cover
Contact Name
Norbertus Marcell Prayogi
Contact Email
editor.jimki.bapin@gmail.com
Phone
+6281372545321
Journal Mail Official
editor@jimki.bapin.or.id
Editorial Address
Jl. Dr. G.S.S.Y. Ratulangi No. 29, Menteng, Jakarta Pusat 10350
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia
ISSN : 23026391     EISSN : 27211924     DOI : https://doi.org/10.53366/jimki
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia (JIMKI) adalah jurnal yang dikelola oleh Badan Analisis dan Pengembangan Ilmiah Nasional (BAPIN). JIMKI berfokus menjadi wadah untuk publikasi penelitian mahasiswa kedokteran.
Articles 326 Documents
DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA SINDROM MARFAN Imraatul Husniah
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 8 No 1 (2020): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.1 Edisi November 201
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v8i1.40

Abstract

ABSTRAK Sindrom Marfan merupakan kelainan genetik jaringan ikat, bersifat autosomal dominan, dan disebabkan oleh mutasi pada gen fibrilin-1 gene (FNB1). Prevalensi sindrom Marfan yaitu 2-3 per 10.000 penduduk. Rasio perbandingan penderita antara laki-laki dan perempuan adalah sama. Sekitar 75% pasien mempunyai riwayat keluarga menderita penyakit ini. Gejala yang timbul sangat kompleks, meliputi gejala pada sistem kardiovaskular, okular, skeletal, pulmonal, dan kulit. Dilatasi root aorta merupakan penyebab utama yang meyebabkan morbiditas dan mortalitas pada penyakit sindrom Marfan. Diagnosis sindrom Marfan ditetapkan berdasarkan kriteria diagnostik Ghent nasology, untuk pasien dengan atau tanpa riwayat keluarga. Umumnya kriteria ini dilihat dari aneurisma/diseksi aorta dan ektopia lentis. Selain itu juga terdapat kriteria sistemik sebagai alat diagnostik untuk manifestasi klinis pada sistem organ lain. Diperlukan adanya monitoring pada pasien sindrom marfan untuk mengontrol keabnormalitasan pada aorta. Monitoring penyakit biasanya dilakukan dengan ekokardiografi, computed tomography (CT) dan cardiovascular magnetic resonance (CMR). Terapi pada sindrom Marfan terbagi atas terapi medis dan pembedahan. Terapi medis yang digunakan yaitu penghambat ?, Angiotensin converting enzyme inhibitors (ACEi), selective angiotensin II type I receprtor blockers (ARB), dan doksisiklin. Terapi pembedahan meliputi operasi root aota, terapi operasi stabilisasi untuk skolisosis, dan ekstraksi diafragma iris dan lensa untuk managemen terapi okular. Kata kunci: Sindrom Marfan, FNB1, Root aorta, Ektopia lentis ABSTRACT Marfan syndrome is a connective tissue disorder, autosomal dominant and caused by mutation of fibrilin-1 gene (FNB1). Prevalence is 2-3 per 10.000. No gender differences. Approximately 75% of patients have a family background of this disease. The clinical manifestation is complex, included abnormalities in cardiovascular, ocular, sceletal, pulmonal and skin. Dilatation in the aortic root is the main cause of morbidity and mortality in this disease. Diagnosis of Marfan syndrome set based on Ghent nasology diagnostic criteria, for the patient with or without family history. More weight will be given to the two cardinal features of Marfan syndrome: aortic root aneurysm/dissection and ectopia lentis. There is also systemic criteria for diagnosed the other clinical manifestation. The monitoring of patients with Marfan syndrome should undergo an echocardiographic, computed tomography (CT) and cardiovascular magnetic resonance (CMR). The theraphy of Marfan syndrome is using both medical and surgery. The medical therapy is using a ? blockers, Angiotensin converting enzyme inhibitors (ACEi), selective angiotensin II type I receprtor blockers (ARB), and doxycycline. Meanwhile the surgery included root aortic surgery, scoliosis stabilization surgery, and diaphragma extraction of iris and lense for the ocular therapy. Keywords: Marfan syndrome, FNB1, Aortic root, Ectopia lentis
NILAI PROGNOSTIK KOLESTEROL HIGH DENSITY LIPOPROTEIN PADA KEJADIAN STROKE ISKEMIK Rendy Septianto
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 8 No 1 (2020): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.1 Edisi November 201
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v8i1.41

