Diffah Hanim
Department of Public Health Sciences, Faculty of Medicine, Universitas Sebelas Maret, Surakarta 57126, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Asupan Gizi Makro dan Durasi Tidur pada Remaja Usia 16-18 Tahun dan Hubungannya terhadap Lama Menstruasi Lilia Faridatul Fauziah; Diffah Hanim; Eti Poncorini Pamungkasari
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. 15 No. 1: MARET 2019
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.938 KB) | DOI: 10.30597/mkmi.v15i1.5844

Abstract

Factors influence variations in adolescent menstrual duration would change the hormonal rhythm of thehypothalamic-pituitary-ovarian cycle, so that it indirectly changes the level of secretion of the reproductive hormones.Nutritional intake is predicted to be one of the factors in the regulation of reproductive hormones, as wellas the sleep and wake cycles in a teenager. This study analyzed the relationship between macro nutrient intake andsleep duration with menstrual duration in adolescents aged 16-18 years. 120 adolescents was selected by usingcluster random sampling from 6 high schools in Magelang City-Central Java for this cross sectional study. Allof variable were collected through interview techniques using a questionnaire. Analysis with correlation test andmultiple linear regression used to analyze the relationship between each independent variable with the dependentvariable with a significance value <0.05 and the relationship of all independent variables on the dependent variable.The correlation (Pearson correlation test) between energy intake(r=0.397:p=0.000), fat(r=0.396:p=0.000),carbohydrate(r=0.337:p=0.000), and sleep duration(r=0.315:p=0.000) with menstrual duration was significant,whereas for protein intake (Spearman Rank test) was not significantly associated (r=0.018:p=0.841). The value ofR2 = 0.252.Based on this, it is important to regulate macro nutrient intake and sleep duration for having normalmenstrual duration.
Associations between Nutrition Knowledge, Vitamin C Intake, Nutritional Status, and Blood Pressure among Elderly with Hypertension in Klaten, Central Java, Indonesia Triagung Yuliyana; Kusnandar Kusnandar; Diffah Hanim
International Journal of Integrated Health Sciences Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.412 KB) | DOI: 10.15850/ijihs.v6n1.1114

Abstract

Objective: To analyze the correlation between nutrition knowledge, vitamin C intake, and nutritional status on blood pressure among elderly with hypertension.Methods: This was a cross-sectional study with purposive random sampling which was conducted from April to May 2017. This study included one hundred twenty-five elderly subjects with hypertension who met the inclusion criteria (17 males and 108 females), aged ≥60 years, who lived in the work area of Juwiring Public Health Center in Klaten district, Central Java, Indonesia. The data were analyzed statistically by using normality, correlation, and multiple linear regression tests.  Results: The results of the correlation test showed that there was a correlation between nutrition knowledge (p=0.011), vitamin C intake (p=0.012), nutritional status (p=0.048), and blood pressure hypertension in elderly based on the results of multiple linear regression. All data were analyzed statistically using Spearman correlation test to examine the distributed data. A significant correlation was found between nutrition knowledge, vitamin C intake, and nutritional status (p<0.05) using multiple linear regression (p<0.05). A normality test using the Kolmogorov-Smirnov test resulted in normal residue with p-value 0.000. The results showed that the regression analysis could be used to predict the blood pressure.Conclusion: There was a correlation between nutrition knowledge and blood pressure of hypertension in elderly. There was a correlation between vitamin C intake and a blood pressure of hypertension in elderly. There was a correlation between nutritional status and a blood pressure of hypertension in elderly.Keywords: Blood pressure, elderly hypertension, nutrition knowledge, nutritional status, vitamin C intake DOI: 10.15850/ijihs.v6n1.1114
PENELITIAN ANEMIA PADA SIKLUS 270 HARI PERTAMA KEHIDUPAN DAN USIA IBU DENGAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH Rahmatika Nur Aini; Didik Gunawan Tamtomo; Diffah Hanim
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 10 No 1 (2018): Media Gizi Mikro Indonesia Desember 2018
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.573 KB) | DOI: 10.22435/mgmi.v10i1.589

