cover
Contact Name
Siti Tatmainul Qulub
Contact Email
tatmainulqulub@uinsa.ac.id
Phone
+6285290373455
Journal Mail Official
prodifalak@gmail.com
Editorial Address
Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Ampel, Jl. Jend. A. Yani No. 117 Surabaya 60237. Telp. (031) 8417198. E-mail: prodifalak@gmail.com
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy
ISSN : 27758206     EISSN : 27747719     DOI : https://doi.org/10.15642/azimuth.2020.1.1
Azimuth Journal of Islamic Astronomy merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya. Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun pada bulan Januari dan Juli. Jurnal ini memuat artikel tentang ilmu falak dan ilmu-ilmu terkait.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2021): Juli" : 5 Documents clear
Persepsi Metode Bara’ Ḍâjâ(H) Masyarakat Desa Wonojati Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember Hakim, Alfian Nurul; Sari, Asri Arum; Aryani, Puput Dwi
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 2 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v2i2.2212

Abstract

Bara’ ḍâjâ(h) merupakan istilah dalam bahasa Madura yang digunakan oleh masyarakat Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember untuk menentukan arah kiblat dalam pelaksanaan ibadah shalat. Metode ini merujuk pada arah tengah antara barat dan utara (barat laut) sebagai acuan arah kiblat. Namun, dalam praktiknya, terdapat perbedaan pandangan di kalangan masyarakat mengenai akurasi dan pemahaman terhadap metode tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap keakuratan metode bara’ ḍâjâ(h) dan sejauh mana arah kiblat yang ditentukan sesuai dengan arah azimuth yang tepat, yaitu 292∘2′24″. Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan (field research) dengan pengumpulan data melalui wawancara kepada beberapa warga Desa Wonojati yang dianggap representatif, kemudian dianalisis menggunakan aplikasi Google Earth untuk memverifikasi arah kiblat. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan persepsi di antara masyarakat terkait arah kiblat yang ditentukan dengan metode bara’ ḍâjâ(h), dan ditemukan pula bahwa arah yang digunakan sebagian masyarakat masih mengalami penyimpangan dari arah azimuth yang sebenarnya. Kata Kunci:         Bara’ ḍâjâ(h), arah kiblat, persepsi masyarakat, metode tradisional, Google Earth, azimuth.   Abstract:              Bara’ ḍâjâ(h) is a term in the Madurese language used by the community of Wonojati Village, Jenggawah Subdistrict, Jember Regency, to determine the Qibla direction for performing prayers. This method refers to a midpoint between west and north (northwest) as the reference for Qibla direction. However, in practice, there are differing views among the local people regarding the accuracy and interpretation of this method. This study aims to explore the community’s perception of the accuracy of the bara’ ḍâjâ(h) method and the extent to which the determined Qibla direction aligns with the correct azimuth, which is 292∘2′24″. The research employs a field research method by conducting interviews with several representative residents of Wonojati Village. The data collected were then analyzed using the Google Earth application to verify the Qibla direction. The findings reveal varying perceptions among community members regarding the Qibla direction determined by the bara’ ḍâjâ(h) method. It was also found that the direction used by some members of the community deviates from the accurate azimuth. Keywords:           Bara’ ḍâjâ(h), Qibla direction, community perception, traditional method, Google Earth, azimuth.
Perbandingan Arah Kiblat Antara Candi Dermo Dan Musala Baiturrohman Pawestri, Najwa Risang; Sari, Afifah; Irmadhani, Devi Rofi’ah; Pramono, Dio Safero; Ridwan, Muhammad; Rulamsyahrin, Tirta
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 2 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v2i2.2216

