cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
ISSN : -     EISSN : 30891973     DOI : -
AL-IKTIAR, Journal of Islamic Studies is to publish original empirical research articles and theoretical reviews of Islamic Studies, covering a wide range of issues on Islamic studies in a number of fields including as below. 1. Islamic Education 2. Islamic Thought 3. Islamic Law 4. Islamic Theology 5. Islamic Politics 6. Islamic History and Civilization
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies" : 8 Documents clear
Pentingnya Pendidikan Moderasi Beragama Di Lingkungan Sekolah Untuk Membentuk Generasi Toleran Nurwahidah; M. Ihsan Muzakki; Sela Andini
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Role of Religious Moderation Education in Forming Tolerance Awareness In the educational domain, tolerance plays an important role as a guide for all individuals involved in it. Tolerance is a crucial thing to instill among all Indonesian citizens, considering that Indonesia consists of various tribes and religions which are the richness and uniqueness of this nation. However, if not managed well, this diversity can become a source of various conflicts in society. Therefore, educational institutions have an important role in promoting the spirit of tolerance, especially in relations between religious communities. Educators and educational institutions are responsible for the process of teaching, learning, coaching, direction and character formation so that students can develop into individuals who are knowledgeable, intelligent and have dignity.  To achieve its objectives, this research uses the library research method. One of the challenges students face when integrating into society is the existence of certain groups that openly display attitudes of subordination, marginalization and hostility towards other groups with different beliefs. This research concludes that there are five core concepts that can be the essence of tolerance, namely: accepting diversity, respecting differences, having inclusive morality, showing an open attitude towards other people, and providing full support for differences and emphasizing the importance of autonomy. Abstrak Peran Pendidikan Moderasi Beragama dalam Membentuk kesadaran Toleransi Dalam domain pendidikan, toleransi memegang peranan penting sebagai pedoman bagi semua individu yang terlibat di dalamnya. Toleransi menjadi hal yang krusial untuk ditanamkan di kalangan seluruh warga negara Indonesia, mengingat Indonesia terdiri dari beragam suku dan agama yang menjadi kekayaan dan keunikan bangsa ini. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, keragaman ini dapat menjadi sumber berbagai konflik dalam masyarakat. Oleh karena itu, lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam mempromosikan semangat toleransi, terutama dalam hubungan antar umat beragama. Para pendidik dan lembaga pendidikan bertanggung jawab dalam proses pengajaran, pembelajaran, pembinaan, arahan, dan pembentukan karakter sehingga siswa dapat berkembang menjadi individu yang berpengetahuan, cerdas, dan memiliki martabat.  Untuk mencapai tujuan, penelitian ini menggunakan metode library research. Salah satu tantangan yang dihadapi siswa ketika berintegrasi dalam masyarakat adalah adanya kelompok tertentu yang secara terang-terangan memperlihatkan sikap subordinasi, marginalisasi, dan permusuhan terhadap kelompok lain yang berbeda keyakinan. Penelitian ini menyimpulkan bahwasanya terdapat lima konsep inti yang dapat menjadi esensi dari toleransi, yaitu: menerima keberagaman, menghargai perbedaan, memiliki moralitas yang inklusif, menunjukkan sikap terbuka terhadap orang lain, dan memberikan dukungan penuh terhadap perbedaan dan menekankan pentingnya otonomi.
Moderasi Beragama sebagai Upaya pencegahan Radikaliasme di kalangan pelajar Bayu Saputra; Ahmad Syafiq
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religious moderation is a crucial approach in preventing radicalism among students. This approach emphasizes the importance of adopting a moderate attitude in religious practices, respecting differences in beliefs, and promoting tolerance among various interpretations of religion. Through this strategy, students are invited to understand universal religious values ​​such as peace, respecting diversity, and rejecting violence as a way to strengthen religious teachings. By encouraging religious moderation, schools and communities can create an inclusive environment where students learn to live religious lives in a balanced and harmonious manner, while still respecting their personal identities and beliefs. Abstrak Moderasi beragama adalah pendekatan krusial dalam upaya mencegah radikalisme di kalangan Pelajar. Pendekatan ini menekankan pentingnya mengadopsi sikap moderat dalam praktik keagamaan, menghormati perbedaan keyakinan, serta mempromosikan toleransi di antara berbagai interpretasi agama. Melalui strategi ini, siswa diajak untuk memahami nilai-nilai universal keagamaan seperti perdamaian, menghargai keragaman, dan menolak kekerasan sebagai cara untuk memperkuat ajaran agama. Dengan mendorong moderasi beragama, sekolah dan masyarakat dapat menciptakan lingkungan inklusif di mana siswa belajar untuk menjalani kehidupan beragama secara seimbang dan harmonis, sambil tetap menghormati identitas dan keyakinan pribadi mereka.
