cover
Contact Name
winci firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6285220720191
Journal Mail Official
wincifirdaus1@gmail.com
Editorial Address
Jalan Baranangsiang No.259/34B Bandung
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
Aksara aims at providing a media or forum for researchers, faculties, and graduate students to publish their research papers in the field of linguistic and literary studies. The scope of Aksara includes linguistic, applied linguistic, interdisciplinary linguistic studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. Aksara is published by Balai Bahasa Bali, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Aksara accepts articles from authors of national or international institutions. Authors are free of charge throughout the whole process including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 201 Documents
ANALISIS WACANA KRITIS “SEMUA KARENA AHOK” PROGRAM MATA NAJWA METRO TV Ni Nyoman Ayu Suciartini
Aksara Vol 29, No 2 (2017): Aksara, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v29i2.54.267-282

Abstract

Analisis Wacana Kritis selalu menarik untuk dikaji lebih dalam. Kuasa media dan persepsi publik yang membuat penelitian wacana kritis terus tumbuh. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana analisis wacana kritis model Van Djik dalam program Mata Najwa episode “Semua karena Ahok”? Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan analisis wacana kritis model AWK Van Djik dikonstruksi Najwa Sihab selaku pembawa acara dalam program Mata Najwa “Semua karena Ahok”. Metode yang digunakan yaitu AWK model Van Djik. Teknik analisis datanya menggunakan teknik dokumentasi dan observasi. Teori yang digunakan yaitu analisis wacana kritis model Van Djik, teori media. Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Struktur makro yang terdapat dalam wacana yaitu kebijakan Ahok, 1,5 tahun kepemimpinan Ahok, reklamasi Pulau G, penggusuran warga bantaran kali dan waduk, pembangunan rusunawa, melangkah menuju pilkada 2017 lewat jalur independen, kepemimpinan Ahok, (2) Superstruktur, bagian pendahuluan dibuka dengan narasi yang memukau, kemudian pembahasan ditonjolkan lewat fakta-fakta yang tersaji, baik melalui video, maupun wawancara secara langsung kepada warga DKI Jakarta yang ikut menilai 1,5 tahun kepemimpinan Ahok, yang paling ditonjolkan yaitu bagian penutup yang berisikan kritik-kritik untuk gaya kepemimpinan Ahok di masa depan untuk Jakarta yang lebih baik, (3) Dari struktur mikro, analisis semantik, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Najwa kesemuanya berisi analisis segala hal yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan Ahok untuk tetap menjadi pemimpin DKI Jakarta. Dari segi sintaksis, kalimat tanyalah yang mendominasi pernyataan Najwa untuk menggali informasi. Stilistik yang digunakan yaitu gaya bahasa tegas, lugas, apa adanya, dan transparan sesuai dengan semboyan yang diusung Metro Tv. Dari segi retoris, penekanan-penekanan yang dilakukan Najwa yaitu dengan beberapa pilihan kata dan ungkapan yang semakin mendukung pertanyaan. 
ECOLOGICAL WISDOM IN WANGSALAN AS AN EFFORT TO STRENGTHEN CHARACTER EDUCATION WITH CONSERVATION-MINDED Nur Hanifah Insani
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.365.47-66

