cover
Contact Name
Sudikno
Contact Email
onkidus@gmail.com
Phone
+6281316350502
Journal Mail Official
redaksipgm@yahoo.com
Editorial Address
Grand Centro Bintaro Blok B2, Jl. Raya Kodam Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12320 Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research)
ISSN : 01259717     EISSN : 23388358     DOI : https://doi.org/10.36457
Core Subject : Health, Social,
Focus and Scope Penelitian Gizi dan Makanan is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health in the field of food and nutrition. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such asresearchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of food and nutritions towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in food and nutritions research in order to advance science andtechnology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factorin the development of science and technology.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 39 No. 2 (2016)" : 10 Documents clear
Front Matter 39(2) Front Matter
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.8611.

Abstract

APLIKASI PATI AREN TERMODIFIKASI EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI MERAH DALAM PENGEMBANGAN PRODUK BERINDEKS GLIKEMIK RENDAH (APPLICATIONS OF ARENGA STARCH MODIFIED WITH RED GUAVA LEAF EXTRACT IN DEVELOPMENT OF A LOW GLYCEMIC INDEX PRODUCT) Nunung Nurjanah; Elisa Diana Julianti; Ema Sahara
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.6969.

Abstract

Consumption of lowglycemic index (GI) and glycemic load (GL) products are recommended to prevent and manage of degenerative diseases.The high digestibility of arenga starch could be lowered by physicochemical modification with soaking the arenga starch using polyphenolic compounds. The aims of this study were to determine chemical composition, glycemic index (GI) and glycemic load (GL) of cake and cookies from arenga starch modified with 4 percent red guava leaf extract 58-62 oBrix. Chemical composition analysis include proximate, starch, dietary fiber and resistant starch. GI test was conducted in vivo on 12 healthy people. The results showed no differences in chemical compisiton between modified arenga starch cakeand native starch. However, modified arenga starch cookies had significantly lower fat and higher total carbohydrate and starch than native starch (p< 0.05). GI and GL decreased significantly (p<0.05) on cake of modified arenga starch, from high (77.72) to low (51.84). GI of modified arenga starch cookies (46.20) was not significantly different than to native starch (47.31). Cookies and cake of modified arenga starch had intermediate GL, 10.55 and 18.45 respectively. The study concluded that arenga starch modified with red guava leaf extract had a potential as an ingredient for development of low GI products. Konsumsi produk yang memiliki indeks glikemik (IG) dan beban glikemik (BG) rendah direkomendasikan untuk pencegahan dan manajemen penyakit degeneratif. Daya cerna pati dan indeks glikemik tinggi pati aren dapat diturunkan dengan memodifikasi pati melalui perendaman dalam ekstrak daun jambu biji merah sebagai sumber polifenol. Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan komposisi kimia, IG dan beban glikemik (BG) kue basah dan cookies berbahan baku pati aren termodifikasi ekstrak daun jambu biji merah dibandingkan pati alaminya. Kue basah dan cookies dibuat dari pati aren yang dimodifikasi dengan 4 persen ekstrak daun jambu biji merah 58-62oBrix dan pati alaminya. Komposisi kimia yang diuji meliputi proksimat, pati, serat pangan dan pati resisten. Pengujian IG dilakukan in vivo pada 12 orang sehat. Komposisi kimia kue basah pati aren termodifikasi tidak berbeda nyata dibandingkan pati alaminya. Cookies pati aren termodifikasi memiliki kadar karbohidrat total dan pati secara nyata lebih tinggi dan kadar lemak lebih rendah dibandingkan pati alaminya. IG menurun secara nyata hanya pada kue basah pati aren termodifikasi dari tinggi (78) menjadi rendah (52). IG cookies pati aren termodifikasi rendah, tidak berbeda nyata dibandingkan pati alaminya, berturut-turut 46 dan 47. Nilai BG kue basah pati aren termodifikasi daun jambu biji lebih rendah (10,55) dibandingkan pati alaminya (15,05). BG produk tersebut terkategori sedang. Kue basah dan cookies pati aren termodifikasi memiliki BG berturut-turut 10,55 dan 18,45. Penggunaan pati aren termodifikasi dapat menurunkan IG pada kue basah. Pati aren termodifikasi berpotensi dijadikan bahan baku untuk pengembangan produk ber-IG rendah.
KONSUMSI MAKANAN PENDUDUK INDONESIA DITINJAU DARI NORMA GIZI SEIMBANG (FOOD CONSUMPTION IN TERM OF THE NORM OF BALANCED NUTRITION) Amalia Safitri; Abas Basuni Jahari; Fitrah Ernawati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.6971.