Moderasi Beragama di Kalangan Muslim Indonesia Juhrianto Ardian Lutfhi; Try Sabella; Mofari jatul Fitriani
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religious moderation among Indonesian Muslims is an important concept in viewing, implementing and practicing religious teachings in an inclusive and progressive manner. The concept of religious moderation emphasizes the need to build attitudes that respect human dignity, promote tolerance, and strengthen harmony between religious communities. Challenges in implementing religious moderation include efforts to minimize violence against different beliefs, maintain plurality, and ensure the implementation of increasingly strong and collaborative religious moderation programs. With a focus on sustainable leadership and human resource development, religious moderation is expected to be the key to a Golden Indonesia 2045. The importance of a religious moderation perspective in building tolerance, harmony and shared prosperity in Indonesia is increasingly emphasized through various initiatives and regulations, such as Presidential Regulation Number 58 of the Year 2023 concerning Strengthening Religious Moderation. The research results show that religious moderation among Indonesian Muslims has a multidimensional meaning. Moderation is defined as a middle, balanced and tolerant attitude in understanding and understanding.. Abstrak Moderasi beragama di kalangan umat Islam Indonesia merupakan sebuah konsep penting dalam pengkajian, penerapan dan pengamalan ajaran agama secara inklusif dan progresif. Konsep moderasi beragama menekankan perlunya membangun sikap yang menghormati martabat kemanusiaan, mempromosikan toleransi, dan memperkuat kerukunan antar umat beragama. Tantangan dalam menerapkan moderasi beragama termasuk upaya untuk meminimalisir kekerasan terhadap kepercayaan yang berbeda, menjaga pluralitas, serta memastikan implementasi program-program moderasi beragama yang kian kuat dan kolaboratif. Dengan fokus pada keberlanjutan kepemimpinan dan pengembangan sumber daya manusia, moderasi beragama diharapkan menjadi kunci menuju Indonesia Emas 2045. Pentingnya perspektif moderasi beragama dalam membangun toleransi, kerukunan, dan kesejahteraan bersama di Indonesia semakin ditekankan melalui berbagai inisiatif dan regulasi, seperti arahan Eksekutif Nomor 58 Tahun 2023 yaitu tentang Penguatan Moderasi Beragama. Penelitian tersebut menunjukkan bahwasannya moderasi beragama di kalangan umat Islam Indonesia memiliki makna yang multidimensi. Moderasi diartikan sebagai sikap tengah, seimbang, dan toleran dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Implementasi moderasi beragama diwujudkan melalui berbagai pendekatan, seperti pendidikan agama, dialog antarumat beragama, dan pemberdayaan masyarakat.
