cover
Contact Name
Sudikno
Contact Email
onkidus@gmail.com
Phone
+6281316350502
Journal Mail Official
redaksipgm@yahoo.com
Editorial Address
Grand Centro Bintaro Blok B2, Jl. Raya Kodam Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12320 Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research)
ISSN : 01259717     EISSN : 23388358     DOI : https://doi.org/10.36457
Core Subject : Health, Social,
Focus and Scope Penelitian Gizi dan Makanan is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health in the field of food and nutrition. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such asresearchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of food and nutritions towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in food and nutritions research in order to advance science andtechnology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factorin the development of science and technology.
Articles 597 Documents
STATUS VITAMIN A ANAK 12-59 BULAN DAN CAKUPAN KAPSUL VITAMIN A DI INDONESIA Fitrah Ernawati; Sandjaja Sandjaja
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 38 No. 2 (2015)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v38i2.5545.157-165

Abstract

Masalah kurang vitamin A (KVA) masih merupakan masalah gizi di Indonesia. Program untuk mengatasi KVA dilakukan dengan program suplementasi kapsul vitamin A untuk anak 6-59 bulan dua kali setahun (Februari dan Agustus). Tetapi cakupan program tersebut belum optimal dan bervariasi antar daerah dan sebagian balita masih terkena KVA. Studi ini bagian dari SEANUTS yang bertujuan untuk mengetahui cakupan kapsul vitamin A, faktor-faktor yang mempengaruhi status serum retinol anak Indonesia umur 12-59 bulan. Studi dilakukan di 48 kabupaten yang mencakup 3595 balita. Cakupan kapsul dan faktor-faktor dikumpulkan oleh enumerator dengan kuesioner terstruktur. Serum retinol dianalisis dengan metode HPLC dari 504 sub-sampel balita. Cakupan kapsul vitamin A sebesar 83,0 persen. Faktor yang berperan balita tidak menerima kapsul vitamin A adalah status ekonomi rendah (OR 1,75 95% CI 1,35-2,27), tidak pernah ke posyandu (OR 7,90 95% CI 6,20-10,06), ke posyandu hanya 1-3 kali dalam 6 bulan terakhir (OR 2,62 95%CI 2,00-3,49), dan pendidikan ibu SMP ke bawah (OR 1,41 95% CI 1,11-1,78). Serum retinol balita yang tidak menerima kapsul lebih rendah (p=0,039) dibanding yang menerima kapsul (1,37+0,47 dibanding 1,51+0,53 µmol/L). Kadar serum retinol tertinggi pada 2 bulan sesudah distribusi kapsul (2,10+0,36 sampai 2,18+0,61 µmol/L) dan kemudian terus menurun sampai sebelum bulan distribusi kapsul 6 bulan berikutnya (1,21+0,45 sampai 1,28+0,40 µmol/L). Hal ini berarti kenaikan serum retinol antara 0,82-0,97 µmol/L dengan suplementasi kapsul vitamin A. Program kapsul vitamin A masih tetap diperlukan karena kapsul meningkatkan status vitamin A yang masih belum optimal.
ASUPAN ZAT BESI, VITAMIN A DAN ZINK ANAK INDONESIA UMUR 6-23 BULAN Edith Sumedi; Sandjaja Sandjaja
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 38 No. 2 (2015)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v38i2.5546.167-175

Abstract

Anak di bawah dua tahun paling rentan terhadap kekurangan gizi. Oleh karena itu, seribu hari kehidupan pertama merupakan periode kritis anak untuk mendapatkan kesehatan dan status gizi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur asupan zat besi, vitamin A dan zink dari makanan anak yang berkontribusi terhadap masalah kurang gizi mikro. Desain penelitian ini potong-lintang dengan sampel 1,177 anak umur 6-23 bulan di 48 kabupaten di Indonesia. Asupan makanan diukur menggunakan metoda recall 24 jam asupan makan, oleh enumerator terlatih. Asupan zat gizi dihitung berdasarkan Daftar Komposisi Bahan Makanan Indonesia. Variabel lainnya seperti karakteristik rumah tangga, ASI dan praktik pemberian makanan pendamping ASI, pelayanan kesehatan, angka kesakitan, antropometri dan hemoglobin.  Hasil penelitian menunjukkan rerata asupan vitamin A, zat besi dan zink adalah 298+9 µg, 4,6+0,2 mg, and 3,3+0,1 mg. Bila dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan (AKG) vitamin A, zat besi, dan zink adalah 74,6+1,8%, 60,3+2,7%, dan 41,0+1,1%. Prevalensi anemia sebesar 56,4 persen. Analisis ANCOVA menggambarkan bahwa asupan berhubungan secara nyata dengan tempat tinggal (desa/kota), status sosial ekonomi, umur, morbiditas (kesakitan), nafsu makan, pemberian ASI dan konsumsi susu dan hasil olahnya. Walaupun demikian, analisis dengan regresi logistik ganda menggambarkan bahwa asupan rendah vitamin A dibawah AKG berhubungan dengan umur anak yang lebih muda, status sosial ekonomi rendah, penyapihan dan nafsu makan yang rendah. Asupan zat besi rendah berhubungan dengan umur, tempat tinggal, status sosiaI ekonomi rendah, sedangkan asupan zink berhubungan dengan status sosial ekonomi rendah dan penyapihan. Anak dengan konsumsi zat besi kurang dari AKG berhubungan dengan prevalensi anemia.
KONSUMSI MINYAK GORENG DAN VITAMIN A PADA BEBERAPA KELOMPOK UMUR DI DUA KABUPATEN Sandjaja Sandjaja; Sudikno Sudikno; Idrus Jus’at
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 38 No. 1 (2015)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v38i1.4415.1-10

