cover
Contact Name
Sudikno
Contact Email
onkidus@gmail.com
Phone
+6281316350502
Journal Mail Official
redaksipgm@yahoo.com
Editorial Address
Grand Centro Bintaro Blok B2, Jl. Raya Kodam Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12320 Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research)
ISSN : 01259717     EISSN : 23388358     DOI : https://doi.org/10.36457
Core Subject : Health, Social,
Focus and Scope Penelitian Gizi dan Makanan is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health in the field of food and nutrition. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such asresearchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of food and nutritions towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in food and nutritions research in order to advance science andtechnology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factorin the development of science and technology.
Articles 597 Documents
KESESUAIAN KOMPOSISI GIZI DAN KLAIM KANDUNGAN GIZI PADA PRODUK MP-ASI BUBUK INSTAN DAN BISKUIT Agata Tantri Atmaja; Made Astawan; Nurheni Sri Palupi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 40 No. 2 (2017)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v40i2.7926.77-86

Abstract

ABSTRACTComplementary food for breastfeeding period is known as one of the nutrition source for children aged 6 – 24 months old. However, nutritional content of complementary good has not been confirmed with international and national standard, yet, nutrition problems in Indonesia.  This research on processed complementary food, aimed to confirmnutritional content with standard and identify the most frequently-appeared nutritional claims. There were nine samples of processed complementary food in a format of instant powder and five samples in a format of biscuit representing mereks and categories were in scope of this research. Conformity of nutritional content obtained from information on the label, were compared with international standard (Codex Alimentarius- CAC/GL 8-1991) and Indonesian National Standard (SNI 2005). According to this research, 88 percent of nutritional compositions in instant powder were conformed to Codex Alimentarius standard, however only 31 percent in biscuit were conformed to this international standard. On the comparison with Indonesian National Standard, 94 percent of nutritional content in instant powder were conformed to the standard and 86 percent of nutritional compositions in biscuit were also conformed to standard. The most frequently-apperead nutritional claims in the processed complementary food in scope were iron, calcium, protein, dietary fibre, and vitamin A. Three from five nutrients were closely relevant with current nutrition problem in Indonesia namely aenemia, protein/chronic energy deficiency, and vitamin A deficiency. ABSTRAKMakanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) merupakan salah satu sumber zat gizi pada anak usia 6 – 24 bulan. Namun demikian, kandungan zat gizi pada MP-ASI belum dikonfirmasi dengan standar internasional serta nasional, serta permasalahan gizi di Indonesia.Penelitian produk MP-ASI pabrikan bertujuan untuk mengkonfirmasi kesesuaian kandungan gizi dengan standar dan mengidentifikasi klaim kandungan gizi yang paling banyak muncul. Sampel penelitian ini adalah sembilan sampel MP-ASI bubuk instan dan lima sampel biskuit yang dipilih secara purposif dan mewakili merek dagang dan jenisnya. Kesesuaian kandungan gizi diukur menggunakan informasi kandungan gizi yang terdapat pada label produk dan dibandingkan dengan standar internasional dari Codex Alimentarius (CAC/GL 8-1991) serta Standar Nasional Indonesia (SNI MP-ASI 2005). Tingkat kesesuaian zat gizi pada  MP-ASI bubuk instan dengan Codex Alimentarius mencapai 88 persen Sedangkan kesesuaian kandungan zat gizi pada MP-ASI biskuit dengan Codex Alimentarius hanya sekitar 31 persen. Jika dibandingkan dengan SNI baik untuk bubuk instan maupun biskuit, sebanyak 94 persen zat gizi pada MP-ASI bubuk instan dan 86 persen pada MP-ASI biskuit sudah memenuhi SNI. Klaim kandungan gizi dengan frekuensi kemunculan tertinggi berturut-turut pada MP-ASI bubuk instan dan biskuit adalah zat besi, kalsium, protein, serat pangan, dan vitamin A. Tiga dari lima zat gizi ini merupakan zat gizi yang berkaitan erat dengan masalah gizi yang ada di Indonesia yaitu Anemia, Kekurangan Energi Protein (KEP), dan Kekurangan Vitamin A (KVA).
PRAKTEK PENYAPIHAN DINI SERTA HUBUNGANNYA DENGAN KEADAAN SOSIAL EKONOMI DAN WILAYAH TEMPAT TINGGAL Joko Pambudi; Reviana Christijani
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 40 No. 2 (2017)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v40i2.7666.87-94

