cover
Contact Name
winci firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6285220720191
Journal Mail Official
wincifirdaus1@gmail.com
Editorial Address
Jalan Baranangsiang No.259/34B Bandung
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
Aksara aims at providing a media or forum for researchers, faculties, and graduate students to publish their research papers in the field of linguistic and literary studies. The scope of Aksara includes linguistic, applied linguistic, interdisciplinary linguistic studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. Aksara is published by Balai Bahasa Bali, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Aksara accepts articles from authors of national or international institutions. Authors are free of charge throughout the whole process including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 201 Documents
Campur Kode Pada Video Youtube Al Aqshagraphy Official “Pertemuan Ke-2 Tarbiyah Amaliyah Bersama Usth. Nida Nurfajriah” Azzahra, Shofannisa Alifia; Lukman, Fahmy; Sufyan, Abu
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4169.178--193

Abstract

This research was conducted on 68 speech data containing code mixing. In terms of the type of code mixing, there were 67 data (98.5%) of outer code mixing and 1 data (1.5%) of hybrid mixing code. The data shows that code mixing based on its type occurs because it is dominantly influenced by the boarding school regulations which require the use of Arabic and English, and prohibit the use of local languages. This has an impact on the two languages appearing more often in speech. Other findings show that code mixing based on its form there are 46 data using word form (67.6%) with details of 5 data (7.4%) in the form of baster, and 17 data (25%) in the form of phrase. This correlates with the form of Arabic baster and phrases which are quite difficult to find the equivalent meaning in Indonesian. No clauses and idioms were found because the use of larger forms was chosen by Ustazah Nida through code-switching and the choice of words used had the full lexical meaning.  The forms that appear indicate the choice of code mix related to the Arabic language learning process. AbstrakPenelitian ini merupakan kajian sosiolinguistik yang bertujuan mendeskripsikan jenis-jenis campur kode pada tuturan pengajar terhadap santri di Pondok Modern al-Aqsha Sumedang. Data penelitian berasal dari akun youtube Al-Aqshagraphy Official yang diteliti menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik perolehan data dilakukan dengan simak tulis terhadap objek data berupa tuturan yang mengandung campur kode pada video “Pertemuan Ke-2 Tarbiyah Amaliyah Bersama Usth. Nida Nurfajriah, M.Hum”. Metode padan dengan teknik hubung banding ekstralingual dipilih sebagai metode analisis data yang kemudian disajikan menggunakan teknik informal. Penelitian ini dilakukan terhadap 68 data tuturan yang mengandung campur kode. Ditinjau dari jenis campur kode, sebanyak 67 data (98,5%) campur kode ke luar (outer code mixing) dan 1 data (1,5%) campur kode campuran (hybrid mixing code). Data itu menunjukkan bahwa campur kode berdasarkan jenisnya ini terjadi karena dominan dipengaruhi oleh peraturan pondok pesantren tersebut yang mewajibkan penggunaan bahasa Arab dan Inggris, serta melarang menggunakan bahasa daerah. Hal ini berdampak pada kedua bahasa itu lebih sering muncul dalam tuturan. Temuan lain menunjukkan bahwa campur kode berdasarkan bentuknya terdapat sebanyak 46 data menggunakan bentuk kata (67,6%) dengan rincian 5 data (7,4%) berbentuk baster, dan 17 data (25%) berbentuk frasa. Hal ini berkorelasi dengan bentuk baster dan frasa berbahasa Arab yang cukup sulit untuk dicarikan padanan maknanya dalam bahasa Indonesia. Tidak ditemukan bentuk klausa dan idiom karena penggunaan bentuk yang lebih besar dipilih Ustazah Nida melalui alih kode serta pilihan kata yang digunakan memiliki makna leksikal seluruhnya.  Bentuk-bentuk yang muncul ini menunjukkan pilihan campur kode yang berkaitan dengan proses pembelajaran bahasa Arab.
PARALELISME SEMANTIK TUTURAN RITUAL BERLADANG DALAM GUYUB TUTUR KODI Ni Putu Ayu Krisna Dewi
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i2.134.241-252

