cover
Contact Name
Dita Arccinirmala
Contact Email
dorotea.arccinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281905203065
Journal Mail Official
CDK@kalbe.co.id
Editorial Address
Redaksi CDK Gedung Kalbe, gedung 2 lantai 2 Jl. Letjen Suprapto Kav. 4. Cempaka Putih - Jakarta 10510
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (CDK) is a Medical Journal published since 1974 and affiliated with PT Kalbe Farma Tbk. CDK is intended to help accommodate scientific publications and help increase and disseminate knowledge related to the development of medical science, pharmacy, and public health. CDK covers the disciplines of medicine, pharmacy, and health with several types of articles, namely: 1. Research 2. Literature review 3. Case report 4. Evidence-based case report (EBCR), systematic review 5. Other scientific articles Based on the SK Kemendikbudristek Nomor 152/E/KPT/2023, CDK has obtained Rank 4 (SINTA 4) for Scientific Journals.
Articles 1,276 Documents
Peran Procalcitonin sebagai Marker Infeksi Juliani Dewi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 7 (2018): Onkologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i7.776

Abstract

Diagnosis infeksi bakteri dapat terlambat bila menunggu hasil kultur mikrobiologi. Marker-marker seperti jumlah leukosit dan CRP, masih belum memastikan banyak kasus infeksi, bahkan sepsis. Procalcitonin menjadi marker infeksi yang cukup menjanjikan. Kadar procalcitonin efektif untuk pedoman diagnosis, prediksi penyakit, dan efikasi terapi pada berbagai populasi, termasuk bayi, dewasa, dan lanjut usia dengan berbagai lokasi infeksi. Kadar procalcitonin dapat menjadi dasar pemberian dan menilai efikasi terapi antibiotik.   Delayed bacterial infection diagnosis may be caused by delayed microbiology culture results. Infection markers, like leucocyte count and CRP, did not meet the expectations, even in sepsis cases. An ideal biomarker can determine bacterial or non bacterial inflammation as early as possible, and provide information on clinical conditions and prognosis. Procalcitonin can be a promising infection marker, and as a basis for evaluation of antibiotics efficacy.
Hubungan 25-hydroxyvitamin D dengan Sepsis pada Anak Austin Simon Tjowanta; Chairul Yoel
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 6 (2018): Interna
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i6.777

Abstract

Sepsis masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak. Bukti terbaru menunjukkan bahwa vitamin D dapat meningkatkan respons imun bawaan dengan menginduksi peptida antimikroba. Pada anak, sepsis dijumpai adanya penurunan kadar 25-hydroxyvitamin D dan risiko sepsis meningkat pada pasien kekurangan vitamin D. Risiko mortalitas lebih tinggi pada pasien sepsis yang kekurangan vitamin D. Pemberian vitamin D pada anak dapat mengurangi keparahan penyakit dan menurunkan mortalitas.   Sepsis is a major cause of morbidity and mortality in pediatric population, despite scientific progresses in the last decades. Recent evidences suggest that vitamin D may enhance the innate immune response by induction of antimicrobial peptides. Children with sepsis have decreased 25-hydroxyvitamin D levels and vitamin D deficiency patients have increased sepsis risk. Vitamin D-deficient sepsis patients have higher risk of mortality compared to sepsis patients with normal vitamin D levels. Vitamin D supplementation may decrease the severity of illness and also reduce mortality.
Suplemen untuk Rambut Sehat Esther Kristiningrum
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 6 (2018): Interna
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i6.778

Abstract

Usia, perubahan hormonal, defisiensi zat gizi, stres, penataan rambut yang berlebihan, dan faktor-faktor lainnya dapat menyebabkan rambut rusak atau kerontokan rambut. Mengingat risiko efek samping obat-obatan untuk kerontokan rambut, banyak orang tertarik pada pengobatan alternatif. Suplemen dapat membantu mempertahankan lingkungan sebaik mungkin untuk pertumbuhan rambut yang sehat dan mengurangi kerusakan dan kerontokan rambut.   Age, hormonal changes, nutrient deficiency, stress, over-styling, and other factors can cause damaged hair or hair loss. Due to risk of drugs for hair loss, many people look into alternative treatments. Supplements can help maintain the best possible environment for healthy hair growth, and reduces hair damage and hair loss.
KOH 5% untuk Terapi Alternatif Kondiloma Akuminata di Pusat Pelayanan Kesehatan Primer Monica Djaja Saputera
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 6 (2018): Interna
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i6.779