Abstract

ABSTRACTIndonesia plans to implement mandatory vitamin A fortification of cooking oil. A pilot study of voluntary vitamin A fortification in unbranded cooking oil showed that vitamin A status improved significantly a year afterfortification for five age groups except for children 12-23 months of age. The objective of the study was to measure cooking oil consumption and dietary consumption of vitamin A in children, women of reproductive age(WRA), and lactating mothers. The study was a cross-sectional study in Tasikmalaya and Ciamis, Indonesia, covering 1.594 samples randomly selected of poor households. Cooking oil was collected at household byrecall of usual cooking oil purchase and individual sample by 2x24h recall of food consumption. The results showed that households prefer bought unbranded cooking oil sold in plastic pouch at foodstall (warung) nearbyhome (96.2%), purchased oil every 1-3 days (60.6%), each purchace contained < 250 mL oil (73.9%). The average (mean+SE) cooking oil consumption at household was 27.5+1.0 mL/capita/day. Cooking oilconsumption at individual level on the average was 22.3+0.5 mL/capita/day lower compared to household consumption of oil, varied significantly of 2.4+0.4, 13.3+0.8, 23.0+1.0, 30.5+1.3, 33.5+1.2, 33.1+1.3 mL/day in 6-11, 12-23, 24-59 month old, 6-9 year old, WRA, and lactating mothers respectively. Cooking oil consumptionwas lower in children 6-11 and 12-23 months old which contributed to non-significant improvement of serum vitamin A level particularly in children 12-23 months old but not other groups since they consumed higher intake of cooking oil or still brestfed for children 6-11 month old.Keywords: cooking oil, food consumptionABSTRAKPemerintah Indonesia segera melaksanakan program fortifikasi wajib minyak goreng curah dengan vitamin A. Studi pilot fortifikasi vitamin A sukarela minyak goreng menemukan setelah satu tahun, serum vitamin Ameningkat signifikan pada 5 kelompok umur tetapi tidak signifikan pada kelompok 12-23 bulan. Tulisan ini bertujuan mengetahui tingkat konsumsi minyak goreng dan vitamin A dari makanan yang merupakan faktor penyebab naik atau tidak naiknya status vitamin A pada enam kelompok. Studi potong lintang dilakukan di Tasikmalaya dan Ciamis mencakup total 1.594 subjek anak 6 bulan - 9 tahun, wanita usia subur, dan ibu menyusui dari keluarga miskin. Konsumsi minyak goreng dikumpulkan di tingkat rumah tangga dengan recall frekuensi pembelian dan volume yang dibeli sedangkan tingkat individu dengan recall konsumsi makanan 2x24 jam termasuk makanan yang dimasak dengan minyak goreng. Hasil penelitian sebagian besar (96,2%) membeli minyak goreng curah dalam plastik, dibeli setiap 1-3 hari (70,6%), dengan volume < 250 mL (73,9%). Rerata konsumsi minyak goreng di rumah tangga 27,5+1,0 mL/kapita/hari lebih tinggi dibanding rerata konsumsi di tingkat individu 22,3+0,5 mL/kapita/hari. Konsumsi minyak goreng menurut kelompok umur berbeda signifikan dengan konsumsi untuk anak 6-11 bulan, 12-23 bulan, 24-59 bulan, 5-9 tahun, WUS, dan ibu menyusui masing-masing 2,4+0,4, 13,3+0,8, 23,0+1,0, 30,5+1,3, 33,5+1,2, 33,1+1,3 mL/hari. Kesimpulan penelitian konsumsi minyak goreng paling rendah pada anak 6-11 dan 12-23 bulan dibanding kelompoklainnya, yang memberi kontribusi tidak naiknya serum vitamin A pada kelompok 12-23 bulan, dibanding anak 6-11 bulan yang masih mendapat vitamin A dari ASI ataupun kelompok lainnya karena konsumsi minyak goreng yang jauh lebih tinggi. [Penel Gizi Makan 2015, 38(1): 1-10]Kata kunci: minyak goreng, konsumsi makanan
FAKTOR-FAKTOR PEMBEDA PROVINSI YANG MENGALAMI BEBAN GIZI GANDA (BGG) PADA ANAK BALITA DI INDONESIA Sri Poedji Hastoety Djaiman; Noviati Fuada
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 38 No. 1 (2015)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v38i1.4416.11-20

