cover
Contact Name
Iwan Kurnia
Contact Email
bkputrawan@yahoo.co.id
Phone
085215129260
Journal Mail Official
moderatejres@gmail.com
Editorial Address
Ebenhaezer Building, Jalan Setiabudi Selatan No.1, Setia Budi, Jakarta Selatan, DI Jakarta
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social
ISSN : -     EISSN : 3031710X     DOI : https://doi.org/10.46362/moderate
The MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social (MJRES) is an international peer-reviewed journal with a pedigree stretching back to 2022 when it began life as Religious, Education, and Social. It is the leading journal in Indonesia for the dissemination of international research in religion, education, and social-cultural issues and the scholarly discussion of issues concerning religion, education, humanities internationally. The MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social (MJRES) is an international peer-reviewed journal that promotes research that contributes to our understanding of the relationship between religion and education in all phases of formal and non-formal educational settings. MJRES publishes articles that are national, international, and transnational in scope from researchers working in any discipline whose work informs debate in religious education. Topics might include biblical theology, systematic theology, religious education, practical theology, and religious theology; research on religion and people; or the influence of religion(s), humanities, and non-religious worldviews upon the educational process as a whole.
Articles 25 Documents
Click for Tolerance: The Transformation of Christian Religious Education through Digital Media in Fostering Inclusive Attitudes in Indonesia Bulan, Susanti Embong; Simangunsong, Amran
MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social Vol. 3 No. 1 (2025): MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social (November 2025)
Publisher : Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/moderate.v3i1.16

Abstract

This study examines the transformation of Christian Religious Education (CRE) in Indonesia through the integration of digital media as a pedagogical and theological tool for nurturing inclusivity and tolerance in a plural society. Employing a qualitative–interpretive approach, the research combined semi-structured interviews, document analysis, and digital ethnography involving Christian educators, students, and online learning communities. This design allowed the study to capture how digital platforms influence religious formation, interfaith engagement, and ethical awareness within virtual learning environments. The findings indicate that digital media can democratize access to theological education and foster intercultural dialogue by creating new spaces of communication and collaboration. However, challenges emerge in the form of digital alienation, ethical ambiguity, and the risk of superficial spiritual engagement. Through a critical–reflective framework, the study argues that the effectiveness of digital Christian education depends on its ability to integrate technological innovation with moral discernment and theological depth. The research concludes that inclusivity in digital pedagogy is not merely a technical or institutional concern but a spiritual and ethical endeavor grounded in love, justice, and respect for human dignity. Ultimately, this study proposes a vision of “clicking for tolerance”—a model of Christian education that transforms digital spaces into environments of dialogue, compassion, and peace, contributing to Indonesia’s broader project of interreligious harmony.   Contribution: This study contributes to the development of digital theology and Christian Religious Education by offering a reflective framework for integrating faith, ethics, and technology in Indonesia’s pluralistic context. It provides practical insights for educators and policymakers on how digital platforms can become instruments of inclusion, empathy, and peacebuilding through faith-informed pedagogy.   Penelitian ini mengkaji transformasi Pendidikan Agama Kristen (PAK) di Indonesia melalui integrasi media digital sebagai alat pedagogis dan teologis untuk menumbuhkan sikap inklusif dan toleransi dalam masyarakat yang majemuk. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif–interpretatif, penelitian ini menggabungkan wawancara semi-terstruktur, analisis dokumen, dan etnografi digital yang melibatkan para pendidik Kristen, siswa, serta komunitas pembelajaran daring. Desain ini memungkinkan penelitian untuk menangkap bagaimana platform digital memengaruhi pembentukan religius, keterlibatan lintas iman, dan kesadaran etis dalam lingkungan pembelajaran virtual. Temuan menunjukkan bahwa media digital dapat mendemokratisasi akses terhadap pendidikan teologis dan mendorong dialog antarbudaya melalui penciptaan ruang-ruang komunikasi dan kolaborasi baru. Namun, tantangan muncul dalam bentuk keterasingan digital, ambiguitas etika, serta risiko keterlibatan spiritual yang dangkal. Melalui kerangka kritis–reflektif, penelitian ini berpendapat bahwa efektivitas pendidikan Kristen digital bergantung pada kemampuannya untuk mengintegrasikan inovasi teknologi dengan kepekaan moral dan kedalaman teologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa inklusivitas dalam pedagogi digital bukan sekadar persoalan teknis atau kelembagaan, tetapi merupakan upaya spiritual dan etis yang berakar pada kasih, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Pada akhirnya, penelitian ini mengajukan visi “klik untuk toleransi” — sebuah model pendidikan Kristen yang mentransformasi ruang digital menjadi lingkungan dialog, belas kasih, dan perdamaian, serta berkontribusi pada proyek besar harmoni antaragama di Indonesia.   Kontribusi: Studi ini berkontribusi terhadap pengembangan teologi digital dan Pendidikan Agama Kristen dengan menawarkan kerangka reflektif untuk mengintegrasikan iman, etika, dan teknologi dalam konteks pluralistik Indonesia. Studi ini memberikan wawasan praktis bagi para pendidik dan pembuat kebijakan tentang bagaimana platform digital dapat menjadi sarana inklusi, empati, dan pembangunan perdamaian melalui pedagogi yang berlandaskan iman.
Child Sacrifice in the Book of Leviticus: A Comparative Study with Ancient Near Eastern Practices Tanasyah, Yusak; George, Alexi E.
MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social Vol. 3 No. 1 (2025): MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social (November 2025)
Publisher : Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/moderate.v3i1.20