Abstract

Kondiloma akuminata atau kutil kelamin merupakan infeksi Human Papilloma Virus (HPV) yang ditandai dengan lesi vegetasi bertangkai atau papil yang berjonjot. Salah satu terapi yang sedang dikembangkan, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, adalah KOH 5%. KOH 5% merupakan larutan basa kuat bersifat keratolitik, yang memiliki beberapa keuntungan dibandingkan terapi lain. KOH 5% diharapkan dapat digunakan sebagai terapi alternatif kondiloma akuminata di setiap pusat pelayanan kesehatan primer di Indonesia.   Condylomata akuminata or genital warts is an infection of Human Papilloma Virus (HPV) which is characterized by vegetation of stemmed or papilloed vegetation. One of the therapies which is being developed, especially in developing countries such as Indonesia, is KOH 5%. KOH 5% is a strong keratolytic base solution, which has several advantages over other therapies. KOH 5% is expected to be used as an alternative therapy of condyloma akuminata in every primary health care center in Indonesia.
Teknik–teknik Biopsi Kulit Erlina Pricilla Sitorus; Indah Julianto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 6 (2018): Interna
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i6.780

Abstract

Prosedur biopsi merupakan tahap penting diagnosis di bidang dermatologi, karena informasi histopatologis dapat dengan mudah diperoleh dari sampel kulit. Teknik biopsi kulit terdiri dari biopsi snip atau gunting, kuretase, shave, plong, eksisi, dan biopsi insisi. Biopsi kulit perlu penjelasan dan mendapat persetujuan pasien. Dokumentasi lesi bertujuan untuk mencegah kekeliruan lokasi biopsi, meningkatkan kepercayaan pasien, dan dapat memantau ketepatan pengobatan. Seorang dermatologis hendaknya dapat mengaplikasikan tindakan ini secara aman dan tepat dalam praktik sehari-hari.   Biopsy is an important step in dermatology diagnosis, because the histopathology information is easy to obtain from skin samples. Six type of skin biopsy are snip, curettage, shave, punch, exsicion, and incision biopsy. Explanation and informed consent is necessary. Documentation of lesion should prevent misplaced biopsy, enhance patient’s confidence, and monitoring the accuracy of treatment. A dermatologist should apply these procedures safely and appropriately in daily practice.
Perbandingan Hasil Clock Drawing Test Pasien Epilepsi dengan Terapi Karbamazepin dan Fenitoin di Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Astrid Claudya; Herpan Syai Harahap; Emmy Amalia; Yanna Indrayana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 5 (2018): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i5.781

