cover
Contact Name
Miftahul Khoirin
Contact Email
jiqsi@stiqmiftahulhudarawalo.ac.id
Phone
+6285172303910
Journal Mail Official
jiqsi@stiqmiftahulhudarawalo.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.stiqmiftahulhudarawalo.ac.id/index.php/jiqsi/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
JIQSI : Jurnal Ilmu Al Qur'an dan Studi Islam
ISSN : -     EISSN : 29879957     DOI : -
Core Subject : Religion,
We accept scholarly articles that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies, Quranic Exegesis Studies, Quranic Philology Studies, Quranic Sciences, Living Quran, Quran in Media, Islamic Studies.
Articles 41 Documents
Pola Penggunaan Kata Kerja dalam Al-Qur'an Sebuah Keajaiban Linguistik Wahib Syaroni
JIQSI : Jurnal Ilmu Al Qur'an dan Studi Islam Vol 3 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : STIQ Miftahul Huda Rawalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64341/jiqsi.v3i2.46

Abstract

Artikel ini mengkaji keunikan dan keajaiban linguistik Al-Qur'an melalui analisis pola penggunaan kata kerja (fi'il). Kajian ini menunjukkan bahwa pilihan setiap kata kerja, termasuk bentuk waktu (kala), bentuk kata (wazan), dan suara (aktif-pasif), bukanlah acak melainkan dipilih dengan presisi ilahiah untuk tujuan retoris (balaghah) yang mendalam. Analisis difokuskan pada tiga pola utama: (1) penggunaan bentuk lampau (madhi) untuk menggambarkan peristiwa masa depan demi menekankan kepastiannya; (2) perbedaan makna yang timbul dari perubahan wazan, seperti pada kata anzala (menurunkan sekaligus) dan nazzala (menurunkan secara berangsur-angsur); dan (3) fungsi strategis kalimat pasif (majhul) untuk menonjolkan perbuatan atau mengagungkan pelaku yang sudah jelas. Pola-pola ini secara kolektif menjadi bukti bahwa bahasa Al-Qur'an merupakan mukjizat linguistik (I'jaz Lughawi) yang kaya makna dan mengundang pembaca untuk melakukan refleksi yang lebih mendalam (tadabbur).
Halusinasi dan Bias Artificial Intelligence dalam Penafsiran Qs. Al-Baqarah [2]: 228 pada Chat-Gpt, Microsoft Copilot, dan Perplexity Alifia Rizqa Unzila; Muhammad Taufiq
JIQSI : Jurnal Ilmu Al Qur'an dan Studi Islam Vol 3 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : STIQ Miftahul Huda Rawalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64341/jiqsi.v3i2.47

Abstract

Penelitian ini menganalisis fenomena halusinasi dan bias dalam penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk penafsiran Al-Qur’an, dengan fokus pada QS. Al-Baqarah ayat 228. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dan analisis terhadap tiga model AI, yaitu Chat-GPT, Microsoft Copilot, dan Perplexity. Analisis dilakukan dengan memberikan pertanyaan (prompt) terhadap ayat yang menjadi sampel dalam penelitian untuk menilai halusinasi dan bias yang dihasilkan oleh masing-masing model AI. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga model AI menunjukkan kecenderungan bias dalam bentuk bias data dan bias algoritma. Selain itu, ditemukan pula potensi halusinasi AI dalam penafsiran ayat yang muncul melalui ketidaktepatan referensi, atribusi sumber yang keliru, serta generalisasi tanpa dasar valid. Meskipun teknologi AI menawarkan kemudahan akses dan kecepatan, keterbatasannya dalam memahami konteks dan sumber otoritatif menimbulkan risiko distorsi makna. Oleh karena itu, penggunaan AI dalam studi Al-Qur’an perlu didampingi validasi dari para ahli dan integrasi dengan tafsir tradisional yang otoritatif.
Perkembangan Makna Qirādah QS. Al-A’raf Ayat 166 (Analisis Teori Linguistik Transformatif Noam Chomsky) Adinda Fatimah Rahmawati
JIQSI : Jurnal Ilmu Al Qur'an dan Studi Islam Vol 3 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : STIQ Miftahul Huda Rawalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64341/jiqsi.v3i2.48