Abstract

Child sacrifice, a deeply disturbing yet widespread ritual in the Ancient Near East, represents one of the most striking contrasts between Israelite and pagan religious thought. This study explores the prohibition of child sacrifice in Leviticus 18:21 and 20:2–5 as a theological and ethical response to the death-centered cults surrounding ancient Israel. Employing a comparative-historical and exegetical approach, this research examines how the Levitical text redefines holiness, sacrifice, and divine justice within the wider Ancient Near Eastern context. The findings demonstrate that Leviticus transforms the logic of sacrifice from appeasement by destruction to covenantal communion grounded in life and obedience. This shift reveals a moral revolution in biblical theology—where holiness is not separation for privilege but participation in God’s life-giving justice. The study further argues that Leviticus’ rejection of Molech worship constitutes an enduring theological protest against all systems, ancient or modern, that exploit or destroy human life for ideological gain. Ultimately, Leviticus articulates a theology of life that unites divine worship with the protection of humanity, offering a prophetic vision profoundly relevant to today’s moral and technological world. Contribution:  This study contributes to biblical theology by demonstrating that Leviticus redefines the ancient logic of sacrifice into a moral theology of life, where holiness is expressed through justice, compassion, and the preservation of human dignity. It further offers a contemporary ethical framework that challenges modern societies to resist every form of dehumanizing ideology—the “modern Molechs”—by reaffirming the inseparable bond between divine worship and the sanctity of life.   Pengorbanan anak, sebuah ritual yang sangat mengerikan namun tersebar luas di wilayah Timur Dekat Kuno, merupakan salah satu kontras paling mencolok antara pemikiran religius bangsa Israel dan bangsa-bangsa kafir. Penelitian ini menelaah larangan terhadap pengorbanan anak dalam Imamat 18:21 dan 20:2–5 sebagai respons teologis dan etis terhadap kultus-kultus yang berpusat pada kematian di sekitar Israel kuno. Dengan menggunakan pendekatan komparatif-historis dan eksegetis, penelitian ini mengkaji bagaimana teks Imamat mendefinisikan ulang makna kekudusan, korban, dan keadilan ilahi dalam konteks luas dunia Timur Dekat Kuno. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitab Imamat mengubah logika pengorbanan dari penenangan melalui penghancuran menjadi persekutuan perjanjian yang berlandaskan pada kehidupan dan ketaatan. Perubahan ini mengungkapkan adanya revolusi moral dalam teologi biblika—di mana kekudusan tidak lagi berarti pemisahan demi keistimewaan, melainkan partisipasi dalam keadilan Allah yang memberi kehidupan. Penelitian ini juga berpendapat bahwa penolakan terhadap penyembahan Molekh dalam Imamat merupakan protes teologis yang abadi terhadap semua sistem—baik kuno maupun modern—yang mengeksploitasi atau menghancurkan kehidupan manusia demi keuntungan ideologis. Pada akhirnya, kitab Imamat menegaskan teologi kehidupan yang mempersatukan penyembahan kepada Allah dengan perlindungan terhadap kemanusiaan, menawarkan visi profetik yang sangat relevan bagi dunia moral dan teknologi masa kini. Kontribusi: Penelitian ini memperkaya teologi biblika dengan menafsirkan kitab Imamat sebagai transformasi dari logika korban kuno menjadi teologi moral kehidupan, di mana kekudusan terwujud dalam keadilan, belas kasih, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Studi ini juga menawarkan kerangka etika modern yang menegaskan hubungan erat antara ibadah kepada Allah dan kesucian hidup sebagai perlawanan terhadap ideologi-ideologi yang mendehumanisasi.
Implementasi Prinsip Ulangan 6:7 dalam Pendidikan Iman Anak di Keluarga Kristen (Implementation of the Principle of Repetition 6:7 in Children's Faith Education in Christian Families): Suatu Kajian Teologis dan Pedagogis (A Theological and Pedagogical Study) Setiawan, Ruthnawaty; Soukotta, Dunant F.; Tan, Juan
MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social Vol. 3 No. 1 (2025): MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social (November 2025)
Publisher : Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/moderate.v3i1.22