Abstract

Currently Indonesia is facing double burden nutrition problems, undernutrition and overnutrition.The Riskesdas, national basic health survey  in 2013 the prevalence of underweight is 19.6 percent and 11.9 percent overweight. One of the causes of malnutrition is a problem in selecting healthy food that can lead to problems in food variety, proportion and adequacy required by the body. The purpose of this analysis is to assess food consumption pattern of the population in both quality and quantity which is a representation of the first pillar of balanced nutrition guide (Pedoman Gizi Seimbang). Data from the Individual Food Consumption Survey (SKMI) in 2014 was used for this analysis. The diversity of food is analyzed based on the types of food consumed, the proportion of consumption data obtained from the consumption of carbohydrate, protein and fat, and the adequacy energy consumption as evaluated based on total energy consumption of the sample compared to Dietary Allowances (RDA). The results showed that only food variety is in better situation than the proportion and energy adequacy Recommendation,nutrition education should be intensified either through formal channel (via schools or other institution) or informal channel (pengajian, arisan, karang taruna, majlis taklim, sekolah minggu di gereja) conveying the messages of balanced nutrition. Saat ini Indonesia disebut menghadapi permasalahan gizi ganda, yaitu adanya masyarakat yang kekurangan gizi, namun sebaliknya ada juga yang kelebihan. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 prevalensi underweight sebesar 19,6 persen dan kegemukan sebesar 11,9 persen. Salah satu penyebab dari kejadian ini adalah adanya kesalahan dalam pola makan yang tidak memperhatikan keragaman, proporsi dan kecukupan energi yang dibutuhkan oleh tubuh.Tujuan dari analisis ini adalah untuk melihat bagaimana pola konsumsi penduduk baik kualitas maupun kuantitasnya yang merupakan cerminan dari pilar pertama gizi seimbang. Analisis ini menggunakan data dari Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) tahun 2014. Keragaman makanan didapatkan dari data hidangan dan jenis bahan makanan, proporsi konsumsi didapatkan dari data konsumsi bahan makanan sumber karbohidrat (KH), protein dan lemak dan data kecukupan didapatkan dari total energi yang dikonsumsi dibandingkan dengan angka kecukupan gizi (AKG). Hasil yang didapat dari analisis ini secara umum keragaman konsumsi makanan penduduk di Indonesia sudah baik, namun pada proporsi dan kecukupan konsumsi masih kurang. Saran dari hasil analisis ini adalah perlu digalakkannya pedoman gizi seimbang dan lebih memahami pentingnya menjaga kualitas dan kuantitas konsumsi makanan agar sehat dan terhindar dari penyakit. 
GAMBARAN KONSUMSI PROTEIN NABATI DAN HEWANI PADA ANAK BALITA STUNTING DAN GIZI KURANG DI INDONESIA (THE PROFILE OF VEGETABLE - ANIMAL PROTEIN CONSUMPTION OF STUNTING AND UNDERWEIGHT CHILDREN UNDER FIVE YEARS OLD IN INDONESIA) Fitrah Ernawati; Mutiara Prihatini; Aya Yuriestia
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.6973.