Menghadapi Tantangan Zaman: Peran dan Strategi Pola Asuh Orang tua dalam Membentuk Karakter Anak di Era Digital Helma Winda
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid development of technology in the current digital era has caused the values ​​that are born, both positive and negative, to experience extraordinary shocks for humans. From this shock, the role of parents in educating their children has also changed in accordance with the development of the times. In the 80s, parents in educating their children must have experienced differences compared to the current digital era. Parenting patterns that initially only applied authoritarian, permissive, or democratic parenting patterns have experienced success in educating children. However, in the digital era, the three parenting patterns will not be successful if they do not synchronize according to the situation and conditions in terms of raising children. The method used in this study is a qualitative method in document studies. The intended document study is a study that searches for literature in accordance with study materials such as books, articles, the internet and so on. The results of this study show the importance of the active role of parents in directing their children's use of technology, as well as the need for a structured strategy to ensure that children grow up with strong and positive characters amidst the challenges of the digital era. Abstrak Perkembangan teknologi yang semakin pesat di era digital sekarang ini menyebabkan nilai-nilai yang dilahirkan, baik positif maupun negatif, ikut mengalami kejutan yang luar biasa bagi manusia. Dari kejutan tersebut, peran orang tua dalam mendidik anaknya ikut mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Di era 80-an, orang tua dalam mendidik anaknya pasti mengalami perbedaan dibandingkan dengan era digital saat ini. Pola asuh orang tua yang pada awalnya hanya menerapkan tipe pola asuh otoriter, permisif, atau demokratis, telah mengalami keberhasilan dalam mendidik anak. Namun, di era digital, ketiga pola asuh tersebut tidak akan berhasil jika tidak melakukan sinkronisasi sesuai dengan situasi dan kondisi dalam hal mengasuh anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dalam kajian dokumen. Kajian dokumen yang dimaksud adalah kajian yang mencari literatur sesuai dengan bahan kajian seperti buku, artikel, internet dan lain sebagainya. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya peran aktif orang tua dalam mengarahkan penggunaan teknologi anak-anak mereka, serta perlunya strategi yang terstruktur untuk memastikan anak-anak tumbuh dengan karakter yang kuat dan positif di tengah tantangan era digital.
Ektremisme Agama dan Radikalisme Sebagai Pendorong Terorisme Emilna; Darlina; Della Putri
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radicalism is a concept that has been widely discussed in various fields, including politics, sociology and psychology. This article aims to provide a comprehensive understanding of radicalism, its characteristics and implications. The author defines radicalism as the tendency to take an extreme stance on an issue, which often leads to violent or extreme behavior. This article highlights the difference between radicalism and extremism, and how the two concepts are often confused. Radicalism is seen as the process of adopting an extreme ideology and using it to justify violence or terrorism. This article also discusses the relationship between radicalism and terrorism, noting that not all radicals are terrorists, but that many terrorists are radicalized individuals who have been influenced by extremist ideologies. The author believes that radicalization is a complex process that can be influenced by various factors, including psychological, social and economic factors. This article also touches on the issue of deradicalization, namely the process of reversing radicalization and promoting moderate beliefs and behavior. The author notes that deradicalization programs have been implemented in various countries, including Indonesia, but much still needs to be done to address the root causes of radicalization. Overall, this article provides a comprehensive overview of radicalism and its implications, highlighting the importance of understanding this complex phenomenon to address the problem of terrorism and promote coexistence. Abstrak Radikalisme merupakan sebuah konsep yang telah banyak dibahas di berbagai bidang, termasuk politik, sosiologi, dan psikologi. Artikel ini bermaksud untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai radikalisme, karakteristiknya, dan implikasinya. Penulis mendefinisikan radikalisme sebagai kecenderungan untuk mengambil sikap ekstrem terhadap suatu isu, yang sering kali mengarah pada perilaku kekerasan atau ekstrem. Artikel ini menyoroti perbedaan antara radikalisme dan ekstremisme, dan bagaimana kedua konsep tersebut sering kali membingungkan. Radikalisme dipandang sebagai proses mengadopsi ideologi ekstrem dan menggunakannya untuk membenarkan kekerasan atau terorisme. Artikel ini juga membahas hubungan antara radikalisme dan terorisme, dengan mencatat bahwa tidak semua radikal adalah teroris, tetapi banyak teroris adalah individu yang teradikalisasi yang telah dipengaruhi oleh ideologi ekstremis. Penulis berpendapat bahwa radikalisasi adalah proses rumit yang dapat dipengaruhi oleh bermacam faktor, khususnya faktor psikologis, sosial, dan ekonomi. Artikel ini juga menyinggung isu deradikalisasi, yaitu proses membalikkan radikalisasi dan mempromosikan keyakinan dan perilaku moderat. Penulis mencatat bahwa program deradikalisasi telah dilaksanakan di banyak negara, termasuk Indonesia, namun masih banyak yang perlu dilakukan untuk mengatasi akar penyebab radikalisasi. Secara keseluruhan, artikel ini memberikan gambaran menyeluruh tentang radikalisme dan implikasinya, menyoroti pentingnya memahami fenomena kompleks ini untuk mengatasi masalah terorisme dan mempromosikan hidup secara berdampingan.