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Stroke adalah masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian khusus hingga saat ini karena tingginya angka kematian dan disabilitas yang disebabkan. Jumlah penderita stroke di Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara yang mengalami stroke terbanyak di Asia. Secara umum, stroke diklasifikasikan menjadi 2 tipe, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Terdapat banyak faktor risiko yang berhasil diidentifikasi terkait kejadian stroke iskemik, namun penelitian untuk menilai prognosis dari stroke berdasarkan faktor risiko di atas masih dalam tahap pengembangan. Dislipidemia meningkatkan risiko kejadian stroke melalui mekanisme aterosklerosis yang disebabkannya. Pembahasan: Aterosklerosis adalah peristiwa yang kompleks dan melibatkan banyak faktor, mengakibatkan pengumpulan material lipid dalam dinding pembuluh darah sehingga terjadi kekakuan pembuluh darah. High density lipoprotein (HDL) memiliki peranan penting dalam mencegah kejadian tersebut, didasari oleh mekanisme reverse cholesterol transport (RCT) yang dimilikinya. Transpor kolesterol balik adalah pengangkutan kembali kolesterol berlebih yang ada di pembuluh darah tepi agar mencegah terbentuknya plak ateroma. HDL yang rendah bertalian dengan proses aterosklerosis yang luas, menyerang arteri yang menyuplai otak, dan mengakibatkan terjadinya kerusakan ireversibel yang berat di otak. Kesimpulan: Kadar kolesterol HDL serum saat episode serangan stroke iskemik memiliki nilai prognostik terhadap risiko kejadian stroke iskemik berulang, lama perawatan, disabilitas neurologis yang lebih berat, serta peningkatan kejadian mortalitas, melalui mekanisme aterosklerosis dan kegagalan proses transpor balik kolesterol. Kata Kunci: HDL, prognosis, stroke iskemik, transpor balik kolesterol ABSTRACT Introduction: Stroke is a health problem that needs special attention until now due to the high mortality and disability caused. Number of stroke sufferers in Indonesia is at first rank as the greatest country which has stroke in Asia. In general, stroke is classified into two types, those are ischemic stroke and hemorrhagic stroke. There are many risk factors that have been identified related to the incidence of ischemic stroke, however study to evaluate the prognose of the stroke based on its risk factors still in the development stage. Dyslipidemia increases the incidence risk of stroke through the mechanism of atherosclerosis that it causes. Discussion: Atherosclerosis is a complex event and involves many factors, resulting accumulation of lipid materials in the wall of blood vessel causing blood vessel stiffness. High density lipoprotein (HDL) has an important role in preventing the event mentioned before, based on its reverse cholesterol transport (RCT) mechanism. Reverse cholesterol transport is the transport of excess cholesterol back from peripheral blood vessels, to prevent the formation of atheroma plaque. Low HDL is associated with extensive Tinjauan Pustaka JIMKI Volume 8 No.1 | November 2019 – Februari 2020 78 atherosclerosis, attacks the arteries that supply the brain, and causes severe irreversible damage in the brain. Conclusion: Serum HDL cholesterol level during ischemic stroke attack has a prognostic value for the risk of recurrent ischemic stroke event, increased length of stay, more severe neurological disability and increased mortality, through the mechanism of atherosclerosis and failure of the reverse cholesterol transport process. Keywords: HDL, ischemic stroke, prognosis, reverse cholesterol transport
PENGARUH GENETIK, GAYA HIDUP DAN LINGKUNGAN PADA KEJADIAN LEUKEMIA MIELOBLASTIK AKUT Shania Ocha Sativa
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 8 No 1 (2020): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.1 Edisi November 201
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v8i1.42

