya No.31, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540 Telephone: (021) 7890145
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Profilm: Jurnal Ilmiah Ilmu Perfilman & Televisi
ISSN : 28300521     EISSN : 28300521     DOI : https://doi.org/10.56849
Pro Film Journal is a scientific journal that focuses on film and television science. Along with the development of creative media in Indonesia, this journal is presented by SAE Indonesia and covers various topics related to creative media. Creative media is an individuals mental process in producing new ideas, processes, methods, or products that are effective and imaginative, with succession, discontinuity, and differentiation that are useful in various fields to create something new.
Articles 128 Documents
"Visual Effects as Cultural Narratives: Bridging Technology,Storytelling, and Audience Engagement in Modern Cinema" Swastanto Tamat, Ario
Profilm Jurnal Ilmiah Ilmu Perfilman dan Pertelevisian Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 05 Nomor 1 - Maret 2026
Publisher : Akademi Komunikasi SAE Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56849/jpf.v5i1.119

Abstract

Inovasi teknologi di bidang perfilman dan efek visual (VFX) telah mengubah metode produksi film serta cara masyarakat mengapresiasi karya-karya sinematik. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana VFX berkontribusi dalam pembentukan narasi dan keterlibatan penonton di film kontemporer. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain dokumentatif, yang mencakup analisis teks dan audiovisual untuk memahami hubungan antara teknologi, proses produksi, dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam film. Penelitian ini mengungkapkan bahwa VFX berfungsi sebagai komponen naratif yang tidak hanya memperkaya daya tarik visual film, tetapi juga memengaruhi pemahaman serta keterlibatan penonton terhadap alur cerita yang disampaikan. Di lain pihak, ada kemungkinan terjadinya keseragaman dalam narasi dan menurunnya kualitas penceritaan tradisional akibat ketergantungan yang berlebihan pada teknologi
MAGIC ROOM MANIFESTASI: PEMANFAATAN STREAMDIFFUSIONSEBAGAI SISTEM GENERATIVE AI REAL-TIME DALAM PRAKTIKSENI BERBASIS TEKNOLOGI Ganesha, Fariz; Suryajaya, Martin; Achnas, Nan Triveni
Profilm Jurnal Ilmiah Ilmu Perfilman dan Pertelevisian Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 05 Nomor 1 - Maret 2026
Publisher : Akademi Komunikasi SAE Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56849/jpf.v5i1.120

Abstract

Perkembangan pesat kecerdasan buatan generatif (AI) mendorong transformasi mendasar dalam praktik seni berbasis teknologi, yaitu pergeseran dari pembuatan visual statis menuju eksplorasi sistem dinamis yang interaktif dan responsif. Penelitian ini berfokus pada analisis pemanfaatan diffusion model yang dioptimalkan untuk interaksi langsung, khususnya StreamDiffusion, sebagai inti dari sistem generatif AI waktu-nyata dalam konteks praktik seni media. Dengan menggunakan metodologi practice-based research, studi ini menjadikan karya   seni instalasi Magic Room Manifestasi sebagai artefak kunci. Karya tersebut mengintegrasikan StreamDiffusion dengan platform TouchDesigner untuk secara real-time menerjemahkan input naratif personal dan data gestur tubuh peserta menjadi representasi visual generatif. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap interaksi pengguna dan wawancara reflektif singkat pasca-pengalaman. Hasil analisis mengungkapkan bahwa StreamDiffusion memungkinkan AI berfungsi sebagai sistem responsif yang aktif memediasi hubungan triadik antara intensi subjektif pencipta/peserta, tindakan tubuh fisik, dan manifestasi visual digitalnya. Temuan ini menegaskan peran generatif AI waktu-nyata yang melampaui fungsi instrumental sebagai sekadar alat produksi gambar. Dalam praktik seni media kontemporer, teknologi   ini   beroperasi sebagai medium reflektif berbasis sistem, yang membuka ruang untuk dialog dinamis, negosiasi makna, dan pengalaman estetis yang muncul (emergent) dari proses interaksi itu sendiri.
Pengawasan Tubuh Perempuan dan Legitimasi Kewajaran dalamPraktik Sirompak Yolla Purnma Sari, S.Sn, Yolla; Suryajaya, S.S., M.Hum., Dr. Martin; Gumira Ajidarma, S.Sn., M.Hum, Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn., M.Hum
Profilm Jurnal Ilmiah Ilmu Perfilman dan Pertelevisian Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 05 Nomor 1 - Maret 2026
Publisher : Akademi Komunikasi SAE Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56849/jpf.v5i1.121