Abstract

ABSTRACTDouble burden malnutrition (DBM) is a phenomenon in some developing countries, including Indonesia. In the last decades, data from several countries showed an increased in the prevalence of severe malnutrition as well as over nutrition. Several factors are assumed to be associated potentially with DBM in provinces. The objective of this analysis was to determine 13 variables related to food consumption, education, socio-economic status that can predict which provinces experienced BGG in Indonesia. The data used for the analysis were secondary data from National Institute of Health Research and Development (NIHRD) and Central Bureau of Statistics (CBS). Samples of this study were 33 provinces in Indonesia where Riskesdas 2010 conducted. Dependent variables were provinces experienced DBM and non-DBM. Those data were analyzed usingdiscriminant analysis. The result showed that 7 of 33 provinces (21,2%) in Indonesia experienced DBM. Bivariate analysis found that dependency ratio (dependency rate) and total fertility rate (TFR) were associatedsignificantly (p=0,027 and p=0,02) to province with DBM. However, among some variables that had been analyzed, multivariate analysis showed only dependency ratio significantly associated with DBM which contribute 14.9 percent to DBM. The study concluded that dependency ratio was a good predictor of province in Indonesia experiencing DBM. Alternative policy in dealing with province experiencing DBM is decreasing dependency ratio by improving the four pillars of nutrition policy, which are sustainable food security, food safety, healthy lifestyles, and proper nutrition.Keywords: double burden malnutrition, underfive childrenABSTRAKBeban gizi ganda (BGG) adalah fenomena yang terjadi di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia. Data dari beberapa negara menunjukkan adanya peningkatan prevalensi gizi buruk serta gizi lebih secara bersamaan. Hal tersebut diasumsikan terkait beberapa variabel, yang diduga berpengaruh. Tujuan analisis ini adalah untuk menentukan 13 variabel yaitu konsumsi makanan, pendidikan, dan status sosial ekonomi yang dapat memprediksi provinsi mengalami BGG di Indonesia. Data yang dianalisis adalah data sekunder dari Badan Litbang Kesehatan dan Badan Pusat Statistik. Sampel penelitian adalah 33 provinsi di Indonesia yang masuk dalam Riskesdas 2010. Variabel dependen adalah provinsi mengalami beban gizi ganda dan tidak mengalami beban gizi ganda. Data dianalisis dengan menggunakan analisis diskriminan. Hasil analisis menunjukkan bahwa 7 dari 33 provinsi di Indonesia (21,2%) mengalami beban gizi ganda. Hasil analisis bivariat menujukkan rasio ketergantungan (dependency ratio) dan tingkat kelahiran total (TFR) dapat menjadi faktor pembeda secara signifikan (p = 0,03 dan p = 0,02) provinsi mengalami beban gizi ganda atau tidak mengalami beban gizi ganda. Analisis multivariat menunjukkan bahwa hanya rasio ketergantungan yang dapat membedakan secara signifikan provinsi mengalami beban gizi ganda atau tidak mengalami beban gizi ganda,dengan kontribusi sebagai pembeda sebesar 14,9 persen. Kesimpulan analisis ini adalah sebesar 21,2 persen provinsi di Indonesia mengalami BGG dan rasio ketergantungan adalah prediktor yang baik untuk BGG.Kebijakan alternatif untuk provinsi yang mengalami BGG adalah menurunkan rasio ketergantungan dengan meningkatkan empat pilar kebijakan gizi, yaitu keamanan yang berkelanjutan pangan, keamanan pangan, gaya hidup sehat, dan gizi. [Penel Gizi Makan 2015, 38(1): 11-20]Kata kunci: beban ganda, malnutrisi, balita
FAKTOR RISIKO SINDROM METABOLIK PADA ORANG DEWASA DI KOTA BOGOR Marice Sihombing; Dwi Hapsari Tjandrarini
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 38 No. 1 (2015)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v38i1.4418.21-30