Upaya Lembaga Dakwah Kampus As-Salam Iain Pontianak Dalam Membangun Karaker Moderat Para Kadernya Syahri Harendi; Soma
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The As-Salam campus dakwak institution of IAIN Pontianak or abbreviated as LDK As-Salam is an internal campus organization engaged in the religious field. Engaging in the religious field has the responsibility of being a good role model for students in order to maintain the good name of the IAIN Pontianak campus as an Islamic campus. However, these good intentions are often considered too right-wing by ordinary people and considered immoderate by some individuals. This paper aims to explain the efforts of the campus da'wah organization As-Salam IAIN Pontianak to build the moderate character of its cadres so that the bad sigma about LDK As-Salam disappears. Through the Qualitative method with direct interviews to LDK As-Salam administrators and some of its cadres. Researchers produced results stating that LDK As-Salam's efforts to build the character of its cadres through several routine activities, first, the NGOPI (Ngobrol Perkara Islam) work program, second, holding religious moderation seminars, third, sharing in the month of Ramadan. Abstrak Lembaga dakwak kampus As-Salam IAIN Pontianak atau yang disingkat dengan LDK As-Salam merupakan organisasi internal kampus yang bergerak di bidang keagamaan. Bergerak di bidang keagamaan mempunyai tanggung jawab menjadi suri tauladan yang baik bagi mahasiswa demi menjaga nama baik kampus IAIN Pontianak sebagai kampus Islam. Namun niat baik itu sering kali dianggap terlalu eksream kanan oleh orang yang awam dan dianggap tidak moderat oleh sebagian oknum. Penulisan ini bertujuan memaparkan upaya lembaga dakwah kampus As-Salam IAIN Pontianak membangun karakter moderat kadernya sehingga sigma buruk mengenai LDK As- Salam hilang. Melalui metode Kualitaif dengan wawancara langsung kepada pengurus LDK As- Salam dan beberapa kadernya. Peneliti membuahkan hasil yang menyatakan jika upaya LDK As-Salam membangun karakter para kadernya melalui beberapa kegiatan rutin pertama, Program kerja NGOPI (Ngobrol Perkara Islam), Kedua, Mengadakan seminar moderasi Beragama, Ketiga berbagi di bulan Ramadhan.
Menggali Nilai-Nilai Etika Komunikasi di Media Sosial dari Surah Taha Ayat 41-46 Ach Rifai
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam Surah Taha ayat 41-46, terdapat panduan yang berharga untuk memahami dan menerapkan etika komunikasi dalam konteks media sosial. Ayat-ayat ini mengajarkan beberapa prinsip penting yang dapat membimbing kita dalam berinteraksi di dunia maya dengan cara yang bermartabat dan bermanfaat. Tujun dari penelitian ini tidak lain, hanyalah ingin menggali pada nilai-nilai etika komunikasi di media sosial dari surah Taha Ayat 41-46. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yang bersifat literatur, yang dikenal sebagai library research. Data yang digunakan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan rujukan utama yang menjadi fokus penelitian. Dalam hal ini, adalah al-Qur’an menjadi sumber data primer, baik dalam bentuk aslinya maupun dalam terjemahannya. Sedangkan data sekunder ini mencakup berbagai sumber seperti buku-buku, jurnal ilmiah, dokumen, serta sumber-sumber dari internet.  Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bahwa nilai-Nilai Etika Komunikasi di Media Sosial dari Surah Taha Ayat 41-46, terdapat enam hal. Pertamam pemilihan komunikator yang tepat. Kedua memanfaatkan keunggulan diri perintah Allah untuk menggunakan tanda-tanda-Nya mengajarkan kita untuk memanfaatkan keunggulan dan sumber daya yang kita miliki dalam komunikasi, Ketiga konsistensi dan integritas, Keempat pendekatan yang tepat sasaran. Kelima kelembutan dan kesantunan. Keenam menghadapi tantangan dengan ketenangan. Abstract In Surah Taha verses 41-46, there is a valuable guide to understanding and applying communication ethics in the context of social media. These verses teach several important principles that can guide us in interacting in cyberspace