Abstract

ABSTRACTThe most dominant factor influences the infant health is breast milk. Mothers who are no longer breastfed infants 0-6 months old are said practice an early weaning patterns. Early weaning patterns in which breastfeeding is replaced with complementary foods tend to lead tomalnourishedchildren.Studying the early weaning practice of infants 0-6 months old in correlation to socioeconomic and geographical conditions. Samples were households with infants 0-6 months old in 33 provinces in Indonesia available in Riskesdas 2013 data, was about 7935 households.Data were obtained from questionnaire of RKD13 Block Jb; Breast milk and complementary foods and RKD13 Block III; Block IV included education, work, economic/quintile, and geography. Household categories were household that were practicing early weaning pattern to their babies 0-6 months old.Thedata analysis showed about 6.7 percent infants already got early weaning practices in 0-6 months old. When it was associated with the number of people in Indonesia in 2015 about 250 million people, then the very young baby already weaned around 1.2 million inhabitants. It was known that there was a correlation between the status of working mothers, education, and the place of residence to early weaning patterns. Early weaning practices of infants was influenced by several factors. Factors of education, occupation, economic status, and residential geography influencedthe early weaning practices. ABSTRAKFaktor yang paling dominan mempengaruhi kesehatan bayi adalah air susu ibu (ASI). Ibu yang tidak lagi memberikan ASI pada bayi usia 0-6 bulan dikatakan sebagai praktek penyapihan dini.Pola penyapihan dini dimana pemberian ASI digantikan dengan makanan pendamping ASI (MP-ASI) cenderung mengakibatkan anak kurang gizi. Mempelajari praktek penyapihan dini bayi usia0-6 bulan serta kaitannya dengan keadaan sosial ekonomi dan geografi. Sampel adalah rumah tangga yang memiliki bayi usia 0-6 bulan di 33 provinsi di Indonesia yang tersedia dalam data Riskesdas 2013, yaitu berjumlah 7935 Rumah tangga. Data diperoleh dari kuesioner RKD13 yaitu Blok Jb; ASI dan MPASI dan RKD13 Blok III; dan Blok IV meliputi variabel pendidikan, pekerjaan, status ekonomi/kuintil, dan keadaan geografi. Kategori Rumah tangga adalah RT yang sudah melakukan penyapihan dini terhadap bayinya yang berusia 0-6 bulan. Berdasarkan hasil analisis data riskesdas 2013 diperoleh informasi sebanyak 6,7 persen bayi telah disapih pada usia 0-6 bulan. Bila dikaitkan dengan jumlah penduduk di Indonesia tahun 2015 yang diperkirakan sekitar 250 juta jiwa, maka bayi berusia 0-6 bulan yang telah disapih berkisar 1,2 juta jiwa. Diketahui bahwa terdapat hubungan antara status ibu bekerja, pendidikan, dan wilayah tempat tinggal terhdap pola penyapihan dini. Praktek penyapihan dini bayi dipengaruhi beberapa faktor.Faktor pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, dan geografi tempat tinggal mempengaruhi praktik penyapihan bayi secara dini.
KONSUMSI MAKANAN TINGGI KALORI DAN LEMAK TETAPI RENDAH SERAT DAN AKTIVITAS FISIK KAITANNYA DENGAN KEGEMUKAN PADA ANAK USIA 5 – 18 TAHUN DI INDONESIA Yurista Permanasari; Aditianti Aditianti
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 40 No. 2 (2017)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v40i2.7742.95-104