Abstract

Penelitian ini membedah praktik Sirompak dalam bingkai pengawasan terhadap tubuh perempuan di dalam struktur adat Minangkabau. Alih-alih memandang Sirompak sekadar sebagai ritual magis atau tradisi usang, studi ini menempatkannya sebagai bagian dari mekanisme kontrol berlapis yang mendapat legitimasi dari konsensus adat. Melalui pendekatan kualitatif dengan perspektif kajian budaya dan antropologi sosial, dianalisis bagaimana relasi antara sumbang duo baleh, struktur formal adat, serta regulasi sosial bekerja menciptakan reproduksi ketakutan simbolik dalam narasi kolektif masyarakat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengawasan terhadap tubuh perempuan tidakhanya terjadi melalui pembiasaan norma dan sanksi sosial, tetapi juga lewat jalinan legitimasi adat-agama serta ancaman simbolik yang laten. Dalam konteks ini, Sirompak berfungsi sebagai "gejala batas" yang mengaktifkan dimensi ekstrem sistem sosial saat norma dianggap telah dilanggar. Pada akhirnya, praktik ini memperlihatkan bagaimana budaya dapat bekerja sebagai teknologi sosial yang menjaga keteraturan melalui trauma simbolik dan efek afektif yang diwariskan secara turun-temurun.
RITUAL SEBAGAI RUANG PENGETAHUAN: TUBUH, TANAH, dan SUARA DALAM PENDEKATAN DOKUMENTERPARTISIPATORIS TARAWANGSA TRIPTYCH Saraswati Kencananingrum, Dewi; Achnas, Nan Triveni; Evrita H, RR Ella
Profilm Jurnal Ilmiah Ilmu Perfilman dan Pertelevisian Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 05 Nomor 1 - Maret 2026
Publisher : Akademi Komunikasi SAE Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56849/jpf.v5i1.122

Abstract

Kegiatan ritual dan praktik budaya sering kali dipandang sebagai aspek visual dalam film dokumenter, sedangkan aspek pengetahuannya sering kali diabaikan. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki ritual Tarawangsa sebagai sumber pengetahuan dalam pembuatan film, dengan pendekatan dokumenter yang bersifat partisipatif. Metodologi yang digunakan mencakup observasi partisipatif, interaksi langsung dengan komunitas, dan refleksi etis selama proses produksi. Penelitian ini menunjukkan bahwa ritual dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pengetahuan dan spiritualitas yang dalam. Namun, film sering kali gagal untuk merepresentasikan kompleksitas ini, yang dapat menguatkan stereotip yang ada. Keterlibatan aktif dari peserta ritual memberikan nilai tambah dalam pemahaman dan penghargaan terhadap praktik budaya yang ada. Temuan ini menekankan pentingnya memperhatikan sensitivitas budaya serta menerapkan pendekatan dialogis dalam pembuatan film.
STUDI KASUS PENGGUNAAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHESDALAM MENERAPKAN ODORLESS CULTURE MELALUI ELEMENSTRUKTUR NARASI MANGA: BLEACH DAN ONE PIECE Jessica, B.A, M.M, Jessica, B.A, M.M; Tri Rahadian, S.Sn, Dr. Bambang; Park, B.A, M.Sn, M.Sn, Johanes
Profilm Jurnal Ilmiah Ilmu Perfilman dan Pertelevisian Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 05 Nomor 1 - Maret 2026
Publisher : Akademi Komunikasi SAE Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56849/jpf.v5i1.123

