cover
Contact Name
Hery Sahputra
Contact Email
herysahputra@uinsu.ac.id
Phone
081263505256
Journal Mail Official
jurnalijaz@gmail.com
Editorial Address
Jl. Williem Iskandar Pasar V Medan 20371, Sumatera Utara, Indonesia. Program Studi Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Al-I'jaz:Jurnal Kewahyuan Islam
ISSN : 23551275     EISSN : 2685628X     DOI : 10.30821
Core Subject : Religion,
Al‑Iʿjāz: Journal of Revelation Studies publishes scholarly work on revelation studies that engages with contemporary issues. Submissions may be conceptual articles, empirical research reports, or book reviews.
Articles 72 Documents
Penafsiran Saintifik Terhadap Petir; Tinjauan Tafsir Bil-Ma’tsur, Bil-Ra’yi, dan Bil-‘Ilmi zahriata, aminata
Al-I'jaz: Jurnal Kewahyuan Islam Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/al-i'jaz.v6i1.7436

Abstract

Pembahasan tentang ayat-ayat kauniyah di kalangan mufassir semakin genjar dilakukan. Pasalnya kajian terhadap ayat-ayat kauniyah ini dapat digunakan untuk menambah wawasan dan pengetahuan umat Islam dan para akademisi khususnya. Dengan tema: “Penafsiran Saintifik Terhadap Petir: Tinjauan Tafsir Bi al-Ma’tsur, Bi al-Ra’yi dan Bi al-‘Ilmi”, maka peneliti mencoba melakukan integrasi terhadap penafsiran ayat-ayat Alquran dan Sains dengan menggunakan metode maudhi’i / tematik yang bercorak ilmi. Dengan menggunakan metode tematik, maka peneliti akan mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan tema, kemudian membahasnya satu persatu dengan merujuk pada penafsiran tafsir Bi al-Ma’tsur, tafsir Bi al-Ra’yi, dan tafsir Bi al-‘Ilmi. Selanjutnya peneliti menambahkan penjelasan yang saintifik tentang bagaimana proses terjadinya petir, jenis-jenisnya, dan manfaat serta mudharat yang dihasilkan oleh petir. Di dalam ayat-ayat Alquran petir dibahas dengan menggunakan term Al-Barqu, Ar-Ra’d, dan Aṣ-Ṣaiqah. Ternyata ada sekitar 11 ayat yang membicarakan tentang petir. Di dalamnya memuat petir sebagai guruh atau disebut Ar-Ra’d, petir sebagai kilat atau disebut Al-Barqu, dan petir sebagai halilintar dan petus yang disebut Aṣ-Ṣaiqah. Allah melalui kalam-Nya pada 1400 tahun yang lalu telah menceritakan bagaimana petir itu terbentuk, kengerian dan bagaimana sifat petir yang suka menghancurkan, sedangkan para ilmuwan modern baru saja memulai penelitian itu sejak 200 tahun yang lalu. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwasan kemukjizatan Alquran berlaku sepanjang zaman hingga yaumil akhir. Hanya saja perlu kiranya kita menggali dan melakukan observasi lebih terhadap ayat-ayat kauniyah dan mempublikasikannya berdasarkan aturan ilmiah yang ada.
Tradisi Suluk Tarekat Naqsyabandiyah Dayah Hidayatullah Subulussalam Dalam Perspektif Alquran Surah Almaidah/5: 35 Islaila, Tri
Al-I'jaz: Jurnal Kewahyuan Islam Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/al-i'jaz.v9i1.23453