Abstract

ABSTRACTChanges in eating patterns in teenagers who consumed practical food and ready-to-eat diet increased the prevalence of obesity. Lack of activity can affect the occurrence of obesity. Obesity in early childhood promote obesity in adulthood and it is a risk factor for cardiovascular disease. The purpose of this study was to analyze the consumption of foods which have high calories and fat but low fibers and physical activities and its relationship to obesity in children aged 5-18 years. The study used data basic health research in 2013 and Individual Food Consumption Survey, 2014. The data were analyzed by univarite and bivariate using Chi Square and Spearman correlation test. The results showed that there was a relationship between obesity with sex, economic status, residence, family head work, and maternal education level. Consumption of foods associated with obesity is the consumption of fat (p=0,017). Meanwhile, there is no relationship between consumption of energy (p=0,457), fiber (p=0,431), and physical activities (p=0,078) with obesity. The conclusion of this study is the incidence of obesity in school children aged 5-18 years associated with fat consumption. The largest group of energy and fiber food contributors is the cereal group. The largest group of fatty food group is fat and processed group. ABSTRAK Perubahan pola makan pada remaja yang cenderung mengonsumsi makanan praktis dan siap saji mengakibatkan peningkatan prevalensi kegemukan. Kurangnya aktivitas dapat bepengaruh pada terjadinya kegemukan. Kegemukan pada usia dini berpeluang untuk  mengalami obesitas pula pada saat dewasa dan merupakan faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor konsumsi makanan tinggi kalori dan lemak tetapi rendah serat, serta aktivitas fisik kaitannya dengan kegemukan pada anak usia 5-18 tahun. Penelitian ini menggunakan data Riskesdas 2013 dan SKMI 2014. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi Square dan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara kegemukan dengan jenis kelamin, status ekonomi, tempat tinggal, pekerjaan kepala keluarga, dan tingkat pendidikan ibu. Konsumsi makanan yang berhubungan dengan kegemukan adalah konsumsi lemak (p=0,017). Tidak ada hubungan yang nyata antara konsumsi energi (p=0,457) dan serat (p=0,431), serta aktivitas fisik (p=0,078) dengan kegemukan.  Disimpulkan bahwa kejadian kegemukan pada anak sekolah umur 5-18 tahun berhubungan dengan konsumsi lemak. Kelompok makanan penyumbang energi dan serat tertinggi adalah kelompok serealia, kelompok makanan penyumbang lemak tertinggi adalah kelompok lemak dan olahan.
Front Matter 39(1) Front Matter
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 1 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i1.8613.

Abstract

HUBUNGAN KURANG ENERGI KRONIK DAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 6-12 BULAN DI KABUPATEN BOYOLALI (CORRELATION CHRONIC ENERGY DEFICIENCY AND ANEMIA DURING PREGNANCY WITH NUTRITIONAL STATUS OF INFANT 6 – 12 MONTHS IN BOYOLALI REGENCY) Yunilla Prabandari; Diffah Hanim; Risya Cilmiaty AR; Dono Indarto
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 1 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i1.5964.1-8

Abstract

ABSTRACTMalnutrition still becomes a problem in developing countries such as Indonesia. In Boyolali regency the prevalence of stunting and wasting of infants was 27,5 percent and 6,6 percent respectively. The aim of this study was to analyze the correlation between chronic energy deficiency and Anemia on pregnant mothers with the nutritional status of infants aged 6-12 months. Prospective cohort design was implemented in authorized administration of 6 Community Health Centers of Boyolali Regency. A number of 40 pregnant mothers who had record of chronic energy deficiency and Anemia during third trimester and have infants aged 6-12 months participated in the study. Statistic analyzed were performed using the Peason’s Correlation method. The study failed to show the relationship between chronic energy deficiency during pregnancy and z-score of weight for age (WAZ), height for age (HAZ) and weight for height (WHZ) of infants p>0.05 while anemic pregnant mother found a correlation with Z-score of weight for height (WHZ) of infants (p<0.05), but had not correlation with z-score of weight for age (WAZ), height for age (HAZ) (p>0.05) of infant 6-12 months. Thus, early improvement nutrition program for adolescence should be done to prevent malnutrition in pregnant mothers such as chronic energy deficiency and anemia.ABSTRAK Gangguan gizi masih merupakan masalah di negara berkembang termasuk Indonesia. Di Kabupaten Boyolali prevalensi balita pendek (stunting) sebesar 27,5 persen dan kurus (wasting) 6,6 persen. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan riwayat kurang energi kronik (KEK) dan anemia pada ibu hamil dengan status gizi bayi usia 6-12 bulan. Desain Penelitian adalah kohort prospektif di enam wilayah Puskesmas, di Kabupaten Boyolali. Partisipan terdiri dari 40 ibu yang memiliki riwayat KEK dan anemia pada kehamilan trimester III, memiliki bayi berusia 6-12 bulan. Analisis statistik menggunakan uji korelasi pearson. Pada penelitian ini tidak ditemukan hubungan riwayat KEK pada ibu hamil dengan status gizi bayi usia 6-12 bulan (Indeks BB/U, PB/U dan BB/PB) (p>0,05). Riwayat anemia pada ibu hamil berhubungan dengan status gizi bayi indeks BB/PB (p<0,05), akan tetapi tidak berhubungan dengan status gizi indeks BB/U dan PB/U (p>0,05). Perbaikan pencegahan kurang gizi dan anemia pada masa remaja atau calon pengantin diperlukan untuk mencegah terjadinya gizi kurang pada ibu hamil dan generasi selanjutnya.
RISIKO INISIASI MENYUSU DINI DAN PRAKTEK ASI EKSKLUSIF TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA ANAK 6-24 BULAN (EARLY BREASTFEEDING INITIATION AND EXCLUSIVE BREASTFEEDING AS RISK FACTORS OF STUNTING CHILDREN 6-24 MONTHS-OLD) M Rizal Permadi; Diffah Hanim; Kusnandar Kusnandar; Dono Indarto
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 1 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i1.5965.9-14