Abstract

ABSTRAK Leukemia Mieloblastik Akut merupakan salah satu kelainan sel darah berupa keganasan yang ditandai dengan proliferasi dan pertumbuhan dari sel hematopoietik yang imatur di dalam sum-sum tulang dan darah. Pasien dengan AML memiliki gejala khas seperti mudah lelah, sulit bernapas atau sesak, perdarahan, dan tanda-tanda infeksi yang merupakan akibat dari kegagalan sumsum tulang. Penyakit ini dapat didiagnosis dengan pemeriksaan darah lengkap, analisis darah tepi, serta pemeriksaan sampel sumsum tulang. Insidensi penyakit ini tinggi pada orang dewasa. Hampir 80% kasus leukemia akut terjadi pada orang dewasa dan 20% kasus leukemia akut terjadi pada anak-anak. Kejadiannya meningkat seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Oleh karena penyebab pasti dari leukemia belum diketahui, beberapa faktor risiko terkait pernyakit ini telah diidentifikasi. Beberapa faktor risiko absolut dan relatif dari leukemia akut dikelompokkan menjadi faktor genetik, gaya hidup dan lingkungan. Merokok, obesitas, konsumsi alkohol serta asupan makanan berpengaruh terhadap perkembangan dari leukemia sendiri. Faktor risiko lingkungan yang dapat menyebabkan AML ialah paparan benzen, radiasi ionisasi dosis tinggi, agen kemoterapetik, dan paparan zat atau bahan elektromagnetik. Kata Kunci: Faktor Risiko, Keganasan, Leukemia Mieloblastik Akut ABSTRACT Acute Myeloblastic Leukemia (AML) is a blood cell disorder in the form of malignancy characterized by the proliferation and growth of immature hematopoietic cells in the bone marrow and blood. Patients with AML have typical symptoms such as fatigue, difficulty breathing or tightness, bleeding, and signs of infection that result from bone marrow failure. The disease can be diagnosed by a complete blood count, peripheral blood analysis, and examination of bone marrow samples. The incidence of this disease is high in adults. Nearly 80% of cases of acute leukemia occur in adults and 20% of cases of acute leukemia occur in children. The incidence increases with age. Because the exact cause of leukemia is unknown, several risk factors associated with this disease have been identified. Some absolute and relative risk factors for acute leukemia are grouped into genetic, lifestyle and environmental factors. Smoking, obesity, alcohol consumption and food intake influence the development of leukemia itself. Environmental risk factors that can cause AML are benzene exposure, high dose ionizing radiation, chemotherapeutic agents, and exposure to substances or electromagnetic materials. Keywords: Risk Factor, Malignancy, Acute Myeloid Leukemia
PENGARUH PAPARAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK PONSEL TERHADAP OTAK Ahmad Rizki Dwi Prasetia; Waluyo Rudiyanto
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 8 No 1 (2020): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.1 Edisi November 201
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v8i1.43