Abstract

Manga sebagai salah satu bentuk seni sekuensial populer memiliki peran penting dalam pembentukan identitas remaja lintas negara. Dalam konteks globalisasi dan runtuhnya narasi besar (meta narrative), Mangatidak lagi berfungsi semata sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai agen budaya yang menyublimkan nilai, ideologi, dan sistem makna secara tidak disadari oleh pembacanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana strategi odorless culture diterapkan melalui struktur narasi dalam dua Manga Jepang populer, yaitu Bleach karya Tite Kubo dan One Piece karya Eiichiro Oda. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes, dikombinasikan dengan teori struktur narasi Manga oleh Hirohiko Araki sebagai kerangka pembacaan struktur narasi. Fokus analisis diarahkan pada karakter deutragonis sebagai titik jangkar untuk mengurai relasi penanda dan petanda dalam elemen naratif Manga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bleach dan One Piece menerapkan odorless culture melalui elemen narasi yang berbeda. Bleach menitik beratkan pada desain karakter sebagai penanda yang merepresentasikan sistem kepercayaan dan struktur organisasi, sementara One Piece mengandalkan pembangunan latar dunia (world-building) sebagai penanda yang menyublimkan berbagai sistem kekuasaan dan ideologi. Pola naratif yang berulang dalam setiap arc mengarahkan pembaca pada tema besar masingmasing Manga, yakni negosiasi identitas melalui sistem kepercayaan dalam Bleach dan perlawanan terhadap dominasi kekuasaan dalam One Piece. Penelitian ini menegaskan bahwa Manga merupakan medium kultural yang kompleks dan berfungsi sebagai sarana penyebaran nilai ideologis secara subliminal melalui strukturnarasi dan semiotika visualnya
TERMINOLOGI SCENE DAN SEQUENCE DALAM FILM Dony Hermansyah, Kusen; Cendekia, Damas
Profilm Jurnal Ilmiah Ilmu Perfilman dan Pertelevisian Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 05 Nomor 1 - Maret 2026
Publisher : Akademi Komunikasi SAE Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56849/jpf.v5i1.124

Abstract

Scene dan sequence merupakan terminologi yang lazim digunakan dalam produksi maupun kajian film. Namun yang menarik adalah banyak pembuat film yang dapat menjelaskan scene dengan relatif mudah, tetapi sering kurang komprehensif. Sementara ketika menjelaskan tentang sequence, justru lebih beragam dan membingungkan. Penelitian ini bertujuan untuk memperjelas makna serta fungsi kedua istilah tersebut dalam kerangka teori film. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan sumber data berupa literatur film dan contoh-contoh film yang dianalisis melalui studi pustaka dan telaah dokumen. Analisis dilakukan secara deskriptif-kualitatif untuk menguraikan hubungan antara shot, scene, dan sequence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa scene tidak dapat dipahami hanya sebagai kumpulan shot, begitu pula sequence bukan sekadar kumpulan scene; sebab keduanya memiliki fungsi dramatik dan naratif yang lebih kompleks. Temuan ini diharapkan dapat memberi acuan yang lebih sistematis, khususnya dalam pendidikan film di Indonesia. 
Perancangan Film Dokumenter Hidup Untuk Rumah, Bukan Rumah UntukHidup Analisis Kerangka Naratif Dokumenter Sosial-Politik Asava Robby, Akira Asava Robby; Triveni Achnas, Nan
Profilm Jurnal Ilmiah Ilmu Perfilman dan Pertelevisian Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 05 Nomor 1 - Maret 2026
Publisher : Akademi Komunikasi SAE Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56849/jpf.v5i1.125