Abstract

ABSTRACTSome of causes of stunting are the deferment of early breastfeeding initiation and the administration of the non-exclusive breastfeeding. The objective of this study was to elaborate relationship of early breastfeeding initiation and exclusive breastfeeding administration history to the stunting. This sudy used the observational analytical research method with the cross-sectional design. Its subjects were 33 stunting and 77 non-stunting children aged 6-24 months in Boyolali Regency. Data was analyzed by using the chi-square test and multiple logistic regression analysis. The stunting children who got the early breastfeeding initiation were 14, and those who did not get the early breastfeeding initiation were 19. The stunting children who got the exclusive breastfeeding were 4 and those who did not get the exclusive breastfeeding were 29. Early breastfeeding initiation and exclusive breastfeeding had a significant correlation with the stunting as indicated by the p-value <0.05. The children who did not get the early breastfeeding initiation have the possibility of 3.69 times higher to suffer from stunting than those who got the early breastfeeding initiation. In addition, the children who did not get the exclusive breastfeeding have the possibility of 9.5 times higher to suffer from stunting than those who got the exclusive breastfeeding. Therefore, nutrition education to the gestational mothers on the importance of exclusive breastfeeding administration is required.ABSTRAK Penyebab masalah stunting antara lain akibat dari penundaan inisiasi menyusu dini (IMD), dan pemberian air susu ibu (ASI) tidak eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan IMD dan ASI eksklusif dengan kejadian stunting. Penelitian observasional ini dilaksanakan di Boyolali dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Partisipan terdiri dari 33 anak stunting dan 77 anak tidak stunting berusia 6-24 bulan. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda. Partisipan anak stunting yang mendapatkan IMD sebanyak 14 orang dan tidak mendapatkan IMD sebanyak 19 orang. Anak stunting yang mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 4 orang dan yang tidak sebanyak 29 orang. Inisiasi menyusu dini dan ASI eksklusif memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting (p<0,05). Anak yang tidak mendapatkan IMD memiliki kemungkinan 2,63 (1,02-6,82) kali lebih tinggi mengalami kejadian stunting, selain itu anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko mengalami kejadian stunting 7,86 (2,43-25,4) kali lebih tinggi dibandingkan anak yang mendapatkan ASI eksklusif. Oleh karena itu, diperlukan edukasi gizi kepada ibu hamil mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif.
PENGEMBANGAN MEDIA POSTER SEBAGAI ALAT BANTU EDUKASI GIZI PADA REMAJA TERKAIT KELUARGA SADAR GIZI (KADARZI) (POSTER MEDIA DEVELOPMENT AS NUTRITION EDUCATION TOOL FOR ADOLESCENTS RELATED ON FAMILY NUTRITIONAL AWARENESS) Hermina Hermina; Sri Prihatini
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 1 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i1.5966.15-26