Abstract

AbstrakAlquran mengajarkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui perjalanan spiritual yaitu suluk. Penelitian ini membahas tentang tradisi suluk tarekat Naqsabandiyah Dayah Hidayatullah Subulussalam dalam perspektif Alquran surah Almaidah/5: 35, dengan tujuan mengetahui apa saja praktik yang dilakukan selama suluk dan bagaimana perspektif Alquran surah Almaidah/5: 35 terhadap praktik suluk tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah agar menambah kecintaan kepada Allah SWT.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat lapangan (Field Reserch) dan kepustakaan (Library Reserch), dengan mengumpulkan data melalui wawancara, dokumentasi dan menggunakan karya ilmiah lainnya yang berkaitan dengan suluk tarekat Naqsyabandiyah Dayah Hidayatullah Subulussalam. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa praktik suluk tarekat Naqsyabandiyah Dayah Hidayatullah Subulussalam adalah bai’at, solat, puasa, rabiṭah mursyid, tawajjuh, zikir dan khatam. Praktik ini sudah sesuai dengan konsep mendekatkan diri kepada Allah dalam Alquran surah Almaidah/5: 35, yaitu dengan mencari jalan menuju Allah, mematuhi perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.Kata Kunci: Suluk, Dayah Hidayatullah, tarekat Naqsyabandiyah.  
Aplikasi al-Jarh wa al-Ta`dil Muhammad Al-Gazali dan Ali Mustofa Ya’kuf Darta, Ali
Al-I'jaz: Jurnal Kewahyuan Islam Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/al-i'jaz.v5i2.5765

Abstract

Abstrak Penelitian hadis merupakan sebuah keharusan bagi pelajar muslim yang bergulat pada Ushuluddin (sumber ajaran islam), karena hadis adalah sumber ajaran islam kedua sesudah Al-qur’an. Secara teoritik kritik hadis dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: Melakukan identifikasi hadis, Melakukan klasifikasi hadis, Takhrij hadis, Melakukan I`Tibar Sanad, Kritik sanad (tarjamah ar-ruwat), Kritik matan, Fiqhu al-hadis. Setiap ulama hadis memiliki cirihasnya masing-masing, ada yang has dengan Illat Hadis, fiqhu al-hadis, metode pemahaman hadis, dan lain lain, dalam hal al-jarh dan ta’dil misalnya, Muhammad al-gazali yang berasal dari timur tengah  mungkin memiliki perbedaan dengan Ali Mustafa Yaqub yang berasal dari nusantara, tulisan ini mengkaji metode dan aplikasi al-Jarh dan al-Ta’dil dari kedua tokoh diatas melalui analisis komparatif dengan menelusuri pemikiran mereka berdua pada tulisan tulisan meraka atau tulisan orang lain tentang mereka. Hasil riset menunjukkan Muhammad al-Gazali terlihat cenderung lebih fokus kepada kritik matan ketimbang kritik sanadnya, itu bisa terlihat pada penjelasan beliau pada hadis yang berkaitan dengan Niqab (cadar) sementara Ali Mustafa Yaqub lebih seimabang antara kritik matan dan kritik sanadnya, dan lebih tradisional dan moderat, itu terlihat pada penjelasan beliau terhadap beberapa hadis seperti hadis tentang Lima Hal Yang Membatalkan Puasa.
PENGAJARAN MORAL DARI KISAH NABI LUTH DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Kalsum Nasution, Ummi; Ariska Meldiana, Dwi
Al-I'jaz: Jurnal Kewahyuan Islam Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/al-i'jaz.v8i2.23443

Abstract

AbstrakPenelitian ini membahas pengajaran moral yang diambil dari kisah Nabi Luth dalam perspektif Al- Qur'an. Kisah Nabi Luth menawarkan pelajaran mendalam tentang etika, perilaku manusia, dan nilai-nilai sosial, dengan menekankan pentingnya menjunjung tinggi moralitas dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat. Melalui analisis kualitatif terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang relevan, penelitian ini mengeksplorasi tema-tema seperti penolakan terhadap kemaksiatan, konsekuensi dari keruntuhan moral, dan pentingnya petunjuk ilahi dalam membentuk masyarakat yang beretika. Temuan menunjukkan bahwa kisah Nabi Luth menjadi pengingat abadi akan pentingnya memegang teguh prinsip-prinsip moral serta dampak keadilan ilahi pada komunitas yang menyimpang dari prinsip-prinsip tersebut. Kata kunci: Nabi Luth, Perspektif Al-Qur’an, Pengajaran Moral
Al-Khabar Al-Shadiq dalam Epistemologi Islam Darta, Ali
Al-I'jaz: Jurnal Kewahyuan Islam Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/al-i'jaz.v7i1.9774