Abstract

Pada tahun 5 Masehi sebelum masuknya agama Islam di Indonesia, sebagian besar masyarakat Indonesia menganut agama Hindu-Buddha. Dalam kepercayaan agama Hindu-Buddha, dikenal dengan adanya istilah candi. Berbeda dengan agama Islam, dalam agama Islam dikenal dengan adanya istilah musala. Musala adalah tempat ibadah yang menyerupai masjid hanya saja memiliki ukuran yang lebih kecil. Dalam penelitian ini penulis akan membahas terkait Candi Dermo dan Musala Baiturrohman. Pada hakikatnya latar belakang dari penelitian ini adalah untuk membandingkan arah kiblat antara candi Dermo dengan musala yang berada tepat di sampingnya yakni Musala Baiturrohman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perhitungan arah kiblat menggunakan rumus yang telah ditetapkan untuk Candi Dermo dan musala Baiturrohman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yang mana memiliki dua objek yaitu candi Dermo dan musala sebelahnya (Baiturrohman). Sumber data diperoleh dari hasil observasi serta dari beberapa buku, jurnal, serta dari media internet. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwasanya terdapat perbedaan hasil perhitungan arah kiblat meskipun tidak terlalu signifikan yang mana hanya berbeda pada detiknya saja. Selisih yang didapat yakni ( yang mana Candi Dermo memiliki sudut B ( dan mushola disebelahnya memiliki sudut B (, hal tersebut bisa terjadi salah satunya karena faktor lokasi antara Candi Dermo  dan Musala Baiturrohman yang memang berdekatan. Kata Kunci:         Candi Dermo, Musala, Arah kiblat.   Abstract:              In 5 AD, before the entry of Islam in Indonesia, most Indonesians adhered to the Hindu-Buddhist religions and recognized temples as places of worship. In contrast to Islam, which recognizes the term musala. Musala is a place of worship that resembles a mosque but is smaller. In this research, the author will discuss Dermo Temple and Musala Baiturrohman. In essence, the background of this research is to compare the Qibla direction between Dermo Temple and the Musala that is right next to it, namely Musala Baiturrohman. This study aims to determine the Qibla direction calculation using the formula chosen for Dermo Temple and Baiturrohman Musala. The method used in this research is a quantitative method that has two objectives, namely, Dermo temple and the next musala. Data sources were obtained from observations as well as from several books, journals, and internet media. The results obtained from this study show that there are differences in the results of the calculation of Qibla direction, even though it is not too significant, which only differ in seconds. The difference obtained is ( Where Dermo Temple has angle B  And the musala next to it has angle B This can occur due to location factors between Dermo Temple and Musala Baiturrohman, which are indeed close together. Keywords:           Dermo temple, Musala, Qibla direction. Pada tahun 5 Masehi sebelum masuknya agama Islam di Indonesia, sebagian besar masyarakat Indonesia menganut agama Hindu-Buddha. Dalam kepercayaan agama Hindu-Buddha, dikenal dengan adanya istilah candi. Berbeda dengan agama Islam, dalam agama Islam dikenal dengan adanya istilah musala. Musala adalah tempat ibadah yang menyerupai masjid hanya saja memiliki ukuran yang lebih kecil. Dalam penelitian ini penulis akan membahas terkait Candi Dermo dan Musala Baiturrohman. Pada hakikatnya latar belakang dari penelitian ini adalah untuk membandingkan arah kiblat antara candi Dermo dengan musala yang berada tepat di sampingnya yakni Musala Baiturrohman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perhitungan arah kiblat menggunakan rumus yang telah ditetapkan untuk Candi Dermo dan musala Baiturrohman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yang mana memiliki dua objek yaitu candi Dermo dan musala sebelahnya (Baiturrohman). Sumber data diperoleh dari hasil observasi serta dari beberapa buku, jurnal, serta dari media internet. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwasanya terdapat perbedaan hasil perhitungan arah kiblat meskipun tidak terlalu signifikan yang mana hanya berbeda pada detiknya saja. Selisih yang didapat yakni ( yang mana Candi Dermo memiliki sudut B ( dan mushola disebelahnya memiliki sudut B (, hal tersebut bisa terjadi salah satunya karena faktor lokasi antara Candi Dermo  dan Musala Baiturrohman yang memang berdekatan. Kata Kunci:         Candi Dermo, Musala, Arah kiblat.   Abstract:              In 5 AD, before the entry of Islam in Indonesia, most Indonesians adhered to the Hindu-Buddhist religions and recognized temples as places of worship. In contrast to Islam, which recognizes the term musala. Musala is a place of worship that resembles a mosque but is smaller. In this research, the author will discuss Dermo Temple and Musala Baiturrohman. In essence, the background of this research is to compare the Qibla direction between Dermo Temple and the Musala that is right next to it, namely Musala Baiturrohman. This study aims to determine the Qibla direction calculation using the formula chosen for Dermo Temple and Baiturrohman Musala. The method used in this research is a quantitative method that has two objectives, namely, Dermo temple and the next musala. Data sources were obtained from observations as well as from several books, journals, and internet media. The results obtained from this study show that there are differences in the results of the calculation of Qibla direction, even though it is not too significant, which only differ in seconds. The difference obtained is ( Where Dermo Temple has angle B  And the musala next to it has angle B This can occur due to location factors between Dermo Temple and Musala Baiturrohman, which are indeed close together. Keywords:           Dermo temple, Musala, Qibla direction.
Menakar Ulang Batas Visibilitas Hilal: Kajian Kritis atas Kriteria Baru Mabims di Wilayah Tropis Amilia, Tsyah; Fatmawati, Emyllia; Putri, Nabila Aliansyah; Prameswari, Zavitri Galuh; Sopwan, Novi
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 2 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v2i2.2218