Abstract

ABSTRACTStudy on family nutritional awareness (Kadarzi) of phase I showed that the knowledge, attitudes and behavior of nutrition in the community were still low. Study on Kadarzi of phase II focused on the development of nutrition education materials. This study was to develop media and nutrition education strategies in order to achieve Kadarzi. The study design was cross-sectional, with qualitative methods. The study was conducted in three provinces: West Java, West Sumatra and East  Kalimantan. Samples consisted of two groups, namely sample for media feasibility test (n=98) and sample for implementation of educational test (n=296). Educational channel used was formal education. Type of educational media developed was posters. This study had developed 5 posters with the materials: 1) fruits and vegetables, 2) breakfast, 3) ) weighing to adolescents 13-15 years old (SMP), 4) weighing to adolescents 16-18 years old (SMA) and 5) adolescent anemia. The result showed there was an increase on nutrition knowledge as much as 78,25 percents, after being given nutrition education and a desire to assess an adolescents own nutritional status by weighing and measuring her height. Media nutrition education which was developed was quite simple and easy to understand. The channel education selected was quite effective to improve nutrition knowledge.ABSTRAK Studi keluarga sadar gizi (Kadarzi) tahap awal menunjukkan pengetahuan, sikap dan perilaku gizi di  masyarakat masih rendah, termasuk remaja. Penelitian Kadarzi tahap selanjutnya memfokuskan pada pengembangan materi edukasi gizi yang disesuaikan dengan permasalahan yang ditemukan pada remaja. Tujuan penelitian ini mengembangkan media poster sebagai alat bantu edukasi gizi dalam upaya pencapaian Kadarzi pada remaja. Penelitian ini adalah penelitian operasional dengan desain potong lintang, meng-gunakan metode kualitatif. Penelitian dilakukan di tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Sumatera Barat dan Kalimantan Timur. Sampel ada dua kelompok, yaitu sampel uji kelayakan media poster adalah guru (n=22) dan sampel uji coba implementasi edukasi adalah siswa SMP dan SMA (n=296). Media yang dikembangkan berupa 5 buah poster dengan materi: 1) sayur dan buah, 2) makan pagi, 3) penimbangan remaja usia 13-15 tahun (SMP), 4) penimbangan remaja usia 16-18 tahun (SMA), dan 5) anemia remaja. Hasil uji implementasi menunjukkan sebanyak 78,25 persen siswa mengalami peningkatan pengetahuan gizi setelah diberikan edukasi gizi dan menimbulkan antusias siswa dalam praktek menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan untuk menilai status gizinya sendiri.  Media poster dan pesan gizi yang dikembangkan cukup sederhana dan mudah dipahami oleh guru dan siswa. Sekolah sebagai saluran edukasi gizi cukup efektif untuk meningkatkan pengetahuan gizi siswa remaja.
PERSEPSI DAN SIKAP KONSUMEN TERHADAP PENERAPAN TRAFFIC LIGHT CARD PADA PRODUK PANGAN KEMASAN (CONSUMER’S PERCEPTION AND ATTITUDE TOWARDS IMPLEMENTATION OF TRAFFIC LIGHT CARD FOR PACKAGED FOOD PRODUCTS) Martha Puspita Sari; Ika Ratna Palupi; M Dawam Jamil
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 1 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i1.5970.27-36