Abstract

ABSTRAK Ponsel merupakan alat komunikasi yang banyak dimiliki oleh manusia. Hal ini dikarenakan keefektifan oleh ponsel itu sendiri. Dalam satu ponsel, penggunanya tidak hanya dapat berkomunikasi akan tetapi juga bisa melakukan berbagai aktivitas seperti mencari suatu informasi ataupun mendengarkan musik. Di balik kehebatan ponsel tersebut sebenarnya mengandung efek negatif berupa pancaran gelombang elektromagnetiknya yang berbahaya bagi otak, terlebih bila digunakan untuk menelepon dalam jangka waktu yang lama. Radiasi elektromagnetik yang berupa non-ionisasi ini baru akan menimbulkan efek negatif bila tubuh terpajan Specific Absorption Rate (SAR) >4 watt/kg. Saat menelepon efek yang langsung ditimbulkan berupa nyeri kepala karena adanya peningkatan tekanan darah, namun untuk waktu yang lebih lama lagi dapat menimbulkan kanker otak karena adanya penurunan produksi serotonin dan melatonin yang mana kerjanya untuk menekan timbulnya tumor. Mungkin Radiasi tidak berperan secara langsung dalam terbentuknya tumor, namun dalam studi lebih lanjut, paparan radiasi yang banyak juga dapat menaikkan malondialdehyde (MDA) serta pengurangan yang signifikan pada antioksidan seperti glutathione (GSH), superoxide dismutase (SOD), dan glutathione peroxidase (GPX). Hal ini dapat mengakibatkan peningkatan Reactive Oxygen Species (ROS) dan penurunan melatonin dalam serum sehingga terjadinya kerusakan oksidatif pada jaringan otak. Pada bagian hipokampus sendiri, didapatkan bahwa radiasi elektromagnetik dapat menghambat frekuensi pelepasan neuron pada Cornu Ammonis area 1 (CA1) hipokampus yang nantinya dapat menyebabkan penurunan kemampuan belajar dan memori. Kata Kunci: otak, paparan gelombang elektromagnetik, ponsel ABSTRACT Cell phones are a communication tool that is widely owned by humans. This is because of the effectiveness of the cellphone itself. In one cellphone, users can not only communicate but also can do various activities such as searching for information or listening to music. Behind this cellphone, it actually contains a negative effect consisting of the emission of electromagnetic waves which are harmful to the brain, before being used to move for a long time. Electromagnetic radiation which consists of non-recent ionization will have a negative effect if the body is exposed to Specific Absorption Rate (SAR)> 4 watts / kg. When calling the effects directly caused by blood pressure, but for a longer time can cause brain cancer due to a decrease in the production of serotonin and melatonin which is Tinjauan Pustaka JIMKI Volume 8 No.1 | November 2019 – Februari 2020 90 needed to increase the incidence of tumors. Radiation may not directly support tumor formation, but in further studies, greater radiation exposure can also increase malondialdehyde (MDA) and also present significant antioxidants such as glutathione (GSH), superoxide dismutase (SOD), and glutathione peroxidase (GPX). This can increase Reactive Oxygen Species (ROS) and decrease melatonin in the serum thereby preventing oxidative damage to brain tissue. In the hippocampus itself, electromagnetic radiation can be obtained which can release the frequency of the release of neurons in the Cornu Ammonis area 1 (CA1) hippocampus that can be used can cause a decrease in learning ability and memory. Keywords: brain, cellphone, electromagnetic waves' exposure
FARMAKOTERAPI GANGGUAN ANSIETAS DAN PENGARUH JENIS KELAMIN TERHADAP EFIKASI ANTIANSIETAS Fatimah Azzahra; Rasmi Zakiah Oktarlina; High Boy Karumulborg Hutasoit
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 8 No 1 (2020): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.1 Edisi November 201
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v8i1.44

Abstract

ABSTRAK Ansietas merupakan perasaan difus, yang sangat tidak menyenangkan dan tidak menentu tentang sesuatu yang akan terjadi. Menurut WHO, jumlah populasi global yang menderita ansietas pada tahun 2017 diperkirakan mencapai 3.8%. Estimasi total dari jumlah individu yang menderita ansietas di dunia adalah 284 juta orang. Hal ini menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi dari tahun 2005 yakni sekitar 15.1%. Manifestasi klinis dari ansietas berbeda tergantung pada bentuk gangguannya, tetapi tanda dan gejala umum dari ansietas memeiliki karakteristik yang terdiri dari dua komponen yaitu fisik dan emosional yang memengaruhi proses kognitif seseorang. Pengobatan ansietas dapat menggunakan obat – obatan antiansietas, psikoterapi, ataupun keduanya. Lini pertama dari farmakoterapi ansietas adalah Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) yang biasanya digunakan sebagai antidepresi. SSRIs dipilih sebagai lini pertama karena memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan obat golongan lainnya. Terdapat pengaruh jenis kelamin terhadap efikasi antiansietas yang berguna terhadap pemilihan antiansietas. Kata Kunci : Ansietas, Antiansietas, Farmakoterapi, Pengobatan ABSTRACT Anxiety is a diffuse feeling, which is very unpleasant and uncertain about something that will happen. According to WHO, the total global population suffering from anxiety in 2017 is estimated to reach 3.8%. The total estimated number of people living with anxiety in the world is 284 million people. This shows a fairly high increase from 2005 which was around 15.1%. Clinical manifestations of anxiety is different depending on the form of the disorder, but the general signs and symptoms of anxiety have characteristics that consist of two components, that is physical and emotional that affect someone cognitive processes. The treatment of anxiety can using drugs, psychotherapy, or both. The first line of pharmacotherapy for anxiety is Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs), which are usually used as antidepressants. SSRIs were chosen as first-line because they have lower side effects than other class of drugs. There is an effect of sex on the efficacy of antianxiety that is useful for selection of the antianxiety. Keywords : Anxiety, Antianxiety, Pharmacotherapy, Treatment
PENATALAKSANAAN HOLISTIK PADA PASIEN HYPERTENSIVE HEART DISEASE Ajeng Fitria Ningrum
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 8 No 1 (2020): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.1 Edisi November 201
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v8i1.45