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk paralelisme semantik dalam tuturan ritual berladang dan makna budaya yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini merupakan kajian linguistik kebudayaan yang berlandaskan pada pendekatan etnografi, paralelisme, dan teori semiotik sosial. Data bersumber pada data lisan berupa tuturan ritual pengolahan ladang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan wawancara dengan teknik rekam dan teknik catat. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan metode padan dengan teknik ganti dan teknik perluas. Hasil analisis disajikan dengan metode penyajian formal dan informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk paralelisme semantik dalam tuturan ritual berladang Guyub Tutur Kodi terdiri atas hubungan makna antarperangkat diad dan hubungan makna antarunsur paralel. Selain bentuk paralelisme semantik, ditemukan juga makna budaya yang terkandung dalam tuturan ritual tersebut, seperti makna yang menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan/roh leluhur, makna yang menggambarkan hubungan antarsesama manusia, makna yang menggambarkan hubungan manusia dengan lingkungan alam. 
PERAN SEMANTIK PREDIKAT PADA VERBA BERVALENSI SATU, DUA, DAN TIGA DALAM BAHASA SAMAWA DIALEK SUMBAWA BESAR/THE SEMANTIC ROLES OF THE PREDICATES ON VERB ONE, TWO, AND THREE SUMBAWA LANGUAGES IN THE SUMBAWA BESAR DIALECT Kasman Kasman
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.445.287-298

Abstract

Abstrak Penelitian terhadap peran semantik bahasa Samawa masih belum banyak dilakukan. Untuk mendukung pengembangan dan pelestarian bahasa Samawa, penelitian-penelitian deskriptif seperti ini tetap perlu dilakukan. Penelitian ini difokuskan pada peran verba bervalensi satu, dua, dan tiga dalam bahasa Samawa dialek Sumbawa Besar dan bertujuan untuk mendeskripsikan peran semantik verba bervalensi tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sintaksis struktural. Data dikumpulkan dengan metode cakap dan metode simak. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan me- tode padan intralingual. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa verba bervalensi satu melibatkan argumen-argumen yang secara semantik mencermainkan verba proses, tindakan, dan verba keadaan. Adapun verba bervalensi dua melibatkan argumen-argumen yang secara semantik merefleksikan verba tindakan, seperti pada sangode (mengecilkan), samasak (memasak), dan pina (membuat). Secara sintaksis verba-verba tindakan itu membutuhkan kehadiran dua argumen kalimat sekaligus. Sementara itu, verba bervalensi tiga yang secara semantik merefleksikan makna benefaktif membutuhkan kehadiran tiga argu-men kalimat sekaligus. Kata kunci: semantik, sintaksis, subjek, predikat, argumen Abstract Research on semantic roles in Samawa language has not been comprehensively done. To support the ef- forts of fostering and developing Samawa language, descriptive studies like this study are always needed. This study is focused on the role of verb valency one, two, and three in Samawa language, especially in Sumbawa Besar Dialect and aimed to describe their semantic roles. The theory used in this study is syntax structural theory. The data were collected using two methods realized by observing and listening to the conversation. The collected data were then analyzed using comparative method. Results of data analysis indicated that syntactically one-valence verbs require argument which semantically re ies process, ac- tion, and constant meaning. While two-valence verb requires arguments which semantically re ies action, such as verbs Sangode (to make something smaller), Samasak (to cook), and Pina (to make). These kind of verbs syntactically require two sentence arguments. While three-valence verb which semantically shows benefective meaning needs the presence of three sentence arguments. Keywords: Semantic, syntactic, subject, predicate, argument 
KONJUNGSI SUBORDINATIF DALAM TEKS BUKU PELAJARAN SLTA: ANALISIS BENTUK, DISTRIBUSI, DAN MAKNA Ida Ayu Mirah Purwiati
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.180.133-150

Abstract

Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih dan klausa itu tidak memiliki status yang sama. Pengamatan terhadap teks bahan ajar SLTA memperlihatkan bahwa terdapat cukup banyak pemakaian kalimat dengan konjungsi subordinatif seperti kata jika, sebelum, walaupun, atau bahwa. Sebagai konjungsi subordinatif, kata-kata itu  selalu mengawali klausa yang berfungsi sebagai anak kalimat. Dari hal itu tampak distribusi konjungsi tersebut, yakni di awal dan di tengah kalimat. Adapun makna yang dimunculkan oleh konjungsi itu bervariasi, antara lain menyatakan 'waktu', 'tujuan', dan 'pengandaian'.  
KAJIAN PESAN TEKS MONOLOGIS WHATSAPP/A STUDY OF WHATSAPP MONOLOGIC TEXT MESSAGE  Subiyantoro Subiyantoro
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.728.295-308