Abstract

Perkembangan makna kata dalam teks Al-Qur'an sering kali dipengaruhi oleh konteks sosial, sejarah, dan metodologi tafsir yang digunakan. Salah satu kata yang memiliki pemaknaan lebih luas ialah kata qirādah (كِرَادَةٌ) yang terdapat dalam QS. Al-A'raf ayat 166. Makna qirādah sering dipahami secara literal sebagai “kera”, namun pemahaman ini belum mencakup seluruh dimensi makna yang terkandung dalam teks tersebut. Makna luar yang terdapat pada kata qirādah (kera) memiliki kejanggalan terhadap perubahan yang terjadi pada Bani Israil. Sebab, tidak ditemukan fakta sejarah yang membuktikan pernyataan tersebut. Untuk itu, penelitian ini berusaha mengungkap pemaknaan yang mendalam terhadap makna kata qirādah melalui teori linguistik yang digagas oleh Noam Chomsky. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan mengunakan teori linguistik transformatif yang digagas oleh Noam Chomsky sebagai pisau analisisnya yakni antara deep structure dan surface structure dalam bahasa. Teori ini akan diterapkan untuk menganalisis bagaimana makna qirādah dapat berkembang dalam konteks QS. Al-A'raf 166, dengan memperhatikan perubahan dalam struktur bahasa yang ada pada teks tersebut. Langkah teorinya mencakup analisis struktur kalimat dan transformasi makna yang terjadi dalam pemahaman teks, baik dari sisi linguistik maupun teologis. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan linguistik transformatif, makna qirādah tidak hanya terbatas pada hukuman fisik berupa perubahan bentuk menjadi kera, tetapi juga dapat dipahami sebagai simbol perubahan moral, sifat, dan sosial yang lebih dalam.
Jahiliyah Sepanjang Zaman: Kajian Historis dan Sosiologis Antara Pra-Islam dan Kontemporer Putroe Balqis; Didik Harianto
JIQSI : Jurnal Ilmu Al Qur'an dan Studi Islam Vol 3 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : STIQ Miftahul Huda Rawalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64341/jiqsi.v3i2.52

Abstract

Istilah Jahiliyah ditujukan kepada masyarakat Arab sebelum datangnya Islam, meskipun telah berlalu lebih dari 14 abad, fenomena serupa dengan karakteristik Jahiliyah terus muncul dalam bentuk yang lebih kompleks. Fenomena ini disebut dengan Jahiliyah kontemporer, yang ditandai oleh penyimpangan moral, ketimpangan sosial, dan krisis spiritual. Tulisan ini bertujuan untuk melengkapi kekurangan studi sebelumnya dengan memberikan kontribusi pemikiran yang relevan untuk memperkuat kembali nilai-nilai moral dan spiritual sebagai pedoman hidup dalam masyarakat modern. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan model penelitian studi pustaka (library research).  Sumber primer  dari literatur sejarah Islam yang membahas kondisi masyarakat Arab Pra-Islam. Sementara itu, sumber sekunder dari bacaan buku, jurnal dan artikel yang berkaitan dengan objek yang dikaji. Analis data menggunakan pendekatan deskriptif-analitis, sedangkan pendekatan komparatif historis-sosiologis digunakan untuk mengindentifikasi dan memahami pola transformasi yang mengaitkan fenomena Jahiliyah dari masa lampau hingga era modern. Adapun hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh berlanjutan dari struktur sosial jahiliyah, begitu juga mulai hilang nilai-nilai spiritual yang dipengaruhi dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat sehingga memunculkan penyimpangan moral, sosial serta krisis spirirual yang masih terlihat dalam dinamika sosial kontempoer. Penelitian ini memberikan pemahaman tentang relevansi budaya jahiliyah dalam kehidupan masyarakat Islam dan kontempoer, serta kontribusinya terhadap pembentukan nilai sosial di masa kini.
Analisis Hadist Tentang Memuliakan Guru dan Relevansinya dengan Dunia Modern Erlin Ramadhani; Shobrun Jamil; Fahni Adniaty; Gendis Zulfa Ziana; Ahmad Hasby Baihaqi Nasir
JIQSI : Jurnal Ilmu Al Qur'an dan Studi Islam Vol 3 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : STIQ Miftahul Huda Rawalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64341/jiqsi.v3i2.69

Abstract

In Islamic teachings, teachers occupy a very special position as bearers of knowledge, guides of morals, and leaders of the people towards the path of righteousness. This virtue is emphasized through a number of hadiths of the Prophet Muhammad ﷺ which reveal the nobility of those who teach knowledge. The hadiths studied include explanations of the prayers of angels and creatures of Allah for teachers of goodness, scholars as heirs to the prophets, and useful knowledge as a charitable deed whose rewards are unending. This article aims to review in depth the contents of these hadiths while highlighting their relevance in today's education. This study uses a literature review approach by examining primary and secondary sources related to the theme of teachers and Islamic education. The results of the study confirm that teachers not only play a role as teachers of subject matter, but also as role models who shape the character, morals, and spirituality of students. The great reward promised to those who teach knowledge is an encouragement for educators to work sincerely and professionally. By understanding the position of teachers according to the hadith, it is hoped that a collective awareness will grow to respect, support, and emulate their role in building a noble civilization.
Tradisi Ziarah Kubur Sebelum Hajatan: Studi Living Qur’an Di Desa Demangharjo Nanda Trias Heryanti
JIQSI : Jurnal Ilmu Al Qur'an dan Studi Islam Vol 4 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : STIQ Miftahul Huda Rawalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64341/jiqsi.v4i1.40