Abstract

Faith education in children is the primary responsibility of the Christian family, rooted in God’s command in Deuteronomy 6:7. However, in the modern context, many families have lost their spiritual function due to the influence of secular lifestyles and shifting social values. This article aims to examine and implement the principles of Deuteronomy 6:7 as theological and pedagogical foundations for children’s faith education in Christian families. The research employed a library research method with content analysis of biblical texts and Christian educational literature. The findings reveal that effective faith education requires synergy between parental example, love-based discipline, consistent prayer, and collaboration among the family, church, and faith community to nurture a generation deeply rooted in Christ.   Contribution: This study contributes by reaffirming the vital role of the Christian family as the primary center of faith education grounded in the principles of Deuteronomy 6:7. Furthermore, it proposes an integrative model combining parental example, loving discipline, prayer, and church–family synergy to shape a contextually faithful generation in the modern era.   Pendidikan iman anak merupakan tanggung jawab utama keluarga Kristen yang berakar pada perintah Allah dalam Ulangan 6:7. Namun, dalam konteks kehidupan modern, banyak keluarga kehilangan peran spiritualnya karena pengaruh gaya hidup sekuler dan perubahan nilai sosial. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dan mengimplementasikan prinsip Ulangan 6:7 sebagai dasar teologis dan pedagogis dalam pendidikan iman anak di keluarga Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan analisis isi (content analysis) terhadap teks Alkitab dan literatur pendidikan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan iman yang efektif membutuhkan sinergi antara keteladanan orang tua, disiplin yang berlandaskan kasih, doa yang konsisten, serta kerja sama antara keluarga, gereja, dan komunitas iman untuk membentuk generasi yang berakar pada Kristus.   Kontribusi: Studi ini memberikan kontribusi dengan mempertegas pentingnya keluarga Kristen sebagai pusat utama pendidikan iman yang berakar pada prinsip Ulangan 6:7. Selain itu, penelitian ini menawarkan model integratif antara keteladanan, disiplin kasih, doa, dan sinergi gereja–keluarga dalam membentuk generasi beriman yang kontekstual di era modern.
Digital Faith Formation and Christian Religious Education Teachers’ Leadership in 21st-Century Learning Maranatha, Christian Ade; Tandana, Ester Agustini
MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social Vol. 3 No. 1 (2025): MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social (November 2025)
Publisher : Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/moderate.v3i1.25