Abstract

Undernutrition is still public health problem in Indonesia, based on 2013 Basic Health Research showed that more than 20 percent of children under five in 18 out of 33 provinces were underweight and more than 20 percent in all of provinces were stunted, so the malnutrition is still a public health problem. Meanhile the SKMI 2014 showed that the average of protein consumption of children under five were above 100 persen RDA. Therefore the purpose of this data analysis was to establish the profile of protein intake and the nutritional status of children under five years old. The data sources were from the SKMI 2014 and the Basic Health Research 2013. The design of the two national health research were cross-sectional, and the analysis was done in National Institute of Heatlh Research and Development, Ministry of Health. Samples were children under five years old (ages 6-59 months). The variables collected were residence, socio economic, education, number of household members, the protein intake, vegetable and animal protein consumption, as well as their nutritional status. The result showed that among stunting and underweight children, the protein intake from animal foods especially milk and dairy foods were lower than children with normal nutritional status. Meanwhile the protein intake from vegetable was higher, especially cereals. Based on these results need to be developed foods containing high quality protein as well as providing information and education for people to consume more varied food sources of high quality protein with low prices such as nuts. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan 18 dari 33 provinsi mempunyai prevalensi gizi kurang (underweight) pada balita lebih dari 20 persen dan semua propinsi masih memiliki masalah stunting lebih dari 20 persen, sehingga masalah gizi kurang dan stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Data SKMI 2014 menunjukkan bahwa tingkat kecukupan rata-rata protein pada balita sudah di atas 100 persen. Analisis lanjut data SKMI 2014 dan data Riskesdas 2013 ini bertujuan untuk melihat profil keragaman asupan protein hubungannya dengan masalah gizi pada balita. Desain penelitian  Riskesdas maupun SKMI adalah cross-sectional.  Analisis data dilakukan di Badan Litbang Kesehatan dari bulan Juni -Oktober 2015. Sampel adalah anak balita (usia 6-59 bulan). Variabel yang dikumpulkan yaitu tempat tinggal, sosial ekonomi kepala keluarga, pendidikan kepala keluarga, jumlah anggota rumah tangga, asupan protein anak balita, konsumsi protein nabati dan hewani anak balita, masalah gizi anak balita yang kemudian dilakukan analisis antara asupan protein hewani dan asupan protein nabati. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada anak balita stunting maupun gizi kurang, asupan protein hewani terutama yang berasal dari  susu dan hasil olahnya lebih rendah dibandingkan anak balita dengan status gizi baik. Sebaliknya asupan protein dari bahan nabati lebih tinggi terutama serealia. Berdasarkan hasil tersebut perlu dikembangkan dan disosialisasikan seperti biskuit tinggi protein yang terbuat dari telur dan susu serta pemberian informasi dan edukasi kepada masyarakat untuk mengonsumsi bahan pangan sumber protein hewani secara lebih bervariasi seperti protein dari kacang-kacangan.
HUBUNGAN ASUPAN MAKANAN, SUPLEMENTASI Fe DAN ASAM FOLAT DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL RIWAYAT KURANG ENERGI KRONIS DAN ANEMIA SAAT MENYUSUI (THE RELATIONSHIP OF FOOD INTAKE, Fe AND FOLIC ACID SUPPLEMENTATION ON HEMOGLOBIN LEVEL IN PREGNANT WOMEN) Indah Kusumawati; Dono Indarto; Diffah Hanim; Suminah Suminah
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.5155.