Abstract

Penelitian ini mengkaji praktik ziarah kubur sebelum pelaksanaan hajatan di Desa Demangharjo, Kecamatan Warureja, Tegal, yang dipahami sebagai simbol permohonan restu melalui doa bagi keluarga yang telah meninggal. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi Living Qur'an, penelitian ini berupaya memahami bagaimana masyarakat mengaktualisasikan ajaran Al-Qur’an dalam konteks budaya dan sosial mereka. Temuan menunjukkan bahwa tradisi ini memiliki makna spiritual dan sosial yang kuat. Masyarakat percaya bahwa dengan mendoakan para leluhur, mereka mendapatkan keberkahan dan kelancaran dalam menyelenggarakan hajatan. Tradisi ini biasanya dilakukan dengan pembacaan surat Yasin, tahlil, serta doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT demi keselamatan arwah para almarhum. Secara sosial, kegiatan ini memperkuat ikatan kekeluargaan, menumbuhkan rasa hormat kepada yang telah wafat, dan menjadi sarana pendidikan nilai budaya bagi generasi penerus. Dalam perspektif Living Qur’an, praktik ini mencerminkan implementasi ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan nyata, terutama nilai birrul walidain (berbakti kepada orang tua) dan dzikrul maut (mengingat kematian). Selama tidak mengandung unsur kemusyrikan, ziarah ini dianggap sejalan dengan nilai-nilai Islam, serta turut memperkuat iman dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Pandangan Murtadha Muthahhari Tentang Kenabian Bimba Valid Fathony
JIQSI : Jurnal Ilmu Al Qur'an dan Studi Islam Vol 4 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : STIQ Miftahul Huda Rawalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64341/jiqsi.v4i1.67

Abstract

Islam memandang kenabian sebagai suatu hal yang pokok dan penting, dimana peran mereka sangat prinsipil terutama dalam menyiarkan ajaran-ajaran tauhid. Para ulama telah menyepakati bahwasanya Nabi maupun Rasul mereka adalah orang istimewa dan pilihan. Kenabian dipahami sebagai karunia ilahi yang murni bagi mereka yang terpilih. Pada penelitian ini, peneliti akan membahas tentang kenabian dalam pandangan Murtadha Muthahhari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif dengan jenis library research/ penelitian pustaka. Temuan dalam penelitian ini antaranya, ajaran tentang Kenabian dalam Islam menjadi hal pokok dan prinsip walaupun di dalamnya banyak ditemui beragam penafsiran tentang kenabian. Murtadha Muthahhari memberikan perbedaan antara Nabi dan Manusia Jenius, manusia jenius dia adalah yang mempunyai kekuatan intelektual istimewa serta pemahaman yang luar biasa, namun terkadang mereka masih dapat melakukan kesalahan dalam perhitungan mereka. Para Nabi disamping dianugerahi dengan kekuatan intelektual juga mempunyai kekuatan lain yaitu wahyu, dimana wahyu ini tidak dipunyai oleh manusia jenius. Murtadha Muthahhari memahami bahwa, Nabi adalah jenis manusia tingkat tertinggi yang memperoleh anugerah wahyu. Tujuan Nabi tidak sekedar mengajak manusia beriman kepada Allah tapi juga untuk kesejahteraan manusia di muka bumi. Nabi Muhammad SAW menjadi penutup Kenabian yang sudah tidak diragukan lagi.
Studi Living Qur’an Tentang Efek Pembacaan Surah Al-Fātiḥah pada Awal Pembelajaran Mahasiswa Muhammad Azizurrahman; Bashori
JIQSI : Jurnal Ilmu Al Qur'an dan Studi Islam Vol 4 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : STIQ Miftahul Huda Rawalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64341/jiqsi.v4i1.83