Abstract

ABSTRACTMetabolic syndrome (MS) is a group of disorders metabolism that are associated with increased risk of cardiovascular disease. The aims of this study was to determined risk factors of MS among adults in Bogor.Baseline data of Cohort Study on Non Communicable Disease in Bogor during the year 2011 to 2012 was used for data analysis. Of the total 5290 records, 4644 participants aged 25-65 year matched the inclusion criteria for analysis. Demographic and lifestyle data were collected using structured questionair. Physical examination (included weight, height, waist circumference, and blood pressure) and laboratory indicators (fasting glucose, HDL cholesterol, and triglyserides) were performed. Diagnosis of MS based of the criteria of The National Cholesterol Education Programme Adult Treatment Panel III (NCEP ATP III) for Asian population. Resultsshowed overall proportion of MS was 18.2 per cent (14.2% in men, and 20.2% in women). Participants in aged group of 35 to 44 years had risk 1.84 time (CI 1.37-2.50, p= 0.000) for MS compared to participants in aged group of 25 to 34 years. Participants in the older aged groups (45-54 y and 55-65 y) had risk 3,34 and 4 times respectively. Participants with obese got risk 7.5 times compared with non obes. Participants who took fried meals was risk 1.21 times. The proportion of components of MS more higher among women than men and the proportion of component of central obesity is dominant. The determinant factors were aged, obese andconsumed fried meals. The risk for MS increased with the aged of the participants.Keywords: central obesity, physical examination, laboratory indicatorsABSTRAKSindrom metabolik (SM) merupakan kumpulan gangguan metabolisme yang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler. Tujuan analisis ini adalah menentukan faktor risiko SM pada orang dewasa diKota Bogor. Analisis menggunakan data dasar ‘Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular’ tahun 2011 sampai dengan 2012. Sebanyak 4644 dari 5290 partisipan berumur antara 25 dan 65 tahun memenuhikriteria untuk dianalisis. Data yang telah dikumpulkan berupa data demografi dan perilaku/gaya hidup; pemeriksaan fisik (pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, dan tekanan darah), pemeriksaanlaboratorium (gula darah puasa, kolesterol HDL, dan trigliserida). Diagnosis SM menggunakan kriteria the national cholesterol education programme adult treatment panel III (NCEP-ATP III) untuk orang Asia. Hasil analisis menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria NCEP-ATP III, ditemukan proporsi SM sebesar 18,2 persen (laki laki 14,2% dan perempuan 20,2%). Partisipan kelompok umur 35-44 tahun berisiko 1,84 kali (CI 1,37-2,50, p=0,000) untuk mendapat SM dibandingkan pada kelompok umur 25-34 tahun. Partisipan kelompok umur yang lebih tua yaitu 45-54 tahun dan 55-65 tahun masing-masing berisiko 3,34 kali dan 4 kali. Risiko mendapat SM bagi penderita obesitas sebesar 7,5 kali; pengonsumsi jajanan gorengan sebesar 1,21 kali. Proporsi komponen SM lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan laki laki; dan komponen yang paling dominan adalah obesitas sentral (87,5%). Faktor determinan terjadinya SM pada orang dewasa adalah umur, obesitas, dan sering mengonsumsi jajanan gorengan. Risiko SM meningkat seiring dengan bertambahnya umur partisipan. [Penel Gizi Makan 2015, 38(1): 21-30].Kata kunci: obesitas sentral, pemeriksaan fisik, indikator laboratorium
METODE SKOR KONSUMSI PANGAN UNTUK MENILAI KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA Anita Christina Sembiring; Dodik Briawan; Yayuk Farida Baliwati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 38 No. 1 (2015)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v38i1.4419.31-40