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2012 menunjukkan 17,5 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskuler atau 31% dari 56,5 juta kematian di seluruh dunia. Di Indonesia, pada tahun 2018 diperkirakan 17,3 juta kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler dan lebih dari 3 juta kematian tersebut terjadi pada usia di bawah 60 tahun. Jumlah penderita dengan Hypertensive Heart Disease (HHD) belum diketahui dengan pasti, namun pada beberapa studi disebutkan pada penderita hipertensi akan berkembang menjadi penyakit jantung. Sebanyak 50-60% penderita hipertensi akan mengalami risiko gagal jantung. Seringkali penderita gagal dalam pengobatan karena ketidakmampuannya dalam memodifikasi gaya hidup, sehingga dokter harus menatalaksana pasien secara holistik dari berbagai aspek. Tujuan: Penerapan pelayanan dokter keluarga berbasis bukti pada pasien dengan mengidentifikasi faktor risiko, masalah klinis, serta penatalaksanaan dengan pendekatan patient centered dan family approach. Metode: Studi yang dilakukan adalah laporan kasus. Data primer diperoleh melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan melakukan kunjungan rumah, mengisi family folder, dan mengisi berkas pasien. Penilaian dilakukan berdasarkan diagnosis holistik awal, proses, dan akhir kunjungan secara kuantitatif dan kualitatif. Pembahasan: Diagnosis HHD pada kasus ini sudah sesuai dengan teori dan telaah kritis dari penelitian terkini. Penatalaksanaan HHD yang diberikan sudah sesuai dengan guideline, terlihat perkembangan yang baik pada gejala klinis dan perubahan perilaku pasien setelah dilakukan intervensi berdasarkan evidence-based medicine yang bersifat patient centered, dan family approach. Kata Kunci: holistik, hypertensive heart disease, tatalaksana ABSTRACT Background: Based on data from the World Health Organization (WHO) in 2012, 17.5 million people in the world died from cardiovascular disease or 31% of 56.5 million deaths worldwide. In Indonesia in 2018 an estimated 17.3 million deaths were caused by cardiovascular disease and more than 3 million deaths occurred at the age of under 60 years. The number of patients with Hypertensive Heart Disease (HHD) is not known with certainty, but in several studies mentioned in patients with hypertension will develop into heart disease. As many as 50-60% of people with hypertension will experience a risk of heart failure. Often, patients fail in treatment because of their inability to modify lifestyle, so doctors must manage patients holistically from various aspects. Objective: Implementation of family doctor services based on evidance based medicine in patients by identifying risk factors, clinical problems, and management with a patient centered and family approach. Method: The study was Case Report. Primary data was obtained through history taking and physical examination by making home visits, filling out family folders, and filling in patient files. Assessment was done based on the first holistic diagnosis, process, and end of the visit in quantitative and qualitative ways. Results: The diagnosis of HHD in this case was in accordance with the theory and critical analysis of current research. The management of HHD given was in accordance with the guidelines, there was a good development in clinical symptoms and changes in patient behavior after intervention based on evidence-based medicine which is patient centered, family approach. Keywords: holistic, hypertensive heart disease, management
EFEK HEPATOPROTEKTIF SECARA IN VITRO TERHADAP TANAMAN OBAT (STUDI TERHADAP SKRIPSI MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN ANGKATAN 2001- 2009) Desy Merindasari; Swandari Paramita; Sjarif Ismail
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 2 No 2 (2014): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hepatitis merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia dan kebanyakan terjadi padatahap akut. Tatalaksana utama pada tahap ini ialah pemberian bahan-bahan yang berkhasiathepatoprotektif yang banyak terkandung dalam tanaman obat. Penelitian ini mengumpulkan sembilantanaman obat yang telah diuji efek hepatoprotektif secara in vitro dengan induksi CCl4 oleh mahasiswaFakultas Kedokteran Universitas Mulawarman angkatan 2001-2009, kemudian dilakukan penelitianmeta-analisis untuk mengetahui tanaman obat yang memiliki efek hepatoprotektif terbaik. Hasilpenelitian efek hepatoprotektif tanaman obat diatas dihitung nilai konsentrasi efektif 50% (EC50)dengan regresi linier dan heterogenitas diuji dengan One Way Anova, selanjutnya diaplikasikan dalammeta-analisis. Hasil penelitian meta-analisis pada nilai EC50 Mallotus paniculatus, Koordersiodendronpinnatum, Elaeocarpus stipalaris, Piper crocatum, Omalanthus populneus, Spatolobus ferrugineus,Aristolochia papilifolia dan Coccinia grandis didapatkan nilai p<0.001 terhadap Dracontomelon dao.Hasil meta-analisis disimpulkan Dracontomelon dao memperlihatkan efek hepatoprotektif yang palingefektif.