Abstract

Latar Belakang: Obat antiepilepsi (OAE) dapat menurunkan fungsi kognitif penderita epilepsi. Efek samping OAE terhadap fungsi kognitif dapat dievaluasi dengan menggunakan instrumen clock drawing test (CDT). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pemeriksaan CDT pada pasien epilepsi pengguna OAE karbamazepin dan fenitoin. Metode: Penelitian analitik komparatif observasional dengan pendekatan potong lintang. Populasi adalah 42 pasien epilepsi dengan usia >14 tahun di RSJ Mutiara Sukma. Data karakteristik pasien diuji dengan kai kuadrat, data komparasi tes CDT kedua jenis pengobatan dianalisis menggunakan uji Mann Whitney. Hasil: Dari 42 subjek penelitian, 62% menggunakan karbamazepin dan 38% menggunakan fenitoin. Tidak terdapat perbedaan bermakna jenis kelamin, usia, etiologi, tipe bangkitan, dan onset bangkitan (p>0,05), terdapat perbedaan bermakna pada pendidikan terakhir dan lama penggunaan obat (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna skor CDT pada pasien epilepsi pengguna karbamazepin dan fenitoin (p=0,284). Simpulan: Skor CDT pasien epilepsi pengguna karbamazepin dan fenitoin di RSJ Mutiara Sukma tidak berbeda bermakna.   Background: Antiepilepsy drug (AED) can decrease cognitive function in epileptic patient. The effect of AED on cognitive function can be evaluated with clock drawing test (CDT). This study is to compare CDT score of epileptic patients on carbamazepine and phenytoin therapy. Method: A cross-sectional comparative analytic observational study on 42 epileptic patients aged >14 years old in Mutiara Sukma Mental Hospital. Patients characteristic data were analyzed with Chi-sRuare, CDT data were analyzed with Mann 8hitney. Result: Among 42 epileptic patients, 62% were using carbamazepine and 38% were using phenytoin. No significant difference in gender, age, etiology, type of seizure, onset of seizure (p>0.05), and a significant difference in highest education and duration of therapy (p<0,05). Mann-8hitney test showed no difference between CDT score of epileptic patients using carbamazepine and phenytoin (p=0,284). Conclusion: CDT score of epileptic outpatients on carbamazepine and phenytoin therapy at Mutiara Sukma Mental Hospital NTB were not significantly different.
Sindrom Arteri Mesenterika Superior – Tinjauan Klinis Ramadhyan Respatio
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 5 (2018): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i5.782

Abstract

Sindrom arteri superior mesenterik (ASM) merupakan kelainan yang jarang, kebanyakan terjadi pada pasien remaja atau dewasa muda. Kelainan ini disebabkan oleh penurunan sudut antara arteri superior mesenterik yang berasal dari aorta abdominal dengan sepertiga bagian duodenum tranversa, sehingga menyebabkan obstruksi. (ejala yang paling sering adalah nyeri perut hilang timbul yang disertai mual dan muntah. CT scan atau CT angiogram merupakan gold standard dalam diagnostik karena mampu mengukur penurunan sudut aorta mesenterik, menunjukkan dilatasi gaster dan duodenal. Duodenojejunostomi adalah pilihan terbaik dengan tingkat keberhasilan mencapai 90%, di mana duodenojejunostomi laparoskopi merupakan teknik terbaik.   Superior mesenteric arterial (SAM) syndrome is a rare disorder, mostly occurs in adolescent or young adults. It is caused by decreased angle between superior mesenteric arterial originating from abdominal aorta with one-third of the duodenal transverse passage, causing obstruction. The most often symptom is fluctuating abdominal pain accompanied by nausea and vomiting. A CT scan or CT angiogram is the gold standard in diagnostic, as it is capable of measuring the reduced angle of the aorta mesentric, indicating both gastric and duodenal dilatation. Duodenojejunostomy is the best choice with a 90% success rate in which laparoscopic duodenojejunostomy is the best technique
Diagnosis dan Tatalaksana Ruptur Uretra Christopher Kusumajaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 5 (2018): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i5.783

Abstract

Ruptur uretra merupakan salah satu kasus kegawatdaruratan urologi karena adanya trauma lain yang lebih mengancam nyawa. Pemeriksaan radiologi memiliki peran penting dalam diagnosis. Penatalaksanaan yang terlambat dan tidak tepat akan mengurangi kualitas hidup dan meningkatkan mortalitas.   Genitourinary trauma is often overlooked in the setting of acute trauma; other more life-threatening injuries often take precedence for immediate management. Radiology imaging plays a key role in diagnosis. Rapid diagnosis and appropriate management is crucial in limiting mortality and morbidity.
Peran NGAL, MMP-9, dan NGAL/MMP-9 pada Tumor Otak Yaumil Reiza
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 5 (2018): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i5.784