Abstract

Pregnant women with past history of CED have a higher risk 2,76 times to suffer anemia than normal pregnant women. Fe and folic acid supplementation is one program to overcome iron deficiency anemia in the pregnant women in Boyolali but the incidence rate of anemia remains high (42,9%). This study was to analyze the relationship of food intake, Fe and folic acid supplementation on hemoglobin level in pregnant women with history of CED and anemia of breastfeeding women. This research study used analytic observation with cross sectional approach. The subject of 42 breastfeeding women with past history of CED and anemia in the third trimester of pregnancy in five public health centers in Boyolali. Data of supplementation and nutrient intake was obtained by interview. Nutritional status was determined using upper arm circumference and BMI. Hemoglobin level was measured by using cyanmethemoglobin method. Statiscally analyzed using correlation and multiple regression tests. The breastfeeding women had low food intake (<70% RDA) including macro and micro nutrients. Food intake and nutritional status in breastfeeding women negatively affected hemoglobin level in breastfeeding women (B=-0,005; p=0,040 and B=-0,134; p=0,016 respectively). Fe and folic acid supplementation in pregnant women  with CED and anemia significantly influenced hemoglobin level during breastfeeding (B=0,720; p=0,016). Completed supplementation of iron-folic acid in pregnant women with CED and anemia could increase 0,720 g/dL hemoglobin levels during breastfeeding.Ibu hamil dengan kurang energi kronis (KEK) berpeluang menderita anemia 2,76 kali dari pada ibu hamil normal. Suplementasi Fe dan asam folat merupakan salah satu cara mengatasi anemia defisiensi besi tetapi angka kejadian ibu hamil di Kabupaten Boyolali dengan anemia masih tinggi (42,9%). Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan asupan makanan, suplementasi Fe dan asam folat dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil riwayat KEK dan anemia saat menyusui. Jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian 42 ibu menyusui dengan riwayat KEK dan anemia pada trimester III dari lima Puskesmas di Boyolali. Data suplementasi Fe dan asam folat serta asupan zat gizi diperoleh dengan wawancara. Status gizi ditentukan dengan LILA dan IMT. Kadar hemoglobin ditentukan dengan metode cyanmethemoglobin. Analisis statistik menggunakan uji korelasi dan multivariat regresi ganda. Hasil menunjukkan bahwa asupan energi, lemak, karbohidrat, zat besi dan asam folat pada ibu menyusui termasuk kategori defisit (<70% AKG). Asupan makanan dan status gizi ibu menyusui berhubungan negatif terhadap kadar hemoglobin saat menyusui (B=-0,005, p=0,040 dan B=-0,134, p=0,016). Suplementasi Fe dan asam folat pada ibu hamil riwayat KEK dan anemia berhubungan secara signifikan terhadap kadar hemoglobin saat menyusui (B=0,720, p=0,016). Dapat disimpulkan bahwa suplementasi Fe dan asam folat pada ibu hamil KEK dan anemia berpeluang menaikkan 0,720 g/dL kadar hemoglobin ibu saat menyusui.
BESARAN DEFISIT ENERGI DAN PROTEIN PADA ANAK USIA SEKOLAH (6-12 TAHUN) UNTUK PERENCANAAN PROGRAM GIZI (PMTAS) DI DELAPAN WILAYAH INDONESIA (Laporan Analisis Lanjut Tahun 2014) salimar salimar; Budi Setyawati; Anies Irawati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.5693.

Abstract

Consumption adequacy in school children must be noticed, because of nutritional intake is directly associated with nutritional status of children besides of the infectious disease. The aim of this study was to analyse the proportion and the number of consumption deficit of energy and protein, for planning program of nutrition improvement (complementary food for school children/PMTAS) according to regions in Indonesia. Cross sectional study design. The sample of this study was all of children aged 6-12 years from Riskesdas data in 2010 which had the data of consumption. Data analysis describe the deficit of protein and energy according to groups of age and 8 regions in Indonesia. Proporsion of children who had energy deficit was 83,9 percent nationally, 64,4 percent of children was classified having severe energy deficiency (<70% AKE), and proportion of protein deficit was 64,2 percent, 17,8 percent of children was classified having severe protein deficiency (<70% AKP).  The mean of protein and energy deficit for planning program of nutrition improvement nationally in school children require the adding about 650 calories for energy and 8,1 grams for protein. The number of protein and energy deficit was different according to groups of age and region. Protein adequacy for children in group of 6 years had fulfilled the recommended dietary allowance in 5 regions. The largest number of protein and energy deficit was in children aged 10-12 years in 8 regions of Indonesia. For the program planning of nutrition improvement in school children is supposed to notice the groups of age and regions. Kecukupan konsumsi pada anak sekolah harus diperhatikan, karena intake makanan berhubungan langsung dengan status gizi anak selain infeksi penyakit. Tujuan analisis mengetahui proporsi dan besaran defisit konsumsi energi dan protein, untuk perencanaan program perbaikan gizi (Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah/PMTAS)  menurut wilayah di Indonesia. Disain penelitian cross sectional. Sampel adalah semua anak berumur 6-12 tahun dari data Riskesda 2010 yang mempunyai data konsumsi makanan. Analisis data memaparkan defisit energi dan protein berdasarkan kelompok umur dan 8 wilayah di Indonesia. Proporsi anak usia sekolah yang defisit energi secara nasional 83,9 persen, sebanyak 64,4 persen defisit energi tergolong berat (<70 % AKE), dan defisit protein sebesar 64,2 persen, sebanyak 17,8 persen defisit protein tergolong berat (<70 % AKP). Rata-rata defisit energi dan protein secara nasional untuk perencanan program perbaikan gizi anak usia sekolah adalah perlu tambahan sebesar 650 Kalori untuk energi dan 8,1 gram untuk protein. Besaran defisit energi dan protein berbeda berdasarkan kelompok umur dan wilayah. Kecukupan protein kelompok umur 6 tahun sudah memenuhi AKP di 5 wilayah. Defisit energi dan protein terbesar terdapat dikelompok umur 10-12 tahun di 8 wilayah Indonesia. Dalam perencanaan program perbaikan gizi anak usia sekolah perlu memperhatikan kelompok umur dan wilayah.
HUBUNGAN SARAPAN DAN SOSIAL BUDAYA DENGAN STATUS GIZI ANAK SD PULAU SEMAU KABUPATEN KUPANG (RELATIONSHIP BREAKFAST AND SOCIO-CULTURAL WITH NUTRITIONAL STATUS OF CHILDREN ELEMENTARY SCHOOL IN SEMAU ISLAND KUPANG REGENCY) Maria Helena Dua nita
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.5500.