Abstract

Literature has close relationship with the environment. Literature also has an important role in the preservation of environment. Research with this qualitative approach aims to explain the representation of ecological wisdom in the wangsalan as an effort to strengthen character education with conservation-minded. Data of words, phrases, clauses and sentences are analyzed using inter-textual and functional pragmatic methods. The results of this study are: (1) The ecological elements contained in the wangsalan can be divided into five categories, are flora (for example, roning mlinjo:so; janur kuning:pupus; kembang tebu:gleges), fauna (example, wader bungkuk:urang; kapi jarwa:kethek; ayam wana:bekisar), nature (for example, udan riris:grimis; sedhang arga:tlaga, teja bengkok:kluwung), geography/area (example, kutha Gudheg:Yogyakarta; kulone Banjar Patoman:Tasik; peken alit:wande), and cultural outcomes (example, jangan gori:gudheg; gayung sumur:timba; nyaron bumbung:angklung); (2) Every lexicon in wangalan has a philosophy that consist character education, such as love of peace or tends to avoid conflict with others and the environment, not impose, kindness, politeness, patience, and respect for others. From the results of the research is known that wangsalan contains ecological wisdom that needs to be preserved. In addition, this ecological study in the wangsalan can be used as an alternative source to strengthen character education with conservation-minded.Keywords: wangsalan; ecological wisdom; character education; conservation mindedSastra memiliki keterkaitan erat dengan lingkungan. Sastra juga memiliki peran penting akan kelestarian lingkungan. Penelitian dengan pendekatan kualitatif ini bertujuan untuk menjelaskan wujud kearifan ekologi dalam wangsalan sebagai representasi suatu pendidikan karakter. Data yang berwujud kata, frasa, klausa, dan kalimat dianalisis menggunakan metode intertekstualitas dan pragmatik fungsional. Hasil penelitian ini adalah: (1) unsurunsur ekologi yang terdapat dalam wangsalan dapat terbagi menjadi lima kategori, yaitu flora (misalnya, roning mlinjo:so; janur kuning:pupus; kembang tebu:gleges), fauna (misalnya, wader bungkuk:urang; kapi jarwa:kethek; ayam wana:bekisar), alam (misalnya, udan riris:grimis; sedhang arga:tlaga, teja bengkok:kluwung), letak geografi/daerah (misalnya, kutha Gudheg:Yogyakarta; kulone Banjar Patoman:Tasik; peken alit:wande), serta hasil budaya (misalnya jangan gori:gudheg; gayung sumur:timba; nyaron bumbung:angklung); (2) setiap leksikon pembentuk wangsalan memiliki filosofi pendidikan karakter, seperti cintadamai/cenderung menghindari konflik dengan lingkungan, tidak memaksakan diri, sifat ramah, santun, sabar, serta menghargai orang lain. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa wangsalan mengandung kearifan ekologi yang perlu untuk terus dilestarikan. Selain itu, kajian ekologi dalam wangsalan ini dapat dijadikan sebagai alternatif sarana pendidikan karakter.Kata kunci: wangsalan; kearifan ekologi; pendidikan karakter; wawasan konservasi 
WACANA IKLAN DALAM BENTUK PAPAN REKLAME DI BALI I Nengah Budiasa
Aksara Vol 26, No 2 (2014): Aksara, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v26i2.152.97-107

Abstract

Analisis wacana iklan dalam bentuk papan reklame di Bali merupakan suatu kajian yang menganalisis pemakaian bahasa secara tertulis yang lebih populer disebut bahasa iklan. Kajian ini meliputi kekohesifan, implikatur, dan retorika wacana iklan yang tampak dari bangun wacana yang ditampilkan. Kekohesifan wacana iklan dapat dilihat dari hubungan antara kata yang satu dengan kata yang lain dalam sebuah frasa. Di samping itu, kekoherenan atau kepaduan makna menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam telaah ini. Selanjutnya, implikatur dalam analisis wacana iklan dalam bentuk papan reklame adalah analisis bagian tambahan makna yang tidak tertulis dalam iklan tersebut agar tetap tertangkap oleh pembaca. Terakhir, retorika wacana iklan berupa papan reklame merupakan efektivitas penggunaan bahasa dalam media tersebut. Melalui media bahasa yang efektif diharapkan dapat menimbulkan efek tertentu pada pikiran pembaca dan dapat mengubah sikapnya.
SYNTACTICAL ERROR ANALYSIS OF EFL LEARNER IN CONVERSATION CLASS AT ENGLISH LITERATURE STUDY PROGRAM/ANALISIS KESALAHAN SINTAKSIS PEMBELAJAR BAHASA INGGRIS SEBAGAI BAHASA ASING PADA KELAS PERCAKAPAN DI PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS Heri Kuswoyo; Laila Ulsi Qodriani; Khairunnisa Khairunnisa
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.479.309-322