Abstract

ABSTRACT There has been an increase in number of deaths caused by noncommunicable diseases. It is related to the intensification of packaged products consumption that contain high sugar, fat, and sodium compositions. Thus, a clear and transparent product label is needed to prevent unnecessary mistake in choosing the right food. Traffic Light (TL) is a format of colour-coded nutrition label that has been implemented on packaged foods in various countries. Previous research conducted in the United Kingdom and Australia indicate that the TL system allowed consumers to more easily and accurately select healthier food products compared with other labelling systems. Research about TL has never been conducted in Indonesia. This study aimed to identify perception and attitude of consumers towards Traffic Light Card (TLC) for packaged food products. An exploratory survey on 95 consumers were done at a supermarket in Yogyakarta, supported by data from in-depth interview. Eighty-six percent of consumers perceive TLC as having clear nutrition information, was easy to use, and helpful for choosing packaged foods. Seventy percent of consumers also support the implementation of TLC for selecting healthy products with “green colour” as well as applying TLC as a label format in Indonesia. Future study should be done in different population and measuring practice of TLC use. This study may serve as basis for policy evaluation of nutrition labelling.ABSTRAK Peningkatan prevalensi penyakit degeneratif berkaitan dengan meningkatnya konsumsi pangan kemasan yang tinggi kandungan gula, lemak, dan natrium. Label gizi yang jelas dan informatif diperlukan untuk membantu konsumen dalam pemilihan produk makanan. Traffic Light (TL) merupakan format label dengan kode warna yang dikembangkan oleh The UK Food Standards Agency (FSA) dan telah diterapkan pada produk pangan kemasan. Beberapa studi di Inggris dan Australia menunjukkan bahwa TL lebih berhasil membantu konsumen memilih produk yang sehat dibanding format label gizi lain. Penelitian format label TL belum pernah dilakukan di Indonesia. Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi dan sikap konsumen terhadap penerapan Traffic Light Card (TLC) pada produk pangan kemasan. Penelitian menggunakan metode mixed researchs yaitu survei yang bersifat eksploratif didukung data wawancara mendalam. Subjek penelitian adalah 95 orang konsumen pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Analisis data kuantitatif menggunakan statistik deskriptif sedangkan data kualitatif diolah dalam bentuk transkrip. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 86,3 persen dan 70,5 persen konsumen memiliki persepsi baik dan sikap baik terhadap penerapan TLC. Konsumen memiliki persepsi bahwa TLC mengandung informasi yang jelas, mudah digunakan, dan bermanfaat sebagai pedoman memilih pangan kemasan yang berkaitan dengan perilaku pencegahan penyakit degeneratif. Konsumen memiliki sikap yang mendukung penggunaan TLC untuk memilih produk dengan warna hijau serta mendukung TL sebagai format label gizi di Indonesia. Perlu dilakukan penelitian lanjutan pada populasi yang berbeda dan mengukur praktek penggunaan TLC. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah untuk evaluasi kebijakan pelabelan gizi.
KADAR DAN IDENTIFIKASI SENYAWA POLIFENOL PADA WINE TERBUAT DARI CAMPURAN BUAH EKSTRAK DELIMA DAN PISANG (THE IDENTIFICATION OF POLYPHENOL COMPOUNDS AND ITS CONTENT OF WINE DERIVED FROM MIXED FRUITS OF POMEGRANATE AND BANANA) Sonya Titin Nge; Martanto Martosupono; Leo Senobroto; Ferry Fredy Karwu
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 1 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i1.5971.37-44