Abstract

The rapid integration of digital technology in education has transformed how faith is taught and experienced in Christian contexts. This shift challenges Christian Religious Education (CRE) teachers to maintain theological integrity while engaging learners in online and hybrid spaces. Traditional models of discipleship must now coexist with virtual practices of learning and community building, requiring teachers to navigate the tension between spiritual authenticity and digital innovation. As education in the 21st century emphasizes creativity, collaboration, and critical thinking, Christian educators must also redefine their leadership as a calling that unites faith, ethics, and pedagogy. This transformation positions teachers not merely as instructors but as spiritual mentors who embody servant and transformative leadership within digital learning environments. The purpose of this study is to develop a theological and pedagogical framework for digital faith formation and teacher leadership in contemporary Christian education. Employing a qualitative theological method and literature-based analysis, the research draws from biblical principles and scholarly works in theology, education, and digital pedagogy. Findings show that faith formation in digital contexts must remain relational, participatory, and grounded in the incarnational model of Christ. Effective leadership integrates humility, moral integrity, and technological discernment to sustain authentic spiritual growth. The study contributes by bridging theology and pedagogy, offering a holistic model for spiritually grounded and digitally competent Christian educators in the 21st century.   Contribution: This study contributes to contemporary Christian education by formulating an integrative framework that unites theology, pedagogy, and digital literacy, positioning Christian educators as transformative spiritual leaders who cultivate faith, ethics, and relational depth within digital learning communities.   Integrasi teknologi digital yang berlangsung pesat dalam dunia pendidikan telah mengubah cara iman diajarkan dan dihayati dalam konteks Kristen. Pergeseran ini menantang para guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) untuk tetap menjaga integritas teologis sambil melibatkan peserta didik di ruang pembelajaran daring dan hibrida. Model pemuridan tradisional kini harus berdampingan dengan praktik pembelajaran dan pembentukan komunitas secara virtual, menuntut para pendidik untuk menavigasi ketegangan antara keotentikan spiritual dan inovasi digital. Ketika pendidikan abad ke-21 menekankan kreativitas, kolaborasi, dan berpikir kritis, para pendidik Kristen juga perlu mendefinisikan kembali kepemimpinan mereka sebagai panggilan yang mempersatukan iman, etika, dan pedagogi. Transformasi ini menempatkan guru bukan sekadar sebagai pengajar, melainkan sebagai mentor rohani yang menghidupi kepemimpinan melayani dan transformatif dalam konteks pembelajaran digital. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan kerangka teologis dan pedagogis untuk pembentukan iman digital serta kepemimpinan guru dalam pendidikan Kristen kontemporer. Dengan menggunakan metode teologis kualitatif dan analisis berbasis literatur, penelitian ini berlandaskan pada prinsip-prinsip biblika serta kajian ilmiah dalam bidang teologi, pendidikan, dan pedagogi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan iman dalam konteks digital harus tetap bersifat relasional, partisipatif, dan berakar pada model inkarnasional Kristus. Kepemimpinan yang efektif mengintegrasikan kerendahan hati, integritas moral, dan kepekaan terhadap teknologi untuk menopang pertumbuhan rohani yang otentik. Studi ini memberikan kontribusi dengan menjembatani teologi dan pedagogi, menawarkan model holistik bagi para pendidik Kristen abad ke-21 yang berakar pada spiritualitas Kristen dan kompeten secara digital.   Kontribusi: Penelitian ini memperkaya pendidikan Kristen dengan mengintegrasikan teologi, pedagogi, dan literasi digital ke dalam satu kerangka utuh yang memberdayakan pendidik Kristen sebagai pemimpin rohani dalam konteks pembelajaran digital.
Digital Pneumatology: The Relevance and Role of the Holy Spirit in Technological Society Putrawan, Bobby Kurnia; Ayuk, Ayuk Ausaji
MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social Vol. 3 No. 1 (2025): MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social (November 2025)
Publisher : Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/moderate.v3i1.26