Abstract

Krisis perumahan adalah salah satu penghambat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di daerah urban di Indonesia. Lebih terfokusnya di daerah Jabodetabek dimana rumah menjadi instrumen investasi warga kelas atasyang menyebabkan kota pasokannya terbatas bagi warga kelas menengah. Namun perpindahan ke daerah sub-urban / kota penyangga pun semakin mahal karena fenomena gentrifikasi. Penciptaan film dokumenter yang berdasarkan Practice-based research ini dilakukan untuk mencari tahu bagaimana fenomena ini terjadi dan apa saja cara untuk menanggulanginya. Melalui pengalaman langsung pencipta sebagai warga kota, kontraktor bangunan, dan filmmaker, penciptaan karya ini akan mengkaji fenomena gentrifikasi, ketimpangan ruang, serta tekanan struktural yang mendorong masyarakat kelas menengah dan bawah semakin tersingkir dari akses tempat tinggal layak. Artikel ini menyajikan rancangan dan analisis kerangka naratif film documenter yang mengangkat isu sosial-politik
Finance, & Marketing Distribusi di sebuah Produksi Film RR. Ella Evrita Hestiandari, S.E, M.M
Pro Film Vol. 1 No. 2 (2021): Volume 1 Nomor 2 - September 2021
Publisher : Pro Film

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Financing of film projects often requires an elaborate patchwork of investors, banks, soft money tax credits and in-kind services, and some companies specialize in financing specific stages of production. One of the overall themes of the industry that can at times make obtaining financing hard is the risks involved in making films, many of which may have very little tangible value at the end of the process. How an independent filmmaker chooses to make a movie is often dictated by access to money more than any aesthetic sensibilities. Without the proper funding, a feature film never gets made or made the way the filmmaker wants to. Which strategy the filmmaker uses to access funding will depend on the type of film, the story or subject matter, the budget, genre, the filmmaker’s reputation, the talent attached and the amount of creative control the filmmaker wants over the production. 
PENERAPAN DESAIN KARAKTER DAN ART DIRECTIONPERANCANGAN KARAKTER FILM ANIMASI Paramita Hapsari, S. Ds, M.Ds
Pro Film Vol. 1 No. 2 (2021): Volume 1 Nomor 2 - September 2021
Publisher : Pro Film

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One aspect of creating a successful character design is the story. Although fairy tales are not the most important aspect of character development, stories will help us in identifying and developing characters through story character attributes. So that we can build a character with a striking image. Character designers must remember that characters are always created to help a story run smoothly. The purpose of this research is to find out and understand the application of character design and Art Direction in designing animated film characters. The research methodology used in this study is a literature review, which consists of a sequence of actions related to collecting library data, reading and taking notes, and organizing research materials.
The Role of Ambisonic First Order in Building an Immersive Cultural Experience in Traditional Balinese Contemporary Art Documentation I Wayan Eka Wiguna
Pro Film Vol. 5 No. 1 (2025): Volume 5 Nomor 1 - Maret 2025
Publisher : Pro Film

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The digital transformation of cultural documentation has led to the emergence of immersive media technologies that more fully portray performing arts events. However, much of the traditional art documentation in Indonesia still relies on the typical stereo recording techniques which have a disadvantage in capturing the spatial dimensions, aural environment and performance experiences. This paper discusses the usage of First Order Ambisonic (FOA) in documenting the Balinese modern traditional performing arts as an effort to create an immersive cultural experience through the application of spatial audio methodology. The research is practice based, qualitative descriptive with stages of pre-production, technical experimentation, testing of ambisonic microphone setup, production and evaluation of recorded findings. Data were obtained through field observations, production workflows, and technical testing and analysis of outputs from spatial audio recording. The results reveal that FOA is able to deliver more immmersive spatial aspects of performances than standard stereo approaches, especially the movement of performers, spatial distribution of gamelan sounds, atmosphere of the surroundings and acoustic resonance of the performance locations. Furthermore, environmental sound aspects that have been historically deemed noise can also offer ecological acoustic identity in cultural performances. This study contributes to the development of immersive media-based cultural documentation and proposes spatial audio as an alternative method for digital heritage preservation within the framework of media convergence. 

Page 11 of 13 | Total Record : 128