Abstract

Nutritional problems in students are the low energy intake at breakfast. East Nusa Tenggara Province the highest prevalence of under weight of 7,8 pencent in children aged  5-12 years. The study purposes were analyzed the breakfast energy contribution and nutrition socio-cultural to the nutritional status of elementary school students in remote areas of Semau Island. This was observational analytic study used cross sectional design. The subjects were fifth grade of elementary school students in Semau Island Kupang Regency. Subject was taken used random clusters about 112 children. Data were analyzed with chi square test and ordinal regression multivariates. There is relationship of breakfast energy contribution and nutritional status (p = 0.043), there is not relationship of breakfast protein contribution and nutritional status (p=0.918), there is not relationship of eating habits to the nutritional status (p=0.405) there is not relationship of eating refrain and nutritional status (p=0.903), there is not relationship of appetite and nutritional status (p=0,614), there is not relationship of nutrition knowledge and nutritional status (p=0.417), there is not relationship of tribes to the nutritional status (p=0.522). Kupang for district health office, the need to conduct feeding breakfast to be a form of primary school students in Semau Island of Kupang Regency.  Masalah gizi pada anak sekolah adalah rendahnya asupan energi pada sarapan pagi. Sarapan pagi anak sekolah sangatlah penting kerena dapat meningkatkan  konsentrasi belajar dan stamina. Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah daerah dengan prevalensi kurus ( IMT/U) tertinggi (7,8 %) pada anak usia 5-12 tahun. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis sumbangan energi sarapan pagi dan sosial budaya gizi dengan status gizi anak SD di daerah terpencil di Pulau Semau. Penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Subjek penelitian adalah anak kelas 5 SD di Pulau Semau Kabupaten Kupang. Subjek di ambil dengan menggunakan proporsional random sampling sebanyak 112 anak. Data diperoleh melalui wawancara, pengisian kuesioner dan pengukuran antropometri. Data dianalisis dengan uji chi square dan multivariate regresi ordinal. Hasil menunjukkan ada hubungan sumbangan energi sarapan pagi dan status gizi (p=0,043). Tidak ada hubungan antara asupan protein (p=0,918), kebiasaan makan (p=0,405), pantangan makan (p=0,903), selera makan (p=0,614), pengetahuan gizi (p=0,417), dan suku (0,552) dengan status gizi.  Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang perlu mengadakan program pemberian makanan tambahan berupa sarapan pagi bagi anak sekolah dasar di Pulau Semau.
KECENDERUNGAN PERTUMBUHAN ANAK USIA 0-12 BULAN MENURUT KONDISI RUMAH, KEBERSIHAN LINGKUNGAN DAN PERILAKU PENGASUHAN Budi Setyawati; Anies Irawati; Rika Rachmalina
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.5640.