Abstract

The rapid advancement of digital technology has transformed human interaction, communication, and spirituality, creating new challenges and opportunities for theology. In this changing landscape, understanding how the Holy Spirit works within digital culture becomes essential for a relevant pneumatological reflection. The purpose of this study is to explore the relevance and role of the Holy Spirit in a technologically mediated society, emphasizing the Spirit’s continuing work in renewing creation and guiding human life. This study employs a contextual theological analysis that integrates systematic theology, biblical interpretation, and digital ethics to examine how pneumatology interacts with the realities of virtual presence and communication. Through a qualitative, literature-based approach, it synthesizes classical and contemporary theological insights to construct a model of “digital pneumatology.” The findings indicate that the work of the Holy Spirit remains active in digital spaces—empowering believers to experience communion, truth, and transformation beyond physical boundaries. The Spirit sanctifies technology, transforming digital platforms into instruments of grace and moral discernment. Consequently, digital pneumatology affirms that divine presence continues to inspire creativity, mission, and ethical responsibility within modern technological culture. This reflection offers vital implications for the church’s ministry and the spiritual formation of believers in the twenty-first century. Contribution: This study contributes to digital theology by articulating how the Holy Spirit remains active and transformative within technological culture. It offers a theological framework that integrates pneumatology with digital ethics, emphasizing the Spirit’s role in sanctifying technology and shaping authentic Christian spirituality in the digital era.   Kemajuan pesat teknologi digital telah mengubah interaksi, komunikasi, dan spiritualitas manusia, menciptakan tantangan sekaligus peluang baru bagi teologi. Dalam lanskap yang terus berubah ini, pemahaman tentang bagaimana Roh Kudus bekerja di dalam budaya digital menjadi sangat penting bagi refleksi pneumatologis yang relevan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi relevansi dan peran Roh Kudus dalam masyarakat yang dimediasi oleh teknologi, dengan menekankan karya Roh yang terus-menerus dalam memperbarui ciptaan dan menuntun kehidupan manusia. Penelitian ini menggunakan analisis teologi kontekstual yang mengintegrasikan teologi sistematik, penafsiran biblika, dan etika digital untuk menelaah bagaimana pneumatologi berinteraksi dengan realitas kehadiran dan komunikasi virtual. Melalui pendekatan kualitatif berbasis kepustakaan, penelitian ini mensintesis wawasan teologis klasik dan kontemporer untuk membangun sebuah model “pneumatologi digital.” Temuan penelitian menunjukkan bahwa karya Roh Kudus tetap aktif dalam ruang-ruang digital—memberdayakan orang percaya untuk mengalami persekutuan, kebenaran, dan transformasi melampaui batas-batas fisik. Roh Kudus menguduskan teknologi, mengubah platform digital menjadi sarana anugerah dan penilaian moral. Dengan demikian, pneumatologi digital menegaskan bahwa kehadiran ilahi terus menginspirasi kreativitas, misi, dan tanggung jawab etis dalam budaya teknologi modern. Refleksi ini memberikan implikasi penting bagi pelayanan gereja dan pembentukan spiritual orang percaya di abad ke-21.   Kontribusi: Penelitian ini memperluas kajian teologi digital melalui perumusan kerangka yang mengintegrasikan pneumatologi dan etika digital, menegaskan karya Roh Kudus yang terus aktif dalam menguduskan teknologi dan membentuk spiritualitas Kristen di era digital.

Page 3 of 3 | Total Record : 25