cover
Contact Name
Kusroni
Contact Email
Jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Phone
+628563459899
Journal Mail Official
jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kedinding Lor 30 Surabaya 60129
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal KACA
ISSN : 23525890     EISSN : 25976664     DOI : https://doi.org/10.36781
KACA (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin diterbitkan oleh Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya. Jurnal ini memuat kajian-kajian keislaman yang meliputi Tafsir, Hadis, Tasawuf, Pemikiran Islam, dan kajian Islam lainnya. Terbit dua kali setahun, yaitu bulan Februari-Agustus. Redaksi mengundang para akademisi, dosen, maupun peneliti untuk berkontribusi memasukkan artikel ilmiahnya yang belum pernah diterbitkan oleh jurnal lain. Naskah diketik dengan spasi 1 (satu) spasi pada kertas ukuran B5 dengan panjang tulisan antara 15-25 halaman, 5000-7000 kata. Naskah yang masuk dievaluasi oleh dewan redaksi. Redaktur dapat melakukan perubahan pada tulisan yang dimuat untuk keseragaman format, tanpa mengubah substansinya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 13 No. 1 (2023): Februari" : 8 Documents clear
Teo-Antroposentrisme Konsep Martabat Tujuh Ranggawarsita Arifka, Angga
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.286

Abstract

Artikel ini mendiskusikan tentang konsep martabat tujuh Ranggawarsita. Konsep martabat tujuh memang merupakan penjelasan lebih jauh atas konsep martabat lima yang menjadi populer karena mazhab tasawuf Ibn ‘Arabi. Sebagai “pujangga penutup”, Ranggawarsita dalam magnum opus-nya, Serat Wirid Hidayat Jati, memberikan eksplanasi secara lebih bernas dan mendalam tentang konsep martabat tujuh. Sebelumnya, baik konsep martabat lima maupun martabat tujuh hanya membabarkan teosentrisme gradasi wujud secara kosmologis sehingga tampak tak ada relevansi dan implikasi langsungnya pada  diri manusia. Korpus baik konsep martabat lima maupun martabat tujuh yang hanya bernada teosentris, dalam konteks ini, mesti diekspansikan dan diekstrapolasikan untuk merambah ke skop antroposentris. Oleh sebab itu, dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, artikel ini membaca secara cermat implikasi konsep martabat tujuh Ranggawarsita yang melangkah lebih jauh ketimbang konsep martabat tujuh yang sebelumnya. Hasil dari pembacaan cermat tersebut adalah bahwa artikel ini menemukan bahwa konsep martabat tujuh Ranggawarsita tidak semata-mata menjelaskan persoalan gradasi wujud secara kosmologis yang cenderung teosentris, yang hanya berkutat pada persoalan level eksistensi ketuhanan semata, melainkan konsepnya dengan jelas menyinggung serta mengaitkannya langsung dengan tataran wujud rohani manusia secara spiritual. Dengan kata lain, konsep martabat tujuh Ranggawarsita dapat disebut teo-antroposentrisme.
Reorientasi Makna Ashidda’u ‘Ala Al-Kuffar : Analisis QS. Al-Fath Ayat 29 dengan Pendekatan Ma’na Cum Maghza Masykur, Muhammad Alfian; Nauval, Mukhammad Hubbab; Asyifa Faradita; Latifah, Binti Kamillatul
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.295

Abstract

Beberapa dekade terakhir, paham radikalisme menyebar luas dengan cepat dalam dunia Islam. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kasus teror maupun tindakan diskriminasi terhadap agama tertentu yang terjadi di dalam negeri maupun manca negara. Tindakan semacam ini terjadi di antara penyebabnya adalah  keterpengaruhan oleh penafsiran yang eksklusif, salah satunya ketika menjelaskan ayat yang berbicara tentang sikap keras terhadap orang kafir/non-muslim, misalnya seperti kalimat “ashidda’u ‘ala al-Kuffar” pada QS. al-Fath 48:29. Artikel ini bertujuan untuk melakukan reinterpretasi terhadap kalimat “ashidda’u ‘ala al-Kuffar” sebagai bentuk kritik atas tindakan-tindakan radikalisme dan terorisme yang menjadikan penggalan ayat tersebut sebagai legitimasi. Penelitian ini mengaplikasikan pendekatan ma’na-cum-maghza untuk menangkap al-ma’na al-tarikhi (historical meaning) dan al-maghza al-tarikhi (historical phenomenal significance) dari kalimat “ashidda’u ‘ala al-Kuffar”, lalu membawa dan mengembangkannya menjadi al-maghza al-mutaharrik al-mu‘āṣir (dynamic phenomenal significance) dalam konteks sosial-keagamaan masa kini. Melalui upaya penelusuran  makna dan maghza, hasil yang ditemukan penulis menunjukkan, bahwa kalimat “ashidda’u ‘ala al-Kuffar” memiliki makna dan penerapan yang harus disesuaikan dengan konteks yang terjadi, serta sama sekali bukan  legitimasi ekstrimisme. Hasil tersebut kiranya dapat menjadi pembanding untuk cara pandang tekstualis-skriptualis terhadap penggalan ayat tersebut. Dengan memperhatikan nilai-nilai yang ditemukan, diharapkan pemahaman terhadap kalimat “ashidda’u ‘ala al-Kuffar” dalam ruang lingkup sosial-keagamaan menjadi lebih moderat.
Kritik Al-Qur’an Terhadap Tradisi Mahar: Analisis Penafsiran QS. Al-Nisa’ Ayat 4 Khotibi, Diana
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.348