Abstract

AbstraksMelihat kondisi kaum muslimin di berbagai belahan dunia sekarang ini penulis menilai bahwa kaum muslimin terbelakang jika dibandingkan dengan kaum lain, itu terlihat pada pertumbuhan ekonomi, teknologi, produk yang dihasilkan dan lain lain. tidak bisa dipungkiri bahwa penyebab utama kemajuan dan kemunduran sebuah kaum ditentukan oleh tingkat ilmu pengetahuannya. satu hal mendasar yang membedakan antara kaum muslimin dengan kaum lain dalam kajian sumber ilmu pengetahuan adalah: sumber utama ilmu pengetahuan yang diyakini dalam ajaran islam adalah Al-Khabaru Al-Shadiq (wahyu). Dengan menganalisa literatur dari berbagai disiplin ilmu ke-islaman, seperti Ushul Fiqh, Ulum Al-Hadits, Ulum Al-Qur’an dan lain lain. penulis ingin membuktikan bahwa dalam epistemologi islam Khabar Shadiq (wahyu) adalah sumber ilmu pengetahuan dan memiliki pendekatan yang berbeda dengan disiplin ilmu lainnya.Menurut penulis, ilmu pada Al-Khabar Shadiq (Al-Qur’an, Hadis, Atsar Shahabah) ada dua macam, yaitu: satu, Ilmu yang terkandung dalam teks dan  ilmu yang diisyaratkan teks. ilmu dalam teks seperti ilmu tentang Ibadah, mu’amalah, jinayah, etika, adab akhlak dll. Pendekatan yang digunakan untuk jenis ilmu ini adalah ditentukan oleh tujuan  apa yang akan dihasilkan, jika berkaitan dengan Fiqih maka metode yang digunakan adalah ushul fiqh dan jika berkenaan dengan Tafsir maka metode pendekatan yang digunakan adalah Tafsir. Dua, Ilmu yang diisyaratan oleh teks, yaitu umur ad-dunya, seperti cara bercocok tanam, meneliti minyak bumi, cuaca dan lain lain. Pendekatan yang duganakan untuk jenis ilmu ini juga ditentukan oleh objek yang akan diteliti, jika objeknya sejarah maka metode yang digunakan adalah pendekatan sejarah, dan begitu seterusnya.
KISAH NABI YUSUF DALAM ISRAILIYAT Damanaik, Nursumayyah
Al-I'jaz: Jurnal Kewahyuan Islam Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/al-i'jaz.v10i1.23531

Abstract

Abstrak Kata jamak Israiliyat berasal dari kata tunggal Israliyat dan berasal dari bahasa Ibrani Isra’ yang artinya hamba dan il yang memiliki arti Tuhan. Periwayatan Israiliyat berhubungan dengan Yahudi dan Nasrani. Orang-orang Yahudi membawa berbagai kepercayaan dan agama masuk ke Jazirah Arab. Salah satu periwayatan Israiliyat yaitu membahas mengenai kisah nabi Yusuf. Ada yang mengatakan bahwa pernikahan nabi Yusuf dengan Zulaikha tidak didasarkan kepada keshahihan hadis dan al-Quran. Ada yang mengatakan bahwa nabi Yusuf tidak mungkin melakukan godaan atau perbuatan yang keji kepada Zulaikha. Hal tersebut juga dapat merusakah aqidah yang dimiliki umat Muslim apabila dipercayai. Kisah mengenai Yusuf dan Zulaikha dalam Israiliyat akan penulis bahas melalui artikel ini. Dan bagaimana hukum menyampaikan kisah-kisah israiliyat menurut para ulama-ulama ahli tafsir.Kata Kunci: Yusuf, aqidah, Israiliyat.
MENGENAL ISRAILIYAT DALAM TAFSIR AL-KHAZIN Suri, Sufian; Akhyar, Sayed
Al-I'jaz: Jurnal Kewahyuan Islam Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/al-i'jaz.v6i2.8959