Abstract

Abstrak: Permasalahan penentuan awal bulan kamariah di Indonesia kerap menimbulkan perbedaan di antara organisasi masyarakat (ormas) Islam akibat tidak adanya keseragaman dalam kriteria visibilitas hilal. Untuk menjembatani hal tersebut, kriteria imkanur rukyat MABIMS diharapkan menjadi solusi yang menyatukan pendekatan hisab dan rukyat. Namun, kriteria awal MABIMS (2-3-8) dinilai terlalu rendah dan sulit diaplikasikan secara empirik di wilayah tropis. Oleh karena itu, disepakati kriteria baru MABIMS (IR 3-6,4), yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat. Meski demikian, masih terdapat perdebatan mengenai keakuratannya. Penelitian ini menganalisis usulan batas bawah visibilitas hilal berbasis parameter fisis pada saat kontras maksimum, yang lebih sesuai dengan kondisi tropis Indonesia. Ditemukan bahwa pada saat kontras maksimum (sekitar 25–30 menit setelah matahari terbenam), hilal memiliki ketinggian rata-rata 2° dan elongasi 13°, yang bila ditarik ke waktu ghurub setara dengan ketinggian 5°. Hal ini menunjukkan bahwa hilal sulit terlihat pada ketinggian di bawah 3° tanpa alat bantu. Oleh karena itu, usulan parameter visibilitas hilal ini layak dipertimbangkan sebagai koreksi terhadap kriteria MABIMS di wilayah tropis.Kata kunci: Visibilitas hilal, MABIMS, kontras, wilayah tropis, imkanur rukyat. Abstract: The problem of determining the beginning of the month of Ramadan in Indonesia often causes differences among Islamic community organizations (CSOs) due to the lack of uniformity in the criteria for the visibility of the new moon. To bridge this, the criteria for imkanur rukyat MABIMS are expected to be a solution that unites the hisab and rukyat approaches. However, the initial criteria of MABIMS (2-3-8) were considered too low and difficult to apply empirically in the tropics. Therefore, it was agreed that the new criteria for MABIMS (IR 3-6.4), namely the height of the hilal is at least 3 degrees and the elongation angle is 6.4 degrees. However, there is still debate about its accuracy. This study analyzes the proposed lower limit of hilal visibility based on physical parameters at the time of maximum contrast, which is more in line with Indonesia's tropical conditions. It was found that at the time of maximum contrast (about 25–30 minutes after sunset), the hilal had an average height of 2° and an elongation of 13°, which, when pulled to the ghurub time, was equivalent to a height of 5°. This shows that the hilal is difficult to see at an altitude below 3° without aids. Therefore, this proposed hilal visibility parameter is worthy of consideration as a correction to the MABIMS criteria in the tropics.Keywords: Visibility of the hilal, MABIMS, contrast, tropical regions, imkanur rukyat.  
Analisis Orthodrom Dan Loxodrom Dalam Penentuan Arah Kiblat di Tokyo Jepang Husna, Amirah Himayah; Hamdani, Aristiono; Nikmah, Ckamilatun; Ardiansyah, Givari; Saifullah, Mohammad Sultan Yusuf; Damanhuri, Adi
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 2 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v2i2.2225