Abstract

The early life of a child is a very important period for their growth and development. Children growth is influenced by many factors, including environmental factors and parenting behaviours. This study aims to assess the growth trend based on weight for age (w/a) Z-score in children aged 0-12 months and differences based on house condition, environment hygiene, and nurturing behaviour.This is a longitudinal study, part of Child Growth Cohort Study organized by The National Institute of Health Research and Developmend of Republic Indonesia. Samples are children aged 0-23 months in September 2015  and domiciled in the Babakan Pasar dan Ciwaringin Village, Bogor. The growth data analized based on the w/a Z-score value. Presented the w/a Z-score each month to see the trend of growth in children. The differences in the children growth base on house condition, environment hygiene, and nurturing behaviour are assessed at 0, 3, 6, 9, and 12 months with T-independent test.  House condition consist of walls, roofs, and bathroom availability. Environmental include house and environment hygiene. Nurturing behaviourinclude breastfeeding, colostrum giving, and in house smoking.The average children are in normal nutritional status.The child's growth began to falter after 3 months of age and continue until 12 months. No significant differences in growth of children based on house condition, environmental hygiene and in house smoking. There is significant differences, that children who are exclusively breastfeed and given whole colostrum have better growth than otherwise.Awal kehidupan anak merupakan periode sangat penting bagi tumbuh kembangnya.Pertumbuhan anak dipengaruhi banyak faktor, termasuk faktor lingkungan dan perilaku pengasuhan. Studi ini bertujuan melihat kecenderungan pertumbuhan (status gizi) berdasarkan nilai Z-Score berat badan menurut umur (BB/U) pada anak usia 0-12 bulan dan melihat perbedaan pertumbuhan berdasarkan kondisi rumah, kebersihan lingkungan dan perilaku pengasuhan. Studi ini merupakan studi observasional, dengan rancangan longitudinal yang merupakan bagian dari Studi Kohor Tumbuh Kembang Anak yang diselenggarakan oleh Balitbangkes RI.Sampel adalah anak yang September 2015 berusia 0-23 bulan, berdomisili di Kelurahan Babakan Pasar dan Ciwaringin, Bogor.Untuk melihat kecenderungan pertumbuhan anak disajikan nilai Rerata Z-Score BB/U tiap bulan. Perbedaan pertumbuhan dinilai pada titik usia 0, 3, 6, 9, dan 12 bulan berdasar kondisi rumah, kebersihan lingkungan dan perilaku pengasuhan dilakukan menggunakan  uji T-Independen. Kondisi rumah meliputi variabel dinding, atap rumah dan ketersediaan kamar mandi.Kondisi lingkungan adalah kebersihan lingkungan didalam dan diluar rumah.Perilaku pengasuhan meliputi pemberian ASI, kolostrum dan kebiasaan merokok dalam rumah.Hasil menunjukkan Rerata anak berada di status gizi normal.pertumbuhan anak terganggu mulai usia 3 bulan dan terus berlanjut sampai 12 bulan. Tidak terdapat perbedaan signifikan pada pertumbuhan anak berdasar kondisi rumah, kebersihan didalam dan diluar rumah dan kebiasaan merokok dalam rumah.Terlihat ada perbedaan pertumbuhan pada anak yang bermakna, anak yang di berikan ASI saja dan anak yang diberikan keseluruhan kolustrum lebih baik pertumbuhannya dibandingkan sebaliknya 
GAMBARAN MEDIAN TINGGI BADAN DAN BERAT BADAN MENURUT KELOMPOK UMUR PADA PENDUDUK INDONESIA YANG SEHAT BERDASARKAN HASIL RISKESDAS 2013 sri muljati; Agus Triwinarto; Nurhandayani Utami; Hermina Hermina
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.5723.