Abstract

Al-Qur’an turun bersinggungan langsung dengan persoalan masyarakat dengan berbagai problem sehingga Al-Qur’an berpengaruh besar terhadap terjadinya perubahan terhadap masyarakat Arab. Salah satunya mengkritik budaya dan tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, misalnya tentang mahar. Oleh karena itu tulisan ini akan mengulas bagaimana kritik Al-Qur’an terhadap mahar yang akan dilacak melalui asbab nuzul ayat, dan berbagai macam penafsiran tentang mahar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan mahar merupakan sebuah kewajiban bagi orang yang ingin melakukan pernikahan. Jumlah serta cara merealisasikan mahar tersebut umumnya berbeda-berbeda serta diwajibkan adanya kerelaan hati istri bagi suami yang ingin menggunakan mahar.
The Conception of Rahmah li al-‘Ālamīn through Integration Both Fiqh and Sufism Anshori, Ma'sum; Hayat, Teten Jalaludin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.361

Abstract

Since the beginning, Islam has promised universal and global goodness (raḣmah li al-‘ālamīn). It's just that in reality the goodness was still particular and local. This imbalance is caused by an unequal understanding between the dimensions of exoteric fiqh (body) and esoteric sufism (mind) which represents the human condition which consists of body and mind. Thus, this research is aimed at explaining the universality of Islam for global goodness through integration between both dimensions. This research is a library research. The method used is the thematic method, to explore and confirm a theory to its deepest intent. The analytical tool used for this purpose is content analysis. The results of the analysis show that the fiqh-exoteric dimension will produce physical goodness (maqāṣid al-sharī’ah), and the sufism-esoteric dimension will produce spiritual goodness (maqasid al-ṣūfiyyah), so that with the integration of the two, the goal of Islamic universality (maqasid al-dīniyyah) will be born.
Dimensi Sufistik dalam Penafsiran Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki: Telaah Atas Kitab Muhammad Al-Insan Al-Kamil Kusroni, Kusroni; Majid, Abdul Hamid; Aida, Siti
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.378

Abstract

Penafsiran Al-Qur’an dengan pendekatan sufistik saat ini semakin banyak dilirik oleh para peneliti tafsir Al-Qur’an. Meskipun di awal kemunculannya menuai pro dan kontra, akan tetapi pada perkembangannya, tafsir sufistik semakin populer dan bisa diterima di hampir semua kalangan. Penelitian ini berupaya menguak dimensi sufistik dalam penafsiran Sayyid Muhammad Al-Maliki atas ayat-ayat al-Qur’an dalam karyanya berjudul Al-Insan Al-Kamil. Penelitian ini merumuskan dua pertanyaan yaitu, 1) Bagaimana dimensi sufistik dalam penafsiran Sayyid Muhammad Al-Maliki? 2) Bagaimana kontribusi pemikrian Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam bidang tafsir Al-Qur’an? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan berbasis pada data kepustakaan. Pendekatan historis-filosofis digunakan untuk untuk memotret horizon-horizon yang mewarnai dan mempengaruhi pemikiran tafsir Al-Maliki.  Penelitian ini menemukan bahwa, 1) Penafsiran Al-Maliki banyak memiliki dimensi sufistik. Selain mengemukakan pendapatnya sendiri, Al-Maliki juga mengutip beberapa ulama sufi, antara lain, Al-Qushairi, Al-Junaid, Abu Al-Hasan Al-Shadhili, dan Ibnu Ata’illah Al-Sakandari. 2) Kontribusi Al-Maliki dalam bidang tafsir Al-Qur’an adalah pentingnya pembacaan kritis atas tradisi penafsiran, dan pentingnya pendekatan sufistik dalam memberikan alternatif pemaknaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, yang jika dibaca secara tekstual justru memunculkan kesimpulan yang menciderai nilai-nilai transenden dalam Islam.
Walimah dalam Perspektif Hadis: Telaah Kritis Hadis Koleksi Abu Dawud Nomor Indeks: 3742 Anas, Mohamad
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.416