Abstract

AbstractThe learner’s syntactical error analyses have long been interested in the second and foreign language researchers. This study aimed at investigating the syntactical error types, the form of error, and the frequencies of these errors that occurred in the sixth-semester student presentation on the conversation class at the English Literature Study Program in Universitas Teknokrat Indonesia. To achieve the objectives, the data were collected from the learner’s transcribed speech. The sampling of non-probability was used to select the classroom and participant’s characteristics. These data were collected by video recording, non- participant observation techniques, and documents. To classify the learner’s syntactical errors, Politzer & Ramirez’s (1973) syntactical errors taxonomy was adopted. Further, the qualitative method was applied in this study. Based on the result of the analysis, there were 64 syntactical errors uttered by the learner. The results of the analysis were then categorized into three forms: phrases, clauses, and sentences. The results of this study showed that the learner often made the syntactical error in the form of sentences. That was 32 errors (50%). Furthermore, the study found that the amount of confusion was the most commonly uttered as the type of error (26,56%). The learner often got confused to make the right use between the number and the subject mentioned. Thus, the findings indicated that even though the learner considered as the best; yet the learner still possibly made some errors. Therefore, lecturers or instructors should raise the students’ syntactical error awareness. So that it could improve the student’ speaking skills in their level of English.Keywords: error analysis, syntactical error, conversation class, speaking skillsAbstrakAnalisis kesalahan sintaksis siswa telah lama menjadi hal yang menarik bagi peneliti bahasa kedua dan asing. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki jenis kesalahan sintaksis, bentuk kesalahan, dan frekuensi kesalahan tersebut pada presentasi siswa semester enam pada kelas percakapan di Program Studi Sastra Inggris, Universitas Teknokrat Indonesia. Untuk mencapai tujuannya, data dikumpulkan dari presentasi siswa yang telah ditranskripsikan. Sampling non-probabilitas diterapkan untuk memilih karakteristik kelas dan partisipan. Data tersebut dikumpulkan dengan menggunakan teknik perekaman video, pengamatan non-partisipan, dan dokumen. Untuk mengklasifikasikan kesalahan sintaksis mahasiswa, taksonomi kesalahan sintaksis Politzer dan Ramirez (1973) diadopsi. Lebih lanjut, metode kualitatif diterapkan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis, terdapat 64 kesalahan sintaksis yang ditemukan pada presentasi siswa. Hasil analisis kemudian dikategorikan dalam tiga bentuk, yakni frase, klausa, dan kalimat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa sering membuat kesalahan sintaksis dalam bentuk kalimat, yakni 32 kesalahan (50%). Lebih jauh, penelitian ini menemukan bahwa ‘number of confusion’ merupakan jenis kesalahan yang sering diujarkan, yakni 26,56%. Pembelajar sering mengalami kebingungan dalam menggunakan antara nomor dan subjek yang disebutkan. Dengan demikian, temuan menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa dianggap yang terbaik masih membuat beberapa kesalahan. Oleh karena itu, dosen atau instruktur harus meningkatkan kesadaran kesalahan sintaksis mahasiswa sehingga hal ini dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa di tingkat bahasa Inggris mereka.Kata kunci: analisis kesalahan, kesalahan sintaksis, kelas percakapan, keterampilan berbicara
REPRESENTASI PEREMPUAN BERGELAR NYAI DALAM CERITA RAKYAT KALIMANTAN TENGAH Titik Wijanarti
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.185.207-215

Abstract

Kalimantan Tengah memiliki kekayaan sastra lisan yang tidak terhitung jumlahnya.  Salah satu bentuk sastra lisan Kalimantan Tengah adalah cerita rakyat.  Penelitian ini menganalisis dua cerita rakyat Kalimantan Tengah yang bercerita tentang perempuan yang memiliki gelar nyai.  Bagaimanakah perempuan bergelar nyai digambarkan dalam kedua cerita rakyat tersebut dan bagaimanakah posisi nyai dalam konstruksi sosial budaya masyarakat dayak Kalimantan Tengah merupakan permasalahan dalam penelitian ini.  Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perempuan yang bergelar nyai dalam cerita rakyat Kalimantan Tengah adalah perempuan yang cantik secara fisik dan cerdas secara intelektual. Gelar nyai dapat diperoleh bukan karena keturunan melainkan karena kemampuan dan kecerdasan seorang perempuan.  
EKSISTENSI PEREMPUAN JAWA DALAM NOVEL SRI SUMARAH KARYA UMAR KAYAM Haalin Mawaddah
Aksara Vol 34, No 1 (2022): AKSARA, EDISI JUNI 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i1.681.19-28

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai upaya perempuan Jawa untuk mendapatkan eksistensinya di ranah domestik maupun publik. Novel Sri Sumarah karya Umar Kayam merupakan salah satu kasrya sastra berbentuk novelet yang di dalamnya terdapat kisah mengenai perempuan Jawa. Pada penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Simone De Beauvoir (1949) dan Phutnam Rosemarie Tong (2016) dengan menggunakan pendekatan feminis eksistensialis. Hasil dari penelitian ini yaitu perempuan dapat menciptakan eksistensi dirinya melalui usaha-usaha yang dilakukannya. Tokoh perempuan Jawa dalam novel Sri Sumarah karya Umar Kayam dapat membuktikan dirinya mampu untuk bekerja di luar rumah. Selain itu, mereka dapat membuktikan bahwa mereka memiliki pandangan luas (intelektual), serta bisa menjadi perempuan mandiri untuk mencapai transformasi sosialis di masyarakat.
LIMA CERPEN PROPAGANDA LEKRA (1950—1965) I Wayan Artika
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i2.126.129-142