Abstract

Praktik pembacaan Surah Al-Fātiḥah pada awal pembelajaran merupakan fenomena yang masih hidup di lingkungan perguruan tinggi Islam, namun belum banyak dikaji secara khusus dalam perspektif Living Qur’an, terutama dengan mahasiswa sebagai subjek utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik pembacaan Surah Al-Fātiḥah pada awal pembelajaran mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, mengungkap pemaknaan mahasiswa terhadap praktik tersebut, serta menganalisis efeknya terhadap kesiapan dan suasana belajar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Living Qur’an, yang memandang Al-Qur’an sebagai teks suci yang dihidupi melalui praktik sosial dan pengalaman keseharian. Sumber data primer diperoleh dari mahasiswa melalui wawancara semi-terstruktur, sedangkan data sekunder berasal dari literatur ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan fenomenologis untuk memahami pengalaman subyektif mahasiswa, dengan menelusuri makna esensial yang mereka hayati dalam praktik pembacaan Surah Al-Fātiḥah. Kerangka analisis dalam penelitian ini bertumpu pada teori Living Qur’an dan resepsi Al-Qur’an, yang menekankan hubungan antara teks, subjek, dan konteks sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembacaan Surah Al-Fātiḥah hanya diterapkan pada mata kuliah tertentu dan umumnya dipimpin oleh dosen pengampu. Mahasiswa memaknai pembacaan Al-Fātiḥah secara beragam, mulai dari doa pembuka, simbol dimulainya perkuliahan, hingga pengingat integrasi nilai spiritual dalam aktivitas akademik. Selain itu, pembacaan Surah Al-Fātiḥah berefek pada kesiapan mental dan suasana awal pembelajaran, meskipun tidak bersifat determinan terhadap keberhasilan belajar secara keseluruhan. Penelitian ini menegaskan bahwa Surah Al-Fātiḥah dihidupi sebagai praktik Living Qur’an dalam ruang akademik melalui pengalaman dan pemaknaan mahasiswa yang kontekstual dan dinamis.
Prinsip-Prinsip Manajemen Islami dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Islam Indra Hari Purnama; Dafrizal Dafrizal; Santoso Santoso; Dani Setiawan; Abdul Hamid
JIQSI : Jurnal Ilmu Al Qur'an dan Studi Islam Vol 4 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : STIQ Miftahul Huda Rawalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64341/jiqsi.v4i1.87

Abstract

Islam sangat menjunjung tinggi tentang pendidikan, hal ini dibuktikan dengan turunnya wahyu pertama surat Al-‘Alaq ayat 1-5 yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. Al-Qur’an sebagai kitab suci kaum muslimin yang sempurnya, sebagai petunjuk dalam berprilaku, bertindak, dalam mencapai kebahagiaan umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat, tidak luput pula di dalamnya membahas masalah pendidikan. Dalam pengelolaan lembaga pendidikan, sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, bagaimana beliau sukses mengelola masyarakat menjadi umat terbaik (khairu ummah), yang melampaui zamannya. Pengelolaan Pendidikan Islam perlu memahami dan mengetahui prinsip-prinsip manajemen Islami, dengan merujuk pada Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW. Sehingga dalam pelaksanaannya akan menjadi lebih baik dan yang paling penting adalah bagaimana mendapatkan ridho Allah SWT. Berangkat dari pemikiran tersebut maka penelitian tentang prinsip-prinsip manajemen Islami menjadi penting untuk dilakukan sebagai upaya dalam melakukan pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan penelitian kepustakaan. Prinsip manajemen Islami dalam meningkatkan mutu pendidikan meliputi amanah, adil, musyawarah, dan ihsan bukan hanya menjadi pedoman administratif, tetapi juga sebagai fondasi etika dan spiritual yang membentuk budaya kerja di lembaga pendidikan. Nilai-nilai ini bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Penerapan prinsip-prinsip ini memastikan bahwa lembaga pendidikan tidak hanya berjalan secara efektif dan profesional, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai ajaran Islam. Dengan demikian, manajemen Islami berperan ganda: meningkatkan kualitas administrasi dan kinerja lembaga, sekaligus menanamkan etika, akhlak, dan tanggung jawab spiritual bagi seluruh warga pendidikan.
Integrasi Qawā’id Lughah dan Uṣūl Fiqh Dalam Penafsiran Al-Qur’an Musfirah; Sohrah; Muhammad Galib
JIQSI : Jurnal Ilmu Al Qur'an dan Studi Islam Vol 4 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : STIQ Miftahul Huda Rawalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64341/jiqsi.v4i1.88

Abstract

Penelitian ini membahas tentang integrasi qawā’id lughah dan uṣūl fiqh dalam penafsiran al-Qur’an. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami al-Qur’an secara teat melalui pendekatan kebahasaan dann hukum agar makna ayat tidak disalahpahami. Penelitian ini bertujuan menjelaskan hubungan dan penggunaan qawā’id lughah dan uṣūl fiqh dalam menafsirkan al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Analisis dilakukan melalui pendekatan kebahasaan dan pendekatan uṣūl fiqh dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an, khususnya yang berkaitan dengan penafsiran dan hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa qawā’id lugah berperan dalam memahami makna lafaz, struktur bahasa, dan konteks ayat, sedangkan uṣūl fiqh berfungsi sebagai metode dalam menggali hukum dan maksud syariat. Keduanya memiliki hubungan yang erat dan saling melengkapi dalam melakukan penafsiran al-Qur’an. Dengan demikian, integrasi qawā’id lugah dan uṣūl fiqh menjadi landasan penting dalam penafsiran al-Qur’an yang lebih tepat, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.