Abstract

Ilmu falak berperan penting dalam kehidupan umat muslim, khususnya dalam hal peribadatan. Banyak sekali jenis peribadatan yang berkaitan dengan ilmu falak, seperti penentuan awal waktu shalat, penentuan awal bulan qamariyah, dan penentuan arah kiblat. Dalam ibadah shalat, selain penentuan awal waktu shalat, terdapat hal lain yang krusial yakni penentuan arah kiblat. Hal ini dikarenakan menurut jumhur ulama, menghadap kiblat termasuk dalam syarat sahnya shalat. Banyak pendapat mengenai arah kiblat dalam shalat, ada yang menyebutkan menghadap persis ke ka’bah dan menghadap ke arah ka’bah. Pendapat mengenai kiblat sekedar menghadap ke arah ka’bah banyak digunakan oleh negara-negara yang berada jauh dari ka’bah, hal ini dikarenakan sepanjang mata memandang tidak akan bisa melihat ka’bah. Maka dari itu, digunakanlah alat-alat pengukur arah kiblat untuk mengetahuinya. Terlebih lagi pada masa sekarang yang sudah maju, teknologi untuk mencari arah kiblat pun jadi semakin canggih. Dengan begitu, dimanapun tempat kita berada di seluruh penjuru dunia ini, kita dapat mengetahui arah kiblat menggunakan alat-alat yang sudah ada. Termasuk mengetahui arah kiblat di Tokyo jepang dengan menggunakan arah orthodrom dan loxodrom yang akan dibahas di dalam artikel ini. Kata kunci: ilmu falak, arah kiblat, orthodrom, loxodrom.   Abstract:    Falak science plays an important role in the life of Muslims, especially in terms of worship. There are many types of worship related to phallic science, such as determining the beginning of prayer time, determining the beginning of the qamariyah month, and determining the direction of qibla. In prayer services, in addition to determining the beginning of the prayer time, there is another crucial thing, namely, determining the direction of the Qibla. This is because, according to jumhur ulama, facing the Qibla is included in the legal conditions of prayer. There are many opinions regarding the direction of the Qibla in prayer; some mention facing exactly towards the kaaba, and others mention facing towards the kaaba. The opinion that the qibla is just facing towards the kaaba is widely used by countries that are far from the kaaba; this is because, as long as the eye can see, it will not be able to see the kaaba. Therefore, qibla direction measuring devices are used to find out. Moreover, in today's advanced days, technology to find the direction of the Qibla has become more sophisticated. That way, wherever we are in all corners of the world, we can know the direction of the Qibla using existing tools. This will include knowing the direction of the Qibla in Tokyo, Japan, by using the orthodrom and loxodrom directions, which will be discussed in this article. Keywords: falak science, qibla direction, orthodrom, loxodrom.  
Harmonisasi Metode Hisab dan Rukyat dalam Penetapan Awal Bulan Kamariah: Analisis terhadap Rekomendasi Jakarta 2017 Wayuningsih, Yuniar; Qulub, Siti Tatmainul
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 2 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v2i2.2232

Abstract

Kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk dan beragam ormas memunculkan berbagai pandangan mengenai penetapan awal bulan Kamariah. Pandangan tersebut disebabkan oleh perbedaan pemahaman dan penafsiran ayat serta hadis yang berkaitan dengan awal bulan Kamariah. Di Indonesia pernah terjadi sebuah kasus dimana ketika hilal berada di bawah kriteria terdapat seseorang yang bersaksi melihat hilal serta berani disumpah. Pada hakikatnya, hal ini bertentangan menurut pandangan astronomi serta hukum perdata yang ada di Indonesia. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara astronomis dan hukum acara peradilan agama, seorang yang bersaksi melihat hilal akan disahkan secara ilmu astronomi melalui data lapangan yang didapatkan serta oleh hukum acara peradilan agama dengan memenuhi syarat dan kriteria yang berlaku di Indonesia, kondisi cuaca yang yang memungkinkan untuk terlihatnya hilal, serta sesuai dengan Keputusan Mahkamah Agung RI Nomor KMA/095/X/2006. Kata Kunci:         Kesaksian, rukyatul hilal, perukyat, hukum acara, pengadilan agama   Abstract:     The condition of the pluralistic Indonesian society and various mass organizations raises various views regarding the determination of the beginning of the lunar month. This view is caused by differences in understanding and interpretation of verses and hadiths relating to the beginning of the lunar month. In Indonesia, there was a case where, when the new moon was below the criteria, there was someone who testified to see the new moon and dared to take an oath. In essence, this is contrary to the view of astronomy and civil law in Indonesia. This research is included in the literature research with a qualitative approach. The results showed that astronomically and the procedural law of the religious courts, a person who testifies to seeing the new moon will be validated in astronomy through field data obtained as well as by the procedural law of the religious courts by fulfilling the requirements and criteria that apply in Indonesia, weather conditions that allow it to be seen. hilal, and in accordance with the Decree of the Supreme Court of the Republic of Indonesia Number KMA/095/X/2006. Keywords:  Testimony, rukyatul hilal, the seer, procedural law, religious courts.

Page 1 of 1 | Total Record : 5