Abstract

ABSTRACTThis research aimed at describing quality and identifies polyphenols of wine made from a mixture of banana and pomegranate fruits. The wines with four different ratios of pomegranate-banana fruits were made (pomegranate: banana): 75:25; 62,5:37,5; 50:50; and 0:100 (control). Ethanol concentrations and taste were used as quality criteria. The ethanol was measured using gas chromatography and the tastes were determined with organoleptic test. HPLC methods were used to measure the total polyphenols and identify their chemical identity. The results of this research was that the ethanol concentration (%) varied between treatments (pomegranate: banana extract, %): 10,33 (75:25); 8,62 (62,5:37,5); 4,88 (50:50); and 9,44 (100: 0) and the organoleptic test by 30 panelist resulted in that the mixture of pomegranate:banana of 50:50 (%) was prefered most. The result also showed that the total polyphenol varied from 3,902 to 4,897 mg/ml, in which the more the pomegranate extract added the more the total polyphenol present in the wine. Further, HPLC analysis of polyphenol for wine with different combined fruit extracts (75:25; 62,5:37,5; 50:50; and 0:100) resulted in the identification of 41, 42, and 42, and 22 peak respectively. Predominant types of polyphenols in pomegranate extract added wine are galloyl-hexoxide, ferulic acid, chlorogenic acid, gallic acid, caffeic acid, catechin, epicatechin, punicalagin α, β punicalagin, and elagic acid. On the otherhand few polyphenols were present dominantly or exclusively in banana extract added wine: naringenin, quercetin-deoxyhexose, and rutin.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kualitas dan mengidentifikasi polifenol yang terkandung di dalam wine yang dibuat dari campuran buah pisang dan delima. Wine dimaksudkan dibuat dalam 4 perlakuan berbeda berdasarkan % ekstrak buah delima: pisang, yakni berturut-turut dalam rasio: 75:25; 62,5:37,5; 50:50; dan 0:100 (kontrol). Konsentrasi etanol dan citarasa dipakai sebagai kriteria kualitas wine, dan diukur menggunakan kromatografi gas untuk etanol, dan uji organoleptik untuk citarasa. Pengukuran konsentrasi polifenol total dan identifikasi ragam jenis polifenol menggunakan kromatografi cair kinerja-tinggi (KCKT) (HPLC) dan diperbadingkan dengan acuan sekunder. Hasil penelitian adalah bahwa konsentrasi etanol (%) bervariasi untuk perlakuan dengan rasio ekstrak delima:pisang berbeda-beda, yakni: 10,33 (75:25); 8,62 (62,5:37,5); 4,88 (50:50); dan 9,44 (0:100). Uji organoleptik oleh 30 orang panelis didapat bahwa campuran rasio ekstrak delima:pisang 50:50 (%) adalah yang paling disukai. Pengukuran polifenol total diperoleh jumlah yang bervariasi dari yang tertinggi yakni 4.897 mg/ml (75%:25%), 4.467 mg/ml (62,5%:37,5%), 3.937 mg/ml (50%:50%) dan yang terendah adalah 3.427 mg/ml (kontrol), dimana wine dengan jumlah ekstrak delima yang makin tinggi maka makin banyak pula kandungan polifenol totalnya. Identifikasi jenis polifenol menggunakan HPLC didapati bahwa wine dengan rasio ekstrak buah delima:pisang berturut-turut 75:25; 62,5:37,5; 50:50; dan 0:100 secara berturut-turut pula terdeteksi  41, 42, 42, dan 22 sinyal dengan waktu tambat berbeda-beda. Jenis polifenol dominan pada wine yang ditambah delima adalah galloyl-hexoxide, asam ferulat, asam klorogenat, asam galat, asam kafeat, katekin, epikatekin, punikalagin α, punikalagin β, dan asam elagik. Sebaliknya, naringenin, quercetin-deoxyhexose, and rutin ada secara eksklusif pada perlakuan kontrol. 
PERBEDAAN LAJU KECEPATAN TERJADINYA HIPERTENSI MENURUT KONSUMSI NATRIUM [STUDI KOHORT PROSPEKTIF DI KOTA BOGOR, JAWA BARAT, INDONESIA] (THE INCIDENCE RATE DIFFERENCE OF HYPERTENSION ACCORDING TO SODIUM CONSUMPTION [A PROSPECTIVE COHORT STUDY IN BOGOR CIT Ekowati Rahajeng; Dewi Kristanti; Nunik Kusumawardani
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 1 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i1.5972.45-53

Abstract

ABSTRACTHypertension is one of the leading causes of death in the world.The amount of dietary of salt or sodium consumed is important determinant of hypertension. The purpose of analysis is to identify the differences between incidence rate of hypertension according to sodium cosumption.The study is part of a prospective cohort study of Non Communicable Diseases conducted since 2011, in Bogor City West Java, Indonesia. Data were collected by interview and blood pressure measurement. Event of hypertension was defined when in the 1-year of follow-up, participant had a high blood pressure in at least 2 of the 3 measurements. The consumption of sodium was collected through 24-hour dietary recall. The analysis conducted in 2561 participants were do not have hypertension, consist of 94 people with high sodium consumption and 2467 people with low sodium consumption . Data were analyzed by Life Table Survival to calculate the incidence rate of hypertension, with statistical test Wilcoxon (Gehan) to determine incidence rate difference of hypertension according to risk factors. The incidence rate of hypertension in 4-years observations was 58 per 1000 person-year. Adjusted by age and gender, fat and sugar consumption, fruit and vegetable consumption, physical inactivity, and smoking(AHR 71 vs 22 per 1000 person-years), shown that the incidence rate of hypertension in people who consume high sodium, significantly faster than people who consume low-sodium. The incidence rate difference of hypertension between the high and low sodium consumption was 49 per 1,000 person-years.  ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia. Jumlah garam atau natrium yang dikonsumsi merupakan determinan penting terjadinya hipertensi. Tujuan analisis ini untuk mengidentifikasi perbedaan laju kecepatan terjadinya hipertensi pada orang dewasa, menurut jumlah natrium yang dikonsumsi. Studi ini merupakan bagian dari Studi Kohort Penyakit Tidak Menular yang dilakukan sejak tahun 2011 di Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Data dikumpulkan dengan metode wawancara dan pengukuran tekanan darah. Hipertensi ditetapkan apabila dalam satu tahun pengamatan responden memiliki  tekanan darah yang tinggi minimal dua kali dari tiga kali pengukuran. Konsumsi natrium dikumpulkan melalui recall diet satu kali 24 jam. Analisis dilakukan terhadap 2561 responden yang tidak mengalami hipertensi, terdiri dari 94 orang mengonsumsi natrium tinggi dan 2467 orang mengonsumsi natrium rendah. Data dianalisis dengan Life Table Survival Analysis untuk menghitung laju kecepatan hipertensi, dan uji statistik Wilcoxon (Gehan) untuk mengetahui perbedaan laju kecepatan terjadinya hipertensi menurut faktor risiko. Laju kecepatan terjadinya hipertensi dalam empat tahun pengamatan adalah 58 per 1000 orang per tahun dengan laju kejadian lebih cepat pada kelompok dengan konsumsi natrium  tinggi dibandingkan konsumsi natrium  rendah (HR 102 vs 22 per 1000 orang-tahun). Hazard rate suaian menurut umur dan jenis kelamin, konsumsi lemak, konsumsi gula, konsumsi sayur-buah, aktivitas fisik, dan rokok menunjukkan mereka yang mengonsumsi natrium tinggi mempunyai kecepatan terjadinya hipertensi lebih tinggi, dengan perbedaan laju kecepatan sebesar 49 per 1000 orang per tahun.