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untukmenemukan dan mendeskripsikan struktur, bahasa yang dipilih untuk mentransmisikan, serta karakter pesan teksmonologis yang ditulis di ruang pesan tiga grup WhatsAppdan sekaligus dikirim ke seluruh anggota grup. Data berupa pesan teks monologis, diperoleh dari sumber tertulis tiga grup WhatsAppberbeda dengan cara membuat tangkapan layar pesan teks yang dipilih. Untuk menguji validitas data dilakukan wawancara dengan informan terkait. Data berbahasa Prancis bersumber dari sebuah grup WhatsAppyang anggotanya berprofesi sebagai guru bahasa Prancis, data berbahasa Indonesia diambil dari sebuah kelompok pengajian, dan data berbahasa Jawa diperoleh dari sebuah grup WhatsAppRW. Data terkumpul dianalisis berdasar perspektif monologis Bakhtin. Hasil analisis menunjukkan bahwa pesan teks monologis di dalam ruang pesan grup-grup WhatsApptersebut dituturkan dari penutur yang berwewenang kepada seluruh partisipan di masing-masing grup dalam konteks pemberian informasi.  Pesan teks monologis tersebut dapat berstruktur lengkap atau semi lengkap, cenderung disampaikan dalam bahasa yang prestise di lingkungannya, dan secara umum bersifat otoritatif. Kata kunci: monologis, otoritatif, pesan teks, WhatsApp AbstractThis studyaimed to discover and describe the structures, language preference, and characters of the monologic text messages written and sent to all group members in the message spaces of three WhatsApp groups.The data that were in the forms of monologic text messages were obtained from three written sources, which were three WhatsApp groups, by taking and saving screenshots of selected text messages. To test the validity of the data, interviews were conducted with informants. The data written in French were collected from a WhatsApp group whose members are the French language teachers. The data written in Indonesian were obtained from a Quran reading group, and those in Javanese were collected from a WhatsApp group of a community unit (RW). All of the collected data were analyzed based on Bakhtin's monologic perspective. The results of the analysis showed that the monologic text messages in the message spaces of the WhatsApp groups were written by speakers (group members) with authority over all other group members in the three WhatsApp groups in terms of providing information. The monologic text messages were either complete or semi-complete, tended to be conveyed in language that showed prestige in each group’s environment, and were generally authoritative. Keywords: monologic, authoritative, text message, WhatsApp
Membangun Wacana `Perdamaian` di Era Pandemi Covid-19: Analisis Wacana Positif Tuturan Joko Widodo Agik Nur Efendi
Aksara Vol 35, No 1 (2023): AKSARA, EDISI JUNI 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i1.691.1--16

Abstract

This article uses positive discourse analysis to examine President Joko Widodo's speech during the Covid-19 Pandemic era. The purpose of this study is to offer exploratory insights into texts and utterances that reflect discursive practices in providing serenity and describe how discourse can be used to provide social progressiveness. This analysis is guided by positive discourse analysis which focuses more on progressivity using lexical items, delivery strategies, metaphors, diction selection, and modalities. With this strategy, we try to describe how a state leader constructs a discourse of peace and suggest people to stay calm in the community amid panic caused by the Covid-19 pandemic. This research highlights how rhetoric can be interpreted as a message, hope, protection, and giving peace. The results showed that Joko Widodo used metáfor and diction to support the stability and tranquility of society in the era of the Covid-19 pandemic. Joko Widodo gave a calm feeling by conveying the same feelings about getting through the pandemic. Positive discourse at least contributes to the problems at hand. AbstrakArtikel ini menggunakan analisis wacana positif untuk menelaah tuturan Presiden Joko Widodo di era Pandemi Covid-19. Tujuan penelitian ini untuk menawarkan wawasan eksplorasi teks dan tuturan yang menyarankan praktik diskursif dalam memberikan keterangan dan menggambarkan bagaimana wacana dapat digunakan untuk memberi progresif sosial. Analisis ini berpedoman pada analisis wacana positif yang lebih fokus pada progresivitas dengan menggunakan piranti leksikal, strategi penyampaian, metafor, pemilihan diksi, dan modalitas. Dengan strategi ini, penelitian ini mencoba menggambarkan konstruksi wacana kedamaian dan menciptakan ketenangan pada masyarakat di tengah kepanikan akibat pandemi Covid-19. Penelitian ini menyoroti bagaimana retorika dapat dimaknai sebagai sebuah pesan, harapan, perlindungan, dan pemberi ketenangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Joko Widodo menggunakan metáfor dan diksi guna mendukung stabilitas dan ketenangan masyarakat di era pandemi Covid-19. Joko Widodo memberikan sebuah ketenangan dengan menyampaikan perasaan yang sama untuk melewati pandemi. Wacana positif setidaknya memberi kontribusi dalam permasalahan yang dihadapi.
MASKULINITAS TOKOH TARŌ DALAM MUKASHI BANASHI Ida Ayu Laksmita Sari
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.13.15-24