Abstract

ABSTRACTThis study is aimed to test food consumption score (FCS) methods to assess the food insecurity in households at risk in the city of Bogor. The design of research is cross-sectional with number of respondents as much as 98 households. Food consumption score (FCS) describes the sum of all scores of eight food groups by multiplying the weight and frequency of each food group. The level of nutritional adequacy is measured by nutrientadequacy ratio (NAR) and the mean adequacy ratio (MAR). Sensitivity and specificity analysis are performed to determine the cut off point most appropriate from FCS to identify households at risk of food insecurity(sensitivity) and household food security (specificity). Spearman correlation test results showed that there are significant relationship between FCS and MAR (r = 0,548) and between FCS and percent RDA of energy (r =0,282). Cut off point 89 for minimal score is able to identify food-insecure households (MAR <77 percent) with 82 percent sensitivity and 82 percent specificity, and to identify TKE <70 percent with 70 percent sensitivity and67 percent specificity. FCS can be used to identify food insecurity in household at risk by using a cut-off point that has been modified.Keywords: food consumption score, food security, householdABSTRAKPenelitian ini bertujuan menguji coba metode food consumption score (FCS) untuk menilai ketahanan pangan pada rumah tangga yang berisiko rawan pangan di Kota Bogor. Desain penelitian potong lintang denganjumlah responden sebanyak 98 rumah tangga. Food consumption score (FCS) menjelaskan jumlah semua skor dari delapan kelompok pangan dengan cara mengalikan bobot dan frekuensi dari masing-masing kelompok pangan. Tingkat kecukupan gizi diukur dengan nutrient adequacy ratio (NAR) dan mean adequacy ratio (MAR). Analisis sensitivitas dan spesifisitas dilakukan untuk menentukan cut-off point yang paling tepat dari FCS untuk mengidentifikasi rumah tangga yang berisiko rawan pangan (sensitivitas) dan rumah tangga yang tahan pangan (spesifisitas). Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara FCS dan MAR (r=0,548) dan ada hubungan yang signifikan antara FCS dan tingkat kecukupan energi (TKE)(r=0,282). Cut-off 89 untuk skor minimal FCS mampu mengidentifikasi rumah tangga yang rawan pangan (MAR<77%) dengan sensitifitas 82 persen dan spesifisitas 82 persen dan mampu mengidentifikasi TKE kurang dari 70 persen dengan sensitivitas 70 persen dan spesifisitas 67 persen. FCS dapat digunakan untuk mengidentifikasi ketahanan pangan pada rumah tangga yang berisiko rawan pangan dengan menggunakancut-off yang telah dimodifikasi. [Penel Gizi Makan 2015, 38(1): 31-40]Kata kunci: food consumption score, ketahanan pangan, rumah tangga
PENGARUH KEDELAI PRODUK REKAYASA GENETIK TERHADAP KADAR MALONALDEHID, AKTIVITAS SUPEROKSIDA DISMUTASE DAN PROFIL DARAH PADA TIKUS PERCOBAAN Dadi Hidayat Maskar; Hardinsyah Hardinsyah; Evi Damayanti; Made Astawan; Tutik Wresdiyati; Joko Hermanianto; Tessa Winandita
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 38 No. 1 (2015)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v38i1.4421.41-48

Abstract

ABSTRACTTempe, a soybean fermentation, has a short shelf life. An effort to extend the shelf life of tempe has been done by making tempe flour. Difference of raw materials which were Genetically Modified Organism (GMO) and non-GMO was pressured to cause different impact on human health. Thus, this study was conducted to evaluate the effect of tempe flour that were made from GMO and non-GMO soybean upon malonaldehida (MDA) levels,intracellular antioxidant superoxide dismutase (SOD) activity in the liver and kidneys of experimental rats, as well as hematological profile. Twenty five Sprague Dawley rats divided into four treatment grups and onecontrol, feeded with tempe from GMO and non-GMO at 10% and 20% concentrations at the period of 90 days.The results showed that rats fed with 10% protein derived from non-GMO soybean flour had lower levelsof MDA in the liver and kidney compared to GMO tempe flour group consisting rations of 10% and 20% protein but, not significantly different from the group protein of 20% non-GMO soybean flour and 10% protein of casein. While the value of liver and kidney SOD activity were not significantly different (p>0,05) between the groups of rats. The results showed that the values obtained were within normal limits. However, the amount of thrombocytes in each treatment had a value that exceeds normal limits. The activity of rat, rat’s metabolism, and amount of feed intake by rats might influenced the result. This experimental study lead to conclude that consuming GMO and non-GMO tempe flour is safe.Keywords: experimental rats, GMO tempe flour, non-GMO tempe flour, hematology, superoxide dismutaseABSTRAKTempe merupakan produk fermentasi kedelai yang mempunyai masa simpan relatif pendek. Upaya untuk meningkatkan masa simpan diantaranya dengan dibuat tepung tempe. Perbedaan bahan baku dari kedelai pangan rekayasa genetik (PRG) dan non-PRG menimbulkan kehawatiran terhadap dampak kesehatan bagi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh tepung tempe dari kedelai PRG dan non-PRG terhadap kadar malonaldehida (MDA), aktivitas superoksida dismutase (SOD), di hati dan ginjal serta profil hematologi tikus percobaan. Sebanyak 25 ekor tikus galur Sprague Dawley dibagi menjadi empat kelompok perlakuan dan satu kelompok kontrol (kasein) diberi ransum tempe PRG dan non-PRG dengan konsentrasi 10% dan 20% selama 90 hari. Hasil menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diberi ransum tempe kedelai non-PRG 10 % memiliki kadar MDA lebih rendah di hati dan ginjal dibanding kelompok tikus yang diberi ransum tempe PRG 10% dan 20% persen, tetapi tidak berbeda nyata dengan kelompok non-PRG 20 % dan kelompok kontrol. Sedangkan aktivitas SOD tidak berbeda nyata (p>0,05) antar kelompok perlakuan. Hasil analisis hematologi menunjukkan semua kelompok perlakuan memiliki nilai pada rentang normal. Semua kelompok perlakuan memiliki nilai kadar trombosit, di atas normal. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagaifaktor, diantaranya: aktivitas fisik dan metabolisme serta jumlah ransum yang dikonsumsi. Analisis kadar MDA, aktivitas SOD dan profil hematologi mengungkapkan bahwa tepung tempe kedelai PRG dan non-PRG amanuntuk dikonsumsi. [Penel Gizi Makan 2015, 38(1): 41-50]Kata kunci: tikus percobaan, tepung tempe PRG, tepung tempe non-PRG, hematologi, superoxide dismutase
PENGARUH TAPIOKA TERMODIFIKASI EKSTRAK TEH HIJAU TERHADAP GLUKOSA DARAH DAN HISTOLOGI PANKREAS TIKUS DIABETES Elisa D. Julianti; Nunung Nurjanah; Heru Yuniati; Endi Ridwan; Ema Sahara
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 38 No. 1 (2015)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v38i1.4422.51-60