Abstract

  ABSTRAKKisah-kisah israiliyat seringkali digunakan untuk menjelaskan tentang suatu hal yang menyangkut masa lalu sebelum diutusnya Rasulullah SAW. Isra’iliyat adalah cerita atau kisah yang bersumber dari Yahudi dan Nasrani, seringkali riwayat ini dijelaskan dalam kitab-kitab tafsir klasik, sehingga ada yang membolehkan periwayatannya dan yang melarang untuk diriwayatkan karena tidak sesuai dengan fungsi dari Al-qur’an. penafsiran yang tidak mempunyai dasar sama sekali baik berupa hadis- hadis dhaif dan maudu’, ta’wil yang bathil maupun hayalan-hayalan penafsir masa kini yang disusupkan masuk ke dalam tafsir. Al-khazin mengungkap dalam tafsirnya Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil banyak riwayat israiliyat, yang telah mengandung kritik tajam karena kurang kritisnya dalam menukil riwayat israiliyat, juga karena Al-kazin seringkali tidak menyebutkan dari mana sumbernya, bahkan sering kali pula tidak mengemukakan komentar ataupun ulasan terhadap informasi cerita-cerita Israiliyyat yang jelas-jelas bertentangan dengan rasio. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sejumlah riwayat yang dipaparkan oleh Al-khazin tersebut dalam tafsirnya terdapat riwayat- riwayat isra’iliyat sebagai salah satu sumber penafsiran yang ia gunakan, baik yang sejalan dengan kesucian agama Islam atau yang tidak sejalan dengan kesucian agama Islam maupun yang mauquf.  Fast traslate Icon translate     Fast traslate Icon translate
Ma’iyytullah dalam Al-Qur’an Menurut Fakhruddin Ar-Razi: Makna Zahir dan Batin Fadhillah, Syifa
Al-I'jaz: Jurnal Kewahyuan Islam Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/al-i'jaz.v9i2.23458

Abstract

 Abstrak  Penelitian ini membahas konsep Ma’iyyatullah (kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya) dalam perspektif Fakhruddin ar-Razi, khususnya dari kitab tafsirnya, Mafatih al-Ghaib. Konsep ini dianalisis berdasarkan makna zahir dan batin, dengan pendekatan tafsir yang menghindari pemahaman literal yang dapat menimbulkan kesalahpahaman. Fakhruddin ar-Razi membagi Ma’iyyatullah menjadi dua kategori: Ma’iyyah ‘Ammah (kebersamaan Allah dengan semua makhluk) dan Ma’iyyah Khassah (kebersamaan khusus bagi mereka yang beriman, bertakwa, dan sabar). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis terhadap ayat-ayat yang relevan serta kajian literatur tafsir klasik dan modern. Hasilnya menunjukkan bahwa Ma’iyyatullah tidak bermakna kebersamaan secara fisik, tetapi lebih kepada kehadiran Allah dalam bentuk ilmu, pengawasan, dan pertolongan.Kata Kunci: Ma’iyyatullah, Fakhruddin ar-Razi, Tafsir Mafatih al-Ghaib, Makna Zahir dan Batin.
MUALLAF DALAM PERSPEKTIF ALQURAN Rahayu, Sri Ulfa
Al-I'jaz: Jurnal Kewahyuan Islam Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/al-i'jaz.v5i2.5789