in a dignified and beneficial way. The purpose of this study is none other than to explore the values ​​of communication ethics in social media from Surah Taha Verses 41-46. This study uses a literature research method, known as library research. The data used can be divided into two types, namely primary data and secondary data. Primary data is the main reference that is the focus of the study. In this case, the Qur'an is the source of primary data, both in its original form and in its translation. While this secondary data includes various sources such as books, scientific journals, documents, and sources from the internet. The results of this study indicate that the values ​​of Communication Ethics in Social Media from Surah Taha Verses 41-46, there are six things. First, choosing the right communicator. Second, utilizing one's own superiority, Allah's command to use His signs teaches us to utilize the superiority and resources we have in communication, Third, consistency and integrity, Fourth, a targeted approach. Fifth, gentleness and politeness. Sixth, facing challenges with calm.
Peran Pemimpin Agama dalam Memfasilitasi Dialog Antaragama untuk Moderasi Beragama Agus; Ahmad Darussalam; Muhammad Ferryandhi
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  In order to interreligious moderation, the study aims to examine the role played by religious leaders in promoting interfaith dialogue. Studies are under way to identify the obstacles and prospects faced by the religious authorities in their efforts to promote inter-faith communication. The conclusions of the analysis indicate that religious leaders are dealing with a variety of issues, including radicalism and extremism, miscommunication and mistrust, variations in religious beliefs and interpretations, depleted resources, and traditional and conservative customs. But religious leaders also have the opportunity to improve education and learning, take advocacy and teaching, collaborate and socialize with other religious leadership, use technology and social media, and constantly find themselves in the hope of promoting interreligious communication. Religious leaders can effectively promote diversity, tolerance, and shared respect among different groups of society by being aware of potential obstacles and opportunities. Religious leadership can contribute positively to creating societies of compassion, understanding, and peace by upholding religious law, collaborating in religious education, and using technology wisely. Abstrak Untuk mencapai moderasi antar agama, studi ini bertujuan untuk memeriksa peran yang dimainkan oleh para pemimpin agama dalam mempromosikan percakapan antar agama. Studi sedang dilakukan untuk menentukan hambatan dan prospek yang dihadapi oleh otoritas agama dalam upaya mereka untuk mempromosikan komunikasi antar agama. Studi ini didasarkan pada berbagai sumber informasi, termasuk kertas, jurnal, dan publikasi tentang komunikasi antar agama dan moderasi. Kesimpulan dari analisis menunjukkan bahwa para pemimpin agama berurusan dengan berbagai masalah, termasuk radikalisme dan ekstremisme, kesalahan komunikasi dan ketidakpercayaan, variasi keyakinan dan interpretasi agama, penurunan daya sumber, dan kebiasaan tradisional dan konservatif. Tetapi pemimpin agama juga memiliki kesempatan untuk meningkatkan pendidikan dan belajar, mengambil advokasi dan pengajaran, bekerja sama dan bersosialisasi dengan pemimpin agama lain, menggunakan teknologi dan media sosial, dan terus-menerus menemukan diri mereka sendiri dalam harapan mempromosikan komunikasi antar agama. Pemimpin agama dapat secara efektif mempromosikan keragaman, toleransi, dan rasa hormat bersama di antara berbagai kelompok masyarakat dengan menyadari hambatan dan peluang potensial. Pemimpin agama dapat berkontribusi positif untuk menciptakan masyarakat yang penuh belas kasihan, pengertian, dan damai dengan mempertahankan hukum agama, berkolaborasi dalam pendidikan agama, dan menggunakan teknologi dengan bijak.

Page 1 of 1 | Total Record : 8