Abstract

ABSTRACTDiabetes had become national and global health problem. The management of diabetes beside using medicine and physical activity, controlling the daily diet also considered. Food having low digestibility and slow release were good for diabetes. The modification of cassava starch by green tea extract was expected to have low digestibility and slow release, so it could be an alternative food for diabetic person. The aim of this study was to obtain the hypoglicemic effect of tapioca (Manihot utilissima) starch modified with greentea extracts fed to diabetic rats.The sample of this research were 24 male Sprague Dawley rats, aged 2 months (weight 175-250 g). Rats were induced by streptozotocin to become diabetes. Ration containing of tapioka starch modified with 4 percent green tea extract were fed to diabetic Sprague Dawley rats for 35 days. After 35 days of experiment, the blood glucose level and pancreatic Langerhans islets were assayed. The result showed that the tapioca starch modified with 4 percent green tea extract diets could lower blood sugar levels andincrease the population of beta cell sofpancreaticislets in diabetes rats (p<0.05).Keywords: modified tapioka starch, green tea, diabetic rats, bloodglucose, pancreatic beta cellABSTRAKPenyakit diabetes telah menjadi ancaman nasional dan global bagi kesehatan masyarakat. Pencegahan dan penatalaksanaan penyakit diabetes selain melalui pengobatan dan peningkatan aktivitas fisik, pengaturan dari pola makan juga harus diperhatikan. Makanan yang disarankan bagi penderita diabetes adalah makanan yang memiliki daya cerna rendah dan diserap secara lambat. Modifikasi tapioka (Manihot utilissima) dengan ekstrak teh hijau diharapkan dapat menurunkan dayacerna dan memperlambat penyerapan pati tersebut, sehingga dapat menjadi alternatif makanan bagi penderita diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hipoglikemik pati tapioka yang dimodifikasi dengan ekstrak teh hijau 4% pada tikus diabetes.Tikus yang digunakan adalah tikus Sprague Dawley umur dua bulan dengan berat 175-250 g. Tikus diinduksi menjadi diabetes dengan streptozotocin dan diberi pakan tapioka termodifikasi ekstrak teh 4% selama 35 hari.Setelah 35 hari perlakuan, menunjukkan hasil bahwa pemberian tapioka yang termodifikasi dengan ekstrak teh hijau 4% dapat menurunkan kadar glukosa darah dan dapat menahan laju kerusakan sel beta pankreas pada tikus diabetes (p<0,05).[Penel Gizi Makan 2015, 38(1): 51-60]Kata kunci: tapioka termodifikasi, teh hijau, tikus diabetes, glukosa darah, sel beta pankreas
SUPLEMENTASI MIKROENKAPSULAT EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (KBM) MENURUNKAN KADAR MALONALDEHIDA HATI TIKUS Nesya Nova Febriane; Puspo Edi Giriwono; Sutrisno Koswara; Endang Prangdimurti
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 38 No. 1 (2015)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v38i1.4423.61-70