Abstract

Penelitian ini mengkaji maskulinitas tokoh Tarō dalam mukashi banashi, cerita rakyatJepang. Mukashi banashi yang menjadi objek kajian ini adalah Momotarō, Kintarō, Kotarōto Haharyū, Sannen Netarō, dan Urashima Tarō. Pada kelima mukashi banashi ini terdapattokoh yang bernama Tarō dengan peranannya masing-masing. Fokus penelitian ini adalahanalisis gambaran tokoh Tarō, fungsi, dan nilai budaya Jepang yang terdapat dalam mukashibanashi. Penelitian ini menggunakan teori sosiologi sastra dan teori maskulinitas denganmetode deskriptif analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan lima tokoh Tarō, yaitu Momotarō,Kintarō, Kotarō, Sannen Netarō, dan Urashima Tarō yang memiliki ciri fisik maskulin dansifat bushido ‘kesatria’. Namun, terdapat juga beberapa sifat yang sedikit bertentangan dengankonsep maskulin. Selain itu, melalui kelima mukashi banashi ini diketahui pula fungsi danunsur-unsur budaya yang terdapat dalam cerita rakyat Jepang.
MONEY CONTESTATION: PROSTITUTION SNARE SPG (SALES PROMOTION GIRL) IN INDAH HANACO’S THE CURSE OF BEAUTY NOVEL Fiqih Aisyatul Farokhah
Aksara Vol 31, No 1 (2019): AKSARA, Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v31i1.356.65-84

Abstract

In this globalization era, with the high technology money becomes the important thing in human life. Sometimes, it is synchronous to the values and morals. Even, they have a good educational background, it is not guaranteed. Many women are one of the victims of underdevelopment society. The lacking of learning opportunity makes them should survive in a difficult life. Finally, the only thing they can do is using their body to work. Money, family, and social environment have the role important in individual deviation. One of them is women who work as Sales Promotion Girl (SPG). They are taken into the prostitution. This reality is represented in Indah Hanaco’s novel “The Curse of Beauty”. Thus, this paper reveals the representation of women sexuality in her novel. It explains their underdevelopment education and sexual oppression. Therefore, there are some research problems to be discussed. First, what does mean money contestation of SPG’s life?. Then, how does the education affect SPG’s life in The Curse of Beauty novel?. Next, how do money and education affect SPG in the prostitution world?. This paper aims to open up the money contestation affect the SPG’s life until they are trapped in the prostitution world. It uses descriptive qualitative. Data are taken from all descriptive concerning SPG body appearance to understand the narrative meaning of the beauty. It applies power and subject theory of Michael Foucault. Money and education have changed women life to the sexual oppression which brings them to the prostitution world.      
Teknik, Metode, dan Ideologi Penerjemahan Istilah Kuliner Nusantara ke Dalam Bahasa Arab Sidiq, Hidayat Muhammad; Mukminin, Muhamad Saiful; Nisa', Yunia Makin Aninda Fiqrotin; Layyina, Nilna Dati; Usroh, Fakhimatul; Anis, Muhammad Yunus
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.989.51--67