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap muatan, karakter, dan tujuan ditulisnya cerpen propaganda; serta mengkaji hubungan sastra dan politik semasa Lekra (1950—1965).  Masalah penelitian adalah muatan, tujuan, karakter cerpen propaganda serta hubungan sastra dan politik.  Metode untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian, menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian membuktikan, cerpen propaganda sarat muatan marxisme dan agenda perjuangan PKI. Tujuan cerpen propaganda adalah memengaruhi massa rakyat agar mendukung perjuangan PKI.  Karakter cerpen propaganda dibedakan menjadi karakter umum (yaitu aktual, menyerang lawan, memengaruhi pembaca) dan karakter yang tampak pada struktur karya (bertema komunisme; tidak mementingkan alur; cerita berupa pandangan ideologis-politik pengarang; setting Revolusi Indonesia; pelaku cerita; rakyat tertindas, kader partai progresif, partisipan, simpatisan, dan militan PKI); dan bahasa mudah dimengerti. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan, cerpen propaganda menunjukkan hubungan erat antara sastra, ideologi, dan politik. Hubungan sastra dan politik menunjukkan bahwa cerpen-cerpen tersebut merupakan alat propaganda PKI sesuai dengan Mukadimah 1950 dan 1959, Konsepsi Kebudayaan Rakyat, dan prinsip 1-5-1. Dalam hubungan tersebut, sastra berada di bawah politik dan kebenaran ideologi lebih tinggi daripada nilai sastra. 
PERUBAHAN POLA PIKIR KAUM MARGINAL TERHADAP PENDIDIKAN DALAM NOVEL ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH KARYA WIWID PRASETYO I Wayan Nitayadnya
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i2.130.181-196

Abstract

Penelitian ini membahas masalah perubahan pola pikir kaum marginal terhadap pendidikan dalam novel Orang Miskin Dilarang Sekolah karya Wiwid Prasetyo dan faktor-faktor yang memotivasi dan mempengaruhi perubahan pola pikir tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Metode dan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode kepustakaan dengan teknik catat dan identfikasi. Metode deskriptif analitik digunakan pada tahapan analisis data dan metode informal digunakan pada tahapan penyajian hasil analisis. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa kaum marginal dalam novel Orang Miskin Dilarang Sekolah karya Wiwid Prasetyo memandang pendidikan sebagai sesuatu yang tidak begitu penting dalam kehidupan mereka. Mereka lebih mengutamakan kegiatan yang dianggap mampu menghasilkan uang. Adanya pola pikir yang demikian disebabkan oleh faktor lemahnya kondisi keluarga, lingkungan sosial yang kurang mendukung terlaksananya pendidikan yang konduksif, ketiadaan perhatian orang tua, dan tidak adanya kemauan. Perubahan pola pikir kaum marginal terhadap pendidikan terjadi setelah mereka menyadari bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan sehingga mudah dibodohi orang dan tidak mampu bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Mereka berharap dengan pendidikan segala potensi, baik itu potensi kognitif, afektif, maupun psikomotor, yang ada dalam diri mereka dapat dikembangkan.  
PEMOSISIAN PELAKU DAN KORBAN DALAM BERITA KRIMINAL TENTANG PEMBUNUHAN DI BERITA ONLINE TRIBUN NEWS.COM Deriz Nius Hura; Ngusman Abdul Manaf; Syahrul Ramadhan
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.522.95-108

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penggunaan teori inclusion theo van leeuwen dalam berita kriminal pembunuhan di berita online tribun news.com.  Pengumpulan data dilakukan beberapa tahap, yaitu  (1) membaca dan memahami wacana, (2) menandai bagian-bagian wacana yang berhubungan dengan teori inclusion theo van leeuwen, dan (3) mengumpulkan kalimat dalam wacana yang berhubungan dengan teori inclusion theo van leeuwen dengan menggunakan format inventarisasi data. Penganalisasan data dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada berita kriminal pembunuhan di berita online tribun news,  dapat disimpulkan ada lima judul berita  yang terdapat dengan menggunakan teori inclusion theo van leeuwen antara lain, objektivita-abstraksi, nominasi-kategorisasi, nominasi-identifikasi, asimilasi-individualisasi, dan asosiaso-disosiasi. Dari teori di atas, dapat dinyatakan dalam menulis berita kriminal pembunuhan di berita online tribun news, wartawan tidak memarjinalkan korban. Dalam membuat judul berita wartawan tidak menyembunyikan pelaku. The purpose of this study is to analyze the use of Theo Van Leeuwen’s inclusion theory in murder crime news in the news stands online news.com. The method used is the discourse analysis of Theo Van Leeuwen’s model. Data collection is carried out through three stages, namely (1) reading and understanding the discourse contained in criminal news about murders in the online news stands news.com aims to gain an understanding of the content of the discourse under study, (2) marking the discourse parts that are related with Theo Van Leeuwen’s inclusion theory, and (3) collecting sentences in discourse related to Theo Van Leeuwen’s inclusion theory using a data inventory format. Analyzing data is done descriptively. Based on the results of research conducted on criminal news about killings in the online news stands news. com it can be concluded that there are five news titles contained using Theo Van Leeuwen’s inclusion theory, including objectivity-abstraction, nomination-categorization, nominationidentification, assimilation- individualization, and association-dissociation. From the above theory, it can be stated that in writing criminal news about murders in the news online the news.com stands the journalists do not marginalize victims. In making headlines, reporters keep hiding the perpetrators. Concealment of the perpetrators by journalists is done by usingpassive sentences in the headline.Keywords: critical discourse analysis, perpetrators and victims, inclusion theo van leeuwen
TEMBANG SANDUR BOJONEGORO: KEKERASAN BUDAYA DAN ARKEOLOGI-GENEALOGI PENGETAHUAN/ TEMBANG SANDUR BOJONEGORO: CULTURAL VIOLENCE AND ARCHEOLOGY-GENEALOGY OF KNOWLEDGE Mashuri Mashuri
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.710.169-186