Abstract

ABSTRACTHigh consumption of fried food contributes to increased risk of degenerative. Potent antioxidants that may alleviate this problem are contained in pericarp of mangosteen (KBM). However, its bitter taste hinders use of this antioxidant. Microencapsulation process can mask bitter taste and control the release of bioactive compounds. This study aims to evaluate the effectiveness of microencapsulated mangosteen pericarp extract in supressing malonaldehyde (MDA) in rat liver as a result of the consumption of oxidized palm oil. Antioxidants were extracted with methanol from KBM and microencapsulated using gelatin, carboxymethylcellulose (CMC) and maltodextrin. Its antioxidative capacity is determined by 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) method. Extract is supplemented to feed of rats at doses of 100mg/kg bw (KBM 1), meanwhile microencapsulated KBM at doses 100 (KBM 2) and 200 mg/kg bw (KBM 3) in addition to oxidized palm oil, for 50 days. After termination, liver was excised and liver MDA concentration was assayed. The decrease of MDAlevels on KBM 1, KBM 2, and KBM 3 respectively are 11.64 percent, 40.18 percent, and 53.43 percent. Supplementation of microencapsulated and non-encapsulated KBM extract do not affect body weights and feedconsumption of rats. Microencapsulated KBM is effective to reduce MDA levels significantly than its raw extract, in which 200 mg/kg bw is the best concentration. Its process can reduce the bitter taste of KBM.Keywords: antioxidant, mangosteen pericarp, oxidized oil, microencapsulation, liver MDA levelsABSTRAKTingginya konsumsi pangan yang digoreng meningkatkan resiko penyakit degeneratif. Salah satu antioksidan yang berpotensi mengatasi masalah ini adalah yang terkandung pada kulit buah manggis (KBM). Tetapi rasapahit dan getir yang terkandung dalam KBM menyebabkan penggunaannya menjadi terbatas. Oleh karena itu, digunakan proses mikroenkapsulasi yang dapat melindungi dan mengontrol pelepasan senyawa bioaktif yang terkandung dalam KBM. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas mikroenkapsulasi ekstrak KBMuntuk menurunkan kadar malonaldehida (MDA) hati tikus percobaan yang mengonsumsi minyak sawit teroksidasi. Antioksidan diekstrak dari tepung KBM dengan metanol dan dimikroenkapsulasi menggunakan gelatin, karboksimetil selulosa (CMC), dan maltodekstrin. Kapasitas antioksidan diukur dengan metode 2,2- diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Ekstrak dengan dosis 100 mg/kg bb (KBM 1) serta mikroenkapsulat KBMdengan dosis 100 (KBM 2) dan 200 mg/kg bb (KBM 3) disuplementasi pada pakan tikus dengan penambahan minyak sawit teroksidasi selama 50 hari perlakuan. Setelah diterminasi, hati tikus diambil lalu diukurkonsentrasi malonaldehida (MDA) yang terkandung. Penurunan kadar MDA pada KBM 1, KBM 2, dan KBM 3 yaitu sebesar 11,64 persen, 40,18 persen, dan 53,43 persen. Suplementasi ekstrak KBM yang dimikroenkapsulasi maupun tanpa enkapsulasi tidak mempengaruhi berat dan konsumsi pakan tikus. Mikroenkapsulat KBM efektif untuk menurunkan kadar MDA hati tikus dibandingkan ekstrak tanpa enkapsulasi, dimana konsentrasi terbaik yaitu 200 mg/kg bb. Proses ekstraksi dan mikroenkapsulasi dapat mengurangi rasa pahit dan getir KBM. [Penel Gizi Makan 2015, 38(1): 61-70]Kata kunci: antioksidan, kulit buah manggis, minyak sawit teroksidasi, mikroenkapsulasi, kadar MDA hati
PENDAMPINGAN MINUM TABLET TAMBAH DARAH (TTD) DAPAT MENINGKATKAN KEPATUHAN KONSUMSI TTD PADA IBU HAMIL ANEMIA Aditianti Aditianti; Yurista Permanasari; Elisa Diana Julianti
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 38 No. 1 (2015)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v38i1.4424.71-78