Abstract

AbstrakTulisan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya mengetahui makna muallaf serta aspek-aspek yang berkaitan dengan muallaf. Perhatian kepada muallaf sudah mulai berkurang, padahal mereka adalah orang-orang yang perlu diperhatikan dan diberikan pembinaan. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang makna muallaf yang sebenarnya dan bagaimana cara umat Islam memperlakukannya. Melalui penulisan ini, peneliti diharapkan mampu untuk memberikan keterangan yang terperinci tentang masalah yang diteliti. Submasalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Bagaimana pandangan Alquran terhadap muallaf, 2) Siapa saja yang disebut sebagai muallaf dan kapan batasan seseorang dikatakan sebagai muallaf, dan 3) Apa saja hak-hak dan kewajiban-kewajiban muallaf.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan. Selanjutnya metode yang digunakan adalah metode tafsir tematik. Sumber data dalam penelitian ini adalah Alquran dan Hadis. Rujukan primer dalam tulisan ini adalah kitab-kitab tafsir dan hadis seperti Tafsīr aṭ-Ṭabarī, Tafsir al-Mishbah, Tafsīr ibn Kaṡīr, Alquran dan Tafsirnya, Tafsīr Alquran al-‘Azīm, Tafsir al-Baḥr al-Muḥīṭ, Tafsīr al-Marāgī, Tafsir Alquran al-Karim, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Muslim, Al-Bidāyah fī at-Tafsīr al-Mauḍū’ī, Fatḥ ar-Raḥmān dan lain-lain.Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada empat ayat Alquran yang membahas tentang muallaf dilihat dari bentuk katanya yaitu pada surah Āli ‘Imrān ayat 103, surah al-Anfāl ayat 63, surah at-Taubah ayat 60, dan surah an-Nūr ayat 43. Muallaf terbagi kepada dua yaitu yang Muslim dan yang kafir. Seseorang tidak lagi disebut muallaf jika keimanannya telah kuat dan tidak lagi dikhawatirkan gangguannya terhadap Islam. Hak-hak muallaf yaitu memperoleh zakat, perlindungan, dan keamanan. Kewajiban-kewajibannya adalah mengucap dua kalimat syahadat, salat, puasa, dan haji.
MUNASABAH KISAH NABI MUSA DENGAN FIR’AUN, HAMAN DAN QARUN ANTISIPASI DALAM KEHIDUPAN KONTEMPORER (KAJIAN TEMATIK QOSOSUL QUR’AN) Dita Aurellya, Sheila
Al-I'jaz: Jurnal Kewahyuan Islam Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/al-i'jaz.v9i1.23449

Abstract

Abstrak Terjadinya kejadian di masa lampau tak lepas dari sebab dan akibat sehingga menimbulkan terjadinya suatu kejadian. Selayaknya dengan kisah Nabi Musa dengan Fir’aun, Haman dan Qorun yang ditenggelamkan Allah dikarenakan tingkah laku ketiga tokoh tersebut yang dilaknat oleh Allah. Kejadian ini tidak menutup kemungkinan akan terjadi pula di masa sekarang walaupun dengan bentuk yang berbeda. Adanya berbagai pemahaman di masa sekarang dapat memicu timbulnya Fir’aunisme, Hamanisme hingga Qorunisme. Pemicu-pemicu inilah yang menjadi kekhawatiran akan terjadinya kejadian yang sama persis dengan kejadian di masa lampau. Hal ini disebabkan pula dikarenakan lebih mengutamakan pendapat manusia di atas segala-galanya daripada merujuk kembali pada tuntunan yang telah diturunkan kepada umat manusia yakni Alqur’an. Dengan demikian, sudah seharusnya kita untuk kembali kepada petunjuk yang diturunkan sebagai pedoman di dunia yaitu Alqur’an. Bahwa dengan memahami kisah-kisah umat terdahulu dapat menjadikan kita pribadi yang lebih ter-arah dan jauh dari hal-hal yang tidak baik. Temuan studi ini antara lain sebagai berikut : Terdapatnya munasabah atau keterkaitan antara kisah Nabi Musa dengan Fir’aun, Haman dan Qorun dengan kehidupan saat ini. Yakni beberapa aspeknya adalah pemikiran materialistrik Qorun, praktik politik devide et impera Fir’aun dan tuna moral Haman. Kemudian, kisah-kisah Nabi Musa dengan Fir’aun, Haman dan Qorun tersebar dalam beberapa surah di Alqur’an. Dan kebenarannya telah diteliti oleh para Mufassir yakni Ibnu Katsir, M.Quraish Shihab. Tokoh ilmuwan eropa yaitu Prof. Dr. Maurice Bucaille, dan Ahli sejarah yakni Louy Fatoohi. Mereka semua sepakat akan kebenaran kisah Nabi Musa yang kini sudah seharusnya kita renungkan makna dibaliknya. Maka, dengan dilakukannya studi ini dapat kita ketahui pula bahwa terdapat antisipasi yang dapat dilakukan dalam usaha menghindari kejadian yang di masa lampau terulang kembali, yakni dengan membentuk pribadi yang Istiqamah dunia akhirat, membentuk pribadi yang selalu bersyukur, menghindari sifat diktator dan mengimbangi kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual.Kata Kunci: Kisah Nabi Musa, Fir’aun, Haman, Qorun, Kehidupan Kontemporer