Abstract

Tumor otak memiliki prognosis buruk, karena meskipun telah ditemukan modalitas diagnostik dan terapeutik terbaru yang dapat meningkatkan luaran, rekurensi masih sering terjadi. Baru-baru ini, neutrophil gelatinase-associated lipocalin (N(AL), yang berikatan dengan enzim matriks metalloproteinase-9 (MMP-9) membentuk kompleks N(AL/MMP-9, ditemukan berperan dalam proses perkembangan berbagai jenis keganasan. Substansi-substansi ini diketahui mendukung perkembangan tumor dengan cara mendegradasi membran basal dan matriks ekstraseluler, serta memungkinkan angiogenesis, invasi, dan metastasis tumor. Pada artikel ini, akan dibahas mengenai peran N(AL, MMP-9, dan N(AL/MMP-9 pada tumor otak.   Brain tumors usually have poor prognosis, because they often recurs although various diagnostic and therapeutic modalities have been created to improve outcomes. Recently, neutrophil gelatinase-associated lipocalin (N(AL), which binds matrix metalloproteinase-9 (MMP-9) enzyme, forms the N(AL/MMP-9 complex that is found to play a role in the development of malignancies. These substances are known to support tumor development by degrading the basal membrane and extracellular matrix, and allowing tumor angiogenesis, invasion, and metastasis. This article will discuss the role of N(AL, MMP-9, and N(AL/MMP-9 in brain tumors.
Injeksi Botulinum untuk Tatalaksana Overactive Bladder Daniel Mahendra Krisna; Akhada Maulana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 5 (2018): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i5.785

Abstract

Overactive bladder (OAB) adalah kelainan yang berkaitan dengan gangguan berkemih, baik disertai inkontinensia maupun tidak, dibuktikan dengan tidak adanya infeksi atau kelainan patologis yang mendasari. OAB dapat mengenai semua usia dan sangat mengganggu kualitas hidup. Tatalaksana OAB meliputi terapi perilaku dan medikamentosa sebagai lini pertama, tetapi ketidakpatuhan dan efek samping sering menyebabkan kegagalan. Injeksi botulinum menghambat pelepasan neurotransmiter, sehingga dapat menurunkan kontraksi otot polos, dan dapat dipertimbangkan sebagai tatalaksana lini pertama.   Overactive bladder (OAB) is a urinary urgency, with or without urinary incontinence, without proven infection or other obvious pathology. OAB affects Ruality of life. The first-line treatment consists of combination of behavioural therapy and drugs, but failure is high due to side effects and noncompliance. Botulinum injection is an optional therapy that should be considered as a first line therapy. Its mechanism is to inhibit neurotransmitter release to reduce smooth muscle contractility.

Page 69 of 128 | Total Record : 1276


Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 52 No 12 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 11 (2025): Penyakit Dalam Vol 52 No 10 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 9 (2025): Pediatri Vol 52 No 8 (2025): Penyakit Dalam Vol 52 No 7 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 6 (2025): Kesehatan Jiwa Vol 52 No 5 (2025): Kardiologi Vol 52 No 4 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 3 (2025): Oftalmologi dan Dermatologi Vol 52 No 2 (2025): Pediatri Vol 52 No 1 (2025): Obstetri & Ginekologi Vol 51 No 12 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 11 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 10 (2024): Infeksi Vol 51 No 9 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 8 (2024): Penyakit Dalam Vol 51 No 7 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 6 (2024): Cardiology Vol 51 No 5 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 4 (2024): Oftalmologi Vol 51 No 3 (2024): Neurologi Vol 51 No 2 (2024): Dermatologi Vol 51 No 1 (2024): Kedokteran Umum Vol 50 No 12 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol 49 No 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol 49 No 9 (2022): Neurologi Vol 49 No 8 (2022): Dermatologi Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol 48 No 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol 48 No 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 47 No 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47 No 8 (2020): Oftalmologi Vol 47 No 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47 No 5 (2020): Bedah Vol 47 No 4 (2020): Interna Vol 47 No 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 46 No 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46 No 11 (2019): Pediatri Vol 46 No 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46 No 8 (2019): Pediatri Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46 No 5 (2019): Pediatri Vol 46 No 4 (2019): Dermatologi Vol 46 No 3 (2019): Nutrisi Vol 46 No 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol 45 No 11 (2018): Neurologi Vol 45 No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 8 (2018): Dermatologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 6 (2018): Interna Vol 45 No 5 (2018): Nutrisi Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45 No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi More Issue