Abstract

Latar belakang. Anemia merupakan tahap akhir defisiensi zat besi. Kekurangan zat besi pada siklus 270 hari pertama kehidupan dapat membawa dampak buruk pada periode kehidupan selanjutnya. WHO merekomendasikan seluruh wanita hamil agar mendapatkan suplementasi zat besi. Namun, faktanya prevalensi anemia masih tinggi pada kelompok ibu hamil. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kejadian anemia pada 270 hari pertama kehidupan dan usia ibu terhadap berat bayi lahir. Metode. Penelitian dilaksanakan di tiga Puskesmas di Sukoharjo, Indonesia pada Febuari-April 2018. Pemilihan tiga Puskesmas dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah populasi 670 ibu. Sebanyak 129 ibu terpilih, subjek merupakan ibu yang memiliki balita (12-24 bulan). Subjek diwawancara menggunakan kuesioner sosio demografi, sedangkan data anemia didapat dari buku KIA. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik untuk mengetahui faktor yang paling berhubungan dengan berat bayi lahir. Penentuan rasio menggunakan Confidence Interval (CI) 95% untuk menentukan kekuatan hubungan. Nilai p <0.05 digunakan untuk menyatakan signifikansi statistik. Hasil. Dari 129 ibu, sebanyak 100 (77,5%) mengalami anemia pada siklus 0-90 hari; 83 (64,3%) pada siklus 91-180 hari; 123 (95,3%) pada siklus 181-270 hari; dan 73 (56,6%) memiliki usia risiko kehamilan. Hasil uji regresi logistik, anemia pada siklus 0-90 hari dan 91-180 hari tidak ada hubungan yang bermakna dengan berat bayi lahir (p>0.05), sedangkan anemia pada siklus 181-270 hari (p=0.01;OR=6.14) dan usia risiko kehamilan (p=0.03;OR=2.81) berhubungan dengan berat bayi lahir. Kekurangan zat besi pada siklus 181-270 hari pertama kehidupan dan usia ibu hamil yang rentan berkontribusi pada berat lahir bayi. Kesimpulan. Probabilitas ibu anemia pada siklus 181-270 hari pertama kehidupan dan memiliki usia risiko kehamilan dalam melahirkan bayi dengan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) sebesar 7,63%.
HUBUNGAN KETERSEDIAAN PANGAN KELUARGA MISKIN, ASUPAN PROTEIN, DAN ZINK DENGAN PERTUMBUHAN ANAK UMUR 12-24 BULAN PADA SIKLUS 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN Norma Budi Aryati; Diffah Hanim; Endang Sutisna Sulaeman
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 9 No 2 (2018): Media Gizi Mikro Indonesia Juni 2018
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.755 KB) | DOI: 10.22435/mgmi.v9i2.592