KORELASI KARAKTERISTIK DEMOGRAFIS DAN KLINIS IBU HAMIL DENGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU MENGENAI KONTRASEPSI PASCAPERSALINAN Frans Liwang; Felix Chikita Fredy; Farisa Anggreana; Fatma Afira; Fransisca Dewi Kumala; Gracia Lilihata; Kanadi Sumapradja
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 2 No 1 (2013): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meski kebijakan kontrasepsi pascapersalinan telah diimplementasikan, angka kematian ibu diIndonesia masih tinggi. Hal tersebut sangat berkaitan dengan pengetahuan, sikap, dan perilaku(PSP) masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan angka penggunaan kontrasepsimelalui identifikasi tingkat PSP ibu hamil serta karakteristik demografis dan klinis yangmempengaruhinya.Dilakukan penelitian potong lintang pada 106 ibu hamil peserta pemeriksaanantenatal di Puskesmas Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Dari seluruh responden (n=106,median=26 tahun), 74,5% adalah ibu rumah tangga, 56,6% berpendidikan sedang, 55,7% memilikipendapatan di atas UMR Jakarta Timur. Sebanyak 62,3% responden adalah multigravida (medianusia kehamilan 28 minggu) dan 52,8% belum pernah menggunakan kontrasepsi. Dari aspek PSP,korelasi terkuat ditemukan antara pengetahuan dengan perilaku. Mayoritas responden memilikitingkat pengetahuan kurang, sikap baik, dan perilaku sedang. Riwayat kontrasepsi, usia ibu, dan usiakehamilan tidak berkorelasi kuat dengan PSP terhadap kontrasepsi pascapersalinan. Tingkatpengetahuan dan perilaku ibu multigravida lebih baik dari primigravida. Secara keseluruhan, tidakterdapat korelasi kuat antara karakteristik demografis dengan PSP. Kekuatan korelasi antara usia dangravida dengan pengetahuan, pendapatan dengan sikap, dan riwayat kontrasepsi dengan perilakulemah. Selain itu, kekuatan korelasi karakteristik demografis dan klinis lainnya, masing-masingterhadap PSP, sangat lemah.
KETOASIDOSIS DIABETIK PADA DIABETES MELITUS TIPE I Dimas Priantono; Abirianty Priandani Araminta; Antari R. Harmani; Toto Surya Efar; Eka Nurfitri; Bambang Tridjadja
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 2 No 1 (2013): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Ketoasidosis diabetik (KAD) merupakan keadaan akhir pada kelainan metabolik akibatdefisiensi insulin berat. Dibandingkan dengan kegawatan lain di bidang ilmu kesehatan anak, KADpada DM relatif lebih jarang, tetapi dapat berakibat fatal. Ilustrasi Kasus: Seorang anak perempuan, 14 tahun 3 bulan, berat badan 40 kg, datang ke instalasigawat darurat dengan keluhan utamalemas yang memberat sejak 1 minggu sebelum masuk rumahsakit. Pasien mengalami penurunan berat badan 5 kg dalam 1 bulan, banyak minum, dan banyakberkemih. Riwayat penyakit dahulu dan keluarga diabetes disangkal. Pasien tampak sakit berat,tampak sesak, pernapasan Kussmaul, kesadaran apatis, pemeriksaan fisis lain dalam batas normal.Leukosit 24.800/mm3; gula darah sewaktu (GDS) 1.228 mg/dL; pH 7,139; HCO34,6 mmol/L; Keton urin+2; HbA1C>15,0. Pasien didiagnosis sebagai KAD pada DM tipe 1. Tatalaksana awal dengan cairanNaCl 0,9% 2000 cc dalam 1 jam, O2 nasal kanul 3 liter/menit, reguler insulin (RI) 4 IU/jam intravena(IV), RI 10 IU subkutan (SC), sefotaksim 3x1g. Pasien dirawat dengan tatalaksana lanjutan insulindetemir (Levemir®) 24 IU malam, insulin aspart (Novorapid®) 7-10-7 IU, sefotaksim 3x1g. Diskusi: Pada kasus ini, keluhan utama pasien tidak spesifik untuk DM tipe 1 sehingga pasienawalnya tidak terdiagnosis. Pasien terdiagnosis setelah jatuh dalam kondisi KAD. Diagnosis KADpada pasien didasarkan atas anamnesis, pemeriksaan fisis, dan terutama pemeriksaan penunjang.Sebagai kesimpulan, penting bagi para dokter agar mampu mendiagnosis dan menatalaksana secaratepat KAD pada DM tipe 1.
FAKTOR RISIKO COMPUTER VISION SYNDROME PADA MAHASISWA JURUSAN ILMU KOMPUTER FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG Debby Cinthya Damiri Valentina; M Yusran; Riyan Wahyudo; Rani Himayani
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 7 No 2 (2019): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 7.2 Edisi Mei - Oktob
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v7i2.50