Abstract

AbstrakPenelitian sandur, kesenian rakyat berupa drama tari di Desa Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro sudah banyak, tetapi yang membicarakan tentang kekerasan budaya dan tembang sandur dalam kerangka arkeologi dan genealogi pengetahuan belum ditemukan. Hal itu karena kekerasan budaya menimpa seni tersebut karena imbas stigmatisasi sepihak pascatahun 1965—1966 yang menganggap sebagai kesenian rakyat yang berafiliasi ke PKI, dan pada masa puritanisme Islam menguat pada tahun 1990-an yang menganggap sandur tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, padahal isi tembang-tembang sandur kontradiksi dengan stigma tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini menguak aspek kekerasan budaya dengan menelusuri tembang sandur dari perspektif genealogi dan arkeologi pengetahuan dalam bingkai cultural studies. Teori yang digunakan adalah triangulasi teori, yaitu folklor, arkeo-genealogi pengetahuan, dan kesejarahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) tembang-tembang sandur memiliki metrum puitika Jawa yang mengarah pada nyanyian anak-anak, dengan media bahasa Jawa lokal, dan menyimpan jejak kearifan lokal, etika, dan spiritual, (2) nilai-nilai Islam-Jawa menjadi ruh tembang-tembang sandur. Di dalamnya terdapat sinkretisme nilai-nilai Jawa dan Islam, (3) stigmatisasi sepihak pada Sandur Bojonegoro, baik oleh kalangan anti-komunis maupun puritanisme Islam, hanya melihat pada konteks kesejarahan Indonesia pada Orde Lama ketika politik menjadi panglima dan hanya melihat penampang permukaan semata tanpa mendalami unsur-unsur pembentuknya, ideologi, ajaran luhur, dan tradisi yang melahirkan seni sandur.    Kata kunci:Sandur Bojonegoro, kekerasan budaya, arkeologi, genealogi pengetahuan  AbstractThere are many researches on sandur, folk art in the form of dance dramas in Ledok Kulon Village, Bojonegoro District, Bojonegoro Regency, but those that talk about cultural violence and tembang sandurin the archaeological framework and genealogy of knowledge have not been found. This is because cultural violence befell the art because of the impact of unilateral stigmatization after 1965-1966 which considered it a folk art affiliated to the PKI, and during the period of strong Islamic puritanism in the 1990s, which considered sandur not in accordance with Islamic values, even though the contents tembang sandurcontradict this stigma. Therefore, this study uncovers aspects of cultural violence by tracing tembang sandurfrom the perspective of genealogy and knowledge archeology within the framework of cultural studies. The theory used is triangulation of folklore theory, archeology-genealogy of knowledge, and history. As a result, (1) the sandursongs have a Javanese poetic metre that leads to children's singing, with local Javanese language media, and keeps traces of local wisdom, ethics, and spirituality, (2) Javanese-Islamic values become the spirit of the tembang sandur. In it there is a syncretism of Javanese and Islamic values, (3) the unilateral stigmatization of SandurBojonegoro, both by anti-communists and Islamic puritans, only looks at the historical context of Indonesia in the Orde Lamawhen politics was the commander and only sees the surface without explore its constituent elements, ideology, noble teachings, and traditions that gave birth to the art of sandur. Keywords:SandurBojonegoro, cultural violence, archeology, genealogy of knowledge