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang. Seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah periode emas pertumbuhan seorang anak. Pada periode ini dibutuhkan gizi yang seimbang dan tepat. Gizi seimbang pada 1000 HPK terkait dengan ketersediaan pangan rumah tangga. Keadaan sosial ekonomi keluarga akan berpengaruh terhadap kualitas maupun kuantitas bahan makanan yang dikonsumsi keluarga. Kurangnya variasi dan jumlah makanan yang dikonsumsi terutama bahan pangan yang berfungsi untuk menunjang pertumbuhan seperti sumber protein, lemak, vitamin, dan mineral akan meningkatkan risiko kekurangan gizi yang berdampak pada pertumbuhan anak. Tujuan. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis hubungan ketersediaan pangan keluarga miskin, asupan protein, dan zink dengan pertumbuhan anak bawah dua tahun pada siklus 1000 HPK. Metode. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik yang dilaksanakan di Kabupaten Sukoharjo yang meliputi tiga wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Sukoharjo, Mojolaban, dan Baki dengan desain potong lintang. Subjek penelitian adalah anak bawah dua tahun (baduta) umur 12-24 bulan dari keluarga miskin menurut data kecamatan atau desa sebanyak 130 anak. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara ketersediaan pangan keluarga miskin dengan pertumbuhan pada anak bawah dua tahun (baduta) (p=0,923). Ada hubungan bermakna antara asupan protein dan zink dengan pertumbuhan pada anak baduta (p=0,000). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa asupan zink yang cukup secara signifikan mampu meningkatkan peluang 1,521 kali seorang anak tumbuh baik sesuai grafik pertumbuhan WHO. Kesimpulan. Ketersediaan pangan keluarga miskin yang memiliki anak umur 12-24 bulan di Kabupaten Sukoharjo sebagian besar dalam keadaan terjamin, namun asupan protein dan zink pada anak baduta masih kurang dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian anak umur 12-24 bulan. Anak baduta yang mendapatkan cukup asupan zink memiliki peluang 1,521 kali mengalami pertumbuhan baik sesuai dengan grafik standar WHO di KMS.
HUBUNGAN ASUPAN ENERGI, PROTEIN, VITAMIN B6, NATRIUM DAN KALIUM TERHADAP STATUS GIZI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN HEMODIALISIS Risda Sari; Sugiarto Sugiarto; Ari Probandari; Diffah Hanim
Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi Vol. 6 No. 2 (2017): September
Publisher : Universitas Baiturrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jab.v6i2.27

Abstract

Latar belakang. Pada pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis beresiko hingga 80% mengalami status gizi buruk akibat kurang energi protein gizi, yang pada akhirnya menyebabkan morbiditas dan mortalitas. Selain asupan energi dan protein pada pasien GGK HD ini  juga beresiko mengalami defisiensi atau kelebihan satu atau lebih mikronutrien baik vitamin atau trace elemen. Hal ini dapat terjadi karena asupan yang tidak adekuat, adanya gangguan absorbsi karena akibat obat atau toksin uremik, gangguan metabolisme atau akibat selama proses hemodialisis. Tujuan. Penelitian ini mengetahui dan menganalisis hubungan asupan energi, protein, natrium dan kalium dengan status gizi berdasarkan Subjective Global Assessment (SGA)  pada pasien gagal ginjal dengan hemodialisis.Metode. Desain penelitian ini cross sectional dengan subjek penelitian dipilih secara consecutive sampling. Jumlah sampel 142 orang. Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr Moewardi Surakarta pada bulan Februari-Maret 2017. Karateristik subjek, asupan energi, protein, natrium dan kalium diperoleh dengan wawancara dan 3x24 jam food recall, Status gizi diperoleh dengan wawancara dari kuisioner SGA. Data bivariat dianalisis dengan uji Chi Square. Data multivariate dengan uji regresi logistik.Hasil. Asupan energi yang adekuat 43 subjek (30,3%), rata-rata asupan energi subjek 1229 kkal±406,07 kkal, asupan protein yang adekuat 47 subjek (33,1%), rata-rata asupan protein 44,73 gr ±14,94 gr, asupan vitamin B6 yang adekuat 40 subjek (28,2%), rata-rata asupan vitamin B6 0,7 mg±0,76 mg, asupan natrium yang adekuat 46 subjek (32,4%), rata-rata asupan natrium 424,37 mg±267,76 mg, asupan kalium yang adekuat 40 subjek (28,2%), rata-rata asupan kalium 928,57 mg±523,80 mg.Tidak ada hubungan asupan energi, asupan vitamin B6, dan natrium  dengan status gizi berdasarkan SGA (p =0,273 ; p=0,734; p=0,678),  ada hubungan asupan protein dan kalium dengan status gizi berdasarkan SGA (p=0,000 OR= 0,140 (0,062-0,313); p=0,000 OR =0,124  (0,054-0,284).Dari hasil uji multivariate asupan kalium paling berhubungan dengan status gizi berdasarkan SGA p=0,000 OR=0,124. Asupan makronutrien dan mikronutrien yang adekuat  memberikan kontribusi 24,4% terhadap status gizi baik berdasarkan SGA sebesar 24,4%. Kesimpulan. Adanya hubungan asupan protein dan kalium yang adekuat dengan status gizi berdasarkan SGA pada pasien gagal ginjal dengan hemodialisis, memperkuat teori bahwa perlu adanya pemantauan secara berkala mengenai asupan pasien gagal ginjal dengan hemodialisis untuk mencegah terjadinya malnutrisi pada pasien GGK HD.
HUBUNGAN ASUPAN MAKANAN, SUPLEMENTASI Fe DAN ASAM FOLAT DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL RIWAYAT KURANG ENERGI KRONIS DAN ANEMIA SAAT MENYUSUI (THE RELATIONSHIP OF FOOD INTAKE, Fe AND FOLIC ACID SUPPLEMENTATION ON HEMOGLOBIN LEVEL IN PREGNANT WOMEN) Indah Kusumawati; Dono Indarto; Diffah Hanim; Suminah Suminah
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.5155.