Abstract

ABSTRACTAnemia contributed 20 persen the death of pregnancy. Low consumption of iron is one of the cause of anemia prevalences among pregnant women. Iron intake can be gained from iron tablet. However the iron tabletconsumption still very low. The purpose of this study was to obtain the role of family and posyandu kadre support to the compliance of iron tablet consumption among anemic pregnant women and its relation tohaemoglobin levels of anemic pregnant women. The research design was quasi experimental Anemic pregnant women as a sample respondens were divided into two groups, 29 in the intervention group and 32 in thecontrol group. The study was conducted at Cibungbulang and Pamijahan sub district, Bogor. Compliance measurements using MMAS - 8 (Morisky Medication Adherence Scale - 8) questionnaires. Compliance of irontablet consumption categorized by low, middle and high. The intervention was counseling about anemia and how important iron tablet consumption among pregnant women to their family (husband/parents/in-laws/otherclose relatives) or posyandu cadre whose lived in the same house or as their neighbour. Data analysis was performed using Chi - square and different t-test. The results showed that the anemic pregnant women withsupport from their family and posyandu cadre improve their compliance of iron tablet (p< 0,05).Keywords: anemia, iron tablet, family and posyandu cadre support, complianceABSTRAKAnemia memberikan kontribusi hingga 20 persen terhadap semua kematian pada kehamilan. Salah satu penyebab tingginya prevalensi anemia adalah rendahnya asupan zat besi. Salah satu sumber asupan zat besi berasal dari tablet tambah darah (TTD), namun kepatuhan mengonsumsinya masih sangat rendah. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan pengaruh peran pendamping terhadap kepatuhan konsumsi TTD dan hubungannya dengan kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil anemia. Desain penelitian adalah kuasi eksperimen. Responden adalah ibu hamil anemia, yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 29 pada kelompok intervensi dan 32 pada kelompok kontrol. Penelitian dilakukan di Kecamatan Cibungbulang dan Pamijahan Kabupaten Bogor.Pengukuran kepatuhan menggunakan kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale). Intervensi berupa penyuluhan tentang anemia pada pendamping dan pentingnya konsumsi TTD pada keluarga(suami/orang tua/mertua/kader/keluarga dekat lainnya) yang tinggal serumah atau berdekatan. Kepatuhan konsumsi TTD dikategorikan menjadi rendah, sedang dan tinggi. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan uji beda t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemberian penyuluhan pada ibu hamil dengan anemia dapat meningkatkan kepatuhan minum tablet tambah darah (p<0,05). [Penel Gizi Makan 2015, 38(1): 71-78]Kata kunci: anemia, tablet tambah darah, pendamping ibu hamil, kepatuhan minum TTD

Page 4 of 60 | Total Record : 597


Filter by Year

1971 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 47 No. 2 (2024): PGM VOL 47 NO 2 TAHUN 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): PGM VOL 47 NO 1 TAHUN 2024 Vol. 46 No. 2 (2023): PGM VOL 46 NO 2 TAHUN 2023 Vol. 46 No. 1 (2023): PGM VOL 46 NO 1 TAHUN 2023 Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022 Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022 Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021 Vol. 44 No. 1 (2021): PGM VOL 44 NO 1 TAHUN 2021 Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 42 No. 2 (2019): PGM VOL 42 NO 2 TAHUN 2019 Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019 Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018 Vol. 41 No. 1 (2018): PGM VOL 41 NO 1 TAHUN 2018 Vol. 40 No. 2 (2017) Vol. 40 No. 1 (2017) Vol. 39 No. 2 (2016) Vol. 39 No. 1 (2016) Vol. 38 No. 2 (2015) Vol. 38 No. 1 (2015) Vol. 37 No. 2 (2014) Vol. 37 No. 1 (2014) Vol. 36 No. 2 (2013) Vol. 36 No. 1 (2013) Vol. 35 No. 2 (2012) Vol. 35 No. 1 (2012) Vol. 34 No. 2 (2011) Vol. 34 No. 1 (2011) Vol. 33 No. 2 (2010) Vol. 33 No. 1 (2010) Vol. 32 No. 2 (2009) Vol. 32 No. 1 (2009) Vol. 31 No. 2 (2008) Vol. 31 No. 1 (2008) Vol. 30 No. 2 (2007) Vol. 30 No. 1 (2007) Vol. 29 No. 2 (2006): PGM VOL 29 NO 2 Desember Tahun 2006 Vol. 29 No. 1 (2006) Vol. 28 No. 2 (2005) Vol. 28 No. 1 (2005) Vol. 27 No. 2 (2004) Vol. 27 No. 1 (2004) Vol. 26 No. 2 (2003) Vol. 26 No. 1 (2003) Vol. 25 No. 2 (2002) Vol. 25 No. 1 (2002) JILID 24 (2001) JILID 23 (2000) JILID 22 (1999) JILID 21 (1998) JILID 20 (1997) JILID 19 (1996) JILID 18 (1995) JILID 17 (1994) JILID 16 (1993) JILID 15 (1992) JILID 14 (1991) JILID 13 (1990) JILID 12 (1989) JILID 11 (1988) JILID 10 (1987) JILID 9 (1986) JILID 8 (1985) Vol. 6 (1984): JILID 6 (1984) JILID 7 (1984) Vol. 5 (1982): JILID 5 (1982) JILID 4 (1980) JILID 3 (1973) JILID 2 (1972) JILID 1 (1971) More Issue