Abstract

The availability of weight and height data based on age group of Indonesian population are needed to assess the appropriate nutrition intake in every gender and age group. However, threre are many problems during determining recommended dietary allowances (RDA) for Indonesians due to un intregated available aquired data in a survey. This analyced data aimed to present  aquired information for arranging RDA base on gender and age group. Weight and height data were axtracted from baseline health survey of Indonesia (Riskesdas) 2013. The weight and height data included in the analyses were individu should have good nutritional status, free from chronic diseases and came from wealth economic status. The median of weight and  of height were compare to recommended weight and height in RDA 2012 in same gender and same age group. Results show that median weight and height were looked lower than RDA one, the results can be considered on determining of the coming RDA for Indonesian. Tersedianya data berat badan dan tinggi badan menurut kelompok umur pada penduduk Indonesia bermanfaat untuk menilai asupan gizi yang tepat pada setiap kelompok umur dan jenis kelamin. Namun demikian dalam penetapan AKG (Angka Kecukupan Gizi) selama ini masih terkendala karena beberapa informasi yang diperlukan ketersediannya terbatas, seperti data berat badan, tinggi badan, serta asupan zat gizi belum dilakukan dalam suatu survei yang terintegrasi. Analisis ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang nilai median berat badan dan tinggi badan penduduk Indonesia menurut kelompok umur berdasarkan data Riskesdas 2013 dan membandingkan dengan median tinggi badan dan berat badan yang digunakan dalam AKG 2012. Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data berat badan dan tinggi badan individu yang memiliki tingkat soaial ekonomi baik, status gizi normal dan tidak menderita penyakit kronis. Hasil analisis menunjukkan bahwa median berat badan dan tinggi badan pada jenis kelamin yang sama dan kelompok umur yang sama tampak lebih rendah dibandingkan dengan  median berat badan dan tinggi badan dari setiap kelompok umur dalam AKG  2012. Dengan diperolehnya angka median berat badan dan tinggi badan menurut kelompok umur dan jenis kelamin diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan  AKG  yang akan datang.
Back Matter 39(2) Back Matter
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.8612.

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol. 47 No. 2 (2024): PGM VOL 47 NO 2 TAHUN 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): PGM VOL 47 NO 1 TAHUN 2024 Vol. 46 No. 2 (2023): PGM VOL 46 NO 2 TAHUN 2023 Vol. 46 No. 1 (2023): PGM VOL 46 NO 1 TAHUN 2023 Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022 Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022 Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021 Vol. 44 No. 1 (2021): PGM VOL 44 NO 1 TAHUN 2021 Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 42 No. 2 (2019): PGM VOL 42 NO 2 TAHUN 2019 Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019 Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018 Vol. 41 No. 1 (2018): PGM VOL 41 NO 1 TAHUN 2018 Vol. 40 No. 2 (2017) Vol. 40 No. 1 (2017) Vol. 39 No. 2 (2016) Vol. 39 No. 1 (2016) Vol. 38 No. 2 (2015) Vol. 38 No. 1 (2015) Vol. 37 No. 2 (2014) Vol. 37 No. 1 (2014) Vol. 36 No. 2 (2013) Vol. 36 No. 1 (2013) Vol. 35 No. 2 (2012) Vol. 35 No. 1 (2012) Vol. 34 No. 2 (2011) Vol. 34 No. 1 (2011) Vol. 33 No. 2 (2010) Vol. 33 No. 1 (2010) Vol. 32 No. 2 (2009) Vol. 32 No. 1 (2009) Vol. 31 No. 2 (2008) Vol. 31 No. 1 (2008) Vol. 30 No. 2 (2007) Vol. 30 No. 1 (2007) Vol. 29 No. 2 (2006): PGM VOL 29 NO 2 Desember Tahun 2006 Vol. 29 No. 1 (2006) Vol. 28 No. 2 (2005) Vol. 28 No. 1 (2005) Vol. 27 No. 2 (2004) Vol. 27 No. 1 (2004) Vol. 26 No. 2 (2003) Vol. 26 No. 1 (2003) Vol. 25 No. 2 (2002) Vol. 25 No. 1 (2002) JILID 24 (2001) JILID 23 (2000) JILID 22 (1999) JILID 21 (1998) JILID 20 (1997) JILID 19 (1996) JILID 18 (1995) JILID 17 (1994) JILID 16 (1993) JILID 15 (1992) JILID 14 (1991) JILID 13 (1990) JILID 12 (1989) JILID 11 (1988) JILID 10 (1987) JILID 9 (1986) JILID 8 (1985) Vol. 6 (1984): JILID 6 (1984) JILID 7 (1984) Vol. 5 (1982): JILID 5 (1982) JILID 4 (1980) JILID 3 (1973) JILID 2 (1972) JILID 1 (1971) More Issue