Abstract

Pregnant women with past history of CED have a higher risk 2,76 times to suffer anemia than normal pregnant women. Fe and folic acid supplementation is one program to overcome iron deficiency anemia in the pregnant women in Boyolali but the incidence rate of anemia remains high (42,9%). This study was to analyze the relationship of food intake, Fe and folic acid supplementation on hemoglobin level in pregnant women with history of CED and anemia of breastfeeding women. This research study used analytic observation with cross sectional approach. The subject of 42 breastfeeding women with past history of CED and anemia in the third trimester of pregnancy in five public health centers in Boyolali. Data of supplementation and nutrient intake was obtained by interview. Nutritional status was determined using upper arm circumference and BMI. Hemoglobin level was measured by using cyanmethemoglobin method. Statiscally analyzed using correlation and multiple regression tests. The breastfeeding women had low food intake (<70% RDA) including macro and micro nutrients. Food intake and nutritional status in breastfeeding women negatively affected hemoglobin level in breastfeeding women (B=-0,005; p=0,040 and B=-0,134; p=0,016 respectively). Fe and folic acid supplementation in pregnant women  with CED and anemia significantly influenced hemoglobin level during breastfeeding (B=0,720; p=0,016). Completed supplementation of iron-folic acid in pregnant women with CED and anemia could increase 0,720 g/dL hemoglobin levels during breastfeeding.Ibu hamil dengan kurang energi kronis (KEK) berpeluang menderita anemia 2,76 kali dari pada ibu hamil normal. Suplementasi Fe dan asam folat merupakan salah satu cara mengatasi anemia defisiensi besi tetapi angka kejadian ibu hamil di Kabupaten Boyolali dengan anemia masih tinggi (42,9%). Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan asupan makanan, suplementasi Fe dan asam folat dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil riwayat KEK dan anemia saat menyusui. Jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian 42 ibu menyusui dengan riwayat KEK dan anemia pada trimester III dari lima Puskesmas di Boyolali. Data suplementasi Fe dan asam folat serta asupan zat gizi diperoleh dengan wawancara. Status gizi ditentukan dengan LILA dan IMT. Kadar hemoglobin ditentukan dengan metode cyanmethemoglobin. Analisis statistik menggunakan uji korelasi dan multivariat regresi ganda. Hasil menunjukkan bahwa asupan energi, lemak, karbohidrat, zat besi dan asam folat pada ibu menyusui termasuk kategori defisit (<70% AKG). Asupan makanan dan status gizi ibu menyusui berhubungan negatif terhadap kadar hemoglobin saat menyusui (B=-0,005, p=0,040 dan B=-0,134, p=0,016). Suplementasi Fe dan asam folat pada ibu hamil riwayat KEK dan anemia berhubungan secara signifikan terhadap kadar hemoglobin saat menyusui (B=0,720, p=0,016). Dapat disimpulkan bahwa suplementasi Fe dan asam folat pada ibu hamil KEK dan anemia berpeluang menaikkan 0,720 g/dL kadar hemoglobin ibu saat menyusui.