Abstract

This study aims to describe the application of techniques, methods, and ideologies of translation in Indonesian culinary terms into Arabic. The data in this study are the lingual units of Nusantara culinary terms in Indonesian and their translations into Arabic in the form of nouns, phrases, complete reduplications, and sentences. This research is descriptive qualitative research that uses a documentary study technique by utilizing written documents. The data was obtained from a corpus data source in the form of written documents in the form of 3 Indonesian-Arabic dictionaries and 1 website page related to Indonesian cuisine. The results showed that 6 translation techniques were applied in translators of Nusantara culinary terms, namely: adaptation of 11 (5.4%) data, amplification of 8 (3.9%) data, description of 74 (36.3%) data, generalization as many as 82 (40.2%) data, borrowing as much as 20 (9.8%) data, and calkue as much as 9 (4.4%) data. The most dominant translation technique is generalization which is used to explain the types of Indonesian cuisine to the target language readers (Arabic). Based on the application of the dominant translation technique, the translation of Indonesian-Arabic archipelago culinary terms tends to use free translation methods and domestication ideology. This is shown by 85.8% of translation techniques oriented to the target language (Arabic), while 14.2% of translation techniques oriented to the source language (Indonesian). AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan teknik, metode, dan ideologi penerjemahan dalam istilah kuliner Nusantara ke dalam bahasa Arab. Data dalam penelitian ini adalah satuan lingual istilah kuliner Nusantara dalam bahasa Indonesia beserta terjehamannya dalam bahasa Arab yang berbentuk nomina, frasa, reduplikasi utuh, dan kalimat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang menggunakan teknik studi dokumenter dengan memanfaatkan dokumen tertulis. Data didapat dari sumber data korpus berbentuk dokumen tertulis berupa 3 kamus Indonesia-Arab dan 1 laman website yang berkaitan dengan kuliner Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 teknik penerjemahan diterapkan dalam penerjemah istilah kuliner Nusantara, yaitu: adaptasi sebanyak 11 (5,4%) data, amplifikasi sebanyak 8 (3,9%) data, deskripsi sebanyak 74 (36,3%) data, generalisasi sebanyak 82 (40,2%) data, peminjaman sebanyak 20 (9,8%) data, dan kalke sebanyak 9 (4,4%) data. Teknik penerjemahan yang paling dominan adalah generalisasi yang digunakan untuk menjelaskan jenis kuliner Nusantara kepada pembaca bahasa sasaran (bahasa Arab). Berdasarkan penerapan teknik penerjemahan yang dominan muncul, penerjemahan istilah kuliner Nusantara Indonesia-Arab cenderung menggunakan metode penerjemahan bebas dan ideologi domestikasi. Hal ini ditunjukkan oleh 85,8% teknik penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sasaran (bahasa Arab), sedangkan 14,2% teknik penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sumber (bahasa Indonesia).  
TEKNIK PENERJEMAHAN PERISTIWA TUTUR BERTENGKAR DALAM SUBTITLE FILM TED 2 Jotika Purnama Yuda; Mangatur Nababan; Djatmika Djatmika
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.435.151-166

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik penerjemahan apa saja yang digunakan oleh penerjemah untuk menerjemahkan tindak tutur dalam peristiwa tutur bertengkar dan mendeksripsikan dampaknya terhadap pergeseran terjemahan tindak tutur dalam film Ted 2. Data dalam penelitian ini adalah kalimat yang merepresentasikan tindak tutur dalam peristiwa tutur bertengkar dalam subtitle bahasa Indonesia dan Inggris dalam film Ted 2 dan juga teknik penerjemahan yang digunakan oleh penerjemah untuk menerjemahkan tindak tutur tersebut.  Data didapat melalui analisis dokumen dan FGD (focus group discussion) dengan beberapa informan (rater). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerjemah menggunakan 16 teknik penerjemahan diantaranya teknik padanan lazim, reduksi, variasi, peminjaman murni, kompresi linguistic, kompensasi, eksplisitasi, implisitasi, transposisi, modulasi, delesi, literal, generalisasi, kreasi diskursif, adisi dan adaptasi. Selanjutnya, teknik teknik padanan lazim, reduksi, variasi, peminjaman murni, kompresi linguistic, kompensasi, eksplisitasi, implisitasi, transposisi, modulasi, generalisasi, kreasi diskursif, adisi dan adaptasi tidak menghasilkan pergeseran pada bahasa sasaran. Pergeseran tindak tutur di bahasa sasaran disebabkan oleh penggunaan teknik literal dan hilangnya tindak tutur di bahasa sasaran disebabkan oleh penggunaan teknik delesi. This research sought to determine translation techniques used by a subtitler to translate speech acts found in quarelling speech event and to describe the impact of the translation techniques on speech act shift in Ted 2 movie. The data in this reseach were sentences accommodating speech acts in quarelling speech event in Indonesian and English subtitles of Ted 2 movie and translation techniques used by the subtitler to translate the speech acts in quarreling speech event. That data were obtained through document analysis and FGD (focus group discussion) with informans (raters). The findings show that the subtitler used translation techniques of established equivalence (324), reduction (64), variation (114), pure borrowing (38), linguistic compression (4), compensation (5), explicitation (18), implicitation (57), transposition (6), modulation (45), deletion (15), literal (8), generalisation (4), discursive creation (3), adition (3) dan adaptation (6). The techniques of established equivalence, reduction, variation, pure borrowing, linguistic compression, kompensation, explicitation, implisitation, transposition, modulation, generalization, discursive creation, addition and adaptation do not result in shift in the Indonesian subtitle. Whereas the literal techniques resulted in speech act shift in Indonesian subtitles and loss of speech act in Indonesian subtitle was caused by the deletion technique.Keywords: speech event, speech act shift, translation techniques, speech act