Abstract

Bentuk syukur yang diekspresikan oleh manusia akan berbeda-beda dengan berbagai kenikmatan yang diperolehnya, ada yang hanya mengucapkan hamdalah, ada yang bereksperi dengan sujud syukur, ada juga berbentuk “syukuran” acara makan-makan. Ditemukan pada kalangan masyarakat sekitar mengadakan “syukuran” identik dengan jamuan makanan, acara makan-makan dalam rangka bersyukur ini dikenal dengan nama acara walimah, prakteknya terkadang menyelengaran dengan besar-besaran, menyelengaran dengan glamor bahkan mengundang dengan jumlah kuantitas di atas rata-rata. Kiranya dipandang perlu ketika praktik pada masyarakat ditinjau ulang dengan merujuk pada praktek keagamaan, praktek rasul dan sahabatnya dalam rangka acara walimah, oleh sebab itu telaah kritis akan hadis walimah dilakukan oleh peneliti agar dapat memahami secara update pada saat Rasul dan sahabatnya dengan masyarakat kekiniaan, menjawab permasalahan tersebut yang diteliti dalam penelitian ini adalah, 1) Bagaimana nilai hadis tentang makanan walimah dalam sunan Abu Dawud 2) Bagaimana sikap yang dianjurkan oleh Nabi dalam menyikapi undangan walimah. Penelitian ini berbasis data kepustakaan dengan meneliti kualitas data yang ada serta melakukan pendekatan historis untuk melihat variabel terkait yang mewarnai dan mempegaruhi pemaknaan hadis dengan mengkaitkan kontekstualitas masyarakat saat ini. Peneliti menemukan, 1) Hadis yang mula-mula berstatus mursal sahabi, menjadi marfu' dengan ditemukan mutabi' lain dari jalur Muslim sehingga dapat diberlakukan setara dengan hadis marfu' itu sendiri, sedangkan kualitas sanadnya berstatus sahih. Kandungan matan tidak ditemukan unsur shad dan 'illat, sehingga hadisnya tetap berkualitas sahih dan dapat dipakai sebagai hujjah. Kondisi sanad dan matan yang sahih menunjukkan keberadaan hadis ini maqbul sebagai hujjah dan ma'mulun bihi. 2) Ketika mengadakan acara walimah disesuaikan dengan kondisi penyelenggara walimah, sebagai penghapus sikap diskriminatif antar golongan berada dengan golongan tidak ada, ta'aruf (saling kenal) antar warga sehingga interaksi sosial semakin solid, mempererat tali silaturrahim atau kerukunan bertetangga yang akhirnya menunjukkan tumbuh berkembangnya kekuatan sosial islami dan stabilitas sosial antar keluarga, warga dan teman seprofesi tetap terjaga.
Kaidah Wadih Al-Dilalah: Hierarki dan Urgensinya dalam Penafsiran Al-Qur’an Hermansah, Hermansah; Basri, Ahmad Faizal
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.638

Abstract

Subjektifitas mufasir sangat berpengaruh terhadap hasil penafsiran. Subjektifitas ini bisa berasal dari horizon-horizon yang dimiliki oleh mufasir, baik latar belakang keilmuan, konteks sosial, politik, ekonomi, maupun budaya. Ironisnya, ada sebagian mufasir yang meligitimasi tindakannya dengan pemahamannya terhadap Al-Qur’an, seraya mengabaikan kaidah tafsir yang telah berlaku, serta mengabaikan aspek sosial-historis ayat-ayat al-Qur’an ketika diturunkan. Oleh karenanya, memahami kaidah Wadih al-Dilalah menjadi sangat urgen dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Penelitian ini berusaha menguraikan kaidah Wadih Al-Dilalah, sekaligus menjelaskan hierarki dan urgensinya dalam penafsiran. Penelitian ini menemukan bahwa hierarki Wadih Al-Dilalah teks al-Qur’an ada empat, yaitu: 1) al-Dilalah al-Dhahir, 2) al-Nash, 3) al-Mufassar, dan 4) al-Muhkam. Memberlakukan teks-teks al-Qur’an, sekalipun sudah jelas, tetapi belum sampai pada tingkatan mutlak atau final turth, maka harus terus dilakukan analisis dan mencari teks-teks yang berkaitan, sehingga mendapatkan pemahaman yan0g komprehensif. Begitu juga, apabila ada pertentangan antar al-Dilalah, tentu harus ditarjih dengan mendahulukan dan mengutamakan yang paling jelas di antara al-Dilalah yang ada.
Human Trafficking Perspektif Al-Qur’an: Telaah Asbab Al-Nuzul QS. Al-Nur Ayat 33 Dianah, Fairuz; Kurjum, Mohammad
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.853

Abstract

Penelitian ini mengkaji human trafficking dalam perspektif QS. Al-Nur ayat 33 yang secara tegas melarang praktik perdagangan manusia, khususnya perempuan. Melalui pendekatan asbāb al-nuzūl, kajian ini menelaah konteks historis turunnya ayat tersebut serta relevansinya dengan fenomena perdagangan manusia modern, yang kini lebih condong pada eksploitasi seksual dan prostitusi. Analisis literatur dilakukan terhadap berbagai tafsir, termasuk pandangan Sayyid Quthb dalam Fi Zilal al-Qur’an dan Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar, yang keduanya menegaskan pelarangan keras terhadap segala bentuk eksploitasi manusia. Penelitian ini juga menampilkan perbedaan interpretasi yang muncul dari ragam periwayatan asbāb al-nuzūl, sehingga memberikan pemahaman komprehensif tentang solusi al-Qur’an terhadap problem human trafficking dalam konteks historis dan kontemporer.

Page 1 of 1 | Total Record : 8