Abstract

ABSTRACT Introduction: Computer vision syndrome (CVS) is a syndrome that occur due to excessive interaction with computers. Individual, environmental, and computer related risk factors increase CVS prevalence and cause eyes, visual, and extraocular related symptoms. This research aims to observe the relation between risk factors and CVS prevalence in students of Computer Science Major of Mathematics and Natural Sciences Faculty of Lampung University. Method: This research was an analitic survey with cross sectional study. Samples consisted of 56 students of 2014-2016 class year using proportional stratified random sampling techniques. This research used questionnaires and direct measurement of eyes distance and angle gaze of respondents. Collected datas then were analyzed by using univariate and bivariate analysis. Result: The prevalence of CVS obtained from samples was 39 students (69,6%). Statistic tests between risk factors and CVS are listed as follow, gender (p=0,909 OR=1,069), working years (p=0,007 OR=6,188), daily duration of computer exposures (p=0,022 OR=7,708), wearing spectacles (p=0,043 OR=8,000), taking a break (p=0,111 OR=2,786), eyes distance (p=0,028 OR=3,750), and angle gaze (p=0,047 OR=5,000). Conclusion: The significantly related risk factors to CVS were working years, daily duration of exposures, wearing spectacles, eyes distance, and angle gaze towards computer monitors. Keywords: computer vision syndrome, risk factors

Page 4 of 33 | Total Record : 326


Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i Vol 11 No 3 (2025): Vol. 11 No. 3 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 1 Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025) Vol 12 No 1 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.1 (2025) Vol 11 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 11.2 (2025) Book of Abstrack RCIMS 2025 Vol 11 No 1 (2024): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 11.1 (2024) Vol 10 No 3 (2024): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 10.3 2024 Vol 10 No 2 (2024): JIMKI (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia) Volume 10 Nomor 2 Periode O Vol 10 No 1 (2023): JIMKI (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia) Volume 10 Nomor 1 Periode M Vol 9 No 3 (2022): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 9.3 Edisi Desember 202 Vol 8 No 3 (2021): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.3 Edisi September 20 Vol 9 No 2 (2021): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 9.2 Edisi Agustus - No Vol 9 No 1 (2021): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 9.1 Edisi Maret - Juli Vol 8 No 1 (2020): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.1 Edisi November 201 Vol 8 No 2 (2020): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.2 Edisi Maret - Agus Vol 7 No 2 (2019): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 7.2 Edisi Mei - Oktob Vol 7 No 1 (2019): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 7.1 Edisi Januari - A Vol 6 No 2 (2018): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 6.2 Edisi Oktober - D Vol 6 No 1 (2018): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 6.1 Edisi April - Sep Vol 2 No 2 (2014): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 2 No 1 (2013): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 1 No 2 (2012): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 1 No 1 (2012): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia More Issue