Page 2 of 60 | Total Record : 597


Filter by Year

1971 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 47 No. 2 (2024): PGM VOL 47 NO 2 TAHUN 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): PGM VOL 47 NO 1 TAHUN 2024 Vol. 46 No. 2 (2023): PGM VOL 46 NO 2 TAHUN 2023 Vol. 46 No. 1 (2023): PGM VOL 46 NO 1 TAHUN 2023 Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022 Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022 Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021 Vol. 44 No. 1 (2021): PGM VOL 44 NO 1 TAHUN 2021 Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 42 No. 2 (2019): PGM VOL 42 NO 2 TAHUN 2019 Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019 Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018 Vol. 41 No. 1 (2018): PGM VOL 41 NO 1 TAHUN 2018 Vol. 40 No. 2 (2017) Vol. 40 No. 1 (2017) Vol. 39 No. 2 (2016) Vol. 39 No. 1 (2016) Vol. 38 No. 2 (2015) Vol. 38 No. 1 (2015) Vol. 37 No. 2 (2014) Vol. 37 No. 1 (2014) Vol. 36 No. 2 (2013) Vol. 36 No. 1 (2013) Vol. 35 No. 2 (2012) Vol. 35 No. 1 (2012) Vol. 34 No. 2 (2011) Vol. 34 No. 1 (2011) Vol. 33 No. 2 (2010) Vol. 33 No. 1 (2010) Vol. 32 No. 2 (2009) Vol. 32 No. 1 (2009) Vol. 31 No. 2 (2008) Vol. 31 No. 1 (2008) Vol. 30 No. 2 (2007) Vol. 30 No. 1 (2007) Vol. 29 No. 2 (2006): PGM VOL 29 NO 2 Desember Tahun 2006 Vol. 29 No. 1 (2006) Vol. 28 No. 2 (2005) Vol. 28 No. 1 (2005) Vol. 27 No. 2 (2004) Vol. 27 No. 1 (2004) Vol. 26 No. 2 (2003) Vol. 26 No. 1 (2003) Vol. 25 No. 2 (2002) Vol. 25 No. 1 (2002) JILID 24 (2001) JILID 23 (2000) JILID 22 (1999) JILID 21 (1998) JILID 20 (1997) JILID 19 (1996) JILID 18 (1995) JILID 17 (1994) JILID 16 (1993) JILID 15 (1992) JILID 14 (1991) JILID 13 (1990) JILID 12 (1989) JILID 11 (1988) JILID 10 (1987) JILID 9 (1986) JILID 8 (1985) Vol. 6 (1984): JILID 6 (1984) JILID 7 (1984) Vol. 5 (1982): JILID 5 (1982) JILID 4 (1980) JILID 3 (1973) JILID 2 (1972) JILID 1 (1971) More Issue